cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
KAJIAN HOME INDUSTRIPENGOLAHAN IKAN BANDENG DITINJAU DARI MODAL EKONOMI DAN MODAL MANUSIA DI KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO PUTRI ANGGRAINI, TITA
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): Volume 04 Nomor 01 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KAJIAN HOME INDUSTRIPENGOLAHAN IKAN BANDENG DITINJAU DARI MODAL EKONOMI DAN MODAL MANUSIA DI KECAMATAN SEDATI KABUPATEN SIDOARJO TITA PUTRI ANGGRAINI Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya, Titaputrianggraini@yahoo.co.id Dra. Ita Mardiani Zain, M.Kes Dosen Pembimbing Mahasiswa Abstrak   Kecamatan Sedati merupakan penghasil ikan bandeng terbesar di Kabupaten Sidoarjo. Hasil produksi ikan bandeng yang melimpah ini melatarbelakangi munculnya home industri pengolahan ikan bandeng di kecamatan ini.Kecamatan ini memiliki 40 home industri pengolahan ikan bandeng. Keberadaan home industri pengolahan ikan bandeng di Kecamatan Sedati dipengaruhi oleh modal ekonomi dan modal manusia.Modal manusia dan modal ekonomi mampu menghambat ataupun mendorong eksistensi home industri tersebut, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh modal ekonomi dan modal manusia terhadapeksistensi home industri pengolahan ikan bandeng Kecamatan Sedati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh modal ekonomi dan modal manusia terhadap eksistensi home industri pengolahan ikan bandeng Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dengan metode analisis statistik kuantitatif dengan teknik skoring. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa modal ekonomi yang mendukung eksistensi home industri pengolahan ikan bandeng antara lain adalah bahan baku dengan nilai rata-rata sebesar 70,8% , pemasaran memiliki nilai rata-rata sebesar 76,3% dan teknologi/alat memiliki nilai rata-rata sebesar 79%, sedangkan yang menghambat adalah modal usaha dengan nilai rata-rata sebesar 53,2% dan pendapatan dengan nilai rata-rata sebesar 53%. Modal manusia yang mendukung eksistensi home industri pengolahanikan bandeng antara lain adalah jumlah tenaga kerja dengan nilai rata-rata 82%, pendidikan tenaga kerja dengan nilai rata-rata 73% dan kemudahan mendapatkan tenaga kerja dengan nilai rata-rata sebesar 70%, sedangkan yang menghambat eksistensi home industri pengolahan ikan bandeng antara lain usia tenaga kerja dengan nilai rata- rata sebesar 52,5% dan kualitas tenaga kerja dengan nilai rata- rata sebesar 52%. Kata Kunci : home industri pengolahan ikan bandeng, faktor modal ekonomi, faktor modal manusia Abstract Subdistrict Sedati isthe biggest bandeng fish producer in Sidoarjo.The plentiful fish production is cause appearance of home fish processing industry in this district. This district has 40 bandeng fish processing home industries. The existence of bandeng fish processing home industries in the District Sedati are influenced by economic capital and human capital. Human capital and economic capitalable to inhibit or encourage the existence of the home industry, therefore the researchers is interested to know the effect of economic capital and human capital to the existence of bandeng fish processing home industries at District Sedati. The goals of this study areto determine the effect of economic capital and human capital to the existence of bandeng fish processing home industry at Sedati District of Sidoarjo. This research is a survey research with quantitative statistical analysis methods usingtechniquesscoring. These results indicate that the economic capital that supports the existence of bandengfish processing home industries, are the raw materials with an average value of 70.8%, marketing has an average value of 76.3% and technology / equipment has an average value average by 79%, while the hamper is a venture capital with an average value of 53.2% and revenue by the average value of 53%. Human capital that supports the existence of bandeng fish processing home industry include the number of workers with the average value of 82%, workforce education with the average value of 73% and the ease of getting a workforce with an average value of 70%, while the inhibits the existence of home fish processing industry include age workforce with an average value of 52.5% and the quality of the workforce with the average score of 52%.   Keyword : bandeng fish processing home industry, economic capital factors, human capital factors
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DIORAMA GEOGRAFI PADA MATERI SIKLUS HIDROLOGI DAN LAPISAN AIR TANAH DI KELAS X-1 SMA NEGERI 1 NGORO KABUPATEN MOJOKERTO WIDAYAT, YUDI
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): Volume 04 Nomor 01 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DIORAMA GEOGRAFI PADA MATERI SIKLUS HIDROLOGI DAN LAPISAN AIR TANAH DI KELAS X-1 SMA NEGERI 1 NGORO KABUPATEN MOJOKERTO   Yudi Widayat Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya  elsasachrul@gmail.com   Dra. Sulistinah, M.Pd Dosen Pembimbing Mahasiswa   Abstrak Geografi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas. Sebagian besar materi yang ada di dalam mata pelajaran geografi mempunyai cakupan yang sangat luas dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Perlu suatu media dalam proses pembelajaran untuk memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Ada berbagai macam media pembelajaran yang ada salah satunya media diorama. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa media pembelajaran diorama geografi pada materi siklus hidrologi dan lapisan air tanah yang layak untuk siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Ngoro Mojokerto mengetahui 1) Kelayakan produk media pembelajaran diorama geografi 2) Respon siswa terhadap media pembelajaran diorama geografi. Model pengembangan yang digunakan yaitu model pengembangan Analyze Learner, State Standart and Objective, Select Strategy, Method, Media and Material, Utilize Media and Material, Require Learner Participant, Evaluate and Revise (ASSURE). