cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Rekayasa Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
IDENTIFIKASI AWAL JALUR KA UNTUK PERJALANAN ORANG DI KOTA SURABAYA Susanti, Anita; Aryani Soemitro, Ria Asih; Suprayitno, Hitapriya
Rekayasa Teknik Sipil Vol 1, No 1/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-88 Periode 1 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keunggulan pengoperasian kereta api adalah bebas hambatan, dikarenakan kereta api memiliki jalur KA sendiri. Pada kenyataannya keberadaan perlintasan sebidang jalur KA, cukup berpengaruh terhadap pergerakan arus lalu lintas pada ruas jalan di sekitarnya. Oleh karena itu diperlukan identifikasi awal mengenai jalur KA untuk perjalanan orang di Kota Surabaya. Tujuan dilakukannya identifikasi awal ini adalah untuk mengetahui bentuk bentangan jalur KA, jenis jalur KA (single/double), dan perlintasan sebidang jalur KA. Metode yang dilakukan pada identifikasi awal ini adalah pengumpulan data sekunder melalui google maps terkait bentangan, jenis  jalur dan ruas jalan yang sebidang dengan perlintasan jalur KA yang dilalui oleh layanan KA Ekonomi Lokal. Hasil identifikasi awal, dapat diketahui bahwa bentangan jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Cerme, merupakan bentangan jalur KA dari arah Tengah Utara sampai dengan arah Barat perbatasan Kota Surabaya. Bentangan jalur KA dari Stasiun Kandangan, terhubung dengan bentangan jalur KA ke arah Gresik menuju ke Stasiun Indro. Bentangan jalur KA dari Stasiun Pasar Turi, memiliki jalur KA yang bercabang dua ke arah Tengah Utara menuju ke Stasiun Kalimas dan ke arah Utara Timur menuju ke Stasiun Sidotopo, bentangan jalur KA dari Stasiun Sidotopo ke arah Tengah Utara terdapat Stasiun Benteng. Bentangan jalur KA dari Stasiun Semut sampai dengan Stasiun Waru dan Stasiun Sepanjang memiliki jalur KA yang sama melalui Stasiun Gubeng sampai dengan Stasiun Wonokromo, pada Stasiun Wonokromo jalur KA bercabang dua ke arah Selatan Timur yaitu Stasiun Waru dan ke arah Selatan Tengah yaitu Stasiun Sepanjang. Bentangan jalur dari Stasiun Gubeng sampai dengan Stasiun Pasar Turi (jalur pintas/shortcut), tanpa melalui Stasiun Sidotopo terlebih dahulu. Jenis jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Cerme sudah dilayani oleh jalur KA ganda/double track. Jenis jalur KA dari Stasiun Kandangan, menuju ke Stasiun Indro masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Semut sampai dengan Stasiun Wonokromo sudah dilayani oleh jalur KA ganda/double track, sedangkan jenis jalur KA dari Stasiun Wonokromo sampai dengan Stasiun Waru dan Stasiun Sepanjang masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Kalimas menuju ke Stasiun Peti Kemas, masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Sidotopo masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track, sedangkan jenis jalur KA dari Stasiun Sidotopo sampai dengan Stasiun Benteng masih dilayani oleh jalur KA tunggal/single track. Jenis jalur KA dari Stasiun Pasar Turi sampai dengan Stasiun Gubeng mulai dari ruas jalan Raya Dupak sampai dengan ruas jalan Gembong masih dilayani oleh jalur KA tunggal, setelah itu mulai dari ruas jalan Kapasari sampai dengan ruas jalan Ambengan sudah dilayani oleh jalur KA ganda/double track. Jumlah ruas jalan yang sebidang dengan perlintasan jalur KA yang dilalui oleh layanan KA Ekonomi Lokal berjumlah 22 ruas jalan. Kata Kunci: identifikasi awal, bentangan, jenis jalur KA, perlintasan sebidang, Kota Surabaya
PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT GESER MORTAR TANPA SEMEN BERBAHAN DASAR ABU TERBANG DAN SODIUM HIDROKSIDA 12 MOLAR PADA APLIKASI PASANGAN BATA MERAH BIMA PRAYOGO, NOVA
