cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
ANALISA HASIL PERHITUNGAN KONSTRUKSI GEDUNG GRAHA ATMAJA MENGGUNAKAN GEMPA SNI 1726-2002 DENGAN MENGGUNAKAN PERHITUNGAN BETON SNI 2847-2013 SUKOCO, MOHAMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini antara lain: untuk mengetahui hasil perhitungan gedung graha atmaja setelah direncanakan ulang menjadi 8 lantai terhadap persyaratan kolom kuat balok lemah tanpa mengubah dimensi kolom dan balok pada perencanaan ulang gedung graha Atmaja pada SRPMK, dan mengetahui pengaruh variasi bentang antar kolom pada ketahanan bangunan terhadap gempa pada sistem rangka pemikul momen khusus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana perencanaan ulang struktur gedung graha atmaja yang awalnya bangunan 5 lantai menggunakan metode SRPMM diganti dengan bangunan 8 lantai dan metode SRPMK. Data dikumpulkan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan, dan simulasi komputasi. Literatur atau kepustakaan digunakan untuk memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) bangunan dan memperoleh gaya aksial, geser, momen yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan  dengan bentang atau  jarak kolom yang paling jauh tanpa mengubah dimensi balok dan kolom pada perhitungan strong column weak beam memenuhi persyaratan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada gedung graha Atmaja memenuhi persyaratan strong column weak beam. Kata Kunci: hitungan ulang struktur, beton, kolom, balok, SRPMK The purpose of this research are: to knowing the result of calculation of buildings Graha Atmaja after the redesign to the 8 floor of the requirements of strong column weak beamwithout changing the dimension of the columns and beams in the redesign of building Graha Atmaja on SRPMK method, and determine the effect of variation spans between columns on building resilience the earthquake in the SRPMK method. This research used descriptive method with the case study method. This research will describe how to redesign the structure of an integrated building Graha Atmaja which initially using SRPMM method and replace with SRPMK method. Data was collected by literatures or documents and computational simulation. Literatures are used to derive the rules, formulas, and steps to calculate the structure. Computational simulation is used to make the structure’s model (space frame) of building and obtain axial force, shear, and moment that occurs. The results showed that the building with the farthest distance span or columns without changing the dimensions of the beams and columns on strong column weak beam calculation  meet the requirements. Thereby can be conclude that the buildings Graha Atmaja  meets the requirements strong column weak beam. Keywords : re-count the structure, concrete, columns, beams, SRPMK
ANALISA PENGARUH VARIASI BENTANG KOLOM PADA PERENCANAAN ULANG STRUKTUR GEDUNG  LABORATORIUM TERPADU FMIPA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA TERHADAP PERSYARATAN KOLOM KUAT BALOK LEMAH PADA SRPMK AWALUDIN ASSHIDIQ RAMELAN, IMAM
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini antara lain: untuk mengetahui pengaruh variasi bentang kolom terhadap persyaratan kolom kuat balok lemah tanpa mengubah dimensi kolom dan balok pada perencanaan ulang gedung laboratorium terpadu FMIPA UNESA pada SRPMK, dan mengetahui pengaruh variasi bentang antar kolom pada ketahanan bangunan terhadap gempa pada sistem rangka pemikul momen khusus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana perencanaan ulang struktur gedung laboratorium terpadu FMIPA universitas negeri Surabaya yang awalnya menggunakan metode SRPMM diganti dengan metode SRPMK. Data dikumpulkan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan, dan simulasi komputasi. Literatur atau kepustakaan digunakan untuk memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) bangunan dan memperoleh gaya aksial, geser, momen yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan C dengan bentang atau  jarak kolom yang paling jauh tanpa mengubah dimensi balok dan kolom pada perhitungan strong column weak beam tidak memenuhi persyaratan walaupun pada story drift memenuhi syarat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada bangunan C dengan jarak antar kolom 4-8-4 meter tidak memenuhi persyaratan strong column weak beam, walaupun dalam persyaratan simpangan antar lantai memenuhi. Tidak terpenuhinya syarat strong column weak beam ini disebabkan oleh bentang balok yang semakin panjang membuat momen yang ditimbulkan di balok menjadi semakin besar juga melebihi momen yang ada pada kolom. Kata Kunci: hitungan ulang struktur, beton, kolom, balok, SRPMK The purpose of this research are: to discover the effect of span column variations of the requirements of strong column weak beam without changing the dimension of the columns and beams in redesigning an integrated laboratory building FMIPA UNESA on SRPMK, and also to discover the effect of variation span between columns on building resilience to the earthquakes on skeletal system bearer of certain moment. This research used descriptive method with the case study method. This research will describe how to redesign the structure of an integrated laboratory