cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Swara Bhumi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 509 Documents
FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB PERBEDAAN WANITA NIKAH USIA DINI DI DESA JEDONG DAN DESA KUNJOROWESI KECAMATAN NGORO KABUPATEN MOJOKERTO NADIA, CHINDY
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH BAHAN BAKU, TENAGA KERJA DAN PEMASARAN TERHADAP EKSISTENSI INDUSTRI SONGKOK DI KECAMATAN GRESIK KABUPATEN GRESIK Zulaichah, Ummu
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Gresik merupakan kota pesisir yang terletak di sebelah utara Provinsi Jawa Timur yang dikenal dengan masyarakatnya yang kental akan agama Islam. Letak geografis yang strategis, dapat mendukung keberadaan industri songkok di Kabupaten Gresik. Keberadaan industri songkok di Kabupaten Gresik tersebar di beberapa kecamatan yang berpusat di Kecamatan Gresik. Fenomena ini menyebabkan banyak permasalahan fundamental bermunculan seperti yang dinyatakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gresik bahwa industri songkok kecil dan rumah tangga, banyak yang gulung tikar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran terhadap eksistensi industri songkok. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey yang dilaksanakan pada 51 pengrajin songkok di Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Alat instrumen yang digunakan adalah angket. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik kuantitatif melalui teknik analisis regresi linier berganda dan pengujian hipotesis menggunakan uji-t untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan uji-F untuk mengetahui pengaruh secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persamaan regresi linier dalam penelitian ini adalah Y= 0,904+0,466X1+0,382X2+0,301X3. Bahan baku, tenaga kerja dan pemasaran secara positif dan signifikan berpengaruh secara simultan terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai F hitung>F tabel (7,051>3,187). Variabel bahan baku berpengaruh terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai t hitung> t tabel (3,168>2,010). Variabel tenaga kerja berpengaruh terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai t hitung> t tabel (2,724>2,010). Variabel pemasaran berpengaruh terhadap eksistensi industri songkok yang memiliki nilai t hitung> t tabel (2,032>2,010). Kata Kunci : Bahan Baku, Tenaga Kerja, Pemasaran, Eksistensi, Industri Songkok
KAJIAN AGLOMERASI INDUSTRI LOGAM DI DESA NGINGAS KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO SULIS ANDRE A, MOH
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Ngingas Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo merupakan suatu sentra industri yang memproduksi berbagai jenis logam. Lokasi berdirinya industri logam yang ada di Desa Ngingas ini bersifat mengelompok (aglomerasi). Adanya aglomerasi industri logam ini menimbulkan berbagai permasalahan. Salah satunya adalah persaingan yang tidak sehat, meskipun demikian dalam perkembangan industri logam ini, pengrajin sampai sekarang tetap mempertahankan produksinya guna membangun kualitas industri logam di Desa Ngingas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pasar, biaya transportasi, dan increasing return dari perusahaan terkait dengan aglomerasi industri logam di Desa Ngingas Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 54 pengrajin dari total populasi sebanyak 115 pengrajin. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara dengan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemasaran yang paling banyak digunakan oleh para pengrajin adalah lewat pengepul. Omset produk terbanyak adalah peralatan pertanian dan komponen kompor gas yang mencapai >6.000 unit/bulan. Desa Ngingas pemasarannya sudah luas baik dalam lingkup lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Lokalisasi industri yang berdekatan membawa keuntungan yang dapat menekan biaya transportasi. Bahan baku didapatkan dari luar daerah Sidoarjo seperti Surabaya, Pasuruan, Malang, Tulungagung, Ponorogo, Semarang, dan Yogyakarta. Biaya transportasi dari lokasi bahan baku ke lokasi industri sebesar ± Rp 140.000,00. Biaya transportasi pemasaran ditanggung oleh konsumen. Asal modal dari tabungan sendiri dengan jumlah modal awal yang digunakan paling banyak antara Rp 16.000.000,00 - Rp 20.000.000,00. Jumlah pendapatan bersih dalam industri ini adalah paling banyak antara Rp 6.000.000,00-Rp 8.000.000,00. Jumlah ini sudah bersih dari gaji tenaga kerja, biaya transportasi, biaya bahan baku dan lain-lain. Pendapatan bersih sebesar itu membuat para pengrajin mampu dan menekan hutang secara besar dan melakukan perputaran modal dengan baik. Kata Kunci : Aglomerasi, Industri Logam
