cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA TAHUN 1989-1994 CAHYO GUMILAR, GILANG
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian rakyat tradisional merupakan atraksi wisata yang sangat potensial untuk konsumsi wisatawan. Namun atraksi wisata tidak hanya terbatas pada kesenian tradisional saja, tetapi banyak atraksi lain yang cukup menarik untuk disuguhkan kepada wisatawan misalnya: festival, pameran, dan lain-lain. Hal-hal semacam ini seharusnya dikembangkan, diorganisir, dan disediakan fasilitasnya, sehingga dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan, untuk itu pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta beserta para seniman menyelenggarakan festival kesenian Yogyakarta.   Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang penyelenggaraan awal festival kesenian Yogyakarta pada tahun 1989?, (2) Bagaimana perkembangan festival kesenian Yogyakarta pada tahun 1989-1994?, (3) Bagaimana pengaruh festival kesenian Yogyakarta terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitar kecamatan Kraton pada tahun 1989-1994? (4) Apa implikasi hasil perkembangan festival keenian Yogyakarta terhadap program pendidikan sejarah?. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Historis (Sejarah), dengan metode penelitian sejarah yang menerapkan beberapa tahapan yaitu : (1) Heuristik, mencari dan mengumpulkan sumber. (2) Kritik terhadap sumber yang telah dikumpulkan dengan menyeleksi keasliannya.(3) Interpretasi sumber, dengan membandingkan dan menganalisa sumber sejarah menjadi fakta sejarah. (4) Historiografi, yaitu menyusun fakta sejarah secara kronologis sebagai laporan  akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) latar belakang penyelenggaraan awal  festival kesenian Yogyakarta pada tahun 1989 adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bakdi Soeminto dengan membandingkan antara festival kesenian Yogyakarta dengan festival kesenian Bali. (2) Pelaksanaan festival kesenian Yogyakarta terjadi perubahan-perubahan di dalamnya, seperti pelaksanaan inti festival kesenian Yogyakarta serta Prosesi pengiring yaitu pertunjukan dan Pameran Seni. (3) Dengan adanya kegiatan pelaksanaan festival kesenian Yogyakarta juga membawa pengaruh kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Yogyakarta khususnya Kecamatan Kraton pada Tahun 1989-1994. (4) Implikasi hasil penelitian festival kesenian Yogyakarta terhadap pendidikan sejarah yaitu dalam proses belajar pendidikan sejarah adanya kesadaran akan memanfaatkan sumber pembelajaran sejarah, termasuk didalamnya sumber sejarah lokal. Sejarah lokal dapat diangkat dari karakteristik daerah masing-masing. Kata Kunci: Festival Kesenian Yogyakarta
KESENIAN SRANDUL DI DUSUN KARANGMOJO, TAMANMARTANI, KECAMATAN KALASAN, KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA TAHUN 1985-2013 SULISTIANTO,
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Srandul merupakan kesenian tradisional yang masih berkembang di masyarakat Yogyakarta dan masih mempertahankan keaslian serta kesederhanaannya. di tengah arus globalisasi, kesenian Srandul mencoba tetap hidup dan berkembang di hadapan masyarakat, meskipun harus bersaing dengan kebudayaan modern yang lebih mendominasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana latar belakang lahirnya kesenian srandul di Yogyakarta; (2) bagaimana makna simbolis dan nilai-nilai yang terkandung dalam Kesenian Srandul di Dusun Karangmojo  Desa Tamanmartani Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman Yogyakarta;(3) bagaimana perkembangan kesenian Srandul dusun karangmojo, kelurahan tamaanmartani, kecamatan kalasan tahun 1985-2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi (1) tahap heuristik peneliti menggunakan metode penelitian sejarah lisan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang berkaitan dengan kesenian Srandul. Peneliti melakukan wawancara dengan para pemain kesenian Srandul dan ketua paguyuban kesenian Srandul. (2) Kritik