cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 37 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2018)" : 37 Documents clear
KRITIK SOSIAL MAJALAH TEMPO TERHADAP KASUS KELANGKAAN BERAS DI INDONESIA TAHUN 1972-1973 MUNIROH, SITI; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Majalah Tempo merupakan majalah yang didirikan oleh Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri. Majalah ini berhasil diterbitkan pada tanggal 6 Maret 1971. Pendirian majalah Tempo, bertepatan dengan situasi pers Indonesia yang bebas dan cenderung berarah pada sistem pers liberal. Oleh karena itu, majalah Tempo tidak segan-segan melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah melalui pemberitaannya. Satu tahun setelah pendirian majalah Tempo, Indonesia mengalami kelangkaan beras pada akhir 1972 hingga pertengahan 1973 yang ditandai dengan naiknya harga beras. Majalah Tempo menunjukkan perannya dengan memberitakan kasus kelangkaan beras Beberapa pemberitaan mengandung unsur kritik sosial karena berdampak pada masyarakat. Kritik yang disampaikan majalah Tempo ditujukan bagi pihak yang dianggap lalai dalam pengadaan beras nasional. Pihak ?pihak tersebut yaitu pemerintah, BULOG, dan BUUD. Rumusan masalah penelitian ini yaitu (1) Bagaimana kritik sosial majalah Tempo terhadap kasus kelangkaan beras di Indonesia tahun 1972-1973; (2) Bagaimana respon pemerintah terhadap kritik majalah Tempo mengenai kasus kelangkaan beras tahun 1972-1973. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan). Berdasarkan tujuan penelitian dan latar belakang diatas, maka hasil penelitian ini yaitu dari 38 artikel majalah Tempo mengenai kasus kelangkaan beras tahun 1972-1973, terdapat tujuh artikel majalah Tempo yang mengandung kritik terhadap apatur Negara. Kritik majalah Tempo terhadap aparatur Negara sesuai dengan kondisi di dalam masyarakat karena didukung oleh sumber lain. Bahwasanya kelangkaan beras tahun 1972-1973 menyengsarakan sebagian besar masyarakat Indonesia. Kritik yang disampaikan majalah Tempo dipengaruhi oleh kondisi sistem pers saat itu yang cenderung mengarah pada sistem pers liberal. Penyampaian kritik oleh Tempo disebabkan oleh kinerja pemerintah dan aparatnya yang buruk. Dengan adanya kritik ini, diharapkan muncul kebijakan baru sebagai wujud evaluasi kinerja sebelumnya. Oleh karena itu, kritik yang disampaikan majalah Tempo ini mendapatkan respon secara tidak langsung dari pemerintah. Kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan oleh pemerintah sesuai dengan kritik yang disampaikan majalah Tempo.Kata Kunci: Kritik Sosial, Majalah Tempo, Kelangkaan Beras Tahun 1972-1973.
PERKEMBANGAN TASAWUF SHOLAWAT WAHIDIYAH DI PONDOK PESANTREN AT-TAHDZIB JOMBANG TAHUN 1993-2001 AYU MAGFIROH, DIAH; , SUMARNO
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wahidiyah merupakan ajaran yang mengatasnamakan gerakan tasawuf yang lahir dan berkembang di Indonesia. Hal pokok ajarannya terdiri dari sholawat wahidiyah dan ajaran wahidiyah. Kedua hal pokok tersebut merupakan perangkat praktis (amalan) yang disusun oleh Muallif K.H Abdoel Madjid Ma?ruf. Wahidiyah menghendaki terwujudnya persaudaraan, akan tetapi realita yang terjadi wahidiyah terpecah organisasinya menjadi tiga organisasi. Berdirinya organisasi baru yang mengatasnamakan wahidiyah menimbulkan ketidakharmonisan