cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Avatara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
E-Journal AVATARA terbit sebanyak tiga kali dalam satu tahun, dengan menyesuaikan jadwal Yudisium Universitas Negeri Surabaya. E-Jounal AVATARA diprioritaskan untuk mengunggah karya ilmiah Mahasiswa sebagai syarat mengikuti Yudisium. Jurnal Online Program Studi S-1 Pendidikan Sejarah - Fakultas Ilmu Sosial UNESA
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
PAGUYUBAN BATIK SEKAR NITIK KEMBANGSONGO, DESA TRIMULYO, BANTUL TAHUN 2000-2015 : TINJAUAN SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA SARASWATI, NIKEN
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kembangsongo merupakan salah satu pusat pengrajin batik tulis yang terletak di desa Trimulyo, kecamatan Jetis, kabupaten Bantul. Kembangsongo dikenal sebagai pusat batik dengan ciri khas motif nitik. Nitik merupakan motif yang terdiri dari unsur titik-titik besar dan kecil membentuk suatu pola geometris, bentuk-bentuk bunga, daun, sulur, dan garis-garis panjang. Perkembangan industri batik telah mengalami pasang surut khususnya industri lokal seperti yang ada di dusun Kembangsongo desa Trimulyo Bantul. Sampai saat ini pengrajin batik di Kembangsongo masih banyak dijumpai. Dalam usaha melestarikan batik tulis khas Kembangsongo dibentuklah sebuah paguyuban batik di Kembangsongo yang dikenal dengan nama Paguyuban Batik Sekar Nitik.Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam peneltian ini adalah : (1) Apa latar belakang pendirian paguyuban batik sekar nitik di dusun Kembangsongo?, (2) Bagaimana perkembangan seni kerajinan batik sekar nitik dari tahun 2000 – 2015?, (3) Bagaimana usaha Paguyuban Batik Sekar Nitik Kembagsongo dalam melestarikan seni kerajinan batik lokal? Metode yang digunakan dalam penelitian Paguyuban Batik Sekar Nitik Kembangsongo desa Trimulyo Bantul 2000 – 2015 dalam tinjauan sejarah dan perkembangannya adalah metode penelitian sejarah dengan empat tahapan, yaitu : (1) Heuristik (pengumpulan sumber), (2) kritik sumber, (3) interpretasi : analisis dan sintesis, (3) historiografi (penulisan).Berdasarkan hasil analisis terhadap data dan sumber yang telah didapatkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan yang terjadi selama tahun 2000-2015 pada batik tulis Kembangsongo dapat dilihat dalam dua periode. Sebelum terbentuknya paguyuban batik sekar nitik para pengrajin batik di Kembangsongo hanya menjadi buruh batik mentahan saja, setelah mereka melakukan proses pemalaman pada kain, selanjutnya mereka menjual kepada pengepul. Setelah paguyuban terbentuk pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki pengrajin batik semakin luas dan banyak pengrajin batik yang meningkat baik dari produksi, pemasaran, pendapatan serta para pengrajin batik semakin inovatif dalam memenuhi kebutuhan pasar. Permasalahan yang dihadapi oleh paguyuban sampai saat ini adalah dalam hal pemasaran, para pengelolah maupun anggota belum memaksimalkan fasilitas yang telah ada untuk mengembangkan pemasaran produk hasil paguyuban. Kata Kunci: Batik Sekar Nitik, Paguyuban, Kembangsongo
MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA DI INDONESIA (1946-1955) SYUKRIYAH, LAILATUS
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NU yang dikenal sebagai organisasi sosial keagamaan yang bersifat tradisional, pada masa awal kelahirannya hanya beranggotakan kaum laki-laki. Pada perkembangannya, tepatnya 20 tahun setelah didirikan tahun 1946, NU memiliki bagian perempuan yang saat ini dikenal dengan nama Muslimat NU. Muslimat NU sebagai organisasi perempuan NU yang pertama merupakan bentuk kebangkitan perempuan NU saat itu, meskipun berada di bawah tradisi NU dengan budaya patriarkinya, para perempuan bangkit dan mengeluarkan gagasan mengenai perlunya perempuan berorganisasi. Kajian ini difokuskan pada proses historis lahirnya Muslimat NU dan pergerakan Muslimat NU pada rentang waktu 1946-1955 M.