cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSISTENSI INDUSTRI KERAJINAN KUNINGAN DI DESA BEJIJONG KECAMATAN TROWULAN KABUPATEN MOJOKERTO MARIFATUL.FAIZAH,
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Industri kerajinan kuningan merupakan salah satu usaha kecil yang ada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tahun 2005 tercatat ada 70 pengrajin dengan jumlah tenaga kerja   > 16 orang. Tahun 2015  tercatat ada 31 pengrajin dengan jumlah tenaga kerja <16 orang. Industri yang tetap berproduksi mengalami kendala dalam berbagai faktor, sedangkan  pengrajin yang menutup usahanya memutuskan berganti mata pencaharian. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui 1) karakteristik pengrajin. 2) faktor yang mempengaruhi eksistensi industri kerajinan kuningan dilihat dari modal, bahan baku, pemasaran, teknologi dan tenaga kerja di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian survey. Daerah penelitian adalah di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Populasi penelitian ini adalah 70 pengrajin yang terdiri dari 31 pengrajin yang bertahan dan 39 pengrajin yang berganti mata pencaharian di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, kuisioner dan dokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif.               Hasil penelitian menunjukkan  pengrajin yang bertahan  rata - rata usianya 49 tahun, sedangkan pengrajin yang berganti mata pencaharian rata - rata usianya 42 tahun. Lama usaha pengrajin yang bertahan rata – rata selama 18 tahun, sedangkan pengrajin yang berganti mata pencaharian rata - rata selama 9 tahun. Pengrajin yang paling banyak adalah laki – laki, dengan tingkat pendidikan lulusan SMP. Status pekerjaan paling banyak sebagai pekerjaan pokok. Faktor yang mempengaruhi eksistensi untuk pengrajin yang bertahan adalah modal sebesar (93,5%) menggunakan modal pribadi, bahan baku yang mudah berasal dari desa sendiri dan luar desa sebesar (74,2%). Pemasaran sebesar (64,5%) melalui distributor, teknologi semi modern dan gas sebesar (87,1%) dan tenaga kerja berasal dari  keluarga sendiri sebesar (54,8%). Faktor penyebab pengrajin berganti mata pencaharian adalah karena kesulitan pinjaman sebesar (14,1%), penurunan permintaan produk oleh distributor sebesar (25,6%), kenaikkan harga bahan baku limbah sebesar (20,5%), harga alat (gerinda) masih mahal sebesar (7,7%), dan  pengurangan jumlah karyawan sebesar (5,1%). Kata kunci: eksistensi, kerajinan kuningan, faktor Produksi industri     
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS USAHA TANI ANTARA KECAMATAN PETERONGAN DAN KECAMATAN MEGALUH KABUPATEN JOMBANG RIZAL BAKHRI, FAJRUR
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha tani padi sangat memerlukan air sebagai salah satu anasir lingkungan yang medukung. Kedekatan sawah sebagai tempat usaha tani padi dengan sumber air sangat penting. Kecamatan Megaluh merupakan kecamatan  di  Kabupaten  Jombang  yang  dilalui  oleh  Sungai Brantas, sedangkan Kecamatan Peterongan tidak dilalui Sungai Brantas  namun  demikian  kedua kecamatan tersebut memiliki produktivitas padi yang berbeda, sehingga diketahui ada faktor lain di luar ketersediaan air yang mempengaruhi produktivitas padi. Berdasarkan masalah tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usaha tani di Kecamatan Megaluh dan Kecamatan Peterongan. Populasi dalam penelitian  ini adalah satuan-satuan wilayah fungsional di Kecamatan Megaluh dan Kecamatan  Peterongan dengan  sampel  berupa  desa-desa.  Variabel  penelitian meliputi  intensitas  pemupukan,  intensitas  pemakaian pestisida, biaya produksi, luas lahan sawah, penyuluhan petani, pengalaman petani pendapatan petani,. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan berdasarkan persamaan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji regresi liner berganda di Kecamatan Megaluh diperoleh nilai adjust R square = 0,93 artinya ada keeratan hubungan antara variabel independen (bebas) dengan variabel dependen (terikat) sebesar 92,3%. Angka koeifisien determinasi menunjukkan bahwa besarnya pengaruh variabel bebas yang berkaitan dengan produktivitas padi hanya dapat menjelaskan 92,3% pengaruh terhadap variabel terikat, sedangkan 7,7% dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel bebas. Faktor-faktor lain yang dimungkinkan berpengaruh terhadap produktivitas padi disini adalah teknologi ataupun yang lainnya.       Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji regresi liner berganda diperoleh nilai adjust R square =0,564 artinya ada keeratan hubungan antara variabel independen (bebas) dengan variabel dependen (terikat) sebesar 56,4%. Angka koeifisien determinasi menunjukkan bahwa besarnya pengaruh variabel bebas yang berkaitan dengan produktivitas padi hanya dapat menjelaskan 56,4% pengaruh terhadap variabel terikat, sedangkan 43,6 % dipengaruhi oleh variabel lain di luar variabel bebas. Faktor-faktor lain yang dimungkinkan berpengaruh terhadap produktivitas padi disini adalah teknologi ataupun yang lainnya. Kata Kunci: usaha tani padi, faktor-faktor produksi , produktivitas padi             
