cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG KANTOR BNL PATERN SURABAYA MENGGUNAKAN METODE BALOK PRATEKAN DENGAN BERDASARKAN SNI 2847:2013 SISWANTO, TONO; Firmansyah, Mochamad
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan beton pratekan untuk bangunan gedung bertingkat tinggi merupakan salah satu solusi yang efektif dan efisien dengan semakin sempit dan mahalnya harga lahan diperkotaan. Gedung kantor BNL Pattern, Surabaya dalam perencanaan awal akan dibangun 6 lantai dengan struktur beton konvensional. Namun dilakukan perencanaan ulang dengan modifikasi penggunaan balok pratekan pada semua lantai dengan tujuan menghilangkan kolom tengah untuk digunakan ruang multifungsi dan ruang fitness. Analisis struktur   dilakukan dengan program SAP2000 dengan berbagai kombinasi pembebanan  yang dimodelkan struktur 3D (space frame) guna mendapatkan reaksi dan gaya dalam setiap elemen struktur. Dimensi balok pratekan yang digunakan 35/50 cm (tipikal semua lantai) dengan bentang 11,7 m. Gaya prategang yang dibutuhkan 3.745.129 N dengan kehilangan gaya prategang sebesar 27,7%. Strand 30Ø12,7mm, tendon unit 5-31, angkur tipe ES 5-31 yang semuanya produk dari VSL berdasarkan ASTM A 416-06 Grade 270. Tulangan yang digunakan balok meliputi tulangan lentur tarik (As) 4D19, tekan (As?) 3D19, dan geser Ø10 - 50 pada tumpuan serta tulangan lentur tarik (As) 5D19, tekan (As?) 3D19, dan geser Ø10 - 100 pada lapangan. Sedangkan untuk tulangan pengekang pada zona pengangkuran Ø12 ? 25. Memodifikasi pelat lantai existing gedung kantor BNL Pattern, Surabaya dengan pelat lantai prategang lebih dianjurkan. Kata kunci : beton, balok, prategang Abstract The use of prestressed concrete for high-rise buildings is one effective and efficient solution with increasingly narrow and expensive urban land prices. BNL Pattern office building, Surabaya in the initial planning will be built 6 floors with conventional concrete structure. However, it was re-planned with modification of the use of prestressed beams on all floors with the aim of eliminating the middle column for multifunction room and fitness room. Structural analysis is done with SAP2000 program with various combinations of loading that are modeled by 3D structure (space frame) in order to get reaction and force in each structural element. Prestressed beam dimensions used 35/50 cm (typical of all floors) with a span of 11.7 m. Prestressing force required 3,745,129 N with loss of prestress force of 27.7%. Strand 30Ø12,7mm, 5-31 unit tendon, ES type 5-31 anchors are all products of VSL based on ASTM A 416-06 Grade 270. The reinforced beam includes bending (As) 4D19 tensile bending, press (As') 3D19 , And shear the Ø10 - 50 on the support and tensile bending (As) 5D19, press (As') 3D19, and shear Ø10 - 100 on the field. As for the reinforcement bar in the Ø12 - 25 dump zone. Modifying the existing floor plates of BNL Pattern office building, Surabaya with prestressed floor plates is recommended. Keywords: concrete, beam, prestress
ANALISA PERBANDINGAN HASIL PERHITUNGAN KONSTRUKSI GEDUNG GRAHA ATMAJA SURABAYA MENGGUNAKAN SNI GEMPA 1726-2002 DAN SNI GEMPA 1726-2012 RYANANDA YULISTIYA, ERICK
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini antara lain: untuk mengetahui hasil perhitungan gedung graham atmaja setelah direncanakan ulang menjadi 8 lantai terhadap persyaratan kolom kuat balok lemah dengan mengubah dimensi kolom dan balok pada perencanaan ulang gedung Graha Atmaja pada SRPMK, dan mengetahui pengaruh terhadap luasan tulangan balok dan kolom. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus.Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana perencanaan ulang struktur gedung graham atmaja yang awalnya bangunan 5 lantai menggunakan metode SRPMM (Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah) diganti dengan bangunan 8 lantai dan metode SRPMK (Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus). Data dikumpulkan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan, dan simulasi komputasi. Literatur atau kepustakaan digunakan untuk memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) bangunan dan memperoleh gaya aksial, geser, momen yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan dengan bentang atau jarak kolom yang paling jauh dengan mengubah dimensi balok dan kolom pada perhitungan strong column weak beam memenuhi persyaratan serta luasan tulangan balok dan kolom. