cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
MODEL PENANGGULANGAN LIMPASAN PADA CATCHMENT AREA KETINTANG SURABAYA (STUDI KASUS JALAN UTAMA KETINTANG) QAMARIYAH, YULIS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Salah satu Kelurahan di Surabaya yang padat penduduk dan juga merupakan daerah areal sentra bisnis adalah Ketintang. Ketintang juga merupakan daerah yang sering menjadi luapan limpasan, karena daerah ini memiliki karakteristik datarannya yang rendah. Peta genangan terbaru yang menyimpulkan bahwa Ketintang khususnya jalan utama Ketintang tidak ada masalah tentang banjir atau genangan sehingga pada akhirnya limpasan yang terjadi di jalan utama Ketintang disebabkan kondisi geomentri jalan yang disalahgunakan oleh pengguna lahan. Jalan utama Ketintang yang berpenduduk padat dengan tingkat sosial yang berbeda selalu mengalami limpasan pada saat hujan sehingga lalu lintas terganggu dan menimbulkan kemacetan di sepanjang jalan. Hal ini terjadi karena ketidakpedulian masyarakat terhadap saluran dan sampah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menganalisa data curah hujan dengan Arithmatic Main Methode, kemudian dianalisa dengan Hidrograf Metode HSS Nakayasu dan Metode Distribusi Frekwensi Log-Person Tipe III dengan kala ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun dan pada akhirnya dilakukan uji kesesuaian distribusi frekwensi dengan 2 uji yaitu Uji Chi-Kuadrat dan Uji Smirnov-Kolmogorov. Curah hujan yang dihitung dengan metode Log-Person Tipe III menghasilkan debit maksimum hujan kala 2 tahun = 3,908031654 liter/detik, kala ulang 5 tahun = 23,834715 liter/detik, kala ulang 10 tahun = 93,83323963 liter/detik. Hasil dari hitungan Hidrograf Metode HSS Nakayasu periode 2 tahun = 0,05122071 m3/detik pada jam ke 1, periode 5 tahun = 0,312391083 m3/detik pada jam ke 1, periode 10 tahun = 1,229810224 m3/detik. Berdasarkan hasil perhitungan dari 7 ruas saluran pada daerah penelitian yang kapasitas saluran tidak mampu menampung debit rancangan atau Qsaluran < Qrancangan, Oleh karena itu merencanakan saluran dengan U ditchprecast sesuai dimensi (1 m x 1 m, 1 m x 1,5 m dan 1,5 m x 2 m) perencanaan yang dapat menampung debit rancangan banjir untuk Qtotal (Qak+Qah) maksimum = 47,86641297 m3/dt. Kata kunci: Debit, Drainase precast U-ditch, Limpasan, Curah Hujan. Abstract Surabaya is the second largest city in Indonesia after Jakarta. One of the village in the Surabaya is also an area densely populated business centers are Ketintang. Ketintang is also an area that often overflow into a runoff, because it has the characteristics of its terrain. The latest inundation map which deduce that Ketintang especially the main road Ketintang no problems about flood or puddle so that eventually the runoff occurs in the main street of Ketintang due to the condition of the road geomentri abused by land users. The main street of Ketintang which is densely populated with a different social level always have a runoff on rainy days so that disrupted traffic and cause congestion along the way. This happens because of the indifference of society towards the channel and garbage. The method used in this study to analyzed the rainfall data with the main arithmatic method, then analyzed with HSS Nakayasu hydrograph method and frequency distribution method log-person type III with a return period of 2 years, 5 years and 10 years and in the end to test the suitability of the frequency distribution with 2 test is the Chi-square test and Kolmogorov-smirnov test. The result of the rainfall was calculated by log-person type III method produces a maximum discharge of rain when 2 years= 3,908031654 liters/second, 5 years= 23,834715 liters/second and 10 years= 93,83323963 liters/second. The results of the was calculated of hydrograph methods HSS Nakayasu when 2 years period= 0,05122071 m3/second in the first hour, when 5 years period= 0,312391083 m3/second in the first hour and when 10 years period= 1,229810224 m3/second in the first hour. Be based on result calculation from 7 drainage internode to study territory which drainage capacity not rainfall rate of flow plan or Qdrainage < Qplan, because of plan drainage with U ditch precast appropriate dimension (1 m x 1 m, 1 m x 1,5 m dan 1,5 m x 2 m) planing can rate of flow capacity flood of plan for Qtotal (Qak+Qah) maximum = 47,86641297 m3/dt. Keywords: Discharge, Precast u-ditch drainage, Run Off, Rainfall.