KARAKTERISTIK PEMILIH PADA PEMILUKADA TAHUN 2015 DI KOTA BLITAR JAWA TIMUR HARIMURTI,
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilihan kepala daerah di Kota Blitar merupakan suatu proses demokratis yang sangat penting bagi warga Kota Blitar dalam menentukan Walikota Blitar untuk periode lima tahun kedepan, dimana kemajuan Kota  dan masyarakat Blitar akan di pengaruhi oleh pemimpin yang memahami kondisi masyarakat itu sendiri. Proses pemilukada Kota Blitar merupakan sesuatu yang sangat penting bagi warga Kota Blitar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pemilih dalam pemilukada tahun 2015 di Kota Blitar. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh warga Kota Blitar yang memiliki hak pilih dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (pemilukada) tahun 2015 di Kota Blitar, dengan jumlah responden adalah 399 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara menyebarkan instrumen penelitian yang berupa angket. Data yang diperoleh diuji menggunakan analisis cluster. Hasil penelitian melalui analisis cluster diketahui bahwa Kelurahan Sentul, Blitar, Tlumpu, Turi, Sukorejo, Plosokerep dan Sananwetan masuk dalam cluster pertama. Ngadirejo, Kauman, Tanggung, Dan Gedok masuk dalam cluster kedua, dan Kelurahan Kepanjenkidul, Bendo, Kepanjenlor, Pakunden, Karangsari, Tanjungsari, Klampok, Rembang, Karangtengah, dan Bendogerit masuk dalam cluster tiga. dengan melihat tabel Anova diketahui bahwa variabel usia berpengaruh signifikan terhadap karakteristik pemilih pada pemilukada tahun 2015 di Kota Bitar dengan nilai F tinggi 13.975 dan signifikan p(sig)= 0,00<0.05. Variabel lain yang berpengaruh signifikan adalah tingkat penghasilan dengan nilai F tinggi 4.314 dan Signifikan p(sig) = 0,02<0,05, tingkat partisipasi pemilih nilai F tinggi 11.572 dan Signifikan p(sig) = 0,00<0,05, intensitas sosialisasi dengan nilai F tinggi 15.738 dan Signifikan p(sig) = 0,00<0,05, kecenderungan memilih dengan nilai F tinggi 5.453 dan Signifikan p(sig) = 0,01<0,05, keterlibatan dalam partai politik dengan nilai F tinggi 8.879 dan Signifikan p(sig) = 0,00<0,05 agama calon dengan nilai F tinggi 5.113 dan Signifikan p(sig) = 0,02<0,05 dan idiologi calon dengan nilai F tinggi 4.157 dan Signifikan p(sig) = 0,03<0,05 . Variabel pendidikan, dan politik uang tidak berpengaruh secara Signifikan karena >0,05.    Kata Kunci: karakteristik pemilih pada pemilukada, analisis Cluster   Abstract The election of district leader in Blitar city is a process of democracy that is very important for the citizens of Blitar in establishing The Mayor of Blitar for next five year period. Which is the progress of Blitar will be influenced by this Mayor who is understanding the condition of Blitar society. So that, this election become something important for Blitar citizens.  The purpose of this research is to know the characteristic of voters in Blitar election in 2015. The research method used in this research is quantitative descriptive.  The populations of this research are all Blitar citizens who have right as a voter in Blitar Election 2015.  The total numbers of respondents are 399. Taking data is done by giving questionnaire to the voter.  And data Is determined by using Cluster Analysis. The result of the research By Cluster Analysis is known that The Village of Sentul, Blitar, Tlumpu, Turi, Sukerejo, Plosokerep, and Sananwetan belong to first Cluster where as Ngadirejo, Kauman, Tanggung, and Gedok belong to second Cluster and Kepanen Kidul, Bendo, Kepanen Lor, Pakunden, Karangsari, Tanjungsari, Klampok, Rembang, Karang Tengah and Bendogerit, belong to third Cluster. Beside that, by checking Anova Table, known that age variable give significant influence to the characteristic of voter in Blitar election 2015 by the level of Frequency  13.975 n Significant p(sig) = 0,00 < 0.05.  other variable that give impact is Income level by the level of Frequency  is  4.314 and Significant p(sig) = 0.02<0. 05.  Participation of voters has level of Frequency  11.573 and Significant p(sig) = 0.00<0.05.  Socialization intensity level of Frequency  15.738 and significant p(sig) = 0.00<0.05,  Vote tendency with level of Frequency  5.453 and Significant p(sig) = 0.01 <0.05,  Involvement in political party, by level of Frequency  8.879 and Significant p(sig) = 0.00<0.05,   Religion of candidate, by level of Frequency  5.113 and Significant p(sig) = 0.02<0.05,   and The ideology of candidate, by level of Frequency  4.157 and Significant p(sig) = 0.03<0.05.  Education and Money politic variable don’t give big effect because > 0.05. Keyword : Characteristic of Voters, district election and  analysis Cluster.