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket validasi ahli media, ahli materi dan respon siswa. Teknik analisis data ahli media pembelajaran dan ahli materi menggunakan Skala Likert, untuk respon siswa menggunakan Skala Guttman. Hasil penelitian yang diperoleh setelah dua kali review skor persentase validasi media dari ahli media pembelajaran sebesar 78,30%, skor presentase validasi media dari ahli materi sebesar 77,10%. Menurut skala likert dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran layak untuk diuji cobakan. Hasil uji coba terbatas respon siswa yang diperoleh sebesar 95,73%, dapat disimpulkan bahwa respon siswa terhadap media pembelajaran diorama geografi sangat baik.   Kata Kunci : Media pembelajaran, Diorama, Siklus Hidrologi dan Lapisan Air Tanah.   Abstract Geography is one of learning subjects on senior high school grade. Most of subject matter at geographic learning subject has a comprehensive content and take a long process to learned it. To ease the teachers for subject matter teaching, it needs media in learning process. Diorama is one of many media to ease it. The purposive of this research is to create a geographic diorama media learning at 10th grade matter on Senior High School of Ngoro District in Mojokerto Regency to know 1) Geographic diorama learning media properly 2) Students response about geographic diorama media learning. The development model in this research is using Analyze Learner, State Standart and Objective, Select Strategy, Method, Media and Material, Utilize Media and Material, Require Learner Participant, Evaluate and Revise (ASSURE) models. The collecting data technique in this research is operating questionnary validation of media experts, subject matter experts, and student response experts.  The data analyzing of media learning and subject matter experts are using Likert Scale, and students respon is using Guttman Scale. The result of this research after twice review the media validation presentage scoring by media learning experts is 78,30%, the media validation presentage scoring by subject matter experts is 77,10%. According to Likert Scale of  this learning media is proper to trials. By students response limited test is 95.73%, it means the student response about geographic diorama media learning is very good.   Keywords : Media Learning, Diorama, Hidrology Cycle and Soil Water Layer.   Abstrak Geografi merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas. Sebagian besar materi yang ada di dalam mata pelajaran geografi mempunyai cakupan yang sangat luas dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Perlu suatu media dalam proses pembelajaran untuk memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Ada berbagai macam media pembelajaran yang ada salah satunya media diorama. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa media pembelajaran diorama geografi pada materi siklus hidrologi dan lapisan air tanah yang layak untuk siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Ngoro Mojokerto mengetahui 1) Kelayakan produk media pembelajaran diorama geografi 2) Respon siswa terhadap media pembelajaran diorama geografi. Model pengembangan yang digunakan yaitu model pengembangan Analyze Learner, State Standart and Objective, Select Strategy, Method, Media and Material, Utilize Media and Material, Require Learner Participant, Evaluate and Revise (ASSURE). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket validasi ahli media, ahli materi dan respon siswa. Teknik analisis data ahli media pembelajaran dan ahli materi menggunakan Skala Likert, untuk respon siswa menggunakan Skala Guttman. Hasil penelitian yang diperoleh setelah dua kali review skor persentase validasi media dari ahli media pembelajaran sebesar 78,30%, skor presentase validasi media dari ahli materi sebesar 77,10%. Menurut skala likert dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran layak untuk diuji cobakan. Hasil uji coba terbatas respon siswa yang diperoleh sebesar 95,73%, dapat disimpulkan bahwa respon siswa terhadap media pembelajaran diorama geografi sangat baik.   Kata Kunci : Media pembelajaran, Diorama, Siklus Hidrologi dan Lapisan Air Tanah.   Abstract Geography is one of learning subjects on senior high school grade. Most of subject matter at geographic learning subject has a comprehensive content and take a long process to learned it. To ease the teachers for subject matter teaching, it needs media in learning process. Diorama is one of many media to ease it. The purposive of this research is to create a geographic diorama media learning at 10th grade matter on Senior High School of Ngoro District in Mojokerto Regency to know 1) Geographic diorama learning media properly 2) Students response about geographic diorama media learning. The development model in this research is using Analyze Learner, State Standart and Objective, Select Strategy, Method, Media and Material, Utilize Media and Material, Require Learner Participant, Evaluate and Revise (ASSURE) models. The collecting data technique in this research is operating questionnary validation of media experts, subject matter experts, and student response experts.  The data analyzing of media learning and subject matter experts are using Likert Scale, and students respon is using Guttman Scale. The result of this research after twice review the media validation presentage scoring by media learning experts is 78,30%, the media validation presentage scoring by subject matter experts is 77,10%. According to Likert Scale of  this learning media is proper to trials. By students response limited test is 95.73%, it means the student response about geographic diorama media learning is very good.   Keywords : Media Learning, Diorama, Hidrology Cycle and Soil Water Layer.
