cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Hikari
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jepang - Fakultas Bahasa dan Seni UNESA Bidang Kajian Linguistik Jepang.
Arjuna Subject : -
Articles 94 Documents
PENGGUNAAN BENTUK KESOPANAN WAKIMAE PADA TOKOH SEBASTIAN MICHAELIS DALAM ANIME KUROSHITSUJI KARYA TOBOSO YANA Prayitno, Mega Isna
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat beberapa bentuk  kesopanan dalam bahasa Jepang, salah satunya adalah wakimae. Wakimae merupakan strategi kesopanan yang mengacu pada norma sosial yang menggunakan bentuk-bentuk formal. Bentuk-bentuk yang terdapat dalam bentuk kesopanan wakimae yaitu honorifik, gelar kehormatan, kata ganti, dan formula berbicara (Ide 1992:298). Dengan demikian, lebih diketahui penggunaan wakimae. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penggunaan bentuk kesopanan wakimae serta perbedaan kesopanan wakimae oleh tokoh Sebastian Michaelis kepada berbagai tokoh dalam anime Kuroshitsuji. Tokoh Sebastian Michaelis dalam anime Kuroshitsuji merupakan seorang pelayan serta tokoh utama. Dari hal tersebut, tokoh Sebastian Michaelis akan menggunakan tuturan yang mengandung bentuk kesopanan wakimae karena posisinya sebagai seorang pelayan.Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif  kualitatif. Hal tersebut karena data dalam anime Kuroshitsuji berbentuk kata-kata yang mengandung bentuk-bentuk wakimae. Kemudian data akan dianalisis untuk menjawab dua rumusan masalah, yaitu yang pertama bagaimana bentuk kesopanan wakimae oleh tokoh Sebastian Michaelis kepada lawan tuturnya dalam anime Kuroshitsuji dan yang kedua bagaimana bentuk perbedaan kesopanan wakimae yang dilakukan oleh tokoh Sebastian Michaelis kepada berbagai tokoh dalam anime Kuroshitsuji. Dalam anime Kuroshitsuji, terdapat bentuk kesopanan wakimae yang dilihat dari bentuk-bentuk didalamnya. Dalam kesimpulan tersebut terdapat sonkeigo, kenjoogo dan teineigo. Terdapat penggunaan daimeishi pada pronomina orang pertama, yaitu watashi dan kedua?anata. Terdapat tiga gelar keishou yang terdapat dalam Kuroshitsuji, yaitu sama, san dan chan dan empat formula berbicara, yaitu arigatou gozaimasu, okaerinasaimase, oyasuminasaimase dan irasshaimase. Pada perbedaan bentuk wakimae, dikelompokkan ke  dalam tiga kelompok, yaitu tokoh dengan tingkat sosial yang lebih tinggi, tingkat sosial yang sama, dan status sosial yang lebih rendah dari tokoh Sebastian. Kata kunci : wakimae, bentuk kesopanan, status sosial   Abstract There are several forms of modesty in Japanese, one of which is wakimae. Wakimae is a politeness strategy that refers to social norms that use formal forms. The forms contained in the form of wakimae politeness are honorifics, honors, pronouns, and speech formulas (Ide 1992: 298). Thus, it is better known to use wakimae. This research was conducted to find out how to use the form of wakimae's modesty and the differences in wakimae's politeness by Sebastian Michaelis to various figures in the Kuroshitsuji anime. Sebastian Michaelis in the Kuroshitsuji anime is a servant and main character. From this, the character Sebastian Michaelis will use utterances containing wakimae's form of politeness because of his position as a servant.This study uses a qualitative descriptive analysis method. This is because the data in the Kuroshitsuji anime are in the form of words containing wakimae forms. Then the data will be analyzed to answer two problem statements, namely the first what is the form of wakimae politeness by the character Sebastian Michaelis to the opponent he said in the Kuroshitsuji anime and the second what is the difference in wakimae politeness made by Sebastian Michaelis to various characters in the anime Kuroshitsuji. In the Kuroshitsuji anime, there is a form of wakimae politeness that is seen from the forms inside. In this conclusion there are sonkeigo, kenjoogo and teineigo. There are daimeishi uses in the first person pronoun, namely watashi and second anata. There are three keishou titles found in Kuroshitsuji, namely sama, san and chan and four formulas speak, namely arigatou gozaimasu, okaerinasaimase, oyasuminasaimase and irasshaimase. The differences in the form of wakimae are grouped into three groups, namely figures with a higher social level, the same social level, and a lower social status than the figure Sebastian. Keywords: wakimae, politeness modesty, social status