building FMIPA UNESA which initially using SRPMM method and replace with SRPMK method. Data was collected by literatures or documents and computational simulation. Literatures are used to derive the rules, formulas, and steps to calculate the structure. Computational simulation is used to make the structure’s model (space frame) of building and obtain axial force, shear, and moment that occurs. The results showed that the building C with the farthest distance span or columns without changing the dimensions of the beams and columns on strong column weak beam calculation doesn’t meet the reqirements although the story drift qualify it. Then, it can be concluded that in building C with a 4-8-4 meter distance between the columns doesn’t meet the requirements of strong column weak beam, although the drift floor’s requirements meets it. Non-fulfillment the requiremnet of this strong column weak beam caused by the beam span whichis getting longer and make the moment that generated in the beam becomes bigger exceeded than the moment on the column. Keywords : re-count the structure, concrete, column, beam, SRPMK
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT IJUK TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG RINJANI RATU PERTIWI, DYAH
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balok beton bertulang merupakan bagian dari struktural sebuah bangunan yang kaku dan dirancang untuk menanggung beban menuju elemen-elemen kolom penopang, yang terdiri dari beton dan baja tulangan. Balok beton bertulang yang menahan beban semakin lama akan mengalami retak akibat tegangan tarik yang terjadi, untuk mengurangi tegangan tarik yang terjadi berbagai penelitian dilakukan salah satunya yaitu penambahan serat ke dalam beton konvensional yang menunjukan bahwa serat mampu meningkatkan karakteristik beton secara signifikan. Serat ijuk yang digunakan dalam campuran beton adalah serat yang dipilih dengan cara membuang bagian yang tidak beraturan, cara membuangnya dengan menyisir ijuk dengan sisir kawat. Serat ijuk mempunyai sifat agak kaku dan seratnya panjang-panjang serta kandungan gabusnya antara 0,5-5% berat. Serat dapat memberikan ketahanan terhadap retakan yang terjadi pada beton serat tersebut karena serat dapat merekatkan retak yang terjadi. Keadaan ini mampu meningkatkan kekerasan balok beton bertulang. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh hasil dari pengaruh penambahan serat ijuk terhadap kuat lentur balok beton bertulang, dengan mencampur serat ijuk kedalam adukan beton dengan campuran serat ijuk sebesar 0%, 1% dan 3% dari volume semen dalam campuran beton, dengan diameter serat ijuk ≤1 mm serta panjang 60 mm. Penempatan beban pada balok beton bertulang dengan menggunakan 2 titik beban terpusat, dengan jarak 650 mm dari tumpuan dan dimensi balok yang digunakan adalah 125 x 230 x 2000 mm. Data eksperimen yang didapatkan dicatat kemudian dibandingkan berdasarkan data perhitungan secara teoritis. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan Mcr pada balok BL.1% sebesar 147,33%, dan pada balok BL.3% sebesar 54,53% terhadap balok kontrol BL.0%. Peningkatan beban maksimal pada balok dengan campuran serat ijuk BL.1% sebesar 36,28% dan BL.3% sebesar 28,02%, Momen maksimal pada pengujian BL.0% mengalami penurunan sebesar 11,03%, BL.1% mengalami peningkatan 19,73%, dan BL.3% mengalami peningkatan 13,92% terhadap nilai momen maksimal teoritis. Nilai lendutan secara eksperimen untuk BL.0% memiliki nilai selisih sebesar 0,67 mm, BL.1% sebesar 1,7 mm dan BL.3% sebesar 0,99 mm, terhadap perhitungan secara teori. Retakan yang terjadi pada ketiga balok uji adalah dominan retak lentur. Berdasarkan hasil penelitian dengan penambahan serat ijuk ke dalam campuran beton menambah kuat lentur balok beton bertulang. Kata Kunci: Balok beton Bertulang, Serat ijuk, Kuat Lentur. Reinforced concrete beam is a structural part of a building that is rigid and designed to bear the burden to elements supporting column, which consists of concrete and reinforcing steel. Reinforced concrete beams that the longer it holds the load will have cracked due to tensile stresses that occur. In order to reduce the tensile stress that occurs, the studies carried out about the addition of palm fibers to the conventional concrete that shows fiber can improve concrete characteristics significantly. Palm fibers used in concrete mixtures is a fiber selected by removing the irregular. The way to remove is by combing the fibers with a wire comb. The characteristics of palm fibers are a little rigid and long-fiber length and content of the cork between 0.5-5% by weight. Fiber can provide resistance to cracks that occur on the fiber because it can glue the cracks that occur. This condition was able increase the hardness of reinforced concrete beams. This research was conducted to obtain the results of the effect of adding palm fibers on flexural strength of reinforced concrete beams, by mixing the palm fibers into the concrete with mixed fibers of 0%, 1% and 3% of the volume of cement in the concrete mixture, the fiber diameter fibers ≤1 mm and a length of 60 mm. Load placement on reinforced concrete beams by using two point concentrated load, with a distance of 650 mm from