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada gedung Graha Atmaja memenuhi persyaratan strong column weak beam serta luasan tulangan balok dan kolom pada model II lebih besar daripada model I. Kata Kunci: hitungan ulang struktur, beton,  kolom,  balok, SRPMK Abstract The purpose of this research are: to knowing the result of calculation of buildings Graha Atmaja after the redesign to the 8 floor of the requirements of strong column weak beam without changing the dimension of the columns and beams in the redesign of building Graha Atmaja on SRPMK method, and and to know the effect to beam and column reinforcement area.. This research used descriptive method with the case study method. This research will describe how to redesign the structure of an integrated building Graha Atmaja which initially using SRPMM method (Medium Moment Resisting Frame System) and replace with SRPMK method (Special Moment Resisting Frame System). Data was collected by literatures or documents and computational simulation. Literatures are used to derive the rules, formulas, and steps to calculate the structure. Computational simulation is used to make the structure’s model (space frame) of building and obtain axial force, shear, and moment that occurs. The results showed that the building with the farthest distance span or columns without changing the dimensions of the beams and columns on strong column weak beam calculation  meet the requirements and extent of beam and column reinforcement.. Thereby can be conclude that the buildings Graha Atmaja  meets the requirements strong column weak beam and the reinforcement area of beam and column in model II is bigger than model I. Keywords: re-count the structure, concrete, columns, beams, SRPMK
ANALISIS PENINGKATAN RUAS JALAN MOJOSARI-PANDANARUM KM 42+435-51+732 KABUPATEN MOJOKERTO JAWA TIMUR SETIAWAN, ANDIK
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bertambahnya kepemilikan kendaraan, serta kemajuan dibidang industri perdagangan dan pariwisata, menyebabkan meningkatnya volume lalu lintas. Peningkatan volume lalu lintas ini tidak diikuti dengan peningkatan jalan yang ada, hal ini menyebabkan berkurangnya kapasitas jalan dan umur rencana, yang berakibat tersendatnya arus lalu-lintas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh (1) nilai kapasitas jalan eksisting dan rencana, (2) kebutuhan pelebaran jalan dan (3) desain perkerasan jalan. Analisis peningkatan ruas dilakukan pada jalan Mojosari-Pandanarum KM 42+435-51+732 dengan Metode Bina Marga, 2013. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Metode pengumpulan data dengan observasi dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah : (1) Kapasitas tahun 2016 yaitu 1297,57 smp/jam, dengan nilai derajat kejenuhan  0,87. Setelah dilakukan pelebaran jalan, kapasitas jalan tahun 2026 ialah 2852,85 smp/jam, dengan  nilai derajat kejenuhan 0,64. (2) Perhitungan kebutuhan pelebaran jalan untuk rencana kapasitas jalan 10 tahun kedepan adalah 12 m dengan tiga kali tahap pelebaran, tahap pertama yaitu dengan pelebaran 9 m, tahap kedua 11 m dan tahap ketiga 12 m. (3) Desain perkerasan kaku dengan tebal lapis perkerasan Plat Beton tebal 305 mm, Lapis Pondasi LMC tebal 150 mm, Agregat Kelas A tebal 150 mm dan kebutuhan tanah timbunan untuk pelebaran jalan yaitu tebal 20 cm dengan CBR ≥ 10%. Kata kunci: Lalu Lintas, Kapasitas, Perkerasan              Abstract Increased ownership of the vehicle, as well as advances in the field of trade and tourism industry, leading to increased traffic volume. Increased traffic volume is not accompanied by improvement of existing roads, it leads to reduced road capacity and life of the plan, which resulted in delays in traffic flow. The purpose of this study was to obtain (1) the value of existing road capacity and plans, (2) the need for road widening and (3) the design of pavement. Analysis carried out on the increase in segment Mojosari-Pandanarum KM 42 + 435-51 + 732 with a method of Highways, 2013. This study is a