cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
PENGEMBANGAN MODUL GEOGRAFI SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA KD 3.6 MENGANALISIS HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN SEBAGAI AKIBAT DARI DINAMIKA HIDROSFER DENGAN MODEL 4D SETYANA PURWAHYUNINGTYAS, DESY
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan hasil wawancara dengan guru geografi di SMAN 1 Gondang Mojokerto, diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran geografi di kelas X IIS guru hanya menerapkan metode ceramah dengan menggunakan media papan tulis, guru tidak menggunakan buku khusus geografi (buku paket, LKS, dsb.) dan hampir seluruh siswa tidak memiliki buku pegangan geografi. Berdasarkan nilai ulangan harian pada mata pelajaran geografi bab hidrosfer diketahui bahwa nilai rata-rata siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya penggunaan buku dalam kegiatan pembelajaran, sehingga dengan adanya penggunaan buku diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul geografi yang layak sebagai bahan pembelajaran kontekstual pada KD 3.6 menganalisis hubungan antara manusia dengan lingkungan sebagai akibat dari dinamika hidrosfer di kelas X SMA Negeri 1 Gondang Mojokerto; mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan modul dan siswa yang menggunakan modul, mengetahui respon siswa terhadap penggunaan modul geografi dalam pembelajaran, mengetahui aktivitas siswa selama menggunakan modul. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan 4D yang diadaptasi dari model pengembangan 4D oleh Thiagarajan. Penelitian pengembangan ini hanya melakukan tiga tahap yaitu Define, Design, dan Develop, tahap ke empat yaitu Disseminate tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IIS SMAN 1 Gondang Mojokerto terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang masing-masing berjumlah 31 siswa, kedua kelas tersebut memiliki tingkat kognitif yang sama hal ini berdasarkan hasil uji independent sample t-test dengan Sig.(2-tailed) sebesar 0,356 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara nilai pre-test siswa pada kelas kontrol dan eksperimen. Data dikumpulkan melalui wawancara tidak terstruktur, angket, observasi partisipatif, test, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul geografi yang dikembangkan oleh peneliti layak untuk digunakan, hal ini berdasarkan hasil validasi rata-rata oleh peneliti mendapatkan presentase sebesar 74,98%. Hasil uji coba terbatas pada 31 siswa menunjukkan bahwa penggunaan modul geografi dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, melalui uji independent sample t-test  diketahui bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol dalam pembelajaran, hasil uji tersebut menunjukkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000, maka nilai ρ < α ; 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Penggunaan modul dalam pembelajaran mendapatkan respon yang sangat baik dengan presentase sebesar 83,21%. Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran menggunakan modul berjalan sangat baik dengan presentase 83,05%. Kata Kunci: modul geografi, materi hidrosfer, pembelajaran kontekstual.
PENGEMBANGAN MODUL GEOGRAFI SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA KD 3.6 MENGANALISIS HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN SEBAGAI AKIBAT DARI DINAMIKA HIDROSFER DENGAN MODEL 4D SETYANA PURWAHYUNINGTYAS, DESY
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan hasil wawancara dengan guru geografi di SMAN 1 Gondang Mojokerto, diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran geografi di kelas X IIS guru hanya menerapkan metode ceramah dengan menggunakan media papan tulis, guru tidak menggunakan buku khusus geografi (buku paket, LKS, dsb.) dan hampir seluruh siswa tidak memiliki buku pegangan geografi. Berdasarkan nilai ulangan harian pada mata pelajaran geografi bab hidrosfer diketahui bahwa nilai rata-rata siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya penggunaan buku dalam kegiatan pembelajaran, sehingga dengan adanya penggunaan buku diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul geografi yang layak sebagai bahan pembelajaran kontekstual pada KD 3.6 menganalisis hubungan antara manusia dengan lingkungan sebagai akibat dari dinamika hidrosfer di kelas X SMA Negeri 1 Gondang Mojokerto; mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan modul dan siswa yang menggunakan modul, mengetahui respon siswa terhadap penggunaan modul geografi dalam pembelajaran, mengetahui aktivitas siswa selama menggunakan modul. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan 4D yang diadaptasi dari model pengembangan 4D oleh Thiagarajan. Penelitian pengembangan ini hanya melakukan tiga tahap yaitu Define, Design, dan Develop, tahap ke empat yaitu Disseminate tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IIS SMAN 1 Gondang Mojokerto terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang masing-masing berjumlah 31 siswa, kedua kelas tersebut memiliki tingkat kognitif yang sama hal ini berdasarkan hasil uji independent sample t-test dengan Sig.(2-tailed) sebesar 0,356 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara nilai pre-test siswa pada kelas kontrol dan eksperimen. Data dikumpulkan melalui wawancara tidak terstruktur, angket, observasi partisipatif, test, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul geografi yang dikembangkan oleh peneliti layak untuk digunakan, hal ini berdasarkan hasil validasi rata-rata oleh peneliti mendapatkan presentase sebesar 74,98%. Hasil uji coba terbatas pada 31 siswa menunjukkan bahwa penggunaan modul geografi dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, melalui uji independent sample t-test diketahui bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol dalam pembelajaran, hasil uji tersebut menunjukkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000, maka nilai ρ < α ; 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Penggunaan modul dalam pembelajaran mendapatkan respon yang sangat baik dengan presentase sebesar 83,21%. Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran menggunakan modul berjalan sangat baik dengan presentase 83,05%. Kata Kunci: modul geografi, materi hidrosfer, pembelajaran kontekstual. Abstract Based on interviews with geography teachers in Gondang Senior High School, it was known that teachers simply applied the lecture method using a whiteboard media in learning activities in the class X IIS, teachers did not use special books of geography (textbooks, worksheet, etc.) and most of the students did not have the geography handbook. Based on score test of geography in hydrosphere materials, it was known that the rated still in under of minimal completeness criteria (75). This research was based on the problem of the less use of the book in learning activities. By using books, students are expected to be more active in learning activities. This research aimed to develop a viable geography module as contextual learning materials on KD (basic competence) 3.6, such as, (1) to analyze the relationship between humans and the environment as a result of the dynamics of the hydrosphere in class X SMA Negeri 1 Gondang Mojokerto, (2) to determine differences in learning outcomes of students who did not use the module and students who used the module; (2) to know the students’ response of using of modules in geography learning; (3) to determine the activities of the students in using the module. The method of this research was a research and development using 4D model of development adapted from the Thiagarajan’s development model of 4D. This research was conducted in three stages, such as Define, Design, and Develop, the fourth stage of Disseminate was not used because of time and cost. The subjects were students of class X IIS SMAN 1 Gondang Mojokerto consisting of experimental classes and control classes, each of which were 31 students, both of these classes have the same cognitive level based on the result of independent sample t-test that Sig.(2-tailed) was 0,356, it showed that there was no difference between the pre-test score of the control classes and experimental classes. Data were collected through unstructured interviews, questionnaires, participant observation, testing, and documentation. The result showed that the geography module developed by researchers was not appropriate to be used based on validation results on average by researchers was 74,98%. The test result limited to 31 students showed that the use of module in the geography learning could improve students’ learning outcomes. By using the test of independent sample t-test, it was known that there was a difference between students’ learning outcomes in the experimental class and control class in learning activities. The test result showed that value of Sig.(2-tailed) was 0,000, then the value was ρ < α; 0,000<0,05,. Therefore, H0 rejected and H1 was accepted. The use of the learning modules is good response with a percentage of 83,21%. The activities of students during the learning activities using the module is good with a percentage of 83,05%. Keywords: geography module, hydrosphere, contextual learning.
KAJIAN ALIH FUNGSI LAHAN TAMBAK DI KECAMATAN MANYAR KABUPATEN GRESIK MASBAKHA, NUNING
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): Volume 04 Nomor 01 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Alih fungsi lahan tambak ke non tambak terus terjadi secara progresif dan mengancam keberlanjutan pertanian di Kecamatan Manyar. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Manyar pada lahan pertanian tambak yang mengalami perubahan penggunaan lahan dengan menggunakan citra satelit google earth pada tahun 2005, 2010 dan 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) tren perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik tahun 2005, 2010 dan 2016, 2) nilai lahan tambak yang beralih fungsi ke non tambak di Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, 3) dampak sosial ekonomi akibat alih fungsi lahan pertanian tambak di Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lahan yang beralih fungsi dengan jumlah sampel sebanyak 66 lahan berdasarkan peta sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner, wawancara, dokumentasi dan data keruangan. Analisis data yang digunakan adalah analisis keruangan melalui citra google earth dan deskriptif kuantitatif melalui skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren perubahan lahan di Kecamatan Manyar tahun 2005, 2010 dan 2016 adalah berpola perembetan memanjang atau linier. Perubahan cenderung lebih cepat terjadi pada lokasi lahan yang berada di sepanjang jalur transportasi dengan kecendrungan perubahan lahan adalah untuk bangunan komersial seperti kawasan industri pergudangan. Nilai lahan tambak yang beralih fungsi baik dari harga lahan, lokasi lahan, produktivitas lahan dan biaya operasional lahan adalah kategori tinggi dengan total bobot skor yang didapatkan adalah sebesar 913. Nilai lahan yang tinggi adalah terkait dengan tren perubahan lahan yang terjadi di Kecamatan Manyar yang bukan lagi untuk tambak namun non tambak dengan orientasi nilai lahan yang utama adalah pada harga dan lokasi. Dampak sosial-ekonomi akibat alih fungsi lahan adalah responden mendapat pekerjaan baru di luar sektor  tambak yaitu 54,55% pada sektor perdagangan dan 22,73% pada sektor jasa, peningkatan kesempatan berusaha di luar sektor tambak sebesar 54,54% responden mendapat kesempatan membuka usaha baru dan peningkatan pendapatan dari rata-rata pendapatan sebesar Rp.6.273.136  menjadi Rp.6.618.181 setelah alih fungsi lahan terjadi.   Kata kunci: Alih fungsi lahan, nilai lahan, dampak sosial ekonomi.   