ANALISIS KESALAHAN PENULISAN KALIMAT BAHASA JEPANG SISWA KELAS XII IPS SMA NEGERI 1 PURI MOJOKERTO TAHUN AJARAN 2017/2018 EKA DARMAYANTI, YULIANA
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pembelajar bahasa Jepang yang sering melakukan kesalahan dalam membuat kalimat bahasa Jepang. Berdasarkan hasil angket dan wawancara pra-penelitian kepada siswa dan guru SMA Negeri 1 Puri Mojokerto, kesulitan yang sering dialami siswa dalam proses pembelajaran bahasa Jepang adalah kesulitan untuk menghafal huruf, kosakata, dan pola kalimat. Selain itu, dari hasil angket tersebut juga diketahui banyak siswa yang sering melakukan kesalahan dalam menulis kalimat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk kesalahan dalam penulisan kalimat bahasa Jepang siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto tahun ajaran 2017/2018 dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya kesalahan dalam menulis kalimat bahasa Jepang pada siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Puri Mojokerto tahun ajaran 2017/2018. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Data yang dianalisis merupakan hasil tes dan penyebaran angket. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa, bentuk Kesalahan dalam penulisan kalimat bahasa Jepang yang dilakukan oleh siswa yaitu berupa kesalahan struktur pola kalimat sebanyak 143 kesalahan, kesalahan perubahan bentuk kata kerja sebanyak 194 kesalahan dan kesalahan perubahan kata sifat sebanyak 36 kesalahan. Serta, kesalahan penggunaan partikel sebanyak 64 kesalahan. Selanjutnya, Faktor penyebab terjadinya kesalahan, yaitu, Transfer of training (kesalahan prosedur pengajaran) yaitu siswa kesulitan menerima penjelasan dari guru mengenai pola kalimat.Kurang belajar dan berlatih dalam membuat kalimat bahasa Jepang, interferensi bahasa ibu atau terpengaruh bahasa pertama yaitu bahasa Indonesia, kurangnya pengetahuan kosakata, kurangnya pemahaman akan fungsi dan penggunaan partikel, serta huruf hiragana dan katakana, serta pola kalimat bahasa Jepang yang banyak dan rumit. Kata Kunci: Analisis Kesalahan, Pola Kalimat, Perubahan Bentuk Kata Kerja, Perubahan Bentuk Kata Sifat, Partikel, Faktor Penyebab Kesalahan Abstract This research is motivated by Japanese learners who often make mistakes in making Japanese sentences. Based on the results of the questionnaire and pre-research interviews with students and teachers of Puri Mojokerto 1 state senior high school, the difficulties students often experience in learning process of Japanese are they often have difficulties in memorizing letters, vocabulary, and sentence patterns. In addition, from the results of the questionnaire it was also known that many students often make mistakes in writing sentences. The purpose of this study was to describe the form of writing errors in Japanese sentences in students XII IPS of Puri Mojokerto 1 state senior high school in 2017/2018 school year and describe the factors that caused writing errors in Japanese sentences in students XII IPS of Puri Mojokerto 1 state senior high school in 2017/2018 school year. This study uses a qualitative descriptive research method. The data analyzed are the results of tests and questionnaires. Based on the results of the analysis, it can be seen that: form of writing errors in Japanese sentences made by students, that is in the form of a sentence pattern structure error of 143 forms of errors, changes in errors verb form as many as 194 forms of errors and 36 form of errors in change of adjective, and there were 64 forms of errors using particles. The factors causing the error are, transfer of training (error teaching procedures), namely students difficulty receiving teacher explanations about sentence patterns, less learning and practice in making Japanese sentences, mother tongue interference or language influence first (Indonesian), lack of vocabulary knowledge, lack of understanding will function and use particles, and hiragana and katakana letters and sentence pattern Japanese is a lot and complicated. Keywords: Error Analysis, Sentence Pattern, Change of Verb, Change of Adjective, Particles, Factors Causing Errors