the pedestal and the dimensions of the beam used is 125 x 230 x 2000 mm. The experimental data obtained by the data recorded later than theoretical calculations. The results showed an increase in the beam Mcr BL.1% at 147.33%, and on the beams BL.3% at 54.53% of the control beam BL.0%. Increasing the maximum load on beam with a mixture of palm fiber BL.1% amounting to 36.28% and amounted to 28.02% BL.3%, the maximum moment on the test BL.0% decreased by 11.03%, BL.1% experienced increase of 19.73%, and BL.3% increased 13.92% to the theoretical maximum torque value. It values deflection experimentally to BL.0% value difference of 0,67 mm, BL.1% of 1,7 mm and BL.3% of 0,99 mm to the theoretical calculations. The cracks that occurred in the third beam bending crack test is dominant. Based on the research results with the addition of palm fibers into the concrete mix add flexural strength of reinforced concrete beams. Keywords: Reinforced Concrete Beams, Palm Fibers, Flexural Strength.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT IJUK DALAM PEMBUATAN BALOK BETON BERTULANG BERDASARKAN UJI KUAT GESER YUNI PUSPITA, DENNES
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton bertulang memerlukan penambahan serat dalam adukan beton untuk meningkatkan kuat tarik beton. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan serat ijuk ke dalam campuran beton mampu meningkatkan  karakteristik beton secara signifikan. Penelitian ini membuat benda uji 3 buah balok beton bertulang, dimana 1 buah merupakan beton bertulang normal (tanpa penambahan serat) dan yang lain merupakan balok beton bertulang dengan penambahan serat ijuk aren sebesar 1% dan 3%. Pengujian yang dilakukan terdiri dari uji kuat tekan dan uji kuat geser. Pengaruh penambahan serat ijuk dalam pembuatan balok beton bertulang berdasarkan uji kuat geser dibuat benda uji balok beton bertulang dengan mutu beton normal fc= 25 MPa menggunakan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI- 2843), sedangkan baja tulangan menggunkan D10 untuk tulangan utama dan ?8 untuk tulangan geser. Balok beton berukuran 125x 230x2000 mm yang meliputi Balok Geser 0% (BG.0%), Balok Geser 1% (BG.1%) dan Balok Geser 3% (BG.3%). Rasio pembebanan a/d=2 menurut Chu-Kia Wang berada pada daerah lentur-geser dengan ketentuan 1 < a/d ≤ 2,5 termasuk dalam kategori balok pendek, akan tetapi direncanakan retak geser saja, sehingga di daerah bentang  geser digunakan tulangan geser (sengkang) dengan jarak 90 cm menjadikan . Balok pendek memiliki kekuatan geser yang melebihi kekuatan tarik miring, setelah retak lentur-geser terjadi, retak merambat lebih jauh kedalam daerah tekan dengan naiknya beban. Hasil pengujian kuat tekan beton diperoleh fc= 28,39 MPa untuk campuran balok tanpa serat, fc= 30,81 MPa untuk campuran balok dengan kadar serat ijuk 1% dan  fc= 26,71 MPa untuk campuran balok dengan kadar serat ijuk 3%, sedangkan mutu baja tulangan D10 adalah fy= 411 MPa dan mutu baja tulangan ?6 adalah fy= 306 MPa. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan adanya penambahan serat ijuk berpengaruh terhadap kuat tarik beton yang mengakibatkan lendutan pada beban yang sama, pada balok uji BG 1% lebih besar dibanding BG.0% dan BG.3% menurunkan kuat tarik beton.   Kata Kunci : Beton bertulang, Balok berserat, Kuat geser. Abstract Reinforced concrete require fiber in the mix of concrete to increase the tensile strenght of concrete. There are a lot of researches that the addition of fibers to the mix of concrete increase concrete characteristics significantly. This study used three reinforced concrete beams, which one of piece is normal ( without the addition of fiber) and the others use addition of sugar palm of fiber 1% and 3%. This study consist of compressive strength and shear strength. The Effect of additionl palm fibers based on the the test specimen beams made of reinforced concrete with normal concrete quality fc = 25 MPa using a reference to the Indonesian National Standard (SNI 2843), while the reinforcing steel using the D10 to the main reinforcement and ?8 to shear. Concrete beams measuring 125x 230x2000 mm covering beam Scroll to 0% (BG.0%), beam Slide 1% (BG.1%) and beam Slide 3% (BG.3%). The ratio of load a/d = 2 by Chu Kia Wang was in the region bending-shear 1 < a/d ≤ 2,5, included in the short beam category, but planned shear crack only, so in the area of used shear span shear reinforcement (stirrups) with a distance of 90 cm make ∅Vn> Vu. Short beam has shear strength more than tensile strength tilted, after bending-shear crack occured, the crack propagates further into the press area with increasing load. The result showed that compressive strength of beams without fiber was fc= 28,39 MPa, beams with additional of fiber by 1% was fc = 30,81 and fc = 26,71 for beams with additional fiber by 3%, while the quality of reinforcement steel D10 was fy = 411 MPa and the quality of steel reinforcement ?6 was fy = 306 MPa. The addition of palm fiber was effect the tensile strength of concrete, which results in the same load, deflection at beam test with palm fiber content of 1% greater than the beam without the fiber and the fibers 3%.   Keywords : Reinforced concrete, Fiber concrete, Shear strenght.
