cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PENGARUH PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IIS DI SMA NEGERI I WONOAYU, SIDOARJO MULYANI, APRILIA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada pembelajaran pendidikan karakter dibiasakan pada sikap siswa, sikap guru dan keterlaksanaan pembelajaran karena masuk pada penilaian raport selain ranah pengetahuan yaitu sikap dan ketrampilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui 1) pendidikan karakter pada pembelajaran sejarah 2) hasil belajar siswa mata pelajaran sejarah, dan 3) mengetahui pengaruh antara pendidikan karakter dengan hasil belajar siswa. Alat yang digunakan untuk memperoleh data adalah angket siswa. Siswa yang diteliti kelas XI IIS SMAN I Wonoayu tahun ajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah survey dengan teknik kuantitatif deksriptif. Teknik sampel yang digunakan Nonprobability Sampling yang diperoleh sebanyak 63 siswa. Pengujian dilakukan dengan regresi sederhana atau linier. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan dan pengaruh positif antara pendidikan karakter dengan hasil belajar yang terlihat pada t hitung (6,45) lebih besar dari t tabel (1,67) menggunakan probabilitas 0,05, besar korelasi sebesar 0,637 yang termasuk pada kategori kuat dan sebesar 87,10% hasil belajar siswa dipengaruhi oleh pendidikan karakter. Hasil tersebut didukung dengan pengamatan keterlaksanaan pembelajaran guru yaitu; kegiatan pembukaan 75,89%, inti dengan rata-rata 82,11%, dan penutup 80%, sedangkan pada siswa dalam kelas diperoleh pada aspek pembukaan 89%, inti 81%, dan penutup 82%. Hasil pengamatan siswa diperoleh 30 siswa aktif dalam pembelajaran dan 33 sangat aktif. Kata Kunci: karakter siswa, hasil belajar siswa, pembelajaran sejarah
ASPEK KESEJARAHAN TABLOID POSMO TAHUN 1999-2005 KURNIA FITRI, INDAH
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Euphoria orde baru tahun 1998 menjadikan masyarakat Indonesia menuntut perbaikan ekonomi masyarakat maupun tatanan pemerintahan Negara. Bahkan masyarakat Indonesia menginginkan kebebasan dalam segala bidang. Masyarakat Surabaya juga terpengaruh dari euphoria yang terjadi pada tahun 1998. Euphoria itu juga terjadi di kalangan pers.Di Surabaya tentunya juga bermunculan media-media cetak baru dengan perpektif informasi yang masing-masing berbeda. Sehingga masyarakat Surabaya mempunyai gaya serta selera dalam menetukan bahan bacaan di setiap masing-masing masyarakat baik dari segi politik, hiburan, sport bahkan klenik.Tabloid posmo selalu mengeksplor setiap permasalahan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari mulai dari persoalan politik, sosial, agama hingga klenik.Trending topic yang terjadi di masyarakat selalu dipandang dari segi mistik di dalam tabloid posmo. Walaupun bersifat mistik,Tabloid Posmo juga mengungkap unsur kesejarahan, seperti tempat bersejarah, tokoh dan peristiwa-peristiwa sejarah. Berdasarkan latarbelakang masalah di atas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut (1)Bagaimana latar belakang munculnya Tabloid Posmo? (2)Bagaimana unsur kesejarahan dalam rubric-rubrik berita dalam tabloid posmo?. (3)Bagaimana perkembangan tabloid Posmo pada tahun 1999-2005?Permasalahan-permasalahan tersebut diberikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interperstasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan, diperoleh hasil penelitian bahwa