PERBANDINGAN MAKNA IDIOM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA YANG MENGANDUNG UNSUR WARNA DALAM KORAN ONLINE ASAHI SHIMBUN「朝日新聞」DAN KOMPAS AIK KUMALA DEWI, KHORY
GoKen Vol 6, No 2 (2018): Edisi Wisuda Juni 2018
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk idiom, makna tiap warna yang ada pada idiom, dan jenis idiom yang terdapat dalam koran online Asahi Shimbun dan Kompas. Dalam penelitian ini, peneliti tertarik dengan analisis kontrastif, yaitu membandingkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang. Sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana makna idiom bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yang mengandung unsur warna dalam Koran Online Asahi Shimbun??????dan Kompas? (2) Bagaimana bentuk idiom bahasa Jepang dan bahasa Indonesia yang mengandung unsur warna dalam Koran Online Asahi Shimbun??????dan Kompas? (3) Bagaimana makna masing-masing unsur warna yang digunakan dalam idiom bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dalam Koran Online Asahi Shimbun??????dan Kompas? Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) pada idiom kedua bahasa tersebut, makna positif dan negatif memiliki warna yang sama. (2) berdasarkan kelas katanya, idiom bahasa Jepang dan bahasa Indonesia paling banyak tergolong idiom yang terbentuk dari nominal. (3) makna 10 jenis warna yang ditemukan, yaitu??dan Merah maknanya bahaya, cinta, api, kemarahan. ?? dan Biru maknanya belum berpengalaman, atau masih muda, warna langit , dalam masyarakat Jepang sama dengan ?. ?? dan Kuning maknanya hati-hati, simbol kematian, keceriaan. ? dan Hijau maknanya masih muda, segar, keadilan dan kebebasan. ??dan Putih maknanya bersih, mulia, kosong, kedamaian, dan keberuntungan. ?? dan Hitam maknanya, kejahatan, buruk, sesuatu yang berharga dan bernilai. ? dan Emas maknanya indah, terpuji. ???bermakna seksi dan erotis. Warna abu-abu bermakna kesedihan, keraguan. Warna hitam putih memiliki arti sebagai perjanjian. Kata Kunci: Idiom, warna, analisis kontrastif In this paper to determine the idiom form, the meaning of each color in the idiom, and the types of idioms contained in online newspaper Asahi Shimbun and Kompas. In this paper, researchers were interested in contrastive analysis, namely comparing Indonesian and Japanese. While this paper uses a qualitative approach and descriptive method. The formulation of the problem in this paper are: (1) What is the meaning of Japanese and Indonesian idioms that contain color elements in Asahi Shimbun Online newspaper ??? ???and Kompas? (2) What are the forms of Japanese and Indonesian idioms that contain color elements in Asahi Shimbun Online Newspaper??? ???and Kompas? (3) What is the meaning of each color element used in Japanese and Indonesian idioms in Asahi Shimbun Online Newspaper??? ???and Kompas?The results showed several points : (1) the idioms of both languages, positive and negative meanings have the same color. (2) based on the class, the most Japanese idioms and Indonesian are classified as idioms formed from nominal. (3) the meaning of 10 types of colors found, namely ? ? and Red means danger, love, fire, anger. ? ? and Blue means unexperienced, or young, the color of the sky, in Japanese society is equal to ?. ?? and Yellow means careful, symbol of death, joy. ? and Green means young, fresh, justice and freedom. ? ? and White means clean, noble, empty, peace, and luck. ? ? and Black means, evil, bad, something valuable and valuable. ? and Gold means beautiful, praise. ? ? ? means sexy and erotic. Gray means sadness, doubt. Black and white means an agreement. Keywords: Idioms, colors, contrastive analysis
GAYA BAHASA RETORIS EROTESIS PADA KUMPULAN LAGU KARYA YUI YOSHIOKA PUJI RAHAYU, EVA
