cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Hikari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang - Fakultas Bahasa dan Seni UNESA Bidang Kajian Linguistik Jepang.
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
KAJIAN MAKNA DAN NILAI BUDAYA PERIBAHASA JEPANG DAN INDONESIA YANG MENGGUNAKAN UNSUR NAMA BINATANG FUADUL HADI, LALU
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa diketahui sebagai salah satu unsur kebudayaan yang ada di dunia ini. Bahasa berfungsi sebagai pengungkap informasi yang biasanya dilakukan secara langsung dan secara tak-langsung. Pengungkapan secara tak-langsung seringkali dilakukan oleh petutur guna menghindari rasa ketersinggungan dari pihak lawan tutur. Selain itu, pengungkapan maksud dan tujuan melalui bahasa kadangkala diberikan aspek-aspek tertentu, misalnya kiasan, dan sebagainya. Salah satu pemakaian bahasa yang digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan maksud secara tak langsung adalah peribahasa. Penelitian yang berjudul ?Kajian Makna dan Nilai Budaya Peribahasa Jepang dan Indonesia yang Menggunakan Unsur Nama Binatang? ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan makna peribahasa Jepang dan Indonesia, dan perbandingan nilai budaya pada peribahasa Jepang dan Indonesia yang menggunakan unsur nama binatang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ?makna peribahasa Jepang dan Indonesia yang menggunakan unsur nama binatang? dengan menggunakan teori segi tiga makna Ogden dan Richard dan teori metafora. Selain itu, pengklasifikasian nama binatang yang ditemukan pada ?peribahasa jepang dan Indonesia yang menggunakan unsur nama binatang? memakai teori ?metode kosakata dasar? milik Gorys Keraf. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kamus peribahasa Jepang dan Indonesia dan juga situs kotowaza-allguide.com untuk peribahasa Jepang dengan kamusperibahasa.com untuk peribahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 28 nama binatang yang ditemukan ada pada peribahasa Jepang atau pun pada peribahasa Indonesia. Kemudian, perbandingan makna peribahasa Jepang dan Indonesia yang menggunakan unsur nama binatang ini, ditemukan ada beberapa peribahasa dengan ?unsur nama binatang dan makna yang sama?, ?unsur nama binatang yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama, dan ?unsur nama binatang yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda (berlawanan)?. Selanjutnya perbandingan nilai budaya peribahasa Jepang dan Indonesia yang menggunakan unsur nama binatang ini ditemukan tentang kewaspadaan hidup, realistis hidup, dan ajaran membalas budi. Kata Kunci: peribahasa Jepang, peribahasa Indonesia, kosakata nama binatang, makna peribahasa, nilai budaya Abstract Language has been knowing as one of the elements of the culture that exist in the world. Language?s fuction is for sending information both direct and indirect way. Sending information indirectly is often used by the speakers in order to avoid offended feeling to the listeners. Beside that, to deliver certain intention and purpose through language sometimes the speakers also using aspects, for example analogy, methapor and so on. One of language function to express intention indirectly is proverb. The research titled ?The Study of the Meanings of Japanese and Indonesian Proverbs and Cultural Values that Using Animal?s Name Elements? has purpose to describe the comparison of proverbs? meaning, and cultural values in Japanese and Indonesian proverbs that using animal?s name elements. This research is a qualitative research that using descriptive analysis methods. Descriptive analysis in this study has purpose to analyze the meaning of Japanese and Indonesian Proverbs that ??Using the Elements of Animal?s Name. The theory that used in this research are triangular meaning theory by Ogden and Richard and metaphor theory. In addition to that, to classify animal?s names, this research is using ?basic vocabulary method by Gorys Keraf. The sources of data used in this research are form Japanese and Indonesian proverbs dictionaries, kotowaza-allguide.com website for Japanese proverbs, and kamusperibahasa.com website for Indonesian proverbs. The results of this research shows there are 28 names of animals that found in Japanese proverbs and Indonesian proverbs. And then, from the meaning comparison of Japanese and Indonesian proverbs that use animals name element, there was found some proverbs with element of the animal?s name with same meaning, different animal names but has same meaning, and same animal name but has different meaning (opposite)?. Besides that, the comparison of cultural?s value of Japanese and Indonesian proverbs that using animals? name is about vigilance of life, realistic life, and the doctrine of returning favor. Keywords: Japanese proverbs, Indonesian proverbs, animal?s name, the meaning of proverbs, cultural values.