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gas CO2 yang dihasilkan selama proses produksi semen memberikan kontribusi besar terhadap pemanasan global. Seiring dengan munculnya isu pemanasan (global warming) dan hadirnya penerapan konsep pembangunan hijau (green building) dalam bidang rekayasa bahan material salah satunya mortar geopolymer. Pembuatan mortar geopolymer secara umum dilakukan dengan menggunakan abu terbang (fly ash) sebagai bahan dasar utamanya. Penelitian ini ditambahkan bahan tambah kapur sebagai subtitusi abu terbang (fly ash) yang bertujuan untuk mendapatkan perkembangan mutu mortar geopolymer dengan memanfaatkan penggunaan kapur sebagai subtitusi abu terbang ( fly ash) agar dapat dirawat pada temperature normal. Penelitian ini didapatkan tujuh variasi campuran mortar geopolymer yaitu A (Kontol) dengan komposisi beton OPC (Ordinary Portland Cement) sebagai kontrol, B (ATK0) dengan komposisi 100% fly ash, C (ATK1) dengan komposisi penambahan 10% kapur sebagai pengganti fly ash, D (ATK2) dengan komposisi penambahan 20% kapur sebagai pengganti fly ash, E (ATK3) dengan komposisi penambahan 30% kapur sebagai pengganti fly ash, F (ATK4) dengan komposisi penambahan 40% kapur sebagai pengganti fly ash, dan G (ATK5) dengan komposisi penambahan 50% kapur sebagai pengganti fly ash, menggunakan cairan aktivator campuran Na2SiO3 dan NaOH perbandingan 1,5  dengan molaritas NaOH sebesar 12 Molar. Spesimen mortar diuji dan dirawat pada temperatur ruangan untuk diuji  kuat tekan dan kuat gesernya. Hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan nilai optimum penambahan kapur pada pembuatan mortar geopolymer untuk kuat tekannya sendiri terdapat pada prosentase penambahan kapur sebanyak 20% variasi B (ATK2)  dengan nilai kuat tekan optimumnya sebesar 33,75 MPa. Sedangkan untuk kuat geser nilai optimumnya terdapat pada prosentase penambahan kapur 30% variasi C (ATK3) dengan nilai kuat geser optimumnya sebesar 0,99 MPa. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar jumlah penambahan kapur pada prosentase tertentu sebagai subtisusi abu terbang (fly ash) maka kuat tekan dan kuat geser yang dihasilkan semakin besar pula. Kata kunci: alkali aktivator, fly ash, geopolymer, kapur, kuat tekan, kuat geser, mortar Abstract CO2 gas produced during cement production process contributes greatly to global warming. Along with the emergence of the issue of global warming and the presence of the application of the concept of development of the green building in the field of engineering materials one mortar geopolymer. Making mortar geopolymer is generally done by using fly ash  as its main raw material. This study added ingredients add lime as a substitution of fly ash which aims to get a quality development by leveraging the use of geopolymer mortar of lime fly ash as a substitution  in order to be treated at normal temperature. This research obtained seven variations of mixed mortar geopolymer i.e. A (Control) and composition of concrete OPC (Ordinary Portland Cement) as control, B (ATK0) and composition 100% fly ash, C (ATK1) with 10% lime addition composition in lieu of fly ash, D (ATK2) with 20% lime addition composition in lieu of fly ash, E (ATK3) with 30% lime addition composition in lieu of fly ash, F (ATK4) with 40% lime addition composition in lieu of fly ash , and G (ATK5) with the addition of 50% composition of lime fly ash as a replacement,  use a liquid Activator mix Na2SiO3 1.5 and comparison with NaOH 12 Molarity. Mortar specimens tested and treated at room temperature to be tested is strong press and strong shear. The results of the research that has been done, the optimum values are obtained by the addition of lime mortar on the creation of geopolymer for strong focus was more on its own is present on the percentage of lime addition of as much as 20% variation B (ATK2) with strong values press optimumnya of 33.75 MPa. As for the strong shear optimum value contained on the percentage of lime addition 30% variation C (ATK3) with strong shear optimumnya value of 0.99 MPa. From the results it can be noted that the greater the amount of limestone addition on a certain percentage as subtisusi fly ash then press the strong and powerful shearing generated more anyway. Keywords: alkaline activator, fly ash, geopolymer, lime, mortar, strong press, strong shear
ANALISA PERHITUNGAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG DIBANDINGKAN DENGAN DAYA DUKUNG HYDRAULIC JACKING SYSTEM PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG B LPMP PROVINSI JATIM SETYO ROMADHONI, AKBAR