PERBANDINGAN PERHITUNGAN EFISIENSI BESI JEMBATAN GELAGAR BETON STRUKTUR ATAS ANTARA JARAK GELAGAR JEMBATAN 1,10 METER; 1,38 METER; 1,83 METER; DAN 2,75 METER WIDA AMALIYA, TRI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan struktur jembatan yang ekonomis dan memenuhi syarat teknis ditinjau dari segi keamanan serta rencana penggunaannya merupakan suat uhal yang sangat penting untu kdiupayakan. Agar strukturjembatan yang dihasilkandapat memenuhi syarat dan efisien dari segi jumlah pembesian, maka padapenelitianinibermaksuduntukmenganalisaperbandingan perhitungan efisiensi besi jembatan gelagar beton struktur atas antara jarak gelagar jembatan 1,1 m; 1,38 m; 1,83 m; dan 2,75 m. Metodepenelitian yang akan digunakan dalam mengkaji penelitian ini adalah metode kuantitatif, yaitu memperoleh hasil penelitian dengan menekankan analisisnyapada data-data numeric (angka). Penelitian ini menganalisa dan membandingkan jumlah tulangan antara jarak gelagar jembatan 1,1 m, 1,38 m, 1,83 m, dan 2,75 msesuai dengan StandarNasional Indonesia (SNI) T-02-2005, T-03-2005, T-12-2004, dan Bridge Design Manual Bridge Management System (BMS) 1992. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelagar jarak 1,1 m dengan 6 buah gelagar membutuhkan tulangan 9.587,14 kg, gelagar jarak 1,38 m dengan 5 buah gelagar membutuhkan tulangan 9.730,51 kg, gelagar jarak 1,83 m dengan 4 buah gelagar membutuhkan tulangan 8.663,52 kg, dan gelagar jarak 2,75 m dengan 3 buah gelagar membutuhkan tulangan 8.006,14 kg. Jumlah tulangan pada total gelagar pada jarak 2,75 m membutuhkan tulangan paling sedikit. Sehingga gelagar pada jarak 2,75 dengan 3 buah gelagar merupakan jarak paling efisien dilihat dari jumlah kebutuhan tulangan gelagar. Kata Kunci: jembatan, gelagar Planning the structure of the bridge is economically and technically qualified in terms of security, and they plan to use is a very important thing to be pursued. In order for the bridge structure which is derived can be qualified and efficient in terms of the amount of iron, so in this study intends to analyze the calculation of the efficiency ratio of iron concrete girder bridge structure above the bridge girder spacing of 1.1 m; 1.38 m; 1.83 m; and 2.75 m. The research method that will be used in reviewing this research is quantitative method of obtaining research results with an emphasis on data analysis numeric (numbers). This study analyzes and compares the number of reinforcement between the bridge girder spacing of 1.1 m, 1.38 m, 1.83 m, and 2.75 msesuai with StandarNasional Indonesia (SNI) T-02-2005, 03-2005 T, T -12-2004, and Bridge Design Manual Bridge Management System (BMS) in 1992. The results showed that the girder spacing of 1.1 m with 6 pieces require reinforcement 9.587,14 kg girder, the girder spacing of 1.38 m with 5 pieces require reinforcement 9.730,51 kg girder, the girder spacing of 1.83 m with 4 pieces of girders in need of reinforcement 8.663,52 kg, and girder spacing of 2.75 m with 3 pieces of girders requires reinforcement 8.006,14 kg. Total amount of reinforcement on the girder at a distance of 2.75 m requires a minimum reinforcement. So that the girder at a distance of 2.75 with 3 pieces of girders is the most efficient distance views of the required amount of reinforcement girder. Key Word: bridge, girder.
ANALISA PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK PADA PEMBANGUNAN APARTEMEN ROYAL CITYLOFT DENGAN MENGGUNAKAN METODE FAULT TREE ANALYSIS IKE PARASTIWI NINGSIH, REFFI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan kemajuan zaman seperti saat ini banyak wilayah perkotaan mengalami perkembangan sangat pesat khusunya dalam perkembangan dunia konstruksi, didalam pembangunan pada proyek konstruksi waktu yang digunakan sangat berpengaruh terhadap lambatnya proyek pembangunan, karena pada proyek pembangunan saat ini banyak proyek yang mengalami keterlambatan yang belum teridentifikasi secara jelas apa penyebab dari keterlambatan suatu proyek konstruksi, oleh karena itu sangat dibutuhkan adanya identifikasi untuk meminimalisir tentang penyebab dari keterlambatan proyek konstruksi. Pada pembangunan proyek Apartemen Royal Cityloft yang berada dikawasan babatan wiyung nomer 101 wiyung surabaya mengalami keterlambatan dikarenakan waktu yang telah direncanakan tidak sesuai dengan waktu yang telah berlangsung. Akibatnya pada tahun 2015 terjadi keterlambatan yang belum diketahui tentang penyebabnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi pekerjaan apa yang mengalami keterlambatan serta mengidentifikasi penyebab terjadinya keterlambatan pada pembangunan proyek Apartemen Royal Cityloft surabaya. Pada penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Sedangkan untuk lingkup penelitian yaitu pekerjaan struktur pada proyek pembangunan Apartemen Royal Cityloft. Hasil penelitian diperoleh dari laporan progress dan kurva s yang terdapat pada proyek pembangunan Apartemen Royal Cityloft surabaya. Kemudian dari hasil data akan dicari penyebab keterlambatan dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) yang didukung dari hasil wawancara, kuisioner dan studi literatur. Wawancara