cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
LATAR BELAKANG WAJIB BELAJAR MASA ORDE BARU TAHUN 1984 DEWI CAHYANINGSIH, GALUH
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Wajib Belajar dari 6 tahun menjadi 9 tahun masa Orde Baru tahun 1984 memiliki beberapa alasan diantaranya dari segi pendidikan meningkatnya angkatan kerja di Indonesia yang hanya berpendidikan sekolah dasar atau bahkan lebih rendah yaitu tidak tamat sekolah dasar. Dari segi ekonomi upaya peningkatan sumber daya manusia dapat memberi nilai tambah lebih terhadap pertumbuhan ekonomi dimungkinkan dapat memperluas wawasan dalam menciptakan kegiatan ekonomi secara beranekaragam. Dari segi kepentingan peserta didik peningkatan usia wajib belajar dari 6 tahun menjadi 9 tahun akan memberikan kematangan yang lebih tinggi dalam penguasaan pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan akan memperbesar peluang yang lebih merata untuk meningkatkan martabat, kesejahteraan, serta makna hidup.Penelitian ini menjelaskan tentang: 1) Mengapa ada Gerakan Wajib Belajar masa Orde Baru? 2)Bagaimana pelaksanaan Gerakan Wajib Belajar masa Orde baru? Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang mencakup empat tahapan yaitu mengumpulkan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografiBerdasarkan laporan gerakan wajib belajar yang dilaksanakan sejak tahun 1984/ 1995 sampai akhir Pelita V menunjukkan keberhasilan Pemda DKI Jakarta dalam rangka penuntasan wajib belajar. Dalam awal Pelita VI (Tahun 1994/ 1995) angka partisipasi murni (APM) dapat dicapai sebesar 99.25% yang berarti penduduk usia 7- 12 tahun yang tidak/ belum sekolah relatif kecil (0,75%), sedangkan untuk tahun 1995/ 1996 APM mencapai sebesar 99. 26% berarti mengalami kenaikan 0,01% dengan jumlah murid usia 7- 12 tahun sebanyak 1. 025. 879 dibanding dengan jumlah penduduk usia 7- 12 tahun sebesar 1. 033. 497 sehingga yang tidak/ belum sekolah relatif lebih kecil yaitu 0,74% (7618 anak). Kata Kunci: Repelita, Wajib Belajar, Orde Bar
KEBIJAKAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA TERHADAP KOMUNITAS ARAB DI MALANG 1900-1935 HOSNIYAH,
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 1854, Pemerintah Hindia Belanda membentuk kebijakan Regering Regleement (peraturan pemerintah) yang membedakan kelompok masyarakat menjadi tiga kelas di Hindia Belanda yaitu kelas paling atas adalah kulit putih (Eropa, Amerika, Jepang ), kelas kedua adalah Timur Asing ( Arab, India, Cina ), dan kelas ketiga adalah pribumi (masyarakat asli Indonesia). Pemerintah membentuk kebijakan tersebut mengenai penggolongan masyarakat di Hindia Belanda karena sebagai akibat dari struktur masyarakat kolonial dan politik pecah belah pemerintah Hindia Belanda sehingga pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda memberlakukan sistem apartheid yaitu menggolongkan masyarakat Hindia Belanda menjadi tiga golongan tersebut. Selanjutnya mengenai komunitas Arab pemerintah menerapkan kebijakan-kebijakan yang jelas agar tidak membahayakan kekuasaan pemerintah di tanah jajahan yang menganggap bahwa orang Arab identik dengan Islam sebagai pemberontak. Penelitian tentang kebijakan terhadap komunitas Arab di Malang menarik untuk diteliti karena sebelumnya komunitas Arab yang ada di Surabaya dan Gresik hanya membahas tentang perkembangannya dalam bidang sosial ekonomi. Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana latar belakang pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan terhadap komunitas Arab di Malang 1900-1935 2) Apa saja kebijakan yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda terhadap komunitras Arab di Malang 1900-1935 3) Bagaimana Pengaruh kebijakan pemerintah Hindia Belanda terhadap komunitas Arab di Malang, 1900-1935.Tujuan dari penelitian ini adalah Menjelaskan latar belakang pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan terhadap komunitas Arab di Malang 1900-1935, Mendeskripsikan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda terhadap komunitas Arab di Malang 1900-1935 dan Menganalisis pengaruh kebijakan pemerintah Hindia Belanda terhadap komunitas Arab di Malang, 1900-1935. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.Hasil penelitian yang diperoleh adalah Kebijakan pemerintah Hindia Belanda terhadap komunitas Arab di Malang dalam bidang sosial politik yaitu Wijkenstelsel atau penempatan wilayah tertentu bagi orang Arab. Kebijakan tersebut bertujuan untuk memisahkan orang Arab dengan pribumi. Kebijakan dalam bidang ekonomi yaitu kebijakan Passenstelsel yang mengharuskan komunitas Arab dan Timur Asing lainnya membawa kartu paspor jalan jika mengadakan perjalanan keluar daerah. Kebijakan dalam bidang budaya yaitu kebijakan untuk mempererat ikatan antara negeri jajahan dengan Negara penjajahnya melaui pendidikan. Kebijakan dalam bidang agama yaitu pernyataan netral pemerintah terhadap semua agama, namun pernyataan tersebut tidak sesuai dengan prakteknya.Pengaruhnya dalam bidang sosial politik yaitu dengan diterapkan kebijakan wijkenstelsel, mereka tidak bebas untuk melakukan hubungan sosial terhadap masyarakat pribumi dan mengganggu proses Asimilasi yang terjadi antara keduanya dan juga orang Arab membentuk PAI (Partai Arab Indonesia). Pengaruh dalam bidang ekonomi dengan adanya kebijakan Passenstelsel usaha perdagangan mereka tidak berkembang mengingat barang dagangan orang Arab yang akan dijual keluar kota mengalami kerepotan yang harus mengurus kartu jalan atau passport. Pengaruh dalam bidang budaya adalah komunitas Arab mendirikan sendiri sekolah untuk orang Arab dan masyarakat pribumi yaitu Jamiat Al-Kheir dan Al-Irsyad. Pengaruh dalam bidang agama adalah banyak para ulama yang menentang untuk tidak ikut campur dalam urusan agama orang Arab. Kata Kunci: Kebijakan Hindia Belanda, Komunitas Arab, Malang
PERSATUAN SEPAK BOLA PETROKIMIA PUTRA GRESIK TAHUN 1988-2005 AGUNG NUGROHO, IKSAN
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepakbola di Kabupaten Gresik mulai dikenal sejak bergabungnya Persegres di kompetisi Perserikatan. Klub ini adalah klub yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Gresik, namun dalam perjalanannya dikelola dan didanai oleh PT. Petrokimia Gresik. Seiring keberhasilan menembus Divisi Utama Perserikatan pada tahun 1988, muncul gagasan untuk membentuk tim profesional untuk berlaga di kompetisi Galatama. Akhirnya pada 20 Mei 1988 didirikanlah Persatuan Sepak Bola Petrokimia Putra Gresik. Selama mengikuti kompetisi mulai tahun 1988-2005 klub ini mengalami pasang surut prestasi yang disebabkan oleh banyak faktor, yaitu permasalahan dari dalam dan dari luar klub itu sendiri. Kata Kunci : Petrokimia Putra, Gresik, Sepakbola
MUSIK DANGDUT RHOMA IRAMA SEBAGAI MEDIA KRITIK POLITIK PADA ORDE BARU TAHUN 1977-1983 UMAM, KHOTIBUL
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Musik dangdut telah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan pada masyarakat Indonesia. Music dangdut memberikan nuansa dan instrument pada khalayak umum serta wadah sebagai pelarian dari segala masalah kehidupan dan media masyarakat mengutarakan aspirasi dan kritik terhadap apapun yang berkenaan tentang kemanusiaan, sosial dan segala macam norma. Rhoma Irama sebagai raja dangdut dan pencetus dangdut modern telah memberi pembelajaran pada masyarakat serta member hiburan disertai dengan kritik sosial khususnya pada masa orde baru presiden Soeharto tentang segala kebijakan dan politik yang sedang menyimpang.Dari latar belakang tersebut, maka rumusan masa penelitian ini adalah 1). mengetahui Latar belakang lagu dangdut Rhoma Irama yang bertema kritik politik pada masa orde baru tahun 1977-1983.2). mendeskripsikan makna dan ciri khas lagu Rhoma Irama yang bertema kritik politik dan dampaknya pada masa orde baru tahun 1977-1983. Penelitian ini mengunakan metode sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi sebagai langkah-langkah untuk mengumpulkan dan mengkritisi serta menulis dengan ilmiah. Kata Kunci: Rhoma Irama. Dangdut dan Orde Baru.
