cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Hikari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang - Fakultas Bahasa dan Seni UNESA Bidang Kajian Linguistik Jepang.
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
MAKNA IDIOMATIKAL HIYUTEKI KANYOUKU PADA KOMIK 『飲食店完全バイブル』 KARYA AKIRA HARADA DKK VOLUME 1-2 SEPTIYANI, ERNA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMenurut Miyaji Hiyuteki kanyouku merupakan ungkapan yang memiliki arti berbentuk permajasan relative jelas. Memahami makna dari setiap hiyuteki kanyouku sangatlah penting. Terutama bagi para pembelajar Bahasa Jepang, untuk dapat lebih memahami bahasa Jepang secara mendalam. Penelitian ini mendasar pada teori perluasan makna idiomatikal menurut (1) Katakoon, terdapat 4 mekanisme perluasan makna idiomatikal yakni; perluasan dengan konsep metafora, perluasan dengan metafora, perluasan dengan metonimi, perluasan dengan metafora dan metonimi. (2) Sutedi, dengan 3 hubungan yakni; metafora, metonimi dan sinekdoke. Hiyuteki kanyouku banyak ditemukan dalam bentuk fukugou yakni penggabungan dua kata menjadi satu bentuk frasa. Perubahan tersebut dapat dilakukan ke dalam fukugou meishi dan fukugou doushi, sehingga memungkinkan terjadi perubahan makna idiomatikal, penelitian tersebut mendasar pada teori Sakamoto. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui bagaimana makna idiomatikal hiyuteki kanyouku pada komik ??????????? karya Akira Harada dkk vol 1-2 (2) mengetahui bagaimana makna idiomatikal hiyuteki kanyouku dalam bentuk fukugou pada komik ??????????? karya Akira Harada dkk vol 1-2. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik Perluasan dan Teknik Ubah Ujud Parafrasal menurut Sudaryanto. Adapun sumber data penelitian yang digunakan yaitu komik ??????????? karya Akira Harada dkk vol 1-2. Data berupa kutipan percakapan pada komik tersebut. Pada penelitian ini ditemukan data sebanyak 18 data. Kemudian diperoleh hasil sebagai berikut: Ditemukan makna idiomatikal pada 18 data dengan perluasan secara konsep metafora 6 data, secara metafora 6 data, secara metonimi 3 data, secara sinekdoke 1 data dan secara metafora dan metonimi 2 data Pada fukugou doushi ditemukan 5 frasa yang memiliki makna idiomatikal dan pada fukugou meishi ditemukan 33 frasa yang memiliki makna idiomatikal. Selain itu ditemukan 8 frasa yang memiliki kesamaan makna idiomatikal, 9 frasa yang memiliki kedekatan makna idiomatikal dan 21 frasa yang memiliki perbedaan makna idiomatikal dengan bentuk yang belum mengalami perubahan. Kata Kunci: Makna Idiomatikal, Hiyuteki Kanyouku, Komik, Bentuk Fukugou
ANALISIS MAKNA HENKA (変化), HENDOU (変動), HENKEI (変形), HEN’I (変移) DALAM BAHASA JEPANG DWIKA SAMUDRA, BINTAR
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Beberapa kata dalam bahasa memiliki kemiripan makna. Hal itu disebut dengan Sinonim. Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Kata yang memiliki kemiripan makna pada bahasa Jepang menjadi salah satu penyebab kesulitan bagi pembelajar bahasa Jepang. Misalnya pada penelitian ini adalah kata henka (??), hendou (??), henkei (??), dan hen?i (??) Terdapat tiga rumusan masalah dalam penelitian ini. Fitur semantik, rumusan masalah satu yang menggunakan teori Fromkin (1990), Jun?ichi Sakuma (2009) dan Chaer (2012). Rumusan masalah kedua dan ketiga adalah persamaan dan perbedaan dari keempat kata ini yang dianalisis menggunakan teori Kei Kubo (2014) dan Makna Leksikal atau makna kamus kata henka (??), hendou (??), henkei (??), dan hen?i (??) diambil dari Zkanji (2013) dan Ruigoreikai (1995). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk menganalisa tiga rumusan masalah. Sumber data ini berasal dari website utama yaitu nlb.ninjal.ac.jp, aozora.gr.jp, dan jp.autoblog.com. Hasil analisis yang didapatkan dijelaskan sebagai berikut. Konteks perubahan pada kata henka (??) lebih luas daripada ketiga kata lain sehingga kebanyakan dapat saling menggantikan. Makna dan ciri perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada subjek yang abstrak, angka, bentuk, dan nyata. Konteks perubahan pada kata hendou (??)) lebih sempit jika dibandingkan dengan henka (??) dan hen?i (??). Makna dan ciri perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada subjek angka dan terdapat nuansa pergerakan. Konteks perubahan pada kata henkei (??) tidak