Abstract   The transfer function of fishpond to nonfishpond are continues to progressively and threaten the sustainability of agriculture in Manyar Sub-district. This research have been conducted in the Manyar Sub-District on fishpond land who undergoing the change of land use, using Google Earth satellite images in 2005, 2010 and 2016. The aim of this study  to determine 1) the trend of the change of land use in the Manyar Sub-District, Gresik in 2005, 2010 and 2016, 2) the value of fishpond land who changed into non fishpond land in the Manyar Sub-district Gresik, and 3) the socio-economic impacts due to land transfer function of agricultural fishponds in Manyar Sub-District, Gresik. This research is a survey research. The population in this study were all transferred-function-land with a total sample of 66 lands based on map sampling. The data collection techniques used were questionnaires, interviews, documentation and spatial data. Analysis of the data used was the spatial analysis through google earth imagery and descriptive quantitative through the  scoring. The results showed that the trend of land transfer function in Manyar sub-district in 2005, 2010 and 2016 have a pattern of elongated or linear spreading. The changes are more fast on the land sites where located along the transportation lines with the change of the tendency of the land transfer function for commercial buildings such as warehousing industrial areas. The value of transferred-function- agricultural land including the price of land, the location of the land, the productivity of land, and the operational cost of land is high with a total of score 913.The  high land values are associated with the trend of the change of land use occurred in Manyar Sub-District is no longer for fishpond to nonfishpond with the orientation of the mainland values are on the  price and location. The social-economic impacts because of the land transfer function  are respondents getting new jobs outside the fishpond sector is 54.55% for trade sectors and 22.73% for service sectors, the business increase in outer the fishpond sector in the amount of 54.45% respondents getting opportunity to make new business and the income increase of mean income from Rp.6.273.136 to Rp.6.618.181 after  the land transfer function happens.   Keywords: Land transfer function, land value, social-economic impacts.
DAMPAK BEROPERASINYA JEMBATAN SURAMADU TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN KONDISI LINGKUNGAN MASYARAKAT DESA KAMAL MADURA KURNIAWATI, SELLA
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Jembatan Suramadu merupakan jembatan yang menghubungkan Pulau Madura dengan Pulau Jawa. Meningkatnya pengguna Suramadu pada tahun 2011 sebanyak 4.992.666 roda 2 dan pada tahun 2013 sebanyak 5.491.933 roda 2, menyebabkan penurunan penumpang di Pelabuhan Kamal yaitu pada tahun 2011 berjumlah 1.796.316 jiwa dan pada tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 1.204.838 jiwa. Penurunan jumlah penumpang kapal Ferry menyebabkan Pelabuhan Kamal Madura menjadi sepi dan menyebabkan perubahan pada kondisi sosial-ekonomi dan kondisi lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak beroperasinya Jembatan Suramadu terhadap kondisi sosial-ekonomi dan kondisi lingkungan masyarakat Desa Kamal Madura. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survey. Lokasi penelitian yaitu Desa Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan Madura. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 843 terdiri dari pedagang dan jasa angkutan umum. Sampel yang digunakan sebanyak 89, sedangkan cara penentuan responden adalah proporsional sampling yaitu 34 sampel pedagang dan 55 sampel jasa angkutan umum. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan pedoman wawancara dan teknik analisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak beroperasinya Jembatan Suramadu menyebabkan; terjadi perubahan pada kondisi sosial yakni jenis lapangan pekerjaan di Desa Kamal tetap, namun terdapat penurunan pada jumlah pekerjanya terutama pada profesi pedagang sebesar 76% dan jasa angkutan umum sebesar 33%. Terjadi perubahan pada kondisi ekonomi yakni terdapat penurunan pendapatan. Pendapatan pedagang yang dulunya sebesar Rp.6.750.000–Rp.8.749.999 menurun menjadi Rp.750.000–Rp.2.749.999 /bulan. Pendapatan jasa angkutan umum yang dulunya sebesar Rp.2.700.000–Rp.3.149.999 menurun menjadi Rp.1.350.000–Rp.1.799.999 /bulan. Terjadi perubahan pada kondisi lingkungan yakni terdapat penurunan pada kualitas lingkungan seperti pembangunan kios pedagang, toilet, tempat parkir dan penerangan jalan yang tidak terkontrol, penumpukan sampah dipinggir pantai, pengurangan jumlah dermaga kapal. Kondisi jalan pada saat ini di area pelabuhan sudah lebih baik dari sebelumnya, tidak ada lagi antrean penumpang dan tidak ada lagi kemacetan. Kata Kunci : Jembatan Suramadu, kondisi sosial-ekonomi, kondisi lingkungan Abstract Suramadu Bridge is a bridge which connects Madura Island and Java Island. The increasing of Suramadu users in 2011 was 4.992.666 motorcycles and in 2013 increased to 5.491.933 motorcycles. It leads a decreasing of passenger in Kamal Harbor from 1.796.316 people in 2011 become 1.204.838 people in 2013. This incident makes Kamal Harbor becomes deserted and causes changes in social-economy aspect and environmental condition at Kamal Village. The goals of this study is to know the impacts of Suramadu Bridge Operation to social-economy and environmental condition of Kamal Village’s society, Madura. The type of this research is survey. This research is located in Kamal Village, Kamal District, Bangkalan Regency, Madura. Populations of this study are 843 people who come from some professions such as trader and public transportation service. Samples that used are 89 people, and the way to decide the respondents is using proportional sampling by 34 samples of traderss and 55 samples of public transportation service. The technique of collecting data is by interviewing the respondents and analyzing it using descriptive quantitative analysis by percentage. The result of this research shows that the Suramadu Bridge operation causes : changes in social condition, the work field in Kamal village is still the same, but the number of workers is decreased especially for traders around 76% and public transportation services around 33%; changes in economic aspect that income per capita decreased from around Rp 6.750.000 – Rp 8.749.999 become Rp 750.000 – Rp 2.749.999 per month, changes in enviromental condition causes enviromental degradation such as uncontrolable establishment of shops, toilet, parking area and street lighting, cumulation trash on side of the beach, and reduction of ship’s quays number. The condition of the road in harbor area nowadays is better than before, there is no passengers queue anymore and no more traffic jam. Keywords: Suramadu Bridge, social-economy condition, environmental condition.