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daya dukung tiang pancang didapatkan dari hasil penyelidikan tanah yang dilakukan sebelumnya, dalam menentukan daya dukung tiang pancang ada banyak sekali metode yang digunakan. Dengan banyaknya metode yang digunakan akan banyak variasi hasil yang berbeda-beda oleh karena itu metode yang tepat sangat berpengaruh dengan hasil perencanaan pondasi agar hasilnya maksimal. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui  daya dukung pondasi tiang pancang berdasarkan data sondir yang mendekati daya dukung “Hydraulic Jacking System”. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan di analisis secara statistik. Sedangkan sasaran penelitian pada penelitian ini adalah analisa dari metode yang digunakan dalam menghitung daya dukung pondasi tiang pancang yang nantinya dibandingkan dengan data bacaan pemancangan yang menggunakan alat Hidraulic Jacking System. Metode dalam penelitian ini berdasarkan data sondir S2, tiap-tiap metode dicari daya dukung ujung tiang (Qp) dan daya dukung selimut tiang (Qs) untuk mencari Qultimate. Setelah perhitungan Qultimate diketahui pada masing-masing metode selanjutnya yaitu membandingkan dengan daya dukung Hydrulik Jacking System mana metode yang paling mendekati dangan kenyataan di lapangan. Cara membandingkan antara daya dukung pondasi tiang pancang dengan daya dukung Hidraulic Jacking System yaitu dengan mencari selisih penyimpangan terkecil dari kedalaman 1 meter sampai 21 meter. Rata-rata prosentase selisih penyimpangan urutan mulai dari terkecil sampai terbesar adalah Metode Schmartmann sebesar 29,79%, Metode Tumai Fakhroo sebesar 43,93%, Metode Andina sebesar 52,26%, Metode Van Der Ween sebesar 55,93%, Metode Philipponant sebesar 59,97%, Metode Mayerhof sebesar 68,86%. Dengan mempertimbangkan pada nilai kedalaman yang lain dengan kata lain tidak hanya berdasarkan pada penetrasi kedalaman paling ujung yaitu 21 meter, maka metode yang paling mendekati dengan kenyataan di lapangan dengan menggunakan alat Hydraulic Jacking System adalah Metode Schmartmann. Kata kunci : Pondasi, Tiang Pancang dan Hidraulic Jacking System. Abstract Carrying capacity of the pile obtained from soil investigation carried out previously, in determining the carrying capacity of the pile there are many methods used. With so many methods used will be many variations of the different therefore appropriate methods were significantly associated with outcome foundation design for maximum results. The purpose of this research was to determine the carrying capacity of pile foundation based on data sondir approaching carrying capacity "Hydraulic Jacking System". This research uses a quantitative method for the research data in the form of figures and statistical analysis. While the research objectives in this study is an analysis of the methods used in calculating the carrying capacity of pile foundation which will be compared with data reading erection that use tools Hydraulic Jacking System. Methods in this study based on data sondir S2, each method sought carrying capacity of the pole (Qp) and the carrying capacity of Frictional (Qs) to find Qultimate. After calculation Qultimate known at each subsequent method that compares with the results of Hydrulik Jacking System which methods are most closely dangan reality on the ground. By comparing the carrying capacity of the pile foundation with carrying capacity Hydraulic Jacking System is to find the difference between the smallest deviation from a depth of 1 meter to 21 meters. The average percentage difference in the sequence deviation from smallest to largest is the method amounted to 29.79% Schmartmann, Tumai method Fakhroo by 43.93%, amounting to 52.26% Andina method, Method of Van Der Ween amounted to 55.93%, methods Philipponant amounting to 59.97%, amounting to 68.86% Mayerhof method. Taking into account the value of the depth of the others, in other words not only based on the penetration depth of the tip is 21 meters, then the method closest to the reality on the ground by using the tool Hydraulic Jacking System is a method Schmartmann. Keywords: Piling, Piles and Hydraulic Jacking System.