KAJIAN ASPEK KEPARIWISATAAN AIR TERJUN DLUNDUNG DAN COBAN CANGGU DI KABUPATEN MOJOKERTO FERIANTO, ANDRI
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): Volume 04 Nomor 01 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Abstrak   Salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di Kabupaten Mojokerto adalah Air Terjun Dlundung yang terletak  di  Kecamatan  Trawas  serta  Air  Terjun  Coban  Canggu  yang  terletak  di  Kecamatan  Pacet. Keduanya sama sama merupakan obyek wisata alam yang hampir tidak jauh berbeda, akan tetapi dalam kenyataan terdapat perbedaan perkembangan kepariwisataan antara kedua obyek wisata tersebut, dari tingkat kunjungan wisatawan di obyek wisata tersebut setiap tahunnya terdapat perbedaan yang cukup signifikan, meskipun ditinjau dari faktor faktor pendukung kepariwisataan  kondisi Air Terjun Coban Canggu lebih baik daripada Air Terjun Dlundung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kepariwisataan di Air Terjun Dlundung dan Coban Canggu ditinjau dari karakteristik wisatawan, aksesibilitas, atraksi, fasilitas penunjang, promosi serta kepuasan pengunjung. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey dengan pendekatan komparasi keruangan, yaitu dengan menekankan komparasi atau perbandingan antara wilayah satu dengan wilayah yang lain. Lokasi penelitian dilaksanakan di Air Terjun Dlundung di Kecamatan Trawas dan Air Terjun Coban Canggu di Kecamatan Pacet. Populasi dalam penelitian ini adalah wilayah Air Terjun Dlundung dan Coban Canggu beserta aspek aspek kepariwisataannya. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan  accidental sampling dengan mengambil 50 responden di masing-masing obyek wisata. Metode pengumpulan data yang digunakan menggunakan kuesioner, observasi serta dokumentasi yang kemudian dianalisis dengan pendekatan kuantitatif dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung di Air Terjun Dlundung dan Coban Canggu ditinjau dari tingkat pendidikan didominasi oleh tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas sederajat, ditinjau dari tingkat pendapatan didominasi oleh tingkat pendapatan  500.000 rupiah ditinjau dari asal wisatawan didominasi oleh pengunjung yang berasal dari luar Kabupaten Mojokerto,  yaitu  Kabupaten  Sidoarjo.  Tingkat  aksesibilitas  menuju  Air  Terjun  Dlundung  termasuk kategori sulit dijangkau,  sedangkan tingkat aksesibilitas menuju Air Terjun Coban Canggu termasuk kategori mudah dijangkau. Tingkat atraksi Air Terjun Dlundung termasuk kategori menarik, sedangkan tingkat  atraksi  di  Air  Terjun  Coban  Canggu  termasuk  kategori  kurang  menarik.  Tingkat  fasilitas penunjang di Air Terjun Dlundung dan Coban Canggu termasuk kategori baik. Tingkat promosi di Air Terjun Dlundung dan Coban Canggu termasuk dalam kategori buruk. Tingkat kepuasan pengunjung di Air Terjun Dlundung termasuk kategori   puas, sedangkan tingkat kepuasan pengunjung di Air Terjun Coban Canggu termasuk kategori tidak puas. Kata Kunci kepariwisataan, obyek wisata     Abstract   One of the famous attraction in Mojokerto is a Dlundung Waterfall located in the Trawas subdistric  and Coban Canggu Waterfall located in Pacet subdistrict. Although both are alike is an almost natural tourism object are not much different, but in fact there is a difference between the two tourism the development of tourism, seen of the level of tourist visit each year, there is enough between the two may tour desinations. This research is a comparative survey with spatial approach, namely by stressing the comparison between one region with another region. Location of the study conducted in Dlundung Waterfall in subdistrict Trawas and Coban Canggu Waterfall in subdistrict Pacet. The population in this study is the waterfall region Dlundung and Coban Canggu along with aspects of its tourism. The sampling technique in this research use accidental sampling by taking 50 respondents in each of the tour destinations. Fact collection methods  using  questionnaires,  observation  and  documentation  that  is  then  analyzed  by  quantitative approach and conclusions drawn. The results showed that the characteristics of visitors to the Waterfall Dlundung and Coban Canggu in terms of level of education is dominated by the level of high school education or equal, in terms of the level of income is dominated by income levels  500,000 rupiahs in terms of origin of tourists dominated by visitors from outside of Mojokerto, namely Sidoarjo Regency. Accessibility conditions towards Dlundung Waterfall category includes are difficult to reach, while the condition of accessibility to the Coban Canggu Waterfall category within easy reach. Conditions Dlundung Waterfall attractions including exciting categories, while the condition of the attractions in Coban Canggu Waterfall categories as less attractive. Conditions supporting facilities in Dlundung and Coban Canggu Waterfall good  category.  Conditions  of  promotion  in  Dlundung  and  Coban  Canggu  Waterfall  included in  the category of bad. The condition of visitor satisfaction in Dlundung Waterfall included categories satisfied, while the condition of  visitor satisfaction in Coban Canggu Waterfall category are not satisfied. Keywords tourism, tourist object
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBJEK WISATA (STUDI KASUS OBJEK WISATA BUKIT JAMUR DI KECAMATAN BUNGAH GRESIK) HAMIDAH, NANIK