FUNGSI SINTAKSIS DARI KIGO (季語) DALAM OGURA HYAKUNIN ISSHU(小倉百人一首) NANDA RIZKIYA SUSANTO, KARTIKA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Hyakunin Isshu adalah kumpulan 100 puisi dari 100 penulis di Jepang yang memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh puisi yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan kigo. Kigo adalah kata, atau frasa yang berhubungan dengan musim. Penggunaan kigo dalam puisi juga menempati kedudukan fungsi sintaksis yang ada dalam sebuah susunan kalimat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kedudukan kigo dalam Hyakunin Isshu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah Ogura Hyakunin Isshu yang terdapat pada buku Anno Hideko??????? yang berjudul ??????????(Manga de Wakaru Hyakunin Isshu , 2010). Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kigo - kigo dalam Hyakunin Isshu menduduki 3 fungsi sintaksis yaitu subjek, predikat, dan keterangan. Dari ketiga fungsi tersebut kigo ? kigo dalam Hyakunin Isshu lebih sering menduduki kedudukan sebagai taishougo atau objek. Hal ini dikarenakan sebagian besar kigo yang terdapat di Hyakunin Isshu merupakan kata benda atau frasa benda atau meishi. Kata Kunci: Kigo, Hyakunin Isshu, Fungsi Sintaksis Abstract Hyakunin Isshu is a collection of 100 poems from 100 writers in Japan that have characteristics that are not possessed by poetry in Indonesia. One of them is the use of kigo. Kigo is a word, or phrase related to the season. The use of kigo in poetry also occupies the position of the syntactic function in a sentence. The purpose of this research is to determine the position of kigo in Hyakunin Isshu. This research use desciptive qualitative approach. The source of the data in this research is the Ogura Hyakunin Isshu which is found in the Anno Hideko book entitled ?? ? ? ? ? ? ? (Manga de Wakaru Hyakunin Isshu, 2010). The results of the research that have been carried out show that kigo in Hyakunin Isshu occupies 3 syntactic functions namely subject, object, and explanation. Of these three functions, kigo in Hyakunin Isshu is more often occupied as taishougo or object. This is because most of the kigo found in Hyakunin Isshu are nouns or meishi and phrases of objects.Keywords: Kigo, Hyakunin Isshu, Syntactic Function
ANALISIS KONTRASTIF REDUPLIKASI BAHASA JEPANG DAN BAHASA JAWA 日本語とジャワ語の重複における対照分析 MARDIANA, RIA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMorfologi merupakan kajian linguistik dalam bahasa. Dalam morfologi terdapat reduplikasi yangmerupakan bentuk pengulangan kata. Reduplikasi dalam bahasa Jepang disebut juufuku sedangkan reduplikasidalam bahasa Jawa disebut tembung rangkep. Reduplikasi bahasa Jepang terdapat dua klasifikasi yaitu gokan nojuufuku (reduplikasi penuh) dan gokan no juufuku to setsuji (reduplikasi penuh dan imbuhan). Sedangkan dalambahasa Jawa reduplikasi terbagi menjadi empat macam. Yaitu, reduplikasi penuh, reuplikasi bervariasi bunyi,redupliksi parsial, reduplikasi parsial bervariasi bunyi. Pada penelitian ini menggunakan analisis kontrastif untukmengetahui persamaan dan perbedaan reduplikasi dari bahasa Jepang dan bahasa Jawa.Penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah yaitu untuk mendeskripsikan bentuk reduplikasi bahasaJepang dan bahasa Jawa, untuk mendeskripsikan proses reduplikasi bahasa Jepang dan bahasa Jawa, yangterakhir adalah untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan dalam reduplikasi bahasa Jepang dan bahasaJawa. Rumusan masalah pertama dan ke dua menggunakan teori koizumi dan norimitsu sedangkan untukreduplikasi bahasa Jawa menggunakan teori Sudaryanto. Rumusan masalah ke tiga berdasarkan teori analisiskontrastif Suzuki (1089:61). Sumber data reduplikasi bahasa Jepang diperoleh dari majalah kazi, niponika, karinodan yourei. Sedangkan reduplikasi bahasa Jawa diperoleh dari majalah panjebar semangat. Reduplikasi bahasaJepang diperoleh 40 data, 32 data adalah gokan no juufuku dan 8 data gokan no juufuku to setsuji. datareduplikasi bahasa Jawa diperoleh 40 data. 12 data merupakan data reduplikasi penuh, 12 data reduplikasibervariasi bunyi, 12 reduplikasi parsial, dan 4 data lainnya adalah reduplikasi parsial bervariasi bunyi.Persamaan dan perbedaaan reduplikasi bahasa Jepang dan bahasa Jawa adalah gokan no juufuku sama denganreduplikasi penuh dan reduplikasi parsial, gokan no juufuku to setsuji dengan reduplikasi parsial dan reduplikasiparsial bervariasi