cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PERDAGANGAN DI NUSANTARA ABAD KE-16 SYAFIERA, AISYAH
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nusantara terletak pada jalur perdagangan internasional wilayah barat-timur. Para pedagang datang dari berbagai penjuru singgah dan berkumpul di Nusantara. Nusantara memiliki wilayah subur dan kaya sumber daya alam. Beberapa komoditas Nusantara menjadi penting dalam perdagangan internasional. Keuntungan tersebut membawa Nusantara tampil menjadi wilayah penting dalam perdagangan internasional. Pada abad ke-16, banyak perubahan terjadi sebagai dampak masuknya Eropa ke dalam jalur perdagangan Nusantara khusunya setelah Portugis mendudukki Malaka. Masuknya Eropa ke dalam jaringan perdagangan Nusantara didorong oleh tingginya permintaan rempah-rempah.Rumusan masalah yang akan dibahas adalah 1) bagaimana aktivitas perdagangan di Nusantara pada abad ke-16, 2) apa saja komoditas dagang di Nusantara pada abad ke-16. Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah. Heuristik menjadi tahap awal untuk mengumpulkan sumber-sumber. Tahap Kritik untuk menyeleksi sumber yang valid. Tahap interpretasi dilakukan dengan mengaitkan dan menganalisi sumber. Tahap historiografi melakukan penulisan kembali hasil interpretasi dalam bentuk skripsi ini.Berdasarkan hasil analisis sumber menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan di Nusantara abad ke-16 mengalami peningkatan. Tumbuhnya aktivitas ini dikarenakan Malaka jatuh ke tangan Portugis mendorong pedagang Asia harus berkunjung ke daerah–daerah di Nusantara. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan komoditas yang dibutuhkan. Selain itu, jatuhnya Malaka juga membuka wilayah-wilayah perdagangan di Nusantara, sehingga muncul rute-rute baru. Jalur rempah-rempah ke Maluku membuka 3 rute dagang, yaitu rute dagang Portugis, rute dagang umum, dan rute dagang Pribumi. Munculnya jalur rempah-rempah ini meyebabkan berkembangnya pelabuhan Nusantara sebagai pusat aktivitas perdagangan laut, khususnya pelabuhan-pelabuhan di pesisir pantai. Pelabuhan sebagai tempat kapal-kapal dagang berlabuh menjadi tempat berkumpulnya pedagang yang terlibat aktivitas perdagangan di Nusantara seperti Portugis, Asia, dan pribumi. Interaksi dagang terus berjalan seiring dengan kebutuhan para pedagang untuk memenuhi komoditas yang akan diperdagangkan di negeri asalnya. Hal ini nampak jelas ketika terjadi interaksi dan aktivitas dagang di Samudra Pasai, Aceh, Pedir, Barus, Tiku, Pariaman, Jambi, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Demak, Cirebon, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Lawu, Tanjung Pura, Borneo, Makasar, Bali, Sumbawa, Solor, Bima, Ternate, Bacan, Hitu, Banda, dan Papua.Rempah-rempah, kapur barus, kayu cendana, dan kemenyan merupakan komoditas utama Nusantara yang menjadi komoditas internasional. Komoditas lokal Nusantara adalah beras, emas, kain, budak, garam, kuda, dan lainnya. Komoditas lokal dan internasional ini memiliki peran masing-masing dalam aktivitas perdagangan di Nusantara pada abad ke-16. Komoditas Internasional menarik para pedagang asing dan komoditas lokal menarik para pedagang pribumi, sehingga aktivitas dan interaksi dagang baik jalur interinsular maupun internasional menjadi ramai. Kata Kunci: Nusantara, Perdagangan, Komoditas.
