cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
KEBIJAKAN TRANSPORTASI BECAK DI SURABAYA TAHUN 1970-1980 INDARI,
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Becak adalah alat transportasi yang dapat dengan mudah dijumpai di berbagai kota besar, salah satunya Surabaya. Becak menjadi alat transportasi yang saring digunakan oleh sebagian masyarakat khusunya masyarakat golongan mnengah kebawah karena ongkosnya yang relatif mudah, serta menjadi alat angkut yang luwes dan bisa keluar masukgang. Akan tetapi keberadaan becak dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan tidak sesuai dengan sila kemanusiaan karena banyak menggunakan energi manusia (pengemudinya) sehingga cenderung dianggap exploitation de lhome parlhome (penindasan manusia atas manusia), dan juga keberadaan becak ini sering mengganggu ketertiban lalu, menyebabkan kemacetan dan mengganggu keindahan kota. Maka dari itu pemerintah mengeluarkan kebijakan Larangan Becak tahun 1970 yang mengatur keberadaan becak. Rumusan masalah dari penelitian ini terdiri dari : 1) Bagaimana situasi transportasi di Surabaya sebelum ada pelarangan?; 2)Bagaimana proses pelaksanaan kebijakan pelarangan becak tahun 1970-an?; 3)Bagaimana dampak kebijakan tersebut bagi kehidupan sosial-ekonomi pengemudi becak?. Penelitian ini menggunakan metode: a) Heuristik (pengumpulan data) yaitu sumber primer terdiri dari surat kabar yang sejaman, dokumen perda Surabaya dan wawancara dengan pelaku(saksi sejaman) dan sekunder berupa tesis, skripsi dan buku; b) Kritik sumber yaitu menguji kebenaran informasi baik dari segi materi maupun substansi; c) Interpretsi sumber yaitu mencari makna dari fakta-fakta yang telah diperoleh dan Historiografi yaitu penulisan sejarah. Penulis akan mencari keterkaitan antara sumber primer dan sumbersekunder yang telah didapat; dan d) Historiografi (penulisan sejarah). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwaTransportasi merupakan suatu alat yang penting yang mempunyai pengaruh besar dalam laju perekonomian. Yang meliputi transportasi darat, udara maupun laut. Transportasi sangat penting peranannya sebagai pendukung perkembangan sebuah kota, termasuk yang ada di Surabaya.Muncul trem pada abad ke 19, disusul dengan hadirnya kendaraan bermotor, sepeda dan tentu saja becak. Pada perkembangan selanjutnya, penggunaan bus sebagai saran transportasi bagi masyarakat Surabaya sudah terlihat.Pada era modern saat ini keberadaan becak sudah dianggap sebagai alat transportasi yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Keberadaan becak sering mengganggu kelancaran lalu lintas karena jumlahnya yang banyak dan sulit untuk diatur. Oleh karena itu, pemerintah melakukan penertiban terhadap keberadaan becak.Kemudian diadakan pembatasan jumlah becak yang beroperasi di dalam Wilayah Kota Surabaya dengan menetapkan peraturan larangan membuat becak baru dan pemasukan becak kedalam Wilayah Kota Surabaya, serta mengatur jam operasi becak yaitu dengan mengeluarkan peraturan becak siang dan becak malam.Untuk mendukung tercapainya larangan becak, Pemerintah Kota Surabaya menyususn suatu ?program kerja? yang terarah dan pragmatis. Maka dibentuklah suatu ?Team Penertib Becak? yang anggotanya terdiri dari instansi-instasi serta serta seluruh aparat penegak hukum. Kebijakan pemerintah mengenai larang becak membawa dampak dalam kehidupan sosial-ekonomi tukang becak.Pertama, dampak sosial, dimana para mantan pengemudi becak akan menjadi pengangguran karena mereka terpaksa berhenti menarik becak.Kedua adalah dampak ekonomi, dapat disimpulkan bahwa dampak ekonomi ini lebih kepada pendapatan para pengemudi becakdan industri pendukung becak seperti bengkel becak, perusahaan pembuatan dan usaha penyewaan becak, serta kegoncangan masyarakat yang sebagian besar aktivitasnya menggunakan alat angkut becak. Kata kunci : Transportasi becak, Larangan becak, Dampak sosial-ekonomi
GERAKAN MAHASISWA DAN KEBIJAKAN NKK/BKK TAHUN 1978 – 1983 MUSTAFIDAH, ZAYINATUL