ANALISA PENGARUH VARIASI DIMENSI BALOK PADA PERENCANAAN ULANG STRUKTUR GEDUNG  LABORATORIUM TERPADU FMIPA UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA TERHADAP PERSYARATAN KOLOM KUAT BALOK LEMAH PADA SRPMK ARAS ROSIQIN, AKHMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini antara lain: untuk mengetahui pengaruh variasi dimensi balok terhadap persyaratan kolom kuat balok lemah tanpa mengubah dimensi kolom dan balok pada perencanaan ulang gedung laboratorium terpadu FMIPA UNESA pada SRPMK, dan mengetahui pengaruh variasi bentang antar kolom pada ketahanan bangunan terhadap gempa pada sistem rangka pemikul momen khusus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana perencanaan ulang struktur gedung laboratorium terpadu FMIPA universitas negeri Surabaya yang awalnya menggunakan metode SRPMM diganti dengan metode SRPMK. Data dikumpulkan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan, dan simulasi komputasi. Literatur atau kepustakaan digunakan untuk memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) bangunan dan memperoleh gaya aksial, geser, momen yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan 1 dengan bentang sama dengan mengubah dimensi balok yang paling kecil dan kolom pada perhitungan strong column weak beam tidak memenuhi persyaratan walaupun pada story drift memenuhi syarat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada bangunan 1 dengan jarak antar kolom 4 dimensi balok 20x40 tidak memenuhi persyaratan strong column weak beam, walaupun dalam persyaratan simpangan antar lantai memenuhi. Tidak terpenuhinya syarat strong column weak beam ini disebabkan oleh dimensi balok yang kecil membuat momen yang ditimbulkan di balok menjadi semakin besar juga melebihi momen yang ada pada kolom. Kata Kunci: hitungan ulang struktur, beton, kolom, balok, SRPMK The purpose of this research are: to discover the effect of dimension beam variations of the requirements of strong column weak beam without changing the dimension of the columns and beams in redesigning an integrated laboratory building FMIPA UNESA on SRPMK, and also to discover the effect of variation span between columns on building resilience to the earthquakes on skeletal system bearer of certain moment. This research used descriptive method with the case study method. This research will describe how to redesign the structure of an integrated laboratory building FMIPA UNESA which initially using SRPMM method and replace with SRPMK method. Data was collected by literatures or documents and computational simulation. Literatures are used to derive the rules, formulas, and steps to calculate the structure. Computational simulation is used to make the structure’s model (space frame) of building and obtain axial force, shear, and moment that occurs. The results showed that the building 1 with the same span by changing the dimension of the smallest beam columns on strong column weak beam calculation does not meet the requirements although the story drift qualify. It can be concluded that the first building by the distance between the columns 4m dimension 20x40 beam don’t meet the requirements of strong column weak beam, although the drift floor meets the requirement. Not eligibility strong column weak beam is caused by the small dimensions of the beams that create moments generated in the beam becomes greater the moment exceeds that of the column. Keywords : re-count the structure, concrete, column, beam, SRPMK
DEVELOPING A METHOD FOR MEASURING THE QUALITY OF A SAMPLE BASED TRIP LENGTH DISTRIBUTION FOR URBAN TRIP Suprayitno, Hitapriya; Saraswati, Nina; Fajrinia, Citto Pacama
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/16 (2016): Wisuda ke-87 Periode 3 Tahun 2016
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trip Length Distribution is an important part of Transportation Modelling. This distribution is normally gotten from a sample. Thus, the Quality of the Sample Based Distribution must be able to be measured. This paper present the result of an attempt to develop a method to measure this quality. The research gave the following result. Basic common measure related to the sampling is a maximum acceptable error at a certain minimum confidence level. It has been found that the Quality Measuring Method can not incorporate the error, since it deals with a distribution pattern in which there is no single parameter value and the error probability density function is not yet known. The proposed Sample Quality Measuring Method is by calculating its Confidence Level based on the Goodness of Fit Statistical Inference method, by using a c2 test. The Confidence Level is equal to  P(c2,u);  where  c2 = S (Oi ? Ei)2/ Ei and u = k ? r ? 1. Keywords : transport modelling, trip length distribution, sample, sample quality.
