cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
ANALISIS PENGARUH SUBSTITUSI ASBUTON LGA (LAWELE GRANULAR ASPHALT) PADA ASPAL PENETRASI 60/70 TERHADAP CAMPURAN ASPAL PORUS SURYA MUKTI, AYUNINGTYAS; Mahardi, Purwo
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan jalan yang terjadi di berbagai daerah merupakan permasalahan yang merugikan bagi pengguna jalan,yang secara umum penyebabnya akibat perubahan iklim dan  beban lalu lintas berulang yang berlebihan. Pengaruh dari iklim seperti saat musim hujan dapat mengakibatkan adanya genangan air yang dapat membuat jalan berlubang, sehingga diperlukan suatu perkerasan yang di desain rongga berpori yaitu aspal porus. Aspal Porus merupakan jenis perkerasan berpori dengan campuran agregat kasar yang lebih dominan untuk meningkatkan gaya gesek dan mencegah terjadinya genangan air di lapis permukaan, namun kelemahannya dari kadar rongga yang tinggi membuat nilai stabilitas rendah. Permasalahan lain terkait bahan pengikat yang biasa digunakan dalam perkerasan jalan yaitu aspal minyak turut mengalami kenaikan harga akibat dari meningkatnya harga minyak dunia, oleh karena itu sebagai penggantinya dapat memanfaatkan aspal alam yaitu aspal buton, yang memiliki kelebihan dalam stabilitas perkerasan lebih tinggi, sehingga dapat melengkapi dari kelemahan untuk campuran aspal porus. Pada penelitian ini membahas tentang pengaruh dari substitusi aspal buton menggunakan produk LGA (Lawele Granular Asphalt) ke dalam aspal penetrasi 60/70 terhadap campuran aspal porus, dengan parameter dari karakteristik marshall dan permeabilitas. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan kadar aspal pen 60/70 yaitu 4%, 4.5%, 5%, 5.5%, 6%, dan 6.5% untuk mencari nilai kadar aspal optimum, lalu disubstitusikan dengan kadar LGA sebesar 0%, 8%, 10% dan 12% dari berat total aspal campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran aspal porus dengan gradasi Jepang diperoleh kadar aspal optimum yaitu 5,75%. Pengaruh substitusi asbuton LGA ditinjau dari karakteristik marshall tidak memenuhi spesifikasi untuk nilai VIM dan VMA, sehingga tidak dapat memenuhi parameter untuk struktur perkerasan lentur, serta menurunnya nilai permeabilitas dengan semakin tinggi kadar asbuton LGA meski masih memenuhi spesifikasi tetapi sebaliknya dapat meningkatkan kinerja stabilitas. Nilai persentase kadar LGA yang menghasilkan campuran aspal porus terbaik untuk stabilitas pada kadar 12% sebesar 615 kg sedangkan nilai permeabilitas pada kadar 8% sebesar 0,3520 cm/dtk. Kata Kunci: Aspal Porus, Gradasi Jepang, Aspal Buton LGA, Karakteristik Marshall, Permeabilitas. Road damage that occurred in various areas is a problem detrimental to road users, which is generally the cause of climate change and traffic load excessively repetitive. The influence of the current climate of the rainy season may result in puddles of water that can make the potholes, so that required a pavement in a porous cavity design that is porous asphalt. Porous asphalt is a type of porous pavement with a mixture of coarse aggregate is more dominant to increase the frictional forces and prevent ponding of water in the surface layer, but the weakness of the high void content makes the value of low stability. Another problem related to the binder used in road pavement is asphalt has experienced price increases as a result of rising world oil prices, therefore, as a successor can utilize of natural asphalt is Buton asphalt, which have advantages in the stability of the pavement is higher, so can equip of weakness for porous asphalt mixture. In this research discusses about the influence of substitution Buton asphalt using products LGA (Lawele Granular Asphalt) into Asphalt of Penetration 60/70 to the porous asphalt mix, with the parameters of the marshall characteristics and permeability. Research carried out experimentally in the laboratory with penetration asphalt content 60/70 is 4%, 4.5%, 5%, 5.5%, 6%, and 6.5% for find the value of optimum bitumen content, and then substituted with content of LGA as much as 0%,  8%, 10% and 12% of the total weight of the asphalt mix. The results showed that the porous asphalt mixture with gradation Japan acquired optimum asphalt content is 5.75%. Effect of substitution asbuton LGA in terms of the marshall characteristics does not meet the specifications for VIM and VMA value, so it can not meet the parameters for flexible pavement structures, and decreased value of the permeability with higher levels of asbuton LGA although they meet the specifications but instead can improve the performance stability. The percentage value LGA levels that produce the best porous asphalt mixture for stability at a level of 12% amounting to 615 kg, while the permeability at a level of 8% amounting to 0.3520 cm/sec. Keywords: Porus asphalt, Gradation of Japan, Buton Asphalt LGA, Marshall Characteristics, Permeability.
PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR DALAM PEMBUATAN PAVING STONE GEOPOLMER BERBAHAN DASAR LUMPUR LAPINDO DAN ABU TERBANG TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS (PENYERAPAN) DIAS ARTINI, SIWI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin berkembangnya kontruksi diera globalisasi khususnya bidang sarana transportasi di Indonesia sebagai contoh yaitu paving stone sudah menjadi alternatif bahan perkerasan jalan raya. Namun, ketersediaan pasir dan semen portland yang dirasa semakin menipis ketersediaannya, sehingga perlu ditinjau untuk beberapa bahan alternatif untuk menggantikan. Dalam penelitian bahan baku pembuatan paving menggunakan fly ash, kapur dan lumpur Sidoarjo (lumpur lapindo). Bahan tersebut akan diikat dengan bahan kimia dengan natrium hidroksida (NaOH) dan sodium silikat ( Na2SiO3) dengan konsentrasi 10M dan perbandingan sebesar 1,5. Pengikatan dengan bahan kimia tersebut akan menghasilkan ikatan polimerisasi. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian uji laboratorium yang akan didahului dengan pendahuluan uji laboratorium dengan pembuatan mortar. Mortar paving tersebut akan dilakukan pengujian kuat tekan pada usia 28 hari dan akan diambil hasil komposisi terbaik untuk dibuat benda uji sampel paving sesungguhnya. Pembuatan paving dalam penelitian akan dibuat dengan metode press hidraulik. Hasil mortar terbaik akan dibuat benda uji sampel paving yaitu komposisi BU 3 dengan penambahan kapur sebesar 30%, BU 4 dengan penambahan kapur sebesar 40% dan BU 5 dengan penambahan kapur sebesar 50 %. Hasil penelitian menunjukan bahwa kuat tekan  optimum sebesar 2,83 dari hasil komposisi BU 4 dengan penambahan kapur sebesar 40%. Hasil permeabilitas dalam penelitian menunjukan benda uji hancur disebabkan penggunaan alkali aktifator yang tidak sesuai dengan kebutuhan yaitu dengan menggunakan 55% dari seluruh kebutuhan dan sifat lumpur lapindo mengikat air cukup besar sehingga mengalami kehancuran. Kata kunci : fly ash, geopolimer, kapur, kuat tekan, lumpur lapindo, paving, permeabilitas. The continued development of the construction era of globalization, particularly the field of transportation in Indonesia as an example of paving stone has become an alternative road pavement materials. However, the availability of sand and Portland cement were deemed dwindling availability, so it needs to be reviewed for a couple of alternative materials to replace. In the study raw material for paving using fly ash, chalk and Sidoarjo mud (Lapindo mud). Such materials will be bound by the chemical sodium hydroxide (NaOH) and sodium silicate (Na2SiO3) with 10M concentration and ratio of 1.5. The binding with these chemicals will produce a bond polymerization. This type of research is conducted laboratory tests that will be preceded by preliminary laboratory testing to manufacture mortar. The paving mortar compressive strength testing will be done at the age of 28 days and will take the results of the best compositions for prepared specimen sample actual paving. Paving will be made by the hydraulic press method. Best results will be made mortar specimen samples paving is BU composition 3 with the addition of chalk by 30%, BU 4 with the addition of chalk by 40% and BU 5 with the addition of chalk by 50%. The results showed that the optimum compressive strength of 2.83 from the composition of BU 4 with the addition of chalk by 40%. The results of the study showed permeability test object is destroyed, because use of alkaline activator which does not comply with that requirement by using 55% of the needs and nature of the Lapindo mud binds water large enough so that experienced destruction.  Keywords: chalk, compresive strength, fly ash, geopolymer, Lapindo mud, paving, permeabilitas, Sidoarjo mud.  