bisa saling menggantikan dengan hendou (??) dan hen?i (??). Makna dan ciri perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada subjek yang mengalami perubahan bentuk dan merupakan subjek yang kongkrit atau nyata. Konteks perubahan pada kata hen?i (??) dapat saling menggantikan dengan henka (??) dan hendou (??) namun tidak dapat saling menggantikan dengan kata henkei (??). Makna dan ciri perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada subjek yang abstrak, angka, dan ada hubungannya dengan indikasi dan tanda perubahan. Pesamaan dari keempat kata ini adalah tentang perubahan subjek. Perbedaanya adalah subjek yang mengalami perubahan. Kata Kunci : Makna, perubahan, henka, hendou, henkei, hen?i Abstract In a language, some words share similarities on the meaning. It is called synonym. Synonym is the semantics correlation which affirms that there are similarities between one expression and the others. This becomes an issue which hinders Japanese learners. For instance, in this research are henka (??), hendou (??), henkei (??) and hen?i (??) words. There are three outlines of topic in this research. Semantic feature, the first outline of topic used the theory of Fromkin (1990), Jun?ichi Sakuma (2009) and Chaer (2012). The second and third outlines of topics would be the similarity and distinction between these four words which were analyzed using the theory of Kei Kubo (2014) and the lexical significance or dictionary meaning of henka (??), hendou (??), henkei (??), and hen?i (??) words, taken from Zkanji (2013) and Ruigoreikai (1995). This is a qualitative research. The method of this research is descriptive-analysis method to analyze the three outlines of topics. The resources of this research are from main website, such as nlb.ninjal.ac.jp, aozora.gr.jp, and jp.autoblog.com. A brief of analysis on this research is as follow: The context of modification on henka (??) words is wider than the other three words which resulting on most of henka (??) can be substituted amongst them. The significance and features of this modification is related with the modification on an abstract subject, numbers, shape and tangible. The context of modification on hendou (??) words is narrower compared to henka (??) and hen?i (??). The significance and feature of this modification is related with the shifting on numbers and enclosed with a movement of nuance. The context of modification on henkei (??) words cannot be substituted with hendou (??) and hen?i (??). The significance and feature of this modification is related with the subject shifting which undertake a shape modification and tangible or concrete subject. The context of modification on hen?i (??) words can be substituted with henka (??) and hendou (??) but cannot be substituted with henkei (??). The significance and feature of this modification is related with the modification on an abstract subject, numbers, indication and modifying symbol. The similarities between these four words are the subject modification. The difference is the subject which was modified. Keywords: Significance, modification, henka, hendou, henkei, hen?i
SHUUJOSHI NE DALAM SERIAL DRAMA KAZOKU GAME KARYA SATOU YUUICHI AGUSTINA, RENI
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakShuujoshi ne merupakan joshi yang memiliki posisi di akhir kalimat atau pada akhir bagian-bagian kalimatyang digunakan untuk menyatakan perasaan. Seperti sifat yang dimiliki oleh shuujoshi yang lain, maka shuujoshi nejuga membutuhkan kelas kata lain agar memiliki makna. Penggunaanya yang luas membuat shuujoshi ne memilikibeberapa fungsi yang berbeda sesuai dengan konteks.Ada dua permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu bagaimana kelas kata yang diikuti oleh shuujoshi ne danbagaimana fungsi penggunaan shuujoshi ne dalam serial drama Kazoku Game. . Dalam menjawab rumusan masalahpertama digunakan teori dari Ahmad Dahidi dan Sudjianto dan teori dari Naoko Chino, Sudjianto, dan Sugihartonountuk menjawab rumusan masalah kedua.Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data yangdigunakan adalah serial drama Kazoku Game karya Satou Yuuichi dengan data tuturan yang mengandung shuujoshi ne.