cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Solah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 54 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2018)" : 54 Documents clear
UNGKAPAN KETEGUHAN HATI DEWI AMBA MELALUI TIPE TARI LIRIS PADA KARYA KEKAH ATIKA PRATIWI, GHINA; PUSPITO, PENI
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya tari Kekah berangkat dari cerita Mahabharata yaitu kisah seorang putri raja bernama Dewi Amba. Kisah percintaan Dewi Amba yang penuh keteguhan membuat koreografer ingin mengangkatnya sebagai sebuah ide gagasan untuk menciptakan suatu karya. Koreografer mengungkap keteguhan Dewi Amba menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk pertunjukan tari liris. Karya tari Kekah terinspirasi dari karya In Controll koreografer Nihayah dan tari Bedaya Semang yang diciptakan oleh Sultan Agung. Teori karya tari Kekah yang digunakan dalam proses kreatifnya antara lain teori ungkap dari Kridalaksana, teori keteguhan hati dari Peterson dan Seligman, dan tari liris dari Jacquiline Smith. Tidak lepas dari teori komposisi tari, koreografi ini tidak akan menjadi sesuatu yang baik apabila tidak dibekali dengan ilmu-ilmu komposisi dan koreografi. Koreografer menjadikan karya tari Kekah melalui tipe tari liris dengan menggunakan teori konstruksi Jacquiline Smith. Karya tari dengan judul Kekah menggunakan tipe tari liris yang memiliki kualitas lembut tanpa ada patahan. Karya tari Kekah ini memiliki unsur pendukung yaitu tata rias busana, tata teknik pencahayaan, dan iringan musik tari. Dalam proses karya tari Kekah ini koreografer mengawalinya dengan menemukan rangsang lalu menentukan tipe tari, setelah itu menentukan mode penyajian. Lalu pada prosesnya koreografer melakukan eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Koreografer juga menghadirkan skenario karya agar tidak salah arah pada proses untuk menghasilkan gerak dan pola lantaiKarya tari Kekah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa akan menemukan suatu hal baru berdasarkan fokus dan mendapatkan bermacam-macam bentuk. Selain itu koreografer juga berharap karya Kekah dapat menjadi dorongan para seniman lain untuk menciptakan karya yang inspiratif dan dapat digunakan sebagai bahan inspirasi bagi koreografer lain.Kata Kunci: Ungkapan, keteguhan hati, Tari liris, dan Kekah
KREASI BENTUK TARI REMO GANDRUNG PADA LUDRUK IRAMA BARU DI BALONGBENDO KABUPATEN SIDOARJO GELAR, AMBAWANI; HANDAYANINGRUM, WARIH
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Remo Gandrung merupakan tari yang lahir pada ludruk sekitar tahun 1969-an, namun Tari Remo gaya ini kurang eksis sehingga sempat hilang dan sama sekali tidak ada tulisan baik berupa buku, jurnal, maupun artikel yang memuatnya. Hanya ada beberapa video dokumentasi amatir yang di unggah di YouTube, ciri-ciri Tari Remo Gandrung merupakan tari berpasangan, gaya busana Tari Remo Gandrung dimodifikasi diluar warna-warna biasanya seperti penggunaan warna merah dan sampur penari yang sangat panjang. Selain itu, gaya improvisasi dan pembawaan karakter yang cukup kuat ada pada Kelompok Ludruk Irama Baru, serta diketahui bahwa tarian tersebut masih dipentaskan sampai tahun 2019 ketika penelitian ini berlangsung. Tari Remo Gandrung hadir dengan formasi berpasangan. Penggabungan antara Tari Remo Putra dan Tari Remo Putri yang saling berinteraksi seperti tari berpasangan. Namun, hal tersebut justru menjadi angin segar karena Tari Remo Gandrung memberikan sentuhan yang benar-benar baru pada suatu penyajian Tari Remo. Hal tersebut menarik untuk dikaji serta fokus penelitian ini yaitu bentuk penyajian Tari Remo Gandrung pada Ludruk Irama Baru dan Ludruk Irama Baru mempertahankan eksistentsi Tari Remo Gandrung.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori bentuk penyajian oleh Jazuli dan teori Eksistensi oleh Sumandiyo, jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, simpulan, dan validitas data menggunakan triangulasi sumber, triangulasi metode, dan triangulasi waktu.Hasil Penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa Bentuk penyajian Tari Remo Gandrung mempunyai keunikan yang berbeda dari Tari Remo Gandrung pada kelompok Ludruk lainnya, keunikan terdapat pada beberapa unsur bentuk penyajian didalamnya antara lain, unsur gerak, iringan musik, rias, busana, pelaku, dan tempat pentasnya. Eksistensi Tari Remo Gandrung juga bergantung pada keberadaan pertunjukan induknya yaitu Ludruk, hal lain yang menjadi pengaruh adalah pelaku kesenian sebagai generasi penerus, serta keberlangsungan Tari Remo Gandrung yang bersinggungan dengan perkembangan zaman, perhatian kepada hiburan yang lebih mudah diakses seperti Mall, Smartphone, bioskop, dan lain sebagainya juga menjadi salah satu faktor penting terkait eksistensi Tari Remo Gandrung sebagai kesenian tradisional.Kata kunci: Tari Remo Gandrung, Ludruk Irama Baru, Bentuk Penyajian, Eksistensi.