ANALISIS POLA USAHA TAMBAK GARAM TERHADAP PENDAPATAN PETANI GARAM DI KECAMATAN PAKAL KOTA SURABAYA ESTIMEWA, MAWA
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Kecamatan Pakal merupakan salah satu dari 31 Kecamatan dan menjadi salah satu penyumbang produksi garam terbesar setelah Kecamatan Benowo. Kecamatan Pakal memiliki potensi untuk membuka usaha pembuatan garam dan memberi kesempatan bekerja sebagai petani garam. Sebagian besar petani berasal dari Madura dan bukan berasal dari penduduk setampat, karena mereka tidak tertarik untuk bekerja di area tambak garam. Penelitian ini didasarkan pada pola budidaya garam yang berbeda namun bertujuan untuk mengetahui apakah pola usaha petani garam berpengaruh terhadap pendapatan petani. Penelitian ini menggunakan metode survei, 37 sampel yang dipilih berasal dari 112 populasi dengan menggunakan teknik samling random sampling. Data dikumpulkan dengan cara wawancara secara terstruktur dan dokumentasi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani garam didominasi oleh penduduk non lokal dengan sistem usaha bagi hasil. Teknik pengolahan lahan yang diterapkan di Kecamatan Pakal, didominasi oleh penerapan teknik secara tradisional. Diperoleh dari hasil analisis model persamaan regresi, bahwa biaya sewa lahan dan perlengkapan lahan memiliki pengaruh positif terhadap pendapatan petani garam. Terdapat proporsi pengaruh yang kuat terhadap pendapatan hingga mencapai prosentase sebesar 98,3%.   Kata kunci: petani garam, pendapatan, pola usaha tambak garam
KAJIAN ALIH PEKERJAAN MASYARAKAT DESA DARI PETANI MENJADI BURUH INDUSTRI SEMEN INDONESIA DI KABUPATEN TUBAN JAWA TIMUR HUSNAH, WATIUL
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan industri Semen Indonesia di Kabupaten Tuban Jawa Timur telah mengubah keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat melalui perubahan kepemilikan lahan. Penelitian yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui karakteristik sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setelah adanya perubahan kepemilikan lahan yang dialami masyarakat serta bagaimana orientasi masyarakat terhadap lahan yang ditinggalkan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif.  Hasil penelitian menunjukkan masyarakat yang beralih pekerjaan dari petani menjadi buruh industri yang ada di Ring I, Ring II, dan Ring III tersebut telah mengalami perubahan sosial sebagai akibat dari perubahan kepemilikan lahan yang memunculkan kebudayaan konsumtif sebagai kebudayaan baru terutama di Ring II. Budaya konsumtif masyarakat akan berdampak pada kemiskinan yang tinggi saat industri yang menjadi mata pencaharian utama saat ini sudah tidak beroperasi, sedangkan perilaku konsumtif tersebut telah melekat pada diri masyarakat. Masyarakat tersebut menjual hewan ternak dan bekerja di industri Semen Indonesia untuk mencukupi kekurangan akan kebutuhan. Orientasi masyarakat terhadap lahan yang ditinggalkan secara sosial dan budaya lahan masih mendukung berbagai kegiatan sosial budaya yang menjadi karakteristik masyarakat petani desa, akan tetapi secara ekonomi lahan pertanian kurang mendukung dalam menyumbang pendapatan keluarga. Ketidakpuasan masyarakat terhadap hasil pertanian terjadi karena keadaan sosial yang telah mengalami perubahan sehingga mempengaruhi perekonomian keluarga yang memunculkan kebudayaan baru masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat meningkat, sedangkan pendapatan dari pertanian tetap. Terjadinya ketimpangan antara kenyataan yang dihadapi dengan kepercayaannya terhadap pertanian yang mampu menjaga budaya dan juga kerukunan masyarakat dapat menjadikan perubahan sikap masyarakat terhadap pertanian. Perubahan sikap yang terjadi tersebut didorong dengan adanya suatu pilihan yang dianggap menguntungkan yaitu peluang kerja di industri Semen Indonesia, akhirnya masyarakat akan lebih  mudah merubah sikap perilaku untuk beralih pekerjaan Azwar (2000 : 46).   Kata Kunci: sosisl, ekonomi, budaya, orientasi, lahan pertanian