PERANAN KH. MOH. MA’SHUM YUSUF DALAM MENGEMBANGKAN PONDOK MODERN ARRISALAH PONOROGO TAHUN 1982-2009 WULAN, SYARIFA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skripsi ini mengkaji tentang peranan KH. Moh. Ma’shum Yusuf dalam mengembangkan Pondok Modern Arrisalah tahun 1982-2009. Pondok ini mulai dirintis pada tahun 1982 oleh KH. Moh. Mashum Yusuf dan diresmikan pada tanggal 26 Febuari 1985 dengan nama Madinatu At-Thulab. Gagasan utama pendirian Pondok Modern Arrisalah disebabkan rasa keprihatinan KH. Moh. Ma’shum Yusuf terhadap pendidikan anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.Adapun permasalah yang dibahas pada penelitian ini, meliputi: (1) Bagaimana latar belakang berdirinya Pondok Modern Arrisalah Ponorogo; (2) Bagaimana perkembangan Pondok Modern Arrisalah Ponorogo tahun 1982-2009; (3) Bagaimana peranan KH. Moh. Ma’shum Yusuf dalam mengembangkan Pondok Modern Arrisalah Ponorogo tahun 1982-2009. Dalam menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan historis yang meliputi heuristik, kritik, interprestasi dan historiografi. Sumber-sumber yang digunakan berupa sumber primer yaitu wawancara langsung dengan pimpinan Pondok Modern Arrisalah Ponorogo yaitu KH. Moh. Ma’shum Yusuf. Selain itu, penulis juga menggunakan beberapa sumber primer berupa arsip dan piagam pendirian Pondok Modern Arrisalah Ponorogo.Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, perkembangan Pondok Modern Arrisalah Ponorogo dibagi menjadi tiga periode yaitu, periode pra-pesantren dimulai sejak pertama kali pondok ini dirintis tahun 1982, periode pondok modern bertaraf nasional dimulai sejak peresmian pondok yaitu pada tanggal 26 Pebruari 1985 dan periode pondok modern bertaraf internasional dimulai sejak berubahnya sistem pendidikan di Pondok Modern Arrisalah yaitu tahun 1995 hingga peresmian Yayasan Pondok Modern Arrisalah di tahun 2009. Peranan KH. Moh. Ma’shum Yusuf dalam mengembangkan Pondok Modern Arrisalah Ponorogo yaitu melakukan kerja sama dengan Pondok Modern Gontor Ponorogo, meningkatkan kualitas pendidik dengan jalur pengkaderan dan mengembangkan kegiatan perekonomian guna memenuhi kebutuhan pondok serta pembangunan sarana prasarana pondok. Kata Kunci: Peranan, KH. Moh. Ma’shum Yusuf, Pondok Modern Arrisalah.
KEBERADAAN BARISAN TJAKRA MADURA TAHUN 1947 - 1950 CAHAYA R, AMALIA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekuatan militer Belanda sejak pada masa Hindia Belanda hingga kemerdekaan Indonesia, mengalami kekurangan sumber daya manusia. Salah satu cara yang digunakan untuk mencukupinya yakni, dengan dibantu oleh kekuatan lokal yang dibentuk dalam sebuah badan militer KNIL. Madura merupakan salah satu wilayah yang dijadikan sasaran kembali oleh Belanda pada masa kemerdekaan, dalam membentuk barisan yang bernama Barisan Tjakra Madura. Bergabungnya golongan masyarakat Madura dalam Barisan Tjakra, menimbulkan banyak respon dari masyarakat Indonesia dan Madura. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penilitian meliputi : 1) Apakah yang melatar belakangi munculnya Barisan Tjakra Madura ? 2) Bagaimana Peran Barisan Tjakra Madura dalam militer Belanda selama perang kemerdekaan ? 3) Bagaimana reaksi masyarakat Madura terhadap keberadaan dan aktifitas Barisan Tjakra Madura dalam perang kemerdekaan ?Penelitian bertujuan untuk menganalisis keikut sertaan kembali, beberapa masyarakat Madura yang masuk hingga berakhirnya Barisan Tjakra Madura. menganalisis mengenai latar Belakang terbentuknya, perekrutan, aktifitas, fasilitas serta tanggapan masyarakat terhadap aktivitas barisan Tjakra Madura. Penelitian sejarah dilakukan dengan metode penelitian sebagai berikut : heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sumber penelitian meliputi : arsip, koran serta buku yang terkait dengan pembahasan Barisan Tjakra Madura.Hasil dari penelitian yakni, barisan Tjakra Madura