FAKTOR - FAKTOR YANG MEYEBABKAN TINGGINYA ANGKA KELUARGA MISKIN DI DESA SUMBERJO KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG ROUDLOTUL K, LILIK
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FAKTOR- FAKTOR YANG MENYEBABKAN TINGGINYA ANGKA KELUARGA MISKIN DI DESA SUMBERJO KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG Lilik Roudlotul Kholisoh Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya lilikroudlotul@gmail.com   Dra. Wiwik Sri Utami, MP.   Dosen Pembimbing Mahasiswa Abstrak Kesejahteraan merupakan tujuan dari pembangunan nasional. Permasalahan peningkatan kesejahteraan masyarakat masih belum dapat diatasi secara tuntas dan merata di Indonesia. Kondisi ini tercermin pula pada angka keluarga pra sejahtera di Kecamatan Wonosalam pada tahun 2015. Kecamatan Wonosalam memiliki rata-rata terendah angka keluarga pra sejahtera sebesar  17,42% dengan jumlah 180 kepala keluarga, sedangkan Desa Sumberjo merupakan desa yang memiliki rata-rata tertinggi keluarga pra sejahtera di Kecamatan Wonosalam sebesar 49,01% dengan jumlah 617 kepala keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor lingkungan yang menyebabkan tingginya angka keluarga miskin, serta untuk mengetahui karakteristik keluarga miskin di Desa Sumberjo Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.    Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei, sebagai populasi seluruh kepala keluarga miskin di Desa Sumberjo yang berjumlah 617 kepala keluarga . Sampel dalam penelitian ini adalah 100 kepala keluarga dengan rincian 45 kepala keluarga dari Dusun Sumberjo, 32 kepala keluarga dari Dusun Babatan, dan 23 kepala keluarga dari Dusun Sidolegi yang ditentukan menggunakan systematic random sampling. Tehnik pengumpulan data yaitu melalui dokumentasi dan wawancara. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan persentase.    Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor sosial yang menyebabkan tingginya angka keluarga miskin di Desa Sumberjo  adalah mata pencaharian kepala keluarga sebagai buruh tani yaitu sebanyak 48 kepala keluarga atau sebesar 19,92%. Kepala keluarga miskin yang memiliki pekerjaan sebagai buruh tani memiliki pendapatan yang rendah yaitu sebesar Rp.30.000,00 perhari, sedangkan pekerjaan sebagai buruh tani hanya dapat dilakukan saat masa tanam dan masa panen saja sehingga kepala keluarga harus mencari pekerjaan lain untuk memperoleh pendapatan disaat bukan masa tanam dan masa panen. Faktor ekonomi yang dominan menyebabkan tingginya angka keluarga miskin adalah ketidak pemilikan lahan pertanian. Kepala keluarga miskin sebesar 31,54% atau sebanyak 76 kepala keluarga tidak memiliki lahan pertanian, namun hanya memiliki lahan pekarangan yang digunakan sebagai bangunan rumah saja sehingga kepala keluarga miskin yang tidak memiliki lahan pertanian menyebabkan mata pencaharian kepala keluarga miskin sebagai buruh tani. Faktor lingkungan dalam penelitian ini bukan merupakan faktor yang menyebabkan tingginya angka keluarga. Kata kunci: Faktor sosial, faktor ekonomi, faktor lingkungan,keluarga miskin. Abstract    Welfare is a goal of national development. Problems of society prosperity increase is not completely resolved and evenly in Indonesia. Wonosalam having the lowest average number of pre-prosperous family prosperous of 17,42 % with the number of 180 of households, while Sumberjo is village having an average highest of pre-prosperous family in wonosalam of 49,01 % with the number of 617 of households. This research aims to determine the social factors , economic factors and environmental factors that causes the high number of poor families , and to know the characteristics of poor families  in Sumberjo Wonosalam Jombang.    This type of research is a survey research. The population of this research is all of poor families in Sumberjo totaling 617 households. The sample in this research is 100 households with details of 45 households of Sumberjo, 32 households of Babatan, and 23 households of Sidolegi determined by using systematic random sampling. Data collection techniques are documentation and interviews. Data of this research are analyzed by using quantitative descriptive analysis with percentages.    Based on the research results show that social factors that causes the high number of poor families in sumberjo is livelihoods of the head of household as farm hands with 48 the head of household or 19,92%. The head of poor family are having a job as farm hands have an income low is as much as Rp.30.000,00 per day, while work as farm hands only can be carried while the growing season and fruiting just so the head of families had to look for other jobs to earn income when not the growing season and fruiting.Economic factors dominant causing the high number of the poor are it ownership agricultural land.The poor families of 31,54 % or as much as 76 families have no farmland , but they have a home lot used as house so the poor families who do not have farmland cause livelihoods the poor families a farm hands .Environmental factors in this research is not a factor causing the high number of family .Keywords: social factors , economic factors , environmental factors , poor families.
KAJIAN TENTANG POTENSI OBYEK WISATA BUKIT JAMUR DI KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK ADE ARIEF, RAUF