dilakukan dengan menyeleksi,menilai,memilah dan menguji kredibilitas data yang telah diperoleh melalui perbandingan data-data sumber lain. (3) intepretasi sumber, setelah data terkumpul maka dilakukan proses interpretasi atau penafsiran terhadap sumber-sumber tersebut. Disini peneliti mencoba menafsirkan sumber yang ada untuk dijadikan hipotesis bahwa seni Srandul yang berkembang di Yogyakarta juga dilestarikan di sleman. penafsiran dilakukan dan dipergunakan peneliti untuk menentukan fakta dengan tema penelitian. (4) Historiografi, yaitu tahap penulisan sejarah. Pada tahap ini rangkaian fakta yang telah ditafsirkan disajikan secara tertulis. Pada tahap akhir penelitian, setelah berhasil merekonstruksi sejarah sesuai dengan tema maka hasil penelitian dituliskan secara kronologis sesuai dengan tema.   Kata kunci: kesenian srandul, sleman yogyakarta 
KESENIAN JARANAN POGOGAN DI DESA SUGIHWARAS KECAMATAN PRAMBON KABUPATEN NGANJUK TAHUN 1956-1980 GATUT FIBRIANTO, EKO
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian jaranan pogogan merupakan kesenian jaranan asli dari Kabupaten Nganjuk, (kesenian jaranan yang unik serta berbeda dengan kesenian jaranan yang berasal dari daerah lain)m. Keunikan jaranan terletak pada pementasan yang tidak ada adegan kesurupan serta tidak menggunakan kemenyan yang identik dengan hal-hal yang berbau mistis seperti kesenian jaranan pada umumnya. Jaranan pogogan dikenal masyarakat sebagai jaranan wayang orang karena dalam pementasannya ada lakon (jalan cerita) serta setiap pemain dirias seperti tokoh-tokoh wayang orang. Hal yang paling menonjol pada kesenian ini adalah adanya tokoh pogog (ndagel). Pogog dalam bahasa Jawa berarti terpotong (tugel), karena dalam pementasan selalu berbuat usil serta riasan yang tidak pada umumnya sehingga mengundang gelak tawa dari penonton. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu, 1) Bagaimana awal mula munculnya kesenian jaranan pogogan di Kabupaten Nganjuk, 2) Bagaimana perkembangan Kesenian Jaranan Pogogan di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk tahun 1956-1980. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Langkah awal yaitu mengumpulkan sumber-sumber terkait tentang Kesenian Jaranan Pogogan di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk tahun 1956-1980, sumber primer didapat dari dokumentasi dan narasumber berupa hasil wawancara. Sedangkan sumber sekunder didapat dari buku-buku, skripsi tentang Pertunjukan Kesenian Jaranan Pogogan di Dusun Jimbir Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk yang ditulis oleh Eko Kadiono. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan Kesenian Jaranan pogogan di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk tahun 1956-1980. Proses interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah mengenai Kesenian Jaranan Pogogan di Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk tahun 1956-1980. Tahap terakhir adalah historiografi yang menjadi hasil tulisan sebagai rekonstruksi semua fakta sejarah sesuai dengan tema penulisan sejarah.           Hasil penelitian dapat dianalisis bahwa yaitu, 1) asal mula kesenian Jaranan pogogan adalah berasal dari cerita rakyat tentang pasukan berkuda dari Prabu Klono Sewandono yang berasal dari Kerajaan Bantarangin ketika sedang beristirahat disebuah tempat saat menuju Kediri untuk melamar Dewi Songgolangit ketika sedang beristirahat tersebut meraka asyik berbincang dan bersenda gurau, dari cerita rakyat itulah kemudian menjadi asal usul terciptanya kesenian jaranan pogogan. 2) Perkembangan kesenian jaranan pogogan di Dusun Jimbir Desa Sugihwaras Kecamatan Prambon pada tahun 1956 berdiri kesenian jaranan pogogan Teguh Rahayu yang dipimpin oleh Bapak Maridjo. Tahun 1965 hingga tahun 1975 merupakan masa keemasan kesenian jaranan pogogan Teguh Rahayu, walaupun terjadi gejolak politik di Indonesia pada tahun 1965 namun tidak menyurutkan eksistensi kesenian jaranan pogogan. Tahun 1978 hingga 1980 merupakan kemunduran kesenian jaranan pogogan, banyak kesenian lain yang lebih digemari oleh masyarakat serta munculnya kesenian jaranan yang beradegan kesurupan yang membuat jaranan pogogan semakin meredup. Kata Kunci: Pogogan, Perkembangan, Desa Sugihwaras