PENGARUH PENAMBAHAN PASIR SUNGAI LUMAJANG  PADA BATU BATA LUMPUR LAPINDO UNTUK MENGURANGI PENYUSUTAN PADA SAAT PROSES PEMBAKARAN MENURUT SNI 15-2094-2000 DWI RAHAYU, PUTRI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk mengetahui pengaruh campuran pasir sungai Lumajang terhadap kualitas batu bata lumpur Lapindo dilakukan dengan cara memberikan penambahan pada bahan baku dengan campuran pasir yang berbeda pada tiap kelompok perlakuan penelitian yang meliputi: kelompok tanpa campuran pasir sungai Lumajang, kelompok dengan campuran pasir sungai Lumajang 3%, kelompok dengan campuran pasir sungai Lumajang 6%, kelompok dengan campuran pasir sungai Lumajang 9%, kelompok dengan campuran pasir sungai Lumajang 12%, kelompok dengan campuran pasir sungai Lumajang 15%. Sehingga dari masing-masing kelompok perlakuan tersebut dapat diketahui perbedaan kualitasnya yang didasarkan pada syarat mutu SNI 15-2094-2000. Bila mengutamakan peningkatan kualitas bentuk yang dilihat secara fisik campuran pasir akan lebih menguntungkan. Tetapi dalam segi kekuatan mengakibatkan penurunan kuat tekan. Setelah diadakan penelitian penambahan pasir sungai Lumajang pada bahan baku batu bata lumpur Lapindo, maka komposisi pencampuran yang paling baik adalah 73,8% tanah liat, 2,2% sekam padi, 15% lumpur Lapindo, dan 9% pasir sungai Lumajang, karena mempunyai perubahan bentuk dan penyusutan yang kecil dan kekuatannya paling maksimum dalam penelitian ini. Kata kunci: batu bata lumpur Lapindo, pasir sungai Lumajang, SNI 15-2094-2000. To know the influence of the mixture of Lumajang river sand to quality bricks done by Lapindo mud provide additions to the raw materials mixed with sand is different in each treatment group reseacrh which includes: groups without the sand river of Lumajang, Lumajang river sand with a mixture of 3%, with a mixture of Lumajang river sand 6%, groups with a mix of Lumajang river sand 9%, with a mixture of Lumajang river sand 12%, groups with a mixture of Lumajang river sand 15%. So from each treatment group may be known difference in quality is baset on the quality requirement of SNI 15-2094-2000. When prioritize quality improvement  form is seen physically mix the sand would be more beneficial.But in terms of power resulting in decreased strongly press. After research on Lumajang river sand replenhishement of raw materials of mud bricks Lapindo, then composition mixing the most good is 73.8% clay, 2.2% rice husk, 15% Lapindo mud, and 9% of Lumajang river sand, having change shape and small shrinkage and strenght maximum in most of this research. Keywords: mud bricks Lapindo, Lumajang river sand, SNI 15-2094-2000.
PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR DENGAN BAHAN DASAR FLY ASH UNTUK PEMBUATAN PAVING STONE GEOPOLYMER TERHADAP NILAI KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS AUMMAH, JAZAUL
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemakaian paving stone sebagai material konstruksi meningkat karena harga produksi semakin terjangkau dan dapat diproduksi secara masal. Paving stone merupakan campuran agregat halus, semen portland atau bahan perekat hidrolis, jenis agregat lain dan air, atau dengan bahan tambahan lain pada perbandingan tertentu. Pada proses memproduksi semen terjadi emisi CO2 ke udara yang berakibat menipisnya lapisan ozon dibumi, sehingga menyebabkan efek rumah kaca pada lingkungan dibumi yang sering kita kenal dengan istilah global warming (Davidovits, 1994). Untuk mengurangi produksi semen yang kian meningkat, maka dibuat suatu alternatif bahan pengikat baru. Beton Geopolimer adalah jenis beton yang 100 % tidak menggunakan semen. Bahan yang digunakan adalah fly ash type C dan kapur yang diaktifkan dengan alkali aktifator berupa cairan Na2SiO3 dan NaOH dengan perbandingan sebesar 1,5. Molaritas NaOH yang dipakai adalah 10M. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa komposisi optimum yang memiliki kuat tekan tertinggi adalah proporsi perbandingan sebesar 70% : 30% dengan nilai tekan 20,50 MPa dan nilai permeabilitas sebesar 9%. Paving stone dengan proporsi maksimum tersebut masuk dalam klasifikasi paving stone tipe B menurut SNI. Kata kunci : fly ash, geopolimer, kapur, kuat tekan, permeabilitas. The using of paving stone as construction material has increased beacause the price is more affordable and can be mass produced. Paving stone obtained by mixing fine aggregate, portland cement or hydraulic adhesive materials, other types of aggregates and water, or with other additives in a certain ratio. In the process of producing cement, CO2 eemissions occured into the air resulting in the depletion of the ozone layer of the earth, cause the greenhouse effect on the environment on earth that are familiar with the term global warming (Davidovits, 1994). To reduce the production of cement increasing, then created a new alternative binder. Geopolymer concrete is a type of concrete that is 100% not using cement. Materials used are type C fly ash and chalk, activated by alkaline activator liquid Na2SiO3 and NaOH ratio of 1.5 Molarity NaOH used is 10M. Results from the study showed that the optimum composition which has the highest compressive strength ratio is the proportion of 70%: 30% to the value of 20.50 MPa pressure and permeability values ??by 9%. Paving stone with the maximum proportion of paving stone was classified as a Type B according to SNI. Keywords : chalk, compresive strength, fly ash, geopolymer, permeability.
PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS PAVING BLOCK GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DAN LUMPUR LAPINDO ALFIANSYAH, ALIEF
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lumpur lapindo adalah salah satu bencana alam yang ada di Porong, Sidoarjo, Indonesia. Lumpur lapindo disebabkan oleh kesalahan pelaksanaan pengeboran minyak yang dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas dan menimbulkan semburan lumpur ± 650 hektar. Sehingga dari hal tersebut peneliti akan memanfaatkan lumpur lapindo sebagai salah satu bahan baku material kontruksi ramah lingkungan. Berkembangnya pembangunan saat ini, kebutuhan beton yang semakin meningkat sehingga kebutuhan semen sebagai bahan baku material. Proses produksi semen menghasilkan gas CO2. Kebutuhan 1 ton semen dapat menghasilkan 1 ton CO2 (Davidovits, 1994). Produksi paving block geopolimer berbahan dasar abu terbang yang akan direduksi oleh kapur dan dengan penambahan lumpur lapindo yang menggunakan NaOH 10Molar dengan perbandingan NaOH dan Na2SiO3 yaitu 1,5. Hasil pengujian menunjukan komposisi yang paling baik adalah perbandingan semen : pasir  1:3, adalah fly ash 35%, kapur 35%, lumpur lapindo 30%, dengan nilai kuat tekan 12,669 Mpa, nilai permeabilitas 9,997 %, dan nilai ketahanan aus 0,133 mm/menit, sehingga paving block memnuhi spesifikasi mutu kelas C sesuai SNI 03-0691-1996. Kata kunci : lumpur lapindo, fly ash, kapur, geopolymer, paving Lapindo mud is one of the natural disaster in Porong, Sidoarjo, Indonesia. Lapindo mud caused by faulty execution of oil drilling carried out by PT. Lapindo Brantas mudflow and raises ± 650 hectares. Because of that, researchers will take advantage of the Lapindo mud as a raw material of environmentally friendly construction materials. Expanding of the current construction, increasing concrete requirements needs cement as raw material material. Cement production process generates CO2 gas. Needs 1 ton of cement can produce 1 ton of CO2 (Davidovits, 1994). Production of paving blocks geopolymer is made from fly ash to be reduced by the addition of  chalk and Lapindo mud using NaOH 10Molar with NaOH and Na2SiO3 ratio of 1.5. The test results showed the composition of the nicest is the ratio of cement: sand 1: 3, is fly ash 35%, calcium 35%, Lapindo mud 30%. Result the compressive strength 12.669 Mpa, the value of the permeability of 9.997%, and the value of wear resistance 0.133 mm / minutes, and paving block quality classified in grade C accordance to SNI 03-0691-1996 Keywords : Lapindo mud, fly ash, chalk, Geopolymer, paving block.