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi dalam upaya memahami persoalan secara lebih objektif. Penulis berupaya mengungkapkan proses lahirnya Muslimat NU berdasarkan situasi sosial yang terjadi, mengungkap pergerakan Muslimat NU setelah berdirinya, dan juga menjelaskan keikutsertaan Muslimat NU dalam pemilu pertama pada tahun 1955. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode histori yang meliputi empat tahap yaitu: pengumpulan sumber (heuristik), pengujian sumber (Verifikasi), analisis (interpretasi), dan penulisan (historiografi).Penelitian ini menyimpulkan bahwa lahirnya Muslimat NU, saat itu bernama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) yang merupakan sebuah kebangkitan perempuan NU, yang dilatarbelakangi oleh situasi sosial saat itu. Pernyataan ini didasarkan pada kegigihan para perempuan NU yang memerlukan waktu cukup lama dalam upaya membentuk wadah bagi mereka. Upaya untuk membentuk wadah bagi perempuan NU telah ditandai dengan hadirnya Ny. Djunaisih dan Ny. Siti Syarah yang merintis berdirinya Muslimat NU dengan mengeluarkan gagasannya di forum resmi NU, yakni pada acara Muktamar NU ke-13 di Menes. Peranan Muslimat semakin maju, pada Muktamar NU tahun 1950, sudah terdapat siding kombinasi yang melibatkan Syriyah, Tanfidziyah dan Muslimat selain menyelenggarakan siding-sidang sendiri. Salah satu kegiatan Muslimat NU adalah bidang pendidikan. Ini merupakan lahan yang sejak pertama kali Muslimat didirikan mendapat perhatian penting karena pembangunan material tidak akan sukses jika tidak diiringi pembangunan spiritual. Muslimat NU mengintensifkan pendidikan bagi kaum perempuan sehingga dapat memperkuat dan membantu pekerjaan NU dalam menegakkan dan melestarikan ajaran Islam. Muslimat ikut dalam membantu mensukseskan Paartai NU dalam pemilu tahun 1955. Muslimat bertugas dibagian kewanitaan NU dengan melakukan konsolidasi ke seluruh Indonesia. Melalui da’wa Islam kemudian didalamnya disisipkan kalimat yang isinya mendukung suara NU dalam pemilu tahun 1955. Kata kunci : Perempuan Nahdlatul Ulama, Muslimat NU
PENGARUH PERSEPSI SISWA TENTANG KURIKULUM 2013 TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI IPSDI SMA NEGERI WONOAYU CAHYANI, KIKI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam sistem pendidikan kurikulum sering dijadikan sebagai pusat penggerak komponen pendidikan lainnya. Guru adalah tenaga kependidikan utama yang mengembangkan ide dan rancangan kurikulum menjadi proses pembelajaran. Pemahaman tentang kurikulum yang telah dirancang oleh pemerintah sangat penting dilakukan, karena jika salah dalam penafsiran akan dapat mempengaruhi keberhasilan dari komponen pendidikan lainnya. Dalam proses pembelajaran itu sendiri melibatkan guru dan siswa untuk saling berinteraksi satu sama lain. Hal ini berarti selain mempertimbangkan persepsi guru tentang kurikulum juga perlu mempertimbangkan persepsi siswa tentang kurikulum. Oleh karena siswa adalah obyek yang dikenai tindakan dari kurikulum yang diterapkan oleh guru.Persepsi sangat berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang terhadap objek yang diamati, sehingga nantinya akan bisa menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar. Ketika motivasi belajar siswa tinggi akan berdampak pula pada berkembangnya potensi siswa. Dalam artian motivasi disini akan berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi siswa.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah persepsi siswa tentang kurikulum 2013 dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, melalui persepsi guru terhadap kurikulum 2013 sebagai variabel intervening. Penelitian ini menggunakan metode ex post facto karena data persepsi siswa dan persepsi guru yang diteliti sudah terjadi selama sehari-hari ketika kegiatan belajar mengajar terjadi. Selain itu untuk memperoleh kedua data tersebut juga tidak perlu melakukan kontrol terhadap variabel bebas karena sudah terjadi secara alami. Sampel penelitian dipilih secara random sampling.Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh persepsi siswa tentang kurikulum 2013 terhadap prestasi belajar siswa melalui perantara variabel intervening yakni sebesar 79,2%. Hal ini ditunjukkan dari adanya hubungan secara bersama-sama antara variabel persepsi guru dan persepsi siswa tentang kurikulum 2013 dalam menjelaskan prestasi belajar siswa yakni sebesar 0,524. Hasil analisis ketiga variabel dilakukan melalui uji korelasi parsial dan regresi linier berganda. Kata Kunci: Kurikulum, Persepsi, Prestasi Belajar Siswa
KESULTANAN BIMA DI BAWAH PEMERINTAHAN SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN TAHUN 1917-1942 SAPUTRI, RENI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebelum kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin banyak masalah yang dihadapi oleh Sultan Ibrahim. Sultan Ibrahim dipaksa pemerintahan Belanda untuk menandatangani isi perjanjian kontrak panjang dan melakukan penarikan pajak secara paksa terhadap masyarakat Bima. Kekejaman Belanda itu membuat Sultan Muhammad Salahuddin bertekadbahwa nanti saat menjadi raja, akan membebaskan masyarakatnya dari kesengsaraan dan penderitaan selama ini. Sultan Muhammad Salahuddin merupakan Sultan ke-14 memimpin pada tahun 1917-1942. Sosok Sultan Muhammad Salahuddin adalah seorang pemimpin yang terus berusaha memajukan Kesultanan Bima. Sultan Muhammad Salahuddin di mata masyarakat adalah seorang pemimpin yang berjuang dan memperlakukan rakyat sama halnya dengan memperlakukan keluarga. Rumusan masalah penelitian ini yaitu 1) Bagaimana keadaan Kesultanan Bima sebelum kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin, 2) Bagaimana usaha Sultan Muhammad Salahuddin memajukan kesultanan Bima 1917-1942.Metode yang dilakukan adalah pengumpulan sumber-sumber sejarah melalui dua cara yaitu sumber primer diperoleh dari wawancara langsung dengan Keluarga Raja Bima, arsip-arsip, peninggalan Sultan Bima. Sumber sekunder didapat dari buku-buku, skripsi, dan jurnal online mengenai Sultan Muhammad Salahuddin melawan Penjajahan Belanda di Bima.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan Kesultanan Bima sebelum kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin melalui (a) Situasi ekonomi sosial budaya masyarakat masa sultan sebelumnya yaitu masa Sultan Ibrahim seadaannya memprihatinkan. Keadaan pertanian dan peternakan masyarakat Bima terbengkalai, penarikan pajak secarapaksa oleh Belanda. Sistem kepercayaan masayarakat Bima mayoritas Islam, sehingga pendidikan pesantren terbatas untuk kalangan tertentu saja; (b) Situasi politik adalah Sultan Ibrahim dipaksa mendatangani isi perjanjian kontrak panjang oleh Belanda dan sejak itu Kesultanan Bima sudah menjadi bagian dari wilayah pemerintahan Kolonial Belanda. Mulai saat itulah kekuasaan di tangan Belanda dan terjadi perang seperti 1) Perang Ngali; 2) Perang Dena; dan 3) Perang Kala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kesultanan di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin tahun 1917-1942 mengalami banyak kemajuan yaitu dilihat dari usaha Sultan Muhammad Salahuddin memajukan Bima melalui(a) Aspek pendidikan adalah mendirikan sekolah-sekolah umum dan sekolah agama. Tujuan mencerdaskan dan membuka kesadaran masyarakat pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka; (b) Aspek sosial adalah organisasi yang dirikan Sultan ataupun tidak, bertujuan untuk menambahkan nilai-nilai nasional dan semangat pada diri masyarakat untuk terusberjuang; (c) Aspek politik adalah melakukan pengusiran terhadap pemerintah Belanda dan menjadikan Bima lebih baik tanpa ada campur tangan bangsa lain terutama Belanda. Kata Kunci: Pemerintahan, Sultan Muhammad Salahuddin, Memajukan Bima.