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING GUNA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 1 MOJOSARI WINAHYU, TANTI
Avatara Vol 4, No 1 (2016): Vol 4 Nomer 1 (Maret 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Model pembelajaran Snowball Throwing adalah model pembelajaran kooperatif dengan aktivitas yang dilakukan secara berpasangan. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terdapat kendala dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu: (1) Guru menggunakan metode ceramah tanpa adanya variasi, (2) Hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran dokumen kantor, lebih dari 50% siswa mendapat nilai di bawah KKM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Penerapan model pembelajaran Snowball Throwing. (2) Aktivitas siswa mengikuti model pembelajaran Snowball Throwing. (3) Hasil belajar siswa setelah mengikuti model pembelajaran Snowball Throwing. Penelitian ini merupakan penelitian tidakan kelas menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Mojosari yang berjumlah 37 siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes/post tes, angket, wawancara,  observasi, catatan lapangan dan dokumentasi. Siklus dalam penelitian ini terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu reduksi data, display data, dan kesimpulan & refleksi. Hasil penelitian ini: (1) Penerapan model pembelajaran Snowball Throwing dalam penelitian ini menggunakan variasi dalam penerapannya dengan menggunakan media bola untuk melemparkan soal. 2) Aktivitas siswa dan guru selama penerapan model pembelajaran Snowball throwing mengalami peningkatan. Keaktifan dan respon siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Snowball Throwing mengalami peningkatan (3) Hasil belajar siswa dari aspek kognitif setelah diterapkan model pembelajaran Snowball Throwing mengalami peningkatan. Ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan pada siklus I 60% menjadi 88,57% pada siklus II. Hasil belajar ranah afektif siswa mengalami kenaikan pada siklus I 88,03 menjadi 94 pada siklus II, Daya serap klasikalnya telah mencapai kriteria ketuntasan belajar. Karena adanya perbedaan perlakuan pada setiap siklus dan ketertarikan pada materi.   Kata kunci: Model Pembelajaran Snowball Throwing, Aktivitas, dan Hasil Belajar.
PROPAGANDA JEPANG DALAM MAJALAH SOEARA MOESLIMIN INDONESIA TAHUN 1944-1945 INDRAYANI, YAYUK
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soeara Moeslimin Indonesia merupakan majalah Islam yang diterbitkan oleh Organisasi Islam Masyumi pada tahun 1944. Isi dari majalah ini merupakan propaganda Jepang dalam beberapa bidang, seperti bidang pemerintahan, ekonomi, militer, agama, dan budaya. Penerbitan Majalah Soeara Moeslimin Indonesia memberikan manfaat yang banyak terhadap rakyat Indonesia, khususnya Umat Islam Indonesia. Rumusan masalah penelitian ini yaitu 1) Mengapa Jepang menggunakan Soeara Moeslimin Indonesia sebagai media untuk propagandanya? 2) Bagaimana isi propaganda Jepang dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia? 3) Bagaimana dampak propaganda Jepang dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia terhadap masyarakat Indonesia? Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Langkah awal yaitu mengumpulkan sumber-sumber terkait tentang propaganda Jepang Jepang dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia, sumber primer didapat dari Majalah Soeara Moeslimin Indonesia tahun 1944-1945. Sumber sekunder didapat dari buku-buku, skripsi, dan jurnal online mengenai kerjsama Jepang dengan umat Islam Indonesia. Sumber yang telah dikumpulkan kemudian dipilah dan disusun untuk mempermudah penafsiran sumber sejarah. Selanjutnya dicari keterkaitan antara sumber-sumber primer dan sekunder yang sesuai dengan tema penelitian. Tahap terakhir adalah historiografi yang menjadi hasil rekonstruksi semua fakta sejarah sesuai dengan tema penulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jepang telah melakukan kerjasama dengan Umat Islam Indonesia. Jepang menggunakan Umat Islam Indonesia untuk melakukan propaganda, propaganda tersebut dapat diketahui melalui artikel-artikel yang merupakan bentuk propaganda Jepang tahun 1944-1945. Adapun propaganda Jepang dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia, seperti: 1) Bidang politik adalah pembentukan Djawa Hokokai, dan Janji Kemerdekaan; 2) Bidang ekonomi adalah memperbanyak hasil pertanian dan pembentukan susunan perekonomian; 3) Bidang militer adalah pembentukan Peta, Benteng Perjuangan Djawa, dan Hizbullah; 4) Bidang Agama adalah pemberian kebebasan para ulama untuk berdakwah dan penerbitan Al-Qur’an; 5) Bidang Budaya adalah pembelajaran bahasa Jepang dan pendidikan Islam. Dampak positif dari propaganda Majalah Soeara Moeslimin Indonesia ini adalah 1) Adanya janji kemerdekaan yang diucapkan oleh Perdana Menteri Koiso maka Jepang mendapat dukungan dari para tokoh nasionalis dan ulama untuk berkolaborasi dengan memberikan perhatian supaya rakyat Indonesia mau membantu Jepang dalam Perang Pasifik; 2) Pendapatan Jepang meningkat hasil dari pertanian dan perkebunan rakyat Indonesia; 3) Jepang memperoleh bantuan tenaga militer dari rakyat Indonesia; 4) Jepang mendapatkan dukungan dari Umat Islam berupa doa kemenangan; 5) Jepang memperkenalkan bahasa Jepanh kepada rakyat Indonesia. Sedangkan dampak negatif dari propaganda tersebut diantaranya adalah 1) Melalui janji kemerdekaan tersebut, Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Pasifik setelah pengeboman Hirosima dan Nagasaki oleh Sekutu dan Indonesia merdeka; 2) Adanya pemberontakan dari tokoh yang kontra dengan Jepang seperti KH. Zainal Mustafa melakukan pemberontakan terhadap Jepang yang disebabkan adanya penyetoran padi yang memberatkan masyarakat Indonesia dan pembentukan Romusha; 3) Pembentukan tentara seperti Peta melakukan pemberontakan terhadap Jepang; 4) Adanya kewajiban berseikarei menyebabkan terjadinya pemberontakan terhadap Jepang ; 5) Usaha Jepang untuk memperkenalkan bahasa Jepang malah menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan rakyat Indonesia. Kata Kunci: Jepang, Islam, Soeara Moeslimin Indonesia, Propaganda Jepang.
PERJUANGAN RAKYAT PAMEKASAN MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN DALAM AGRESI MILITER BELANDA 1 DI MADURA TAHUN 1947 AFANDI, SULFAN
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berita kemerdekaan terdengar di Pamekasan dan rakyat melakukan aksi penurunan Bendera Jepang dan menghubungi semua alim ulama serta tokoh-tokoh masyarakat di seluruh Madura agar ikut serta dalam gerakan kemerdekaan. Walaupun sudah merdeka, Belanda terus melancarkan aksinya untuk menguasai Indonesia. Hal ini terbukti dengan ingkarnya Belanda terhadap perjanjian Linggajati yang sudah disepakati oleh pihak Belanda dengan Indonesia. Belanda melancarkan agresi militernya ke wilayah Republik Indonesia yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda I yang bertujuan menguasai kembali dan mendirikan negara-begara bagian di wilayah Republik Indonesia, diantaranya Jawa Timur termasuk Madura. Agresi militer Belanda I ini menimbulkan reaksi rakyat Pamekasan yang ingin mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Reaksi ini berupa perlawanan rakyat Pamekasan yang tergabung dalam badan kelaskaran ingin menunjukkan kepada Belanda bahwa Madura tidak akan mudah dikuasai. Belanda menghabiskan waktu sekitar 4 bulan untuk bisa menguasai Madura. Perjuangan ini berakhir pada tanggal 25 Nopember 1947 setelah Belanda menguasai Madura dan para pejuang diperintahkan untuk hijrah ke Jawa agar bergabung dengan pasukan pejuang lainnya. Kata kunci : Perjuangan rakyat, Pamekasan, Agresi militer Belanda I.