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahasiswa mempunyai peran penting dalam Sejarah Indonesia. Mahasiswa selalu menggagas perubahan. Dalam berbagai peristiwa, mahasiswa selalu tampil di depan. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang memiliki karakteristik dengan melibatkan diri dalam aksi, terutama protes atas tindakan yang menyimpang, dan melakukan demonstrasi untuk mendapatkan kebebasan. Sebagai contoh, gerakan yang menentang kebijakan NKK/BKK pada 1978. Kebijakan yang dibuat oleh Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Sumber primer diperoleh dari harian dan majalah yang terbit saat itu. Sumber sekunder diperoleh dari buku serta wawancara tokoh mahasiswa saat itu. Penelitian skripsi ini menggunakan pendekatan sosial dengan teori strukturasi. Teori strukturasi yang dimaksudkan adalah untuk mengkomunikasikan dualitas struktur antara agen dan struktur. Agen yang berarti mahasiswa dan struktur yang berarti pemerintah. Fokus penelitian ini adalah gerakan mahasiswa setelah kebijakan NKK/BKK. Gerakan mahasiswa di tahun 1978 disebabkan oleh pemerintah yang menerapkan kebijakan NKK/BKK. Kebijakan ini sukses mematikan gerakan mahasiswa dampaknya adalah mahasiswa tidak tertarik lagi dengan gerakan melawan penguasa. Mereka fokus pada pendidikannya untuk memperoleh IP yang tinggi. Namun demikian, semangat perlawanan masih hidup, itu akan tumbuh ketika kekuasaan penguasa lemah. Keywords: Mahasiswa, Gerakan Mahasiswa, Kebijakan NKK/BKK.
KEBIJAKAN HELMISASI BAGI PENGENDARA SEPEDA MOTOR DI YOGYAKARTA TAHUN 1987 RAHMAWATI, MAULIDDYAH
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Yogyakarta adalah salah satu kota besar di Indonesia. Sebagai kota besar, populasi penduduk Yogyakarta adalah 2.912.611 jiwa pada tahun 1980. Selain itu sebagai kota besar, Yogyakarta memiliki masalah lalu lintas seperti, macet terutama kecelakaan sepeda motor. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan Kebijakan Helmisasi di Yogyakarta. Metode penulisan skripsi ini adalah metode penelitian sejarah, yaitu heuristic, kritik, interprestasi, dan historiografi.  Sumber primer didapat dari SKH Kedaulatan rakyat tahun 1987. Sedangkan sumber sekunder dari buku-buku yang relevan dan hasil wawancara dengan beberapa warga Yogyakarta. Kebijakan helmisasi dilaksanakan karena korban kecelakaan sepeda motor yang tidak menggunakan helm mencapai 65% atau sekitar 52 ribu orang dari tahun 1982-1987. Penerapan kebijakan helmisasi dilaksanakan melalui empat tahapan. Tahap pertama adalah penindakan pada pengendara sepeda motor di jalur helm, sedangkan untuk pembonceng hanya diberi pengarahan. Tahap kedua adalah  mencabut seluruh papan jalur helm. Tahap ketiga adalah menindak seluruh pengendara dan pembonceng sepeda motor yang tidak menggunakan helm. Tahap keempat adalah memperketat jenis helm yang boleh digunakan. Penerapan kebijakan helmisasi muncul pro dan kontra di tengah masyarakat Yogyakarta. Masyarakat mendukung Kebijakan ini karena menurut mereka menggunakan helm untuk melindungi diri saat berkendara itu sangat penting. Bagi masyarakat yang menentang, Kebijakan Helmisasi juga berlaku bagi pembonceng sepeda motor, serta dapat menggeser budaya Yogyakarta dalam mengenakan pakaian tradisional dan rasa saling tolong menolong. Kata Kunci: Kebijakan Helmisasi, Lalu Lintas, Yogyakarta
GERAKAN WANITA MENOLAK POLIGAMI 1953-1974, : KASUS PERNIKAHAN KE- DUA SUKARNO MERDUWATI SIHOMBING, MARIA
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poligami merupakan masalah yang banyak dialami kaum perempuan di seluruh dunia. Dampak dari pernikahan poligami sangat merugikan perempuan oleh sebab itu kaum perempuan yang telah sadar dengan penderitaannya berjuang keras untuk mengatasi masalah tersebut. perjuangan kaum perempuan untuk menghapuskan pernikahan poligami di mulai sejak 1953 di Jakarta, akan tetapi di tahun 1954 hingga 1973 kaum perempuan semakin gencar untuk memperjuangkan haknya. Alasan semakin gencernya perjuangan kaum perempuan adalah akibat pernikahan poligami yang dilakukan oleh Presiden Sukarno di tahun 1954, hal ini menjadi sorotan publik sebab hal ini dianggap merendahkan martabat kaum perempuan dan merusak nama baik Presiden Sukarno sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Penelitian ini membahas, 1.Mengapa perempuan Indonesia menolak poligami?, 2. Mengapa perkawinan Sukarno menuai reaksi dari kaum perempuan?, 3. Bagaimana bentuk reaksi gerakan perempuan tersebut dilakukan?