quantitative research. The method of collecting data through observation and documentation. The results of this research are: (1) The capacity of 2016 is 1297,57 smp / hour, with value of degree of saturation 0,87. After road widening, road capacity in year 2026 is 2852,85 smp / hour, with value of degree of saturation 0,64. (2) The calculation of the road widening requirement for the road capacity plan for the next 10 years is 12 m with three widening stages, the first stage is the widening of 9 m, the second stage 11 m and the third stage 12 m. (3) Rigid pavement design with thickness of paved layer of thick Concrete Platform 305 mm, 150 mm thick LMC Base, Class A Aggregate 150 mm thick and soil embankment requirement for road widening ie thickness 20 cm with CBR ≥ 10%. Keyword: Traffic, capacity, Pavement
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KERANG DARAH DAN SLUDGE INDUSTRI KERTAS SEBAGAI SUBTITUSI PASIR DAN PENAMBAHAN CONPLAST WP 421 DAN MONOMER PADA PEMBUATAN BATAKO RODHI FIRDAUS, THOBAGUS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas batako menurut SNI dengan perpaduan kulit kerang dengan sludge kertas sebagai subtitusi pasir dan penambahan conplast WP 421 dan monomer pada pembuatan batako. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji laboratorium. Data didapatkan dari uji laboratorium  dengan cara uji pandangan luar dengan cara melakukan pengecekan secara visual batako, pengukuran dengan cara mengukur batako dengan meteran, dan uji fisis yang meliputi berat jenis dengan cara mencari massa batako dan dibagi dengan volume batako, kuat tekan dengan cara uji tes tekan dan penyerapan air dengan cara mencari berat kering dan berat basah batako. Hasil penelitian terhadap batako sludge dengan variasi komposisi A (5PS : 1sludge), B (4PS : 2sludge), C (3PS : 3sludge), D (2PS : 4sludge), dan E (1PS : 5sludge). Untuk uji pandangan luar batako sludge telah sesuai dengan SNI 03-0349-1989, yaitu permukaan rata dan rusuk-rusuknya tidak mudah dirapikan dengan tangan. Untuk uji ukuran dan toleransi batako sludge mengalami perbedaan ukuran dengan SNI, yaitu dengan ukuran 40 cm x 19,5 cm x 10 cm. Dan untuk uji fisis batako sludge yang meliputi uji kuat tekan dan penyerapan air, hasil uji yang memenuhi SNI adalah batako dengan variasi komposisi A (5PS : 1sludge) dan B (4PS : 2sludge) baik yang menggunakan bahan kimia maupun tidak. Dari hasil uji kuat tekan batako sludge variasi komposisi A (5PS : 1sludge) dan B (4PS : 2sludge) memiliki kuat tekan rata-rata >2,4 MPa dan memiliki kuat tekan masing-masing minimal >2 MPa. Sedangkan hasil uji penyerapan air kedua variasi komposisi memiliki penyerapan air < 25%. Selanjutnya untuk analisis massa jenis batako sludge pada penelitian ini pada variasi  komposisi A (5PS : 1sludge) dan B (4PS : 2sludge) memiliki massa jenis < 1800 Kg/m3 yang termasuk kedalam kategori beton ringan. Sehingga batako sludge yang dihasilkan tergolong aman untuk difungsikan sebagai dinding pemisah menurut SNI 03-0349-1989. Kata kunci: Batako sludge, bahan kimia, kulit kerang, sludge. Abstract The purpose of this research is to know the quality of brick according to SNI with the combination of seashell with paper sludge as sand substitution and addition of conplast WP 421 and monomer on making of brick. The method used in this research is laboratory test. The data were obtained from laboratory test by external view test by performing visual checking of brick, measurement by measuring brick by meter, and physical test covering density by finding mass of brick and divided by volume of brick, compressive strength by test test Press and water absorption by searching for dry weight and heavy wet brick. The result of the research on the sludge brick with variation of composition A (5PS: 1sludge), B (4PS: 2sludge), C (3PS: 3sludge), D (2PS: 4sludge), and E (1PS: 5sludge). For external test of sludge brick have been in accordance with SNI 03-0349-1989, that is flat surface and ribs are not easily tidied by hand. For size and tolerance test of sludge brick have different size with SNI, that is with size 40 cm x 19,5 cm x 10 cm. And for the test of sludge brick foil covering compressive strength test and water absorption, the test