bunyi.Kata Kunci: Morfologi, Reduplikasi, Analisis kontrastif.AbstractMorphology is linguistic study of language. In Morphology there is reduplicate, which in form ofrepeating the word. Reduplicate in Japanese language is Juufuku while in Javanese language is tembung rangkep.Japanese Reduplicate has two classifications namely gokan no jufuku (fully reduplicate) and gokan no juufuku tosetsuji (fully reduplicate and remuneration). While in Javanese language divided into four types. Which is, fullyreduplicate, variate-sound reduplicate, partial reduplicate, partial variate-sound reduplicate. In this study usingcontrastive analysis to find the similarities and the differences reduplication from Japanese language andJavanese language.This study have three research questions that is to describe the form of Japanese and Javanesereduplication, to describe the process of Japanese and Javanese reduplication, and the last is to describe thesimilarities and the differences Japanese and Javanese reduplication. The first and second research questionusing Koizumi`s and Norimitsu`s theories while for Javanese reduplication using Sudaryanto`s theory. The thirdresearch question base of contrastive analysis theory by Suzuki (1089:61). The data source Japanese languagereduplication obtained from Kazi magazine, Niponika magazine, Karino magazine, and Yourei. While Javaneselanguage reduplication obtained from Panjebar Semangat magazine. Japanese reduplicate language obtainedforty data, thirty-two data is gokan no jufuku and 8 data gokan no juufuku to setsuji. Javanese languagereduplicate obtained forty data. Twelve data is fully reduplicate, twelve data is variate-sound reduplicate, twelvedata is partly reduplicate, and the other 4 data is partly variate-sound reduplicate. The similarities and thedifferences Japanese language and Javanese language reduplication is gokan no juufuku is same as fully andpartial reduplication, gokan no juufuku to setsuji with partial reduplicate and partial variate-sound reduplicate.Keywords: Morphology, Reduplicate, Contrastive Analysis.
ABREVIASI BAHASA JEPANG PADA FILM BERGENRE REMAJA BERJUDUL TORI GIRL KARYA KOU NAKAMURA NOVIASTUTI, ENDAH
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang abreviasi atau pemendekan kata yang terdapat pada bahasa Jepang dalam film bergenre remaja berjudul Tori Girl karya Kou Nakamura. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat aturan khusus untuk pemendekan kata yang terjadi pada sebuah kelas kata tertentu pada bahasa Jepang. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengangkat masalah mengenai jenis kelas kata yang mengalami abreviasi, kemudian bentuk abreviasi, serta proses pembentukan abreviasi dalam film bergenre remaja berjudul Tori Girl karya Kou Nakamura. Dari penelitian ini didapatkan hasil sebagai berikut: (1) jenis kelas kata yang ditemukan adalah sebanyak 6 jenis, antara lain dooshi (verba), meishi (nomina), i-keisyooshi (adjektiva-i), rentaishi (prenomina), setsuzokushi (konjungsi), dan kandooshi (interjeksi). (2) ditemukan sebanyak 38 data yang termasuk ke dalam 2 bentuk pemendekan kata antara lain 35 data termasuk dalam jenis karikomi, diantaranya 15 data termasuk dalam pemendekan kata tunggal asli, dan sebanyak 20 data termasuk dalam pemendekan kata bentukan, sedangkan sebanyak 3 data termasuk ke dalam jenis toujigo, antara lain 2 data termasuk dalam jenis toujigo yang terbentuk dari penggabungan huruf depan atau huruf pertama dari setiap kata, dan 1 data termasuk dalam toujigo yang mengkombinasikan antara singkatan huruf dengan kata utuh. (3) terdapat 11 proses pembentukan kata antara lain proses penghilangan suku kata pada awal kata, proses penghilangan unsur tengah kata, proses penghilangan suku kata pada akhir kata, penghilangan seluruh kata kedua, penghilangan suku kata pada akhir kata pertama dan tengah kata kedua, penghilangan suku kata pada akhir kata pertama, penghilangan suku kata pada akhir kata pertama dan akhir kata kedua, penghilangan seluruh kata pertama, lalu penghilangan suku kata pada akhir kata kedua, penghilangan suku kata pada akhir kata pertama dan seluruh kata kedua, serta pengekalan huruf tiap komponen kata. Kata Kunci: Abreviasi, Bahasa Anak Muda, Tori GirlThis research examines the abbreviation or shortening of words in Japanese language at teen?s genre film Tori Girl by Kou Nakamura. The point of this research is to know is there any