KREASI BENTUK JARANAN BRENG DESA GLEDUG KECAMATAN SANANKULON KABUPATEN BLITAR AGUSTINA, SINDA; SUGITO, BAMBANG
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jaranan Breng merupakan kesenian yang menjadi ciri dan cikal bakal kesenian Desa Gledug Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Ketertarikan peneliti pada Jaranan Breng karena memiliki keunikan, yaitu: 1) dianggap sebagai cikal bakal kesenian pertama di Desa Gledug, 2) menggunakan properti berang dari bambu, 3) mempunyai gerakan masih pakem, 4) memiliki fungsi sebagai memeriahkan ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana isi bentuk penyajian dalam pertunjukan Jaranan Breng Desa Gledug Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Penelitian ini berlokasi di Desa Gledug Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif diskriptif sehingga menghasilkan data berupa deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Teknik analisis data menggunakan analisis sebelum di lapangan dan analisis data di lapangan model Miles and Huberman, reduksi data, data display dan verification. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa kreasi bentuk penyajian dalam pertunjukan Jaranan Breng Desa Gledug Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar terdapat beberapa elemen pendukung, antara lain: gerak; pola lantai; musik/iringan; tata rias dan busana; tempat pertunjukan dan perlengkapan/property. Simpulan pada penelitian ini menunjukan bahwa, kreasi bentuk penyajian dalam pertunjukan Jaranan Breng Desa Gledug Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar hingga sekarang dapat terus hidup, dinikmati dan diminati oleh masyarakat.Kata kunci: Kreasi, Bentuk, Jaranan
KARYA KOREOGRAFI KELOMPOK CHERLEADING DALAM PERSPEKTIF SENI PERTUNJUKAN RETNAYU KARISMA, ALISYA; HANDAYANINGRUM, WARIH
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cheerleader dilahirkan sebagai pendukung atau penyemangat, tetapi tidak hanya berdiam diri saja dan berteriak-teriak. Cheerleader sebenarnya memiliki penampilan dan merupakan salah satu bidang olahraga yang dapat dibilang cukup ekstrim. Penampian cheerleading biasanya berkisar 2,5 - 3 menit yang menampilkan berbagai penampilan yang tidak biasa seperti pyramid, stunt, thumbling, dance, jumps, dan motion yang beraneka ragam. Di indonesia, cheerleader mulai menampakkan eksistansinya semenjak tahun 2000-an. Tujuan penulisan untuk mengenalkan cheerleader kepada masyarakat, bahwa cheerleader saat ini yang diakui sebagai bentuk olahraga mulai menjadi suatu pertunjukkan koreografi yang menghibur berdirilah suatu komunitas pecinta cheerleading surabaya yakni Independent Cheerleaders Of West Surabaya (Incrows). komunitas cheerleaders di Surabaya yang berdiri pada tanggal 25 Juli 2010 dan berfungsi sebagai wadah komunikasi para cheerleaders khusunya di Surabaya. INCROWS sendiri tergabung didalam suatu induk organisasi cheerleading indonesia yakni The A Team Cheerleading Company yang berpusat di Jakarta sejak tahun 24 april 2011. INCROWS adalah cheerleading yang berusaha untuk memadukan tekhnik olahraga cheerleader dengan koreografi tari yang mengandalkan ruang, tenaga, dan waktu. Sehingga dari perpaduan tersebut tercipta estetika baru dalam sajian koreograti tari yang ekstrim. Membuat penonton akan merasakan kaget, takjub dan merinding saat menikmati pertunj ukan tersebut. Kata Kunci : Cheerleader, Koreografi, Seni Pertunjukan
KOLABORASI GRUP KERONCONG DJAGANK DAN DJ NUNU DALAM ARANSEMEN LAGU BENGAWAN SOLO DI KOTA LAMONGAN DEVIA RACHMASARI, VANDA; SUWAHYONO, AGUS