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini berjudul ?Gaya Bahasa Retoris Erotesis Pada Kumpulan Lagu Karya Yui Yoshioka?. Latar belakang penelitian ini adalah analisis terhadap penggunaan gaya bahasa retoris erotesis pada lagu. Permasalahan pada penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu bentuk dan fungsi gaya bahasa retoris erotesis dalam kumpulan lagu. Permasalahan pertama dianalisis menggunakan teori Gorys Keraf (2010). Permasalahan kedua dianalisis menggunakan teori Wahyuni dkk dalam Enggar dkk (2013). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena tidak menggunakan angka-angka melainkan menggunakan kat-kata untuk mendeskripsikan analisis data pada kumpulan lagu karya Yui Yoshioka. Data penelitian ini berupa lirik lagu yang mengandung gaya bahasa retoris erotesis yang berjumlah 12 data. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Bentuk gaya bahasa retoris erotesis diklasifikasikan berdasarkan penggalan akhir dalam lirik, dengan pembagian dalam bentuk ??? sebanyak 4 buah data, ??? sebanyak 1 buah data, ???? sebanyak 3 buah data, ?? sebanyak 2 buah data, ?? sebanyak 1 buah data, dan ??? sebanyak 1 buah data. Fungsi gaya bahasa retoris erotesis dibagi menjadi 4 jenis fungsi, yaitu mengkongkritkan sebanyak 2 buah data, menegaskan sebanyak 6 buah data, menghaluskan sebanyak 2 buah data, dan mempuitiskan sebanyak 2 buah data. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa gaya bahasa retoris erotesis dalam lirik lagu berfungsi untuk menegaskan sesuatu. Kata Kunci: Stilistika, lagu, gaya bahasa retoris erotesis Abstract This research entitled ?Erothesis Rhetorical Language Style In Songs By Yui Yoshioka?. The research background is analysis of use erothesis Rhetorical language style in songs. There are 2 research problem, that are form and function of erothesis rhetorical language style in songs. The first problem is analysis with Gorys Keraf?s (2010) theory. The second problem is analysis with Enggar at all, in Wahyuni at all (2013) theory. This research is qualitative research which is used words not number to describe of data analysis in songs by Yui Yoshioka. The data analysis are amount 12 lyrics of songs with erothesis rhetorical language style. The result research as follows. The form of erothesis rhetorical language style are classified based on the last particle in lyrics, which form of ??? is 4 data?s, ??? is 1 data, ???? is 3 data?s, ?? is 2 data?s, ?? is 1 data, and ???is 1 data. There are 4 types function of erothesis rhetorical language style. That is 2 data?s to concrete, 6 data?s to assertive, 2 data?s to smooth, and 2 data?s to poetic. From the results of research that have been done, can be seen that function of erothesis rhetorical language style in lyrics of songs was to concreted. Keyword: Stylistics, songs, erothesis rhetorical language style.
REFERENSI PERSONA DALAM SERIAL DRAMA "NIHONJIN NO SHIRANAI NIHONGO" EPISODE 1 DAN 2 KARYA TAKUYA MASUMOTO INNASITA KUSUMANINGRUM, DEVINA
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini berjudul "referensi persona dam serial drama nihonjin no shiranai nihongo episode 1 dan 2 karya takuya masumoto". Dalam analisis wacana terdapat dua unsur yaitu internal dan eksternal. Referensi termasuk dalam unsur eksternal analisis wacana. Referensi ini yang menjadi fokus penelitian ini dengan rumusan masalah sebagai berikut. Permasalahan pertama adalah bagaimana tipe-tipe referensi persona yang ditemukan dalam serial drama "nihonjin no shiranai nihongo" episode 1 dan 2 karya takuya masumoto?. Permasalahn kedua adalah bagaimana penggunaan referensi persona dilihat dari konsep kesopanan masyarakat Jepang yang ditemukan dalam serial drama "nihonjin no shiranai nihongo" episode 1 dan 2 karya takuya masumoto?. Permasalahan pertama dianalisis menggunakan teori dari Sumarlam (2008). Permasalahan kedua dianalisis menggunakan teori dari Sumarlam (2008) dan Ide (1982). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena tidak menggunakan angka-angka melainkan menggunakan kata-kata untuk mendesktipsikan analisis data pada penggalan tuturan dalam serial drama "nihonjin no shiranai nihongo" karya takuya masumoto. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Referensi persona dalam serial drama "nihonjin no shiranai nihongo" episode 1 dan 2 dibagi menjadi 3 tipe, yaitu. Referensi persona pertama ditemukan 25 data tuturan yang mengandung referensi persona pertama. Dengan 23 data tuturan bentuk tunggal, dan 2 data tuturan bentuk jamak. Referensi persona kedua ditemukan 17 data tuturan yang mengandung referensi persona kedua. Dengan 11 data tuturan bentuk tunggal dan 6 data tuturan bentuk jamak. Referensi persona ketiga ditemukan 6 data tuturan yang mengandung referensi persona ketiga. Dengan 5 data tuturan bentuk tunggal dan 1 data tuturan bentuk