berdasarkan SIUPP 1142/SK/MENPEN/SIUPP/1999 Tabloid Posmo didirikan pada tanggal 15 Maret 1999. Latar Belakang berdirinya Tabloid Posmo adalah untuk memberikan wadah bagi rekan-rekan wartawan lainnya yang belum mendapatkan tempat di Kelompok oposisi,akhirnya didirikan tabloid Posmoyang notabene-nya hanya sebagai wadah bagi wartawan yang belum tertampung. Tapi, kenyataannya diluar dugaan. Tabloid Posmo yang tidak diberikan target pencapaian dalam oplah sangat mengejutkan.Rubrik berita Posmo tahun 1999-2005 mengalami perkembangan di setiap penerbitan rubrikasinya. Hal tersebut terkait dengan permintaan pasar yang semakin melambung tinggi bahkan agar menjadi tali penarik untuk menarik pembaca. Tabloid Posmo hampir rata-rata mengalami kenaikan oplah di tahun 1999-2005. Oplah tahun 1999-2005 mencapai 4.627.200-4.738.200 eksemplar. Tabloid Posmo tidak hanya berkembang dari segi rubric berita dan oplah penerbitan melainkan juga dalam struktur managemennya mengalami perkembangan antara tahun 1999-2005.Tabloid Posmo tahun 1999-2005 dalam setiap edisi penerbitannya menyajikan berbagai rubric berita yang di dalamnya mengandung aspek kesejarahan. Aspek kesejarahan dalam rubric berita itu memang tidak begitu menonjol dibandingkan porsi sisi mistik serta metafisika. Kata Kunci : Tabloid Posmo, Mistik/mitos, Aspek kesejarahan
PENGEMBANGAN PUZZLE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MATERI INDONESIA MASA ISLAM KELAS X IIS SMAN 3 BOJONEGORO LUTVIANI, UMI
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belajar merupakan hal yang tidak asing dalam dunia pendidikan. Keberhasilan kegiatan belajar tidak terlepas dari adanya persiapan dalam penyampaian materi pelajaran. Oleh karena itu, siswa mendapatkan pengalaman belajar dari pengaplikasian rangkaian rancangan yang dipersiapkan oleh guru. Materi sejarah merupakan materi yang seringkali disajikan dengan metode ceramah. Apabila metode ini diterapkan secara terus-menerus, maka dapat mengakibatkan kebosanan. Selain itu, metode ceramah kurang tepat apabila diterapkan dalam siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik karena dapat menurunkan semangat siswa dalam menerima pelajaran. Upaya yang dilakukan untuk menghindari kebosanan adalah dengan menggunakan media pembelajaran, termasuk dalam bentuk permainan puzzle. Rumusan masalah yang akan dibahas, di antaranya: a) Apakah puzzle layak sebagai media pembelajaran sejarah pada materi Indonesia Masa Islam? b) Apakah produk puzzle dapat diimplementasikan secara efektif di kelas X IIS SMAN 3 Bojonegoro? Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4-D yang meliputi define, design, develop, dan disseminate. Namun, tahapan yang dilakukan hanya dapat mencapai tahap develop. Tahapan pengembangan media menghasilkan seperangkat permainan, di antaranya: nomor urut dan name text, perangkat puzzle, kartu pertanyaan, dan lembar jawaban. media pembelajaran puzzle yang telah dikembangkan sudah dinyatakan kelayakannya melalui uji validasi dengan prosentase 90,909% dengan kriteria penilaian sangat layak. Sedangkan efektifitas pengembangan puzzle diketahui berdasar atas penilaian angket respons yang mana tiap aspeknya berkisar 65%-93,33% yang sudah melebihi prosentase minimal 61% dengan kriteria kuat. Dengan adanya pengembangan puzzle sebagai media pembelajaran dapat menimbulkan aktivitas belajar yang aktif dan berdaya saing. Kata Kunci : Belajar, Permainan, Media Pembelajaran.
