cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Hikari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang - Fakultas Bahasa dan Seni UNESA Bidang Kajian Linguistik Jepang.
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
ANALISIS MAKNA GRAMATIKAL VERBA MIRU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Rizqi Khairu Dhuha, M.
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Verba merupakan bagian yang penting dalam sebuah kalimat. Dalam bahasa Jepang verba digunakan untuk menyatakan suatu aktivitas. Dalam bahasa Jepang cukup banyak terdapat kata yang mengandung makna yang mirip atau sinonim. Sinonim sendiri merupakan permasalahan yang sulit dihadapi pembelajar asing dalam mempelajari bahasa Jepang. Seperti verba miru (??) (??) (??) (??) yang mempunyai makna ?melihat? dalam bahasa Indonesia. Namun ketika digunakan dalam suatu kalimat akan bermakna gramatikal akibat dari menyesuaikan konteks dan proses gramatikalisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dua rumusan masalah yaitu, 1) perbedaan makna dari verba miru (??) (??) (??) (??), dan 2) penggunaan miru (??) (??) (??) (??) dalam kalimat bahasa Jepang.?Rumusan masalah pertama dijawab dengan konsep dari Bunkacho (1973:150, 287, 738, 1053), Naoki (1993:1190), dan Kindaichi (1978:396, 1894) mengenai makna verba miru. Rumusan masalah kedua dijawab dengan konsep dari Verhaar (2012:394) dan Chaer (2007:298) mengenai faktor kesinoniman dalam kalimat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dari penelitian ini berupa kalimat yang mengandung miru (??)18 data, miru (??)10 data, miru (??) 11 data, miru (??) 6 data. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. 1. Verba miru (??) memiliki makna ?melihat? dengan biasa. Verba miru (??) memiliki makna ?memperhatikan? atau ?melihat secara fokus/teliti?. Verba miru (??) mempunyai makna ?menonton/menyaksikan?. Sedangkan verba miru (??) memilki makna ?memeriksa?. 2. Pada konteks kalimat dimana kinerja mata untuk melihat atau merasakan dengan mata, mengetahui keadaan, tampilan, bentuk, dan isi, memperhatikan, menonton, dan melihat secara fokus/teliti, verba miru (??) (??) (??) dapat saling menggantikan. Pada konteks kalimat, verba miru (??) dapat menggantikan. Sedangkan untuk verba miru (??) tidak dapat digantikan ataupun menggantikan karena khusus untuk digunakan pada dunia medis.?Kemudian pada konteks kalimat saat mata tidak digunakan untuk melihat, melainkan merasakan dengan mata (mimpi/bermimpi) hanya dapat menggunakan verba miru (??) saja.
BAHASA GYARU DALAM CUITAN AKUN TWITTER ANGGOTA KOMUNITAS GYARU PADA TAHUN 2017: KONSENTRASI PADA PEMBENTUKAN KATA-KATA DAN SHūJOSHI ANGGRAINI RETNO SUSANTY, RESTY; PRASETYO, JOKO
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gyaru merupakan subkultur anak muda Jepang yang memiliki tren fashion yang unik. Bukan hanya pada fashionnya saja ternyata bahasa yang mereka gunakan juga memiliki keunikan. Bahasa yang digunakan pada golongan mereka disebut juga dengan gyaru-go. Gyaru-go sering berkembang tiap tahunnya, karenanya penelitian ini dibuat untuk mengetahui jenis pembentukan gyaru-go pada tahun 2017. Adapun sh?joshi yang digunakan oleh gyaru diketahui mengalami penyimpangan. Sehingga penelitian ini dibuat untuk mengetahui bentuk penyimpangan penggunaan sh?joshi yang digunakan oleh gyaru. Teori Yonekawa mengenai jenis pembentukan wakamono kotoba digunakan untuk membahas masalah pertama yakni jenis pembentukan gyaru-go. Sedangkan teori Chino digunakan untuk membahas masalah kedua mengenai sh?joshi. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif deskriptif. Sumber data merupakan cuitan twitter dari tiga anggota Black Diamond. Penelitian ini menggunakan teknik analasis Miles dan Humberman. Hasil penelitian didapatkan bahwa dalam cuitan akun twitter anggota komunitas gyaru pada tahun 2017 ditemukan sebelas jenis pembentukan diantaranya yakni: 1) Shakuy?; 2) Sh?ryaku; 3) Iikae; 4) Kashiramoji; 5) Goroawase; 6) Konk?; 7) Meishi no Hasei; 8) Keiy?shi/keiy?d?shi no hasei; dan 9) Oto no tenka, serta dua sisanya merupakan jenis pembentukan baru gyaru-go, diantaranya: 10) Kogo; 11) Futatsu ij? no gokesei de awaseru h?h?. Pada penyimpangan penggunaan sh?joshi oleh gyaru ditemukan dua bentuk penyimpangan yakni penggunaan sh?joshi yang mengalami perubahan bentuk (katachi wo kaeru sh?joshi wo mochiiru) dan penggunaan sh?joshi laki-laki (dansei-go no sh?joshi wo mochiiru). Kata Kunci: Variasi bahasa, Bahasa gyaru, Pembentukan kata, Sh?joshi
IMPLIKATUR PERCAKAPAN PADA PELANGGARAN MAKSIM PRINSIP KERJASAMA DALAM DRAMA NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGGO EPISODE 1-12 (日本人 の 知らない日本語エピソード1-12) BAGUS TRIANTO, RIZKI