special rules of word abbreviation in Japanese language. Descriptive qualitative is used for this research method. The problem in this research are about the type of word class that is abbreviated, then the formation of abbreviation, and the process of forming an abbreviation at Tori Girl?s film by Kou Nakamura. Then the results of this research are as follows: (1) the types of word classes found are 6 types, including dooshi (verb), meishi (noun), i-keisyooshi (i-adjective), rentaishi (prenoun adjectival), setsuzokushi (conjunction), and kandooshi (interjection). (2) Found 38 data included in 2 forms of word shortening including 35 data included in karikomi types, including 15 data included in the original single word shortening, and as many as 20 data included in the shortened word formed, while 3 data included in the toujigo type, among others, 2 data are included in the toujigo type which is formed from the merger of the first letter or the first letter of each word, and 1 data is included in toujigo which combines the letter abbreviations with the word intact. (3) there are 11 word formation processes including the elimination of syllables at the beginning of the word, the process of removing the middle element of the word, the process of eliminating syllables at the end of the word, the elimination of the second word, the removal of syllables at the end of the first and middle words of the second word, the elimination of syllables in the end of the first word, the elimination of the syllable at the end of the first and final words of the second word, the omission of the first word, then the removal of the syllable at the end of the second word, the elimination of the syllable at the end of the first word and the entire second word, and the letter retention of each word component. Keywords: Abbreviation, Youth Languange, Tori Girl
PENGGUNAAN INTERJEKSI PADA RAGAM BAHASA PRIA DAN RAGAM BAHASA WANITA DALAM DRAMA YANKEE-KUN TO MEGANE-CHAN KARYA TAKANARI MAHOKO DHARMA PUTRA, ADITYA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengenai bentuk dan tindak tutur ilokusi dari penggunaan interjeksi pada ragam bahasa bedasarkan gender dalam drama Yankee-kun to Megane-chan karya Takanari Mahoko. Total data yang ditemukan sebanyak 155 data untuk penggunaan interjeksi pada ragam bahasa pria, 23 data penggunaan interjeksi pada ragam bahasa wanita, dan 51 data penggunaan interjeksi pada penyimpangan ragam bahasa pria dan wanita dalam drama Yankee-kun to Megane-chan karya Takanari Mahoko. Hasil dari artikel ini yaitu bentuk interjeksi dapat menjadi penanda ragam bahasa pria dan ragam bahasa wanita juga ditemukan beberapa data penyimpangan ragam bahasa. Pada ragam bahasa pria terdapat jenis ??, ??, dan ???? dan dapat bersifat positif, netral, dan negatif. Adapun, pada ragam bahasa wanita terdapat jenis ?? dan ???? dan dapat bersifat positif dan negatif. Apabila pada penyimpangan ragam bahasa pria hanya terdapat jenis?? dan dapat bersifat netral dan negatif, dan penyimpangan ragam bahasa wanita terdapat jenis??dan???? dan dapat bersifat positif dan negatif. Selanjutnya, tindak tutur ilokusi dari interjeksi pada ragam bahasa pria memiliki tindak tutur ilokusi asertif, ekspresif, komisif, dan direktif. Tindak tutur ilokusi dari interjeksi pada ragam bahasa wanita memiliki tindak tutur ilokusi asertif, ekspresif, dan direktif. Tindak tutur ilokusi dari interjeksi pada penyimpangan ragam bahasa memiliki tindak tutur asertif, ekspresif, dan direktif. Kata Kunci: Interjeksi, Ragam Bahasa Pria, Ragam Bahasa Wanita, Tindak Tutur Ilokusi This manuscript is about the form and illocutionary speech acts of the use of interjection in various languages ??based on gender in the Yankee-kun to Megane-chan drama by Takanari Mahoko. The total data found were 155 data for the use of interjections in male languages diversity, 23 data on the use of interjections in a variety of female languages diversity, and 51 data on the use of interjections on male and female language deviations in Yankee-kun to Megane-chan drama by Takanari Mahoko. The results of this study are that the form of interjection can be a marker of the male languages ??diversity and a female languages diversity ??are also found in some data on various language deviations. In male languages ??there are types of ??, ??, and ???? and can be positive, neutral, and negative. Meanwhile, in the variety of womens languages ??there are types of ?? and ? ? ? ? and can be positive and negative. If there are only types of???in the male language deviation and can be neutral and negative, and there are types of ?? and ????in the female language deviation and can be positive and negative. Furthermore, the illocutionary speech acts of interjection in male languages ??have include assertive, expressive, commissive, and directive. The illocutionary speech acts of interjection in the female language include assertive, expressive, and directive. The illocutionary speech acts of interjection in language variety deviation include assertive, expressive, and directive. Keywords: Interjection, Male Language Diversity, Female Language Diversity, Illocutionary Speech
MAKNA POSTPOSISI NI (に) DAN E (へ) PADA KALIMAT YANG MENGGUNAKAN VERBA SAMA DALAM BAHASA JEPANG ROTERY, DETTY
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK MAKNA POSTPOSISI NI (?) DAN E (?) PADA KALIMAT YANG MENGGUNAKAN VERBA SAMA DALAM BAHASA JEPANG Nama Mahasiswa : Detty Rotery NIM : 14020104045 Prodi/Jurusan : Pendidikan Bahasa Jepang/Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas : Bahasa dan Seni Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Dr. Roni, M.Hum., M.A. Tahun : 2018 Kata Kunci : makna gramatikal, jenis verba, postposisi ? dan ? Suatu kata dalam bahasa memiliki kesamaan makna, tulisan, maupun cara pengucapannya. Seperti halnya pada partikel bahasa Jepang yang memiliki kesamaan makna yakni postposisi ni (?) dan e (?) memiliki penggunaan yang sama apabila dilekati verba tertentu. Data yang di analisis adalah kalimat yang menggunakan postposisi ni (?) dan e (?) dari sumber yang tertulis yaitu Novel Madogiwa no Totto-chan karya Tetsuko Kuroyanagi dan Website nlb.ninjal.ac.jp. Untuk mengetahui verba yang dapat menggunakan postposisi ni (?) dan e (?) digunakan teori jenis verba oleh Vendler, Cook, dan Sutedi. Kemudian untuk mengetahui makna ni (?) dan e (?) digunakan teori gramatikal Chaer (1994) didukung mengenai frasa adposisional dan peran sintaksis serta topik oleh Verhaar (2012) serta di dukung teori tentang makna postposisi oleh Chino (2008). Selanjutnya, untuk mengetahui persamaan dan perbedaan makna kedua postposisi tersebut, digunakan gabungan dari teori-teori diatas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk menganalisis empat rumusan. Hasil analisis yang diperoleh dapat dijelaskan sebagai berikut: Postposisi ni (?) memiliki makna (1) menunjukkan lokasi nyata (2) menunjukkan lokasi abstrak (3) menunjukkan arah (4) menunjukkan hubungan waktu (5) menyatakan kalimat pasif (6) menunjukkan benefaktif (penerima) Sedangkan postposisi e (?) memiliki makna (1) menunjukkan lokasi nyata (3) menunjukkan lokasi abstrak (3) menunjukkan arah (4) menunjukkan benefaktif (penerima). Hasil analisis menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan makna antar ni (?) dan e (?). Persamaan makna postposisi ni (?) dan e (?) pada penelitian ini tidak bersifat khusus, melainkan persamaan yang bersifat umum. Persamaan yang bersifat umum yakni sama-sama memiliki makna ?ke? atau ?menuju ke arah?. Keduanya dapat saling menggantikan namun pada konteks tertentu, biasanya digunakan pada kalimat yang berhubungan dengan menyatakan arah dan tempat tujuan. Meskipun ni (?) dan e (?) bersinonim, kedua postposisi tersebut memiliki perbedaan. Postposisi ni (?) yang menandai adanya hubungan waktu ?pada? penelitian ini, kontras dengan postposisi e (?) yang menunjukkan arah tujuan ?ke?. Dan postposisi ni (?) yang menandai kalimat pasif ?di? kontras dengan postposisi e (?) yang menunjukkan arah tujuan ?ke?. ?? ?????????????????????????????????? ?? ???????? ???? ?14020104045 ?? ?????? ?? ??? ??? ????????? ???? ?Dr. Roni, M.Hum., M.A. ? ?2014 ????? ???????????????????? ??????????????????????????????????????????????????????????????????????2?????????????????????2???????????????????????????????????????????????????????????????nlb.ninjal.ac.jp ????????????????????????Vendler ?Cook ?Sutedi?????????????????????????????????Chaer (1994) ??????????????Verhaar (2012) ???????????????????????????Chino (2008)???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????(1)? ????????(2) ????????? (3???????4?????????(5) ?? ?6??????????????????(1)?????????(2) ????????? (3) ??????4???????????????????????????????2?????????????????????????????????????????????????pada???????????????ke??????????????????????di???????????????ke????????????