KONFLIK PARTAI SAREKAT ISLAM DENGAN INDONESISCHE STUDIECLUB 1926-1930 DWI W, APRILIA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Partai Sarekat Islam (PSI) dan Indonesische Studieclub (ISC) adalah organisasi yang lahir pada masa perjuangan pergerakan Indonesia. PSI merupakan organisasi yang mempunyai sikap kooperasi, sedangkan ISC mempunyai sikap kooperasi insidentil. Kedua organisasi ini mempunyai tujuan yang sama yaitu berjuang untuk menciptakan kemerdekaan bangsa dari penjajahan bangsa Asing. Namun seiring berjalannya waktu karena perbedaan sikap dari kedua organisasi ini, PSI dan ISC mengalami konflik. Permasalahan yang diteliti adalah mengenai latar belakang terjadinya konflik antara PSI dan ISC, jalannya konflik serta solusi dan dampak dari konflik yang terjadi.Penulisan skripsi ini menggunakan metode sejarah dengan langkah-langkah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh dari sumber-sumber sejaman dan penelitian terdahulu berdasarkan rumusan masalah. Kemudian data tersebut diklasifikasikan. Data yang sesuai dengan permasalan diolah dengan penafsiran berdasarkan fakta-fakta sejarah, kemudian dilakukan penulisan sesuai permasalahan. Dari penggunaan metode sejarah tersebut diperoleh hasil, antara lain konflik antara PSI dan ISC dipicu oleh pernyataan Dr. Soetomo yang dimuat dalam De Indische Courant pada 15 Desember 1926 tentang sikapnya yang menurut PSI lebih condong ke arah kooperasi. Upaya-upaya perdamaian dengan mempertemukan kedua belah pihak yang berkonflik, serta masuknya PSI dan ISC dalam PPPKI. Sampai akhirnya konflik antara PSI dan ISC perlahan-lahan mulai mencair seiring berjalannya waktu. Kata Kunci: Partai Sarekat Islam, Indonesische Studieclub, kooperasi, non kooperasi.
PERGESERAN PELABUHAN GRESIK DARI BANDAR DAGANG KE PELABUHAN LOKAL TAHUN 1484-1830 ARI HIDAYAT, FIRMAN
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Gresik merupakan pelabuhan klasik yang pernah mengalami kejayaan dan kemunduran. kejayaan Pelabuhan Gresik dimulai ketika muncul kerajaan lokal di Gresik yaitu kerajaan Giri Kedaton. Sedangkan kemunduran Pelabuhan Gresik mulai terasa ketika memasuki abad XIX diawali dengan kemunduran VOC sehingga wilayah Nusantara dikuasai oleh pemerintah Belanda, pada tahun 1924 pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan tentang pelabuhan umum, dalam kebijakan tersebut pelabuhan Gresik tidak termasuk dalam pelabuhan umum akibat beberapa faktor, sehingga pelabuhan Gresik tidak bisa melakukan kegiatan ekspor dan impor. Kata kunci : Pelabuhan Gresik, Bandar Dagang, Pelabuhan Lokal
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MODERN DI YOGYAKARTA MASA KOLONIAL BELANDA PADA TAHUN 1900-1942 LATIFA, UMI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terjadinya pengaruh Barat ke Indonesia khususnya di Yogyakarta telah membawa pengaruh terhadap Yogyakarta terutama bidang pendidikan secara langsung telah menjadi pendorong berkembangnya pendidikan ala Barat di Yogyakarta pada tahun 1900-1942. Oleh karena itu, pentingnya menjelaskan latar belakang, perkembangan serta dampak pendidikan Barat di Yogyakarta pada tahun 1900-1942. Metode penelitian yang digunakan terdiri dari heuristik, verifikasi atau kritik, interpretasi/penafsiran, dan historiografi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa latar belakang berdirinya pendidikan modern ala kolonial belanda demi kepentingan perusahaan merupakan bentuk strategi pemerintah Belanda dalam menyelenggarakan perkebunan, pertanian, pertambangan. Dikarenakan pemerintah Belanda memerlukan tenaga-tenaga bumiputera yang sanggup mengabdikan dirinya kepada kepentingan perusahaan dan bisa berbahasa Belanda. Sekolah-sekolah model barat tersebut diantaranya yaitu Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Eerste Inlandsche School (EIS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Vervolg (Sekolah Kejuruan), Algemeene Middelbare School (AMS), Hogere Burger School (HBS), Schakelschool dan Holland Inlandse Kweekschool (HIK). Sekolah-sekolah tersebut sebagai contoh sekolah model barat yang berada di Yogyakarta. Setelah lama Pemerintah Kolonial Belanda menguasai sistem pendidikan di Indonesia, khususnya Yogyakarta di abad ke-19. Hal tersebut mendorong tokoh-tokoh politik, cendekiawan, dan pemuda di Yogyakarta berkumpul mengilhami untuk membangun sebuah lembaga perguruan tinggi milik Bangsa Indonesia. Berdirinya Universitas Gadjah Mada merupakan usaha menandingi kota-kota Kolonial, seperti Jakarta yang memiliki Geneeskundige Hage School (GHS) yang didirikan pada tahun 1927, Rechts Hage School (RHS) yang didirikan pada tahun 1924, Faculteit der Latteren pada tahun 1940 dan Landbouw Hage School pada tahun 1941. Kata Kunci: Pendidikan Modern, Masa Kolonial, Hollandsch School.
