Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta diterbitkan dalam rangka seminar tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Articles
532 Documents
Ileus Obstruksi ET Causa Adhesi pada Laki-Laki 52 Tahun: Laporan Kasus
Larasati Juninda Nurkhasanah Subroto;
Juono Prabowo
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ileus obstruktif atau disebut juga ileus mekanik merupakan gangguan patensi lumen usus akibat hambatan mekanis pada bagian distal usus, sehingga terjadi akumulasi isi usus pada bagian proksimal usus, hal tersebut mengakibatkan adanya akumulasi cairan dan gas pada usus dan menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal dan disfungsi mikrosirkulasi dinding usus. Ileus obstruktif merupakan kegawatan di bidang bedah digestive yang sering dilaporkan dengan 60 – 70% dari kejadian kasus abdomen akut.. Ileus Obstruksi paling banyak terjadi pada laki – laki yaitu 56,8% daripada perempuan, dengan usia terbanyak adalah 45 - 55 tahun. Kasus Ileus obstruksi paling sering disebabkan karena adhesi, penyebab lain dapat berupa hernia strangulata, volvulus, keganasan colon, atau diverticulitis. Pada kasus ini menggambarkan presentasi klinis pasien dengan Ileus Obstruksi karena adhesi. Gejala yang muncul berupa nyeri perut kolik, mual, BAB sulit, dan susah flatus. Pemeriksaan fisik pada abdomen didapatkan abdomen distended, suara bising usus hipoaktif hingga menghilang. Pada perkusi abdomen didapatkan suara hipertimpani. Pasien dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi dan didapatkan hasil gambaran ileus obstruksi. Pasien dilakukan tindakan laparotomi eksplorasi dan ditemukan adhesi lalu dilakukan reseksi usus.
Kistadenoma Ovarium Serosum pada Kehamilan: Temuan pada Wanita 31 Tahun G2P1A0, Hamil 36 Minggu
Ady Siswanto;
Heryu Ristianto
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang : Massa adneksa ditemukan pada 0,2-2% kehamilan, mayoritas berasal dari ovarium, dan tumor epitelial merupakan neoplasia terbanyak. Sebagian besar pasien tidak menunjukkan gejala kecuali pada kista berukuran besar. Keluhan yang tidak spesifik dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, dan meningkatkan risiko komplikasi pada ibu maupun janin. Komplikasi tersering kista ovarium adalah torsio, di mana risikonya meningkat hingga 5 kali lipat pada kehamilan. Laporan Kasus : Wanita usia 31 tahun G2P1A0, hamil 36 minggu dirujuk dari puskesmas akibat benjolan pada perut kanan bawah yang ditemukan sejak trimester kedua. Hasil ultrasonografi pada trimester kedua menunjukkan gambaran kista ovarium dekstra. Pada pemeriksaan luar didapatkan TFU 30cm, posisi janin membujur, presentasi kepala belum masuk pintu atas panggul, punggung kanan teraba massa kistik di perut bawah kanan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan massa kistik unilokuler ovarium kanan diameter 10,89cm, dengan isi homogen dan dinding yang berbatas tegas. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar CA-125 42U/mL dan anemia ringan normositik hipokromik. Pada eksplorasi intraoperatif tidak terdapat adhesi kista dengan organ sekitar, tidak ada cairan bebas dan kista berhasil diangkat tanpa terjadi ruptur, berukuran 12x10x9cm. Pemeriksaan histopatologi kista menunjukkan gambaran kistadenoma ovarium serosum yang terdiferensiasi baik. Simpulan : Penegakan diagnosis massa adneksa pada kehamilan harus dilakukan secara tepat sejak dini untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin.
Seorang Wanita 57 Tahun dengan Sindrom WPW (Wolff Parkinson White): Laporan Kasus
Celina Rizki Annisa
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) adalah sindrom praeksitasi jantung bawaan yang timbul dari konduksi listrik jantung abnormal melalui jalur aksesori yang dapat mengakibatkan aritmia simtomatik dan mengancam jiwa. Temuan khas elektrokardiografi (EKG) dari pola WPW atau preeksitasi terdiri dari interval PR yang pendek dan QRS yang memanjang dengan slurring upstroke (gelombang delta) awal dengan adanya irama sinus. Gejala klinis takikardia seperti palpitasi, pusing episodik, presinkop, sinkop, atau bahkan henti jantung. Kami melaporkan kasus Sindrom WPW (Wolff Parkinson White), ada wanita dengan inisial Ny. S H berusia 57 tahun datang ke IGD RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo pada tanggal 08 April 2022 dengan keluhan dada berdebar-debar sejak pagi hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada, sesak nafas, mual muntah dan nyeri ulu hati. Pada pemeriksaan thoraks ditemukan gambaran bronchitis dan Kardiomegali dengan elongation aorta. Dari EKG ditemukan adanya gambaran Sindrom WPW. Dari mulai anamnesis hingga pemeriksaan penunjang dapat disimpulkan pasien mengidap Sindrom WPW (Wolff Parkinson White).