PERENCANAAN ULANG JEMBATAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN VARIASI JARAK KABEL PENGGANTUNG DAN JARAK GELAGAR MELINTANG (STUDI KASUS JEMBATAN GANTUNG BATOQ MALEQ KABUPATEN MAHAKAM ULU) HUDA, MIFTAKHUL; Firmansyah, Mochamad
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan Batoq Maleq merupakan jembatan yang berfungsi untuk menghubungkan desa batoq dan desa melaq yang dilewati sungai Longphai. Direncanakan dengan bentang panjang 64 m dan lebar 9 m, digunakan untuk meningkatkan pelayanan prasarana jalan dan jembatan pemerintah kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui desain perencanaan yang efektif dan  efisien  dari perhitungan variasi Jarak Gelagar Melintang dan Jarak Kabel Penggantung pada struktur rangka pemikul utama jembatan busur rangka baja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini akan mendskripsikan bagaimana perencanaan ulang jembatan menggunakan metode rangka baja dengan  bentuk  busur dengan variabel pada perbedaan jarak gkabel dan jarak gelagar melintang. Data dikumpulkan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan dan simulasi komputasi. Literatur atau kepustakaan digunakan  untuk  memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) bangunan dan memperoleh gaya aksial, geser, dan momen yang terjadi. Dasar ?dasar perencanaan jembatan mengacu pada peraturan RSNI T-03-2005 dan pembebanan mengacu pada peraturan RSNI T-02-2005. Sedangkan perencanaan struktur pemikul utama menggunakan peraturan AISC-LRFD dan analisa konstruksi pemikul utama dan skunder dilakukan dengan menggunakan program CSi Brigde. Hasil dari penelitian menunjukkan efisiensi dari 3 variabel pada perencanaan jembatan busur rangka baja dalah pada variabel ke-2 dengan jarak kabel dan jarak gelagar 3 m dengan analisa perencanaan sebagai berikut: Gelagar melintang lendutan yang terjadi sebesar 0.93 dari lendutan ijin 1.13 dan Kabel penggantunng tegangan yang terjadi sebesar 183 kN dari P ijin 216 kN. Kata Kunci : Jembatan Busur, Perencanaan Ulang Struktur, Box Baja. Abstract Batoq Maleq Bridge is a bridge that connect Batoq village and Maleq village by spanning Longphai River. Planned with a span length of 64 m and width of 9 m,used to improve the service of road infrastructure and bridge in District of Mahakam Ulu , East Kalimantan. The research purpose to know the effective and efficient design planning of the calculation of variations of floor girder distance and cable hanging distance on the main bearer frame structure of the Steel frame arch bridge. The research uses descriptive method by using case study method. The research will describe how rearrangement the bridge uses steel frame method with the shape of the arch with the variable on the distance?s difference gcable and the floor girder distance. Data were collected using literature and computational simulations. Literature is used to derive rules, formulas and steps used to calculate the structure. Computational simulations are used to construct structural models (space frames) of buildings and obtain the axial, shear, and momentary forces. The basis of bridge planning refers to RSNI Regulation T-03-2005 and the loading refers to RSNI Regulation T- 02-2005. While the main draft structure design using AISC-LRFD rules and main and secondary beam construction analysis using CSi Brigde program. The result of the research shows that the efficiency of the 3 variables in the steel arch bridge frame design is on the 2nd variable with the distance of the cable and the girder distance 3 m with the planning analysis as follows: Floor girder Crossover deflections occurring of 0.93 of the permit deflection 1.13 and tension occuring in hanging cable of 183 kN cable from P permission 216 kN. The tension that occurs in the hanger cable of 183 kN from the P permit 216 kN. Key Word : Arch Bridge, Structural Re-Planning, Steel Box.
PERHITUNGAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN METODE CABLE STAYED DENGAN VARIASI KABEL STRUKTUR PEMIKUL UTAMA (STUDI KASUS JEMBATAN GANTUNG BATOQ MALEQ KABUPATEN MAHAKAM ULU) PRAHNALAGA WIRA, TIMUR; Firmansyah, Mochamad
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain ulang jembatan menggunakan metode cable stayed dengan variasi kabel pada struktur pemikul utama untuk mendapatkan desain yang kokoh namun tetap fleksibel dan efisien serta dapat menahan beban dalam bentang panjang. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana perencanaan ulang struktur atas jembatan gantung Batoq Maleq menggunakan metode cable stayed. Data dikumpulkan dengan menggunakan kepustakaan, dan simulasi komputasi. Kepustakaan digunakan untuk memperoleh peraturan, rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung struktur. Simulasi komputasi digunakan untuk membuat model struktur (space frame) jembatan guna memperoleh gaya aksial, geser, dan momen yang terjadi. Penelitian ini menggunakan 3 variabel desain yaitu trial 1, trial 2, dan trial 3 dengan variasi 2 jenis kabel (ASTM A 416-74 grade 270 dan Euronorme 138-79) dan jumlah kabel (N = 2, 3, dan 4). Tiga variabel desain akan dipilih yang paling efisien berdasarkan kroscek penampang kabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trial 2 merupakan desain jembatan yang paling efisien, hal itu diperoleh berdasarkan kroscek aksial penampang kabel, dan variasi kabel yang dipilih adalah jenis kabel ASTM A 416-74 grade 270. Kabel ASTM A 416-74 grade 270 dipilih karena memiliki luas penampampang strand yang lebih kecil namun memiliki tegangan putus yang lebih besar dibandingkan dengan kabel Euronorme 138-79. Kata Kunci: hitung ulang struktur, jembatan, cable stayed. Abstract The purpose of this research is to redesign of bridge using cable stayed method with cable variation in main bearer structure to get a sturdy design but remain flexible, efficient and can withstand load in long span. This research is using case study method. This research discuss the process of redesign upper structure of Batoq Maleq Suspension Bridge using cable stayed method. The data collection techniques are from literature and computational simulations. Literature is used to obtain rules, formulas and steps used to calculate the structure. Computational simulation is used to create a model of a bridge (space frame) to obtain the axial force, shear, and moment that occur. This research using three design variables are: trial 1, trial 2, and trial 3 wich all of them have 2 types of cables (ASTM A 416-74 grade 270 and Euronorme 138-79) and number of cables (N = 2, 3, and 4). From those variables will be selected with the most efficient based on cable cross-section control. The result shows that trial 2 was the most efficient design for bridge, it was obtained based on the axial control of cable cross section, and the selected type is ASTM A 416-74 grade 270. ASTM A 416-74 grade 270 wire has selected because it has strand cross-sectional smaller than others but has a larger stress-off compared with Euronorme 138-79. Keywords: re-design structure, bridge, cable stayed.