dilakukan kepada pihak terkait yang ada dilapangan proyek. Keterlambatan yang terjadi pada proyek Apartemen Royal cityloft yaitu pada pekerjaan struktur lantai 3, pekerjaan kanopy utama lantai groundfloor, dan masalah perizinan. Faktor yang sering menyebakan keterlambatan yaitu faktor kontraktor, faktor owner dan faktor konsultan pengawas. Dalam pencegahan keterlambatan diharapkan agar semua pihak yang terkait saling menjaga komunikasi sehingga dalam proses pembangunan mendapatkan solusi penangan agar keterlambatan bisa ditanggulangi. Kata Kunci: Fault Tree Analysis, Keterlambatan dan Proyek With the progress of time as nowadays many urban areas have evolved very rapidly especially in the development of the construction, in the project construction time used very influential on the slowness development projects, due to development projects currently many projects are experienced delays that have not been clearly identified what are the causes of delays in construction, therefore it is highly desirable to minimize the identification of the causes of delays in construction projects. On the construction of the project Apartment Royal Cityloft that locatedon the babatanWiyung number 101,Wiyung Surabaya has been delayed due to the planned time is  accordance with the time that has lasted. As a result, in 2015 the delay is yet known about the cause. The purpose of this research is to identify what work was delayed and  the causes of delays in the constuction of Apartment Royal Cityloft Surabaya. This research uses qualitative research. As for the scope of the research is structure work on construction projects Apartment Royal Cityloft. The research results obtained from progress reports and curves s contained on construction projects Apartment Royal Cityloft Surabaya. Then from the results data will be sought for the cause of the delay by using the method of Fault Tree Analysis (FTA) that supported by the results of the interviews, the questionnaire and the study of literature.  Interviews were conducted to related parties that exist in the field project. The delays that occurs in the project Apartment Royal cityloft i.e. on the job structure of the 3rd floor, main canopy groundfloor jobs, and licensing issues.  Factors that often cause delays i.econtractors factors, owner factors and supervising consultants factor. In the prevention of delay is expected that all parties involved to maintain mutual communication so on the construction process can get a solution handlers that delays can be solved. Key Word: Fault Tree Analysis, Delays and Project
ANALISA PRODUKTIVITAS KELOMPOK KERJA UNTUK PEKERJAAN PEMASANGAN ALUMUNIUM COMPOSITE PANEL PADA PROYEK GEDUNG BERTINGKAT YULIAWATI, EKA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan dalam bidang konstruksi ini dapat terlihat dari adanya inovasi dari segi arsitektural pada proyek konstruksi masa sekarang ini. Terbukti pada masa sekarang ini penggunaan aluminium composite panel( ACP) sangat banyak digunakan pada gedung-gedung bertingkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemasangan aluminium composite panel (ACP), mengetahui produktivitas, mengetahui faktor-faktor produktivitas dan mengetahui model produktivitas.Dalam penelitian skripsi ini, untuk mengetahui pemasangan aluminium composite panel(ACP) dilakukan pengamatan cara pemasangan pada tiga proyek yang berbeda. Dalam perhitungan produktivitas pada penelitian ini menggunakan metode Level of Effort karena metode ini digunakan untuk mengukur pekerjaan yang memiliki sub pekerjaan yang cukup banyak antara 3 sampai 5 sub pekerjaan dan antar sub pekerjaan tersebut dapat saling overlapping. Langkah-langkah perhitungan dengan menggunakan metode Level of Effort antara lain, Rules of Credit yaitu mencari terlebih dahulu besarnya bobot dari pekerjaan, Conversion Factor yaitu mencari nilai koefisien dari tiap sub pekerjaan, Daily Productivity yaitu mencari produktivitas harian yang dihasilkan pekerja di lapangan dan yang terakhir adalah Baseline Productivity yaitu nilai produktivitas standar yang menjadi target kontraktor dalam bagian dari suatu proyek. Dalam mencari faktor-faktor yang berpengaruh pada penelitian ini menggunakan analisa faktor dengan program SPSS 22. Dalam menentukan model produktivitas pada penelitian ini menggunakan uji regresi linier berganda dengan program SPSS 22.Hasil dari penelitian ini adalah metode pemasangan yang dilakukan pada 3 proyek adalah pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing, pengecekan dan pengukuran dilapangan, fabrikasi rangka dan alumunium composite panel, pasang dudukan rangka dan perkuat dengan baut dynabolt, lembaran di profil sesuai dengan sudut, di lipat dan di skrup, pasang lembaran pada rangka alumunium dengan perkuatan dynabolt, perapihan nat dengan sealant dan bersihkan pelindung blue sheet. Hasil perhitungan produktivitas pada proyek 1 sebesar 1,03 m2/MD, pada proyek 2 sebesar 1,64 m2/MD, pada proyek 3 sebesar 1,53 m2/MD. 3.     