jamak. Referensi persona dalam serial drama "nihonjin no shiranai nihongo" episode 1 dan 2 karya takuya masumoto memiliki 4 faktor penggunaan, yaitu. Status sosial (1 data), kekuasaan (5 data), usia (2 data), dan situasi (40 data). Kata Kunci: Referensi persona, analisis wacana, unsur eksternal Abstract This research entitled "personal reference in drama series Nihonjin no shiranai nihongo episode 1 and 2 by Takuya Masumoto". There are 2 elements in discourse analysis, there are internal and external. External discourse analysis include reference, which is to be a focus in this research. The research problems as follows: the first research problem is, how about types of personal reference founded in drama series "nihonjin no shiranai nihongo" by takuya masumoto?. The second research problem is, how about using of personal reference seen Japanese human polite concept founded in drama series "nionjin no shiranai nihongo" by takuya masumoto?. The first research problem is analysis with Sumarlams (2008) theory. The second research problem is analysis with Sumarlams (2008) and Ides (1982) theory. This research is qualitative research which is used words not number to describe of data analysis fragment of speech in drama series "nihonjin no shiranai nihongo" by takuya masumoto. The result of this research as follows : There are 3 types of personal reference in drama series "nihonjin no shiranai nihongo" episode 1 and 2 by takuya masumoto. The first personal reference are founded 25 datas which is 23 datas is singular and 2 datas plural. The second personal reference are founded 17 datas which is 11 datas singular and 6 datas plural. The third personal reference are founded 6 data which is 5 datas singular and 1 data plural. Personal reference in drama series "nihonjin no shiranai nihongo" episode 1 and 2 by takuya masumoto has 4 using factors, that social position (1 data), power (5 datas), age (2 datas), and formality (40 datas). Keyword: Personal reference, discourse analysis, external element
MODALITAS DALAM TINDAK TUTUR ILOKUSI REPRESENTATIF DALAM LIGHT NOVEL HIGHSCHOOL DXD VOLUME 1 KARYA ICHIEI ISHIBUMI WIDODO PUTRA, AREN
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSuatu kalimat dapat dimaknai secara tekstual dan kontekstual. Tindak tutur ilokusi representatif adalah tuturan dimana penutur mengatakan hal yang dianggapnya benar. Dalam suatu kalimat juga terdapat bagian yang menunjukkan sikap penutur terhadap kalimat yang diucapkan, bagian ini disebut dengan modalitas. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh deskripsi tentang(1) bentuk modalitas dalam tindak tutur ilokusi representatif dalam light novel Highschool DXD volume 1 karya Ichiei ishibumi dan(2) jenis modalitas dalam tindak tutur ilokusi representatif dalam light novel Highschool DXD volume 1 karya Ichiei ishibumi. Untuk menjawab permasalahan pertama menggunakan teori kategori gramatikal menurut Supardjo dan modalitas menurut Nitta. Sedangkan permasalahan kedua menggunakan teori Matsuoka. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif menurut Sudaryanto. Data dikumpulkan dengan teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kartu data. Analisis data dilakukan dengan teknik lesap dan teknik ganti menurut Sudaryanto. Penelitian ini menemukan 18 data dari Lighnovel Highschool DXD volume 1. Hasil penelitian menunjukan bahwa(1) terdapat 10 bentuk modalitas dalam tindak tutur ilokusi representatif dalam light novel Highschool DXD volume 1 yaitu kara, dakara, tame, wake, nara, ba, kamoshirenai, desyou, da, dan hazu. (2) terdapat 3 jenis modalitas dalam tindak tutur ilokusi representatif dalam light novel Highschool DXD volume 1 yaitu setsumei, kakugen, dan gaigen.Kata kunci: Modalitas, Modalitas penanda keadaan tuturan, ilokusi representatif
BENTUK AKSEN BAHAS JEPANG DAN PENGGUNAANNYA DALAM ANIME RESTI NUGRAHENI, CAHYA