diantara ketiganya. Berbagai penghasutan dan fitnah yang diterima organisasi Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) mengakibatkan kegiatan-kegiatan organisasi terhambat. Salah satunya PSW tidak dapat menyelenggarakan mujahadah kubro wahidiyah di Kedunglo Kediri, namun tidak lama kemudian PSW mampu menyelenggarakan kembali mujahadah kubro di pondok pesantren At-Tahdzib Jombang.Hasil dari penelitian ini menunjukkan sholawat wahidiyah merupakan suatu amalan yang diamalkan dengan ber-mujahadah. Bermacam-macam mujahadah yang ada di wahidiyah, salah satunya yakni mujahadah kubro wahidiyah yang dilaksanakan 2 kali dalam setahun pada bulan Muharram dan Rojab. Perjalanan panjang yang dialami organisasi Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) pusat untuk menyelenggarakan mujahadah kubro wahidiyah tidak berjalan dengan baik. Pada tahun 1993 pelaksanaan mujahadah kubro wahidiyah berpindah dari Kedunglo Kediri ke Pondok Pesantren At-Tahdzib Jombang. Hal ini dikarena konflik internal yang terjadi di dalam tubuh organisasi Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) Pusat. Sebagai gerakan tasawuf, konsep ajaran wahidiyah mencakup Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosul, Lilghouts-Bilghouts, Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh, Dan Taqdiimul Aham Fal Aham Tsummal Anfa? Fal Anfa?. Seluruh konsep ajaran ini memberikan pengaruh positif yang sangat besar bagi orang-orang yang mengamalkannya, diantaranya dari segi batiniyah timbul kesadaran di dalam hatinya untuk kembali kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW serta dari segi lahiriyah timbul kesadaran untuk berhubungan baik dengan sesama manusia, seperti mencakup perilaku ramah tamah, sopan santun, saling menghormati, tawadhu?, suka dan saling menolong, jujur dan dapat dipercaya, berbaik sangka, saling menyayangi, dan lain sebagainya.
RAMPOGAN MACAN DI KEDIRI TAHUN 1890-1925 ROSYID AMMAR MURTADHI, MUHAMMAD; MASTUTI PURWANINGSIH, SRI
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rampogan Macan adalah tradisi mempertarungkan hewan (harimau) dengan manusia atau dengan hewan lain seperti kerbau dan banteng. Pada awalnya berkembang sejak abad ke-17 di wilayah kekuasaan Mataram, pada pemerintahan raja Amangkurat II. Tradisi ini memiliki persamaan konsep dengan pertarungan hewan buas yang ada di negara-negara lain. Di Asia Tenggara harimau biasa dipertarungkan dengan gajah, sedangkan di Eropa harimau dipertarungkan dalam arena gladiator. Di wilayah Kediri, rampogan macan berkembang menjadi sebuah acara untuk perayaan hari besar agama. Hipotesis sementara yang didapatkan adalah bahwasanya rampogan macan adalah salah satu fenomena perusakan tatanan alam di Jawa, sehingga termasuk dalam tradisi yang merupakan wujud penggambaran sifat antroposentris manusia Jawa melalui budayanya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu Heuristik, Kritik Sumber, Interpretasi dan Historiografi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui (1) Bagaimana proses berkembangnya Rampogan Macan di wilayah Kediri selama tahun 1890 hingga tahun 1925; (2) Bagaimana latar belakang dan peran para penguasa di wilayah Kediri dalam melaksanakan Rampogan Macan; serta (3) Bagaimana pengaruh Rampogan Macan terhadap masyarakat dan keberlangsungan alam di wilayah Kediri.
