cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
TAMAN BUNGKUL TAHUN 2007-2015 BADIAH, MARIYATUL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Bungkul berlokasi di Jalan Raya Darmo Surabaya. Perkembangan Taman Bungkul menjadi menarik ketika Taman ini mendunia, sampai menjadi taman terbaik se Asia Tenggara. Awal mula Taman Bungkul tidak lepas dari nama seorang tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Wilayah Surabaya dan sekitarnya, beliau adalah Ki Ageng Supo yang kemudian mendapat gelar Sunan Bungkul atau Mbah Bungkul. sejak zaman Belanda keberadaan Taman Bungkul dipertahankan dipertahankan pemerintah colonial ketika didirikan kompleks perumahan Belanda yang dikenal dengan “Boven Stad”. Sejak diresmikan pada tahun 2007, perkembangan Taman Bungkul sangat mencolok dari tempat makam menjadi tempat wisata. Sebagai tempat bersejarah, Taman Bungkul tidak sepopuler Wali Songo. Tempat ini lebih dikenal sebagai tempat rekreasi. Perubahan fungsi yang lebih rekreatif dari pada religi.Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut (1) Bagaimana perkembangan kompleks Taman Bungkul Tahun 2007-2005?(2) Bagaimana perkembangan sarana prasana Taman Bungkul Tahun 2007-2015?permasalahan-permasalahan tersebut diberikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan hitoriografi.Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan, diperoleh dari hasil penelitian bahwa kawasan Boengkoel zaman Belanda dipertahankan seiring dengan adanya kompleks perumahan Belanda yang disebut Darmo Boulevard berdasarkan peta Surabaya Tahun 1926 yang diperoleh dari hasil Koran Jawa Pos Tahun 1982. Perkembangan Taman Bungkul yang semakin bagus membawa pemerintah kota Surabaya untuk merevitalisasi Taman Bungkul. Revitalisasi tersebut merupakan hasil bentuk kerjasama pemerintah kota Surabaya dengan beberapa pihak diantaranya PT. Telkom berdasarkan nomor 660/3161/436.5.4/06.P.117/HK.810/D05A1073000/2006.Kata Kunc: Perkembangan, Makam Mbah Bungkul, Revitalisasi.
SEJARAH TRADISI RITUAL GILING MANTEN DI PABRIK GULA NGADIREJO, DESA NGADIREJO, KECAMATAN KRAS, KABUPATEN KEDIRI ACHMAD FAUZI, RHIZAL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ide penggagas dari tradisi Giling Manten ini adalah Mbah Wongso seorang sesepuh desa yang berperan sebagai pihak yang berkomunikasi dengan penunggu di wilayah yang akan didirikan pabrik gula. Dari hasil komunikasi tersebut, akhimya disepakati bersama bahwa sebelum memasuki musim buka giling diadakan sebuah ritual untuk disuguhkan ke penunggu kawasan pabrik gula Ngadirejo, yakni dengan menyediakan sepasang boneka pengantin dan kepala kerbau untuk ditanam. Sejak saat itu mulailah tradisi giling manten yang diadakan setiap tahun di Pabrik Gula NgadirejoAdapun permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah Pabrik Gula Ngadirejo? (2) Bagaimana sejarah dan makna dalam tradisi giling manten di Pabrik Gula Ngadirejo, Kediri? Dalam penulisan penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan langkah-langkah sebagai berikut : pertama, heuristik (pengumpulan data/sumber) mengumpulkan buku-buku, artikel, majalah, koran yang mengenai tradisi giling manten, kedua, kritik sumber terhadap sumber yang diperoleh seperti artikel, majalah, koran dan buku-buku yang berhubungan dengan Tradisi Giling Manten dan Perkembannya, ketiga, interpretasi menghubungkan fakta-fakta yang diperoleh dan keempat, historigrafi atau penulisan sesuai dengan tema yang telah dipilih.