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah terdiri dari Heuristik berupa pengumpulan sumber-sumber sejarah utama yaitu berupa koran yang sejaman dengan peristiwa tersebut seperti Koran Berita Indonesia 1955, Duta Masyarakat 1965, Indonesia Berjuang 1955, Indonesia Raya 1954 & 1956, Pedoman 1954, dan Sinpo 1954 dan sumber sekunder yang terdiri dari buku-buku yang membahas tentang gerakan wanita, pernikahan Sukarno dan poligami. Melakukan kritik terhadap sumber primer dan sekunder, Interpretasi dilakukan dengan menghubungkan fakta-fakta yang telah didapatkan dari sumber primer dan sekunder, dan Historiografi. Hasil dari penelitian ini adalah poligami merupakan salah satu bentuk penindasan tersembunyi bagi kaum perempuan. Berakarnya adat budaya feodalisme yang berusaha melanggengkan budaya patriarki sungguh merugikan kaum perempuan. Pemerintah yang kurang memperhatikan persoalan-persoalan tentang perempuan menjadi suatu pemicu timbulnya pergolakan dari kaum perempuan agar haknya sebagai seorang perempuan maupun istri di lindungi. Kaum perempuan berupaya keras mengajukan berbagai tuntutan dan mengambil tindakan berdemostrasi untuk menentang kebijakan pemerintah mengenai pernikahan yang merugikan kaum perempuan dicabut.. harapan terbesar kaum perempuan adalah agar mereka dapat hidup dengan keadilan dan kesetaraan dengan kaum laki-laki, sehingga mendesak pemerintah agar segera menyusun undang-undang perkawinan agar hak kaum perempuan dapat terjaga.   Kata Kunci: Poligami, Gerakan Perempuan, Patriarki.      
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS POKOK MATERI SEJARAH DI SMK RADEN RAHMAT MOJOSARI RIFKI SALAZAR, MOH.
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses pembelajaran di SMK Raden Rahmat Mojosari khususnya guru mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada umumnya masih menggunakan cara yang konvensional, guru hanya berdiri di depan kelas dan cenderung mendominasi kegiatan pembelajaran. Dampak yang ditimbulkan yaitu menurunya minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya mata pelajaran IPS pada pokok materi sejarah sehingga mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh. Salah satu upaya peningkatan kualitas pembelajaran adalah dengan pemilihan strategi, cara atau metode dalam menyampaikan materi pembelajaran agar diperoleh peningkatan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan STAD dan menganalisis peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPS pokok materi sejarah. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas yang diterapkan oleh Stephen Kemmis, terdiri atas beberapa siklus. Siklus I, Siklus II, dan Siklus III. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu : Planning, Acting, Observing, dan Reflecting. Data penelitian yang diperoleh campuran dari data angka (kuantitatif) yang berasal dari lembar pengamatan aktivitas guru, lembar pengamatan aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung, dan data yang berasal dari nilai tes terhadap pemahaman materi yang diujikan pada siswa di setiap akhir kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dihentikan pada siklus II dengan hasil yang diperoleh yaitu pada siklus I pertemuan pertama, penerapan metode oleh guru 60% terlaksana, keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung 37,5% dengan predikat cukup, dan hasil nilai tes yang diperoleh rata-rata 67,23. Pertemuan kedua penerapan metode oleh guru meningkat 80% terlaksana, keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung meningkat 87,5% dengan predikat cukup dan hasil nilai tes yang diperoleh rata-rata 73,28. Pada siklus II pertemuan ketiga, penerapan metode oleh guru menjadi 100% terlaksana, keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung 87,5% dengan predikat baik, sedangkan predikat cukup menurun menjadi 12,5%, dan hasil nilai tes yang diperoleh rata-rata 79,07. Pertemuan ke empat, penerapan metode oleh guru tetap stabil dengan 100% terlaksana, keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung meningkat 25% dengan predikat sangat baik, sedangkan predikat baik menurun menjadi 75%, dan hasil nilai tes yang diperoleh rata-rata 84,47. Adanya peningkatan disetiap siklusnya, maka dapat dinyatakan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS pokok materi sejarah di SMK Raden Rahmat Mojosari.   Kata Kunci : Metode pembelajaran kooperatif, STAD, meningkatkan hasil belajar siswa.          