Hasil nilai analisa faktor yaitu  faktor 1 atau faktor  yang paling berpengaruh terdiri dari variabel umur, pengalaman, gaji dan keadaan cuaca, sedangkan faktor 2 atau faktor yang tidak berpengaruh merupakan variabel pendidikan. Hasil model produktivitas dengan cara analisa regresi linear berganda yaitu Y = 1,627 X1 + 0,716 X3 + 0,004 X5 - 5,260 Kata kunci: produktivitas, ACP, Level of Effrot Increase in the construction field can be seen from the innovation of architectural aspects of the construction project the present time. Proven at the present time is the use of aluminum composite panel (ACP) is very widely used in high-rise buildings. The purpose of this study was to knowing the installation of aluminum composite panels (ACP), knowing the productivity, knowing the factors of productivity and know the model of productivity. In this research, to knowing the installation of aluminum composite panel (ACP) conducted observations of how the installation on three different projects. In the calculation of productivity in this study using Level of Effort because this method is used to measure the work that has sub job much between 3 to 5 sub jobs and between subsystems such work can be mutually overlapping. Step-by-step calculation using the Level of Effort, among others, Rules of Credit which is seeking first the magnitude of the weight of the work, the Conversion Factor which is seeking coefficient of each sub job, Daily Productivity is looking for daily productivity produced by workers in the productivity and the last Baseline productivity is a value standard productivity target contractors in a part of a project. In search of the factors that influence in this study using factor analysis using SPSS 22. In determining the model of productivity in this study using multiple linear regression using SPSS 22.The results of this research method is performed on 3 project is the manufacture and filing images shop drawing, checking and measurement field, fabricated frame and aluminum composite panel, attach the holder frame and tighten the bolts Dynabolt, sheet profile according to the angle, in the fold and couplers, attach sheets in aluminum frame with reinforcement Dynabolt, perapihan sealant and clean the grout with a blue protective sheet. The result of the calculation of productivity on the project one of 1.03 m2 / MD, the second project by 1.64 m2 / MD, the third project of 1.53 m2 / MD. 3. The results of the analysis of factors such as the value of one factor or the most influential factors consist of age, experience, salary and weather conditions, while the second factor or factors that do not affect the educational variables. The model results productivity by multiple linear regression analysis isY = 1,627 X1 + 0,716 X3 + 0,004 X5 - 5,260 Keywords: productivity, ACP, Level of Effrot
STUDI KELAYAKAN INVESTASI PEMBANGUNAN PEMANFAATAN BEKAS LAHAN TAMBANG BATU KAPUR SEBAGAI PERUMAHAN DI DESA BEKTIHARJO KECAMATAN SEMANDING NOFEN ROSILA PUTRI, SHINTIYA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan adalah sumber daya alam yang sifatnya terbatas dan tidak dapat diperbaharui, oleh karena itu diarahkan pada penggunaan lahan yang sesuai dan mempertimbangkan aspek berkelanjutan. Lahan bekas tambang batu kapur di daerah Tuban adalah salah satu lahan yang ditinggalkan tanpa ada penanganan lebih lanjut, maka lahan ini akan dimanfaatkan sebagai perumahan yang berbasis villa. Metode dalam penelitian ini yang pertama adalah pengumpulan data yaitu dengan survey, wawancara dan kuesioner, kemudian perhitungan biaya investasi yaitu perhitungan biaya pengeluaran dan pendapatan proyek, selanjutnya menganalisa kelayakan investasi dengan metode PP (Payback Period), NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return) dan yang terakhir adalah analisa sensitivitas. Dari hasil penelitian didapat bahwa layout perumahan terdiri dari 117 jumlah rumah dengan 2 tipe yaitu tipe 36 dan tipe 54 yang terdiri dari 1 masjid, 1 masjid, taman, lapangan futsal dan 1 pos satpam. Uji kelayakan finansial dengan metode PP, NPV, dan IRR menggunakan bunga 18% pada kondisi normal, maka proyek pembangunan perumahan lahan bekas tambang batu kapur layak untuk di bangun. Diperoleh waktu pengembalian (PP) dengan menggunakan metode Simple Payback Period sebesar 6,35 tahun yang terjadi pada tahun ke 6. Diperoleh nilai positif dari NPV sebesar Rp. 1.777.344.730,00 > 0 dan diperoleh nilai IRR sebesar 36,98% > suku bunga 18%. Dari hasil analisa sensitivitas diperoleh sensitiv jika perubahan nilai suku bunga mengalami peningkatan 25% dari bunga awal yaitu 18%, biaya awal investasi menjadi Rp. 26.339.644.717,00 > 22% dari biaya investasi awal yaitu Rp. 21.570.260.252,00, kemudian pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 4.500.160.696,00 atau 20,8% < dari pendapatan awal yaitu Rp. 5.495.187.936,00 dan tidak layak jika pengeluaran investasi pertahun lebih dari Rp. 13.766.650.361,00. Kata kunci : studi kelayakan investasi, PP, NPV, IRR, analisa sensitivitas. Area is limited natural resource and can’t be renew, so area can be directed to appropriate land uses and consider for sustainability. Limestone mined land in Tuban is one of the property left without any further handling,therefore this land will be used as a residential based villa. Methodes