ANALISIS PREFIKS お (御) DALAM ANIME KAMISAMA HAJIMEMASHITA KARYA JULIETTA SUZUKI YULI KURNIASARI, RIZMA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prefiks ? (?) merupakan salah satu bentuk dari pembentukan kata melalui proses afiksasi. Dari pembentukan kata tersebut dapat menghasilkan sebuah kata jadian atau dalam bahasa Jepang disebut dengan haseigo (???). Dalam penelitian ini, peneliti membahas mengenai prefiks? (?) dalam anime Kamisama Hajimemashita karya Julietta Suzuki, berkaitan dengan proses pembentukan kata dan karakteristik kata yang dapat dilekati oleh prefiks? (?), dan perubahan makna yang terjadi setelah dilekati oleh prefiks tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini terdapat dua rumusan masalah, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana proses afiksasi pembentukan kata dan karakteristik kata yang dapat dilekati oleh prefiks? (?) dalam anime Kamisama Hajimemashita karya Julietta Suzuki? (2) Bagaimana perubahan makna kata setelah dilekati oleh prefiks? (?) dalam anime Kamisama Hajimemashita karya Julietta Suzuki? Secara teori, terdapat lima cara baca dari kanji?, namun hasil yang didapatkan dari penelitian ini hanya ditemukan empat cara baca, diantaranya adalah ?, ?, ? dan ??. Kemudian, data yang telah ditemukan sebanyak 40 data, diantaranya ialah prefiks ? sebanyak 21 data, prefiks ? sebanyak 15 data, prefiks ? 3 data dan prefiks ?? hanya 1 data. Berdasarkan penelitian ini, prefiks-prefiks tersebut memiliki sebuah persamaan, yakni prefiks tersebut merupakan prefiks sebagai penanda ragam bahasa hormat (??), dan memiliki kecenderungan menempel pada kelas kata yang sama, yaitu meishi yang berjenis futsuu meishi. Perbedaanya adalah prefiks ? dan ? menempel pada jenis kata wago, sedangkan prefiks ? dan ?? menempel pada jenis kata kango. Kemudian, perubahan makna kata yang terjadi setelah dilekati oleh prefiks? (?) memiliki dua sifat, yaitu inflektif dan derivatif. Keywords: Pembentukan Kata, Prefiks, Haseigo, Inflektif, Derivatif Prefix? (?) is one of the word formation that is being formed through affixation process. This word formation can produce a new word called haseigo (???) in Japanese. This research mainly discuss about the process of word formation, the characteristics of the words that can be attached to prefix? (?), and the meaning which changes after the prefix? (?) attachment process used in Kamisama Hajimemashita anime by Julietta Suzuki. The method used in this research is qualitative descriptive. There are two problems that arose in this research: (1) How is the affixation process of the word formation and the characteristics of the words that be attached to prefix? (?) in Kamisama Hajimemashita anime by Julietta Suzuki? (2) How the meanings in changed after being attached to prefix? (?) in Kamisama Hajimeamshita by Julietta Suzuki? Based on the research questions mentioned above, the result of the study are as follows. First, from 40 data found in the research, including 21 data of prefix ?, 15 data of prefix ?, 3 data of prefix ?, and 1 data of prefix ??, there are only four ways to read the kanji in this anime, which are ?, ?, ? and ?? even though theoretically there are five ways to read the kanji of ?. Second, these prefixes have similarity and difference. The similarity is that these prefixes functions as the marker of honorific language (??) and always tend to stick to the same word class, namely futsuu meishi, on the other hand, the difference is that the prefix ? and ? are attached to the kind of word, wago, whilst the prefix ? and ?? are attached to the kind of word, kango. Last, there are changes in meaning after the two characters going through attachment process to another prefix? (?), that is inflective and derivative. Keywords: word formation, prefix, haseigo, inflective, derivative
ONOMATOPE DALAM MUKASHI BANASHI (昔話) BERGENRE CERITA HEWAN SAKDIYAH FEBRIANI, AMINATUS