PROGRAM GERAKAN DANA MASYARAKAT (GERDAMAS) DI SURABAYA TAHUN 1995-1999 LISTYANA, HENNY
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Surabaya disebut juga sebagai kota metropolitan. Oleh sebab itu, Surabaya menjadi salah satu kota tujuan bagi para kaum urban untuk mengadu nasib. Tingginya jumlah penduduk yang datang di kota ini, tidak diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia dan tingkat pendidikan penduduk. Akibatnya, pengangguran dimana-mana. Jumlah kemiskinan pun meningkat. Permasalahan inilah yang dapat menghambat tujuan dari pemerintah daerah yaitu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Surabaya serta cita-cita dari pemerintah nasional untuk melaksanakan pembangunan nasional. Akhirnya berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya program Gerakan Dana Masyarakat atau biasa disebut dengan Gerdamas di Surabaya yang merupakan gagasan langsung dari Walikotamadya Surabaya, Sunarto Sumoprawiro. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: (1) Apa yang melatar belakangi lahirnya kebijakan Gerdamas, (2) Bagaimana implementasi program Gerdamas di Surabaya pada masa pemerintahan Sunarto Sumoprawiro?, (3) Bagaimana dampak Gerdamas terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Surabaya pada 1995-1999?. Permasalahan-permasalahan tersebut diberikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian sejarah. Tahapan metode penelitian sejarah yang dilakukan meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan, diperoleh hasil bahwa program Gerdamas berawal dari meningkatnya jumlah penduduk di Surabaya dan program dari presiden untuk mengentaskan kemiskinan. Oleh sebab itu, digagaslah Gerdamas yaitu dana bantuan pinjaman modal untuk masyarakat yang membutuhkan modal dan pengangguran agar dapat membuka usaha sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan di Surabaya. Pelaksanaan Gerdamas terdiri dari pengumpulan dana, penyaluran, dan pengembalian dana. Program Gerdamas akhirnya memberikan dampak positif bagi masyarakat di Surabaya. Dampak tersebut diantaranya jumlah industri kecil/rumah tangga meningkat dan tingkat kesejahteraan masyarakat di Surabaya juga meningkat dengan ukuran jumlah siswa Sekolah Dasar bertambah dan pendapatan per kapita penduduk di Surabaya meningkat. Akhirnya, cita-cita dari Walikotamadya Surabaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Surabaya tercapai. Kata Kunci: Kemiskinan, Surabaya, Gerdamas
SURABAYA SEBAGAI KOTA ADIPURA PADA MASA KEPEMIMPINAN POERNOMO KASIDI PADA TAHUN 1984 – 1994 EKA PUSPITASARI, DELA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan tidak akan lepas dari peranan sumber daya alam sebagai peletak dasar adanya kehidupan, begitu juga pembangunan di Surabaya. Surabaya adalah salah satu kota yang mengalami fase perkembangan melalui pembangunan yang menyeimbangkan dengan lingkungan. Surabaya adalah kota metropolitan yang sarat akan potensi pengembangan kota dan tingginya urbanisasi. Meningkatnya jumlah penduduk menimbulkan permasalahan khas perkotaan yang lebih kompleks yaitu masalah kebersihan dan keindahan kota, termasuk diantaranya adalah masalah persampahan dan perkampungan yang tergolong kumuh. Permasalahan tersebut tentunya akan menghambat perkembangan pembangunan, maka dari itu pemerintah mengembangkan konsep pembangunan yang selaras dengan lingkungan hidup sehingga akan tercipta keseimbangan antara lingkungan dan pembangunan. Dalam mendukung penyeimbangan antara lingkungan hidup dan pembangunan, pemerintah pusat memberikan apresiasi berupa penghargaan Adipura yang menjadi lambang supremasi terhadap kota yang dinilai memiliki tingkat kebersihan yang tinggi. Rumusan masalah yang kemudian