in this study is the first to collecting data with surveys, interviews and questionnaires, then the calculation of investment costs is the cost of project expenditure and revenue project, further analyse the feasibility of the investment method of Payback Period, Net Present value and Internal Rate of Return,and the last is a sensitivity analysis. Result of this research be obtained that a housing layout consist of 117 house with 2 type of each house. That is type 36 house and type 54 house. This housing be equipped by mosque, park, futsal field, and security’s station. Investment feasibility test with PP, NPV, and IRR use 18% of bank rate on normal condition, then housing project with utilization of limestone mine’s area decent to construct. Payback Period (PP) with Simple Pack method is 6,35 years that happen on sixth year. Value of Net Present Value (NPV) is Rp. 1.777.344.730,00 > 0 an value of Internal Rate of Return (IRR) is 36,98% > 18% of bank rate. From the result of the sensitivity analysis obtained sensitive if the value changes in interest rates increased to 25% of the initial interest of 18% , the initial cost of investment into Rp. 26.339.644.717,00 > 22% from the initial cost investment Rp. 21.570.260.252,00, then the average income is less than Rp. 4.500.160.696,00 atau 20,8% < or 20,8% <from the initial income Rp. 5.495.187.936,00 and not worth it if annual investment outlay of more than Rp. 13.766.650.361,00. Keywords : Investment Feasibility Study, Payback Period (PP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), sensitivity analysis.
PENGARUH LEBAR PEMOTONGAN PROFIL (E) TERHADAP KEKUATAN LENTUR CASTELLATED BEAM PADA BUKAAN LINGKARAN (CIRCULAR) UNTUK STRUKTUR BALOK RIDHO PUTRA, ARDITYA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian castellated beam hampir semuanya terfokus pada castellated beam dengan bentuk hexagonal. Bentuk lubang dengan sisi tidak bersudut seperti bentuk lingkaran (circular) pada lebar pemotongan profil (e) diharapkan dapat menghindarkan lendutan yang besar. Secara teoristik semakin kecil lebar pemotongan profil (e) maka akan meningkatkan performa dari kekuatan tegangan lentur balok castella tersebut. Begitu pula sebaliknya, hal ini dikarenakan semakin kecil lebar pemotongan profil (e), maka momen inersia yang dihasilkan semakin besar yang mengakibatkan kekakuan dari balok castella tersebut semakin meningkat, sehingga tegangan yang dihasilkan semakin tinggi. Diharapkan dalam penelitian ini ditemukan lebar potongan profil (e) balok castella bukaan lingkaran yang optimal untuk menahan kekuatan lentur Penelitian ini adalah penelitian uji laboratorium. Dalam penelitian ini penulis menerapkan model castellated beam bukaan lingkaran dengan benda uji profil WF 150.75.5.7. Metode penelitian untuk mengetahui pengaruh castellated beam bila beban diletakkan di tengah bentang pada penampang tidak berlubang dan lebar pemotongan profil (e) yang berbeda-beda yaitu e=70 mm, e=60 mm, e=50 mm, e=40 mm, e=30 mm untuk struktur balok. Dari pengujian yang dilakukan akan mendapatkan data berupa beban (P) dan lendutan (?) yang kemudian dilakukan analisis untuk memperoleh nilai momen, nilai lendutan, nilai tegangan, dan pola runtuh. Hasil penelitian menunjukan benda uji dengan lebar pemotongan profil e=50 mm yang paling optimal. Keseluruhan benda uji tidak menunjukkan kerusakan geser berupa sobek ataupun patah. Pola runtuh menunjukan bahwa pada benda uji castellated beam mengalami rusak buckling berupa tekuk sayap dan juga tekuk badan. Dari hasil analisis SAP 2000 menunjukan bahwa pada benda uji utuh tidak dibentuk castellated beam dan benda uji 4 (e=50 mm) merupakan kombinasi elemen tekan dan elemen tarik. Kata Kunci: buckling, castellated beam, lebar potongan profil (e), momen inersia In the castellated beam research, it almost entirely focuses on castellated beams with hexagonal shape. The hole shape with no angled side such as a circular shape (circular) on the profile cutting width (e) is expected to prevent huge deflection. Theoretically, the smaller profile cutting width (e) will increase the performance of the strength of flexible stress at the castella. In reverse, it is caused by the smaller profile cutting width (e), then the moment of inertia will become bigger and it causes in the increasing of castellated beam stiffness, so the produced stress is higher. In this research, it is expected to find profile cutting width (e) of castellated beam with optimal circular opening to hold the flexible strength. This research is a laboratory research. In this research, the researcher applied castellated beam with circular openings model with WF 150.75.5.7 as profile specimen. The research method was used to determine the influence of castellated beam when the load was placed in the middle of the intact span and the different width of cutting profiles (e) were e=70 mm, e=60 mm, e=50 mm, e=40 mm, e=30 mm for the structural beam.  From the tests that were done, it will obtain the data in the form of load (P) and the deflection (Δ) which was analyzed to obtain the moment value, the deflection value, the stress value, and collapse pattern. According to the analysis result, it shown the test specimen with profile cutting width e=50 mm was the most optimal. None of the specimens showed shear damage in the form of torn or broken. The collapse pattern showed that the castellated beam specimen had buckling damage in the form of flange buckling and web buckling. From the SAP 2000 analysis indicated that the intact specimen was not formed to be castellated beam and the four specimens (e=50 mm) was a combination of pressure elements and tensile elements. Keywords: buckling, castellated beam, profile cutting width (e), momen of inertia