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Grup Keroncong Djagank adalah grup keroncong dari Lamongan yang personilnya adalah siswa aktif dari SMAN 2 Lamongan, dan juga merupakan satu-satunya grup keroncong di Lamongan yang berasal dari Sekolah Menengah Atas di kota Lamongan dan satu-satunya grup keroncong yang berhasil berkolaborasi dengan mengaransemen sebuah lagu dengan seorang DJ. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kolaborasi grup Keroncong Djagank dan DJ Nunu dalam aransemen lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam latihan grup Keroncong Djagank, mendeskripsikan hasil aransemen lagu Bengawan Solo oleh grup Keroncong Djagank dan DJ Nunu. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif. Subjek penelitian yaitu Grup Keroncong Djagank dan DJ Nunu dengan objek penelitian ditekankan pada kolaborasi dan aransemen. Sumber data dalam penelitian ini melalui dua cara, yaitu: (1) Sumber data primer, (2) Sumber data sekunder. Pengumpulan data melalui beberapa cara yaitu: (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Dokumentasi, (4) Rekaman,. Validitas data dalam penelitian ini yaitu: (1) Triangulasi Sumber, (2) Triangulasi Teknik, (3) Triangulasi Waktu.Grup keroncong Djagank berhasil mengkolaborasikan musiknya dengan musik elektrik yang dimainkan oleh seorang DJ. Ini adalah suatu hal yang jarang sekali dilakukan oleh grup keroncong lain dan Grup Keroncong Djagank berhasil melakukan kolaborasi dengan DJ Nunu dengan baik. Kendala-kendala yang terjadi dalam proses kolaborasi, antara lain: (1) perbedaan pendapat dari masing-masing personil, (2) minat para penikmat musik keroncong di kota Lamongan masih minim. Maka dari itu Kr. Djagank berkolaborasi dengan seorang DJ bertujuan untuk meningkatkan minat para penikmat musik keroncong di Kota Lamongan.Kata Kunci : Kolaborasi Grup Keroncong Djagank dan Dj Nunu
KARYA TARI “SIGRAK” MAHDA SOFIYANA, SELLA; JUWARIYAH, ANIK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sigrak merupakan sebuah karya tari yang terinspirasi dari kelincahan seorang gadis yang sedang bermain dan tidak menggunakan gadged di era globalisasi seperti ini. Maka, koreografer menciptakan tari Sigrak sebagai bentuk ungkapan kegembiraan dan suka cita seorang gadis nan lincah. Karya tari ini memiliki fokus isi suka cita dan gembira dan fokus bentuknya merupakan sajian dari sebuah karya tari yang bertipe dramatik.Dalam proses penciptaan karya tari Sigrak ini koreografer melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap karya yang telah diciptakan oleh koreografer terdahulu yang tentunya telah relevan seperti Tari dhunak, Tari piwales, dan Tari Reresik. Tidak hanya itu, pengkajian teori juga menggunakan teori ungkapan, perjuangan, dan dramatik. Karya tari Sigrak menggunakan metode konstruksi yang telah dikenalkan oleh Jacqueline Smith digunakan sebagai langkah-langkah untuk membangun sebuah ide yang akhirnya menjadi konsep. Dalam mengkonstruksi karya tari dibutuhkan pemahaman tentang elemen dasar tari seperti tenaga, ruang, dan waktu serta tatanan tari yang baik melalui tahap rangsang awal, menentukan tipe tari, mode penyajian, eksplorasi, improvisasi, analisis dan evaluasi, serta penghalusan.. Teknik dan gaya tari Sigrak ialah gaya jawa timur mataraman yang dikembangkan dengan kelincahan kaki, kekuatan tangan dan kaki, serta ragam gerak Tari Dhunak yang menjadi acuan karena memiliki rasa yang sama yaitu pengungkapan emosional.Alur pada karya tari ini dibagi menjadi empat bagian yakni