ANALISIS FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FERTILITAS DI KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO PERMATA ALIVIONA, GHILANG
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA FERTILITAS DI KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO Nama : Ghilang Permata Aliviona NIM : 12040274223 Program Studi : S-1 Pendidikan Geografi Jurusan : Geografi Fakultas : Ilmu Sosial dan Hukum Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Dr. Ketut Prasetyo, M.S. Masalah kependudukan merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi hampir semua Negara berkembang di dunia. Perubahan penduduk dipengaruhi tiga komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (Mortalitas), dan perpindahan (Migrasi). Kelahiran adalah faktor utama yang menyebabkan pertambahan jumlah penduduk. Pada tahun 2014, Kecamatan Jabonmerupakan salah satu wilayah yang memiliki “Angka Crude Birth Rate” (CBR) tertinggi dibanding kecamatan-kecamatan laindi Sidoarjo. Nilai CBR Kecamatan Jabon sebesar 26,75. Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan CBR Kabupaten Sidoarjo. Prevalensi peserta KB 80,06%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingginya fertilitas di Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan keruangan untuk memecahkan masalah kependudukan. Analisis penelitian didasarkan pada data primer dan diuji secara statistik menggunakan persamaan regresi logistik berganda. Sampel penelitian ini adalah wanita berstatus kawin yang berusia 15 – 49 tahun berjumlah 214 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling yang tersebar di wilayah Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan “Cross Sectional”. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dengan uji chi square menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara usia perkawinan pertama (p = 0,000 < α = 0,05), tingkat pendidikan (p = 0,000 < α = 0,05) dan tingkat pendapatan keluarga (p = 0,000 < α = 0,05) terhadap tingginya fertilitas di Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo.Berdasarkan hasil menggunakan uji regresi logostik berganda secara bersama – sama diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi adalahfaktortingkat pendidikan dengan nilai Exp. (B) sama dengan 0,202. Kata kunci : Fertilitas,Usia Perkawinan Pertama, Tingkat Pendidikan, Tingkat Pendapatan Keluarga, Lama Penggunaan Alat Kontrasepsi . ABSTRACT THE ANALYSIS OF FACTORS THAT INFLUENCE THE FERTILITY RATE OF KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO Name: Ghilang Permata Aliviona Reg. Number: 12040274223 Study Program: Geography Education Subject: Geography Faculty: Social Sciences and Law Institution: State University of Surabaya Advisor: Dr. Ketut Prasetyo, M.S. Population problem is one of problems faced by almost developing countries in the world. Population changes are influenced by three demographic factors. They are fertility, mortality, and migration. Fertilityis the main factor that leads to population growth. In 2014, Jabon district has the highest "Crude Birth Rate" (CBR) value than all districts in Sidoarjo. Jabon’s CBR value is equal to 26,75. This value is evenhigher than Sidoarjo’s. The Prevalence of the participant of KB is80.06%. The goal of this study is to determine factors that influence fertility rate in Sidoarjo. This observation uses spatial approach to solve population problem. The analysis is based on primary data and testedstatistically using binary logistic regression. Therespondenses for this reseach are 214 samples in total and an married women in the age around 15 – 49 years 0ld were chosen. Samples are taken using Proporsional random sampling around Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. The research plan in this research uses "Cross Sectional" plan with data accumulation techniques using interview and documentation. Research results with the chi square test showed that there was significant influence between the first marriage age (p = 0,000 < α = 0,05), education level (p = 0,000 < α = 0,05), and family income (p = 0,000 < α = 0,05) against the fertility rate of Kecamatan Jabon Kabupatan Sidoarjo. Based on binary regression analysis, the most influencing variable is Education levelwith Exp. (B) is equal to 0,202. Keywords: Fertility, First Marriage Age, Level of Education, Family Income, Long term use of Contraceptives
PENGEMBANGAN MEDIA MOBILE LEARNING (M-LEARNING) PADA MATERI MITIGASI DAN ADAPTASI BENCANA ALAM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MIA SMA NEGERI 3 NGANJUK FIKRIYAH, SHOHIHATUL