PEMANFAATAN BATU APUNG DALAM PEMBUATAN BETON RINGAN DENGAN PENAMBAHAN LUMPUR SIDOARJO (LUSI) SEBAGAI SUBTITUSI AGREGAT HALUS TERHADAP KUAT TEKAN DAN POROSITAS RAUF ALFANSURI, ABDUL
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan berkembangnya jaman banyaknya penggunaan beton dalam konstruksi akan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan material pembentuk beton, sehingga memicu pengeksplorasian penambangan bahan material yang berlebihan. Pemakaian beton ringan dalam berbagai aplikasi teknologi konstruksi modern meningkat sangat cepat. Berbagai keuntungannya yaitu, pemakaian bahan material lain sebagai pengganti bahan dasar beton serta berat jenis yang lebih kecil. Alternatif yang digunakan guna mengatasi masalah tersebut yaitu menggunakan batu apung sebagai agregat kasar untuk mereduksi berat isi beton menjadi beton ringan dan memanfaatkan limbah lumpur sidoarjo (lusi) sebagai subtitusi agregat halus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan pengaruh dan kadar optimum pemanfaatan Lumpur Sidoarjo (Lusi) sebagai substitusi agregat halus dengan pemnfaatan batu apung dalam pembuatan beton ringan terhadap kuat tekan dan porositas. Penelitian ini menggunakan kuat tekan rencana f’c 16,60 MPa. Benda uji berupa silinder beton ukuran 10x20 cm. setiap variasi adukan berjumlah 5 buah benda uji. Proses pengujian kuat tekan dan porositas dilakukan pada umur 28 hari. Proporsi campuran beton ringan sebanyak 6 variasi adukan. Batu apung sebagai agregat kasar dengan ukuran 5-10 mm dan variasi bahan tambah Lumpur Sidoarjo (Lusi) sebagai substitusi agregat halus sebesar 0%, 5%, 10%, 20%, 30% dan 40%. Pengolahan lumpur sidoarjo (lusi) dengan cara pengeringan oven pada suhu 110 ºC, selanjutnya digiling dan lolos ayakan no.4. Hasil penelitian menunjukkan penambahan variasi lusi sebesar 5%-10% mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kuat tekan dan penurunan porositas beton ringan, selanjutnya pada penambahan lusi sebesar 20%, 30% dan 40% cenderung mengalami penurunan kuat tekan dan peningkatan porositas beton ringan.  Sedangkan, kadar optimum penambahan lusi terhadap kuat tekan tertinggi dan porositas terendah terjadi pada penambahan lusi sebesar 5% diperoleh rata-rata kuat tekan sebesar 17,87 MPa dan porositas 3,87%. Dari hasil penelitian ini, maka bisa direkomendasikan untuk diaplikasikan sebagai beton kelas II, paving block mutu C dan bata beton pejal mutu I. Kata Kunci: Batu apung, lumpur sidoarjo, subtitusi, kuat tekan, porositas, beton ringan. Abstract Concretes into construction material much used as along with the development era causes of increasing needed for concrete forming material, then triggering exploratory of mining materials are excessive. Lightweight concrete is increasing very fast as use in various application of modern construction technology. The advantages are, the use of other materials replacement of concrete basic material and smaller density. Problem solving alternative is by pumice using as coarse aggregate to reduce content weight concrete into leightweight concrete and the utilization sidoarjo mudflow (lusi) as a fine aggregate substitution. This research was pupose to find the influence and optimum utilization of sidoarjo mudflow as fine aggregate subtitution with a pumice utilization of leightweight concrete in compressive strength and porosity. This research using compressive strength plan f’c 16,60 MPa. The cylinder size of test specimen concrete is 10x20 cm. Mortar variation is 5 specimen. The compressive testing and porosity process performed at at the age of 28 days. The proportion of a mixture of lightweight concrete is 6 variation. The pumice as coarse aggregate with a size of 5-10 mm and sidoarjo mudflow (lusi) variation as a fine aggregate substitution of 0%, 5%, 10%, 20%, 30% and 40%. Sidoarjo mudflow (lusi) processing with drying oven at a temperature of 110ºC, then milled and sieve no.4. The result showed adding more variation lusi of 5%-10% have influence on increased compressive strenght and decreased porosity of lightweight concrete. Next to adding lusi of 20%, 30% and 40% was decreasing compressive strength and improving porosity of lightweight concrete. While, the additional optimum level of lusi in highest compressive strength and the lowest porosity is occurs in adding lusi of 5% obtained compressive strength by 17,87 MPa and porosity 3,87%. From the result this research, cen be recommended to be applied as class II of concrete, quality C of paving block and quality I of solid concrete brick. Key words: pumice, sidoarjo mudflow, subtitution, compressive strength, porosity, lightweight concrete