PERBANDINGAN BIAYA PERENCANAAN PERKERASAN KAKU ANTARA METODE BINA MARGA DAN AASHTO PADA RUAS JALAN GONDANG-LENGKONG KABUPATEN MOJOKERTO INTANSARI MUKTI, RINDAH
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan ruas Gondang-Lengkong adalah sarana penghubung kabupaten Mojokerto yang sangat penting dengan kota atau kabupaten disekitarnya. Jalan ruas Gondang-Lengkong digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat maka dilakukan perencanaan perkerasan baru sehingga dapat memenuhi kebutuhan lalu lintas dimasa depan. Terdapat banyak metode untuk mendesain tebal pelat beton ini, diantaranya menggunakan metode Bina Marga 2002 dan AASHTO 1993. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan biaya yang lebih murah dengan menggunakan metode Bina Marga 2002 dan AASHTO1993. Konsep dari perencanaan perkerasan kaku (beton semen) pada jalan Gondang-Lengkong menggunakan metode Bina Marga 2002 dan AASHTO 1993. Perencanaan menggunakan metode Bina Marga 2002 menggunakan beton fc= 40 MPa dengan mencari CBR tanah dasar setelah itu  direncanakan terhadap konfigurasi beban sumbu yang mengakibatkan tegangan terbesar pada pelat. Konsep perencanaan perkerasan Metode AASHTO 1993 yaitu tebal pelat rencana akan bertambah sesuai pertambahan lalu lintas ekivalen selama umur rencana dan sebaliknya tebal pelat akan berkurang dengan pengurangan volume lalu lintas ekivalen. Hasil perhitungan mengguakan metode Bina Marga 2002 menghasilkan tebal pelat 25 cm dengan dowel 32 mm dan tie bar 16 mm dengan biaya total perencanaan Rp. 20.415.781.505,18 sedangkan untuk metode AASHTO 1993 tebal pelat 13 cm dengan dowel 32 mm dengan tie bar 16 mm dengan biaya Rp. 14.352.564.625,38. Menghasilkan perbedaan jumlah volume beton dengan selisih biaya per m3 Rp. 1.439.852. Kata Kunci: AASHTO, Bina Marga,Perkerasan Kaku,RAB Abstract The road segment is Gondang-Lengkong Means Mojokerto district liaison is very important to the city or the surrounding counties. Gondang-Lengkong road segment is used to meet the increasing demands of new pavement planning is carried out so as to meet traffic needs in the future. There are many methods for designing a concrete slab thickness of this, including using AASHTO Highways 2002 and 1993. This study aims to compare a cheaper cost by using Bina Marga 2002  and AASHTO 1993. The concept of planning rigid pavement (concrete cement) on the road Gondang-Lengkong using Bina Marga 2002 and AASHTO 1993. Planning methods Bina Marga 2002 use concrete fc = 40 MPa with looking after the subgrade CBR plotted against the axis load configurations which resulted in the greatest stress on the plate. The concept of pavement planning The AASTHO 1993 method of thick plate plates will increase according to the incremental traffic increase over the life of the plan and otherwise the thickness of the plate will decrease with the reduction of equivalent traffic volume. The calculation result using the Bina Marga 2002 method resulted in thickness of 25 cm plate with 32 mm dowel and 16 mm tie bar with total cost of planning Rp. 20.415.781.505,18 while for AASHTO method 1993 thick 13 cm plate with 32 mm dowel with tie bar 16 mm with cost Rp. 14.352.564.625,38. Resulting in different amounts of concrete volume with cost difference per m3 Rp. 1.439.852. Keywords: AASHTO, Highways, Rigid Pavement , RAB
PENGARUH BENTANG KOLOM TERHADAP KEKAKUAN STRUKTUR PADA HOTEL DIRENCANAKAN DI BANJARBARU DENGAN MENGGUNAKAN METODE FLAT SLAB-DROP PANEL Kurnianingsih,