IDENTIFIKASI AWAL LAYANAN ANGKUTAN KERETA API UNTUK PERJALANAN ORANG Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi sebagai pusat kegiatan bagi masyarakat di sekitarnya. Fenomena tersebut, menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas yang diakibatkan adanya pergerakan masyarakat bolak-balik dari luar ke dalam Kota Surabaya, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu KA Komuter penting diteliti dengan tujuan untuk mengetahui jenis-jenis KA bagi perjalanan orang di Kota Surabaya. Metode penelitian yang dilakukan adalah pengumpulan data sekunder di PT KAI DAOPS VIII Surabaya. Data sekunder yang didapatkan adalah data keseluruhan mengenai jenis-jenis layanan KA yang ada di Kota Surabaya, kemudian dipilih kembali berdasarkan ciri-ciri jaringan pelayanan kereta api perkotaan. Oleh karena itu KA Komuter penting  untuk diteliti, guna mengetahui jenis-jenis KA bagi perjalanan orang di Kota Surabaya. Hasil yang diperoleh adalah jenis-jenis KA yang memiliki peluang sebagai KA Komuter adalah KA ekonomi lokal. Jenis-jenis KA tersebut adalah KA Penataran dengan tujuan Surabaya-Malang-Blitar; KA Tumapel dengan tujuan Surabaya-Malang; KA Dhoho dengan tujuan Surabaya-Kertosono-Blitar; KA Ekonomi Lokal (KRD) dengan tujuan Sidoarjo-Bojonegoro; KA Ekonomi Lokal (KRD) dengan tujuan Surabaya-Kertosono; KA Arjuno dengan tujuan Madiun; KA Komuter SUSI (Surabaya-Sidoarjo); KA Komuter SULAM (Surabaya-Lamongan). Pola perjalanan KA ekonomi lokal tersebut, dapat dibedakan menjadi 3 yaitu, pola perjalanan internal-internal (KA Komuter SUSI dan KA Komuter SULAM), pola perjalanan internal-eksternal (semua jenis KA ekonomi lokal), dan pola perjalanan eksternal-eksternal (KA KRD Sidoarjo-Bojonegoro). Kata Kunci: identifikasi awal, komuter, jenis-jenis kereta api lokal, pola perjalanan orang, Kota Surabaya
PENGARUH LEBAR PEMOTONGAN PROFIL (E) TERHADAP KEKUATAN LENTUR CASTELLATED BEAM BUKAAN BELAH KETUPAT (RHOMB) UNTUK STRUKTUR BALOK ALFIN H, MOCHAMMAD
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Castellated beam dibuat dari profil baja WF 150.75.5.7 dengan panjang bentang 1,5 meter dengan lubang bukaan belah ketupat. Penelitian ini dibuat benda uji dengan lubang yang berbeda – beda untuk melihat pengaruhnya. Ukuran yang dibuat berbeda pada masing – masing benda uji adalah lebar pemotongan profil (e) yaitu, e1=60mm, e2=50mm, e3=45mm, e4=40mm, e5=35mm. Seluruh benda uji akan diuji kelenturannya untuk mengetahui lebar pemotongan profil yang optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat pengaruh lebar pemotongan profil (e). Ditinjau dari momen lentur, lebar pemotongan (e) 35 mm memiliki momen lentur terbesar yaitu 485.10 kN.m. Ditinjau dari tegangan lentur, lebar pemotongan (e) 50 memiliki tegangan lentur terbesar yaitu 391.05 N/mm2. Kata kunci: Castellated beam, lebar pemotongan profil (E), uji kuat lentur Castellated beam made into a WF steel profile 150.75.5.7 with length of each 1.5 meter with openings rhombus. This study was made of the specimen test with a different holes to see the trends. Sizes are made different on each specimen is a width cutting profile  (e), is, e1 = 60 mm, e2 = 50 mm, e3 = 45 mm, e4 = 40 mm, e5 = 35 mm. Every specimen will be tested flexibility to determine the optimum of width cutting  profile. The results showed that there are significant effect the width of cutting profile in the test specimen of castellated beam. Base on analysis discussion of the bending moment, width cutting profile (e) 35 mm have the largest bending moment is 485.10 kN.m. Base on analysis of the bending stress, width cutting profile (e) 50 mm have the largest bending stress is 391.05 N/mm2. Key words: Castellated beam, Width cutting profile, bending strength test