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Objek wisata Bukit Jamur mempunyai daya tarik wisata yang memikat serta dapat membangkitkan rasa ingin tahu seseorang karena letaknya yang berada di tengah di kelilingi bukit kapur dan sawah. Bukit Jamur mempunyai keunikan tersendiri yaitu batuannya berbentuk jamur dan terbentuk secara alami. Bukit Jamur ini menjadi sangat penting ketika dapat menjadi penunjang perekonomian bagi para pemuda desa dan warga sekitar yang ingin mengembangkan objek wisata tersebut. Partisipasi dalam bentuk koordinasi dari masyarakat merupakan langkah awal untuk membangun kerjasama antara pembuat kebijakan dengan masyarakat sebagai pendorong suksesnya kebijakan tersebut dalam rangka pengelolaan objek wisata. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui potensi kepariwisataan yang ada di Gresik untuk itu penulis mengambil judul “Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Objek Wisata (Studi Kasus Objek Wisata Bukit Jamur di Kecamatan Bungah Gresik)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan bentuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan objek wisata  Bukit Jamur di Kecamatan Bungah, yang terdiri dari : a) bentuk interaksi masyarakat dalam pengelolaan objek wisata, b) bentuk-bentuk koordinasi antar masyarakat dengan objek wisata dan pemerintah daerah, c) pola partisipasi antar masyarakat dengan objek wisata. Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dimana peneliti akan menggunakan berbagai sumber data yang digunakan untuk meneliti, menguraikan, dan menjelaskan secara komperhensif berbagai aspek individu, kelompok, program, organisasi dan peristiwa secara sistematik. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tiga tahapan yaitu reduksi, penyajian, dan kesimpulan yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dengan informan yang di pilih dengan teknik purposive dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk interaksi sosial diawali dengan kerjasama antara perusahaan dan masyarakat, lahan penambangan dulunya merupakan lahan warga yang tidak bersertifikat setelah itu pada tahun diatas 1985 lahan tersebut dibeli oleh CV Bhumi Shakti yang akan digunakan sebagai penambangan, hubungan baik antara perusahaan dan masyarakat menyebabkan adanya kerjasama yang berkelanjutan dengan partisipasi warga dalam koordinasi pengelolaan wisata Bukit Jamur. Interaksi sosial yang terjadi dapat membentuk sebuah pola koordinasi horizontal dan vertikal. Koordinasi vertikal berkisar pada lembaga yang lebih tinggi setingkat yaitu dinas pariwisata, perusahaan, Kepala Desa berupa sumbangan pikiran secara nyata dengan membuat perubahan sistem kerja perusahaan. Warga desa yang melakukan koordinasi horizontal yaitu Linmas, karang taruna, Satpam, Polsek Bungah suatu lembaga yang sederajat bentuk koordinasi mereka berupa sumbangan tenaga, pikiran dan mempunyai tanggung jawab terhadap ke amanan area wisata, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara interaksi dengan koordinasi masyarakat dalam pengelolaan wisata Bukit Jamur. Partisipasi masyarakat secara tidak langsung berupa ide atau gagasan untuk kepentingan bersama dalam pengambilan keputusan perencanaan pembangunan. Partisipasi langsung berupa sumbangan fisik dari pengelola wisata yaitu berupa penjagaan keamanan dan menjual makanan serta minuman. Kata kunci: Interaksi, Koordinasi, Partisipasi
KAJIAN PANTAI NEPA SEBAGI KAWASAN EKOWISATA DIKECAMATAN BANYUATES KABUPATEN SAMPANG AROFAH, MARWATUL
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan, baik alam yang alami maupun buatan serta budaya  yang bersifat informatif dan partisipatif yang bertujuan untuk menjamin kelestarian alam dan sosial-budaya. Obyek wisata Pantai Nepa, kurang adanya partisipasi dan informasi dari pengelola padahal Pantai Nepa ini sangat berpotensi dijadikan sebuah kawasan konservasi dan edukasi untuk para pelajar dan wisatawan yang berkunjung.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) karakteristik wisatawan. 2) potensi wisata Pantai Nepa dilihat dari aksesibilitas, daya tarik dan fasilitasnya. 3) potensi ekowisata Pantai Nepa untuk dijadikan sebagai kawasan konservasi. 4) potensi ekowisata Pantai Nepa untuk dijadikan sebagai kawasan edukasi. 5) peran sumber daya manusia pengelola Pantai Nepa. Jenis penelitian ini adalah deskripsi kuantitatif, lokasi penelitian dilakukan pada obyek wisata Pantai Nepa.Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Peneliti mengambil 100 responden, Jenis data menggunakan data primer dan sekunder, Metode pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik skoring, dan jumlah akhir skor yang diperoleh dimasukkan kedalam beberapa kriteria meliputi sangat layak, layak, kurang layak, tidak layak dan sangat tidak layak. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden yang berkunjung usia 17-21 tahun dengan presentase 32%, berjenis kelamin laki-laki dengan presentase 60%, belum menikah sebagian besar pendidikan terakhirnya SMA(Sekolah Menengah Atas) dengan presentase 43%, asal responden dari penduduk lokal yaitu Madura dan 23% sebagai pelajar. Potensi obyek wisata dilihat dari sektor aksesibilitas 1.334 dengan kategori sedang, daya tarik 1.636 dengan kategori menarik, fasilitas dengan skor 2.127 dengan kategori baik dan dari segi Pantai Nepa sebagai kawasan konservasi dan edukasi masuk dalam kriteria tidak layak karena tidak semua tumbuhan dan hewan mendapatkan perlindungan dengan baik serta tidak ada fasilitas yang seharusnya terdapat di obyek wisata Pantai Nepa. Sumber daya manusia diperoleh skor 136 sehingga masuk kriteria sedang. Kata kunci : pengelola, konservasi, edukasi