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini tentang klasifikasi tuturan pelanggaran percakapan maksim prinsip kerjasama, implikatur dan fungsi pelanggaran maksim prinsip kerjasama pada drama Nihonjin no Shiranai Nihonggo Episode 1-12. Rumusan masalah yang pertama dianalisis dengan teori prinsip kerjasama Grice (1975). Rumusan masalah yang kedua dianalisis dengan menggunakan teori implikatur dari Leech (1983).Rumusan masalah ketiga dianalisis dengan menggunakan teori fungsi asertif dan ekspresif dari Searle (1979). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Sumber data dari penelitian ini adalah drama Nihonjin no Shiranai Nihonggo Episode 1-12.Klasifikasi pelanggaran maksim prinsip kerjasama dalam hal ini adalah pelanggaran maksim kualitas memiliki dua kategori yaitu memberikan informasi yang mengada-ada dan memanipulasi fakta. Pada pelanggaran maksim kuantitas memiliki dua kategori yaitu memberikan informasi yang berlebihan dan pemberian informasi kurang. Pada pelanggaran maksim relevansi memiliki satu kategori yaitu kategori melenceng dari topik yang sedang dibicarakan. Terakhir adalah pelanggaran maksim pelaksanaan atau maksim cara yang memiliki dua kategori yaitu berbiacara tidak jelas atau pemberian informasi kabur dan penyampaian informasi berbelit ? belit. Ada 2 jenis implikatur dalam pelanggaran maksim prinsip kerja sama. implikatur percakapan dan iplikatur skala. Implikatur percakapan terbagi menjadi 2, implikatur percakapan umum dan implikatur percakapan khusus. Implikatur percakapan umum memiliki 7 (tujuh) kategori yaitu, memberi saran, memaksa, mengeluh, memberi informasi, mengkritik, mengajak dan memuji. Implikatur percakapan khusus memiliki 7 (tujuh) kategori yaitu menolak, memaksa, memberi informasi, mengeluh, mengkritik, memuji dan membingungkan informasi. Terakhir Implikatur berskala memiliki 1 (satu) bentuk kategori yaitu skala berat. Fungsi pelanggaran maksim prinsip kerjasama terbagi menjadi dua, yaitu fungsi asertif dan fungsi ekspresif, setiap jenis fungsi tersebut telah dikategorikan berdasarkan data yang ada. Kata kunci : implikatur, pelanggaran prinsip kerjasama, fungsi pelanggaran,prinsip kerjasama, drama dan Nihonjin No Shiranai Nihongo ABSTRACT This research is a classification of conversations that violate a maxim of cooperative principle, implicature and function of the violate a maxim of the cooperative principle in the drama Nihonjin no Shiranai Nihonggo Episode 1-12. The first problem formulation was analyzed with the cooperative principle Grice (1975). The second formulation was analyzed using the theory of implicature from Leech (1983). Third formulation was analyzed using the assertive and expressive function theory of Searle (1979). This research is a qualitative research using descriptive analysis method. The drama series ?Nihonjin no Shiranai Nihonggo Episode 1-12? was the subject of research data. The results of this study are explained as follows. conversations that violate a maxim of cooperative principle have four categories: maxim of quality, maxim of quantity, maxim of relevance, and maxim of manner. 1. The violation of maxim of quality has two categories, providing fabricated information and facts manipulation. 2. It has two categories, giving excessive information and giving less information 3. The violation of maxim of relevance has one category, conversation irrelevance 4. The violation of maxim of manner has two categories, ambiguous speaking or the provision of vague information and the convolution of the information given. There are 2 types of implicature to violate a maxim of the cooperative principle. Conversational implicature and scale implicature The conversational implicature is divided into 2 (two) categories, the general conversational implicature and the specific conversation implicature. The general conversational implicature has 7 (seven) categories, to give advice, to compel, to complain, to give information, to criticize, to invite and to compliment. Specific conversational implicature has 7 (seven) categories, to reject, to force, to give information, to complain, to criticize, to compliment and to confusing information. The scale implicature has 1 (one) category, weight scale. The violation function of the maxim of cooperation principle is divided into two function, assertive and expressive, each type of function has been categorized based on the presented data. Keywords: implicature, violates a maxim of the cooperative principle, function violate a maxim of the cooperative principle, drama dan Nihonjin No Shiranai Nihongo