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pada mulanya PPN Ngadirejo ini terdiri dari PG Ngadirejo ditambah dengan Perusahaan Serat (Vezeloderneming) Jengkol, didirikan pada tahun 1928 oleh Naaloze Vennootsche (N.V.). PG Ngadirejo dinasionalisasi setelah Indonesia merdeka (2) Adapun pelaksanaan tradisi Giling Manten di pabrik gula Ngadirejo meliputi: (A) Selametan atau syukuran; (B) Pemilihan tebu (C) Penyembelihan kerbau (D) Pembuatan boneka manten dan menyiapkan sesajen yang terdiri dari: (a) Tebu welasan; (b) Ambengan; (c) Buceng robyong; (d) Cok bakal; (e) Kembang boreh; (f) Jamu parem; (g) Sesajen (pisang dan kelapa); (3) Membuat sepasang kembar mayang; Sedangkan kronologis pelaksanaan tradisi Giling Manten meliputi : (A) Prosesi siraman tebu welasan; (B) Prosesi arak-arakan; (C) Prosesi serah-serahan; (D) Prosesi penggilingan manten tebu dan sesaji-sesajinya. Kata Kunci : Tradisi Giling Manten, Makna, Sejarah Kebudayaan
KASUS PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA KOTA SURABAYA TAHUN 1980-1990 WULAN EKASIWI, ARRUM
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyalahgunaan narkoba adalah suatu permasalahan sosial yang banyak terjadi di Indonesia dan telah ada sejak zaman kolonial hingga modern. Penyalahgunaan narkoba tumbuh dan berkembang di Pulau Jawa dan menyebar ke seluruh penjuru kota besar salah satunya adalah Kota Surabaya. Selain itu, Kota Surabaya merupakan sentra dari adanya perkembangan zaman yang terus-menerus akan mengalami perubahan besar. Seperti halnya dengan perkembangan kasus penyalahgunaan narkoba. Wilayah ini telah menjadi sasaran utama bagi pengedar narkoba untuk menyebarkan aksinya dalam kasus penyalahgunaan narkoba. sasaran utama yang banyak tertangkap ialah para remaja berusia 14 tahun hingga 20 tahun umumnya karena pengaruh dari ajakan teman di sekitar lingkungan. Pada awal tahun 1980 hingga akhir tahun 1990, pemerintah Kota Surabaya dengan tegas mengeluarkan aturan untuk segera menangani kasus penyalahgunaan narkoba yang telah tersebar diseluruh wilayah tersebut.Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu, 1.) Bagaimana latar belakang kasus penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja Kota Surabaya tahun 1980-1990; 2.) Bagaimana perkembangan kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Surabaya tahun 1980-1990?; 3.)Bagaimana upaya pemerintah menangani kasus penyalahgunaan narkoba terhadap remaja Surabaya tahun 1980-1990?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah meliputi tahap heuristik yaitu pengumpulan sumber-sumber primer maupun sekunder, kritik yaitu tahap untuk memilih sumber-sumber yang telah ditemukan, interpretasi yaitu tahap melakukan analisis terhadap fakta-fakta yang ditemukan berbagai sumber baik primer maupun sekunder, historiografi yaitu tahap penyajian hasil laporan penelitian dalam bentuk tulisan dengan penulisan sejarah yang benar.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui dan mendeskripsikan latar belakang serta perkembangan kasus penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja Kota Surabaya tahun 1980-1990. Penelitian ini juga menjelaskan tentang upaya pemerintah dalam menangani kasus penyalahgunaan narkoba dikalangan remaja Kota Surabaya.Hasil penelitian berupa perkembangan kasus penyalahgunan narkoba yang semakin menunjukkan angka peningkatan secara drastis setiap tahun. Kasus narkoba telah menjadi persoalan tingkat nasional, sehingga pemerintah dengan tegas segera mengambil tindakan atas kasus tersebut. Berbagai macam upaya serta tindakan yang sudah dilakukan oleh pihak pemerintah, dan masyarakat. Adapun macam-macam upaya yang dilakukan pemerintah yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative serta refresif. Dengan adanya upaya tersebut, diharapkan agar jumlah pemakaian narkoba pada kasus penyalahgunaan narkoba dapat berkurang dan tidak terjadi peningkatan yang lebih drastis dari tahun 1980 sampai tahun 1990. Kata Kunci : Perkembangan, Remaja, Kasus Narkoba, Upaya.