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati masyarakat untuk dipergunakan dalam beradaptasi, bekerja sama, dan komunikasi, termasuk bunyi tiruan sebagai bentuk ungkapan atau ekspresi. Kajian ini masuk kedalam ilmu semantik karena mengkaji suatu makna, dan juga ilmu morfologi karena mengkaji tentang bentuk kata dari onomatope. Penelitian ini membahas tentang klasifikasi, bentuk kata, dan makna dari onomatope jenis giongo, giseigo, gitaigo, giyogo, gijougo. Sumber data yang diambil untuk kajian ini berasal dari mukashi banashi bergenre cerita hewan yang diambil dari corporation website, dengan 40 data onomatope yang ditemukan. Metode penelitian yang digunakan adalah Descriptive Qualitative. Hasil penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan klasifikasi jenis onomatope, bentuk kata onomatope, dan makna onomatope. (1) Jenis onomatope yaitu terdiri atas giongo, giseigo, gitaigo, giyogo,dan gijougo. (2)Bentuk kata onomatope terdapat lima jenis, jenis bentuk kata tersebut yakni kurikaeshi, shoku-on, go-on, ri, dan boin no cho-on ka.(3) Makna onomatope memiliki sepuluh jenis yaitu doubutsu no naki goe, shizen genshou no naka no oto-yousu, mono ga dasu oto, mono no ugoki, mono no youtai-seishitsu, hito no dousa-hito no koe ya oto, hito no shintaiteki tokuchou, hito no kenkou joutai, hito ga iru-inai yousu, dan hito no yousu-shinjou-kankaku. Kata Kunci: Onomatope,Giongo-Giseigo-Gitaigo-Giyogo-Gijougo, Bentuk Kata, Makna Onomatope. Language is a system of sound signs that are agreed to be used in interaction, team work, and communication, including artificial sounds as a form of expression or expression. This research is semantic science because it investigate about the sense, and also the science that investigate about the form of the word from onomatopoeia. This study discusses about classification, word form, and meaning of the onomatopoeia type of giongo, giseigo, gitaigo, giyougo, and gijougo. The data source that was examined from the story genre mukashi banashi that came from the company?s website, with 40 onomatopoeic data has found. The research method that used was Descriptive Qualitative. The results of this study are aimed at describing onomatopoeia types, onomatopoeic word forms, and onomatopoeial meanings. (1) Onomatopoeia type consisting of giongo, giseigo, gitaigo, giyougo, and gijougo.(2) There are five types of onomatopoeic words, that types of words form are kurikaeshi, shoku-on, go-on, ri, and boin no cho-on ka.(3) There are ten onomatopoeic meanings, namely doubutsu no naki goe, shizen genshou no naka no oto-yousu, mono ga dasu oto, mono no ugoki, mono no youtai-seishitsu, hito no dousa-hito no koe ya oto, hito no shintaiteki tokuchou, hito no kenkou joutai, hito ga iru-inai yousu, and hito no yousu-shinjou-kankaku. Keywords : Onomatopoeia, Giongo-Giseigo-Gitaigo-Giyogo-Gijougo, Word Shape, Onomatopoeial Meanings.
FUNGSI SINTAKSIS DARI KIGO (季語) DALAM OGURA HYAKUNIN ISSHU(小倉百人一首) Rizkiya Susanto, Kartika Nanda
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

width: 0px; ">AbstrakHyakunin Isshu adalah kumpulan 100 puisi dari 100 penulis di Jepang yang memiliki ciri khasyang tidak dimiliki oleh puisi yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah penggunaan kigo. Kigo adalahkata, atau frasa yang berhubungan dengan musim. Penggunaan kigo dalam puisi juga menempatikedudukan fungsi sintaksis yang ada dalam sebuah susunan kalimat.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kedudukan kigo dalam Hyakunin Isshu.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalahOgura Hyakunin Isshu yang terdapat pada buku Anno Hideko??????? yang berjudul ????? ????(Manga de Wakaru Hyakunin Isshu , 2010).Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kigo - kigo dalam Hyakunin Isshumenduduki 3 fungsi sintaksis yaitu subjek, predikat, dan keterangan. Dari ketiga fungsi tersebut kigo ?kigo dalam Hyakunin Isshu lebih sering menduduki kedudukan sebagai taishougo atau objek. Hal inidikarenakan sebagian besar kigo yang terdapat di Hyakunin Isshu merupakan kata benda atau frasa bendaatau meishi.Kata Kunci: Kigo, Hyakunin Isshu, Fungsi SintaksisAbstractHyakunin Isshu is a collection of 100 poems from 100 writers in Japan that have characteristics thatare not possessed by poetry in Indonesia. One of them is the use of kigo. Kigo is a word, or phrase related tothe season. The use of kigo in poetry also occupies the position of the syntactic function in a sentence.The purpose of this research is to determine the position of kigo in Hyakunin Isshu. This researchuse desciptive qualitative approach. The source of the data in this research is the Ogura Hyakunin Isshuwhich is found in the Anno Hideko book entitled ?? ???? ? ? ? (Manga de Wakaru HyakuninIsshu, 2010).The results of the research that have been carried out show that kigo in Hyakunin Isshu occupies 3syntactic functions namely subject, object, and explanation. Of these three functions, kigo in Hyakunin Isshuis more often occupied as taishougo or object. This is because most of the kigo found in Hyakunin Isshu arenouns or meishi and phrases of objects.Keywords: Kigo, Hyakunin Isshu, Syntactic Function