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini sebagai berikut, hasil dari rumusan masalah yang pertama ditemukan bahwashuujoushi ne dalam serial drama Kazoku Game mengikuti doushi, i-keiyoushi, meishi, setsuzokushi, joshi, danjodoushi. Untuk rumusan masalah kedua, fungsi penggunaan shuujoshi ne dalam serial drama Kazoku Game ditemukandenga hasil fungsi menunjukkan perasaan penutur, memperhalus permintaan, ajakan dan perintah, memberikanpertanyaan untuk mendapatkan kepastian, fungsi menunjukkan tuntutan ringan atau pendapat, fungsi menunjukkanpenegasan.Kata Kunci: shuujoshi, shuujoshi neAbstractShuujoshi ne is joshi or particle at the end of sentence or at the end of sentence commponent used toexpress feeling. Like others shuujoshi,, shuujoshi ne need other word class as well to get meaning. Due tovarious utilization, shuujoshi ne have various functions depend on the context of the conversation.This research have 2 problems, how word class followed by shuujoshi ne, and how the function ofshuujoshi ne in the drama Kazoku Game. In order to answer the first problem, this research used theoryfrom Ahmad Dahidi and Sudjianto and theory from Naoko Chino, Sudjianto and Suhartono to answer thesecond problem. This research use Descriptive qualitative with the drama Kazoku Game by Satou Yuuichias source with any conversation that contain shuuoshi ne as data. The results fom this research found thatshuujoshi ne in the drama Kazoku Game follow doushi, i-keiyoushi, meishi, setsuzokushi, joshi andjodoushi. And the second problem found that the function of shuujoshi ne in the drama Kazoku Game isexpressing speaker feeling, to refined request, invitation and order, to give question in order to getexplanation, to expressing light words or opinion and to expressing affirmation.Keywords: shuujoshi, shuujoshi ne
GAYA BAHASA KLIMAKS DAN ANTIKLIMAKS DALAM NOVEL DENSHA OTOKO 『電車男』KARYA HITORI NAKANO ARINI, BUNGA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mendeskripsikan bentuk gaya bahasa klimaks dan antiklimaks dalam Novel Densha Otoko (???) Karya Hitori Nakano serta fungsinya.. Gaya bahasa klimaks terdiri dari anabasis dan gradasi. Anabasis adalah klimaks yang berurutan kepentingan gagasannya. Sedangkan gradasi adalah klimaks yang langsung menuju pada gagasan tertinggi. Gaya bahasa antiklimaks dibagi menjadi tiga yaitu, dekrementum, katabasis, dan batos. Dekrementum adalah antiklimaks yang memasukkan gagasan yang kurang penting kedalam gagasan yang terpenting. Katabasis adalah antiklimaks yang mengurutkan gagasan yang kurang penting secara berturut-turut. Sedangkan batos adalah antiklimaks yang menurun tiba-tiba dari gagasan penting menjadi sama sekali tidak penting. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan ialah kalimat-kalimat yang mengandung gaya bahasa klimaks dan antiklimaks dalam novel tersebut. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini didominasi oleh gaya bahasa klimaks yaitu anabasis. Dalam fungsi gaya bahasa klimaks yang sering muncul ialah fungsi gaya bahasa meninggikan selera, yang merujuk pada saran. Sedangkan dalam fungsi gaya bahasa antiklimaks yang sering muncul ialah fungsi gaya bahasa menciptakan keadaan perasaan tertentu berupa perasaan bahagia. Kata Kunci: Gaya Bahasa , Klimaks, Antiklimaks Abstract This research aims to describe the form of climax and anticlimax and the funcitions of language style in Densha Otoko novel by Hitori Nakano. The language style of climax consist of anabasis and gradation. Anabasis is a climax of consecutive interest of ideas. Where as gradation is the climax that leads directly to the highest idea. Language style of anticlimax is divided into three types decrementum, katabasis, and bathos. Decrementum is anticlimacts that put less important ideas into the most important ideas. Katabasis is anticlimax that rank less important ideas in sequence. Then bathos is anticlimax that drop suddenly from important ideas to be utterly unimportant ideas. This research used descriptive qualitative method. The data used are sentences that contain climax and anticlimax style in the novel. The results from this study is dominated by the language stly of climax, anabasis. While in the language style of anabasis, the function that often arose is to elevated the appetite. While the function of language style of anticlimax that often arose is the function to creates a certain feeling state of happiness. Key words : Language style, climax, anticlimax.