ANALISA SISA MATERIAL DAN PENANGANANNYA PADA PROYEK APARTEMEN ROYAL CITYLOFT SURABAYA ALFIN AHFIYATNA, M
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada pelaksanaan proyek, Sisa material (waste) tidak dapat dihindari namun dapat diminimalkan jumlahnya. Penyebabnya beragam mulai dari faktor tenaga kerja, desan, metode, hingga pengadaan barang. Pada pelaksanaan proyek apartemen Royal Citylfoyt Surabaya ditemukan sisa-sisa material yang menumpuk pada lokasi proyek seperti besi, pipa, dan kayu. Untuk itu, dibutuhkan perhitungan secara teliti mengenai sisa material yang dihasilkan selama proyek berlangsung baik dari segi jumlah dan biaya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui nilai waste level dan waste cost, persentase waste terhadap nilai proyek, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya waste, serta upaya penanganan untuk meminimalkan terjadinya sisa material (waste). Dari hasil penelitian, material-material yang memiliki nilai waste besar dari hasil analisa pareto diantaranya Besi Ø8, Besi D19, Semen PC, Bata ringan 600x200x100cm Ex.Blesscon, Cat Acrylic Emulsion, Besi D10, Cat Acrylic Latex, Keramik Platinum Ocra White 400x400cm, Besi D16, Multipleks 12mm, Pasir Pasang, Besi D13, Semen Instant UZIN TB, Besi D22, Batako 20x40x10cm, Plamir, Semen Instant UZIN SC dengan sisa material terbesar pada Besi Ø8 dengan nilai waste level 19,69% dan waste cost Rp. 148.321.150,19. Kemudian, besar persentase waste terhadap nilai proyek sebesar 2,750%. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya waste diantaranya: material yang terlalu cepat datang, kurang pengawasan saat pelaksanaan pekerjaan, adanya perubahan desain, kurangnya pemahaman pekerja terhadap metode pekerjaan, kesalahan metode, material yang tidak tahan dengan cuaca, ruang penyimpanan gudang yang terbatas, petalatan yang tidak valid, adanya pembongkaran di lapangan, kerusakan saat pengangkutan, kehilangan saat pelaksanaan, serta keterlambatan proyek. Upaya penanganan sisa material (waste) yang dapat dilakukan diantaranya: membuat rencana perhitungan dan penanganan material sisa, memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai metode pekerjaan, penyediaan tempat yang memadai untuk material, penggunaan material untuk peralatan atau pekerjaan lain, pengalihan material ke proyek lain jika masih bisa digunakan, mendaur ulang material kepada pihak lain. Kata kunci: sisa material, waste level, waste cost. Abstract On construction projects, waste material could not be avoided but could be minimized in quntity. Three are variety causes from manpower factors, designs, methods, and procurements. In project apartment Royal Cityloft in Surabaya were found the remnants of material that has accumulated in the project site, such as steels, pipes, and woods. Therefore, we need a thorough calculation of waste materials during construction, both the quantity and cost. This study aims to find out the value of waste level and waste costs, the percentage of waste toward value of the project, factors that cause waste, as well as efforts to minimize waste materials (waste). The research shows that, materials which have a greater value from Pareto analysis are Steel bar Ø8, Steel bar D19, Portland Cement , Brick 600x200x100cm Ex. Blesscon, Paint Acrylic Emulsion, Steel bar D10, Paint Acrylic Latex, Ceramics Platinum Ocra White 400x400cm, Steel bar D16, Multiplex 12mm, Sand, Steel bar D13, Instant Cement UZIN TB, Steel bar D22, Brick 20x40x10cm, Plamir, Instant Cement UZIN SC, with the most waste material is steel bar Ø8 with value of waste level by 19.69% and waste cost Rp. 148.321.150,19. Then, the percentage of waste to the project value is 2.750%. Factors that causing waste materials are: materials that arrives earlier, lack of supervision during working, changes of the design, lack of understanding from workers towards work methods, misuse of methods, materials which are not resistant to weather, storage space is limited, machine and equipment which could not be used, there is demolition on the ground, damage during transport, losses during construction, as well as project delays. The handling of waste material that could be do such as: making a plan for calculation and handling of waste materials, provide a training to workers about methods of work, provide an adequate place for materials, use materials as tools or other work, transfer the materials to another project if it still useful, recycle materials to other parties. Keywords: waste material, waste level, waste cost.