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedung hotel yang direncanakan di Banjarbaru menggunakan metode flat slab-drop panel. Metode flat slab bersifat fleksibel, sedangkan salah satu syarat dalam merencanakan bangunan bertingkat yaitu kekakuan k = EI/L, dimana bentang berpengaruh terhadap kekakuan struktur.Dalam penelitian ini akan dibahas tentang pengaruh bentang kolom terhadap kekakuan struktur dengan metode flat slab-drop panel. Penelitian ini bertujuan merencanakan struktur gedung dengan variasi bentang 500 cm, 600 cm, 700 cm, 800 cm dan mengetahui pengaruhnya terhadap kekakuan struktur dari hasil pemodelan dengan menggunakan flat slab-drop panel. Analisis struktur dan gempa dinamik menggunakan response spectrum dengan menggunakan software ETABS vol.9.6.0. Hasil dari penelitian ini didapatkan struktur flat slab-drop panel dengan bentang 500 cm memiliki nilai kekakuan terbesar sedangkan nilai kekakuan struktur terkecil terjadi pada struktur dengan bentang 800 cm, sehingga disimpulkan bahwa semakin panjang bentang antar kolom maka nilai kekakuan struktur yang terjadi semakin kecil, begitu juga sebaliknya semakin pendek bentang antar kolom maka nilai kekakuan struktur yang terjadi semakin besar. Kata Kunci: Flat slab-drop panel, kekakuan struktur, response spectrum. Abstract Hotel building planned in Banjarbaru use flat slab-drop panels method . Flat slab method is flexible, whereas one of the requirements planning multi-storey buildings are stiffness k = EI / L, which spans affect the structural rigidity. In this paper will discussing about the influence of the column-span structural rigidity with flat slab-drop panel method. The purpose of this papper is planning building structure with variation span of 500 cm, 600 cm, 700 cm, 800 cm and determine the effect of the structural rigidity the modeling results by flat slab drop panels. Structural analysis and dynamic seismic analysis using response spectrum by software ETABS vol.9.6.0. The results of this study, structure of flat slab drop panels with span of 500 cm has a value of stiffness greatest while the value of stiffness of the smallest structures to the structures with span of 800 cm, from the result  concluded the longer span between columns then the value of structural rigidity that smaller, conversely also getting shorter spans between columns then the value of structural rigidity that large. Keywords: Flat slab drop panels, structural rigidity, response spectrum.
PENGENDALIAN MUTU PRODUK PRECAST DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPC (STATISTICAL PROCESS CONTROL) DI PT. WASKITA PRECAST PLANT SIDOARJO Aini, Nur
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Waskita Beton Precast Plant Sidoarjo merupakan salah satu perusahaan  di Indonesia yang memproduksi precast. Beton precast adalah beton yang dibuat dicetakan dengan ukuran yang sudah ditentukan atau disesuaikan dengan aplikasi kerja sehingga bisa menghemat biaya dan efisien waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proses produksi dalam menghasilkan produk girder mutu K-500 yang sesuai dengan spesifikasi. Salah satu teknik pengendalian mutu yang dapat digunakan suatu industri adalah pengendalian mutu dengan metode SPC (statistical process control), yaitu suatu cara pengendalian yang dilakukan melalui pengumpulan dan analisis data kuantitatif selama berlangsungnya proses produksi. Pengendalian kualitas secara statistik  dengan menggunakan SPC mempunyai 7 (tujuh) alat statistik  utama yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengendalikan kualitas, antara lain flow chart, Check Sheet, diagram pareto, diagram sebab-akibat, histogram, diagram tebar, dan peta kendali. Dari hasil penelitian ini kemampuan proses produksi balok girder dengan mutu beton K-500 dengan panjang 30,8 meter dan tinggi 2,1 meter setelah dilakukan perbaikan  mempunyai nilai Cp sebesar 5,36 yang berarti memuaskan karena memiliki nilai Cp lebih dari 1,33. Kata Kunci: Pengendalian Mutu, Statistical Process Control, Precast Abstract PT. Precast Concrete Plant clairvoyant Sidoarjo is one