KURIKULUM NASIONAL MATA PELAJARAN SEJARAH MASA ORDE BARU TAHUN 1968-1998 WINDI SAFITRI, RIA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Politik pendidikan selalu menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Pasalnya, keterkaitan antara pendidikan dan politik adalah sangat erat, bahkan selalu berhubungan sehingga dengan keadaan tersebut dapat kita ketahui bahwa politik negara sangat berperan menentukan arah perkembangan pendidikan di suatu negara. Seperti pada saat terjadi perubahan kekuasaan ke masa pemerintahan Orde Baru, maka kebijakan politik yang dirumuskan dalam GBHN juga mempengaruhi kebijakan pendidikan nasional. Hal ini terlihat pada kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan harus menyesuaikan dengan kebijakan politik tersebut. Akibatnya, terjadi perubahan kurikulum pendidikan nasional sampai empat kali tahun 1968, 1975, 1984 dan 1994 pada masa Orde Baru. Namun yang menarik adalah, kenyataan disetiap perubahan kurikulum nasional, mata pelajaran sejarah selalu menjadi mata pelajaran yang ditekankan karena fungsinya dalam membentuk nasionalisme dan kepribadian bangsa. Salah satunya yang mendapat reaksi dan polemik adalah mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pandangan yang jelas tentang adanya kontruksi hegemoni ideologi tertutup yang disembunyikan dalam kurikulum mata pelajaran sejarah. Selain itu, penelitian ini penting untuk membongkar praktek-praktek politisasi pendidikan sehingga pendidikan tidak pernah lepas dari kepentingan penguasa. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan gambaran yang relevan kaitannya dengan kurikulum mata pelajaran sejarah masa Orde Baru dan keterkaitannya dengan aspek politik Indonesia. Kata Kunci: Kurikulum Mata Pelajaran Sejarah, PSPB, Orde Baru, Hegemoni
SUIKERSYNDICAAT HINDIA BELANDA 1870 - 1941 DEWI MUTIARA, TRIESCA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 1870 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-undang Gula (Suiker Wet), yang mana kedua undang-undang tersebut dianggap sebagai tonggak awal dari sistem ekonomi liberal di Hindia Belanda. Kedua undang-undang tersebut membuat banyak pengusaha swasta asing terutama dari Eropa yang berdatangan di tanah Jawa untuk membangun usaha dalam bentuk agroindustri berupa perkebunan tebu dan pabrik gula. Setelah kedatangan para pengusaha tersebut maka terjadi kemajuan di sektor industri gula dan juga semakin berkembangnya ekonomi liberal. Pada tahun 1883 terjadi wabah penyakit sereh yang menyerang tanaman tebu, akibatnya para pengusaha merugi karena harga gula merosot dan kualitas gula menurun. Pada tahun 1894 Suikersyndicaat didirikan sebagai solusi untuk mengatasi krisis gula yang terjadi pada masa itu. Kata Kunci: ekonomi liberal, industri gula, suikersyndicaat.