PEMBENTUKAN DAN MAKNA KONTEKSTUALNEAR-HOMOPHONIC DAJARE PADA AKUN INSTAGRAM PUNSUKE.YA GUGEH PRAKOSO, NOVAN
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDajare, merupakan permainan kata yang terdapat di dalam bahasa Jepang.Permainan kata ini selain dapat ditemukan di dalam keseharian masyarakat Jepang juga dapat ditemukan di dalam media periklanan. Untuk lebih mengetahui apa itu dajare dapat dilakukan analisis terhadap pembentukan dajare dan makna kontekstual di dalamnya. Pembentukan dajare pada akun Instagram punsuke.ya dan juga makna kontekstual yang terdapat di dalamnya. Dengan tujuan menjawab dua rumusan masalah itu peneliti menggunakan teori pembentukan dajare yang dikemukakan oleh Takashi Otake (2010), dan teori proses morfologi yang dikemukakan oleh Tsujimura (2004) serta teori makna kontekstual yang dikemukakan oleh Chaer (2007).Pada penelitian ini ditemukan data sebanyak 21 data. Kemudian data diteliti dengan menggunakan teori yang sudah ditetapkan untuk menjawab rumusan masalah yang sudah dirumuskan. Diperoleh hasil penelittian sebagai berikut : (1) near-homophonic dajare (segmental manipulation) sebanyak 10 data, dan near-homophonic dajare (durational manipulation) sebanyak 11 data. Secara morfologi pun phrase pada data ditemukan jenis morfem dengan jenis derivational morpheme dan inflectional morpheme, dan juga yang mengalami pembentukan kata secara, affixation, compounding, borrowing. (2) makna kontekstual yang terdapat dalam dajare tersebut berupa (1) kata benda seperti : anak, sensor, dan kacang polong; (2) kata kerja seperti : roboh dan melihat ; (3) ungkapan, seperti : ungkapan ingin bertemu, dan ungkapan terkejut; (4) kata tanya, seperti : pertanyaan kapada lawan bicara untuk memastikan sesuatu. Kata Kunci : dajare, pembentukan, makna kontekstual ABSTRACT Dajare, is a word game contained in Japanese. The game of this word can be found in the daily life of Japanese society can also be found in the media advertising. To know more about what dajare can do analysis to dajare formation and contextual meaning in it. Formation dajare on Instagram account punsuke.ya and also the contextual meaning contained in it. With the aim of answering the two formulations of the problem, the researcher uses the theory of dajare formation proposed by Takashi Otake (2010), and the theory of morphology process proposed by Tsujimura (2004) and contextual meaning theory proposed by Chaer (2007). In this study found data of 21 data. Then the data is researched by using the theory that has been set to answer the formulation of problems that have been formulated. The following results were obtained: (1) near-homophonic dajare (segmental manipulation) of 10 data, and near-homophonic dajare (durational manipulation) of 11 data. Morphologically, the phrase in the data is found by morpheme type with derivational morpheme and inflectional morpheme, and also experiencing word formation by affixation, compounding, borrowing. (2) the contextual meanings contained in the dajare are (1) nouns such as: children, sensors, and peas; (2) verbs such as: collapse and view; (3) phrases, such as: the expression of wanting to meet, and the expression of surprise; (4) a question word, such as: question to the other person to make sure something. Keywords : dajare, formation, contextual meaning
REPRESENTASI IDEOLOGI DALAM DRAF PRESENTASI SUBETE WA SEIJI, SUBETE WA SHŪKYŌ OLEH HASSAN KO NAKATA HAFRILDO, HAFIZH
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBahasa sebagai alat komunikasi pada praktiknya dalam kehidupan sosial tidak pernah bersifat netral.Bahasa sebagai penyalur ide-ide dari penggunanya terkadang digunakan untuk memengaruhi orang lainyang menjadi lawan tutur. Ide-ide yang berpotensi memengaruhi orang lain tersebut seakan tersembunyidi balik bahasa yang digunakan penutur sebagai wacana, baik secara verbal maupun non-verbal. Itulahyang disebut sebagai indikasi ideologi wacana. Indikasi wacana ideologi tersebut juga terdapat dalamsebuah draf presentasi yang berjudul Subete wa Seiji, Subete wa Shuukyou yang disusun oleh Hassan KoNakata. Sebuah ideologi perlawanan yang tersembunyi di balik keilmiahan draf presentasi tersebutberpotensi untuk mengubah tatanan global, baik pada level situasional, institusional dan sosiokultural(kemasyarakatan). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana representasi ideologi pada (1)struktur teks, (2) praktik kewacanaan, dan (3) praktik sosiokultural dalam draf presentasi Subete wa Seiji,Subete wa Shuukyou tulisan Hassan Ko Nakata.Adapun penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subyekpenelitian ini adalah draf presentasi Subete wa Seiji, Subete wa Shuukyou tulisan Hassan Ko Nakata.Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah teknik dokumentasi berdasarkan pendekatan analisiswacana kritis model Norman Fairclough. Kemudian, teknik analisis data penelitian ini menggunakananalisis tiga dimensi Fairclough: (1) analisis struktur teks, yaitu dengan tahapan deskripsi yangmenekankan pada aspek-aspek formal (nilai eksperensial, nilai relasional dan nilai ekspresif), (2) analisispraktik kewacanan, yaitu dengan tahapan interpretasi yang menekankan pada konteks situasional danintertekstual pemroduksian teks, dan (3) analisis praktik sosiokultural, yaitu dengan tahapan eksplanasiatau penjelasan yang menekankan pada posisi teks terkait usaha-usaha pada tiga level: situasional,institusional dan sosiokultural (kemasyarakatan).Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa representasi ideologi dalam draf presentasiSubete wa Seiji, Subete wa Shuukyou tulisan Hassan Ko Nakata merupakan sebuah ideologi perlawananterhadap tindakan-tindakan seperti penyebaran wacana-wacana yang berisi kesalah-pahaman tentangIslam, penindasan yang merupakan kolonialisme gaya baru yang bersifat global oleh pihak dominan, danterhadap sistem tatanan global yang terbentuk dari ideologi rival penulis.Kata Kunci: ideologi, Subete wa Seiji, Subete wa Shuukyou, analisis wacana kritis.AbstractLanguage as a tool of communication on the practical social life is never neutral. Language as achannel of ideas from its users is sometimes used to influence other people who become opponents ofspeech. Ideas that have the potential to affect others are hidden behind the language spoken by thespeakers, both verbally and non-verbally. That is the indication of ideological discourse. The indication ofideological discourse are also contained in a presentation draft entitled Subete wa Seiji, Subete waShuukyou composed by Hassan Ko Nakata. An ideology of resistance hidden behind the scientificpresentation draft has the potential to change the global order, both at the situational, institutional andsociocultural levels. This study aims to reveal how the representation of ideology in (1) the structure of thetext, (2) the practice of discourse, and (3) sociocultural practices in the presentation draft of Subete waSeiji, Subete wa Shuukyou written by Hassan Ko Nakata.The research is a descriptive research with qualitative approach. The subject of this research is thepresentation draft Subete wa Seiji, Subete wa Shuukyou by Hassan Ko Nakata. This research used adocumentation technique based on the critical discourse analysis approach model by Norman Fairclough tocollect the datas. Then, the data analysis technique of this study used Fairclough three-dimensionalanalysis: (1) the structure analysis of the text, by the description stages which emphasize the formal aspects2(experimental value, relational value and expressive value), (2) analysis of the discourse practice, withstages of interpretation that emphasize the situational context and the intertextual production of texts, and(3) analysis of sociocultural practice, with explanatory stages or explanations that emphasize the positionof the text related to efforts at three levels: situational, institutional and sociocultural (societal).The results show that the representation of ideology in the presentation draft of Subete wa Seiji,Subete wa Shuukyou written by Hassan Ko Nakata is an ideology of resistance to actions such as the spreadof discourses containing misunderstandings about Islam, oppression which is a new style of colonialismglobal by dominant parties, and against the global order system formed from the rival ideology of theauthor.Keywords: ideology, Subete wa Seiji, Subete wa Shuukyou, critical discourse analysis.