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Wisata alam Bukit Jamur, Gresik mempunyai potensi dan bisa menjadi penyumbang devisa bagi Kabupaten Gresik, terbukti dengan meningkatnya pengunjung kawasan ini dari waktu ke waktu. Sampai saat ini, kawasan Wisata Bukit Jamur hanya dikelola masyarakat sekitar dan dilakukan secara tidak profesional sehingga timbul beberapa masalah seperti adanya pungutan liar serta kawasan objek wisata yang kurang terawat. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi wisata Bukit Jamur sebagai daerah tujuan wisata serta peran pemerintah atau lembaga terkait dalam pengembangan objek wisata Bukit Jamur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling. Peneliti mengambil sampel 100 orang responden. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring, indeks konektivitas, teknik interaksi, serta analisis SWOT. Lokasi penelitian dilakukan di kawasan wisata alam Bukit Jamur, Gresik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai aspek daya tarik, atraksi, dan sumber daya manusia dari wisata alam Bukit Jamur tergolong tinggi, nilai aksesibilitas berdasarkan indeks konektivitas tegolong rendah, sarana prasarana, serta promosi wisata alam Bukit Jamur tergolong rendah. Ditinjau dari aspek interaksi menunjukkan bahwa interaksi wisata alam Bukit Jamur dengan Pantai Dalegan lebih besar daripada interaksi dengan Bukit Surowiti. Strategi pengembangan potensi wisata berdasarkan matriks SWOT antara lain meningkatkan jangkauan dan kualitas promosi, menambah wahana wisata, menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat, memperbaiki jalan menuju lokasi wisata, memperbaiki dan menambah sarana prasarana, menambah petugas dan fasilitas kebersihan, meningkatkan sistem parkir, perbaikan dan pengembangan tempat wisata, memanfaatkan keunggulan sebagai wahana wisata yang berbeda serta pembuatan proposal permohonan kerja sama guna membangun akses dan fasilitas umum di wahana wisata Bukit Jamur. Berdasarkan analisis SWOT dengan metode kuantitatif, wisata alam Bukit Jamur berada pada kuadran II sehingga model strategi yang harus digunakan adalah diversifikasi strategi yaitu penambahan produk wisata baru di dalam kawasan wisata. Pemerintah tidak mengakuisisi namun akan tetap mengelola wisata alam Bukit Jamur jika ada permintaan langsung dari pemilik lahan. Kata Kunci: Potensi, Wisata alam, SWOT   ABSTRACT Bukit Jamur, Gresik has huge potential and could be a foreign exchange earner for Gresik proved by visitors in this area increase time by time. But until now, the management handed over to the local community, so several problems such as illegal extortion and tourist areas are less well maintained. This study aims to determine the potential of Bukit Jamur travel as a tourist destination as well as the role of government or related agencies in the development of attraction Bukit Jamur. Type of this research is quantitative descriptive. The sampling technique using accidental sampling method. Researcher use sample of 100 respondents. Data were collected by observation, interview and documentation. Data were analyzed using the scoring technique, connectivity index, interaction technique, as well as a SWOT analysis. Location of the research conducted in the nature area of tourism, Bukit Jamur, Gresik. The results showed that the value aspect of the appeal, attractions, and human resources of nature Bukit Jamur are high. While the value of aspects of accessibility, infrastructure, and the promotion of nature Bukit Jamur are low. Review of aspects of the interaction showed that the interaction of nature Bukit Mushrooms with Dalegan Beach larger than interaction with Bukit Surowiti. Strategy development of tourism potential based on the SWOT matrix such as increasing the range and quality of promotion, increase tourist rides, cooperating with the local government, improve roads to tourist sites, improve and increase infrastructure, adding officers and sanitation facilities, improving the parking system, the improvement and development tourist attractions, tourist rides take advantage as distinct and making proposal for cooperation to build access and public facilities in tourist rides Bukit Jamur. Based on SWOT analysis with quantitative methods, Bukit Jamur is in quadrant II so that the model strategies that should be used is the diversification strategy. The government will manage Bukit Jamur if there is a direct request from the owner of the land. The Government is not acquiring Bukit Jamur because it will be managed by the land owner. Keywords: Potential, Nature tourism, SWOT
DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN TOL KERTOSONO-MOJOKERTO TERHADAP KONDISI SOSIAL DAN EKONOMI PEMILIK LAHAN PERTANIAN DI DESA SUMBERJO DAN SEKITARNYA KECAMATAN JOMBANG KABUPATEN JOMBANG IMANING PUTRI, ERISNA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan tol memegang peranan yang penting dalam menghubungkan antar daerah yang ada di Indonesia. Jalan tol Kertosono-Mojokerto adalah salah satu jalan tol yang dibangun di Jawa Timur merupakan bagian dari enam proyek Tol Trans Jawa. Salah satu desa yang lahannya terkena pembangunan jalan tol Kertosono-Mojokerto adalah Desa Sumberjo, walaupun hanya lahan pertanian yang harus dibebaskan juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak sosial dan ekonomi pemilik lahan pertanian Desa Sumberjo baik yang lahannya dibebaskan maupun yang lahannya tidak dibebaskan sebelum dan sesudah adanya pembangunan jalan tol Kertosono-Mojokerto. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey, lokasi penelitian di Desa Sumberjo. Populasi dalam penelitian ini adalah 40 responden yaitu semua pemilik lahan pertanian di Desa Sumberjo baik yang lahannya dibebaskan maupun yang lahannya tidak dibebaskan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis deskriptif kuantitatif. Lahan yang dibebaskan adalah lahan pertanian saja yaitu seluas 84.468 m2, uang ganti rugi yang diterima oleh responden terendah sebesar Rp.92.000.000,00 dan yang tertinggi sebesar Rp.190.000.000,00. Pembangunan jalan tol Kertosono-Mojokerto menimbulkan dampak sosial bagi pemilik lahan yang lahannya dibebaskan yaitu adanya perubahan mata pencaharian, pekerjaan utama petani sebanyak 25 responden atau 83% berubah menjadi pedagang sebanyak 18 responden atau 60% dan pekerjaan sampingan dari pedagang sebanyak 10 responden atau 33,3% berubah menjadi buruh tani sebanyak 21 responden atau 70% sedangkan yang lahannya tidak dibebaskan tidak mengalami perubahan, untuk persepsi masyarakat terhadap saluran irigasi baik yang lahannya dibebaskan ataupun tidak dibebaskan berpendapat bahwa saluran irigasinya yang sebelumnya lancar yaitu 40 responden atau 100% menjadi tidak lancar sebanyak 37 responden atau 92,5%.  