PERAN SEMANTIS DAN FUNGSI JOSHI NI DALAM DONGENG RAPUNZEL KARYA GRIMM BERSAUDARA AYU WULAN ANGGAR PUSPITA, DIAH
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas mengenai peran semantis dan fungsi joshi ni dalam kalimat. Joshi ni adalah salah satu kakujoshi yang mampu memberikan peran pada nomina dalam sebuah kalimat. Peran merupakan unsur makna yang dimiliki oleh setiap konstituen dalam struktur kalimat. Sedangkan, fungsi joshi adalah bagaimana cara kerja joshi dalam menghubungkan nomina dengan nomina agar tercipta sistem gramatikal yang benar. Penelitian ini berfokus pada peran semantis dan fungsi joshi ni dalam dongeng fantasi. Dongeng fantasi dipilih karena dongeng ditujukkan untuk anak-anak sehingga kalimat yang dipakai mudah untuk dimengerti. Tujuan dari pada penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana peran semantis dan fungsi joshi ni dalam kalimat. Dengan mengambil persoalan yaitu : 1) Bagaimanakah Peran Semantis Joshi Ni dalam Dongeng Rapunzel karya Grimm Bersaudara; 2) Bagaimanakah Fungsi Joshi Ni dalam Dongeng Rapunzel karya Grimm Bersaudara. Untuk menjawab persoalan tersebut digunakan teori mengenai peran semantis joshi ni yang dikemukakan oleh Iori, Takanashi, dkk (2010) dan teori mengenai fungsi joshi ni yang dikemukakan oleh Seiichi dan Michio (1992) dan Sugihartono (2001). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah dongeng fantasi yang dihimpun dari website hukumusume. Data penelitian berupa kalimat yang mengandung joshi ni. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah teknik dokumen dan teknik catat. Dalam penelitian ini analisis dilakukan dengan menggunakan teknik lesap dan teknik ganti (Sudaryanto, 2016) Dari penelitian tersebut diperoleh hasil, yakni terdapat 7 peran semantis joshi ni, 1) sonzai basho 33 data; 2) tochakuten 9 data; 3) ukete 26 data; 4) henka kekka 8 data; 5) ido no houkou 24 data; 6) dedokoro 14 data; dan 7) jikan 4 data. Adapun fungsi joshi ni yang diperoleh adalah sebagai berikut, 1) penanda waktu 5 data; 2) penanda objek tak langsung 13 data; 3) penanda agen/sumber 13 data; 4) menandakan perbuatan yang hanya dipermukaan 3 data; 5) mengindikasikan tujuan 5 data; 6) penanda lokasi 37 data; 7) mengindikasikan perpindahan 21 data; dan 8) tidak teridentifikasi 25 data. Kata Kunci: Peran semantis, Fungsi, joshi ni, Dongeng fantasi Abstrak This research discussed about semantic roles and function of joshi ni in sentences. Joshi ni is one of kakujoshi who is able to give a role to the noun in a sentence. Roles are meaningful elements possessed by each constituent in the sentence structure. Whereas, the function of joshi is how does joshi work in connecting noun with noun in order to create a correct grammatical system. This research focused on the semantic roles of joshi ni in fantasy tales. Fantasy fairy tales are chosen because usually fairy tales are intended for children so that the sentence used is easy to understand. The purpose of this study is to describe how semantic roles and function of joshi ni in sentences. By taking the issue, namely: 1. What is the semantic roles of Joshi Ni in fairytales named Rapunzel by Grimm Brothers? 2. What is the function of Joshi Ni in fairytales named Rapunzel by Grimm Brothers? To answer this problem, a theory is used about the semantic roles of joshi, as proposed by Iori, Takanashi, et al (2010) and as for the function of joshi ni is used a theory by Seiichi and Michio (1992) and Sugihartono (2001). This study uses a qualitative research approach. The data source used in this study is a fantasy tale collected from the hukumusume website. The research data is sentences are containing joshi ni. The technique used to collect data is document techniques and note-taking techniques. In this study the analysis was carried out by using a sloping technique and a change of technique (Sudaryanto, 2016). From the research, the results obtained, namely there are 7 semantic roles of joshi ni, 1) sonzai basho 33 data; 2) tochakuten 9 data; 3) ukete 26 data; 4) henka kekka 8 data; 5) ido no houkou 24 data; 6) dedokoro 14 data; and 7) jikan 4 data. As for the function of joshi ni yang diperoleh adalah sebagai berikut, 1) Indicates a point of time 5 data; 2) an indirect object marker 13 data; 3) indicates an agent or a source 13 data; 4) indicates an surface of something upon which some action directly takes place 3 data; 5) indicates purpose when someone moves from one places to another 5 data; 6) indicates the location 37 data; 7) indicates a place toward which someone or something moves 21 data; dan 8) unidentified 25 data. Keyword: Semantic Roles , Function, Joshi ni, Fantasy fairy tales

Page 10 of 10 | Total Record : 94