beranggotakan masyarakat Madura yang dulunya bergabung dalam KNIL serta masyarakat Madura yang tertarik untuk bergabung pada masa kemerdekaan. Perekrutan dilakukan secara bertahap, hingga tahun 1949 jumlah anggota barisan Tjakra Madura berjumlah 2000 orang. Keuntungan yang didapatkan apabila masyarakat Madura bergabung dalam Barisan Tjakra Madura yakni, pemenuhan sandang, pangan, papan, jaminan kesehatan, mobilitas sosial hingga pendidikanBarisan Tjakra Madura yang terbentuk pada masa perang kemerdekaan menyebabkan, anggotanya dipandang sebagai rakyat yang kurang memiliki rasa nasionalisme. Sedangkan bagi anggota barisan Tjakra Madura, perlunya pemenuhan kebutuhan ekonomi menyebabkan mereka harus bergabung dalam satuan militer tersebut. Masyarakat Madura menganggap barisan Tjakra Madura sebagai pengganggu ketentraman, karena sikap mereka yang keras dan melawan bahkan tanpa melihat lawannya. Kata Kunci : Barisan Tjakra Madura, Belanda dan Perang Kemerdekaan
PERANAN KH. ABDULLAH FAQIH DALAM MENGEMBANGKAN PONDOK PESANTREN LANGITAN TUBAN TAHUN 1971-2011 SHOLIHAH, ISTIADATUS
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pondok Pesantren Langitan merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852, di Dusun Mandungan, Desa Widang, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Perkembangan pesantren pun akan semakin pesat apabila kepemimpinan kiai bisa menduduki posisi sentral dalam masyarakat. Seperti halnya pada perkembangan Pesantren Langitan Tuban yang berpegang teguh pada kaidah “memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya baru yang konstruktif.” Peranan KH. Abdullah Faqih dalam bidang keagamaan dan pendidikan juga begitu besar. Dalam bidang keagamaan beliau berperan sebagai tokoh agama dan ulama, dalam bidang pendidikan KH. Abdullah Faqih berperan sebagai pendidik dan sebagai manajer yang memasukkan pelajaran modernis kedalam pendidikan salaf Pondok Pesantren Langitan, peranan KH. Abdullah Faqih dalam bidang sosial berperan sebagai muamalat dan tokoh masyarakat. Beliau juga menjadi rujukan para politikus, sehingga nama langitan cukup sakral di pentas politik pada tahun 1900-an, yang kemudian dikenal sebagai poros langit. Kata Kunci: KH. Abdullah Faqih, Peranan dan Pesantren
PENANAMAN MODAL ASING SEKTOR PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI NASIONAL PADA MASA ORDE BARU TAHUN 1967-1981 SUSANTI, ENI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanaman modal asing sudah beroperasi di sektor pertambangan minyak dan gas bumi Indonesia sejak ditemukannya minyak untuk pertama kali pada tahun 1883 oleh A.J. Zilker. Penanaman Modal Asing pada masa itu dimulai oleh perusahaan mayor De Koninlijke dan Shell. Operasi modal asing di sektor pertambangan minyak dan gas bumi terletak pada kegiatan eksplorasi (pencarian) hingga pengembangan produksi. Seiring dengan kebijakan pintu terbuka yang dilancarkan oleh Orde Baru, maka operasi modal asing di bidang pertambangan minyak dan gas bumi terus bertambah. Bersama dengan adanya faktor bom minyak, maka penanaman modal asing berhasil menjadi salah satu faktor penting yang mendorong sektor pertambangan minyak dan gas bumi sebagai motor penggerak roda perekonomian negara. Kata Kunci : Kebijakan, Penanaman Modal Asing, Pertambangan, Minyak dan Gas Bumi
STUDI KOMPARATIF HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA SMA NEGERI DI KABUPATEN TULUNGAGUNG ANTARA YANG DIAJAR GURU BERSERTIFIKAT PENDIDIK DAN GURU BELUM BERSERTIFIKAT PENDIDIK AYU WULANDARI, ISTI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru merupakan ujung tombak dalam upaya meningkatkan kualitas sistem layanan dan hasil pendidikan. Untuk memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, maka pemerintah menyelenggarakan program sertifikasi guru untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru dan mutu hasil pendidikan. Penelitian ini mengambil dua rumusan masalah sebagai berikut 1) Adakah perbedaan hasil belajar sejarah siswa SMA Negeri di Kabupaten Tulungagung antara yang diajar guru bersertifikat pendidik dan guru belum bersertifikat pendidik? 