result that fulfill SNI is a brick with variation of composition A (5PS: 1sludge) and B (4PS: 2sludge) whether using chemical or not. From the test result, the composition A (5PS: 1sludge) and B (4PS: 2sludge) composition A has a compressive strength of> 2.4 MPa and has a compressive strength of at least> 2 MPa. While the results of water absorption test both variations of the composition have water absorption <25%. Furthermore, for the analysis of the sludge masonry type in this study, the variation of composition A (5PS: 1sludge) and B (4PS: 2sludge) has a density of <1800 Kg / m3 which is included in the lightweight concrete category. So the sludge brick is produced safe to function as a separation wall according to SNI 03-0349-1989. Keywords: Batako sludge, chemicals, seashell, sludge.
ANALISIS PEMAMPATAN WAKTU TERHADAP BIAYA PADA PEMBANGUNAN MY TOWER HOTEL & APARTMENT PROJECT DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME COST TRADE OFF (TCTO) PUTRI ANDHITA, AULIA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan My Tower Hotel & Apartment merupakan salah satu bentuk upaya untuk menciptakan hunian yang strategis di kawasan bisnis. Pihak owner menghendaki pembangunan ini berjalan relatif lebih cepat agar segera dapat dioperasikan fungsinya guna memenuhi permintaan hunian yang meningkat. Namun, terdapat konsekuensi dari percepatan waktu penyelesaian proyek yaitu meningkatnya biaya langsung proyek. Di sisi lain, dengan adanya percepatan waktu maka dapat menekan biaya tidak langsung proyek. Untuk proyek-proyek besar ketergantungan antara pekerjaan satu dengan yang lain sangat kompleks sehingga pengendalian sangat diperlukan untuk mencegah ataupun mengatasi permasalahan yang nantinya akan muncul.   Penelitian ini bertujuan menentukan biaya dan durasi optimum proyek dari hasil percepatan melalui alternatif penambahan tenaga kerja. Analisis data menggunakan program Microsoft Project dan metode Time Cost Trade Off. Hasil dari program Microsoft Project adalah jalur kritis dan hasil Time Cost Trade Off adalah percepatan durasi dan biaya kenaikan pada setiap aktivitas kritis.   Berdasarkan hasil analisis TCTO didapatkan durasi percepatan optimum proyek sebesar 272 hari dan biaya optimum sebesar Rp 40.555.095.100,00. Sedangkan pada kondisi normal mempunyai durasi 280 hari dan biaya proyek sebesar Rp 40.563.372.100,00. Selisih total biaya mengalami penurunan sebesar Rp 8.277.000,00. Saat kondisi percepatan optimum, biaya langsung naik dari Rp 35.491.700.000,00 menjadi Rp 35.743.360.000,00 dan penurunan biaya tidak langsung dari Rp 5.071.672.100,00 menjadi Rp 4.811.735.100,00. Kata Kunci: TCTO, Percepatan Waktu, Penambahan Tenaga Kerja Abstract My Tower Hotel & Apartment Project Building is one of the effort to form the strategic dwellings in the business district. The owner wants in this project to do is relatively faster in order to be able to operate immediately to meet the increasing demand for occupancy. However, there are consequences of acceleration of project completion time which is the increase of project direct cost. The other side, with time acceleration it can reduce the project’s indirect cost. For large projects the interdependence of one activity with another is so complex that control is necessary to prevent or overcome the problems that will arise. This research aims to determine the cost and duration of the optimum acceleration project through the addition of manpower. Data analysis is used Microsoft Project program and Time Cost Trade Off method. The result from Microsoft Project program is critical path and result from Time Cost Trade Off is duration velocity and increment cost in each critical activity. Based on TCTO analysis results obtained the optimum acceleration project duration of 272 days and the optimum cost is IDR 40.555.095.100,00. While in normal condition has a duration of 280 days and project cost of IDR 40.563.372.100,00. Difference in total cost IDR 8.277.000,00. When the optimum acceleration conditions, direct costs increased from IDR 35,491,700,000.00 to IDR 35,743,360,000.00 and indirect cost decrease from IDR 5,071,672,100.00 to IDR 4,811,735,100.00. Keywords: TCTO, Time acceleration, The addition of manpower.