PENGELOLAAN TANAH BAON DI BLITAR SELATAN TAHUN 2001-2006 HANIF RAHMAN, MAULANA
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah merupakan salah satu sektor penting yang dapat mendukung sistem perekonomian baik di bidang pertanian, industri dan lain sebagainya. Namun dalam mengelola tanah yang sudah ada terkadang menjadi suatu pertanyaan bagi masyarakat, yaitu siapa yang berhak mengelola tanah tersebut. Tanah yang dimaksudkan disini adalah tanah kosong yang jauh dari pemukiman masyarakat, dan biasanya berada di hutan. Sejak berdirinya PHBM tahun 2001 masyarakat Desa Gununggede menyebut sebagai Tanah Baon. Pada tahun 2001-2006 dan seterusnya Perum Perhutani mengijinkan MDH untuk ikut serta dalam mengelola Tanah Baon. Karena sebelum tahun 2001 masyarakat sekitar hutan tidak terlibat langsung dalam pengelolaan hutan.Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana latar belakang kebijakan pengelolaan Tanah Baon di Desa Gununggede Blitar Selatan sebelum Tahun 2001 ? (2) Bagaimana perkembangan pengelolaan Tanah Baon di Desa Gununggede Blitar Selatan tahun 2001-2006 ? (3) Bagaimana dampak dari pengelolaan Tanah Baon terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Desa Gununggede Blitar Selatan ?. Metode yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yaitu metode heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang pengelolaan Tanah Baon sebelum tahun 2001 adalah masyarakat tidak terlibat langsung dalam pengelolaan hutan, pada masa orde baru/reformasi seluruh hasil hutan dijadikan sebagai pemasukan kas negara, sering terjadi pencurian kayu dalam jumlah besar, keamanan hutan tidak terkendali, tidak ada kerjasama antara KPH Blitar dengan masyarakat melalui LMDH.Pengelolaan Tanah Baon dibagi menjadi dua periode, pertama tahun 2001-2004 yaitu MDH terlibat langsung dalam pengelolaan hutan, menggunakan sistem perhutanan sosial (PS),tidak ada bagi hasil panen kayu tegakan dari KPH Blitar kepada MDH, belum diterbitkan kartu anggota (KTA) oleh LMDH, sering terjadi konflik antar pesanggem, luas petak yang sudah direboisasi oleh KPH Blitar dan MDH yaitu 163,7 Ha. Periode kedua tahun 2005-2006 yaitu MDH mendapatkan bagi hasil tanaman tegakan dari KPH Blitar, sudah diterbitkan KTA dengan berdirinya LMDH tahun 2005, terdapat kerjasama antara masyarakat melalui LMDH dengan KPH Blitar, segala konflik mulai menurun dari pada tahun sebelumnya. Hasil panen dari Tanah Baon dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sekunder, primer, dan tersier. Kata Kunci: Tanah Baon, Pengelolaan, Masyarakat
PADEPOKAN SENI KIRUN DI MADIUN TAHUN 1985-2009 ANISA ULYA HANIFA, SITI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian adalah bentuk manifestasi hasil budaya yang digali dari jati diri bangsa Indonesia. Kesenian tradisional mengandung nilai-nilai budaya luhur yang harus dijaga dan dilestarikan. Upaya melestarikan dan mempertahankan seni budaya tradisional di Madiun dilakukan melalui sebuah organisasi sen. Padepokan Seni Kirun di Madiun adalah lembaga nonformal yang berfungsi sebagai media untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional.Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang dihasilkan, yakni: 1) Bagaimana sejarah dan perkembangan Padepokan Seni Kirun di Madiun tahun 1985-2009?; 2) Apa saja upaya yang dilakukan di Padepokan Seni Kirun dalam melestarikan budaya tradisional Jawa Timur di Madiun tahun 1985-2009?; 3) Bagaimana respon masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan Padepokan Seni Kirun di Madiun sejak tahun 1985?Melalui penelitian ini diharapkan dapat 1) memberi penenjelasan tentang sejarah dan perkembangan Padepokan Seni Kirun di Madiun Tahun 1985-2009; 2) dapat memberikan deskripsi tentang aktivitas yang dilakukan Padepokan Seni Kirun di Madiun sejak tahun 1985 sampai tahun 2009; dan 3) dapat menganalisis bagaimana respon pemerintah dan masyarakat terhadap adanya Padepokan Seni Kirun sejak tahun 1985.Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik sumber primer diperoleh dari koran sezaman dan metode wawancara. Berita sezaman diperoleh dari, Surabaya Pos, Jawa Pos, Radar Kediri, Radar Madiun, Kompas,dan Radar Lawu, sedangkan SK peresmian Padepokan Seni Kirun serta piagam dan foto-foto diperoleh dari arsip Padepokan Seni Kirun. Adapun sumber sekunder, yaitu buku tentang pelestarian dan jenis kesenian Jawa diperoleh dari perpustakaan. Tahap kedua adalah melakukan kritik terhadap sumber yang diperoleh untuk dilihat kebenarannya. Selanjutnya dilakukan interpretasi fakta-fakta yang diperoleh dari sumber, dan yang terakhir dilakukan historiografi. Fakta-fakta yang telah ditafsirkan kemudian dirangkai dan disajikan dalam tulisan yang kronologis.Padepokan Seni Kirun bertujuan untuk mengembangkan kesenian tradisional dan sumber daya budaya Madiun. Padepokan tersebut berdiri sejak tahun 1985 dan mengalami perkembangan pesat di era 90-an setelah tampil melalui TVRI Surabaya. Pada saat itu masyarakat mengenalnya dengan sebutan Kirun Cs. Penampilan Kirun Cs pernah menjadi program acara yang populer di masyarakat sepanjang tahun 90-an. Organisasi seni tersebut telah melaksanakan tiga hal penting dalam upaya melestarikan warisan budaya, yaitu 1) melindungi, dengan melakukan penetapan seni Dongkrek sebagai seni lokal Madiun; 2) mengembangkan seni tradisional Tari, Karawitan, Wayang, Ketoprak, Ludruk dengan melakukan pelatihan, seminar, dan inovasi baru; dan 3) memanfaatkan, yakni dengan menjadikan kegiatan seni selain sebagai wadah pelestarian juga sebagai sumber ekonomi dan sarana pendidikan.Padepokan Seni Kirun memberikan dampak positif dan banyak manfaat. Berbagai pertunjukan yang dilakukan tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sumber ekonomi dan pendidikan. Keberadaan Padepokan Seni Kirun mendapat apresiasi positif dari masyarakat dan pemerintah daerah. Respon positif masyarakat diperlihatkan dalam antusias serta keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan seni. Pemerintah daerah juga menunjukkan apresiasi positif melalui beberapa penghargaan dan kerjasama kepada Padepokan Seni Kirun. Kata Kunci: Padepokan Seni Kirun, pelestarian, budaya tradisional
PERANAN MAJALAH PANJEBAR SEMANGAT DALAM SOSIALISASI KEBIJAKAN PROGRAM KB PEMERINTAH ORBA DI SURABAYA TAHUN 1970-1978 FITRIYA, FIDAH
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintahan Orde Baru adalah suatu penataan kembali seluruh aspek kehidupan bangsa dan negara. Salah satu kebijakannya adalah pemerintah mulai serius melaksanakan program KB yang menjadi bagian dari rencana panjang 25 tahun pembangunan nasional sejak 1968/1969. Soeharto sebagai pemimpin masa Orde Baru memanfaatkan berbagai media yang ada untuk menebarkan kebijakan-kebijakannya. Media massa dianggap ampuh dalam memberitakan program pemerintah, karena dapat menjangkau seluruh kota di Indonesia. Pengendalian laju pertumbuhan penduduk di wilayah Surabaya didukung oleh media massa lokal Panjebar Semangat. Demi melancarkan pembangunan nasional, majalah Panjebar Semangat menerbitkan publikasi berkaitan dengan KB hampir disetiap edisinya mulai Februari 1970-Desember 1978.Studi ini membahas, (1) Bagaimana bentuk sosialisasi program KB pemerintah Orba di Surabaya dalam majalah Panjebar Semangat tahun 1970-1978?; dan (2) Bagaimana dampak sosialisasi dalam majalah Panjebar Semangat terhadap program KB pemerintah Orba di Surabaya tahun 1970-1978?