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aksen adalah tinggi rendahnya nada dalam suatu kata sebagai pembeda. Dalam satu negara pun banyak memiliki aksen. Apabila berbicara tentang aksen, ada kalanya berhubungan dengan yang namanya homonim. Yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah aksen homonim dan aksen kata benda. Homonim adalah beberapa yang memiliki bunyi sama, tetapi maknanya berbeda dan diantara makna tersebut sama sekali tidak ada hubungannya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan anime sebagai sumber data. Penelitian ini membahas tentang fonologi yaitu mengenai aksen. Dan semantik tentang pembeda makna.Rumusan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Bagaimana bentuk aksen kata benda ketika bergabung dengan kata benda yang lain pada anime bahasa Jepang (2) Bagaimana perbedaan aksen homonim yang mengakibatkan perbedaan makna pada anime bahasa Jepang.Kemudian diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : (1) Seperti yang dijelaskan diawal, homonim adalah kata yang mempunyai cara pengucapan sama tetapi karena aksennya yang berbeda maka terjadi perbedaan makna. Dalam anime yang diteliti oleh peneliti, terdapat 30 kata homonim yang diucapkan oleh tokoh dalam anime tersebut. Untuk bentuk aksen yang terdapat dalam homonim sendiri, yang paling banyak ditemukan adalah bentuk aksen atamadaka-gata yaitu 14 data. Bentuk aksen paling banyak kedua adalah odaka-gata sebanyak 10 data. Dan bentuk aksen ketiga adalah heiban-gata sebanyak 6 data. (2) Dalam penelitian ini, ditemukan 34 frasa yang terdiri dari 68 kata benda bahasa Jepang. Jenis aksen yang paling banyak ditemukan adalah heiban-gata sebanyak 40 data. Kedua adalah atamadaka-gata sebanyak 17 data. Ketiga adalah odaka-gata sebanyak 9 data. Dan yang paling sedikit adalah nakadaka-gata sebanyak 2 data. Jadi, dalam anime bahasa Jepang, jenis aksen yang paling banyak ditemukan adalah heiban-gata. Dan yang paling sedikit atau jarang muncul adalah nakadaka-gata. Meskipun kedua kata benda tersebut memiliki aksen masing-masing, apabila kedua kata tersebut digabung dan menjadi satu frasa, aksennya akan berubah dari semula.Kata Kunci: Aksen, Homonim, Fonologi, Semantik, Perbedaan aksen, Perbedaan makna Accents are high and low tones in a word as a differentiator. In one country too many have accents. When talking about accents, there are times when dealing with the name homonym. What will be discussed in this paper are homonym accents and noun accents. Homonyms are some that have the same sound, but the meaning is different and between these meanings has nothing to do. In this study, researchers used anime as a data source. This study discusses phonology, which is about accents. And semantics about differentiating meanings.The formulations in this study are as follows: (1) What is the form of accent of nouns when joining with other nouns in Japanese anime (2) How is the difference between homonym accents which results in different meanings in Japanese anime.Then the results of the study are as follows: (1) As explained earlier, homonyms are words that have the same pronunciation method but because of their different accents different meanings occur. In the anime examined by researchers, there are 30 homonym words spoken by the characters in the anime. For the accent forms contained in the homonym itself, the most common form is atamadaka-gata accent, which is 14 data. The second most accent form is odaka-gata for 10 data. And the third form of accent is the data-obscure 6 data. (2) In this study, found 34 phrases consisting of 68 Japanese nouns. The type of accent that is most commonly found is 40 data. The second is 17 data atamadaka-gata. The third is the 9 data odaka-gata. And the least are 2 data nakadaka-gata. So, in Japanese anime, the type of accent that is most commonly found is heiban-gata. And the least or rarely appear is nakadaka-gata. Although both of these nouns have their respective accents, if the two words are combined and become one phrase, the accent will change from the beginning.Keywords: Accents, Homonyms, Phonology, Semantics, Accent Differences, Different meanings
ANALISIS PENGGUNAAN AIZUCHI OLEH PENUTUR ASING BAHASA JEPANG DALAM VIDEO YOUTUBE MENGENAI HOMESTAY DI JEPANG EPISODE 1-3 KHUSNUL KHOTIMAH, ARI