SOLICHAH A. WAHID HASYIM DAN KIPRAHNYA DALAM MENINGKATKAN PERAN WANITA MUSLIMAT NU 1963-1994 LAILATUL M, SITI
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Solichah A. Wahid Hasyim merupakan Salah satu tokoh wanita yang membawa perubahan dalam perjalan Muslimat NU. Beliau merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan hak dan peran wanita melalui organisasi Muslimat NU. Beliau juga ikut aktif menjadi pejuang perintis kemerdekaan. Solichah A. Wahid Hasyim memiliki nama kecil yaitu Munawaroh. Beliau merupakan Putri seorang ulama besar yaitu KH. Bisri Syansuri yang mendirikan pesantren Mamba’ul Ma’arif di Denanyar, ibunya adalah Nur Khadijah puti dari KH. Chasbullah pengasuh pondok pesantren Tambak Beras. Beliau dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren yang terkenal agamis tradisionalis. Ayah Solichah adalah seorang ulama yang peduli akan kemajuan perempuan, ia membuka kelas pesantren bagi wanita. Melihat dari kenyataan belum banyak wanita islam yang berkualitas baik di bidang agama dan sosial, Solichah A. Wahid bukan hanya aktif berdakwah melalui organisasi Muslimat NU, beliau juga menggagas berdirinya Yayasan Kesejahteraan Muslimat ketika beliau menjadi ketua di bidang sosial Muslimat NU. Yayasan Kesejahteraan Muslimat didirikan pada 11 Juni 1963. Penelitian ini membahas (1) Bagaimana latar belakang keluarga Solichah A. Wahid Hasyim ? (2) Bagaimana kiprah Solichah A. Wahid Hasyim dalam meningkatkan peran wanita Muslimat Nahdlatul Ulama ? (3) Bagaimana hasil pencapaian Solichah A. Wahid Hasyim dalam meningkatkan peran wanita Muslimat Nahdlatul Ulama ?. Dalam penulisan penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut : pertama, heuristik berupa pengumpulan sumber-sumber sejarah utama yaitu koran, dan majalah yang sejaman yang mengulas tokoh Solichah A. Wahid Hasyim seperti Koran Kompas, suara pembaruan, Majalah Risalah Islamiyah, Majalah Parlementaria, arsip dan dokumen organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama, dan sumber skunder yang terdiri dari buku-buku yang membahas tentang Solichah A. Wahid Hasyim, dan juga Muslimat NU, terakhir wawancara dengan narasumber valid yaitu Ny Aisyah Hamid Baidlowi. Kedua, Melakukan kritik terhadap sumber primer dan skunder. Ketiga, interpretasi dilakukan dengan menghubungkan fakta-fakta yang telah didapatkan dari sumber primer dan skunder, dan keempat, historiografi. Hasil penelitian ini adalah  (1) latar belakang keluarga Solichah A. Wahid Hasyim yang merupakan putri seorang ulama yaitu KH. Bisri Syansuri yang merealisasikan idenya dengan mendirikan kelas perempuan di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Beliau mendidik putra-putrinya dengan cara yang sama tanpa membedakan gender. Pendidikan Solichah secara formal diberikan orang tuanya di Pondok Pesantren Denanyar, hingga tingkat Madrasah Tsanawiyah; (2) kiprah dan peranan Solichah A. Wahid Hasyim dalam meningkatkan peran wanita Muslimat. Gagasan beliau untuk mendirikan Yayasan Kesejahteraan Muslimat untuk meningkatkan peran wanita Muslimat di bidang sosial membawa perubahan yang positif di Muslimat NU. Sebagai Ketua Yayasan banyak program-program yang dirintis beliau untuk memberdayakan wanita, seperti pelaksanaan proyek KB di Muslimat NU yang berhasil memberikan pendidikan kependudukan hingga di daerah yang fanatis agamanya tinggi seperti Madura. Beliau memperkenalkan pemikirannya pentingnya wanita menuntut ilmu bukan hanya ilmu agama, akan tetapi juga ilmu