muncul sebagai bahan penelitian adalah (1) Bagaimana kebijakan Walikotamadya Surabaya Poernomo Kasidi dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup di Surabaya ? (2) Bagaimana implementasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah Walikotamadya Surabaya Poernomo Kasidi untuk menjadikan Surabaya sebagai kota Adipura ? (3) Bagaimana dampak dari kebijakan lingkungan yang diterapkan oleh pemerintah Walikota Surabaya bagi perkembangan kota Surabaya ?. Permasalahan tersebut dikaji berdasarkan sumber yang telah ditelaah. Pemerintah Walikotamadya Surabaya Poernomo Kasidi dalam masa baktinya melakukan beberapa program untuk mengatasi permasalahan lingkungan yaitu Program Perbaikan Kampung, Program Kebersihan dan Keindahan Kota serta Program Kali Bersih. Program-program tersebut berdampak pada keberhasilan Surabaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asrih sehingga mendorong Surabaya untuk memperoleh penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup yaitu penghargaan Adipura dapat membantu untuk mempercepat laju pembangunan di Surabaya. Kata Kunci: Lingkungan Hidup, Surabaya, Adipura
PEMBAHARUAN SISTEM PERPAJAKAN NASIONAL (PSPN) ERA ORDE BARU TAHUN 1983-1988 NIDIA DARIATI, SEBMA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perpajakan memiliki hubungan yang erat dengan berlangsungnya perekonomian negara. Pada dekade 1970-an, sektor migas memberikan pemasukan yang besar terhadap pendapatan negara sehingga pemungutan perpajakan masih tetap dilaksanakan menggunakan peraturan warisan kolonial. Pada perkembangannya, situasi perekonomian mengalami berbagai kendala pada dasawarsa 1980-an sehingga muncul pemikiran untuk mengoptimalkan perpajakan sebagai bagian penting dalam pemasukan negara. Pelaksanaan pemungutan pajak berdasarkan sistem perpajakan lama memiliki berbagai permasalahan sehingga tidak dapat diterapkan dengan baik. Pada tahun 1983 dikeluarkan kebijakan PSPN yang merubah seluruh sistem perpajakan yang ada. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Apakah latar belakang pemikiran dikeluarkannya kebijakan pembaharuan sistem perpajakan nasional (PSPN) di Indonesia pada tahun 1983? (2) Bagaimana implementasi pembaharuan sistem perpajakan nasional pada 1983-1988? (3) Bagaimana dampak pembaharuan sistem perpajakan nasional terhadap negara dan masyarakat?. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian sejarah untuk mengungkapkan permasalahan yang diteliti meliputi metode heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemerintah Orde Baru melihat pemungutan pajak sebagai alternatif pemasukan pendapatan negara menggantikan dominasi pemasukan sektor migas. Pada pertengahan Orde Baru pemerintah mengeluarkan undang-undang PSPN 1983 meliputi UU KUP, UU PPh, UU PPN, UU PBB dan UU BM. Implementasi Pajak Penghasilan sebagai salah satu undang-undang PSPN menetapkan tarif pajak yang diatur dalam UU No. 7 Tahun 1983. Undang-undang perpajakan yang baru merubah sistem official assessment menuju sistem self assessment. Undang-undang PSPN bermakna kesederhanaan, kemerataan, penegakan peraturan dan peningkatan pendapatan. Keberhasilan pelaksanaan PSPN di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor penting diantaranya peraturan yang sesuai dengan keadaan masyarakat, aparatur perpajakan yang profesional dan kesadaran wajib pajak akan kewajibannya membayar pajak. Dapat disimpulkan bahwa implementasi PSPN 1983 mampu meningkatkan pendapatan negara. Di samping itu, masyarakat juga memperoleh kontribusi pemasukan pajak melalui alokasi dana yang dikeluarkan pemerintah untuk pembangunan nasional. Kata Kunci: PSPN, Orde Baru, Pajak Penghasilan (PPh), Pendapatan Negara.