PENGGUNAAN BENTUK KESOPANAN WAKIMAE PADA TOKOH SEBASTIAN MICHAELIS DALAM ANIME KUROSHITSUJI Isna Prayitno, Mega
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat beberapa bentuk kesopanan dalam bahasa Jepang, salah satunya adalah wakimae. Wakimae merupakan strategi kesopanan yang mengacu pada norma sosial yang menggunakan bentuk-bentuk formal. Bentuk-bentuk yang terdapat dalam bentuk kesopanan wakimae yaitu honorifik, gelar kehormatan, kata ganti, dan formula berbicara (Ide 1992:298). Dengan demikian, lebih diketahui penggunaan wakimae. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penggunaan bentuk kesopanan wakimae serta perbedaan kesopanan wakimae oleh tokoh Sebastian Michaelis kepada berbagai tokoh dalam anime Kuroshitsuji. Tokoh Sebastian Michaelis dalam anime Kuroshitsuji merupakan seorang pelayan serta tokoh utama. Dari hal tersebut, tokoh Sebastian Michaelis akan menggunakan tuturan yang mengandung bentuk kesopanan wakimae karena posisinya sebagai seorang pelayan.Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Hal tersebut karena data dalam anime Kuroshitsuji berbentuk kata-kata yang mengandung bentuk-bentuk wakimae. Kemudian data akan dianalisis untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu yang pertama bagaimana bentuk kesopanan wakimae oleh tokoh Sebastian Michaelis kepada lawan tuturnya dalam anime Kuroshitsuji dan yang kedua bagaimana bentuk perbedaan kesopanan wakimae yang dilakukan oleh tokoh Sebastian Michaelis kepada berbagai tokoh dalam anime Kuroshitsuji. Dalam anime Kuroshitsuji, terdapat bentuk kesopanan wakimae yang dilihat dari bentuk-bentuk didalamnya. Dalam kesimpulan tersebut terdapat sonkeigo, kenjoogo dan teineigo. Terdapat penggunaan daimeishi pada pronomina orang pertama, yaitu watashi dan kedua?anata. Terdapat tiga gelar keishou yang terdapat dalam Kuroshitsuji, yaitu sama, san dan chan dan empat formula berbicara, yaitu arigatou gozaimasu, okaerinasaimase, oyasuminasaimase dan irasshaimase. Pada perbedaan bentuk wakimae, dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu tokoh dengan tingkat sosial yang lebih tinggi, tingkat sosial yang sama, dan status sosial yang lebih rendah dari tokoh Sebastian. Kata kunci : wakimae, bentuk kesopanan, status sosial Abstract There are several forms of modesty in Japanese, one of which is wakimae. Wakimae is a politeness strategy that refers to social norms that use formal forms. The forms contained in the form of wakimae politeness are honorifics, honors, pronouns, and speech formulas (Ide 1992: 298). Thus, it is better known to use wakimae. This research was conducted to find out how to use the form of wakimaes modesty and the differences in wakimaes politeness by Sebastian Michaelis to various figures in the Kuroshitsuji anime. Sebastian Michaelis in the Kuroshitsuji anime is a servant and main character. From this, the character Sebastian Michaelis will use utterances containing wakimaes form of politeness because of his position as a servant.This study uses a qualitative descriptive analysis method. This is because the data in the Kuroshitsuji anime are in the form of words containing wakimae forms. Then the data will be analyzed to answer two problem statements, namely the first what is the form of wakimae politeness by the character Sebastian Michaelis to the opponent he said in the Kuroshitsuji anime and the second what is the difference in wakimae politeness made by Sebastian Michaelis to various characters in the anime Kuroshitsuji. In the Kuroshitsuji anime, there is a form of wakimae politeness that is seen from the forms inside. In this conclusion there are sonkeigo, kenjoogo and teineigo. There are daimeishi uses in the first person pronoun, namely watashi and second anata. There are three keishou titles found in Kuroshitsuji, namely sama, san and chan and four formulas speak, namely arigatou gozaimasu, okaerinasaimase, oyasuminasaimase and irasshaimase. The differences in the form of wakimae are grouped into three groups, namely figures with a higher social level, the same social level, and a lower social status than the figure Sebastian. Keywords: wakimae, politeness modesty, social status

Page 7 of 10 | Total Record : 94