Pembangunan jalan tol Kertosono-Mojokerto menimbulkan dampak ekonomi bagi pemilik lahan yang lahannya dibebaskan yaitu adanya perubahan pendapatan sebelumnya tertinggi Rp.4.000.000,00 dan terendah Rp.1.000.000,00 menjadi tertinggi Rp.3.000.000,00 dan Rp.500.000,00 sesudah adanya jalan tol, sedangkan bagi pemilik lahan yang lahannya tidak dibebaskan tidak mengalami perubahan pendapatan. Pemilik lahan pertanian yang lahannya tidak dibebaskan juga menimbulkan dampak positif yaitu harga lahan pertaniannya mengalami kenaikan dari Rp.50.000,00 menjadi Rp.250.000,00 terutama bagi lahan pertanian yang dekat dengan jalan tol.   Kata kunci : pembangunan jalan tol, dampak sosial, dampak ekonomi.    Abstract   Toll road holds an important role in linking among regions in Indonesia. Toll road of  Kertosono-Mojokerto, one of toll roads built in east java, is part of six toll projects of trans java. One of the villages which their land affected by the project  of toll road of Kertosono-Mojokerto is Sumberjo. Although only agricultural lands are taken, it also has social and economic implications. The purpose of this research is to find the economic and social impacts of the owner of agricultural land  in Sumberjo, both the land taken and not, before and after the construction of Kertosono-Mojokerto toll road. The kind of this research  is research survey. Location of this research is in Sumberjo. Populations in this research are 40 respondents, all the agricultural land in Sumberjo both the land taken  and not. Techniques of data collection are the observation and interview. Technique of data analysis is quantitative descriptive analysis technique. Lands to be expropriated are 84468 m2 of agricultural lands. The lowest compensation received by respondents is Rp.92.000.000,00 and the highest is Rp.190.000.000,00. The construction of toll roads of Kertosono-Mojokerto has social implications of land owners whose lands are taken namely the change in livelihoods. The main works of farmers is 25 respondents or 83% changed as traders about 18 respondents or 60% and a side job from the traders as many as 10 people or 33.3% changed as farm laborers about 21 respondents or 70% while who is the land not taken  is not changed. To perceptions of irrigation channels both the land taken or not think that irrigation channels which are well about 40 respondents or 100%  become unwell about 37 respondents or 92,5%. The construction of toll roads of Kertosono-Mojokerto has economic impacts for land owners whose lands are  taken namely the change in income. Formerly the highest was  Rp.4.000.000,00 and the lowest was Rp.1.000.000,00  and now the  highest  is Rp.3.000.000,00 and  the lowest is Rp.500.000,00 after there is toll road, and for land owners whose lands are not taken daoesn’t have changed income. The owner of  agricultural lands whose lands are  not taken also has positive implications, the  price of the land increases from Rp.50.000,00 to Rp.250.000,00 especially for agricultural lands near toll road. Keywords : Toll road contructions, social impact, economic impact.
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN HARGA LAHAN DI DESA BANJARSARI KECAMATAN CERME KABUPATEN GRESIK MAHFUDHOH, IMROATUL
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik adalah dampak dari pembangunan Kota Surabaya yang mana Kota Surabaya tidak dapat menampung penduduk lagi akhirnya pembangunan mengarah ke pinggir kota. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis  perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik berdasarkan peta penggunaan lahan menggunakan teknik analisis temporal citra pada google earth pada tahun 2004, 2010 dan 2014, 2) mengetahui perubahan sosial ekonomi yang terjadi di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik, 3) mengetahui sikap masyarakat terhadap adanya perubahan penggunaan lahan di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik 4) mengetahui perubahan harga lahan yang terjadi di Desa Banjarsari Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. Penelitian ini menggunakan survey dan dianalisis menggunakan deskripsi kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang menjual lahan pertaniannya untuk dijadikan lahan non pertanian yakni perumahan  yang terjadi pada tahun 2004-2014  yaitu sebanyak 36 responden. Sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling jenuh (sensus) karena semua populasi digunakaan sebagai sampel. Teknik pengumpulan menggunakan kuesioner, observasi, dokumentasi, dan data keruangan. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan persentase dan skala likert jumlah populasi 36.                 Hasil penelitian menunjukkan perubahan penggunaan lahan menjadi perumahan/permukiman pada tahun 2004-2014. Pola perubahan penggunaan lahan di Desa Banjarsari di sebelah utara, selatan dan barat terlihat memanjang mengikuti jalan raya sedangkan sebelah timur terlihat memusat. Mata pencaharian utama pemilik lahan pertanian di Desa Banjarsari mengalami perubahan dari sebelum adanya perubahan dan sesudah adanya perubahan penggunaan lahan dari petani menjadi pedagang 42.86%, petani menjadi kuli bangunan 14.29%, petani menjadi tukang pijat 7.14% dan petani menjadi pegawai pabrik 7.14%. Perubahan mata pencaharian berpengaruh pada pendapatan perbulannya, rata-rata pendapatan sebelum terjadinya perubahan penggunaan lahan sebesar Rp.2.772.222,00/perbulan, sedangkan rata-rata pendapatan responden setelah terjadinya perubahan penggunaan lahan sebesar Rp.2.291.667,00/perbulan. Harga lahan pertanian di Desa Banjarsari mengikuti harga ring yang semakin dekat dengan jalan raya akan semakin mahal harga lahan tersebut. Kata kunci : Perubahan penggunaan lahan pertanian, perubahan sosial ekonomi, harga lahan. Abstract Land use changes have been occurring in Banjarsari Village Cerme District Gresik Regency is an effect by Surabaya City development which over-population so at least development spreading into suburban area. The purposive of this study is 1) to analyze land use changes had been occurring in Banjarsari Village Cerme District Gresik Regency is an effect by Surabaya City based on land using map by temporary image analyze technique on google earth in 2004, 2010, and 2014, 2) to understand economic social changing in Banjarsari Village Cerme District Gresik Regency 3) to understand people respons attitude about land