PELABUHAN KAMAL TAHUN 1996-2009 JANNAH, ARIFATUL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan pelabuhan tidak terlepas dari kebutuhan manusia akan sarana transportasi. Pulau Madura merupakan pulau yang padat akan penduduk, sedangkan lapangan pekerjaan sangat minim dikarenakan tanah Madura yang gersang serta ketersediaan air yang kurang memadai menyebabkan masyarkat melakukan migrasi ke kota besar untuk menunjang perekonomian. Arus migrasi yang terus meningkat seiring dengan kebutuhan masyarkata akan pekerjaan serta sarana untuk mengangkut barang dagangan menyebabkan kebutuhan akan sarana transportasi juga meningkat. Banyaknya kebutuhan akan transportasi mendesak akan tersedianya sarana transportasi yang memadai seperti pelabuhan, dengan adanya pelabuhan menjadikan masyarakat dengan mudah utuk menyeberang ke tempat yang dituju, maka dari itu Pelabuhan Kamal sebagai pintu gerbang utama masyarakat Madura memberikan peranan yang sangat penting bagi kelancaran transportasi masyarakat Madura terutama masyarakat Bangkalan. Rumusan masalah penelitian ini yaitu 1) Bagaimana latar belakang dibangunnya Pelabuhan Kamal? 2) Bagaimana perkembangan Pelabuhan Kamal tahun 1996-2009? 3) Bagaimana dampak keberadaan Pelabuhan Kamal terhadap perkembangan Sosial Ekonomi Kabupaten Bangkalan tahun 1996-2009?. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu, menjelaskan latar belakang dibangunnya Pelabuhan Kamal, mendeskripsikan perkembangan Pelabuhan Kamal tahun 1996-2009, dan Menganalisis dampak keberadaan Pelabuhan Kamal terhadap perkembangan Sosial Ekonomi masyarakat Bangkalan tahun 1996-2009. Permasalahan-permasalahan tersebut diberikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interperstasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan, diperoleh hasil bahwa Pelabuhan Kamal terus megalami perkembangan yang ditandai dengan peningkatan fasilitas di Pelabuhan Kamal. Dampak keberadaan Pelabuhan Kamal terhadap perkembangan sosial ekonomi masyarakat Bangkalan yaitu: a. Bidang ekonomi: 1) Pertumbuhan industry; 2) Meningkatnya kegiatan perdagangan; 3) Meningkatkan pendapatan daerah; 4) Bangkalan masuk dalam kawasan Gerbangkertosusila. b. Bidang Sosial: 1) Membuka lapangan pekerjaan; 2) Meningkatnya akses urbanisasi. Kata Kunci: Pelabuhan, Kamal, Bangkalan
ASPEK POLITIS LUMPUR LAPINDO SIDOARJO TAHUN 2006-2014 ROJIBA, AMILINA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perusahaan yang berada dalam naungan BPMIGAS adalah PT Lapindo Brantas. Perusahaan ini beroperasi semenjak 1999 di Porong, Sidoarjo. Letak geografis Sidoarjo sangat strategis dalam bidang industri. Pemilik saham terbesar adalah keluarga Aburizal Bakrie. Terjadinya peristiwa lumpur Lapindo pada 29 Mei 2006, telah membawa dampak besar bagi karir politik Aburizal Bakrie. Selain dampak politik, dampak lainnya juga terjadi di bidang ekonomi, sosial dan lingkungan.Pencalonan Aburizal Bakrie sebagai ketua Partai Golkar membuat warga korban lumpur melakukan berbagai aksi demo. Hal tersebut dilakukan untuk menuntut ganti rugi. Bakrie dinilai lebih mementingkan kepentingan politik daripada nasib korban lumpur yang diakibatkan oleh perusahaannya. Citra Aburizal Bakrie dan Golkar mulai menurun dengan banyaknya aksi demo. Dampak politis dari kasus lumpur Lapindo menjadi fokus utama penelitian.Rumusan Masalah penelitian ini adalah 1) apa penyebab semburan lumpur, 2) dampak ekonomi, sosial, lingkungan dan politik dari peristiwa lumpur, 3) upaya penanggulangan lumpur Lapindo. Tujuan penelitiannya adalah mengungkap penyebab semburan yang menjadi perdebatan, upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasinya serta mengetahui dampak yang muncul akibat semburan lumpur baik dari segi politik, ekonomi, sosial dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan sejarah. Metode heuristik dilakukan dengan mengumpulkan berbagai sumber koran, jurnal, buku dan wawancara. Kritik untuk menyeleksi sumber yang valid. Interpretasi yaitu menghubungkan sumber dengan fakta untuk membuat analisis dan opini penulis, dan historiografi adalah penulisan.Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah penyebab semburan lumpur menjadi perdebatan, ada dua pendapat yaitu lumpur disebabkan oleh kesalahan prosedur pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas atau bencana alam. Meskipun Lapindo menyanggah bahwa penyebab lumpur adalah kesalahan pengeboran, namun pihak Lapindo dibantu pemerintah melakukan tanggungjawab sepenuhnya. Kontroversi terkait karir politik Aburizal Bakrie mulai merembet ke kasus lumpur Lapindo yang belum tuntas. Berbagai aksi demo yang dilakukan oleh korban lumpur terus menerus dilakukan. Sulitnya proses ganti rugi membuat warga melakukan demo untuk menarik simpati publik agar tidak mendukung Bakrie dalam karir politiknya. Unsur politik juga terlihat dari hasil putusan Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa penyebab lumpur karena bencana alam dan pemerintah harus menggunakan dana APBN.Luapan lumpur Lapindo merusak sebagian insfrastruktur ekonomi di Sidoarjo. Kerugian akibat lumpur ditanggung oleh PT Lapindo Brantas, masyarakat dan pemerintah. Semburan lumpur juga menimbulkan masalah sosial dalam pengungsian para korban lumpur. Selain itu, lumpur mengakibatkan lingkungan sekitar rusak tercemar. Pemerintah membuat kebijakan melalui Surat Keputusan Presiden dan Peraturan Presiden untuk membentuk Timnas dan BPLS dalam upaya penanggulangan lumpur. Kata Kunci : Aspek Politis, Lumpur Lapindo, Sidoarjo
KIPRAH SUNDARI SOEKOTJO DALAM KANCAH MUSIK KERONCONG DI INDONESIA TAHUN 1977-2014 YUSUF, DIANA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sundari Soekotjo salah satu seniman musik keroncong yang namanya dikenal luas di Indonesia. Sundari Soekotjo mengawali karirnya dengan menjadi penyanyi pop cilik pada tahun 1977 Sundari Soekotjo mengkhususkan untuk mempelajari musik keroncong.selain seorang seniman keroncong Sundari Soekotjo merupakan seorang Doctor dan dosen di Universitas Negeri Jakarta dan Institut Bisnis Nusantara.Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah adalah : (1) Bagaimana sejarah masuknya musik keroncong di Indonesia? (2) Apa latar belakang Sundari Soekotjo menekuni musik keroncong? (3) Bagaimana peran Sundari dalam mengembangkan musik keroncong di Indonesia 1977-2014? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang meliputi (1) Heuristik, pengumpulan data berupa artikel majalah, koran, buku penunjang, jurnal dan wawancara yang berkaitan dengan Sundari Soekotjo; (2) Kritik terhadap beberapa sumber primer dan sekunder yang sudah terkumpul; (3) Interpretasi data tentang peranan Sundari Soekotjo dalam perkembangan musik di Indonesia dengan hasil penelusuran sumber yang telah diperoleh; dan (4) Historiografi sesuai dengan tema yang dipilih yaitu peranan Sundari Soekotjo dalam perkembangan musik keroncong di Indonesia tahun 1977-2014.Hasil penelitian tentang Peranan Sundari Soekotjo dalam perkembangan musik keroncong dimulai sejak tahun 1977. Latar belakang Sundari Soekotjo menekuni musik keroncong adalah (1) Dukungan dari sang Ayah Soekotjo Ronodihardjo dan sang Ibu Hertini; (2) Mengikuti festival musik keroncong; dan (3) Sundari Soekotjo masuk ke dalam Sanggar Anggrek. Upaya yang dilakukan Sundari Soekotjo dalam melestarikan Musik Keroncong adalah (1) Sundari Soekotjo masuk dalam organisasi HAMKRI; (2) Memadukan musik keroncong dengan genre musik lainnya; dan (3) Mendirikan Yakin (Yayasan Musik Keroncong Indonesia). Kata Kunci: Musik Keroncong, Sundari Soekotjo, Peran.