company in Indonesia which produce precast. The concrete is a precast concrete dicetakan Created By size is well defined or Adjusted for working applications that can save cost and process efficient cover of Time. The purpose of this study was to determine the production process in producing quality girder K-500 in accordance with the specifications. One technique that can be used quality control of an industry is the quality control methods of SPC (statistical process control), which is a way of controlling performed through the collection and analysis of quantitative data during the production process. Quality control statistically by using SPC has seven (7) tools key statistics that can be used as a tool for controlling quality, including flow charts, Check Sheet, Pareto diagram, a diagram of causation, histograms, diagrams stocking, and map control. From this research, production process capability beam girder with concrete quality K-500 with a length of 30.8 meters and a height of 2.1 meters after repair has a Cp value of 5.36, which means satisfying because it has a Cp value of more than 1.33. Keywords: Quality Control, Statistical Process Control, Precast
OPTIMALISASI DESAIN STRUKTUR JEMBATAN KUTAI KARTANEGARA DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM CABLE STAYED DZIKRIL CHAKIM, ANDI
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jembatan cable stayed merupakan salah satu tipe dari beberapa tipe jembatan yang digunakan dalam konstruksi jembatan bentang panjang. Jembatan tersebut memiliki karakteristik yang menguntungkan dari segi teknis, ekonomis, maupun estetika. Jembatan Kutai Kartanegara merupakan salah satu jembatan yang melintasi sungai Mahakam yang mengalami keruntuhan pada tahun 2011 dan dibangun kembali pada tahun 2013. Jembatan Kutai Kartanegara memiliki lebar total jembatan 9,6 m dengan panjang total jembatan 470 m. Penenelitian ini membahas desain jembatan Kutai Kartanegara dengan menggunakan sistem cable stayed. Kemudian  memodelkannya menjadi sepuluh model jembatan dengan jarak kabel pada gelagar (a) yang berbeda-beda (10,385 m – 45,000 m) untuk memperoleh hasil yang optimal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian simulasi dengan bantuan program SAP 2000 V.15.0.0 untuk memperoleh gaya dalam berupa momen, tegangan, dan lendutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari nilai capacity ratio (R), momen (M), teganan lentur (σ), gaya geser (V), dan lendutan (Δ), batasan yang diberikan tidak boleh melampaui 33,750 m. Optimalisasi jarak kabel pada gelagar (a) tercapai pada model jembatan IX dengan jarak kabel (a) 33,750 m. Kata Kunci: Jembatan Cable stayed, jarak kabel, gaya dalam. Abstract Cable stayed bridge is one type of several types of bridges are primarily used in the construction of long-span bridge. The bridge has characteristics that are advantageous in terms of technical, economic, and aesthetic. Kukar Bridge is a bridge that crosses the river Mahakam collapse in 2011 and rebuilt in 2013. The Kukar bridge has a total width of bridge 9.6 m with a total length of bridge 470 m. This study was to discuss the design of the Kukar bridge using cable stayed system. Then model it into ten models on the cable bridge girder (a) different spacing (10,385 m – 45,000 m) to obtain optimal results. This study is a simulation study with the help of SAP 2000 V.15.0.0 program to gain force in the moment, stress, and deflection. The results showed that in view of the value of Capacity Ratio (R), moment (M), bending stess (σ), shear (V) and deflection (Δ) does not exceed the prescribed limits 33,750 m. Optimization of the girder cable distance (a) is reached on a bridge model IX with cable distance (a) 33.750 m. Keywords: Cable stayed bridge, cable distance, in the force.