PERISTIWASEPAK BOLA GAJAH (PERSEBAYAVS PERSIPURA) MUSIM KOMPETISI 1987-1988 DALAM PANDANGAN SURAT KABAR MERDEKA DAN JAWA POS NAJIB KHILMI, M.
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era modern media massa sangat lah penting bagi kehidupan manusia. hampir seluruh aspek kehidupan menjadi bahan pemberitaan dari media massa, mulai dari sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun hiburan. Salah satu hiburan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia adalah olahraga, utamanya sepak bola. Pada kompetisi Divisi Utama Perserikatan musim kompetisi 1987-1988, perhatian masyarakat Indonesia tertuju pada hasil pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan Persipura yang dimenangi oleh Persipura dengan skor telak 12-0. Media massa dalam negeri terutama surat kabar pada waktu itu pun tidak melewatkan hal tersebut, mereka beramai-ramai menjadikan berita kekalahan Persebaya sebagai headline. Secara umum, penelitian ini menjelaskan tentang: 1)Pandangan suratkabar Merdekadan Jawa Posterhadap peristiwa Sepak Bola Gajah Persebaya VS Persipura. Untuk metode penulisan, penulis menggunakan metode penulisan sejarah, yang mencakup empat tahapan yaitu penelusuran sumber, kritik sumber, interpretasi sumber, dan historiografi. Selain itu, penulis juga menggunakan metode analisis framing dari Pan dan Kosicki yang mencakup stuktur Sintaksis, struktur  Skrip, struktur Tematis, dan struktur Retoris. Kekalahan Persebaya dari Persipura ini sering disebut dengan Sepak Bola Gajah. Sepak Bola Gajah ini pula yang pada waktu itu menjadi ajang unjuk idealisme dari beberapa surat kabar. Surat kabar Merdeka (Jakarta) menjadi salah satu surat kabar yang teguh pendirian mengkritisi praktek Sepak Bola Gajah ini. Hal ini dapat dilihat dari pemberitaan mereka, baik Induk Karangan maupun Catatan Pojok. Di lain pihak, ada Jawa Pos (Surabaya) yang menjadi media pendukung Persebaya. Jawa pos menunjukkan sikap pro terhadap langkah yang diambil oleh Persebaya, atau dengan kata lain pada posisi memaklumi praktek Sepak Bola Gajah. Perbedaan pendapat antara surat kabar Merdeka (Jakarta) dan Jawa Pos (Surabaya) sangat erat kaitannya dengan latar belakang serta sejarah masing-masing.   Kata Kunci: Sepak Bola Gajah, Persebaya vs Persipura, Pers, Analisis Framing.