ANALISIS MANFAAT-BIAYA PEMBANGUNAN JALAN AKSES DAN JEMBATAN MASTRIP-JAMBANGAN FACHRI MUANNAS, IRWAN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan jalan akses dan jembatan Mastrip-Jambangan merupakan salah satu upaya dalam menumbuhkan perekonomian kawasan Surabaya Selatan. Pembangunan jalan akses dan jembatan Mastrip-Jambangan dimaksudkan juga sebagai sarana transportasi yang berfungsi untuk mengurangi kemacetan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi manfaat (benefit) dan biaya (cost), serta mengetahui kelayakan rencana pembangunan jalan akses dan jembatan Mastrip-Jambangan dengan menggunakan metode Benefit Cost Ratio (BCR). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Teknik observasi dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang lokasi penelitian, sedangkan teknik wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang rencana pembangunan jalan akses dan jembatan Mastrip-Jambangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh penghematan nilai biaya operasional kendaraan setelah ada jembatan pada tahun 2017-2037 sebesar Rp. 20.460.522.549,53 dan penghematan nilai waktu setelah ada jembatan pada tahun 2017-2037 sebesar Rp. 12.170.855.338,58. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pelaksanaan terdiri dari biaya konstruksi (RAB) sebesar Rp. 24.894.780.000,00; biaya operasional dan pemeliharaan sebesar Rp. 2.168.064.351,28; serta biaya tak terduga sebesar Rp. 2.489.478.000,00. Dan nilai Benefit Cost Ratio BCR adalah 1,11 dengan suku bunga acuan 4,75%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembangunan jalan akses dan jembatan Mastrip-Jambangan layak untuk dilaksanakan. Kata Kunci: Benefit Cost Ratio, manfaat, biaya, nilai waktu, biaya operasional kendaraan Abstract Construction of access roads and bridges Mastrip-Jambangan is one way to grow the economy in South Surabaya area. Construction of access roads and bridges Mastrip-Jambangan also intended as a means of transport which serve to reduce congestion. The purpose of this study was to identify the benefits and cost, and determine the feasibility of the development plan of access roads and bridges Mastrip-Jambangan using Benefit Cost Ratio (BCR). The method used in this research is quantitative method. It is was collected by observation, documentation, and interviews. Observation and documentation techniques used to collect them on the study site, while the interviewing techniques used to collect these on the development plan of access roads and bridges Mastrip-Jambangan. The results showed that the value obtained savings vehicle operating costs after construction the bridge for the years 2017-2037 amounted to Rp. 20.460.522.549,53 and saving the time value after construction the bridge in 2017-2037 amounted to Rp. 12.170.855.338,58. While the costs to be incurred for the implementation consists of the construction costs (budget plan) of Rp. 24.894.780.000,00; operating and maintenance costs Rp. 2.168.064.351,28; as well as unexpected costs Rp. 2.489.478.000,00. And the value of Benefit Cost Ratio is 1.11 and bank interest rate 4.75%. It can be concluded that the construction of access roads and bridges Mastrip-Jambangan feasible. Keywords: Benefit Cost Ratio, benefits, costs, value of time, vehicle operating costs
PENGARUH SUHU PEMANASAN TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DENGAN MOLARITAS 8 M DAN 10 M SUKMAWATI YUWONO, LARAS