hukum, sosial, dan juga ilmu lainnya yang juga dipelajari oleh laki-laki.; (3) Hasil Pencapaian Solichah A. Wahid Hasyim dalam meningkatkan peran wanita Muslimat. Program yang dirintis Solichah di bidang sosial dan agama membuat Muslimat NU semakin berkembang dengan didirikannya LKKNU dan juga Majlis Taklim Jami Matraman. Pemikiran dan gagasan Solichah A. Wahid Hasyim membuat Wanita di Organisasi Muslimat NU memiliki peranan yang lebih aktif di sektor publik. Kata Kunci: Solichah  A. Wahid Hasyim, Peran Wanita, Muslimatt  NU
PERUBAHAN ELEKTABILITAS PARTAI PESERTA PEMILU DI YOGYAKARTA TAHUN1971-1999 ROHMAWATI, YULI
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilu sebagai salah satu wujud dari sebuah negara yang demokrasi mulai dilaksanakan di Indonesia. Yogyakarta sebagai Derah Istimewa yang ada di Indonesia tidak lepas dari pelaksanaan sistem demokrasi dengan melaksanakan Pemilu setiap lima tahun sekali. Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang menjadi basis kekuatan Golkar pada pelaksanaan Pemilu masa Orde Baru. Kemenangan Golkar di Yogyakarta sudah terjadi sejak pelaksanaan Pemilu tahun 1971-1997. Namun kondisi berbeda terjadi pada Golkar ketika pelaksanaan Pemilu tahun 1999, yang mana posisi Golkar tergeser oleh PDI. Adanya perubahan perolehan suara yang terjadi antara PDI dan Golkar pada Pemilu tahun 1999 menunjukkan adanya perubahan elektabilitas yang terjadi antara PDI dan Golkar . Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Bagaimana pelaksanaan Pemilu di Indonesia tahun 1971-1999?, Bagaimana pelaksanaan Pemilu di Yogyakarta pada tahun 1971-1999?, Mengapa terjadi perubahan elektabilitas partai peserta Pemilu di Yogyakarta pada tahun 1971-1999?. Penelitian ini menggunakan metode metodologi penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah arsip tentang pemilu, Undang – undang tentang Pemilu serta koran yang membahas tentang Pemilu di Yogyakarta antara tahun 1971-1999. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini bahwa pelaksananaan Pemilu di Indonesia pada masa Orde Baru hanya diikuti oleh tiga peserta yaitu PPP, PDI, dan Golkar, pelaksanaan Pemilu selalu diawali dengan aksi kampanye dari berbagai partai peserta Pemilu. Pada Pemilu tahun 1999 peserta Pemilu mencapai 48 partai. Pelaksanaan Pemilu tahun 1971-1999 dapat dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah namun masih terdapat pelanggaran yang dilakukan oleh partai peserta Pemilu ketika melaksanakan kampanye. Kondisi yang sama juga terjadi di Yogyakarta dimana jumlah peserta Pemilu hanya dibatasi tiga peserta saja. Para peserta Pemilu menyampaikan visi dan misi partai pada pelaksanaan kampanye. Aksi kampanye yang dilakukan partai peserta Pemilu di Yogyakarta menyebabkan berbagai pelanggaran, mulai dari bentrok fisik antar pendukung partai, pelanggaran lalu lintas, hingga pengrusakan kantor DPC salah satu partai di Yogyakarta. Pelaksanaan Pemilu di Yogyakarta dapat dilaksanakan dengan baik, namun terdapat beberapa masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan alasan tertentu. Hasil Pemilu masa Orde Baru selalu dimenangkan oleh Golkar, namun kemenangan Golkar tidak berlangsung lama. Pada Pemilu tahun 1999 PDI mampu memenangkan perolehan suara di Yogyakarta. Adanya perubahan perolehan suara antara PDI dan Golkar menunjukkan terjadinya perubahan elektabilitas pada kedua partai. Perubahan tersebut terjadi akibat kegagalan Pemerintahan Orde Baru dan dihapuskannya segala kebijakan yang tidak adil terhadap partai peserta Pemilu. Kata Kunci: Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemilu Orde Baru dan Reformasi, Perubahan elektabilitas partai