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB EKSISTENSI PEDAGANG PASAR PAHING KOTA BLITAR PASCA RELOKASI (STUDI KASUS TENTANG PEDAGANG PASAR PAHING KOTA BLITAR) CAHYANI, CHRISTINA
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebijakan relokasi Pasar Pahing dari Kelurahan Pakunden ke Kelurahan Tanjungsari pada tahun 2011 diharapkan dapat membantu masyarakat sekitar dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, namun banyak pedagang yang meninggalkan kios mereka beberapa bulan setelah relokasi karena sepinya pembeli. Kenyataannya di Pasar Pahing masih terdapat beberapa pedagang yang tetap bertahan dan menjaga eksistensinya sebagai pedagang di Pasar Pahing. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui faktor -faktor penyebab eksistensi pedagang pasar pahing kota blitar pasca relokasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan faktor-faktor penyebab eksistensi pedagang pasar pahing Kota Blitar pasca relokasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Subyek dalam penelitian adalah pedagang yang masih tetap bertahan di Pasar Pahing. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, sedangkan untuk keabsahan data menggunakan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab eksistensi pedagang Pasar Pahing Kota Blitar pasca relokasi adalah faktor sosial pedagang, faktor ekonomi pedagang dan faktor jarak tempat tinggal pedagang. Faktor sosial pedagang meliputi keinginan pedagang untuk meramaikan kembali Pasar Pahing dan keahlian dalam berdagang yang menjadi modal proses adaptasi pedagang pasca relokasi di lingkungan pasar yang baru. Faktor ekonomi pedagang yang menjadi penyebab eksistensi pedagang Pasar Pahing antara lain tidak adanya modal yang dimiliki pedagang untuk membeli atau menyewa tempat lain, tarif retribusi pasar yang murah, serta kondisi pasar yang sepi tidak mempengaruhi pendapatan beberapa pedagang Pasar Pahing. Faktor lain yang menjadi penyebab eksistensi pedagang Pasar Pahing adalah jarak tempat tinggal pedagang yang dekat dengan Pasar Pahing dikarenakan sebagian besar pedagang merupakan warga sekitar pasar.   Kata Kunci: Eksistensi, Pedagang Pasar, Relokasi, Pasar Tradisional   Abstract The relocation of Pahing Market from Pakunden to Tanjungsari Village in 2011 was expected to fulfill people’s daily needs. But, a number of traders left their kiosk because lack of buyers. In fact, there are still some traders who survive and maintain their existence as a trader in Pahing Market. Therefore, the researcher is interested to know the factors causing the existence of traders in Pahing Market after relocation. The purpose of this study is to describe the factors causing the existence of traders in Pahing Market after relocation. The type of this study used  case study method. Subjects in the study were traders who still survive in Pahing Market. Data were collected using observation, depth interview, and documentation. Data were analyzed using some stages such as; data collection, data reduction, data presentation and conclusions. the test of credibility, transferability, dependability and confirmability was used to validate the data. The results of this study concluded that the factors causing the existence of Pahing Market traders after relocation were a social factors, economic and the distance. Social factors referred to the desire of traders to re-enliven Pahing Market and trader’s trading expertise that became the capital of their adaptation process in the new market environment. Economic factors referred to the lack of capital owned by traders to buy or rent other new places, while cheap retribution,  and quiet market conditions did  not affect the income of some traders. Another factor was distance of traders residence that was close to Pahing Market because most of the traders were living around the market.   Keywords:  Existence, Market Traders, Relocation, Traditional Market