IDENTIFIKASI AWAL STASIUN DAN SHELTER YANG MENJADI TEMPAT PEMBERHENTIAN KA UNTUK PERJALANAN ORANG DI KOTA SURABAYA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergerakan bolak-balik masyarakat di Kota Surabaya yang sebagian besar menggunakan kendaraan pribadi, menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas. Hal tersebut terjadi karena kurangnya minat masyarakat menggunakan jasa layanan KA Komuter. Kurangnya minat masyarakat tersebut, disebabkan karena kualitas pelayanan yang kurang memadai di tiap-tiap stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA Komuter di Kota Surabaya. Oleh karena itu diperlukan identifikasi awal mengenai stasiun-stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA untuk perjalanan orang di Kota Surabaya. Metode yang dilakukan pada identifikasi awal ini adalah pengumpulan data sekunder di PT KAI DAOPS VIII Surabaya, mengenai lintasan rute dan kelas stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA untuk perjalanan orang  di Kota Surabaya. Hasil identifikasi adalah dapat diketahuinya klasifikasi kelas stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA bagi perjalanan orang di Kota Surabaya. Klasifikasi kelas stasiun tersebut terdiri dari 3 stasiun kelas besar (Stasiun Semut, Stasiun Gubeng, Stasiun Pasar Turi), 1 stasiun kelas sedang (Stasiun Wonokromo) dan 10 stasiun kelas kecil (Shelter Ngagel, Shelter Margorejo, Shelter Jemursari, Shelter Kertomenanggal, Stasiun Waru, Stasiun Tandes, Stasiun Kandangan, Stasiun Benowo, Stasiun Cerme, dan Stasiun Sepanjang). Kata Kunci: identifikasi awal, kelas stasiun dan shelter, perjalanan orang, Kota Surabaya
ANALISIS ALTERNATIF KERUSAKAN JALAN PADA RUAS JALAN LEGUNDI-KRIAN NUR AYUNINGTYAS, MASHITA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Gresik Legundi-Krian (By Pass Krian) merupakan ruas jalan yang sangat strategis terhadap kegiatan ekonomi kebeberapa wilayah diantaranya kota Surabaya, kabupaten Gresik,  kabupaten Mojokerto, dan kabupaten Sidoarjo. Tahun 2015 terjadi permasalahan kerusakan jalan diantaranya pelepasan berbutir, amblas, gelombang, sungkur, lubang, retak buaya, dan alur.Deteksi dan perbaikan kerusakan secara dini pada perkerasan akan mencegah kerusakan minor yang mungkin dapat berkembang menjadi kegagalan perkerasan. Penelitian ini merupakan upaya untuk mendapatkan alternatif perbaikan kerusakan dengan memandingkan perencanaan pelapis tambah perkerasan lentur dan perkerasan kaku. Setelah diperoleh hasil perencanaan, maka dilakukan perhitungan anggaran biaya guna mendapatkan perkerasan yang efisien dari segi ekonomi.Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi literatur, observasi, dan dokumentasi. Hasil perhitungan dari pelapis tambahan dengan umur rencana 10 tahun didapatkan tebal 10 cm, sedangkan untuk perkerasan kaku dengan umur rencana 20 tahun didapatkan lapisan pelat beton K-375 tebal 22 cm dan lapis pondasi bawah tebal 15 cm. Rencana anggaran biaya (RAB) pelapis tambahan perkerasan lentur untuk investasi awal sebesar Rp.  1.428.214.000, dengan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 114.572.808/tahun. RAB  perkerasan kaku untuk investasi awal sebesar Rp. 7.117.598.000, dengan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 50.413.868 / tahun. Kata Kunci: Pelapis tambah perkerasan lentur, Perkerasan kaku, Rencana Anggaran Biaya, analisa ekonomi. Gresik Legundi-Krian (By Pass Krian) district is very strategic road to the economic activity to several areas including the city of  Surabaya, Gresik district, Mojokerto district, and Sidoarjo district. In 2015, there are several problems of road such as the releas of raveling, depression, corrugation, shoving, potholes, alligator crack,  and rutting. Detection and repair rapidly to the pavement  will prevent minor damage which may develop into a pavement failure. This study is an attempt to get an alternative repair the damage by comparing the coatings planning overlay flexible pavement and rigid pavement.  After the result of planning, then calculated of the budget in order to obtain an efficient pavement in terms of economi. This research method is quantitative descriptive. Data is collected by using literature study technique, observation, dan documentation. The result of calculated from the overlay fleible pavement with design life of  10 years obtained the thick is 10 cm, whereas for rigid  with a design life of 20 years obtained concrete slab coat K-375 thik is  22 cm and sub base coat which is the thick 15 cm. Budget plan or (RAB) overlay flexible pavement for an initial invesment  Rp. 1.428.214.000, and maintenance cost is Rp. 114.572.808/year. RAB rigid pavement for initial invesment cost is Rp. 7.117.598.000, and maintenance cost amounting is Rp. 50.413.868/year. Keywords: Overlay Flexible Pavement, Rigid Pavement, Budget Planning, Economic Analysis.