HOMOSEKS (GAY) DI SURABAYA TAHUN 1982-1990 AYU INDAH SAFITRI, HELMING; , NASUTION
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Homoseksual merupakan salah satu bentuk orientasi seksual yang unik dan minoritas. Oleh karenanya banyak diskriminasi yang terjadi kepada para homoseks dalam masyarakat. Di Surabaya terdapat sebuah organisasi atau yayasan khusus untuk para homoseks baik lesbian maupun gay yang diprakarsai oleh seorang aktivis gay bernama Dede Oetomo. Organisasi tersebut merupakan organisasi homoseks besar yang masih bertahan sampai sekarang, dan cukup berpengaruh untuk memperjuangkan kesamaan hak bagi para homoseksual. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan munculnya komunitas gay di Surabaya dan untuk menganalisis bagaimana aktivitas yang dilakukan homoseks di Surabaya pada kurun waktu 1982-1990. Penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari tahapan heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi untuk mendukung penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sumber tertulis berupa arsip, majalah, dan koran sejaman serta sumber lisan yang diperoleh melalui wawancara dengan gay yang ada di Surabaya mulai bulan Februari 2018 sampai bulan Mei 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, komunitas homoseks di Surabaya muncul berkat adanya dorongan untuk memperjuangan kesamaan hak bagi para homoseksual dan juga sebagai wadah untuk menyediakan informasi dan merangkul semua homoseks khususnya yang ada di wilayah Surabaya agar bisa bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan menerima bahwa mereka terlahir sebagai seorang homoseksual. Kedua, pada kurun waktu 1982-1990 aktivitas yang dilakukan oleh para homoseks di Surabaya untuk mendapatkan informasi dan bersosialisasi dengan sesama gay terbagi menjadi dua, yaitu sebelum adanya komunitas homoseks dan setelah adanya komunitas homoseks di Surabaya. Sebelum munculnya komunitas homoseks di Surabaya kegiatan yang lebih dominan dilakukan adalah ngeber di beberapa tempat yang telah disepakati, sedangkan setelah muncul komunitas homoseks di Surabaya pada tahun 1987 para gay bisa berbagi informasi dan bersosialisasi melalui majalah terbitan GAYa Nusantara serta kegiatan-kegiatan yang diagendakan oleh GAYa Nusantara. Itu berarti bahwa adanya komunitas homoseks (gay) di Surabaya telah berkontribusi besar dalam merangkul homoseks khususnya gay di Surabaya untuk bisa menerima dirinya sebagai seorang gay. Dengan hal itu, mereka akan bisa melihat diri mereka lebih positif dan dapat mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka melalui wadah yang telah disediakan yaitu komunitas GAYa Nusantara.
PERAN KOPKAMTIB DALAM MEWUJUDKAN STABILITAS NASIONAL PEMERINTAH ORDE BARU TAHUN 1965-1988 SAIFULLOH FARIHI, MUHAMMAD; LIANA, CORRY
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stabilitas nasional adalah suatu negara dalam keadaan kondusif dari berbagai gejolak-gejolak yang bersifatpolitis, ekonomis, maupun sosial. Negara yang kondusif akan berdampak pada kreatifitas masyarakatnya dan bisamengantarkan suatu negara menjadi negara maju. Masa Orde Baru di Indonesia adalah masa dimana terwujudnyastabilitas nasional merupakan tujuan dari pemerintah. Berbagai upaya untuk mewujudkan stabilitas nasional dilakukan,salah satunya adalah dengan membentuk Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), organisasi sipildan militer yang dibentuk untuk menangani masalah-masalah sekitar peristiwa G30/S. Kopkamtib sebagai organisasiyang memiliki kewenangan lebih dalam menangani pelanggaran-pelanggaran negara, tidak hanya fokus pada masalahsekitar G30/S. Pada tahun 1965-1977 berbagai pelanggaran-pelanggaran negara ditangani Kopkamtib seuai denganamanat dari presiden Soeharto. Penanganan pelanggaran-pelanggaran negara tersebut, merupakan wujud dari Kopkamtibdalam upaya untuk menciptakan stabilitas nasional pemerintah Orde Baru tahun 1965-1977. Kewenangan lebihKopkamtib seperti penangkapan tanpa surat peringatan, dimanfaatkan Soeharto untuk memberantas pelanggaran negarayang marak pada tahun 1977-1988 yaitu masalah pungutan liar di pelabuhan Tanjung Priok. Melalui Inpres No. 9 tahun1977 tentang Operasi Tertib (opstib), maka secara sah Kopkamtib bertugas memberantas segala bentuk