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTADIDIK (LKPD) BERBASIS GUIDED NOTE TAKING PADA KOMPETENSI DASAR INTERAKSI MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM DINAMIKA HIDROSFER UNTUK SMA KELAS X WULANDARI O, DWI
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan salah satu media pembelajaran. LKPD Geografi yang digunakan di sekolah masih banyak menunjukkan ketidaksesuaian dengan kriteria LKPD sesuai kurikulum 2013, maka diperlukan alternatif pemecahan masalah dengan mengembangkan LKPD berbasis Guided Note Taking.Tujuan penelitian ini adalah untuk menyusun kelayakan LKPD yang dikembangkan, menguji efektivitas LKPD berbasis Guined Note Taking, respon peserta didik, dan aktivitas guru pada saat pembelajaran dengan LKPD berbasis Guided Note Taking. Jenis penelitian merupakan penelitian pengembangan model 4-D dengan tahapannya yaitu, pendefinisian (define), perancangan (design),  pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate), yang dibatasi hanya sampai pada tahap pengembangan (develop). Uji coba dilakukan pada 39 orang pesertadidik kelas X di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya. Berdasarkan hasil telaah dan validasi oleh ahli media dan materi, diketahui bahwa LKPD berbasis Guided Note Taking dikategorikan layak berdasarkan kriteria kebahasaan sebesar 92,5%, kriteria penyajian sebesar 91,7%, kriteria kesesuaian dengan komponen Guided Note Taking sebesar 100%, dan kriteria materi/isi sebesar 75%. Respon peserta didik terhadap LKPD berbasis Guided Note Taking berdasarkan kriteria materi sebesar 97,64%, kriteria kebahasaan sebesar 98,07%, kriteria penyajian sebesar 98,16%, dan kriteria penilaian Guided Note Taking sebesar 99,35%. Hasil belajar  peserta didik setelah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan LKPD berbasis Guided Note Taking mengalami peningkatan, yaitu dari 51,8 menjadi 83,2. Hasil penilaian aktivitas guru pada kelas eksperimen berturut-turut selama 6 pertemuan adalah 70,6%, 72,3%, 75,6%, 77,2%, 81%, dan 83%. Pada kelas kontrol, hasil penilaian aktivitas guru selama 6 pertemuan berturut-turut adalah 71,2%, 72,8%, 74,6%, 73,6%, 74,2%, dan 76,2%. Kata Kunci: LKPD, Guided Note Taking, Hasil Belajar, Respon Peserta Didik, Aktivitas Guru.
KAJIAN PENYEBAB MASYARAKAT MEMILIH TETAP BERMUKIM DI WILAYAH RAWAN BANJIR BENGAWAN SOLO (STUDI DI KECAMATAN PLUMPANG KABUPATEN TUBAN) Intan Lusia Bening, One
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banjir di Kabupaten Tuban mrupakan peristiwa tahunan yang sering terjadi, khususnya banjir yang disebabkan meluapnya Bengawan Solo. Kecamatan Plumapang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Tuban yang setiap tahunnya tergenang banjir. Banjir yang terjadi diwilayah ini merupakan banjir yang disebabkan karena meluapnya Bengawan Solo, sehingga menggenangi pemukiman warga. Masyarakat memiliki alasan mengapa memilih tetap bermukim diwilayah rawan banjir. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab masyarakat memilih tetap bermukim di wilayah rawan banjir Bengawan Solo di Kecamatan Plumpang. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan studi kasus yaitu penelitian secara langsung yang dilihat dari fakta. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui observasi kemudian wawancara dengan menggunakan kuisioner dengan informan. Hasil penelitian adalah sebagian besar masyarakat yang tinggal di Kecamatan Plumpang memilih tetap bermukim di wilayah rawan banjir Bengawan Solo karena faktor ekonomi dan beban tanggungan keluarga yang tinggi menjadikan masyarakat sulit menabung untuk merelokasi tempat tinggalnya ke tempat yang lebih aman dari ancaman banjir. Selain itu ada juga faktor sosial dengan pekerjaan sebagai buruh tani dan kondisi wilayah yang sangat strategis dan subur untuk dijadikan lahan pertanian sehingga menjadikan masyarakat enggan untuk merelokasi tempat tinggalnya ditambah lagi rumah yang mereka tempati merupakan milik sendiri. strategi masyarakat dalam menghadapi bencana banjir sudah beradaptasi dengan banjir yang menggenangi tempat tinggal mereka sehingga mereka bisa tetap tinggal ditempat tersebut.