PENGARUH KEKUATAN SAMBUNGAN BAJA TULANGAN DENGAN MENGGUNAKAN SAMBUNGAN MEKANIS DITINJAU DARI PERILAKU BALOK BETON BERTULANG ARIFIANTO, SONY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang sambungan pada tulangan balok beton bertulang digunakan untuk memperpendek panjang lewatan (ld) pada balok beton bertulang pada struktur bangunan, terutama jembatan. Posisi sambungan juga dapat berubah dengan adanya sambungan mekanis ini, tidak hanya berada dimomen nol tetapi sambungan juga bisa diletakan dimomen maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat lentur balok yang menggunakan sambungan mekanis pada tulangan utama. Penelitian tentang pengaruh sambungan mekanis pada balok beton bertulang dibuat empat balok beton bertulang yang dibuat dari beton mutu normal dengan fc= 25 MPa menggunkan acuan Standar Nasional Indonesia Tahun 2013 (SNI 2847-2013), sedangkan tulangan utama menggunakan D10, dan tulangan geser menggunakan ?6. Desain balok beton bertulang menggunakan balok dengan ukuran 110 x 200 x 1700 mm. Terdapat dua jenis benda uji yaitu balok uji (BU) yang tulangan pada daerah tarik disambung pada momen paling besar (tengah bentang, dan balok kontrol (BK) yang tidak terdapat sambungan pada tulangan tariknya. Sambungan yang dipakai adalah sambungan kelas A yang mana luas tulangan tidak kurang dari 2 kali luas tulangan perlu dalam analisis pada keseluruhan sambungan dan paling banyak 50% dari jumlah tulangan yang disambung (SNI-2847-2013 Pasal 12.14). Benda uji BU berjumlah 3 benda uji, sedangkan benda uji BK bejumlah satu benda uji. Kedua benda uji ini menggunakan dua beban titik untuk pembebanan yang diletakan 450 mm dari tumpuan, dengan bentang bersih 1500 mm rasio pembebanan a/d = 2,66 menurut Chu-Kia Wang daerah tersebut adalah daerah lentur geser. Hasil pengujian sambungan mekanis ditemukan sambungan mekanis dengan jumlah tiga sambungan pada satu rangkaian mempunyai tegangan leleh 358,78 MPa dengan beban maksimum 24,92 kN dan belum ditemukan tegangan maksimum dikarenakan pada sambungan mekanis masih ditemukan adanaya rongga. Pada pengujian balok diperoleh fc = 25,66 MPa. Balok BK mempunyai pola runtuh lentur, yaitu pola runtuh dengan pola vertikal, sedangkan balok BU ini adalah retal vertikal disusul dengan retak lentur-geser miring. Pada balok BU mempunyai rasio a/d = 2,66 ,maka yang terjadi adalah jenis keruntuhan geser lentur, yang mana pada balok BU adalah dominan geser. Beban maksimum yang dapat ditahan balok BU 0,1% lebih tinggi daripada balok BK, momen makimum yang balok BU juga lebih besar 0,1% dari balok BK, lendutan balok BU lebih tinggi 5,81% lebih besar daripada balok BK, dan kuat lentur baok BU lebih besar 0,1%.  Kata Kunci: Sambungan Mekanis, Beton bertulang, Perilaku Balok Beton Bertulang. This research discuss about connection bars of reinforced concrete beams is used to shorten the length of throughput (ld) on reinforced concrete beams of building structures, specifically bridges. The position of the connection can also be altered by the presence of this mechanical connection; the connection can be placed not only at the zero moment, but also at the maximum moment. This research aimed to determine the value of flexibility strength which uses a mechanical connection to the main bar. The research on the influence of mechanical couplings on the reinforced concrete beams were designed to be four reinforced concrete beams made of normal level concrete by the fc= 25 MPa using the Indonesian National Standard (SNI 2847-2013) as the reference, whilst the main reinforcement applied D10, and shear bars used ?6. The design of the reinforced concrete beams used a beam by the size of 110 x 200 x 1700 mm. There are two types of test specimens; tested beam (BU) which its reinforcement in the tensile area was connected to the biggest moment (midspan), and controlling beam (BK) that has no connection on its tensile reinforcement. The connection used was class A