IDENTIFIKASI AWAL JADWAL KEBERANGKATAN/KEDATANGAN  KA EKONOMI LOKAL TERKAIT KEBUTUHAN MASYARAKAT KOMUTER DI KOTA SURABAYA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jadwal keberangkatan dan kedatangan KA Ekonomi Lokal, merupakan salah satu elemen terpenting dalam memberikan pelayanan bagi pengguna jasa KA tersebut. Ketersediaan layanan jadwal keberangkatan/kedatangan KA Komuter, terutama pada jam sibuk pagi, siang dan sore hari merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat komuter  untuk menggunakan KA tersebut sebagai pilihan utama modanya. Oleh karena itu diperlukan identifikasi awal mengenai jadwal keberangkatan/kedatangan KA Ekonomi Lokal terkait kebutuhan masyarakat komuter di Kota Surabaya. Tujuan dilakukannya identifikasi awal ini adalah untuk mengetahui periode waktu layanan dan kesesuaian jadwal keberangkatan/kedatangan KA Ekonomi Lokal terkait kebutuhan masyarakat komuter di Kota Surabaya. Metode yang dilakukan pada identifikasi awal ini adalah pengumpulan data sekunder di PT KAI DAOP VIII Surabaya terkait jadwal keberangkatan/kedatangan KA Ekonomi Lokal. Hasil identifikasi awal dapat diketahui bahwa periode waktu layanan jadwal keberangkatan/kedatangan KA Ekonomi Lokal, yang tersedia pada jam sibuk pagi, siang dan sore hari terdapat pada KA Penataran, KA Dhoho, dan KA Komuter SUSI. Periode waktu layanan jadwal yang tersedia pada jam sibuk pagi dan sore hari, terdapat pada KA KRD Surabaya-Kertosono dan KA Komuter SULAM. Periode waktu layanan jadwal yang hanya tersedia pada jam sibuk pagi atau sore hari saja, terdapat pada KA Tumapel, KA KRD Sidoarjo-Bojonegoro dan KA Arjuno. Kesesuaian jadwal keberangkatan/kedatangan KA Ekonomi Lokal hasilnya adalah terdapat 3 jenis KA yang layanan jadwalnya tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat komuter di Kota Surabaya. Ketiga jenis KA tersebut adalah KA Tumapel (dari arah Malang-Surabaya), KA KRD Surabaya-Kertosono (dari arah Surabaya-Kertosono) dan KA Arjuno yang tidak berpeluang lagi sebagai KA Komuter di Kota Surabaya, karena tidak sesuai dengan ciri-ciri layanan KA Perkotaan. Kata Kunci: identifikasi awal, jadwal, periode waktu, kesesuaian, masyarakat komuter
IDENTIFIKASI AWAL KONDISI LAND USE DI TIAP-TIAP STASIUN YANG MENJADI TEMPAT PEMBERHENTIAN KA PENUMPANG DI KOTA SURABAYA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi guna lahan/land use di tiap-tiap stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA Penumpang di Kota Surabaya, merupakan salah satu komponen penting yang harus diperhatikan, karena terkait dengan bangkitan dan tarikan pergerakan di sekitar stasiun tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu adanya identifikasi awal kondisi land use di tiap-tiap stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA Penumpang di Kota Surabaya. Tujuan dilakukannya identifikasi awal ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan lahan di sekitar stasiun dan ketersediaan tempat pemberhentian angkutan umum. Metode yang dilakukan pada identifikasi awal ini adalah pengumpulan data primer terkait observasi lapangan pemanfaatan lahan di sekitar stasiun yang menjadi tempat pemberhentian KA Penumpang di Kota Surabaya. Hasil identifikasi awal dapat diketahui bahwa pemanfaatan lahan di Stasiun Semut, Stasiun Pasar Turi, Stasiun Wonokromo dan Shelter Margorejo berada pada guna lahan (pusat kegiatan sangat padat) di lokasi CBD dan Kota. Pemanfaatan lahan di Stasiun Gubeng, Shelter Gubeng, Shelter Jemursari berada pada guna lahan (padat perkantoran, pertokoan, dan jasa) di lokasi Kota. Pemanfaatan lahan di Shelter Kertomenanggal, Stasiun Waru, Stasiun Sepanjang dan Stasiun Tandes berada pada guna lahan (campuran padat: perkantoran, perumahan, jasa, pertokoan, pendidikan) di lokasi pinggiran. Pemanfaatan lahan di Stasiun Kandangan, Stasiun Benowo, Stasiun Cerme berada pada guna lahan (campuran jarang: perumahan, pendidikan, lading/sawah, tanah kosong) di lokasi pinggiran. Ketersediaan tempat pemberhentian angkutan umum /terminal di sekitar stasiun ? stasiun yang ada di Kota Surabaya, yang memiliki layanan terminal adalah Stasiun Wonokromo (jarak 150 meter dari stasiun terdapat terminal bayangan) dan Stasiun Benowo (jarak 1 km dari stasiun terdapat Terminal Benowo). Kata Kunci: identifikasi awal, land use, terminal, Kota Surabaya