KRIMINALITAS DI SURABAYA PADA PENGHUJUNG AKHIR ORDE BARU 1995-1998 OKTAVIANASARI, DINNA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kriminalitas bermula dari kata crime, yang artinya adalah kejahatan atau seorang penjahat. Kriminalitas merupakan suatu tindakan seseorang yang mengandung unsur kejahatan, baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak. Kriminalitas merupakan tindakan kejahatan yang bertentangan dengan hukum dan norma sosial lainnya, sehingga masyarakat mencelanya. Menginjak pada penghujung pemerintahan Orde Baru 1995-1998, berdasarkan data dari Polda Jatim angka kriminalitas di Surabaya semakin tinggi pada tahun 1998. Berbagai tindak kekerasan dan anarki sosial muncul dengan sangat kuat hingga menyebabkan situasi kota seperti di kota Surabaya tidak kondusif. Berbagai aksi kejahatan turut mengiringi pergolakan sosial tersebut, aksi tersebut digunakan sebagai bagian bentuk reaksi mereka terhadap kondisi ekonomi. Merebaknya kerusuhan, dan tindakan destruktif lainnya semakin memperparah keadaan di Surabaya, situasional tersebut juga dimanfaatkan oleh para criminal (Perampokan, Pencurian, Penjarahan) yang merasa tersudutkan oleh kondisi sosial ekonomi di Surabaya.Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana aksi kriminalitas di Surabaya tahun 1995-1998? Bagaimana upaya pihak penegak hukum terhadap kriminalitas di Surabaya pada tahun 1995-1998? Untuk memperoleh data-data yang akan digunakan dalam penelitian kriminalitas di Surabaya pada Penghujung Akhir Orde Baru 1995-1998, dalam hal ini menggunakan metode penelitian sejarah. Tahapan metode penelitian sejarah yang dilakukan meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan diperoleh hasil bahwa kriminalitas di Surabaya pada tahun 1995-1998, semakin marak terjadi dibuktikan dengan laju angka kejahatan yang semakin meningkat di tahun 1997 hingga 1998. Menyebabkan situasional di wilayah Surabaya menjadi tidak terkendali. Bentuk upaya penegak hukum wilayah Surabaya dalam menekan angka kejahatan sudah dilakukan baik dengan upaya pre-emtif, preventif dan represif. Namun tidak semua upaya tersebut berhasil, karena bentuk kriminalitas masih banyak ditemui di wilayah Surabaya. Seperti aksi perampokan, pencurian, pembobolan dan penjarahan yang semakin meningkat menjelang tahun 1998. Peningkatan kejahatan tidak terlepas dari hubungan dengan keadaan ekonomi. pemenuhan akan kebutuhan ekonomi yang tidak diimbangi dengan kemampuan skill dan kondisi perekonomian negara yang tidak stabil, maka perwujudan rasa frustasi mereka lakukan dengan cara berbuat kriminalitas. Selain itu juga diakibatkan adanya kondisi sosial yang tidak adil di masayarakat seperti adanya kesenjangan ekonomi, menyebabkan timbulnya kecemburuan sosial didalam masyarakat. Kata Kunci : Kriminalitas, Surabaya, Penghujung Orde Baru
KOPERASI INDUSTRI TAS DAN KOPER (INTAKO) DI TANGGULANGIN SIDOARJO TAHUN 1976-2013 AZQIYAH, WARDATUL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koperasi merupakan suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan, yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah pada anggotanya. Koperasi juga dapat disebut sebagai sebuah wadah organisasi ekonomi yang memiliki ruang gerak dan kesempatan usaha yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat. Kemajuan dan pembangunan koperasi semakin berperan dalam perekonomian Nasional secara kekeluargaan dan gotong royong pada