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menampilkan hasil dari penelitian tentang suhu pemanasan terhadap mortar geopolimer. Benda uji berupa kubus mortar berdimensi 5 × 5 × 5 cm3 yang terbuat dari campuran semen, abu terbang, air dan alkali aktivator. Kami menggunakan abu terbang kelas C yang memiliki kadar kalsium diatas 10%. Alkali Aktivator terbuat dari campuran sodium hidroksida dengan dua jenis molaritas (8 dan 10 molar) serta sodium silikat (SS/SH=1,5). Kemudian benda uji yang telah dibuat dipanaskan di oven selama enam jam dengan variasi suhu pemanasan 40ºC, 50ºC, 60ºC, and 80ºC. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan suhu pemanasan terbaik yang menghasilkan kuat tekan maksimum pada mortar geopolimer. Hasil dari uji kuat tekan menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur pemanasan menghasilkan kuat tekan yang lebih baik. Pada usia 28 hari, mortar geopolimer 8 M dengan suhu pemanasan 80ºC menghasilkan kuat tekan sebesar 49,73 MPa, sedangkan mortar geopolimer dengan suhu pemanasan yang sama menghasilkan  kuat tekan sebesar 60,98 MPa. Hal tersebut membuktikan bahwa molaritas yang lebih tinggi memberikan kuat tekan yang lebih baik pada mortar geopolimer. Kata Kunci: Mortar geopolymer, Suhu pemanasan, Lama pemanasan, Kuat tekan. Abstract In this paper, we present a result from an experiment about geopolymer mortar curing temperature. The test object is mortar cubes with dimension 5 × 5 × 5 cm3 made from a mixture of sand, fly ash, water, and alkali activator. Class C fly ash was used is contain more than 10% of calcium. The alkali activator is made from sodium hydroxide with two varieties of molarity concentration (8 M and 10 M) and sodium silicate (SS/SH=1,5). The test objects were placed into the oven for 6 hours and the heating temperature was set to 40ºC, 50ºC, 60ºC, and 80ºC. Aims of this research are to find the best curing temperature which obtains the maximum compressive strength of geopolymer mortar. The obtained result based on compressive strength test shows that higher curing temperature gives better compressive strength. In 28th day age, 8 M mortar with 80ºC heating obtained 49,73 MPa and 10 M mortar with same heating temperature obtained 60,98 MPa. This results also proving that higher molarity gives better compressive strength for geopolymer mortar Keywords: Geopolymer mortar, Heating temperature, Heating time, Compressive strength
PENGARUH SUHU PEMANASAN TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLYMER BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DENGAN MOLARITAS 12 M DAN 14 M FARANDY PRAMUDITA, RIFKY
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengingat pembangunan di era globalisasi semakin berkembang dan kebutuhan akan bahan dan material konstruksi seperti semen juga ikut meningkat, maka bahan geopolymer muncul sebagai alternatif pengganti. Geopolymer didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), Alkali Aktivator, bahan perekat (tanah liat, kapur, fly ash) dan air dengan komposisi tertentu. Namun pembuatan geopolymer memerlukan pemanasan suhu terbaik untuk menghasilkan kuat tekan maksimum. Pada penelitian ini mortar geopolymer menggunakan konsentrasi molaritas 12 M dan 14 M, dan masing-masing konsentrasi molaritasnya mendapatkan perilaku suhu pemanasan ( Suhu ruang, 40ºC, 50ºC, 60ºC, dan 80ºC ) dengan lama pemanasan 6 jam. Hal ini bertujuan untuk mengetahui suhu terbaik dengan kuat tekan maksimum yang dihasilkan oleh mortar geopolymer. Metodologi yang dilakukan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan tes uji kuat tekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar suhu yang diberikan pada mortar geopolymer, maka nilai kuat tekan yang diperoleh akan meningkat. Selain itu, semakin lama usia pengujian dilakukan, maka semakin besar nilai kuat tekan yang diperoleh. Hal ini dibuktikan pada konsentrasi molaritas 12 M, 80ºC dengan lama pemanasan 6 jam serta usia pengujian 28 hari memiliki nilai kuat tekan 62,72 MPa. Sedangkan pada konsentrasi molaritas 14 M, 80ºC dengan lama pemanasan 6 jam serta usia pengujian 28 hari memiliki nilai kuat tekan 52,80 MPa. Kata Kunci: Mortar geopolymer, suhu pemanasan, lama pemanasan, kuat tekan. Abstract Considering the development in the era of globalization is growing and need for construction materials such as