Wanita Berusia 51 Tahun dengan Struma Nodul Tyroid, dengan Tindakan Operasi Tiroidektomi
Oktamia Nursanty
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Larat belakang : Struma atau biasa disebut dengan goiter merupakan suatu pembesaran dari kelenjar tiroid yang diakibatkan oleh kelainan kelenjar tiroid berupa gangguan fungsi atau gangguan dari susunan kelenjar dan morfologinya.Di seluruh dunia penyebab struma diperkirakan dipengaruhi sebanyak 200 juta dari 800 juta orang yang memiliki kekurangan dalam konsumsi yodium. Manifestasi klinis penderita struma ini sebagian kecil megeluh adanya penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakhea (sesak nafas). Tujuan: Menambah pengetahuan mengenai kasus struma dalam berbagai kasus beserta tatalaksananya. Ultrasound adalah pendekatan radiologi awal yang paling umum digunakan untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi tiroid nodusa non toksik RSUP Surakarta. Laporan kasus: saya melaporkan kasus struma seorang Wanita berusia 51 tahun dengan struma nodul tyroid, Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis pada pasien ini adalah struma nodul tyroid. Pasien selanjutnya menjalani rawat inap di ruang perawatan untuk terapi rawat inap raber Sp.PD, Operasi menunggu persetujuan Sp.PD pembesaran tiroid umumnya disebut struma.Metode: tindakan operasi yaitu metode tiroidektomi. Kesimpulan:Diagnosis struma nodusa non-toksik dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaa penunjang laboratorium, serta radiologi berupa USG.
Anak 2 Tahun dengan Kejang Demam Sederhana, Febris Hari Pertama dengan Infeksi Saluran Kemih
Syahanita Anindira Putri;
Isna Nurhayati
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan hingga 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu diatas 38ºC dengan metode pengukuran suhu apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial dan ketidakseimbangan elektrolit. Kejang demam terbagi menjadi 2, yaitu kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) dan kejang demam kompleks (Complex Febrile Seizure). Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) yaitu kejang berlangsung singkat (< 15 menit), bentuk kejang umum (tonik dan atau klonik), serta tidak berulang dalam waktu 24 jam. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah kondisi saat ada bakteri pada organ saluran kencing. Kami melaporkan kasus anak usia 2 tahun dengan berat badan 16 kg, datang ke IGD dengan keluhan kejang SMRS. Pasien mengalami kejang disertai demam 1 kali dengan durasi ±10 menit tidak berulang selama 24 jam, kejang kaku seluruh tubuh. Mata melirik keatas dan mulut tergigit. Pilek (+). Pemeriksaan Urine Rutin menunjukan sel epitel (+). Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tersebut, diagnosis pasien adalah kejang demam sederhana, febris H-1 dengan infeksi saluran kemih.
Efektivitas Pembelajaran Anatomi Daring terhadap Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa Kedokteran di Indonesia
Daffa Sadewa;
Bagas Candra Kurniawan;
Achmad Nurul Yaqin;
Aisyah Jauza Adiba Indi
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembelajaran daring, termasuk kursus anatomi, telah banyak digunakan sebagai metode pengajaran dan pembelajaran selama pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas pembelajaran anatomi daring dan untuk mencari tahu apakah ada perbedaan dalam hasil belajar kognitif secara luring dan daring pada anatomi. Pendekatan observasional analitis dengan pendekatan potong lintang digunakan dalam penelitian ini terhadap 74 mahasiswa kedokteran tahun pertama di Universitas Sebelas Maret, Indonesia menggunakan kuesioner tentang persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring, skor pre-test, dan skor post-test. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 54,1% mahasiswa menyatakan bahwa metode pembelajaran anatomi daring tidak efektif. Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat efek pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar kognitif anatomi dalam metode pembelajaran secara luring maupun daring. Hasil Uji T-Test independen menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pre-test antara kelompok luring dan daring. Selain itu, hasil Uji Mann-Whitney juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam post-test antara kelompok luring dan daring. Pre-test dan post-test tidak menunjukkan perbedaan antara hasil belajar secara daring dan luring meskipun terdapat persepsi negatif dari mahasiswa terhadap efektivitas pembelajaran anatomi daring.