connection whose reinforcement width was not less than two times of the reinforcement width, it was needed in the analysis on the overall connection and it was at last 50% from the amount of connected bars (SNI-2847-2013 clause 12.14). The BU specimens are 3, while the BK specimen is only one. These two specimens applied two load points for loading which are placed 450 mm from the pedestal, by the absolute span 1500 mm loading ratio a/d = 2,66. The test results of the mechanical connection were found by the number of three connections on a series whose melted stress was 358,78 MPa by the maximum load 24,92 kN the maximum stress had not been discovered yet due to the cavity found on the mechanical connection. In the beam testing, it was obtained fc = 25,66 MPa. The test result of BK beam have vertical or flexure collape pattern and BU beam have vertical collapse pattern at beginning and followed by shear – flexure collapse pattern which dominant shear collapse pattern. The maximum load that a BU beam can hold was 0,1% higher than BK beam, the maximum moment of BU beam was also 0,1% bigger than BK beam, the BU beam deflection was 5,81% bigger than BK beam, and the flexibility strength of BU beam was 0,1% bigger. Considering the result above, thus, mechanical connection can be used by the amount of three connections on one reinforcement series and collapse pattern that happened to those beams is shear collapse pattern. Keywords: mechanical connection, reinforced beam, behavior of reinforced concrete beams.
ANALISIS KECELAKAAN LALU LINTAS PADA RUAS JALAN NASIONAL DI KOTA SURABAYA FADYLAH, NUNUNG
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan Nasional Kota Surabaya memiliki kejadian kecelakaan lalu lintas paling tinggi diantara ruas jalan lainnya. Faktor penyebab tingginya angka kecelakaan berasal dari kondisi eksisting ruas jalan, perilaku pengemudi dan kondisi lingkungan disekitar. Melihat kondisi tersebut diperlukan upaya untuk mengetahui klasifikasi kecelakaan, titik rawan kecelakaan dan penanggulangan kecelakaan. Analisa ini menggunakan data sekunder dari Polrestabes Surabaya berupa data kecelakaan tahun 2010-2015 yang terjadi di kota Surabaya dan Data Inventory. Data tersebut di analisa mencari angka kecelakaan tertinggi yang kemudian di identifikasi sebagai ruas rawan kecelakaam (Blacksite) dan menentukan titik rawan kecelakaan (Blackspot) dengan metode pengumpulan data primer dan sekunder. Sedangkan analisa penyebab dan penanggulan kecelakaan menggunakan metode analisa deskriptif dari data Inventory. Hasil analisa menunjukkan bahwa klasifikasi kecelakaan yang paling banyak terjadi berdasarkan korban adalah luka ringan, berdasarkan hari adalah hari jumat, berdasarkan jam adalah jam 06.00-12.00, berdasarkan bulan adalah bulan Desember, berdasarkan cuaca adalah cuaca cerah, kendaraan SPM vs SPM. Titik rawan kecelakaan Jl. A. Yani pada STA 000+200 dan STA 1000+1200, Jl. Kenjeran  Blackspot  terletak pada STA 1000+1200 dan STA 1600+1800, Jl. Ngagel Blackspot  terletak pada STA 000+200 dan STA 400+600, Jl. Diponegoro Blackspot  terletak pada STA 450+600, Jl. Demak Blackspot  terletak pada STA 1200+1350, Jl.Ir. Sukarno Blackspot  terletak pada STA 2400+2600, Jl. Kedung Cowek Blackspot  terletak pada STA 050+100. Penyebab kecelakaan berasal dari kondisi eksisting jalan yang kurang mewadai, penanggulan berupa perbaikan jalan. Kata Kunci: Daerah rawan kecelakaan, Blacksite,  Blackspot National road Surabaya has a traffic accident incidence is highest among other roads. Factors causing the high number of accidents come from the existing condition of roads, driver behavior and environmental conditions around. Seeing these conditions is necessary to determine the classification of the accident, the accident-prone points and prevention of accidents. This analysis using secondary data from Surabaya Polrestabes form of accident data in 2010-2015 that occurred in the city of Surabaya and