Swara Bhumi Vol 4, No 02 (2016): Volume 4 edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencapaian Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Kurikulum 2013 didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru, namun pada kenyataannya di SMA Negeri 3 Nganjuk pembelajaran berpusat pada guru yang lebih banyak menggunakan metode ceramah dan terbatas pada media visual seperti penggunaan proyektor. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Oleh karena itu diperlukannya inovasi pengembangan media yang menarik untuk mengatasi permasalahan dalam belajar siswa, salah satunya adalah pengembangan media M-Learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) menghasilkan media M-Learning yang layak, 2) mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan media M-Learning dengan siswa yang tidak menggunakan media M-Learning, 3) mengetahui keaktifan guru, dan 4) mengetahui keaktifan siswa. Jenis penelitian ini merupakan Quasi Experimental Design dengan bentuk Nonequivalent Control Design. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diambil dari kelas lintas minat X MIA. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, validasi, tes, dan angket. Teknik analisis data meliputi analisis kelayakan media yang divalidasi oleh ahli media, ahli materi dan praktisi geografi, analisis butir soal, analisis perbandingan hasil belajar menggunakan uji t, analisis keaktifan siswa dan guru menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kelayakan media M-Learning  mendapatkan nilai dari ahli media 84%, ahli materi 85%, praktisi geografi 88,2% yang semua termasuk dalam kategori sangat layak, 2) hasil belajar siswa yang menggunakan media M-Learning  berbeda secara signifikan dengan siswa yang tidak menggunakan media M-Learning diketahui dari Uji t Independent Sample memperoleh nilai p (0,001) < α (0,05), 3) keaktifan guru pada pembelajaran yang menggunakan media M-Learning mengalami peningkatan dari pertemuan 1 ke pertemuan 2 yaitu 91,7% dan 100% termasuk dalam kategori “sangat aktif”, 4) keaktifan siswa pada pembelajaran yang menggunakan media M-Learning mengalami peningkatan dari pertemuan 1 ke pertemuan 2 yaitu 62,5% dan 87,5% termasuk dalam kategori “aktif” dan “sangat aktif”. Kata Kunci: Media M-learning, Kelayakan Media, Hasil Belajar Siswa.
PENGARUH SANITASI RUMAH DAN POLUSI UDARA TERHADAP KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI KECAMATAN NGARIBOYO KABUPATEN MAGETAN KRISTA PRAJWALITA, MOLECGIA
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  PENGARUH SANITASI RUMAH DAN POLUSI UDARA TERHADAP KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI KECAMATAN NGARIBOYO KABUPATEN MAGETAN Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di negara berkembang. Data yang diperoleh dari Dinkes Magetan, selama 3 tahun terakhir penyakit ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling tinggi di Kabupaten Magetan, khususnya Kecamatan Ngariboyo yang menurut data tahun 2015 penderitanya berjumlah 147 jiwa, dengan prevalensi sebesar 0,33%. Penderitanya adalah para balita, yang secara fisik masih rentan terhadap penyakit. Peningkatan jumlah kasus ISPA di Kecamatan Ngariboyo kemungkinan salah satu faktor adalah adanya 81 industri penyamakan kulit yang berada di wilayah tersebut. Hipotesis penelitian ini adalah kasus ISPA yang disebabkan oleh limbah dari industi penyamakan kulit yang berada di Kecamatan Ngariboyo mengeluarkan bau yang menyengat sehingga berpotensi mengakibatkan polusi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola persebaran penderita ISPA, mengetahui pengaruh sanitasi rumah dan polusi udara  terhadap kejadian ISPA dan mengetahui faktor manakah dari sanitasi rumah dan polusi udara yang paling berpengaruh terhadap kejadian ISPA di Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan.  Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan menggunakan rancangan survei case control, yaitu pada setiap kasus ISPA dicarikan control, yaitu responden yang tidak sakit atau terjangkit ISPA. Lokasi dalam penelitian ini adalah Kecamatan Ngariboyo di Kabupaten Magetan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel berdasarkan prevalensi penyakit ISPA dari Dinas Kesehatan Magetan diperoleh 47 kasus ISPA dan dicarikan kontrolnya 47 tidak sakit. Variabel yang dikendalikan adalah jarak rumah dengan puskesmas dan teknik analisis data dengan menggunakan analisis tetangga terdekat (nearest neighbor analisis), chi-square,dan uji regresi logistic ganda. Hasil analisis dengan menggunakan analisis tetangga terdekat (nearest neighbor analisis) pola persebarannya dalam kategori acak/random dengan perhitungan sebesar 2,079056. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kondisi sanitasi rumah terhadap kejadian ISPA di yaitu sebesar 2,470 dengan (p=0,116 > α=0,05), sedangkan terdapat pengaruh yang signifikan antara polusi udara terhadap kejadian ISPA sebesar 5,713 dengan (p=0,017 < α=0,05). Hasil menggunakan uji regresi logistik berganda secara bersama-sama diketahui bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian ISPA di Kecamatan Ngariboyo Kabupaten Magetan  adalah faktor penggunaan obat nyamuk dengan nilai  (p=0,001 < α=0,05). Kata kunci: ISPA, sanitasi rumah, polusi udara   THE INFLUENCE OH HOUSE SANITATION AND AIR POLLUTION TOWARDS UPPER RESPIRATORY TRACT INFECTION TO TODDLER IN NGARIBOYO SUBDISTRICT, MAGETAN REGENCY The Upper Respiratory Tract Infection is one of the prominent sanitary problems in developing country. Based on the data of Health Official in Magetan, in the last three years this Upper, the Respiratory Tract Infection was one of the  highest sanitary problem in Magetan Regency, especially for Ngariboyo Sub district, .the data on 2005 showed that the sufferer were about 147 people, by prevalence percentage of 0.33%. The sufferers were toddlers who had the susceptible physic towards the illness. The Increasing number of Upper Respiratory Tract Infection case in Ngariboyo Subdistrict, was caused by one of the probability factor was 81 industry of tannery in those area. The hypotheses of this study was Upper Respiratory Tract Infection case caused by waste of tanner industry in Ngariboyo sub district where was ejected sting smell that potentially caused air pollutant. The purpose of this study was for analyzing the influence of house sanitation and air pollution towards Upper Respiratory Tract Infection, and also the most influence factors of house sanitation and air pollution towards the case of Upper Respiratory Tract Infection in Ngariboyo Sub district, Magetan Regency.   