hakikatnya sesuai dengan asas koperasi. Sidoarjo merupakan daerah yang berbatasan dengan kota Surabaya yang memiliki peluang sangat strategis dalam pengembangan wilayah ekonomi. Kecamatan Tanggulangin merupakan bagian dari Sidoarjo yang memiliki potensi besar dalam bidang ekonomi. Koperasi INTAKO menjadi salah satu bentuk perkoperasian yang terkenal di Kecamatan Tanggulangin. Berdasarkan latarbelakang masalah di atas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut (1) Bagaimanakah latar belakang berdirinya Koperasi INTAKO di Tanggulangin ? (2) Bagaimanakah perkembangan Koperasi INTAKO di Tanggulangin Sidoarjo sejak 1976-1998 ? (3) Bagaimana pengaruh Koprasi INTAKO terhadap masyarakat Tanggulangin Sidoarjo ?. Permasalahan-permasalahan tersebut diberikan penjelasan dengan melakukan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber yang didapatkan melalui tahapan metode penelitian sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interperstasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber-sumber yang didapatkan, diperoleh hasil bahwa Koperasi INTAKO didirikan sejak Tahun 1976 memproduksi Tas dan Koper. Koperasi INTAKO di desa Kedensari telah mampu menyerap 175 orang pekerja asli warga Kedensari. pekerja di Koperasi INTAKO desa Kedensari mengalami pendapatan hingga empat kali lipat dari pendapatan yang didapat sebelum bekerja di Koperasi INTAKO. Anggota yang bergabung di Koperasi INTAKO mencapai 300 orang pengrajin asli warga Tanggulangin. Dampaknya, para pengrajin mengalami peningkatan pendapatan puluhan juta setiap bulan. Koperasi INTAKO memberikan pengaruh besar bagi perekonomian masyarakat desa Kedensari Tanggulangin. Kata Kunci : Koperasi, Industri, Tanggulangin, Sidoarjo
GAYA BUSANA SITI HARTINAH SOEHARTO SEBAGAI IBU NEGARA INDONESIA TAHUN 1968-1996 YUASTANTI, ERIKA
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Busana dipahami sebagai alat untuk melindungi tubuh atau sebagai alat untuk memperelok penampilan. Akan tetapi, selain untuk memenuhi kedua fungsi tersebut,pakaian juga dapat berfungsi sebagai "alat" komunikasi yang bersifat non-verbal, karena busana ternyata mengandung simbol-simbol yang memiliki beragam makna. Busana dalam konteks sosial sebagai kulit sosial dan kebudayaan. Sebagai ibu Negara gaya busana menjadi sesuatu yang penting karena lewat busana secara tidak langsung dapat mencitrakan kebudayaan Negara. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya busana Siti Hartinah Soeharto sebagai ibu Negara dan pengaruhnya terhadap masyarakat Indonesia.Penelitian ini membahas (1) Bagaimana gaya busana yang dipakai Siti Hartinah sebagai ibu Negara Indonesia menjadi simbol nasionalisme wanita indonesia? (2) Bagaimana pengaruh gaya busana Siti Hartinah terhadap masyarakat Indonesia. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan sejarah, yang mencakup empat tahapan yaitu mengumpulkan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya busana Siti Hartinah sebagai ibu Negara yang selalu memakai kebaya, kain, dan konde Jawa merupakan bagian dari bentuk Jawanisasi pada pemerintahan Orde Baru. Kebaya yang berasal dari kebudayaan Jawa ini dimasukkan kepada masyarakat Indonesia untuk mengembalikan nilai-nilai budaya Indonesia. Selain itu kebaya juga dibentuk untuk meningkatkan nasionalisme bangsa serta membentuk identitas wanita Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kodrati perempuan. Busana kebaya