PERJUANGAN K.H. ABDULLAH FAQIH DALAM MENGEMBANGKAN PONDOK PESANTREN MAMBAUS SHOLIHIN SUCI – MANYAR – GRESIK TAHUN 1976 – 1997. FADHILAH, ULIL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

K.H. Abdullah Faqih adalah pendiri, pemimpin dan pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, yang beralamatkan di Desa Suci,Gg, KH Abdullah Faqih, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Ponpes ini Berdiri pada tahun 1976, KH Abdullah Faqih mampu membawa perubahan yang sangat baik bagi masyarakat.Kondisi masyarakat Desa Suci sebelum berdirinya Pondok Pesantren, banyak sekali perilaku masyarakat yang menyimpang dari ajaran agama Islam.Selain itu, Beliau juga berjasa besar dalam mengembangkan Pondok Pesantren Mambaus Sholihin.Pada awalnya, Pondok Pesantren Mambaus sholihin adalah pondok pesantren yang hanya mengkaji kitab- kitab kuning saja. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1978, di bukalah pendidikan formal dengan membuka Madrasah Ibtida’iyah dan pada tahun selanjutnya semakin berkembang menjadi beberapa lembaga pendidikan hingga tahun 1997 ada beberapa tingkatan sekolah formal di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Berdasarkan Latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana perjuangan K.H Abdullah Faqih dalam mengembangkan Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Tahun 1976-1997  2) Bagaimana perkembangan Pondok Pesantren Mambaus Sholihin tahun 1976-1997 pada masa kepemimpinan K.H Abdullah Faqih. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi pertama: heuristik, heuristik yaitu mencari sumber utama dan sumber pendukung, sumber utama dalam penelitian ini adalah dokumen dari pondok pesantren mambaus sholihin, berupa bukukarangan KH Abdullah Faqih, buku-buku terbitan pondok pesantren mambaus sholihin, wawancara dengan anggota keluarga. KH. Abdullah Faqih, dan wawancara kepada guru yang mengajar di pondok pesantren mambaus sholihin sedangkan sumber pendukung adalah wawancara dengan santri alumni pondok pesantren mambaus sholihin beserta buku-buku baik dari perpustakaan IAIN, perpustakaan Unesa dan perpustakaan Al-Azhar menganti. Kedua kritik, kritik yaitu menguji kredibilitas sumber menjadi fakta.ketiga interpretasi, interpretasi yaitu menghubungkan antar fakta dan terakhir historiografi, historiografi yaitu  menyajikan dalam bentuk karya ilmiah. Hasil Penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan yaitu, Berdirinya Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci awalnya bukanlah keinginan pribadi dari KH. Abdullah Faqih, karena beliau merasa belum mampu untuk mengasuh pondok pesantren dengan alasan bahwa ilmu agama yang beliau miliki belum cukup tetapi atas dorongan dan dukungan dari sahabat-sahabat beliau yaitu K.H. Asfihani Faqih  dan Syam Wongtani akhirnya Pada tahun 1976, K.H. Abdullah Faqih mau untuk menjadi pengasuh pondok pesantren Mambaus Sholihin. Adapun dana yang beliau gunakan untuk mendirikan Pondok Pesantren  yaitu dari sahabat-sahabat beliau serta sumbangan dari salah satu warga Suci sendiri yang berupa Sebuah tanah yang di wakafkan untuk K.H Abdullah Faqih yang akan dibangun Sebuah Mushollah pada waktu itu. dan lambat laun semakin lama banyaknya volume santri yang berdatangan di musollah tersebut,akhirnya K.H Abdullah Faqih berinisiatif untuk membangun sebuah Pondok di