PENGGUNAAN SHUUJOSHI JOSEIGO OLEH TOKOH USHIYAMA DALAM ANIME AKB 0048 DAN TOKOH GRIEL DALAM ANIME KUROSHITSUJI KALAMILLAH, MURNY
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penggunaan ragam bahasa oleh penuturnya dapat menunjukkan identitas penutur tersebut. Namun dewasa ini banyak ditemukan penutur pria yang menggunakan ragam bahasa wanita, begitupun sebaliknya. Pada penelitian dengan judul ?Penggunaan Shuujoshi Joseigo oleh Tokoh Ushiyama dalam Anime AKB 0048 dan Tokoh Griel dalam Anime Kuroshitsuji? ditemukan data tentang ragam bahasa wanita yang digunakan oleh tokoh pria yaitu Ushiyama dan Griel dilihat dari partikel akhir (shuujoshi). Dalam penelitian ini terdapat empat rumusan masalah yaitu : 1)Bagaimana penggunaan shuujoshi joseigo yang digunakan oleh tokoh Ushiyama anime AKB 0048, 2) Bagaimana penggunaan shuujoshi joseigo yang digunakan oleh tokoh Griel dalam anime Kuroshitsuji ?, 3) Faktor sosial apa yang melatarbelakangi penggunaan shuujoshi joseigo oleh tokoh Ushiyama dalam anime AKB 0048 dan, 4) Faktor sosial apa yang melatarbelakangi penggunaan shuujoshi joseigo oleh tokoh Griel dalam anime Kuroshitsuji? Untuk menjawab rumusan masalah pertama dan kedua digunakan teori dari Chino (2004) dan Sudjianto (2007) yaitu tentang penggunaan shuujoshi joseigo yang terdiri dari 8 jenis dan masing-masing fungsinya dalam kalimat. Rumusan masalah ketiga dan keempat dijawab dengan teori dari Azuma (2009) dan Chaer (1995) yaitu mengenai faktor-faktor sosial yang mempengaruhi penggunaan bahasa. Adapun metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah metode simak yang dilakukan dengan teknik simak dan catat. Sumber data dalam penelitian ini adalah anime AKB 0048 dan Kuroshitsuji. Data dalam penelitian ini adalah berupa tuturan-tuturan yang mengandung shuujoshi joseigo yang digunakan oleh tokoh Ushiyama dalam anime AKB 0048 dan tokoh Griel dalam anime Kuroshitsuji. Hasil dalam penelitian ini adalah ditemukan penggunaan shuujoshi joseigo oleh tokoh Ushiyama dalam anime AKB yaitu sebanyak 24 data dengan rincian shuujoshi kashira 4 data, shuujoshi wa 6 data, shuujoshi wayo 4 data, shuujoshi wane 3 data, shuujoshi no 4 data, shuujoshi noyo 3 data, sedangkan tokoh Griel dalam anime Kuroshitsuji ditemukan penggunaan shuujoshi joseigo sebanyak 49 data dengan rincian shuujoshi kashira 3 data, shuujoshi wa 15 data, shuujoshi wayo 5 data, shuujoshi wane 3 data, shuujoshi no 6 data, shuujoshi noyo 13 data, dan shuujoshi none 4 data. Data yang ditemukan dianalisis berdasarkan kegunaan atau fungsinya dengan teori Chino dan Sudjianto. Kemudian dalam penelitian ini juga ditemukan faktor sosial yang melatarbelakangi penggunaan shuujoshi joseigo oleh kedua tokoh tersebut. Shuujoshi joseigo yang digunakan oleh Ushiyama sebanyak 24 data dilatarbelakangi oleh faktor 1)identitas sosial penutur yaitu Ushiyama, 2) identitas sosial pendengar yaitu anggota AKB 0048 dan manager Tsubasa, 3)lingkungan tempat peristiwa tutur terjadi yaitu asrama AKB 0048, dan 4)speech accomodation, sedangkan 49 data shuujoshi joseigo yang digunakan Griel dilatarbelakangi oleh faktor 1)identitas sosial penutur yaitu Griel, 2) identitas sosial pendengar yaitu Sebastian, Madam Red, dan Ciel, dan 3)audiens design. Kata Kunci: Ragam bahasa, shuujoshi, joseigo, shuujoshi joseigo, sosiolinguistik Abstract ?The use of various languages by speakers may indicate the identity of the speaker. But recently many male speakers who use a variety of women?s language, as well as vice versa. In research titled ?The Use of Shuujoshi Joseigo by Ushiyama of Anime AKB 0048 and Griel of Anime Kuroshitsuji? found data about variety of female languages used by male characters named Ushiyama and Griel as can be seen in the end particle (shuujoshi). In this research there are two problems, which are : 1)How are the use of shuujoshi joseigo by Ushiyama of anime AKB 0048, 2) How are the use of shuujoshi joseigo by Griel of anime Kuroshitsuji ? and 2) What social-factor behind the use of shuujoshi joseigo by Ushiyama of anime AKB 0048, 4) ) What social-factor behind the use of shuujoshi joseigo by Griel of anime Kuroshitsuji? To answer of the first and the second problem used the theory of Chino (2004) and Sudjianto (2007) about the use of shuujoshi joseigo and there are 8 funtions for each sentences. The third and the fourth problem are answered with theory of Azuma (2009) and Chaer (1995) which is about social-factor that affecting