PENGARUH JARAK TEPI PELAT SAMPING SAMBUNGAN SELF DRILLING SCREW (SDS) TERHADAP KUAT TARIK PADA BATANG TARIK BAJA RINGAN DWI GRAHA, BARA; Firmansyah, Mochamad
Rekayasa Teknik Sipil Vol 2, No 2/REKAT/17 (2017): Wisuda ke-89 Periode 2 Tahun 2017
Publisher : Rekayasa Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja ringan mempunyai kekuatan yang pada prinsipnya kuat, hanya saja faktor non teknis yang selalu menjadi masalah, seperti pemasangan yang tidak terampil atau kecerobohan memberikan beban yang tidak semestinya pada rangka atap konstruksi baja ringan. Proses perakitan sangat penting dan vital perananaya  bagi struktur secara keseluruhan, diantaranya yaitu pemasangan screw atau biasa disebut baut. Kesalahan dalam memilih baut dapat berakibat fatal dalam suatu pekerjaan atap bangunan konstruksi baja ringan. Sehingga perhitungan  konstruksi ini harus dihitung secara detail agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin Jenis alat sambung yang umum digunakan pada konstruksi baja adalah sambungan dengan menggunakan alat sambung Self  Drilling Screw (SDS) atau orang konstruksi lebih sering menyebutnya Screw. Screw sangat vital peranannya, kesalahan dalam memilih dan memasang screw akan berakibat fatal, misalnya pertemuan titik simpul yang bergeser bahkan lebih buruk lagi adalah terputusnya sambungan. Penelitian ini berlatar belakang pada masalah pola screw sambungan rangka atap baja ringan. Penelitian ini mengamati tentang pengaruh jarak tepi pelat samping sambungan SDS terhadap kuat tarik  pada baja ringan. Tujuan penelitian ini adalah dapat mengetahui nilai kuat tarik maksimal dari jarak tepi pelat pada sambungan baja ringan. Serta dapat menganalisa nilai kegagalan dari sambungan dan screw. Penelitian ini dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat UTM. Bahan yang digunakan yaitu baja ringan dengan profil C.75.75 dan jenis screw yang digunakan adalah 10 16x16 CII. Penelitian ini direncanakan desain sambungan sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan sebenarnya. Jarak SDS ke tepi samping adalah 3df, 4df, 5df, 6df, 7df dan jarak antar SDS adalah 6df. Hasil penelitian ini adalah adanya pengaruh jarak tepi pelat samping terhadap jarak screw dengan kekuatan sambungan. Jarak tepi pelat samping dengan screw berdampak langsung terhadap kekuatan sambungan. P maksimal dari masing-masing benda uji dapat di identifikasi bahwa  benda uji dengan jarak pelat samping 6df  memiliki kuat tarik aktual yang paling maksimal diantara benda uji lainnya Namun benda uji dengan jarak tepi pelat samping lainnya masih dikatakan aman karena kuat tarik teori tersebut masih lebih besar teganganya dibanding kuat tarik aktual yang terjadi. Nilai kuat geser baik screw maupun pelat tidak cukup besar dibanding nilai kuat tarik (Ntaktual). Sehingga dapat dikatakan sambungan tersebut memiliki keruntuhan di setiap masing-masing benda uji. Keruntuhan tilling dan hole-bearing terjadi pada semua benda uji dengan berbagai nilai keruntuhan. Keruntuhan sambungan pada pelat tepi samping yang paling besar terjadi pada benda uji no 2 yaitu dengan jarak tepi pelat samping 4df. Keruntuhan ini mengakibatkan lubang screw semakin membesar pada setiap benda uji. Kata kunci: baja ringan, screw, kekuatan sambungan, jarak screw Abstract Light steel has a strong force in principle, only non-technical factors that have always been a problem, such as unskilledof the installation or give an undue burden on a lightweight steel roof truss construction carelessly. The assembly process is very important and vital role for the overall structure, such as the mounting screw. Mistake in choosing the scews can be fatal in aactivity of building roof light steel construction. So the calculation of this construction is to be calculated in detail so can be utilized optimally.Connecting tool type commonly used in steel construction is a connection by using Self Drilling Screws (SDS) or called Screw by constructor. Screw has a vital role, errors in selecting and installing the screw would be fatal, as the meeting point of the node that shifted even worse is the disconnection. The research background on the issue of the connection screw pattern light steel roof truss. The research observed the effect of space on the edge of the side plate SDS connection to a tensile strength on lightsteel. The purpose of this research was able to determine the value of the maximum tensile strength  thespace of the edge plate on light steel connection and analyze the value of the failure of the connection and screw. The research was conducted in the laboratory using UTM appliance. Materials used are light steel with C.75.75 profile and the type of screw used is 10 16x16 CII. This research planned joint design in accordance with the actual field. Space SDS to the side edges are 3df, 4df, 5df, 6df, 7dfand space between SDS is 6df. The result of this research is the influence of the side plate edge space to the space screw with the strength of the connection. Space to the edge of the side plate with a screw direct impact on the strength of the connection. P maximum of each test specimen can be identified that the specimen at a space of side plate 6df has a maximumof actual tensile strength among other specimen test but the other specimen at a space of the edge of the side plate are still safe because the voltageof theoretical tensile strength is greaterthan the tensile strength of the actual that occurs. Shear strength either screw or plate is not sufficiently greater than the tensile strength values (Ntaktual). So it can be said that connection have a collapse on each individual test specimen. The collapse tilling and hole-bearing occurs in all specimens with different values collapse. The greatest collapse of the connection on the side edge of the plate place in the test specimen no. 2 with the space of the edge of the side plate 4df. The collapseresulted  of the screw holes getting bigger on each specimen. Keywords: Light steel, screw, connection strength, spaceof screw