The design of research was analytic survey using case control survey, for each of Upper Respiratory Tract Infection problems the respondents were suffers whowere not infected Upper Respiratory Tract Infection. Setting of this study was in Ngariboyo Sub district, Magetan Regency using purposive sampling technique. Sample were illness prevalent of Upper Respiratory Tract Infection from Health Official in Magetan that was gained 47 Upper Respiratory Tract Infection cases and looked for control for 47 people not suffering ISPA. The  controlled variable was the sufferers who lived in distance from with local government clinic, and the data analysis technique by using nearest neighbor analysis, chi-square, and double regression  logistic test. The results of the nearest naighbour analysis spearing pattern in random category, which account for 2.079056. The result by chi square test was not founded the significant influence between house sanitation condition towards Upper Respiratory Tract Infection case that was about 2,470 with (p=0,116 > α=0,05), whereas there was founded significant influence between air pollution toward Upper Respiratory Tract Infection case about 5,713 with (p=0,017 < α=0,05). The result using double logistic regression test simultaneously was known that the significant factor towards Upper Respiratory Tract Infection case in Ngariboyo Sub district, Magetan Regency is given by using mosquito coils with number  (p=0,001 < α=0,05).       Key word: Upper Respiratory Tract Infection, house sanitation, air pollution.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERNIKAHAN USIA MUDA DI KABUPATEN PROBOLINGGO BERBASIS CLUSTER ROSITA, MIA
Swara Bhumi Vol 4, No 02 (2016): Volume 4 edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pernikahan merupakan sarana untuk melanjutkan keturunan yang berkaitan dengan pertumbuhan penduduk terutama dalam hal fertilitas. Usia pernikahan yang rendah dari seorang wanita menyebabkan tingginya angka fertilitas. Pernikahan usia muda adalah pernikahan yang terjadi dibawah umur dari kematangan individu baik secara mental dan  fisik. Kabupaten Probolinggo memiliki angka tertinggi untuk pernikahan usia 17-19 tahun berstatus menikah (7,27%) dan pernah menikah (7,04%) di Jawa Timur, pada tahun 2015 terdapat 4602 orang melakukan pernikahan diusia kurang dari 20 tahun. Tingginya angka pernikahan usia muda ini memiliki berbagai dampak negatif bagi pelakunya. Pernikahan usia muda sangat rentan terhadap perceraian dan beresiko tehadap kondisi kesehatan wanita pelaku pernikahan karena kondisi organ reproduksi belum matang sehingga membahayakan untuk proses kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi pernikahan usia muda dan untuk mengetahui kecamatan-kecamatan yang masuk dalam cluster-cluster yang memiliki kemiripan karakteristik mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan usia muda di Kabupaten Probolinggo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei dengan analisis hasil penelitian berupa analisis cluster. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita yang melakukan pernikahan usia muda di Kabupaten Probolinggo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui dokumentasi dan wawancara kuesioner. Hasil penelitian melalui analisis cluster diketahui bahwa Kecamatan Sukapura, Krucil, Pakuniran, Kotaanyar, Paiton, Krenjengan, Pajarakan, Gending, Tegalsiwalan, Sumberasih, Wonomerto masuk dalam cluster pertama. Kecamatan Sumber, Kuripan, Gading, Besuk, Kraksaan, Tongas, Lumbang, masuk dalam cluster kedua, dan Kecamatan Bantaran, Leces, Banyuanyar, Tiris, Maron, Dringu,  masuk dalam cluster tiga. Tabel Anava menunjukkan bahwa variabel tingkat pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pernikahan usia muda di Kabupaten Probolinggo dengan nilai F tinggi 6,124 dan signifikan (S) 0,008 < 0,05. Variabel lain yang berpengaruh signifikan adalah tingkat pendidikan dengan nilai F tinggi 12,739 dan Signifikan (S) 0,000 < 0,05, kondisi ekonomi dengan nilai F tinggi 6,722 dan Signifikan (S) 0,006 < 0,05, keluarga dengan nilai F tinggi 7,786 dan Signifikan (S) 0,003 < 0,05, kondisi budaya dengan nilai F tinggi 8,031 dan Signifikan (S) 0,003 <  0,05, kondisi sosial dengan nilai F tinggi 14,843 dan Signifikan (S) 0,000 < 0,05. Variabel kondisi psikologis tidak berpengaruh dengan Signifikan > 0,05. Kata Kunci: pernikahan, pernikahan usia muda, analisis Cluster Abstract Marriage is a means to continue the descent, or in other words is gowing the