introduksi, adegan 1, adegan 2, dan adegan 3. Koreografi dalam karya ini tentunya harus didukung dengan tata rias dan busana yang menggambarkan atau menyimbolkan karakter tarian tersebut. Sebagai pendukung karya tari, iringan musik menjadi hal yang penting. Dalam karya ini menggunakan iringan pentatonic dalam bentuk digital.Karya tari Sigrak menawarkan bentuk sajian yang mengeksplorasi tubuh berdasarkan tipe tari dramatik. Penyampaian gerak dalam karya ini dipertimbangkan dari sisi konsep karya dan kemampuan para penari yang tentunya memiliki motivasi dan isi. Kata Kunci : Ungkapan, Sigrak, dan Dramatik
KARYA TARI TARI JATHIL OBYOG PONOROGO DAN PENGEMBANGANNYA FISLELA MIFTAKHUL JANNAH, IKKE; JUWARIYAH, ANIK
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jathil Obyog merupakan salah satu elemen dari kesenian Reog Obyog yang memiliki posisi sentral dalam pertunjukan tersebut. Jathil Obyog memiliki ragam gerak yang bermacam-macam seperti : massal, srampat, walang kekek, doger, dan jaipong. Perkembangan gaya tari Jathil Obyog terletak pada faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Peneliti mengambil periode 2000-2018 dikarenakan pada tahun 2000 telah mulai muncul perkembangan pada gaya tari Jathil Obyog yang disebabkan oleh perkembangan musik yang sebelumnya biasa saja kamudian hadir campursari (lagon-lagon) dan jaipongan yang telah menghadirkan gaya tari yang berbeda-beda pada Jathil Obyog. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perkembangan gaya tari Jathil Obyog Periode 2000-2018, maka perlu dilakukan penelitian secara mendalam. Rumusan masalah penelitian adalah 1) Bagaimana bentuk gerak tari Jathil Obyog di Ponorogo Periode 2000-2018 ? 2) Bagaimana perkembangan gaya tari Jathil Obyog di Ponorogo Periode 2000-2018 ? 3) Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi perkembangan gaya tari Jathil Obyog di Ponorogo Periode 2000-2018 ?. Untuk memecahkan rumusan masalah tersebut peneliti menggunakan teori para ahli yaitu: Teori Analisi Bentuk Gerak Sumandiyo Hadi Y. proses mewujudkan atau mengembangkan suatu bentuk dengan berbagai prinsip-prinsip bentuk menjadi sebuah wujud gerak tari. Teori analisis gaya gerak Sumandiyo Hadi Y. pengertian gaya dan kepenarian. Teori Faktor Dari semua bagan kerangka berfikir tersebut untuk memecahkan masalah dalam judul Perkembangan Gaya Tari Jathil Obyog di Ponorogo Periode 2000-2018. Kata Kunci : Perkembangan, Gaya Tari, Jathil Obyog, Periode 2000-2018
“YES OR NO” KARYA TARI DRAMATIK WUJUD KARAKTER SEORANG TRANSGENDER ANINDITA DWIKA RATRI, CLAUDIA; NENGAH MARIASA, I
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transgender dapat dikatakan sebagai ekspresi identitas gender di luar konstruksi. Gender tradisional dalam masyarakat yang hanya mendefinisikan dan mengakui dua jenis gender yakni maskulin dan feminin, tanpa mengkalkulasi gender ketiga yang baru-baru ini sering diperhatikan kemunculannya. Ekspresi ini hanyalah sebatas ekspresi penampilan dari individu transgender tersebut dan tidak mengarah pada pengubahan tampilan fisiknya (Nagoshi dan Brzuzy 2010). Fokus karya dalam pembuatan karya tari sangatlah penting karena memiiki tujuan memudahkan koreografer untuk membantu proses penggarapan pengkaryaan menjadi lebih terencana dan terstruktur. Fokus juga membantu koreografer untuk mewujudkan bentuk karya sesuai dengan tema yang diangkat. Apabila fokus karya jelas, maka jalan menyusun karya tari menjadi lebih mudah. Fokus karya tari ini menjelaskan tentang wujud karakter seorang transgender. Fokus karya ini akan