KAJIAN POTENSI KEPARIWISATAAN AIR TERJUN WATU ONDO SEBAGAI KAWASAN TUJUAN WISATA ALAM  TAHURA R. SOERJO DI KECAMATAN PACET KABUPATEN MOJOKERTO YULIANTO, HERI
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): Volume 04 Nomor 01 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Sebagian wilayah Kabupaten Mojokerto merupakan Gunungapi yakni terdapat Gunung Welirang, Arjuna dan Penanggungan. Terkait kondisi seperti itu menjadikan Kabupaten Mojokerto memiliki potensi wisata alam yang telah menjadi salah satu destinasi wisata, salah satu diantara destinasi wisata alam yang berada di Kabupaten Mojokerto adalah air terjun watu ondo yang berada dilereng Gunung Welirang dan berlokasi di kawasan Taman Hutan Raya R.Soerjo. Terkait kunjungan wisatawan terdapat perbedaan kunjungan wisatawan yang rendah di air terjun Watu Ondo dibandingkan dengan objek wisata alam lain yang berada di Kabupaten Mojokerto, atas dasar itu peneliti mengangkat permasalahan ini untuk mengetahui faktor penyebab rendahnya jumlah kunjungan wisatawan air terjun Watu Ondo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji objek wisata air terjun Watu Ondo dalam upaya mengetahui seberapa besar potensi kepariwisataan yang ada. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi semua wisatawan yang berkunjung ke objek wisata air terjun Watu Ondo. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Teknik pengumpulan data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik skoring, presentase dan analisis model gravitasi interaksi antar wisata dalam ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wisatawan yang berkunjung sebagian besar berstatus sebagai pelajar dengan usia 15 sampai 20 tahun dengan penghasilan rata rata kurang dari 500.000 rupiah setiap bulan. Wisatawan paling banyak berasal  dari Kabupaten Sidoarjo. Aksesibilitas objek wisata air terjun Watu Ondo termasuk dalam kategori mudah, dengan kondisi daya tarik wisata yang menarik. Hasil analisis interaksi antar wilayah yang menjadi tujuan wisata antara air terjun Watu Ondo dengan objek wisata alam lain di Kabupaten Mojokerto, menunjukkan interaksi paling besar yaitu dengan objek Wana Wisata Padusan sebesar 528.559 dan interaksi wisata paling kecil yaitu dengan objek wisata Air Terjun Dlundung dengan jumlah interaksi sebesar 27.278. Berdasarkan nilai kegunaan objek wisata terhadap harapan berwisata sebanyak 73 persen wisatawan menilai sangat berguna, sedangkan nilai kegunaan terhadap  harapan pendidikan sebanyak 64 persen wisatawan menilai berguna. Kondisi promosi objek wisata air terjun Watu Ondo termasuk dalam kategori buruk. Kata Kunci: Potensi, Wisata Alam, Kepariwisataan.   Abstract Parts of Mojokerto is volcanic activity report there is Mount Welirang, Arjuna and Penanggungan. Related conditions like that makes the Mojokerto has a natural tourism potential has become one of the tourist destinations, among natural tourist destinations located in Mojokerto is a waterfall of watu ondo in mountain slopes located  Welirang and located in the Park area of the forest Kingdom R. Soerjo. Related tourists visit there is a difference in low tourists visit waterfalls Watu Ondo compared to other natural attractions in the Regency of Mojokerto, on the basis that researchers raised this issue to find out factors cause the low number of tourists visit waterfalls Watu Ondo. The purpose of this research is to examine the attractions waterfalls Watu Ondo in an attempt to find out how big the potential of tourism. Type of this research is quantitative descriptive, with a population of all tourists visiting the attractions waterfalls Watu Ondo. The sample in this research as much as 100 respondents, with sampling techniques using accidental sampling. The technique of collecting data collected is analyzed using the technique of skoring, the percentage of the gravity model and analysis of the interactions between tourism in space. The results showed that the characteristics of tourists visiting most of status as students age 15 to 20 years with the median income averages less than 500,000 dollars every month. Most tourists came from Sidoarjo. Accessibility attractions waterfalls Watu Ondo included in easy conditions, with an interesting tourist attraction. The results of the analysis of the interactions between the area that became a tourist destination among the waterfalls Watu Ondo with other natural attractions in Mojokerto, showed the most interaction with the object of Wana Padusan Tourist 528,559 and interaction with most small tourist attractions Dlundung Waterfall with the amount of interaction of 27,278. Based on the value of usability sights against expectations of travelling as much as 73 percent of travelers rate the very useful, whereas the value of usability against expectations of education as much as 64 percent of travelers rate useful. Promotional conditions attractions waterfalls Watu Ondo are included in the bad category. Keywords: Tourism, Nature Tourism Potential.  