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan pengamatan peneliti, didapatkan bahwa penutur asing bahasa Jepang tidak banyak menggunakan aizuchi dalam percakapan menggunakan bahasa Jepang. Aizuchi merupakan budaya merespon tuturan lawan bicara yang terdapat hanya dalam bahasa Jepang. Rumusan masalah penelitian ini adalah: bagaimana bagaimana bentuk aizuchi, bagaimana penggunaan aizuchi berdasarkan situasi dan bagaimana kesalahan-kesalahan penggunaan aizuchi oleh penutur asing bahasa Jepang. Dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana bentuk aizuchi, bagaimana penggunaan aizuchi berdasarkan situasi dan bagaimana kesalahan-kesalahan penggunaan aizuchi oleh penutur asing bahasa Jepang. Sumber datanya adalah video Youtube mengenai homestay di Jepang episode 1-3. Sedangkan datanya berupa tuturan penutur asing bahasa Jepang yang mengandung aizuchi. Metode penelitian menggunakan metode analisis deksriptif. Setelah dianalisis ditemukan 50 data. Yaitu bentuk aizuchi yang paling banyak adalah aizuchishi atau kosakata aizuchi berjumlah 16 data dikarenakan bentuk aizuchishi memliki bentuk yang sederhana sehingga mudah diingat dan dipahami. Selanjutnya penggunaan aizuchi berdasarkan situasi menerima informasi baru paling banyak ditemukan yaitu 32 data. Dan ketidaktepatan penggunaan aizuchi paling rawan terjadi adalah ketidaksesuaian dengan situasi yaitu sebanyak 6 data. Kata kunci: Aizuchi, Respon, Penutur asing bahasa Jepang. Abstract Based on researchers observations, it was found that non-native Japanese speakers did not use aizuchi much in conversations in Japanese. Aizuchi is a culture of response for the interlocutors speech that is only appears in Japanese. The issues addressed on this research are: how is the form of aizuchi, how is the use of aizuchi based on the situation and how are the misapplication of aizuchi by non-native Japanese speakers. And the purpose of this study was find out the form of aizuchi, how to use aizuchi based on the situation and how the mistakes of the using of aizuchi by Japanese speakers. The data source used in this research is Youtube videos about homestays in Japan episodes 1-3. While the data are in the form of speeches by non-native speakers of Japanese which contain aizuchi. The research method used is descriptive analysis method. After being analized, 50 data were found. The most used aizuchi was found to be aizuchishi or aizuchi vocabulary. There are 16 data because the aizuchishi form has a simple form that is easy to remember and understand. Furthermore, the most often situation which aizuchi were being used was when receiving new information, as many as 32 data. And the type misapplication of aizuchi mostly occured was the mismatch of the situation, which occurred 6 times. Keyword : Aizuchi, Response, Non-native Japanese Speakers.
JENIS DAN MAKNA ONOMATOPE DALAM KOMIK SLAM DUNK VOLUME 30-31 KARYA TAKEHIKO INOUE DEVI SETYA P, DIAH
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Onomatope bahasa Jepang dalam komik bertujuan untuk meneliti bunyi-bunyi bahasa sebagai unsur pembentuk onomatope yang mencerminkan makna-makna tertentu. Makna onomatope dalam komik sering digambarkan berupa lambang, yaitu berupa gambar atau terdapat dalam percakapan secara frase dan kata. Onomatope tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan pengguna bahasa Jepang. Masyarakat Jepang sering menggunakan onomatope sebagai kata-kata yang mengakrabkan dan untuk memperkenalkan nama benda kepada anak-anak. Oleh karena itu penelitian onomatope bahasa Jepang menjadi penting untuk diteliti. Penelitian ini meneliti jenis dan makna onomatope. Peneliti menggunakan komik Slam dunk volume 30-31. Peneliti menggunakan komik ini karena terdapat tiga jenis onomatope giongo, giseigo dan gitaigo. Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :1. Mendeskripsikan jenis onomatope dalam komik slam dunk volume 30-312. Mendeskripsikan makna onomatope dalam komik slam dunk volume 30-31Rumusan masalah mengenai jenis onomatope dianalisis dengan teori dari Yoshio, Hamzan Situmorang, Amanuma Yasushi, Akimoto dan Kindaichi. Untuk meneliti makna onomatope dianalisis dengan teori dari Akimoto. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah komik dan data-datanya merupakan kata-kata yang termasuk onomatope. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 8 kata dalam onomatope giongo, contohnya : doka?, pii dan bachin. 12 kata dalam onomatope giseigo, contohnya : haahaa, fun dan wa. Dan 11 kata dalam onomatope gitaigo, contohnya : piku, kiraan dan suta-suta. Sementara makna yang terdapat di dalamnya berupa mono ga dasu oto, hito no koe/oto,hito no dousa, hito no yousu/ shinjou.