PERTEMPURAN DI GRESIK (BATTLE OF GRISSEE) TAHUN 1945-1947 (KAJIAN HUBUNGAN STRATEGI PERTEMPURAN DAN GEOSPASIAL) ALI MURTADHO, AHMAD
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak abad ke-13, Gresik telah menjadi wilayah perdagangan penting dengan pelabuhannya yang terkenal yaitu Jaratan,  kemudian  berubah  ke  timur  menjadi  pelabuhan  Gresik  sampai  sekarang. Wilayah  Gresik  secara  geografis memiliki  banyak  bukit  kapur  dan  dialiri  oleh  dua  sungai  besar  yaitu  Bengawan  Solo  dan  Kali  Lamong.  Kondisi geografis Gresik membuat Gresik menjadi kota penting bagi kekuasaan yang berada di dalamnya. Posisi Kota Gresik di sebelah barat Surabaya yang memanjang dari pantai utara (Ujung Pangkah) sampai selatan (Wringin Anom). Pada masa awal Kemerdekaan,  isu  utama  Indonesia  adalah kedatangan Belanda  kembali  yang  akan dilakukan oleh NICA. Oleh karena  itu, seluruh warga Indonesia  termasuk karesidenan Surabaya bersiap untuk melawan kedatangan NICA dengan membentuk pasukan-pasukan reguler dan pasukan dari laskar rakyat. Permasalahan  yang  akan  dibahas  dalam  penelitian  ini  adalah  (1) Mengapa Gresik menjadi  front  pertempuran sektor utara dalam pertempuran awal kemerdekaan? (2) Bagaimana kronologi jalannya pertempuran di kota Gresik? (3) Bagaimana  peran Laskar Rakyat  dalam  strategi  pertempuran  di Gresik?. Penelitian  ini menggunakan metode  sejarah dengan  langkah-langkah  sebagai  berikut  :  pertama,  heuristik  (mengumpulkan  data)  yaitu mengumpulan  buku,  data, koran, arsip, catatan militer, dan sumber lisan tentang pertempuran di Gresik. Kedua, kritik pada sumber yang diperoleh seperti buku, koran, arsip, dan sumber lisan tentang pertempuran di Gresik. Ketiga, interpretasi dengan menghubungkan fakta-fakta yang diperoleh dan keempat, historiografi atau penulisan sejarah sesuai dengan tema yang dipilih. Hasil  penelitian  ini menjelaskan  bahwa  kondisi  geografis Gresik  berpengaruh  terhadap  pembentukan  strategi BKR  dalam  sektor  pertempuran  luar  kota  Surabaya.  Pembentukan  strategi  BKR memanfaatkan  bangunan  dan  alam yang  terdapat di Gresik. Sektor utara memanfaatkan pegunungan kapur dan  jembatan sebagai basis pertahanan, sektor tengah  dan  selatan  memanfaatkan  simpang  jalan,  perumahan  penduduk,  dan  jembatan  sebagai  basis  pertahanan. Pasukan BKR/TRI  dibantu  oleh  laskar  rakyat menggunakan  berbagai  strategi  pertempuran  seperti  pertahanan  linier, Wehrkreise,  dan  Great  Patriotic  Warfare  dalam  upayanya  untuk  mempertahankan  Gresik  selama  dua  tahun(1946-1947). Pasukan BKR/TRI  terbagi ke dalam  tiga sektor pertahanan bertempur melawan Belanda. Gresik dapat dikuasai melalui pertempuran dan perjanjian  antar  negara. Laskar  rakyat menjadi bagian dari  strategi BKR/TRI  seperti  laskar Hizbullah ketika menerapkan strategi dua arah dan Pesindo yang bertugas menghadang musuh.   Kata Kunci : Gresik, pertempuran, BKR, Laskar Rakyat, strategi.