MAKNA SIMBOLIS DAN PERGESERAN NILAI RITUAL BUCENG ROBYONG DI DESA GEGER KECAMATAN SENDANG KABUPATEN TULUNGAGUNG TAHUN 2006-2012 NAJIB IRFANI, MUHAMAD
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual Buceng Robyong merupakan salah satu tradisi yang ada dan dijalankan setiap tahunnya di Desa Geger Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Warga masyarakat Desa Geger menjunjung tinggi tradisi ini karena merupakan tradisi peninggalan nenek moyang. Tradisi ini diadakan setiap satu tahun sekali yaitu setiap awal tahun baru Jawa atau bulan syura ( Muharram ). Pada awalnya tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Masyarakat meyakini terdapat makna serta nilai yang ada di dalamnya. Namun dewasa ini modernisasi telah merubah pola pikir masyarakat sehingga mengakibatkan tradisi sedekah bumi mengalami pergeseran baik dari segi nilai maupun makna yang terkandung di dalamnya.              Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu (1) Apa makna simbolis Ritual Buceng Robyong. (2) Bagaimana nilai-nilai yang ada dalam Ritual Buceng Robyong. (3) Bagaimana pergeseran nilai Ritual Buceng Robyong.      Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan 4 tahap yakni Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Berikut tahapannya (1) Heuristik, disini pengumpulan data dilakukan dengan dokumen, pustaka, obsevasi langsung dan wawancara. (2) Kritik, kritik sumber dilakukan dengan cara menyeleksi, menilai, memilah sumber baik primer maupun sekunder terkait dengan Ritual Buceng Robyong. (3) Interpretasi sumber, hasil data sejarah yang terkumpul dibandingkan kemudian dianalisis dan disesuaikan dengan sumber buku pendukung untuk menjadi fakta sejarah. (4) dan Historiografi yang menjadi hasil tulisan sebagai rekonstruksi semua fakta sejarah sesuai dengan tema penulisan sejarah.    Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu (1) makna simbolis pada pelaksanaan ritual Buceng Robyong merupakan simbol dari media komunikasi antara manusia dengan alam gaib yang di dalamnya terdapat pesan-pesan yang bernilai positif (2) Pada pelaksanaan ritual buceng robyong terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu nilai religi, nilai etika, nilai sosial dan nilai pedagogis. (3) Modernisasi telah membentuk pola pikir masyarakat yang maju yang mengakibatkan adanya tambahan atau inovasi dalam pelaksanaan Ritual Buceng Robyong sehingga berpengaruh adanya pergeseran nilai-nilai yang telah ada sebelumnya. Pada awal pelaksaannya Ritual Buceng Robyong berfungsi sebagai murni upacara ritual bentuk ucapan syukur masyarakat desa geger kepada Tuhan Yang Maha Esa namun sejak tahun 2011 mulai berkembang dan lebih ditekankan sebagai acara hiburan agenda resmi Kabupaten Tulungagung. Kata Kunci: Ritual Buceng Robyong, Makna Simbolis, Pergeseran Nilai
PERAN KAPAL SELAM KRI PASOPATI 410 DALAM SATUAN KORPS HIU KENCANA PADA SAAT OPERASI TRIKORA MEREBUT IRIAN JAYA 1961-1963 TRI PRADICTA, BIMA
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kapal Selam KRI Pasopati 410 merupakan kapal selam Whiskey-Class buatan Uni Soviet. Kapal selam KRI pasopati tergabung dalam satuan kapal selam korps Hiu Kencana yang berdiri pada tanggal 1 Juli 1961. Kesatuan kapal selam hiu kencana mendapatkan tugas pokok dalam operasi Trikora berupa aksi anti shipping musuh, aksi penenggelaman kapal selam dalam usaha mencapai keunggulan di laut, aksi pendaratan secara diam–diam (silent landing), dan tugas pengintaian (recce). penelitian ini maka peneliti melakukan penelusuran sumber berupa dokumen – dokumen dari pusat sejarah Angkatan Laut yang berupa spesifikasi kapal selam serta dokumen korps Hiu Kencana, dokumen mengenai laporan – laporan operasi Trikora. Selain itu juga dibantu dengan adanya buku – buku yang berkaitan dengan kapal selam Whiskey-Class serta korp Hiu Kencana dan buku – buku mengenai operasi Trikora. Hasil penelitian menunjukan bahwa operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat dilakukan karena jalur diplomasi sudah tidak dapat ditempuh lagi karena Belanda tidak menyepakati hasil dari jalur diplomasi. Sehingga pada tahun 1961 Presiden memutuskan Trikora. Kesatuan kapal selam korps Hiu Kencana melakukan beberapa operasi anatara lain aksi anti shipping musuh, aksi penenggelaman kapal – kapal perang musuh dalam rangka usaha mencapai keunggulan dilaut, aksi pendaratan secara diam – diam (silent landing), tugas pengintaian (recce). Atas keberhasilan operasi yang dilakukan korps Hiu Kencana, memaksa Belanda untuk kembali ke jalur perundingan akhirnya pada tanggal 25 Agustus 1962 Belanda menyerahkan Irian Barat ke Indonesia. Irian Barat kembali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indionesia Kata Kunci: KRI Pasopati 410, Kapal Selam, Irian Barat               