2) Berapa besar pengaruh guru bersertifikat pendidik terhadap hasil belajar sejarah siswa SMA Negeri di Kabupaten Tulungagung ? Adapun tujuan penelitian ini untuk 1) Mengetahui perbedaan hasil belajar sejarah siswa SMA Negeri Kabupaten Tulungagung antara yang diajar guru bersertifikat pendidik dan guru belum bersertifikat pendidik. 2) Mengetahui besar pengaruh guru bersertifikat pendidik terhadap hasil belajar sejarah siswa.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode komparatif. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 299 siswa yang diajar oleh lima guru tersertifikasi dan satu guru belum tersertifikasi yang diambil secara stratified, cluster, dan proportional random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan Independent-Samples T Test.Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan: 1) terdapat perbedaan hasil belajar sejarah siswa antara yang diajar guru bersertifikat pendidik dan belum bersertifikat pendidik. Dengan taraf kesalahan 5%, maka didapat nilai t-test 0.000 < 0.025. 2). Pengaruh guru bersertifikat pendidik sebesar 5.3% terhadap hasil belajar sejarah siswa. Ini artinya bahwa guru bersertifikat pendidik tidak terlalu memberikan dampak besar terhadap hasil belajar siswa. Kata Kunci : Guru, Sertifikasi, Hasil belajar sejarah
PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT PADA POKOK BAHASAN PERKEMBANGAN BANGSA INDONESIA SEJAK MASUKNYA PENGARUH BARAT SAMPAI DENGAN PENDUDUKAN JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 2 SAMPANG ZULFANA, IDRIYA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di kelas XI SMA Negeri 2 Sampang, yang disebabkan oleh metode pembelajaran yang digunaakan guru mata pelajaran sejarah dengan menggunakan model ceramah. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti yang bertindak sebagai guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe student teams achievementsebagai alternatif untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Sampang.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom action research). Pada penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus, dimana dalam setiap siklus mencakup perencanaan, tindakan, pengamatan atau observasi dan refleksi. Tujuan diadakannya penelitian ini untuk mengetahui tingkat keaktifan belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe student teams achievementdapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran sejarah. Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe student teams achievementdapat dijadikan sebagai salah satu alternatif variasi pemilihan metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar sejarah, karena metode ini dapat mendorong siswa untuk lebih aktif belajar dan meningkatkan motivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajarnya. Kata kunci: pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement, penelitian tindakan kelas, mata pelajaran sejarah
RUMIAH KARTOREDJO, PENGABDIAN DAN KONTRIBUSINYA PADA POLRI YAUWERISSA, LORENZO
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polwan merupakan salah satu bagian dari Polri terutama dalam bidang administrasi. Polwan dibentuk pada tahun 1948 di Bukittinggi dengan tujuan untuk Polwan merupakan salah satu bagian dari Polri terutama dalam bidang administrasi. Polwan dibentuk pada tahun 1948 di Bukittinggi dengan tujuan untuk mengurus adminstrasi dan menyelidik anak dan wanita serta melindungi korban anak dan wanita dari segala bentuk kejahatan. Seiring dengan perkembangan, Polwan diberi kesempatan yang lebih besar dalam merintis kariernya di kepolisian seperti menjadi Kapolsek, Kapolres, anggota DPR/MPR-RI, bahkan diberi