KONDISI MASYARAKAT DI KAWASAN KONSERVASI SENDANG BIRU DESA TAMBAK REJO KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN KABUPATEN MALANG DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN CBT (COMMUNITY BASED TOURISM) Mawarni, Tera
Swara Bhumi Vol 5, No 02 (2017):
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan konservasi Sendang Biru terletak di Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Kawasan Konservasi Sendang Biru mulai melakukan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau CBT (Community Based Tourism), namun setelah melihat dilapangan konsep pembangunan berbasis komunitas tersebut belum berkembang dengan baik. Peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui kondisi sumber daya manusia, partisipasi dan kearifan lokal masyarakat di Desa Tambak Rejo dalam ikut mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat atau CBT (Community Based Tourism). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berusia produktif di Desa Tambak Rejo yang berjumlah 4017. Peneliti menentukan sampel menggunakan perbandingan dua kelompok, setiap 40 jiwa masyarakat Desa Tambak Rejo adalah 1 anggota CMC (Clungup Mangrove Conservation). Peneliti menentukan sampel penelitian ini sebanyak 52 sampel. Variabel dalam penelitian ini meliputi sumber daya manusia, partisipasi dan kearifan lokal masyarakat di Desa Tambak Rejo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi dengan data yang dibutuhkan meliputi data jumlah penduduk, tingkat pendidikan, pekerjaan dan data kepelatihan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini  menggunakan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan kondisi sumber daya manusia, yang memiliki 3 aspek meliputi, pendidikan, pengetahuan dan keterampilan yang masuk dalam kategori rendah. Hasil penelitian tentang kondisi partisipasi masyarakat di Desa Tambak Rejo yang belum menunjukan keantusiasan dalam setiap kegiatan sehingga masih tergolong rendah. Hasil penelitian tentang kearifan lokal masyarakat di Desa Tambak Rejo dalam mendukung konsep pengembangan CBT (Community Based Tourism) adalah dengan adanya aturan-aturan masyarakat dalam melindungi sumber daya alam serta adanya tradisi yaitu upacara Petik Laut. Kondisi sumber daya manusia, partisipasi dan kearifan lokal yang rendah menunjukkan pengembangan CBT (Community Based Tourism) di Desa Tambak Rejo kurang berkembang. Kata Kunci: CBT (Community Based Tourism), pariwisata, kondisi masyarakat, wisata alam.
PENGARUH KONVERSI LAHAN TERHADAP PENDAPATAN PETANI DI KECAMATAN TAMAN KOTA MADIUN Gumilang, Cahya
Swara Bhumi Vol 5, No 03 (2017): vol 5 nomor 03 (2017)
Publisher : Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konversi lahan menjadi masalah ketika lahan yang dialih fungsikan adalah lahan pertanian produktif sehingga akan berdampak pada petani yang kehilangan mata pencahariannyadan menurunnya produktivitas pangan, utamanya di daerah perkotaan yang sedang berkembang. Kota Madiun merupakan salah satu kota berkembang yang berada di Jawa Timur yang terdiri atas 3 wilayah kecamatan. Telah terjadi konversi lahan dari tahun 2010-2015 seluas 21 Ha di Kecamatan Manguharjo, 26 Ha di Kecamatan Taman, dan 10 Ha di Kecamatan Kartoharjo. Alih fungsi lahan yang terjadi, terutama pada lahan sawah produktif yang banyak menyerap tenaga kerja akan menyebabkan terjadinya penurunan kesempatan kerja, dan menyebabkan penurunan pendapatan para petani. Menurunnya pendapatan petani akan menurunkan daya beli dan berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan petani, atau berkurangnya pendapatan petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konversi lahan terhadap pendapatan petani dan yang mendorong petani melakukan konversi lahan di Kecamatan Taman Kota Madiun. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan rancangan case control, yaitu pengambilan responden dengan subjek kasus sebanyak 24 penduduk yang melakukan konversi lahan, dan subjek kontrol sebanyak 24 penduduk yang tidak melakukan konversi lahan. Responden ditentukan menggunakan matching umur dengan usia lebih dari 60 tahun di Kecamatan Taman Kota Madiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh konversi lahan terhadap pendapatan petani berupa adanya peningkatan penghasilan responden sebesar 20% karena adanya perubahan mata pencaharian yang disebabkan oleh konversi lahan. Faktor-faktor yang mendorong petani melakukan konversi lahan yaitu faktor sosial dan faktor ekonomi. Faktor sosial meliputi aspek-aspek karakteristik petani yang berhubungan dengan konversi lahan adalah tingkat pendidikan. Faktor Ekonomi meliputi jumlah tanggungan keluarga, luas kepemilikan lahan, dan harga jual lahan petani. Hasil analisis dari 4 faktor yang mendorong petani melakukan konversi lahan semuanya mempunyai pengaruh yang signifikan yaitu: tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, luas lahan, dan harga lahan. Kata Kunci: Konversi, Lahan Pertanian, Faktor Sosial, Faktor Ekonomi, Pendapatan Petani