cement also increased, then the material geopolymer emerged as an alternative replacement. Geopolymer is defined as a mixture of materials consisting of fine aggregate (sand), alkali activator, adhesive material (clay, lime, fly ash) and water with certain composition. However, the manufacture of geopolymer requires the best temperature heating to produce maximum compressive strength. In this study mortar geopolymer using molarity concentration of 12 M and 14 M, and each molarity concentration get the behavior of heating temperature (room temperature, 40ºC, 50ºC, 60ºC, and 80ºC) with 6 hours heating time. It aims to find the best temperature with the maximum compressive strength produced by mortar geopolymer. The methodology used in this research to test the compressive strength. The results show that the highest temperature given to mortar geopolymer, the value of compressive strength will increase. In addition, the longer the testing age is carried out, the greater the compressive strength value obtained. This is evidenced at molarity concentration of 12 M, 80ºC with 6 hours heating time and 28 day test age has a compressive value of 62.72 MPa. While at molarity concentration 14 M, 80ºC with 6 hours heating time and 28 day test age have strong value of press 52,80 MPa. Keywords: Mortar geopolymer, temperature heating, old heating, compressive strength
PENGARUH LAMA PEMANASAN TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR GEOPOLIMER MEMANFAATKAN FLY ASH DENGAN MOLARITAS 8M DAN 10M JAYA TRI Y., DANAN
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semen merupakan salah satu material yang sangat penting sebagai bahan pengikat baik dalam beton, paving, spesi ataupun konstruksi–konstruksi lainnya. Semen yang tersusun dari bahan baku antara lain batu kapur (limestone), pasir silika apabila digunakan secara terus menerus tanpa mencari alternatif dari bahan baku tersebut tentu semakin lama akan habis. Selain ketersediaan bahan baku yang semakin lama akan habis, tentu produksi dari semen ini berdampak negatif terhadap lingkungan. Maka dari itu penulis dalam penelitian ini akan memanfaatkan fly ash dan alkali aktivator sebagai bahan penyusun mortar geopolimer. Mortar yang digunakan berukuran 5 x 5 x 5 cm3, berbahan dasar fly ash type C dengan  water solid ratio sebesar 0,35. Molaritas yang digunakan yaitu 8M dan 10M dengan perbandingan Na2Si03  : NaOH yaitu  1,5 : 1. Dalam penelitian ini mortar geopolimer juga memanfaatkan curing oven (lama pemanasan) selama 3, 6, 18, 24 jam dengan suhu 60°C sebagai perawatannya. Kuat tekan yang dihasilkan dari lama pemanasan mortar geopolymer dengan kepekatan 8M pada usia 28 hari dan 10M pada usia 28 hari sangat berpengaruh dan mengalami peningkatan seiring bertambahnya lama pemanasan. Dan kuat tekan yang paling tinggi pada 8M terlihat pada lama pemanasan 24 jam pada suhu 60°C pada usia 28 hari yaitu sebesar 52,90 MPa. Sedangkan kuat tekan yang paling tinggi pada 10M terlihat pada lama pemanasan 24 jam pada suhu 60°C pada usia 28 hari yaitu sebesar 58,86 MPa. Kata Kunci: Kuat tekan, lama pemanasan, mortar geopolimer, molaritas 8M dan 10M Abstract Cement is one of the most important materials as a binder in concrete, paving, special or any other construction. Cement composed of raw materials such as limestone, silica sand if used continuously without looking for alternatives from the raw materials would be longer will run out. In addition to the availability of raw materials that will run out longer, of course the production of this cement negative impact on the environment. Therefore the authors in this study will utilize fly ash and alkali activator as the material of mortar geopolymer. Mortar used size 5 x 5 x 5 cm3, based on fly ash type C with water solid ratio of 0.35. Molarity used is 8M and 10M with Na2Si03: NaOH ratio is 1.5: 1. In this study mortar geopolymer also utilize curing oven for 3, 6, 18, 24 hours with temperature 60 ° C as treatment. The compressive strength resulting from the length of geopolymer mortar heating at 8M at 28 days and 10M at 28 days is very influential and increases with increasing heating time. The highest compressive strength at 8M was seen at 24 hours warming at 60°C at 28 days i.e. 52.90 MPa. The highest compressive strength at 10M was seen at 24 hours of warming at 60 ° C at 28 days of age i.e. 58.86 MPa. Keywords: Compressive strength, curing oven, molarity 8M and 10M, mortar geopolymer