use changing in Banjarsari Village Cerme District Gresik Regency 4) to understand land cost price changing in Banjarsari Village Cerme District Gresik Regency. The kind of this study is survey research and analyze by descriptive quantitative. Population of this research is a farmer who sold its farming land for non-farming uses actually for properties had been occurring in 2004-2014 amount of 36 respondents. The sample of this study is using census sampling because all of population used for sample. The collecting data technique is using questionnaire, observation, documentation, and spatial data. The data analyzing use sescriptive quantitativw with percentage and Likert scale amount of 36. The result of this study is showing land use changes into settlement in 2004-2014. Land use changing model at north, south, west of Banjarsari Village is stretching along of the road while at east of Banjarsari Village is concentrating. Occupation of farming land owner in Banjarsari Village had changed before and after land use changing. From a farmer into a merchant 42.86%, farmer into a porters bulding 14.29%. farmer into massager 7.14% and farmer into laborer 7.14%. In occupation changing have effect for montly earnings, respondents income before land use changing about Rp. 2.772.222/month, while after land use changing about Rp. 2.291.667/month. Farming land cost price in Banjarsari Village is depending on Ring price  that closer with a road have a higher price.   Key Word : Farming Land Use Changing, Social Economic Changing, Cost Price of Land
DAMPAK PEMBANGUNAN WADUK KONSERVASI AIR LAMONG TERHADAP LINGKUNGAN TERBANGUN, KONDISI  SOSIAL DAN EKONOMI PETANI DAERAH IRIGASI WADUK LAMONG DI KECAMATAN BADAS KABUPATEN KEDIRI PADA PERIODE PEMBANGUNAN 2010-2015 UMAM, BADARUL
Swara Bhumi Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak                           Upaya pemanfaatan mata air secara optimal dan berkelanjutan, diperlukan langkah-langkah yang tepat, meliputi perumusan strategi dan penyusunan program pengelolaan mata air serta dukungan kelembagaan yang memadai. Kaidah konservasi tanah dan air , atau konservasi sumberdaya alam pada umumnya, adalah sama yaitu bahwa kita harus hemat menggunakan sumberdaya alam dan mengelola berdasarkan hukum  alam itu sendiri. Potensi sumber daya air sangat melimpah di ketahui bahwa terdapat 13 mata air yang di wilayah Kecamatan Badas. Pembangunan membawa dampak pada mata air yang dahulunya hanya dibiarkan mengalir alami, tanpa sentuhan tangan manusia serta pemanfaatan yang sederhana dan meliputi wilayah yang sangat sempit. Pembangunan ini bertujuan untuk irigasi, pariwisata, konservasi. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) perubahan struktur ruang lingkungan terbangun Kecamatan Badas sebelum dan setelah pembangunan konservasi air lamong, 2) tingkat kondisi ekonomi petani  Kecamatan Badas khususnya Pendapatan, Peluang usaha, produktifitas dengan adanya pembangunan Waduk Konservasi sumber daya air lamong, 3) tingkat kondisi sosial petani khusnya pembentukan organisasi pengairan, gaya hidup, kerjasama/ persaingan dengan adanya pembangunan konservasi sumber daya air lamong , (4) partisispasi petani dalam konservasi air lamong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Unit analisisnya adalah Wilayah Aliran Waduk Ampomangiran yang secara administratif masuk dalam 5 desa di Kecamatan Badas dengan luasan sawah mencapai 918 Ha. Sampel ditentukan sebanyak 110 petani  untuk mengetahui perkembangan sosial dan  ekonomi dengan teknik judgmental sampling. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan. Pertama, untuk mengetahui perubahan struktur ruang wilayah mata air dilakukan analisis temporal pada tahun 2010-2015, selanjutnya untuk mengetahui persentase perubahan struktur ruang dilakukan pengukuran melalui Geo-calculate di Arc-Gis. Kedua, untuk mengetahui dampak pembangunan pada petani dilakukan analisis sosio-hidro mengenai pemanfaatan air yang berdampak pada sosial-ekonomi petani pemakai air diwilayah daerah aliran sungai ampomangiran 1. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan survey, kuisioner, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan  analisis Temporal dan deskruptif kuantitatif untuk mengukur sosial ekonomi petani. Hasil penelitian ini diperoleh hasil, bahwa perubahan wilayah kawasan mata air pada tahun 2010-2015 memiliki pengaruh pada struktur ruang wilayah kawasan mata air sistem jaringan sarana dan fungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara menyeluruh memiliki hubungan fungsional. Adapun pertumbuhan dari jarak terbangun meliputi bangunan ampomangiran 1, 2, dan 3 sejauh 5.469 m/5.4 km. Jarak terdekat yang terlayani waduk 0.300 m/0,3 km dengan luasan sawah yang mampu teraliri sejumlah 918 Ha. Penambahan luas kawasan mata air menjadi 0.283836 Ha pada tahun 2013, 0.061107 Ha pada tahap II pembangunan. Hubungan fungsional ini berdampak pada sektor ekonomi sebesar Rp. 146.070.000. Pada variabel ekspresi sikap hasilnya nilai guna waduk 4.46 % Sangat setuju, Indikator Interaksi Spasial memiliki rata-rata sebesar 4.64 % dan masuk dalam kategori Sangat Satuju. Indikator aktifitas memiliki rata-rata 4.19 dan termasuk dalam kategori Setuju. Hal ini menunjukan bahwa dengan adanya pembangunan waduk air lamong membuat aktifitas yang berhubungan dengan pengairan menjadi semakin dekat yang memunculkan beragam aktifitas. Partisipasi petani berupa Publik hearing sebesar 72.7 % tingginya demokrasi dalam berpendapat dan mengajukan pertanyaan, Publik Meating 60.9 % dilakukan pertemuan dengan publik, 90.4 % ceramah dan diskusi dilakukan tinggi, praktik pengelolaan dan pemanfaatan sebesar 67.3 % dan 79.1 %, dan praktik pengelolaan sumber daya alam di hilir sebesar 2.33 % penanaman disepanjang aliran sungai ditanami sebagian, 49.1 % dilakukan pengerukan sangat rutin, 49.1 % di lakukan pemasangan batu disepanjang aliran sungai.   Kata Kunci : Konservasi, Perubahan Struktur Ruang, Sosial, Ekonomi, Partisipasi
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK BERTAHAN TINGGAL DI DAERAH BENCANA LUMPUR LAPINDO IMANUEL P, DRIANDA