the use of language. The method used to obtain data in this research is a method of referring with techniques refer and record. Data sources of this research are AKB 0048 and Kuroshitsuji anime. The data in this research are from speeches containing shuujoshi joseigo used by character Ushiyama of AKB 0048 and Griel of Kuroshitsuji. The result of this research is found the use of shuujoshi joseigo by character Ushiyama of AKB 0048 which are 24 data, there are 4 data of shuujoshi kashira, 6 data of shuujoshi wa, 4 data of shuujoshi wayo, 3 data of shuujoshi wane, 4 data of shuujoshi no, 3 data of shuujoshi noyo, while character Griel of Kuroshitsuji found the use of shuujoshi joseigo which are 49 data, there are 3 data shuujoshi kashira, 15 data of shuujoshi wa, 5 data of shuujoshi wayo, 3 data of shuujoshi wane, 6 data of shuujoshi no, 13 data of shuujoshi noyo, and 4 data of shuujoshi none. The data that has been found were analyzed based on their use or function using Chino?s and Sudjianto?s theory. And then, in this study also found social-factors behind the use of shuujoshi joseigo by both characters. Shuujoshi joseigo used by Ushiyama are 24 data caused by factors 1) the social identity of speakers who is Ushiyama, 2) the social identity of the listener who are AKB 0048 member and manager Tsubasa, 3) the environment where the speech event happened that is AKB 0048 dormitory, and 4) speech accomodation , while 49 data shuujoshi joseigo used by Griel caused by factors 1) the social identity of speakers who is Griel, 2) social identity of listener who are Sebastian, Madam Red, and Ciel, and 3) audience design. Keywords: Variety of languages, shuujoshi, joseigo, shuujoshi joseigo, sociolinguistics
MAKNA SIMBOLIS DAPUR PADA NOVEL KITCHIN「キッチン」 KARYA YOSHIMOTO BANANA 「吉本バナナ」 FRAWANGSHA LARASATI, DWI
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"> AbstrakMakna simbolis merupakan konotasi simbol yang memiliki arti tambahan dari makna denotasi,sehingga memerlukan interpretasi lebih lanjut untuk menemukan maksud dari simbol tersebut. Kitchinmerupakan novel karya Yoshimoto Banana yang menggunakan dapur sebagai latar tempat menunjukkankandungan makna simbolis.Rumusan masalah yang diambil adalah bagaiman makna simbolis pada novel kitchin karya YoshimotoBanana. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dari Noth dan Peirce. Metode yangdigunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif dengan sumber data berupanovel kitchin. Data yang diteiti berupa kutipan narasai atau dialog yang mengandung makna simbolisdapur. Jumlah data yang diperoleh dikelompokkan kedalam empat kelompok intepretsi makna simbolis.Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Terdapat empat interpretasimakna simbolis dapur dalam novel kitchin karya Yoshimoto Banana yaitu simbol sebagai makna esensial,simbol sebagai makna rahasia, simbol sebagai makna irrasional, serta simbol dan makna tak sadar.Interpretasi dari keempat makna tersebut menunjukkan makna simbolis dapur, yaitu dapur sebagai hal yangdisukai, bentuk dapur ideal, tempat mengobati kesepian, simbol impian, kebahagiaan, simbol kehidupandan kehangatan keluarga.Kata Kunci: Makna Simbolis, Novel Kitchin, Yoshimoto BananaAbstractA symbolic meaning is a connotation symbol which has additional meaning from the meaning ofdenotation, so interpretation is needed to find the meaning of the symbol. Kitchin is a novel made byYoshimoto Banana that use kitchen as a scene where show a symbolic meaning.The research?s question is how symbolic meaning of kitchin novel by Yoshimoto Banana. Theory usedin this research is from Noth and Peirce. The reseach used descriptive quantitative with analysis methodfrom kitchin novel as a data source. The data resesarched from a narrative quote or dialogue whichcontaining meaning of symbolic kitchen. Data obtained, that clasified into four interpretation a symbolicmeaning.The Result of study obtained from this research there are four interpretation kitchen symbolic meaningof kitchin novel by Yoshimoto Banana are symbol as essensial meaning, symbol as secret meaning, symbolas irrasional meaning and symbol as unconcious meaning. The interpretation of these four meaningindicates symbolic meaning. There are kitchen as a preferred thing, as an ideal kitchen, a place where treatof longing, a dream symbol, happiness, symbol of live and family harmony.Keywords: Symbolic Meaning, Kitchin Novel, Yoshimoto Banana.