Inventory Data. The data in the analysis look for the highest accident rate which is then identified as vulnerable segment kecelakaam (Blacksite) and determine the point of the accident-prone (Blackspot) with a ranking method. While analysis of the causes and accident penanggulan using descriptive analysis of the data inventory. The analysis shows that the classification of the most common accident by the victim was lightly injured, by day is Friday, based on the hours are 06:00 to 12:00 hours, by month is December, based on the weather is sunny weather, vehicle vs SPM SPM. Accident-prone points Jl. A. Yani at STA 200 and STA 000 + 1000 + 1200, Jl. Blackspot Kenjeran located at STA 1200 and STA 1000 + 1600 + 1800, Jl. Blackspot Ngagel located at STA 200 and STA 000 + 400 + 600, Jl. Blackspot Diponegoro is located at STA 450 + 600, Jl. Blackspot Demak located at STA 1200 + 1350, Jl.Ir. Sukarno Blackspot is located at STA 2400 + 2600, Jl. Kedung Cowek Blackspot is located at STA 050 + 100. The cause of the accident is derived from the existing condition of the road is less mewadai, penanggulan form of road improvements. Keywords: Blacksite, Blackspot and Accident Prevention
PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH KARBIT TERHADAP POTENSIAL SWELLING  PADA TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DI DAERAH DRIYOREJO GRESIK FAUZIAH, NUR
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah lempung ekspansif adalah tanah lempung yang memiliki nilai kembang susut tinggi. Bila suatu konstruksi dibangun diatas tanah ekspansif maka akan terjadi kerusakan-kerusakan antara lain retakan pada perkerasan jalan dan jembatan, terangkatnya struktur plat, kerusakan jaringan pipa, longsoran, dan sebagainya. Salah satu  upaya untuk memperbaiki tanah lempung ekspansif tersebut adalah dengan cara melakukan stabilisasi  tanah. . Pada penelitian ini akan dilakukan suatu ekspirimen untuk menurunkan nilai potensial swelling tanah lempung didaerah Driyorejo Gresik, dengan cara menambahkan limbah limbah karbit sebagai bahan stabilisasi.  Pada penelitian ini variasi penambahan limbah karbit yang digunakan adalah 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% dari berat tanah. Sedangkan untuk test yang akan digunakan adalah test konsistensi tanah, test berat jenis tanah, test pemadatan dan test pengembangan (swelling). Dari penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak penambahan limbah karbit pada tanah lempung ekspansif maka semakin turun nilai potensial swelling. Dengan penambahan limbah karbit 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% nilai potensial swellingnya adalah 29,10%, 21,73%, 13,15%, 7,80%, dan 4,75%, sehingga dapat dikategorikan swelling sedang. Kata Kunci:  Tanah lempung ekspansif, limbah karbit, potensial swelling. Expansive clay is clay which have a high shrink swell. When a construction was built on expansive clay, there will be the damage include cracks in the pavement of roads and bridges, plate structure will be lifted, pipelines will be damaged, avalanches, etc. One effort to resolve the expansive clay is doing a soil stabilization. This research will be carried out an experiment to reduce the swelling potential of clays from Driyorejo Gresik, by adding waste carbide waste as a stabilizing agent. In this research, variations addition of carbide waste used was 0%, 5%, 10%, 15% and 20% of the weight of the soil. As for the test to be used is the consistency of the soil test, weight of soil test, compaction test and swelling test. From the research that has been conducted, it can be concluded that the more the addition of carbide waste on expansive clay, the lower the value of swelling potential. With the addition of carbide waste 0%, 5%, 10%, 15% and 20% the value of swelling potential is 29.10%, 21.73%, 13.15%, 7.80% and 4.75%, then can be categorized to medium swelling. Keywords: Expansive clays, carbide waste, swelling potential.