KAJIAN ARSITEKTUR DAN FUNGSI CANDI KENDALISADA DI SITUS GUNUNG PENANGGUNGAN NURWAHYU SHOKHEH MUHAMMAD, ALVIN
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki berbagai macam peninggalan kebudayaan yang memebentang dari ujung barat hingga ujung timur. Letak Indonesia yang berada di jalur pegunungan sirkum pasifik dan sirkum mediterania mengakibatkan banyak terdapat gunung api. Sejak masa pra aksara kebudayaan megalitik telah menunjukkan akan penghormatan terhadap nenek moyang yang diwujudkan dengan menguburkannya atau melakukan pemujaan di tempat tinggi. Begitu juga pada masa Hindu- Budha yang menempatkan gunung sebagai tempat suci bersemayamnya para dewa.Gunung Penanggungan yang dikenal dengan Pawitra telah menarik perhatian para peneliti dengan sebaran temuan yang begitu banyak. Bangunan punden berundak pada Gunung Penanggungan memiliki struktur yang hampir sama namun mempunyai ragam hias serta fungsi yang berbeda. Candi Kendalisada merupakan sebuah objek yang menarik untuk dibahas. Penelitian ini memfokuskan pada dua permasalahan yaitu,1) Bagaimana ciri khas arsitektur candi Kendalisada; 2) Apakah fungsi dari Candi Kendalisada; 3). Ragam Hias Candi Kendalisada. Penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari 1) Heuristik melalui studi kepustakaan,dan observasi; 2) Kritik sejarah, 3) Intepretasi; dan 4) Historiografi.Berdasarkan pengamatan perkembangan keagamaan masa akhir Majapahit terjadi kemunduran pengaruh agama Hindu. Memunculkan kembali kepercayaan lama yakni pemujaan terhadap nenek moyang. Mandala- mandala di gunung yang tumbuh memberikan suatu pengaruh yang besar terhadap corak keagamaan masa itu. Bangunan punden berundak di Penanggungan merupakan sebuah perwujudan dari konsep pemujaan nenek moyang serta menjadi tempat pertapa. Candi Kendalisada bagaikan sebuah titik pusat mandala yang menjadi akhir dari sebuah perjalanan suci.Kata Kunci: Candi Kendalisada, arsitektur
PEMBUBARAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI TERPIMPIN EKA PRATIWI, SAPTI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demokrasi Terpimpin merupakan pemikiran Presiden Soekarno yang dianggap dapat mengatasi segala kemelut yang di akibatkan oleh sistem multipartai di Indonesia. Banyaknya partai politik yang saling menjatuhkan dalam kabinet menjadikan pemerintahan tidak stabil dan menghambat terlaksananya program kabinet. Perpecahan yang terjadi di dalam pemerintahan karena sistem multipartai ini bahkan lebih parah dari konflik ras dan keagamaan. Sehingga pembubaran partai adalah agenda utama dalam menjalankan demokrasi terpimpin.Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut: 1) Bagaimana situasi politik di Indonesia pada masa demokrasi terpimpin, 2) Mengapa setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1960 terjadi pembubaran partai, 3) Apa dampak pembubaran partai bagi kehidupan politik di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan situasi politik di Indonesia pada masa demokrasi terpimpin, untuk menganalisis hubungan Dekrit Presiden 5 Juli 1960 dengan pembubaran partai, dan untuk menganalisis dampak pembubaran partai bagi kehidupan politik di Indonesia.Penelitian sejarah ini menggunakan metode penelitian sejarah meliputi heuristik, kritik, interpretasi hingga historiografi. Penelitian sejarah yang benar tidak terlepas dari proses heuristik yakni penelusuran sumber. Penelusuran sumber primer seperti Perundang-undangan antara lain PP No.6 Tahun 1960, Kepres No.200 tahun 1960, Penpres N0.7 tahun 1960 dan sumber pemberitaan media cetak sezaman dari surat-surat kabar Bintang Timoer, Abadi, Pikiran Rakjat, Nasional dan Sket masa pada tahun 1959-1966. Penelusuran sumber sekunder berupa buku-buku refrensi yang terkait dengan pembubaran partai politik Masyumi dan PSI pada masa demokrasi terpimpin.Berdasarkan sumber yang di dapat penelitian ini mendapatkan hasil sebagai berikut. 