PEMBERITAAN MEDIA CETAK NASIONAL TENTANG KEBIJAKAN GANYANG MALAYSIA TAHUN 1963-1966 AYU HABIASTUTI, DIYAH
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembentukan Federasi Malaysia merupakan penggabungan antara negara-negara bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara meliputi Malaysia, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunei. Gagasan pembentukan federasi menuai penentangan dari Indonesia, karena pembentukannya dianggap telah menghalangi revolusi Indonesia. Pasca diresmikannya Federasi Malaysia, Indonesia memutuskan untuk melaksanakan politik konfrontasi yang ditandai dengan membentuk kebijakan mengganyang Malaysia. Kebijakan ganyang Malaysia tersebut, disampaikan oleh pemerintah melalui media massa atau pers kepada masyarakat. Pemberitaan mengenai kebijakan ganyang Malaysia diinformasikan secara beragam. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut: 1) Bagaimana latar belakang munculnya kebijakan Ganyang Malaysia, 2) Bagaimana pemberitaan media massa tentang kebijakan Ganyang Malaysia dan 3) Bagaimana dampak pemberitaan Ganyang Malaysia terhadap masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi politik yang melatar-belakangi Kebijakan Ganyang Malaysia, untuk menganalisis pemberitaan media massa mengenai kebijakan Ganyang Malaysia dan untuk menganalisis dampak pemberitaan media massa mengenai kebijakan Ganyang Malaysia. Penelitian sejarah ini menggunakan metode penelitian sejarah meliputi heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Penelitian sejarah yang benar tidak terlepas dari proses heuristik yakni penelusuran sumber. Penelusuran sumber berupa sumber primer seperti sumber-sumber berupa pemberitaan-pemberitaan media cetak dari surat-surat kabar Suluh Indonesia, Merdeka, Warta Bhakti, Kompas, Sinar Harapan, dan majalah Sket masa pada tahun 1963-1966. Penelusuran sumber sekunder berupa buku-buku refrensi yang terkait dengan politik konfrontasi Indonesia-Malaysia, skripsi, thesis, dan jurnal-jurnal ilmiah penelitian sejarah yang berkaitan dengan politik konfrontasi dan kebijakan ganyang Malaysia. Penelitian sejarah ini berdasarkan sumber media cetak sebagai berikut. 1) Kebijakan ganyang Malaysia dilatarbelakangi oleh penentangan RI terhadap pembentukan federasi Malaysia. 2) Pemberitaan kebijakan ganyang Malaysia oleh media cetak nasional sangat beragam dan berbeda. Pemberitaan kebijakan yang sangat mencolok yakni pemberitaan yang diinformasikan oleh surat kabar Suluh Indonesia sebagai surat kabar yang pro pemerintah dan condong pada idealisme presiden sukarno, harian Merdeka yang pro pemerintah namun masih objektif, harian Warta Bhakti yang pro pemerintah, provokatif dan penuh pesan propaganda, serta majalah Sketmasa yang bukan hanya pro pemerintah namun terkesan sangat persuasif, provokatif dan bombastis. 3) Pemberitaan kebijakan ganyang Malaysia berdampak pada respon masyarakat dalam mendukung kebijakan. Bentuk respon diantaranya berupa aksi corat-coret massa, demonstrasi, rapat-rapat raksasa, dukungan organisasi massa dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Kata Kunci: Pemberitaan, Media cetak, Kebijakan Ganyang Malaysia
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN TEH BANTARAN BLITAR TAHUN 2000-2014 ARDILA,
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkebunan teh Bantaran merupakan warisan peninggalan dari pemerintah kolonial Belanda. Perkebunan Teh Bantaran ini sudah diusahakan oleh Belanda sejak  tahun 1880 dengan luas areal tanam mencapai 501 bouws. Pada saat itu perusahaan yang memegang perkebunan Bantaran yakni N. V. Cult. Mij. Djenang, e. en. O, dengan ditanami koffie, peper dan padi. Perkebunan teh Bantaran milik Belanda ini dinasionalisasi pada 1957 dengan nama Pusat Perkebunan Negara (PPN) baru. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Keputusan Pemerintah no. 86 tentang Nasionalisasi perkebunan milik Belanda di Indonesia.  Perkebunan teh Bantaran mengalami beberapa perubahan dalam kepemimpinan dan pengolaan. Dari keberadaan perkebunan Bantaran sedikit banyak memberikan beberapa dampak bagi kehidupan masyarakat baik di bidang Ekonomi ataupun di bidang Sosial. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana Sejarah berdirinya perkebunan teh Bantaran?(2) Bagaimana perkembangan perkebunan teh Bantaran tahun 2000-2014?(3) Bagaimana pengaruh perkebunan teh Bantaran terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat? Tujuan dan manfaat dalam penelitian ini adalah menambah pengetahuan tentang keberadaan perkebunan teh Bantaran terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang mempunyai beberapa tahap, yaitu : heuristik yaitu pengumpulan sumber-sumber  berupa arsip perkebunan teh Bantaran dan sumber lisan berupa wawancara dengan Manager perkebunan Bantaran dan penduduk sekitar, kritik yaitu tahap memilih sumber-sumber yang telah ditemukan, interprestasi yaitu tahap melakukan analisis terhadap fakta-fakta yang ditemukan dari berbagai sumber baik primer maupun sekunder, dan historiografi yaitu tahap penyajian hasil laporan penelitian dalam bentuk tulisan dengan penulisan sejarah yang benar.                 Perkebunan Teh Bantaran merupakan salah satu aset milik negara yang dijadikan wadah untuk mendapatkan laba dan mensejahterakan perekonomian Indonesia melalui ekspor teh ke berbagai negara.Teh yang diekspor dan dikonsumsi di dalam negara berbanding 9:1. Produksi teh dari tahun 2000 hingga 2014 mengalami fluktuasi atau naik turun yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain cuaca, angin dan hasil petikan pucuk teh. Pada tahun 2014 produksi teh perkebunan Bantaran mengalami kenaikan hingga mencapai target yang ditentukan perusahaan yakni sekitar kurang lebih 1,5 ton. Perkebunan Bantaran memberikan dampak sosial-ekonomi terhadap masyarakat sekitar. Perkebunan Bantaran dapat menyerap tenaga kerja yang baik sehingga kehadirannya di Desa Tulungrejo memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Tenaga kerja yang terserap utamanya sebagai pemetik teh. Kata kunci: Perkebunan Teh Bantaran, Perkembangan, Afdelling Bantaran
PERTANIAN PADI PROVINSI JAWA TIMUR PADA MASA GUBERNUR SOELARSO TAHUN 1988-1993 DAMAYANTI, NUNIK
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang potensial dengan menyumbang 40% hasil pertanian.Jawa Timur sebagai salah satu kontributor terbesar di Indonesia dalam swasembada beras.Pada perkembangannya sistem pertanian di Jawa Timur menurun yang ditandai dengan pertumbuhan per tahun di bawah 3,4%. Baru setelah tahun 1990 Jawa Timur menunjukkan kestabilannya yang ditandai dengan prestasi yang di dapat yaitu di bidang intensifikasi pertanian.Pada Pelita V Jawa Timur di bawah kepemimpinan Soelarso.Soelarso dirasa sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur khususnya dibidang ekonomi pertanian dibuktikan dengan berbagai prestasi yang diperoleh yaitu Rotary Pin dan Bintang Mahaputra Utama.Masalah Dalam Penelitian yaitu: (1) Apa yang melatar belakangi munculnya ekonomi pertanian Soelarso, (2) Bagaimana kebijakan ekonomi pertanian masa Soelarso diimplementasikan?, (3) Bagaimana pengaruh kebijakan ekonomi pertanian Gubernur Soelarso bagi masyarakat Jawa Timur?. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mendiskripsikan pertanian padi di Jawa Timur sebelum pemerintahan Gubernur Soelarso, Untuk menganalisa pertanian padi pada masa Soelarso, Untuk menganalisa pengaruh perkembangan pertanian padi pada masyarakat Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut, pertama turunnya produksi padi pada akhir Pelita IV disebabkan karena kurangnya penanganan pascapanen serta peran KUD yang kurang begitu maksimal.Kedua kebijakan ekonomi pertanian Soelarso khususnya komoditi padi muncul pada satu tahun awal kepemimpinannya. Penekanan intensifikasi padi dengan pola Supra Insus dan Insus Paket D yang terdiri dari 10 unsur teknologi dilakukan melihat pertumbuhan ekonomi Jawa yang semakin memburuk di akhir Pelita IV. Dampak yang diperoleh adalah berkembangnya jumlah wadah partisipasi, Jawa Timur memperoleh berbagai prestasi Nasional dalam lomba insus pola tanam maupun lomba supra insus dan perkembangan penyerapan tenaga kerja dan kesempatan kerja petani. Kata Kunci: Intensifikasi Pertanian Padi, Gubernur Soelarso, Jawa Timur

Page 6 of 46 | Total Record : 456