diwujudkan dengan 5 penari dan memliki dasar tari yang hampir sama. Karya tari ?Yes or No? merupakan karya tari yang berangkat dari gagasan ide koreografer. Karya ini memiliki dua variabel yaitu variabel bentuk dengan menggunakan konsep tari dramatik. Setelah terciptanya karya tari ini, variabel isi terlihat dari metode yang digunakan untuk penggarapan karya tari ?Yes Or No?. Karya tari ini menggunakan metode konstruksi. Konsep alur pada karya tari ?Yes or No? untuk membangun unsur tari dramatik sehingga menimbulkan diamika yang kuat yang berdampak pada suasana dramatis dalam penyajianya. Kata Kunci : Tipe Dramatik, Karakter, Transgender
KARYA TARI “TAKTAK” SEBAGAI SIMBOL KEBERSAMAAN DALAM KOREOGRAFI PENDIDIKAN PUTRI HAPSARI, MEYDYINA; HANDAYANINGRUM, WARIH
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Taktak adalah tarian kreasi baru yang menggambarkan kebersamaan dan kekompakan anak-anak dalam melakukan suatu kegiatan.Tari ini disajikan dalam bentuk kelompok. Koreografer melihat fenomena kurang terjalinnya kebersamaan dan kekompakan antar anak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercetuslah ide garap tari dalam bentuk karya tari Taktak. Kata Taktak diambil dari suara sepasang properti tongkat warna-warni yang dipukul-pukul bersamaan sehingga menghasilkan bunyi tak tak. Tema dari tari ini ialah keceriaan, maka dari itu gerakan yang digunakan adalah gerakan riang, lincah, dan semangat serta didukung dengan musik yang rampak dari alat musik jimbe, keyboard, dan bass. Tujuan dari pembuatan karya tari ini agar terciptanya kebersamaan antar teman sehingga muncul rasa peduli terhadap sesama.Metode penciptaan karya tari Taktak ini diambil dari buku Jacqueline Smith mengenai pendekatan konstruksi. Hasil penciptaan karya tari ini berupa gerak, busana tari, tata rias, properti, musik/iringan, dan tata pentas tari Taktak. Kata Kunci: Simbol, kebersamaan, tari Taktak
KARYA JARANAN JAWA SEGOTRO PUTRO KELURAHAN BURENGAN KECAMATAN PESANTREN KOTA KEDIRI (TINJAUAN STRUKTUR PERTUNJUKAN) KURNIA DWI SEPTIANA, ELSA; WAHYUNI RAHAYU, EKO
Solah Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Solah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Jaranan adalah bagian kebudayaan yang timbul dan tumbuh berhubungan dengan jiwa perasaan manusia. Kesenian Jaranan merupakan seni pertunjukan rakyat sebagai bentuk kesenian tradisional warisan leluhur. Kesenian Jaranan ini kemudian muncul di Kediri untuk menggambarkan boyongnya dari Kediri menuju Wengker Bantar Angin serta sayembara yang telah diadakan Dewi Songgo langit. Penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui struktur pertunjukan Jaranan Jawa di Kota Kediri. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Dengan sumber data yang berasal dari narasumber pemilik sanggar Segotro Putro, dokumen tertulis, gambar maupun video pertunjukan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui 3 tahap, yaitu data reduction, data display, dan Conclusion Drawing/Verification. Validitas data dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan metode. Struktur pertunjukan Jaranan Jawa di Kota Kediri terdiri dari 1) Prapembuka, 2) Pembuka, 3) Adegan Jejer Jaranan, 4) Adegan celengan, 5) Adegan Perangan Bujangganom dan Barongan, 6) Adegan Barongan atau Rampokan. Simpulan pada penelitian ini menunjukan bahwa, Jaranan Jawa Segotro Putro Kelurahan Burengan Kecamatan Pesantren Kota Kediri hingga sekarang dapat terus hidup, dinikmati dan diminati oleh masyarakat. Kata kunci: Jaranan Jawa, Struktur, Seni Pertunjukan