1) Situasi politik mengalami kemacetan akibat sistem multipartai yang menyebabkan sering jatuhnya kabinet, terjadi perbedaan ideologi antara presiden yang pro PKI dengan Partai Masyumi dan PSI, terjadi kesenjangan ekonomi antara pusat dan daerah yang menyebabkan peristiwa PRRI 2) Kekuasaan presiden semakin besar sejak dikeluarkanya Dekrit 5 Juli 1960 sebagai awal demokrasi terpimpin, presiden membubarkan Partai Masyumi dan PSI yang tidak setuju dengan konsep demokrasi terpimpin dan beberapa pemimpin terlibat dalam PRRI. 3) Dampak politik yang ditimbulkan dari pembubaran partai adalah adanya penyimpangan konstitusi yang dilakukan presiden saat membubarkan Masyumi dan PSI dan semakin kuatnya pengaruh PKI dalam pemerintahan, dampak ekonomi Indonesia mengalami devisit anggaran karena banyaknya pengeluaran untuk menumpas anggota PRRI bersamaan dengan Indonesia keluar dari PBB, sehingga Indonesia tidak mendapat bantuan investor dan IMF, serta akhirnya pimpinan Masyumi dan PSI yang terlibat PRRI ditangkap dan pemimpin yang tidak terlibat juga dipenjara. Kata Kunci : Demokrasi Terpimpin, Pembubaran Partai, Partai Masyumi, Partai Sosialis Indonesia (PSI)
PENGARUH SUMBER BELAJAR (LEARNING RESOURCES BY DESIGN DAN LEARNING RESOURCES BY UTILIZATION) TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS X IPS DI SMA NEGERI 2 MOJOKERTO MEIRISTIYA, VIVIN
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan acuan untuk mempelajari sesuatu hal dan mendapatkan hasil yang baik setelah mempelajari hal tersebut. Hal ini menyatakan pentingnya pemakaian sumber belajar dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sumber belajar tersebut, dapat ditentukan oleh guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar.Dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan rata-rata prestasi belajar siswa dengan menggunakan sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dan sumber belajar yang mudah tersedia (learning resources by utilization). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sebenarnya (true experimental design), dengan tujuan mencari perbandingan rata-rata prestasi belajar dua kelas yang telah diberikan perlakukan berbeda yakni, kelompok kelas kontrol dengan menggunakan sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) dan kelompok kelas eksperimen menggunakan sumber belajar yang mudah tersedia (learning resources by utilization).Hasil penelitian menunjukkan pemakaian sumber belajar yang dirancang (learning resources by design,) dapat memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebesar 51% sedangkan, pemakaian sumber belajar yang mudah tersedia (learning resources by utilization) memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar sisiwa sebesar 66%. Selain itu, terdapat perbedaan rata-rata prestasi belajar siswa antara kelompok kelas kontrol dan kelompok kelas eksperimen. Hal ini ditunjukkan oleh hasil uji independent sample t-test yakni, 0,000 yang nilainya lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 sehingga, dapat disimpulkan bahwa sumber belajar yang mudah tersedia (learning resources by utilization) berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Perbedaan tersebut dapat terjadi sebab, penggunaan sumber belajar dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan penggunaan sumber belajar yang mudah tersedia (learning by utilization) siswa dapat mempelajari materi secara kontekstual, serta dapat mengamati dan berinteraksi secara langsung terhadap apa yang telah dipelajari. Kata kunci: Sumber Belajar, Prestasi Belajar Siswa.

Page 11 of 46 | Total Record : 456