kesempatan untuk menjadi seorang jenderal. Pada era reformasi, Rumiah seorang anggota Polwan justru dipercaya untuk menjadi seorang Kapolda yang merupakan jabatan bagi para polisi pria. Hal tersebut merupakan hal pertama dalam sejarah Nasional.Penelitian ini memfokuskan kepada jejak karier Rumiah serta mengapa ia bisa menjadi seorang Kapolda, mengapa ia mau menjadi seorang Polwan meskipun ia memiliki cita-cita menjadi seorang guru, dan apa kontribusinya terhadap Polri selama 32 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah dari penelitian ini serta menganalisis jenjang karier di lingkungan Polri, terutama Polwan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah mengingat penelitian ini merupakan penelitian seorang tokoh mulai dari masa kecil hingga menjadi sosok yang patut dikenang.Rumiah merupakan seorang anak kelahiran Tulungagung yang menyukai olahraga sehingga ia kuliah di STO Surabaya (sekarang Unesa). Kemudian,ia memilih untuk menjadi Polwan setelah ia lulus dari STO Surabaya. Kariernya dimulai sejak tahun 1978 mulai dari Letnan Dua hingga menjadi seorang Jenderal dalam kurun waktu 32 tahun. Kariernya mulai melejit sejak ia mengikuti pendidikan di Seskoad dan Sespati serta menjabat sebagai Kasepolwan hingga manjadi Kapolda Banten.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Rumiah telah berkontribusi bagi perkembangan Polri sehingga, Polwan yang lain berkesempatan luas untuk mengikuti pendidikan seperti Sespim, Sespati, dan beberapa pendidikan Polri lainnya serta Polwan berpeluang besar untuk menjadi seorang jenderal bahkan menjadi jenderal bintang dua (Irjen Pol). Selain itu, Rumiah juga berhasil mendidik lebih dari 2000 Polwan melalui pendidikan di Sepolwan. Dan Rumiah berhasil membuat situasi di Banten aman dan kondusif, terutama pada saat Pemilu 2009 di Banten. Kata kunci: Rumiah, Polwan, Polri
PERANAN PADEPOKAN SENI BUDAYA KAMPOENG ILMU DALAM PELESTARIAN KESENIAN TARI REMO DI SURABAYA TAHUN 2008-2015 SEPTIAN AGUSTINA, DEWI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paguyuban Kampoeng Ilmu berdiri mempunyai motto untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan melestarikan kebudayaan bangsa. Hal tersebut diwujudkan dengan didirikannya Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu yang mengajarkan kesenian tari remo secara gratis. Hal tersebut dikarenakan banyaknya minat masyarakat yang ingin belajar menari, tetapi kurangnya biaya karena belajar di sanggar tari dipungut biaya.Masalah yang diteliti dalam skripsi ini, adalah (1) Apa yang melatarbelakangi berdirinya Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu pada tahun 2008, (2) Bagaimana perkembangan Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu tahun 2008-2015 dan (3) Bagaimana peran Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu dalam pelestarian kesenian tari remo di Surabaya tahun 2008-2015.Penelitian ini menggunakan penelitian metode sejarah yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Tahap heuristik peneliti memperoleh sumber primer yang berupa akte deklarasi pendirian Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu, dokumentasi kegiatan dan hasil wawancara. Sumber sekunder yang diperoleh peneliti adalah buku-buku dari perpustakaan, jurnal, tugas akhir yang berhubungan dengan pelestarian tari remo.Hasil dari penelitian ini adalah Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu berdiri dikarenakan berdirinya Paguyuban Kampoeng Ilmu. Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu sejak awal berdiri tahun 2008-2015 mengalami perkembangan terutama pada jumlah siswa. Peran Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu dalam melestarikan tari remo di Surabaya adalah dengan mengadakan pendidikan tari remo, pelatihan tari remo, meningkatkan kualitas penampilan dan mengadakan pemecahan rekor MURI. Kata kunci: pelestarian, tari remo dan padepokan.