population, especially fertility. The marriage conducted in the early age led to the high fertility rates. Early marriage is a marriage that is conducted under the age of maturity of an individual both mentally and physically. Probolinggo had the highest number of marriage  conducted in the age of 17-19 years old in East Java, in which (7.27%) were married, (7.04%) ever married. In 2015, there were 4602 people who were married at less than 20 years old. The high number of the marriage conducted in young age had variety of negative impacts for the couples. This led to divorce, it was also too risky for the women where immature reproductive organs  will be harmful for pregnancy process. The purpose of this study was to determine the factors that influenced Early marriage and to know the sub districts which belong to the clusters that had similar characteristics regarding factors that influenced Early marriage in Probolinggo. This study used survey method with the analysis of the research results in the form of cluster analysis. The populations in this study were women who performed Early marriage in Probolinggo. Data collection techniques in this research were documentation and interview in terms of questionnaire. The results of the study performs that Sukapura subdistrict, Krucil, Pakuniran, Kotaanyar, Paiton, Krenjengan, Pajarakan, Gending, Tegalsiwan, Sumberasih, wonomerto were the first cluster. Sumbersub district, Kuripan, Gading, Besuk, Kraksaan, Tongas, Lumbang were the second cluster, and Bantaran, Leces,  Banyuanyar, Tiris, Maron, Dringu were the third cluster. Meanwhile, the ANOVA table showed that variable of knowledge became the most  significant factor that influenced  Early marriage in Probolinggo with the F (7.786) and Significant (S) 0,000 < 0.05, economy with F (6.722) and Significant (S) 0,006 < 0.05, family with F (7.786) and Significant (S) 0.003 < 0.05, culture with F 8.031 and Significant (S) 0.003 < 0.05, social with F (14.843) and Significant (S) 0.000 < 0.05, while variable of psychology has no significant influence > 0.05.  Key Words: Marriage, Early marriage, Cluster Analysis 
PROFIL MASYARAKAT YANG BERALIH PROFESI DARI PETANI KE PENGRAJIN SHUTTLECOCK DI DESA SUMENGKO KECAMATAN SUKOMORO KABUPATEN NGANJUK NORFITRI YANA, FIFIA
Swara Bhumi Vol 4, No 02 (2016): Volume 4 edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Desa Sumengko merupakan daerah agraris yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Saat ini terjadi sebuah fenomena dimana masyarakat yang awalnya bekerja di sektor pertanian mulai beralih profesi menjadi pengrajin shuttlecock. Perkembangan industri kerajinan shuttlecock mempengaruhi berbagai segi kehidupan baik dalam segi sosial maupun ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil masyarakat yang beralih profesi dari petani ke pengrajin shuttlecock ditinjau dari kepemilikan lahan pertanian, umur, tingkat pendidikan, keterampilan, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan di Desa Sumengko Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian dilaksanakan di Desa Sumengko Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk. Populasi dalam penelitian ini berdasarkan data monografi desa Sumengko tahun 2016 yaitu masyarakat yang beralih profesi dari petani ke pengrajin yaitu 74 orang. Sumber data berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dengan pedoman kuesioner, observasi dan dokumentasi, untuk memperoleh data karakteristik masyarakat yang beralih profesi dari petani ke pengrajin shuttlecock. Analisis data menggunakan diskriptif persentase.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil masyarakat yang beralih profesi dari petani ke pengrajin shuttlecock di Desa Sumengko Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk ditinjau dari kepemilikan lahan pertanian sebesar 45,9% tidak memiliki lahan pertanian, sedangkan petani yang memiliki lahan pertanian sempit 0,2 ha – 0,4 ha sebesar 14,9%. Usia petani yang beralih profesi dari petani ke pengrajin shuttlecock adalah 51 – 60 tahun sebesar 37,8%. Pendidikan pengrajin adalah tamat SD sebesar 44,6%.  Keterampilan dalam membuat kerajinan shuttlecock memperoleh presentase sebesar 78,4%. Jumlah tanggungan keluarga rata-rata 4 orang sebesar 40,5%.  Pendapatan yang diperoleh dari pertanian sebelum beralih profesi menjadi pengrajin shuttlecock dalam setahun adalah Rp 6.000.001 – Rp 7.000.000  sebesar 37,8%, sedangkan pendapatan yang diperoleh dari sektor industri shuttlecock dalam sebulan adalah Rp 900.001 – Rp 1.000.000  sebesar 39,2 % atau Rp 10.000.000 – Rp 12.000.000 dalam setahun. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan dari industri kerajinan shuttlecock lebih tinggi dari sektor pertanian, sehingga banyak petani yang beralih mata pencaharian dari pertanian ke sektor industri kerajinan shuttlecock. Kata kunci: profil masyarakat, perubahan mata pencaharian, industri kerajinan shuttlecock.  