Desa Suci yang santrinya berasal dari Luar Kota Gresik. Pondok Pesantren Mambaus Sholihin yang beliau dirikan semakin lama semakin berkembang pesat. Pendidikan Formal yang ada di pondok pesantren juga semakin berkembang dari tahun ke tahun. Mulai dari pendidikan Madrasah hingga Perguruan Tinggi INKAFA. Model pembelajaran yang beliau terapkan adalah model pembelajaran yang terdapat 3 ciri khas metode yaitu sorogan, wetonan, dan Bandongan. Seiring berkembangnya waktu, pondok pesantren banyak mendatangkan guru baru lulusan dari pondok gontor sehingga muncullah ide beliau untuk membuka metode pembelajaran modern yaitu Pendidikan Klasikal, Sejak saat itulah Pondok pesantren Mambaus Sholihin berubah menjadi Pondok Pesantren Modern tetapi tetap tidak meninggalkan Sistem Pendidikan Tradisionalnya. Kata Kunci: KH.Abdullah Faqih, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin
ARTI HISTORIS PRASASTI PATAKAN DALAM JEJAK AIRLANGGA DI LAMONGAN EVIANA,
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prasasti merupakan sumber primer tertulis yang sangat penting untuk menuliskan sebuah sejarah Indonesia kuno. Banyaknya sebaran peninggalan arkeologis, baik berupa prasasti, struktur bangunan, batu lumpang, fragmen keramik, pecahan tembikar, maupun uang kepeng di Kabupaten Lamongan, memberikan petunjuk bahwa Lamongan adalah pusat dari Kerajaan Airlangga. Airlangga adalah salah satu raja pembesar Jawa yang pernah memerintah pada 1019-1043 Masehi. Selama memerintah, Airlangga telah mengeluarkan kurang lebih 33 prasasti untuk melegitimasi kekuasannya. Salah satu prasasti yang dikeluarkan adalah Prasasti Patakan, yang berisikan tentang pemberian hadiah sima kepada penduduk Desa Patakan karena memelihara bangunan suci Sang Hyang Patahunan. Penelitian ini membahas (1)Jejak-jejak peninggalan Airlangga di Lamongan; (2)Peristiwa-peristiwa kesejarahan yang terdapat dalam isi Prasasti Patakan; dan (3)Hubungan Prasasti Patakan dengan keadaan sosial politik masa pemerintahan Airlangga. Adapun metode penulisan yang digunakan adalah metode pendekatan sejarah, yang mencakup empat tahapan yaitu pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi sumber, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peninggalan-peninggalan di Lamongan sebagian besar berasal dari masa Airlangga. Hal tersebut didasarkan pada analisis isi dan unsur fisik temuan arkeologis. Berdasar hasil toponim juga menunjukkan bahwa prasasti masa Airlangga mempunyai kesamaan nama-nama desa di Lamongan yang keberadaannya masih ada sampai saat ini. Salah satunya adalah Desa Patakan yang disebut dalam Prasasti Patakan dan Prasasti Terep. Adapun peristiwa kesejarahan yang terdapat dalam Prasasti Patakan meliputi daerah penetapan sima, keberadaan wargga kilalan, tokoh dewa-dewa, raja, pejabat kerajaan, Bhatara Ri Sang Hyang Patahunan, dan buyut banil. Prasasti Patakan yang berisi sima merupakan salah satu unsur sosial dan politik Airlangga dalam melegitimasi kekuasaannya. Penyebutan wargga kilalan memberikan informasi bahwa Airlangga telah menjalin hubungan dengan negara lain dan menjadi salah satu cara Airlangga untuk menunjukkan kekuasaan Airlangga pada negara lain. Selain itu, dengan adanya orang suci yakni Sang Hyang Patahunan dan juga pengikutnya yang dapat menjamin keselamatan Airlangga, menunjukkan akan pentingnya kedudukan Desa Patakan sebagai tempat pelarian Airlangga saat diserang musuh. Kata Kunci: Prasasti Patakan, Airlangga, Lamongan

Page 5 of 46 | Total Record : 456