PERUBAHAN KONSEP KECANTIKAN MENURUT IKLAN KOSMETIK DI MAJALAH FEMINA TAHUN 1977-1995 NIKMAH, KHOIRUN
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan ekonomi pesat era 70-an mendorong tumbuh suburnya penerbitan majalah wanita di Indonesia. Iklan kosmetik menghegemoni wanita dengan konsep kecantikan ideal yang berubah-ubah selama periode 1977 – 1995. Diawali trend cantik kulit bersih segar tanpa pandang jenis warna kulit dipelopori kosmetik Viva pada 1977. Hegemoni tersebut digeser pada 1981 oleh merk Kosmetik Sari Ayu, Mustika Ratu dan Citra yang tawarkan konsep kecantikan kulit kuning langsat layaknya priyayi atau putri Keraton dan awal 1990-an menampilkan model-model iklan berkulit putih (blasteran) yang disesuaikan dengan cita rasa lokal Indonesia. Akhir 1995, keempat produk kosmetik tersebut  semakin berani menampilkan model-model berkulit putih ala wanita Eropa. Pada akhirnya iklan kosmetik lagi – lagi berhasil menghegemoni para wanita bahwa seperti itulah konsep kecantikan wanita yang ideal :  berkulit Putih dan langsing. Kata Kunci : kecantikan, hegemoni iklan , kosmetik, majalah wanita
SEJARAH PERKEMBANGAN SENI TARI MUNG DHE DI KABUPATEN NGANJUK PADA TAHUN 1982-2000 SETIYANINGRUM, ARI
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seni tari Mung Dhe merupakan seni tari yang berkembang di kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk. Seni tari ini tidak hanya sebagai pertunjukan atau hiburan melainkan juga dahulunya digunakan sebagai sarana perjuangan. Pada tahun 1827 ketika pasukan Diponegoro berhasil dipukul mundur oleh Belanda, mereka menyebar sampai ke wilayah Garu. Tari Mung Dhe diciptakan untuk mengumpulkan basis pasukan Diponegoro yang tersebar. Setelah tahn 1982 tari Mung Dhe mengalami banyak perkembangan dan lebih dikenal masyarakat luas khususnya Nganjuk.                 Adapun permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah seni tari Mung Dhe?  (2) Bagaimana perkembangan seni tari Mung Dhe di Kabupaten Nganjuk pada tahun 1982-2000?    (3) Bagaimana proses pementasan seni tari Mung Dhe di kabupaten Nganjuk? Dalam penulisan penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut : pertama, heuristik (pengumpulan data/sumber) mengumpulkan buku-buku, artikel, majalah, koran yang mengenai Tari Mung Dhe, kedua, kritik sumber terhadap sumber yang diperoleh seperti artikel, majalah, koran dan buku-buku yang berhubungan dengan Tari Mung Dhe dan Perkembannya, ketiga, interpretasi dengan menghubungkan fakta-fakta yang diperoleh  dan  keempat, historigrafi atau penulisan sesuai dengan tema yang telah dipilih.                  Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Tari Mung Dhe diciptakan oleh beberapa pasukan Diponegoro pada tahun 1827 yang melarikan diri di daerah Baron untuk mengumpulkan basis yang tersebar. Cara ini ditempuh untuk mengelabui Belanda yang melakukan pengawasan pada saat itu. Tari Mung Dhe diperbaharui oleh prakarsa Ibnu Salam sehingga mengalami perubahan dari tari tradisional menjadi kreasi baru.  (2) Tari Mung Dhe mengalami banyak perkembangan setelah tahun 1982 baik dari segi gerakan, kostum, pelakudan pementasan. Dalam gerakan, tari Mung Dhe mengalami perubahan dari segi tempo gerakan yang semakin cepat. Kostum berubah setelah tahun 1982 yakni pada peran botoh penthul, botoh tembhem, prajurit dan pengiring. Pelaku sebelum tahun 1982 berjumlah 14 orang, namun setelah 1982 bertambah menjadi 22 orang. Pada tahun 1998-1994 jumlah pelaku menjadi 20 orang dan setelah tahun 2000 tidak ada aturan baku bagi jumlah pelaku. Pementasan sebelum tahun 1982 sangat terbatas bahkan cenderung tenggelam, namun setelah 1982 Mung Dhe dipentaskan dalam banyak acara bahkan setelah tahun 2000 tari Mung Dhe tampil di tingkat provinsi dan mendapat penghargaan. (3) Tari Mung Dhe dipentaskan di Nganjuk dalam berbagai  upacara tradisi seperti Boyongan, Gembyangan Waranggana atau Suroan sehingga tari Mung Dhe dapat dilestarikan keberadaannya dan tetap dikenal masyarakat luas.

Page 4 of 46 | Total Record : 456