Abstract                                 Sumengko Village is an agrarian area, whose people mostly work as farmers. Currently there was a phenomenon where people switched their jobas farmer to shuttlecock craftsmen. The development of shuttlecock craft industry affected both in social and economical aspects. The purpose of this study was to know the profiles of people who switched their jobas farmer to shuttlecock craftsmen from the ownership of farm field, age, education level, skill, the number of dependents and the incomes in Sumengko Village, Sukomoro Sub District, Nganjuk Regency. The research method used in this study was descriptive qualitative. The setting of the study was in Sumengko Village, Sukomoro Sub District, Nganjuk Regency. The population of the study was based on the monographs of Sumengko Village in 2016 were 74 people. Who switched their jobas farmer to craftsmen. The data were primary and secondary data. The data collection techniques were interview with questionnaires, observation and documentation to obtain the data about the characteristics of people who switched their jobas farmer to shuttlecock craftsmen. The data analysis was using percentage description. The result of the study showed that the profiles of people who switched their jobas farmer to shuttlecock craftsmen in Sumengko Village, Sukomoro Sub District, Nganjuk Regency seen from the ownership of farm field there was 45,9% with no farm field, where as the farmers who have narrow farm field 0,2 ha – 0,4 ha is 14,9%. The farmers’ age who switched their jobas farmer to shuttlecock craftsmen of was about 51 – 60 years old  or 37,8%. The education level of the craftsmen elementary school level 44,6%. The skill in making shuttlecock craftsmen obtained  percentage of 78,4%. The number of dependents was at average of 4 people 40,5%.  The income obtained from farming before they switch to shuttlecock craftsmen in a year which was Rp 6.000.001 – Rp 7.000.000  was 37,8%, where as the income obtained from shuttlecock industry in a month of Rp 900.001 – Rp 1.000.000 was 39,2 % or Rp 10.000.000 – Rp12.000.000 in a year. This shows that the income obtained from shuttlecock craft is higher than farming; therefore, there are many farmers who switched their jobas farmer to shuttlecock making industries. Keywords: people profiles, switch job, shuttlecock industries
PENGEMBANGAN MEDIA MAKET 3D SEBAGAI BAHAN AJAR PADA MATERI HIDROSFER DENGAN MODEL 4D UNTUK SISWA KELAS X SMA NOVAL M ALDJUFRI, GHANIY
Swara Bhumi Vol 4, No 02 (2016): Volume 4 edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pembelajaran, guru seharusnya mengerti bagaimana memberikan rangsangan terhadap siswa, sehingga siswa mencintai pembelajaran geografi dan lebih memahami materi yang diberikan oleh guru. Kajian materi geografi secara keruangan yang cukup luas akan membatasi guru dalam penyampaian materi tersebut. Keadaan demikian seharusnya guru menggunakan perantara atau media pembelajaran yang dapat mewakili objek tersebut, dengan menggunakan media pembelajaran guru akan terbantu dalam menyampaikan materi yang tidak bisa dibawa langsung oleh guru ke dalam kelas, selain itu media juga dapat merangsang fikiran, perasaan dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri sendiri, sesuai dengan tuntutan kurikulum serta analisis kebutuhan siswa, media sangat membantu dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru geografi SMA Negeri 7 Surabaya, pembelajaran yang dilakukan hanya menggunakan media power point saja. Hasil belajar siswa kelas X, siswa mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran, dengan bukti remedial sebanyak 2 kali untuk mencapai kompetensi yang diinginkan (standart KKM) yaitu 2,67 (66 - 70), sesuai dengan  tuntutan kurikulum 2013 (K13),  guru harus lebih kreatif dan inovatif dengan menggunakan media pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Media diharapkan mampu menunjang pembelajaran agar siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan, dengan menggunakan media maket 3D siswa dapat memahami dengan mudah bentuk dan ciri – cirinya, dan media maket 3D mampu merubah sesuatu yang abstrak menjadi real atau nyata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran Maket 3D yang layak untuk proses belajar mengajar geografi di SMA (Sekolah Menengah Atas). Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model pengembangan 4D yaitu tahap define (pendefinisisan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Kelayakan dilihat dari telaah ahli media dan materi, menggunakan instrumen yang diadaptasi dari Badan Standart Nasional Pendidikan  (BSNP) antara lain, lembar telaah ahli media dan materi. Media mengalami beberapa tahap revisi sebelum dinyatakan layak oleh ahli media dan ahli materi. Perbaikan dan penyempurnaan media dilakukan pada tahap validasi agar dihasilkan media yang layak digunakan sebagai penguat pemahaman materi Hidrosfer dalam pembelajaran geografi. Hasil penelitian ini, diperoleh bahwa media pembelajaran Maket 3D sangat layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran geografi pada kelas X SMA untuk materi hidrosfer. Berdasarkan penilaian ahli media dan materi yang mencapai persentase sebesar 80,96 %, dengan rincian nilai dari Ahli Media sebesar 85 % dan dari Ahli Materi sebesar 76,92 %.  Berdasarkan skala Likert yang diadopsi dari Riduwan angka 80,96 % termasuk pada range 80,01% - 100,00% sehingga termasuk dalam kriteria “Sangat Layak”. Kata kunci: media pembelajaran, maket 3D, Hidrosfer, kelayakan