KAJIAN DAMPAK PEMBANGUNAN RUAS TOL MOJOKERTO KERTOSONO TERHADAP KELANGSUNGAN MATA PENCAHARIAN DAN PENDAPATAN MASYARAKAT KECAMATAN GEDEG KABUPATEN MOJOKERTO FAIZA AFIFAH, NUR
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan transportasi merupakan bagian dari usaha pemerintah untuk memajukan suatu wilayah, karena dengan adanya transportasi yang memadai akan mempermudah mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat. Proyek pembangunan ruas jalan Tol Mojokerto Kertosono yang melalui Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto pada saat ini masih dalam proses pembangunan danhal ini mengharuskan pemerintah membebaskan lahan milik masyarakat. Luas lahan sawah yang dibebaskan di Kecamatan Gedeg yaitu 335.550 m2. Terdapat sebagian masyarakat yang melakukan penolakan terhadap pembebasan lahan ini karena harga yang diberikan oleh pemerintah berada di bawah harga pasaran pada umumnya di Kecamatan Gedeg,dari keseluruhan masyarakat yang lahannya dibebaskan, terdapat 5 orang atau 1,5 persen yang melakukan penolakan.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui 1. penggunaan dana ganti rugi pembebasan lahan oleh masyarakat, 2. kelangsungan mata pencaharian sebagai petani yang lahan persawahannya terkena pembebasan lahan tol, 3. perbedaan pendapatan masyarakat yang lahan persawahannya terkena pembebasan lahan tol Mojokerto Kertosono di Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto sebelum dan setelah proses pembebasan. Jenis penelitian ini adalah survei. Lokasi penelitian di Desa Sidoharjo, Terusan, Kemantren, Pagerluyung, dan Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Responden penelitian ini yaitu petani yang lahannya dibebaskan di 5 desa tersebut. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan Uji t berpasangan atau paired t test. Hasil penelitian menunjukkan 1. sebagian besar responden atau 52 persen menggunakan uang ganti rugi yang didapat untuk dibagikan kepada anak atau saudara, 2. 45 persen responden mengalami perubahan mata pencaharian, 3. terjadi perbedaan pendapatan yang signifikan antara sebelum dan setelah pembebasan lahan yaitu penurunan pendapatan sebesar 16,8 persen. Kata Kunci pembangunan, pembebasan lahan, masyarakat, mata pencaharian, pendapatan. Transportation development is a part of governments efforts to improve a certain area, since the presence of an adequate transportation will ease the social and economic mobility.The construction of Mojokerto Kertosono highway, whichis built through Gedeg district in Mojokerto regency, is still under constructioncurrently and this factmakes the government did land acquisition. The rice field area acquired in Gedeg subdistrict is 335.550 m2.There are people who commit the rejection of the land acquisition is because the price given by the government under market value generally in the Gedeg district, of the people who have been released there are 5 people or 1,5 percent doing a piece for rejection. This study aims at finding out 1. the use of compensation money for the land acquisition,2. the communitys livelihood continuance as farmers, as theirrice fields were acquired for the highway construction, 3. comparison on communitys incomein Gedeg subdistrict in Mojokerto, before and after the land acquisition. This studyuses survey research design. Itwas conducted in some villages including Sidoharjo, Terusan, Kemantren, Pagerluyung, and Gedeg which are all located in Gedeg district in Mojokerto regency. The respondents are the farmers whose lands are involved in the land acquisitionin those five villages. The data were analyzed using descriptive quantitative technique and paired t test. The result of this study shows that 1. 52 percent of the respondents sharethe compensation money to their children or relatives, 2. 45 percent of the respondents get their livelihoods switched, 3. there is significant difference on the community income before and after theland acquisition, in which it decreases by 16,8 percent. Keywordsconstruction, land acquisition, community,livelihood, income.