Bu Tien merepresentasikan sikap keibuan, keluguan dan kesederhanaan perempuan Indonesia dalam berbusana. Gaya busana Bu Tien juga mempunyai dampak terhadap masyarakat Indonesia pada bidang budaya, kebaya bu tien merupakan bentukdari politik penasioanalisasian kebudayaan jawa oleh Orde Baru, selain itu kebaya Bu Tien dijadikan sebagai senjata dalam menghadapi modernisasi dalam bidang busana dan kebaya juga digunakan sebagai alat diplomasi sehingga kebaya semakin dikenal oleh dunia internasional. Pada bidang ekonomi yaitu, dengan penggunaan kebaya sebagai busana nasional wanita Indonesia sehingga mengakibatkan daya serap pasar domestik meningkat dan pondasi industry nasional menjadi semakin kuat. Pada bidang sosial yakni terciptanya kelas sosial yang mengidentifikasikan penggunaan kebaya sebagai kelas menengah ke atas. Kata Kunci: Kebaya, Gaya Busana, Siti Hartinah Soeharto
TRADISI UPACARA BERSIH DESA SITUS PATIRTHÄ€N DEWI SRI DI DESA SIMBATAN WETAN, KECAMATAN NGUNTORONADI, KABUPATEN MAGETAN (KAJIAN TENTANG KESEJARAHAN DAN FUNGSI UPACARA) PUJO JATMIKO, AGIL
Avatara Vol 4, No 2 (2016): Vol 4 Nomer 2 (Juli 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara mengenai tradisi oleh masyarakat Indonesia, maka pelaksanaan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikaji, karena sampai zaman sekarang tradisi tersebut masih berlangsung dan diadakan oleh warga masyarakat di Desa Simbatan Wetan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berdasarkan kesejarahannya, tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali kegiatan pelaksanaan tradisi bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri berlangsung dan diadakan oleh warga masyarakat di Desa Simbatan. Melihat dari struktur bangunannya, patirthãn Dewi Sri merupakan bangunan pada zaman klasik yang dianggap penting. Melihat kenyataan itu, maka tidak diketahui secara pasti apakah pelaksanaan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri merupakan fungsi sejak zaman klasik yang masih bertahan hingga zaman sekarang oleh masyarakat di Desa Simbatan.Pada penelitian ini menggunakan metode sejarah, dimana peneliti akan menerapkan prinsip-prinsip heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi dalam meneliti kesejarahan pelaksanaan upacara besih desa dan perkembangan fungsi upacara bersih desa di patirthãn Dewi Sri.Hasil penelitian menunjukkan, upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri pertama kali diadakan oleh masyarakat di Desa Simbatan pada zaman klasik akhir. Hal ini terbukti dari cerita tertua yang menghubungkan Dewi Sri terdapat pada kitab Tantu Panggelaran yang berkembang sejak abad ke 15 – 16 Masehi. Selanjutnya, upacara disempurnakan oleh masyarakat penganut agama Islam abad ke 15 Masehi dengan tetap memunculkan simbol Dewi Sri dalam pelaksanaanya. Berdasarkan fungsinya patirthãn Dewi Sri zaman klasik digunakan untuk upacara penghapusan noda dan dosa-dosa sehingga bersih jiwanya dan mencapai moksa atau bisa kembali ke surga. Seiring berjalannya waktu, fungsi zaman klasik bangunan patirthãn sebagai tempat dilaksanakannya upacara pembersihan noda dan dosa-dosa serta sebagai pemujaan sudah mulai mengalami perubahan. Akan tetapi tidak menjadikan ditinggalkan masyarakat zaman sekarang karena masih mengadakan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri. Kata Kunci : Patirthãn Dewi Sri, Bersih Desa, Tarian Ikan.

Page 7 of 46 | Total Record : 456