Swara Bhumi Vol 3, No 3 (2016): Vol.3 Nomor 3 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK BERTAHAN TINGGAL DI DAERAH BENCANA LUMPUR LAPINDO DRIANDA IMANUEL PRASETYA Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya, drianda_yanda@yahoo.co.id Dra. Ita Mardiani Zain, M.Kes Dosen Pembimbing Mahasiswa     Abstrak Daerah bencana lumpur Lapindo (Zona 1) adalah daerah/wilayah yang berada pada radius 0 – 1,5 km dari tanggul penahan lumpur Lapindo dan wilayah ini sudah ditetapkan oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) sebagai wilayah yang tidak layak dihuni. Terdapat 7 desa berpenghuni yang termasuk wilayah Zona 1 yang merupakan daerah penelitian, antara lain Kalitengah, Kedungbendo, Ketapang, Gedang, Mindi, Glagaharum dan Besuki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat untuk bertahan tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo dan mengetahui kondisi kehidupan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei. Lokasi penelitian dilakukan di desa-desa yang termasuk wilayah Zona 1 bencana lumpur Lapindo. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat berdasarkan Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di wilayah Zona 1. Sampel dalam penelitian ini 100 KK yang tersebar di 7 desa. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data setiap variabel yang terkumpul selanjutnya diskoring, dihitung dan dipersentase dan dibandingkan dengan hasil persentase dari variabel lainnya. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif persentase. Hasil dari penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk bertahan tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo menunjukkan anggapan masyarakat bahwa tanah yang mereka tempati merupakan tanah kelahiran merupakan faktor dominan yang berpengaruh (87%). Pekerjaan masyarakat yang sebagian besar merupakan pedagang/wirausaha dan berdagang di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka mempunyai pengaruh (74%), karena pekerjaan tersebut tidak bisa mereka tinggalkan dan pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Murahnya harga ganti rugi yang ditawarkan juga mempengaruhi masyarakat untuk bertahan tinggal di daerah bencana lumpur Lapindo (81%), selain itu anggapan masyarakat mengenai mahalnya harga rumah di tempat relokasi (67%) juga berpengaruh bagi masyarakat untuk masih menetap di daerah bencana lumpur Lapindo. Transportasi juga mempengaruhi masyarakat dengan persentase 56%, meskipun pengaruh ini adalah yang terkecil dari yang lainnya. Hasil penelitian untuk kondisi kehidupan masyarakat daerah bencana lumpur Lapindo menunjukkan sebagian besar masyarakat dengan persentase 49% hidup dalam kondisi ekonomi menengah dengan penghasilan berkisar Rp 1.000.000 hingga Rp 2.999.999 setiap bulannya. Kondisi kesehatan masyarakat sudah terganggu oleh gas yang ditimbulkan semburan lumpur Lapindo, karena sebagian besar masyarakat pernah terserang dan mempunyai riwayat penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) (54%). Kondisi kesehatan masyarakat daerah bencana lumpur Lapindo tertolong oleh adanya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang terdapat hampir di setiap desa dan sebagian besar masyarakat (58 %) lebih memilih untuk ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) karena letak terjangkau dan tarif untuk berobat murah. Kata kunci : Daerah bencana, wilayah bencana, lumpur Lapindo    Abstract  Lapindo mud disaster areas (Zone 1) is an area region located at a radius of 0-1,5 Km from the Lapindo mud embankment and the area has been designated by Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) as an area which not decent to live. There are seven inhabited village that includes areas of Zone 1 which is an area of this research, among others Kalitengah, Kedungbendo, Ketapang, Gedang, Mindi, Glagaharum and Besuki. This research aims to know what the factors are influencing the people to survive living in this area and know the living conditions of the people who lived in the area of Lapindo mud disaster. This type of research used in this study is a survey research. The Location of this research is in villages which including area of Zone 1 Lapindo mud disaster. The population in this study is a community based on families who lived in Zone 1. The sample was 100 households spread over 7 villages. Data collection techniques in this research is through interview, observation and documentation. The Collected data in every variable rated,, and changed into percent calculated and compared with the percentage of the other variables. Data analysis techniques in this study using quantitative descriptive percentages. The results of this research about factors that affected people to living in the area of Lapindo mud disaster,  shows that public perception that the land they occupy is the birthplace is dominant factors that influence (87%). Community work, which are mostly traders / entrepreneurs and trade around their neighborhood have an influence (74%), because such work they can not leave and this work is for daily needs. The inexpensive price of compensation offered is also influenced people to stay living in the area Lapindo mud disaster (81%), besides the public perception about the high prices of houses in the relocation sites (67%) were also influential for people to still live in the area Lapindo mud disaster. Transportation also affects the people with a percentage of 56%, although this influence is the smallest of the others. Results of research on the living conditions of local communities Lapindo mud disaster showed most people with a percentage of 49% live in middle-income economic conditions ranging from Rp 1,000,000 to Rp 2,999,999 per month. The healthy condition of the people has been disturbed by the gases generated Lapindo mudflow, because most people ever attacked and had a history of ISPA (54%). Public health conditions Lapindo mud disaster areas aided by the Community Health Center (Puskesmas) located almost in every village and most people (58%) prefer to go to the health center (Puskesmas) because the location of affordable and cheap rates for medical treatment. Keywords :  Disaster area, Lapindo Mud.