PERSEPSI MASYARAKAT TERKAIT KENYAMANAN TINGGAL DI PEMUKIMAN KUMUH (STUDI KASUS: PEMUKIMAN KUMUH KELURAHAN KEPUTIH KECAMATAN SUKOLILO KOTA SURABAYA) ALFIANI, VINNY
Swara Bhumi Vol 4, No 02 (2016): Volume 4 edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penduduk yang pindah ke perkotaan dapat mempengaruhi jumlah penduduk di kota, terutama di Kota Surabaya yang mempunyai kepadatan 8.462 jiwa per km² yang dapat menyebabkan pemukiman kumuh. Pemukiman kumuh merupakan permukiman dengan unit-unit rumah berukuran kecil-kecil dan kondisi lingkungannya yang buruk (Drakikis-Smith:1980 dalam Rindarjono, 2012:27). Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya terdapat pemukiman kumuh yang berada di bekas TPA. Kelurahan Keputih masih difungsikan sebagai tempat penumpukan sampah, tumpukan sampah mencapai ±2meter sehingga menjadi kumuh.Pekerja merupakan masyarakat pendatang dari daerah lain yang berprofesi sebagian besar adalah pemulung. Pekerja mendirikan rumah juga harus memperhatikan nyaman dan ketidak nyamanan lingkungan tempat tinggal.Kenyamanan merupakan komponen yang dapat merefleksikan secara langsung bagaimana tingkat kualitas hidup masyarakat pada suatu wilayah.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kondisi fisik dan persepsi masyarakat terkait kenyamanan tinggal di pemukiman kumuh di Kelurahan Keputih Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah sampel dari masyarakat yang bertempat tinggal di pemukiman kumuh sebanyak 71 orang.Pengumpulan data dilakukan dengan angket, observasi, dan dokumentasi.Analisis data dengan berpedoman pada data primer yang diperoleh dari hasil observasi, angket, dan keterangan responden di pemukiman kumuh dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian yaitu persespsi masyarakat terkait kenyamanan tinggal di pemukiman kumuh Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya yaitu berpendapat agak nyaman. Kondisi lingkungan fisik pada kategori sedang yaitu bangunan rumah sebagian besar berjarak <1 meter dari bangunan pemukiman lainnya, kondisi jalan utama pada pemukiman kumuh berupa aspal, kondisi fisik bangunan sebagian besar non permanen, kondisi drainase pemukiman kumuh ini ada dialirkan ke selokan terbuka, persampahan  sebagian besar masyarakat membuang sampah ke tanah kosong, dalam penyediaan air bersih mereka menggunakan air dari PDAM, dan sarana pembuangan limbah mereka mempunyai septic tank. Kata kunci: Kondisi Fisik Pemukiman, Kenyamanan,  PersepsiMasyarakat   Abstract Residents who moved to urban areas could influence the number of residents in the city, especially in Surabaya with its intensiveness about 8,462 inhabitants per km2. This problem could lead to the slums. Slums in this case was meant as a settlement with small-sized houses and its terrible environmental conditions (Drakikis-Smith:1980 in Rindarjono, 2012:27). There are slums located in former landfill in Keputih area, a sub-district of Sukolilo, Surabaya, used as a location of all garbage until it reaches ±2metres, that makes it dirty. Most of the workers were migrant communities that as scavenger. However, they should consider the comfort of their neighborhood, in terms of house construction. Comfort is a component that reflects directly of how the level of societies with quality life in a region. The purpose of this research was to analyze the characteristic of physical condition and public perception related to living comfort in the slums located in Keputih area, a sub-district of Sukolilo, Surabaya. This study used descriptive-quantitative research analysis. The subjects of the research were 71 samples of residents living in slums. The data collection techniques used Questionnaire, observation, and documentation. The primary data were conducted through observation, questionnaire, and respondents’ statement results  and analyzed by using descriptive analysis. The result of this research showed that public perception was that the residentsfelt rather comfort relatedto the comfort living in the slums located in Keputih area, a sub-district of Sukolilo, Surabaya. Physical condition of environment was categorized as moderate in which  the house building was less than a meter distance form the others. The main road of the slums was in the form of asphalt. Furthermore, most of the building’s physical condition was non-permanent. Drainage conditions of slums flowed into an open sewer Also, most of the residents throw the garbage on the empty space. They use water from Water Company to support their needs. They have septic tank that used as waste disposal facilities. Keywords: Settlements’ Physical Condition, Comfort, Public Perception.
PERSEPSI MASYARAKAT TERKAIT KENYAMANAN TERMAL DI PEMUKIMAN PADAT (NON-AC) KECAMATAN DUKUH PAKIS KOTA SURABAYA HANDAYANI, MALINDA
Swara Bhumi Vol 4, No 02 (2016): Volume 4 edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kota Surabaya merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Timur yang memiliki iklim tropis dan iklim pantai,maka menjadi hal wajar bahwa Kota Surabaya memiliki cuaca yang panas dan kering namun saat ini sering dijumpai bahwa tingkat temperatur di kota sudah melebihi batas normal. Kota Surabaya kini sudah berada pada rentangan 23,2°C -35,3°C dengan kelembaban 95% sedangkan suhu nyaman termal untuk orang Indonesia yang berada pada daerah tropis adalah kisaran 15°C - 25°C dengan kelembaban 70%. Tingginya suhu udara yang ada di Kota Surabaya memberikan pengaruh terhadap kenyamanan termal bagi masyarakatnya kususnya daerah Kecamatan Dukuh Pakis yang memiliki temperatur paling tinggi dibandingkan 31 kecamatan yang ada di Surabaya yaitu mencapai 34,8°C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) persepsi masyarakat terkait kenyamanan termal baik di dalam rumah maupun di luar rumah di Kecamatan Dukuh Pakis 2) mengetahui jenis adaptasi yang dilakukan masyarakat untuk mengurangi tingginya suhu udara yang dirasakan disekitar lingkungan tingggal mereka yaitu di Kecamatan Dukuh Pakis.Jenis penelitian ini menggunakan penelitian Survey.Penelitian ini teknik sampling yang digunakan termasuk ke dalam kelompok non probability sampling dengan menggunakan teknikaccidental sampling.Subjek penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kecamatan Dukuh Pakis yang tidak menggunakan pendingin ruangan (AC).Pengumpulan data dilakukan dengan angket