PELANGGARAN PRINSIP KERJASAMA DAN WUJUD TINDAK TUTUR PADA IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM SERIAL DRAMA FROM FIVE TO NINE AYUNINGTYAS, SINTA
GoKen Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : GoKen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Secara umum terdapat dua jenis implikatur yaitu, implikatur percakapan dan implikatur konvensional. Dari kedua jenis implikatur tersebut, implikatur percakapan yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Implikatur percakapan adalah implikatur yang muncul akibat dari penyimpangan maksim-maksim dari prinsip kerjasama. Dalam penelitian ini terdapat dua masalah yang diteliti. Kedua masalah tersebut adalah pelanggaran maksim kerjasama yang melatarbelakangi implikatur percakapan dan tindak tutur sebagai wujud implikatur percakapan dalam serial drama From Five to Nine. Untuk menganalisis masalah yang pertama digunakan teori milik Wijana tentang prinsip kerjasama. Kemudian untuk masalah yang kedua dianalisis menggunakan teori milik Yule tentang jenis tindak tutur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah serial drama From Five to Nine. Data pada penelitian ini berupa tuturan tokoh dalam drama yang mengandung implikatur percakapan. Jumlah data yang ditemukan dalam penelitian ini adalah 98 data. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut. 1. Pelanggaran prinsip kerjasama yang terdapat dalam serial drama From Five to Nine adalah sebagai berikut. a. Terdapat dua jenis pelanggaran maksim kuantitas yaitu, informasi yang diberikan berlebihan dan informasi yang diberikan kurang. b. Terdapat dua jenis pelanggaran maksim kualitas yaitu, sengaja berbohong dan kebenaran informasinya belum dapat dibuktikan. c. Terdapat dua jenis pelanggaran maksim relevansi atau hubungan yaitu, sepenuhnya tidak relevan dengan konteks pembicaraan dan tidak relevan namun tetap pada konteks pembicaraan. d. Terdapat tiga jenis pelanggaran maksim pelaksanaan atau cara yaitu, berbelit-belit, memakai istilah atau kata-kata tertentu, serta pernyataan yang diberikan kurang jelas. 2. Jenis tindak tutur yang ditemukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Pada tindak tutur deklarasi ditemukan tuturan membatalkan, melarang, mengijinkan, memaafkan, menunjuk, memberikan bantuan, merestui. b. Pada tindak tutur representatif ditemukan tuturan menyatakan, memberitahukan, berspekulasi, membenarkan. c. Pada tindak tutur ekspresif ditemukan tuturan memuji, menggoda, mencela, mengejek, menyalahkan, mengeluh, senang, suka, tidak suka, khawatir, memberi selamat, meminta maaf, kecewa, marah. d. Pada tindak tutur direktif ditemukan tuturan meminta, memaksa, menyuruh, mendesak, menyarankan, mengajak, menantang. e. Pada tindak tutur komisif ditemukan tuturan mengancam, menolak, menyatakan kesanggupan, melamar, menawarkan. Kata Kunci: Implikatur, Implikatur Percakapan, Tindak Tutur, Prinsip Kerjasama Abstract Generally there are two types of implicatures, conversational implicature and conventional implicature. From those types of implicatures, conversational implicature is the focus of this research. Conversational implicature is type of implicature that is occurs as a result of violation of cooperative principle. In this research there are two problems. The first problem is violation of cooperative principle that causes conversational implicature, and the second is speech act as a result of conversational implicature in drama series From Five to Nine. To solve the first problem used the theory of cooperative principle by Wijana. To solve the second problem used type of speech acts by Yule. This research used descriptive qualitative method. Data source in this reasearch is Japanese drama series From Five to Nine, and the data is conversational implicature in drama series From Five to Nine. All data that can be found in this research are 98. The research results are: 1. Violation of cooperative principle in drama series From Five to Nine are. a. There are two types of violation of maxim of quantity, two much information and lack of information. b. There are two types of violation of maxim of quality, intentionally lying and the truth of the information cannot be proven yet. c. There are two types of violation of maxim of relevance, completely irrelevant to the context of the conversation and irrelevant but still in the context of the conversation. d. There are three types of violation of maxim of manner, complicated words, use certain terms or words, and the informations provided are unclear. 2. Types of speech acts are. a. In the declarative speech acts was found utterences such as canceling, forbidding, permitting, forgiving, appointing, giving help, and blessing. b. In the representative speech acts was found utterences such as to states, telling, speculating, and justifying. c. In the expressive speech acts was found utterences such as complimenting, teasing, criticizing, insulting, blaming, complaining, happy, like, hate, worrying, congratulating, apologing, disappointed, and angry. d. In the directive speech acts was found utterences such as asking, forcing, commanding, insisting, suggesting, inviting, and to challenge. e. In the commissive speech acts was found utterences such as threatening, refusing, willing, proposing, and offering. Key Words : Implicature,conversational implicature, speech acts, cooperative principle

Page 8 of 10 | Total Record : 94