PENGARUH SUDUT PEMOTONGAN PROFIL (Æ) TERHADAP KEKUATAN LENTUR CASTELLATED BEAM PADA BUKAAN RHOMB (RHOMB) UNTUK STRUKTUR BALOK IRFAN YASIN, MUHAMMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inovasi dalam pembuatan dan pemakaian castellated beam terus berkembang. Di Indonesia sendiri sudah ada salah satu pembuat castellated beam yang membuat castellated beam dengan bukaan segi enam dan segi delapan. Bentuk lubang dengan sisi bersudut lainnya seperti bentuk belah ketupat (rhomb) sangat jarang sekali ditemukan di pasaran. Sudut pemotongan profil diteliti untuk membuktikan benar atau tidaknya sudut pemotongan yang biasa digunakan di lapangan yaitu antara sudut 45°-60°. Semakin kecil sudut pemotongan profil (Æ) momen inersia yang dihasilkan semakin besar. Sehingga semakin landai sudut pemotongan profil pada castellated beam maka akan semakin kaku dan meningkatkan kuat lentur dari castellated beam. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sudut pemotongan profil (?) castellated beam bukaan belah ketupat yang optimal untuk menahan kekuatan lentur. Penelitian ini adalah penelitian uji laboratorium dengan memakai model castellated beam  bukaan belah ketupat (rhomb) dan digunakan benda uji profil WF 150.75.5.7. Metode penelitian untuk mengetahui pengaruh castellated beam jika beban diletakkan di tengah bentang pada penampang tidak berlubang dan sudut pemotongan profil (Æ) yang berbeda-beda yaitu Æ=65°, Æ=60°, Æ=55°, Æ=50°, Æ=45° untuk struktur balok. Hasil analisis yang nantinya akan didapatkan yaitu momen, tegangan, dan pola runtuh. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh sudut pemotongan profil (?) pada benda uji castellated beam. Optimalisasi castellated beam bila ditinjau dari momen didapat sudut pemotongan (Æ=60°). Sedangkan jika ditinjau dari tegangan, sudut pemotongan (Æ=60°) yang paling optimal. Namun dari hasil pola runtuh yang terjadi, sudut pemotongan (Æ=65°) yang paling optimal. Terdapat indikasi buckling pada setiap benda uji sehingga harus diambil optimalnya, agar tidak terjadi kerusakan buckling yang lebih besar. Maka disarankan menggunakan sudut pemotongan profil (Æ) tidak melebihi sudut pemotongan optimal (Æ=60°). Berdasarkan uraian diatas benda uji dengan sudut pemotongan (Æ=60°) yang paling optimal. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis pada pembahasan momen, tegangan, kontrol geser, dan pola runtuh yang terjadi. Kata kunci : buckling, castellated beam, sudut pemotongan profil (Æ), momen inersia Abstract The innovation of castellated beam is being developed.  There was a construction company which makes castellated beam with slit shaped hexagon and octagon.  The slit with another angle side such as rhomb shaped are very rare.  The profile cutting angle was being observed to establish the proof of cutting's angle in the field which 45°-60°. The smaller of profile cutting angle,  the inertia moment occurred is bigger. Therefore, the more slightly the profile cutting angle of castellated beam is the stiffer and it will increase the flexibility's strength of castellated beam. This research was conducted to establish the effect of profile cutting's angle of castellated beam toward the flexibility's strength,  tension, and the decay pattern. This research is a laboratory's research,  the researcher applied castellated beam with rhomb slit model with specimen WF 150.75.5.7. The research method was to determine the effect of castellated beam when the load was placed at mid-span on a cross-section with no slit and different profile cutting's angle. The cutting's angle were Æ=65°, Æ=60°, Æ=55°, Æ=50°, Æ=45° for the beam structure. The result of the analysis was about the moment,  tension,  and decay pattern. The result of this research showed that there is an effect of profile cutting's angle toward the specimen of castellated beam.  The castellated beam optimum observed from the moment had cutting angle (Æ=60°) while observed by tension,  the optimum cutting's angle was  (Æ=65°). There was a buckling indication toward the specimen.  Therefore the optimals should be taken so that the buckling damaged was not bigger  thus being suggested to use profile cutting's angle which is not more than optimum angle (Æ=60°). Based on the explanation above,  the specimen with angle's cutting (Æ=60°) is the optimum.  It is showed from the analysis result in the discussion of moment,  tension,  sher control,  and decay pattern which was happening. Keywords : buckling, castellated beam, angle cutting profile, momen of inertia