dan dokumentasi.Analisis data dengan berpedoman pada data primer yang diperoleh dari hasil angket dan keterangan responden di Kecamatan Dukuh Pakis dan digunakan analisis deskriptif.Hasil penelitian ini adalah persepsi kenyamanan termal masyarakat ketika berada didalam rumah yaitu Kurang Nyaman dan untuk persepsi kenyamanan termal luar rumah adalah Tidak Nyaman, sehingga masyarakat lebih suka beraktifitas di dalam ruangan daripada di luar ruangan. Bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat untuk mengurangi panasnya suhu udara berupa adaptasi kegiatan dan tempat tinggal, untuk adaptasi kegiatan yang dilakukan masyarakat adalah kegiatan yang mudah seperti menyalakan kipas Angin, untuk adaptasi tempat tinggal untuk mengurangi tingginya suhu udara masyarakat memberikan tanaman di depan rumah agar lebih sejuk dan menambah rasa nyaman ketika berada di dalam maupun luar rumah. Kata Kunci :Persepsi, Kenyamanan Termal, Adaptasi   Abstract Surabaya is a capital of East Java Province which has tropical and coastal climates, so that it becomes natural if this city is hot and dry. However, it has been found that temperature level of this city has exceeded the normal limit. Surabaya has already on 23,2°C -35,3°C temperature with 95% humidity, while the thermal comfort for Indonesian people which its temperature in tropical area is around 15°C - 25°C with 70% humidity. The high temperature in Surabaya affects the thermal comfort, especially Dukuh Pakis district that its temperature reaches 34,8°C, which is the highest temperature from all of 31 districts in Surabaya. The aim of this study is to find out 1) public perception related with thermal comfort inside and outside the house in Dukuh Pakis district 2) adaptation types that citizens do to reduce the temperature around their surroundings in Dukuh Pakis districts. This research was used Survey Research as the research design. Sampling technique that used was in the same group of Non Probability Sampling that named Accidental Sampling Method. This study was involved all the residents Dukuh Pakis district which do not use air conditioner as the research subject. Questionnaire and documentation were used as data collection techniques. The primary data that got from questionnaire and respondents’ statement will be analyzed by using descriptive analysis. The result of this study revealed that public perception of thermal comfort inside the house stated as rather comfortable, and not comfortable at all outside the house. In this case, people are preferred to stay inside the room rather than the outside. These kinds of adaptation are done to decrease the air temperature like adaptation in terms of activity and residency. Activity adaptations that done by people is doing the easy task, like turning on the fan. For residency adaptation, people usually grow some plants around the house to decrease the heat, so the environment will become cooler and more comfort while they are inside or outside the home. Keywords: Perception, Thermal Comfort, Adaptation
PENGEMBANGAN MODUL GEOGRAFI SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA KD 3.6 MENGANALISIS HUBUNGAN ANTARA MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN SEBAGAI AKIBAT DARI DINAMIKA HIDROSFER DENGAN MODEL 4D SETYANA PURWAHYUNINGTYAS, DESY
Swara Bhumi Vol 4, No 01 (2016): volume IV edisi yudisium
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berdasarkan hasil wawancara dengan guru geografi di SMAN 1 Gondang Mojokerto, diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran geografi di kelas X IIS guru hanya menerapkan metode ceramah dengan menggunakan media papan tulis, guru tidak menggunakan buku khusus geografi (buku paket, LKS, dsb.) dan hampir seluruh siswa tidak memiliki buku pegangan geografi. Berdasarkan nilai ulangan harian pada mata pelajaran geografi bab hidrosfer diketahui bahwa nilai rata-rata siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 75. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya penggunaan buku dalam kegiatan pembelajaran, sehingga dengan adanya penggunaan buku diharapkan siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul geografi yang layak sebagai bahan pembelajaran kontekstual pada KD 3.6 menganalisis hubungan antara manusia dengan lingkungan sebagai akibat dari dinamika hidrosfer di kelas X SMA Negeri 1 Gondang Mojokerto; mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan modul dan siswa yang menggunakan modul, mengetahui respon siswa terhadap penggunaan modul geografi dalam pembelajaran, mengetahui aktivitas siswa selama menggunakan modul. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan dengan menggunakan model pengembangan 4D yang diadaptasi dari model pengembangan 4D oleh Thiagarajan. Penelitian pengembangan ini hanya melakukan tiga tahap yaitu Define, Design, dan Develop, tahap ke empat yaitu Disseminate tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X IIS SMAN 1 Gondang Mojokerto terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang masing-masing berjumlah 31 siswa, kedua kelas tersebut memiliki tingkat kognitif yang sama hal ini berdasarkan hasil uji independent sample t-test dengan Sig.(2-tailed) sebesar 0,356 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara nilai pre-test siswa pada kelas kontrol dan eksperimen. Data dikumpulkan melalui wawancara tidak terstruktur, angket, observasi partisipatif, test, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul geografi yang dikembangkan oleh peneliti layak untuk digunakan, hal ini berdasarkan hasil validasi rata-rata oleh peneliti mendapatkan presentase sebesar 74,98%. Hasil uji coba terbatas pada 31 siswa menunjukkan bahwa penggunaan modul geografi dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, melalui uji independent sample t-test  diketahui bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol dalam pembelajaran, hasil uji tersebut menunjukkan bahwa nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,000, maka nilai ρ < α ; 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Penggunaan modul dalam pembelajaran mendapatkan respon yang sangat baik dengan presentase sebesar 83,21%. Aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran menggunakan modul berjalan sangat baik dengan presentase 83,05%. Kata Kunci: modul geografi, materi hidrosfer, pembelajaran kontekstual.