Hubungan Pola Asuh dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Jetis I Bantul
Milda Mazia;
Ayyasi Izaz Almas
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang dinyatakan berdasarkan umur dengan tinggi badan (TB/U) di bawah minus dua standar deviasi (<-2SD). Stunting disebabkan oleh kurangnya gizi dalam waktu yang lama dan infeksi yang berulang, kedua penyebab tersebut dipengaruhi oleh pola asuh ibu yang tidak memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Jetis I Bantul. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik korelasional dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel sebanyak 50 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia dewasa awal (50%), berpendidikan menengah (64%), tidak bekerja (70%), dan berpendapatan rendah (60%). Pola asuh positif kelompok tidak stunting didominasi demokratis (28%), sementara pola asuh negatif kelompok stunting didominasi pengabaian (38%). Hasil analisis data menunjukkan nilai p value sebesar 0.777 (>0.05). Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Jetis I Bantul.
Febris Hari Ke 7 ET Causa DHF Grade II dengan ISK, ISPA, dan Anemia
Virana Zuhda Rahmawati;
Ida Farida
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit demam akibat virus dengue yang seringkali berakibat fatal. DHF seringkali muncul dengan gejala demam terus menerus, terdapat manifestasi perdarahan, dan ada bukti terjadinya kebocoran plasma, serta adanya hepatomegali. Anak N 16 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan demam hari ketiga disertai dengan lemas, mual, muntah, dan nyeri perut. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri ketok costovertebra. Pemeriksaan penunjang menunjukan adanya trombositopeni, leukopeni. Pada perawatan hari ke 2 pasien mengeluhkan tenggorokan terasa gatal dan batuk. Pada perawatan hari ke 3 pasien mengeluhkan adanya gusi berdarah dan pada pemeriksaan penunjang terdapat penurunan kadar hemoglobin. Pada perawatan hari ke 4 tanda – tanda vital dalam batas normal, terdapat pekak beralih pada pemeriksaan perkusi, terdapat nyeri tekan superficial dan profunda pada palpasi, dan didapatkan hepatomegali. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan anti dengue IgG dan IgM pada pasien positif. Pasien didiagnosis akhir dengan febris hari ke 7 et causa DHF Grade II dengan ISK, ISPA, dan anemia. Pada hari ke 4 perawtan pasien diperbolehkan pulang dan mendapatkan obat pulang cefixime 2 x200mg dan vitamin B kompleks 1x1.
Seorang Laki-Laki 46 Tahun dengan Diabetes Melitus dan Ulkus Pedis DM Sinsitra: Laporan Kasus
Aulia Nur Rokhmah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Hiperglikemia adalah suatu kondisi medis berupa peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal yang menjadi karakteristik beberapa penyakit terutama diabetes melitus. Ulkus kaki diabetik adalah luka kronik pada daerah di bawah pergelangan kaki, yang meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan mengurangi kualitas hidup pasien. Kami melaporkan kasus Diabetes Mellitus dan Ulkus DM pada seorang laki-laki berusia 46 tahun. Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat dengan keluhan utama mual, makan minum tidak enak semenjak 2 hari SMRS dengan tekanan darah saat datang 121/89 mmHg, nadi 115x, pernafasan 20x, suhu 37,1°C, SpO2 97% free air. Pasien mengaku ada riwayat DM sebelumnya. Selanjutnya pasien diobservasi di Instalasi Gawat Darurat. Pada pemeriksaan darah menunjukan kadar Gula Darah Puasa 399 mg/dL.
Sirosis Hepatis dengan Melena dan Ascites
Lina Amalia Rahmawati;
Nur Hidayat
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sirosis hepatis merupakan suatu keadaan patologis yang menggambarkan tahap akhir proses fibrosis hepatik yang berlangsung progresif. Di seluruh dunia sirosis hepatis menempati urutan ketujuh penyebab kematian. Gejala sirosis hepatis terdiri dari fase kompensata dan dekompensata. Stadium awal sirosis sebagian besar asimptomatik, sehingga seringkali ditemukan tidak sengaja saat dilakukan pemeriksaan fisik. Anamnesis, pemeriksaan fisik yang baik dan pemeriksaan penunjang yang mendukung kecurigaan sirosis hepatis sangat diperlukan. Tn. L, 49 tahun datang ke instalasi gawat darurat RSUD Karanganyar dengan keluhan muntah darah dan sesaat sebelum datang ke IGD. Muntah darah berwarna merah segar dan sering kambuh – kambuhan. Pasien mengatakan kencing seperti warna teh dan merasa perutnya yang semakin membesar sejak satu tahun yang lalu, semakin terasa begah. Ditemukan sklera ikterik, shifting dullness positif, hasil HbsAg reaktif, anemia normokromik normositik dan kesan pengecilan hepar dengan splenomegali pada pemeriksaan USG. Prinsip terapi pada sirosis hepatis yaitu untuk mengurangi progresifitas penyakit berupa menghindarkan kerusakan hati lebih lanjut, pencegahan, dan penanganan komplikasi.