PERKEMBANGAN PERIKANAN LAMONGAN TAHUN 1998 - 2008 DWI UTAMI, IRSA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan sektor perikanan tersebut dilaksanakan secara merata tidak terkecuali di Provinsi Jawa Timur. Pengembangan sektor perikanan di Jawa Timur merupakan program pada masa orde baru yang salah satu hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan pembinaan sumber budidaya melalui pengendalian dan pengawasan perikanan. Adapun sasaran – sasaran yang ingin dicapai yaitu peningkatan pendapatan nelayan atau petani ikan untuk pemenuhan tingkat pendapatan yang wajar.Produksi perikanan tangkap Provinsi Jawa Timur tahun 2008 mencapai 338.915,2 ton. Kabupaten Lamongan merupakan daerah dengan kontribusi terbesar untuk Propinsi Jawa Timur yang mencapai 61.436,5 ton, selanjutnya adalah Kabupaten Sumenep dengan produksi mencapai 43.385,6 ton. Produksi yang cukup banyak juga dihasilkan Kota Probolinggo, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Sampang dan Kabupaten Tuban. Sementara pada kota/ kabupaten lainnya, jumlah produksinya masih dibawah 10.000 ton. Secara lengkap jumlah produksi perikanan tangkap dari perairan laut untuk setiap kabupaten atau kota pesisir di Provinsi Jawa TimurRumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimana keadaan perikanan Lamongan sebelum tahun 1998, 2) bagaimana perkembangan perikanan Lamongan Tahun 1998 - 2008, 3) bagaimana pengaruh perikanan Lamongan terhadap penduduk Lamongan. Tujuan penelitiannya adalah untuk mendeskripsikan keadaan perikanan Lamongan sebelum tahun 1998, mendeskripsikan perkembangan perikanan Lamongan Tahun 1998 – 2008 serta pengaruh perikanan tersebut terhadap penduduk Lamongan. Metode yang digunakan adalah pendekatan sejarah. Metode heuristik dilakukan dengan mengumpulkan berbagai sumber koran, jurnal, buku dan wawancara. Kritik untuk menyeleksi sumber yang valid. Interpretasi yaitu menghubungkan sumber dengan fakta untuk membuat analisis dan opini penulis, dan historiografi adalah penulisan.Hasil dari penelitian ini adalah Keadaan perikanan Lamongan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena disebabkan oleh beberapa faktor antara lain semakin canggihnya alat bantu yang digunakan di mana nelayan sudah menggunakan fish finder dan GPS, adanya krisis moneter yang melanda Indonesia setelah tahun 1998 yang ternyata membawa dampak positif bagi nelayan karena harga jual ikan menjadi tinggi dan adanya kemajuan teknologi informasi.Pada aspek produksi perikanan sepanjang tahun 1999 - 2008, Pemerintah Kabupaten Lamongan melaksanakan kebijakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang ada di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Lamongan serta melakukan langkah modernisasi jumlah armada kapal dan alat tangkap. Upaya ini telah berhasil meningkatan kapasitas pelabuhan dengan penambahan jumlah armada dan alat tangkap purse-seine dan cantrang yang dianggap masih memberikan dampak pada bidang ekonomi yang cukup besar, sehingga menjadi daya tarik perkembangan usaha penangkapan di Kabupaten Lamongan. Kata Kunci: Perkembangan, Perikanan, Lamongan

Page 9 of 46 | Total Record : 456