TINDAK ILOKUSI EKSPRESIF OLEH TOKOH IKKYU-SAN DALAM SPECIAL DRAMA IKKYUSAN LIVE ACTION DITINJAU DARI ASPEK STRATEGI KOMUNIKASI RETNA JUWITA, ENGGIT
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTindak ilokusi ekspresif merupakan tuturan yang menunjukkan tindakan perilaku penutur secara psikologissebagai evaluasi dari tindakannya. Tindak ilokusi ekspresif terdiri dari minta maaf, salam, terima kasih, harapan,penerimaan, dan penolakan. Strategi komunikasi merupakan paduan perencanaan komunikasi dengan manajemenkomunikasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Artinya, bahwa strategi komunikasi diterapkan dengan caramenerapkan teknik yang telah disusun penutur agar maksud dan tujuan dari tindak tuturan dapat tersampaikan dandipahami oleh lawan tutur. Penelitian ini mendeskripsikan jenis tindak ilokusi ekspresif tokoh Ikkyu-san dalamSpecial Drama Ikkyu-san Live Action dan fungsinya ditinjau dari aspek strategi komunikasi.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian yang digunakan adalah tuturantokoh Ikkyu-san yang mengandung tindak ilokusi ekspresif dalam film tersebut. Hasil yang diperoleh daripenelitian ini didominasi oleh jenis tindak ilokusi ekspresif penerimaan. Dalam fungsi tindak ilokusi ekspresifditinjau dari aspek strategi komunikasi yang sering muncul adalah fungsi bekerja sama yang memiliki tujuanmendukung sebuah pernyataan dan mendukung dalam menjawab pertanyaan.Kata Kunci: tindak ilokusi, tindak ilokusi ekspresif, strategi komunikasi.AbstractThe illocutionary act of expression is a speech which shows of psychological behavior of speakers as anevaluation of their action. The illocutionary act consists of apologizing, greeting, thanking, bidding, accepting, andrejecting. Communication strategy is the combination of communication planning and communicationmanagement to achieve the goals. Thus, communication strategy is exerted by applying techniques that arearranged by speakers so that the meaning and purpose of speech act can be conveyed and understood by thelisteners. This research aims to describe the sort of illocutionary act of expression of Ikkyu-san in Special DramaIkkyu-san Live Action and the function of illocutionary act observed on aspect of communication strategy.This research is used descriptive qualitative method. The research data is the speech of Ikkyu-san thatcontains illocutionary act of expression in the film. The results of this research are dominated by sort of acceptingexpression of illocutionary act. In the function of illocutionary act of expression observed on aspect ofcommunication strategy often appears function of cooperation which have purpose to support statement and tosupport ask and answer question.Keywords: illocutionary act, illocutionary act of expression, communication strategy.
PELESAPAN (省略) UNSUR KALIMAT DALAM TUTURAN DRAMA JEPANG (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK) MAULANA, SHULTHON
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena pelesapan unsur kalimat atau elipsis menurut Kridalaksana (1984) adalah penghilangan kata atau satuan kebahasaan lainnya. Menurut Al-ma?ruf (2009) pelesapan unsur termasuk penyiasatan struktur kalimat. Serta, data dari National Institute for Japanese Language (1955), ragam bahasa lisan bahasa Jepang sering melesapkan sebagian unsur kalimatnya, khususnya subjek. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan konstruksi kalimat pelesapan dan faktor yang mempengaruhi terjadinya pelesapan di dalam tuturan drama Jepang ditinjau dari komponen tutur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini ada 23 data yang ditampilkan dan dianalisis. Dari 23 data tersebut, didapatkan simpulan (1) konstituen yang lesap dari konstruksi kalimat-kalimat yang ditampilkan, meliputi : S = ???, ????, ?????; ?????, ?????? (penyebutan orang kedua dengan nama), ??????; ?????, ??????, dan ??????. P = ?????, ?????????, ???????; ????, ????; ?????, ??????. O = ??????????, ?????, dan ????. Madv = ?????, ????? dan ?????? dalam satu satuan kalimat; ???? dan ???? dalam satu satuan kalimat; dan ?????? dan ???? dalam satu satuan kalimat. (2) Faktor yang menyebabkan lesapnya konstituen dari kalimat yang ditinjau dari komponen tutur, yaitu diantaranya : komponen situasi, seperti menegangkan, kecewa dan mendesak. Komponen partisipan, seperti hubungan antara penutur dan lawan tutur, lawan tutur dapat memahami, dan penutur merujuk langsung pada objek. Serta, Tuturan yang mengandung elipsis tidak ditemukan dalam situasi formal. Komponen intonasi hanya pada kalimat tanya dan tuturan yang menunjukkan rasa yang dialami oleh penutur.

Page 6 of 10 | Total Record : 94