DAMPAK RELOKASI TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN PEDAGANG DI PASAR SIMO GUNUNG BANYU URIP KOTA SURABAYA(STUDI KASUS TENTANG DAMPAK RELOKASI PEDAGANG PASAR SIMO GUNUNG BANYU URIP) EVELINE ISFADIAN, LISANDY
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): Volume 04 Nomor 01 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAMPAK RELOKASI TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN PEDAGANG DI PASAR SIMO GUNUNG BANYU URIP KOTA SURABAYA (Studi Kasus Tentang Dampak Relokasi Pedagang Pasar Simo Gunung Banyu Urip) Lisandy Eveline Isfadian Mahasiswa S-1 Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Dan Hunkum Universitas Negeri Surabaya evelineisfadian@gmail.com Dr. Murtedjo, M.Si Dosen Program Studi S-1 Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Dan Hukum Universitas Negeri Surabaya Abstrak Jalan Banyu Urip merupakan salah satu koridor perekonomian karena merupakan jalan penghubung antara kota Surabaya dan Gresik. Oleh karena itu, setiap hari selalu terjadi kemacetan. Kemacetan itu terjadi selain karena ruas jalan yang sempit juga karena adanya para pedagang liar yang berjualan di bahu jalan tersebut. Kemudian setelah Pasar Simo Gunung direnovasi, para pedagang liar dan pedagang lama Pasar Simo Gunung direlokasikan ke Pasar Simo Gunung yang telah direnovasi, meskipun telah direlokasikan, masih terdapat adanya pedagang Pasar Simo Gunung yang berjualan dibahu jalan kembali, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui Dampak Relokasi Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi dan Lingkungan Pedagang di Pasar Simo Gunung Banyu Urip Kota Surabaya. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan Pedagang Pasar Simo Gunung akibat dari adanya relokasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, sedangkan penentuan subyek berdasarkan informasi key Informan. Hasil dari penelitian ini adalah disimpulkan bahwa kebijakan relokasi Pasar Simo Gunung belum sepenuhnya berhasil,masih terdapatnya pedagang liar yang berjualan dibahu jalan yang belum terelokasi. Dampak yang ditimbulkan dari adanya relokasi terhadap kondisi sosial dari pedagang yang telah terelokasi ke Pasar Simo Gunung adalah kehilangan interaksi dengan pelanggan lama, timbulnya ketidaknyamanan pedagang akibat dari adanya program relokasi yang tidak berjalan sepenuhnya, kemudian dampak pada kondisi ekonomi pedagang yang telah terelokasi adalah omzet menurun jika dibandingkan dengan omzet yang didapatkan saat mereka berjualan dibahu jalan. Hal ini memicu pedagang Pasar Simo Gunung melakukan jemput bola dengan berjualan diluar dan adapula yang juga memiliki lapak diluar yang dijaga oleh keluarganya guna menutupi kerugian ketika berjualan di Pasar Simo Gunung. Sedangkan dampak pada kondisi lingkungan pedagang dalam hal aksesibilitas adalah lokasi pasar yang terlalu kedalam dan kurangnya tempat parkir. Mereka memilih pedagang yang berjualan di bahu jalan, dikarenakan mereka bisa langsung membeli ditempat dan tidak memerlukan parkir. Hal ini juga dikarenakan fungsi Pasar Simo Gunung yaitu Pasar grosir, sehingga pembeli terbanyak adalah penjual sayur sepeda motor keliling (rengke’an). Kata kunci : dampak, relokasi, pasar simo gunung Abstract Banyu Urip Street is one of the economic corridors as a connecting road between the cities of Surabaya and Gresik. Therefore, everyday is always traffic jam. Congestion occurred only because the narrow roads as well as their illegal traders selling goods on the road shoulder. Then after Simo Gunung market have been renovated, the illegal traders and old merchants relocated to Simo Gunung Markets that have been remodeled, although it has been relocated, there are the Simo Gunung Market traders who sell goods on the road shoulder are back, therefore researchers are interested to knowing Relocation Impact Of Socioeconomic and Environmental Condition Traders Simo Gunung Market Banyu Urip the city of Surabaya.The purpose of this study was to determine the social, economic, and environmental Market Traders Simo Gunung result of the relocation. The research is a qualitative study using the case study method. Data collection procedures performed by observation, in depth interview and documentation, while the determination of the subjects based on key informant information. Results from this study is, that the relocation of Simo Gunung Market has not been fully successful,still there are illegal traders who sell goods on the road shoulder is not yet relocated. The impact of the relocation of the social conditions of the traders who have relocated to Simo Gunung Market are losing interaction with old customers, the emergence of merchant inconvenience resulting from the relocation program is not running completely, then the impact on the economic conditions are traders who have relocated turnover decreased when compared with the turnover earned when they sell goods on the road shoulder. This triggered traders of Simo Gunung Market do pick up the ball with the outside selling and those that also have a stall outside the guarded by her family in order to cover losses when selling in the Simo Gunung Market. While the impact on the environment in terms of accessibility traders are too into the market location and lack of parking spaces. They choose merchants who sell on the road shoulder, because they can simply buy a place and does not require parking. It is also due to the function of Simo Gunung Markets is the wholesale market, so the biggest buyers are motorcycle vegetable seller (rengke'an). Keywords: impact, relocation, simo gunung market.