ANALISA PERKIRAAN TOTAL WAKTU DAN BIAYA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE COST SCHEDULE CONTROL SYSTEM CRITERIA (C/S-CSC) PADA PELAKSANAAN STRUKTUR PEMBANGUNAN FASUM (FASILITAS UMUM) DAN FASOS (FASILITAS SOSIAL) PT. INDUSTRI GULA GLENMORE KABUPATEN BANYUWANGI DIANDRA, PRIESTANTI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 3, No 3/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-90 Periode 3 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cost Schedule Control System Criteria (C-S/CSC) adalah penerapan dari konsep nilai hasil dengan memasukkan dan mengkaitkan unsur-unsur anggaran, pengeluaran, jadwal, nilai hasil, lingkup kerja, dan pelaksana. C/S-CSC dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya biaya dan waktu berakhirnya sebuah proyek dengan cara melakukan peninjauan terhadap progres sebuah proyek baik itu harian, mingguan dan bulanan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proses mempercepat pelaksanaan proyek dan analisa perkiraan total biaya dan waktu pelaksanaan proyek Pembangunan Fasum (Fasilitas Umum) dan Fassos (Fasilitas Sosial) PT. Industri Gula Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Data dikumpulkan dengan metode wawancara dan observasi. Metode wawancara digunakan untuk mengetahui garis-garis besar permasalahan pada proyek. Metode observasi digunakan untuk mendapatkan data rill proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyek Pembangunan Fasum (Fasilitas Umum) dan Fassos (Fasilitas Sosial) PT. Industri Gula Glenmore mengalami keterlambatan selama 29 minggu dengan deviasi proyek -7,87% pada minggu ke 13. Perkiraan biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa adalah Rp. 37.962.415.861. metode percepatan untuk mengatasi keterlambatan yang digunakan adalah penambahan tenaga kerja. Jumlah penambahan tenaga kerja rata-rata per minggu adalah 691 orang per minggu. Kata Kunci : Keterlambatan, Waktu, Biaya, dan Percepatan. Abstract Cost Schedule Control System Criteria (C-S/CSC) is the application of the concept of value to the value by including and linking elements of budget, expenditure, schedule, result value, scope of work, and implementers. C/S-CSC can be used to estimate the cost and timing of a project by reviewing the progress of a project, daily, weekly and monthly. The purpose of this research is to know the process of accelerating project implementation and analysis of total cost estimation and time of project implementation of Fasum Facility (Public Facilities) and Fassos (Social Facility) PT. Sugar Industry of Glenmore Regency of Banyuwangi. The type of research used is descriptive research. Data were collected by interview and observation method. Interview method used to know the outline of problem in project. Observation methods are used to obtain project rill data. The results of the research indicate that Fasum (Public Facilities) and Fassos (Social Services) project of PT. The Glenmore Sugar Industry experienced a 29-week delay with the deviation of the project -7.87 at the 13th week. The estimated cost required to complete all remaining work was Rp. 37.962.415.861. The acceleration method to overcome the delay used is the addition of manpower. The average number of labor adds per week is 691 people per week. Keywords: Delay, Time, Cost, and Acceleration.