ANALISIS NILAI PRODUKTIVITAS PEKERJAAN PEMASANGAN DINDING PRECAST PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT FEBRI DEWI U, FANI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prefabrication system yang outputnya adalah produk precast concrete (beton pracetak), merupakan solusi yang mulai banyak digunakan untuk mendukung peningkatan produktivitas pekerjaan dalam sebuah proyek konstruksi. Salah satu produk yang dihasilkan adalah dinding precast. Dinding precast memiliki beberapa keuntungan yaitu kualitas dan mutu yang baik serta menghasilkan cost saving yang cukup tinggi. Produktivitas pekerjaan sangat berperan penting sebagai salah satu tolak ukur keberhasilan terlaksananya sebuah proyek konstruksi, dimana keberhasilan tersebut ditunjukkan melalui produktivitas pekerjaan yang tinggi dan terselesaikannya sebuah rangkaian pekerjaan tepat waktu atau bahkan selesai sebelum waktu yang telah direncanakan. Nilai produktivitas pekerjaan pemasangan dinding precast dalam penelitian ini dianalisis menggunakan salah satu metode menurut (Thomas 2000) yaitu metode unit completed. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui metode kerja pemasangan dinding precast, produktivitas pekerjaan pesangan dinding precast, faktor-faktor yang berpengaruh serta besar workhours lost yang disebabkan oleh faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain environment, equipment, labor, material dan management. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi, observasi dan wawancara. Ketiga teknik tersebut digunakan untuk mengetahui metode kerja pemasangan dinding precast, memperoleh data kuantitatif produktivitas pemasangan dinding precast serta data kondisi faktor yang terjadi pada hari pengamatan dilakukan untuk kemudian dilakukan analisis menggunakan metode unit completed. Hasil penelitian menunjukkan metode kerja pemasangan dinding precast terdiri dari proses persiapan, pemasangan dan perapihan. Produktivitas rata-rata pekerjaan pemasangan dinding precast adalah 7,74 m2/jam/kelompok dengan produktivitas pekerja sebesar 12,24 m2/orang/hari. Faktor yang paling berpengaruh terhadap produktivitas adalah faktor management sedangkan workhours lost paling besar disebabkan oleh faktor equipment sebesar 4,84 jam/hari. Kata kunci : Dinding Precast, Produktivitas, Unit completed, Workhour lost. Abstract Prefabrication system which output product is precast concrete was a solution that started being used to support the increase of productivity in a construction project. One of resulting product is a precast wall. Precast wall have some advantage such as good quality and high cost saving. Productivity is very important to measure the successful implementation of a construction project, where it’s shown through the high productivity and completion the series of work on time or finish before deadline. The value of precast wall installation were analyzed using one of the methods by (Thomas, 2000) and one of the methods used is unit completed. The purpose of this research is to find out the working methods of precast wall installment, influence factors and the value of workhours lost that caused by the factors. These factor are environment, equipment, labor, material and management. This research method is quantitative descriptive. Data collected using the method of documentation, observation and interviews. Three of these technique is used to determine the precast wall installment method, to obtaining quantitative data of installation productivity and condition of factors that occurred on the day the observation done  which then  it will be analyzed using unit completed method. The conclusion of the research show that the methods of precast wall installment are starting from preparation, installation and finishing. The average productivity of precast wall installment is 7,74 m2/hour/group and the average of labor productivity is 12,24 m2/person/day. The most influential factor on productivity is management factor, and the biggest workhours lost was caused by equipment factor is 4,84 hours/day. Key words: Precast wall, Productivity, Unit completed, Workhour lost.