pungli yang adadi Indonesia, termasuk di Tanjung Priok. Pemberantasan pungutan liar Kopkamtib di pelabuhan Tanjung Priokmenghasilkan temuan bahwa faktor penyebab terdapatnya pungli adalah karena ada keserakahan (greeds), kesempatan(opportunities), kebutuhan (needs), dan pengungkapan (ekposure) sesuai dengan teori GONE. Peran Kopkamtib dalammenangani pungli Tanjung Priok sebagai wujud untuk mendukung pemerintah dalam menciptakan stabilitas nasional,adalah mampu membersihkan praktik pungutan liar yang terjadi di pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1988. Sebagaiwujud keberhasilan Kopkamtib dalam menangani pungli, maka pada tahun 1988 Opstib dicabut dan Kopkamtibdibubarkan.Kata Kunci: Stabilitas Nasional, Kopkamtib, Pungutan Liar
KARTINISCHOOL: PENDIDIKAN KAUM PRIBUMI JAWA DI SEMARANG TAHUN 1911-1920 INAYATULLAH, AINUL; , WISNU
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kartinischool merupakan sekolah pertama wanita pribumi jawa yang diadapatasikan oleh pemikiran Kartini. Sekolah ini didirikan oleh kaum Humanisme Belanda bernama Van Deventer tetapi dengan mengatasnamakan Kartini. Upaya yang dilakukan oleh Van Deventer, salah satunya dengan propaganda keliling negeri Belanda hingga ke seluruh pelosok eropa. Hasil penggalangan dana dari propaganda keliling tersebut, dapat mendirikan sekolah yang terletak di Karreweg, Semarang. Sebelumnya sekolah ini masih sementara terletak di Jomblang kemudian pindah lokasi area pembangunan di Karreweg, Semarang karena selesai tahapan pembangunan tahun 1915. Para murid perempuan lulusan Kartinischool memperoleh pendidikan yang setara dengan kelas eropa terbukti adanya penggunaan bahasa Belanda sebagai bahasa kegiatan sehari-hari. Tahun 1919. Kemudian tahun 1920, para kaum Humanisme Belanda menghentikan penggalangan dana karena Van Deventer telah tiada dan didirikan pembangunan sekolah Van Deventer untuk menghormati jasa-jasanya. Lulusan sekolah wanita pribumi ini menghasilkan para penggerak-penggerak awal organisasi perempuan yang memperjuangkan hak dalam masalah-masalah kerumahtanggaan. Pembahasan pada tulisan ini bertujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan pendidikan kolonial yang dicanangkan oleh politik etis sehingga mampu merubah pola arah pemikiran masyarakat jawa yang lebih nasionalisme, sekaligus sebagai alat menggulingkan kekuasaan Belanda akan kolonialisme dan imperialisme. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, antara lain; Heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi. Keywords: Sekolah, Wanita, Pribumi, Kartini.
BANJIR DI KECAMATAN KALIDAWIR TULUNGAGUNG TAHUN 1986-2015 Istieni, Nofi
Avatara Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banjir merupakan permasalahan umum yang sering terjadi sehingga diperlukan penanganan khusus bagidaerah rawan banjir. Kecamatan Kalidawir merupakan salah satu dari beberapa Kecamatan Tulungagung yang rawandengan terjadinya banjir. Topografi dari Kecamatan Kalidawir yang sebagian desanya tergolong dataran rendah.Permasalahan yang dibahas dalam penelitin ini yaitu (1) Bagaimana latar belakang terjadinya banjir di KecamatanKalidawir Tulungagung tahun 1986-2015? (2) Wilayah mana saja yang rawan terjadi banjir dan dampak banjir diKecamatan Kalidawir Tulungagung tahun 1986-2015? (2) Bagaimana penanggulangan banjir di Kecamatan KalidawirTulungagung tahun 1986-2015?. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang memilikibeberapa tahap penelitian, diantaranya (1) heuristik (2) kritik (3) interprestasi dan (4) historiografi.Hasil dari penelitian yang didapat menunjukkan faktor penyebabab banjir adalah wilayah KecamatanKalidawir yang sebagian wilayahnya termasuk dataran rendah dan adanya peristiwa alam seperti tingginya intensitascurah hujan. Wilayah yang rawan terjadi banjir di Kecamatan Kalidawir adalah Desa Tunggangri, Desa Karangtalun,Desa Jabon, dan Desa Kalidawir. Banjir di Kecamatan Kalidawir menyebabkan dampak yang cukup serius, sepertirusaknya sebagian pemukiman warga dan sawah petani menjadi rusak. Melihat kondisi dari desa-desa di KecamatanKalidawir membuat pemerintah melakukan berbagai upaya dalam menanggulanginya, seperti dilakukannya normalisasisungai Kalidawir dan sosialisasi kepada masyarakat.

Page 4 of 4 | Total Record : 37