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yang memiliki empat tahapan kerja: Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Sumber utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu majalah Panjebar Semangat tahun 1970-1978 dan KB di Surabaya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran majalah Panjebar Semangat dalam proses sosialisasi tampak dalam artikel dan slogan-slogan yang disajikan dari edisi Februari 1970 sampai Desember 1978 dapat membuat masyarakat Surabaya mengambil intisari serta memahami sajian informasi yang mendidik. Isi pesan yang mendukung proses sosialisasi tersebut antara lain, seperti kesadaran akan pentingnya pembatasan kelahiran yang tidak hanya sebatas sebagai salah satu cara dalam pengendalian laju pertumbuhan penduduk Indonesia saja, tetapi juga kesadaran pentingnya masalah kesehatan, kesejahteraan sosial, dan lain-lain yang akan mempengaruhi kehidupan manusia.Sosialisasi KB di majalah Panjebar Semangat membawa dampak bagi masyarakat Surabaya. Dampak jangka pendek yang ditimbulkan dari adanya sosialisasi KB di majalah Panjebar Semangat adalah masyarakat mendapatkan informasi dan pengetahuan KB secara luas. Selain itu, dapat merubah pola pikir masyarakat Surabaya dalam membentuk pandangan terhadap bagaimana standar hidup layak yang diberlakukan oleh pemerintah Orba, sehingga menimbulkan peningkatan jumlah pengguna KB baru. Dampak jangka panjang yang ditimbulkan dari adanya sosialisasi KB di majalah Panjebar Semangat adalah menurunnya tingkat kelahiran bayi di Surabaya Utara sebanyak 125 bayi dan 37 bayi di Surabaya Selatan pada tahun 1974 dan 1977 sebagai dampak dari meningkatnya jumlah akseptor KB di Surabaya. Majalah Panjebar Semangat juga ikut berpartisipasi dalam pengendalian jumlah penduduk Surabaya tahun 1970-1978 dengan rata-rata peningkatan sebesar 51.081 orang per tahun. Kata Kunci: Majalah Panjebar Semangat, KB di Surabaya
PERANAN BIOSKOP DI SURABAYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KOTA SURABAYA TAHUN 1968-1987 SETIAWAN, ATHAZIRI
Avatara Vol 4, No 3 (2016): Vol 4 Nomer 3 (Oktober 2016)
Publisher : Jur. Pendidikan Sejarah FIS UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada awal tahun 1980-an bioskop di Surabaya merambah luas, banyak pengusaha bioskop yang mulai berfikir lebih untuk meraih keuntungan dengan menambah kursi penonton serta fasilitas lainnya. Akhir tahun 1983 usaha perbioskopan di Surabaya cukup signifikan, peminatnya banyak. Semakin berkembangnya bioskop dan film-film sangat variatif. Pemerintah Indonesia mulai memperbarui kebijakan mengenai perbioskopan mulai dari perijinan mendirikan bioskop, Harga Tanda Masuk dan Pajak Tontonan. Hal tersebut membawa dampak yang positif bagi pemerintah Kota Surabaya khususnya pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Surabaya. Pemerintah kota Surabaya terus memperbarui kebijakan mengenai perbioskopan yang meliputi perijinan mendirikan bioskop, Harga Tanda Masuk dan pajak tontonan atau dengan kata lain pemerintah meningkatkan Harga Tanda Masuk dan pajak tontonan yang harus dibayar oleh setiap pengusaha bioskop yang berada di Surabaya.Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah adalah (1) Bagaimana perkembangan bioskop di Surabaya pada tahun 1968-1987? (2) Bagaimanakah pengaruh bioskop di Surabaya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya 1968-1987? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah meliputi (1) Heuristik, pengumpulan data berupa artikel majalah, koran, buku penunjang, jurnal dan wawancara yang berkaitan dengan bioskop dan PAD Surabaya; (2) Kritik terhadap beberapa sumber primer dan sekunder yang sudah terkumpul; (3) Interpretasi data tentang peranan bioskop terhadap pendapatan asli daerah di Surabaya dengan hasil penelusuran sumber yang telah diperoleh; dan (4) Historiografi sesuai dengan tema yang dipilih yaitu peranan bioskop di Surabaya terhadap pendapatan asli daerah kota Surabaya tahun 1968-1987.Hasil penelitian tentang peranan bioskop terhadap pendapatan asli daerah kota Surabaya terbukti bahwa film dan bioskop di awal kehadirannya dianggap sebagai ikonografi modernitas dunia hiburan perkotaan. Ketika awal kedatangannya bioskop di Surabaya menempati urutan pertama dalam segi hiburan di kota Surabaya. Pada tahun 1968-1987 sarana hiburan berupa bioskop di Surabaya mulai terbentuk. Pada kurun waktu tersebut merupakan tahun dunia perbioskopan tanah air mengalami kemajuan yang cukup pesat. Pengusaha-pengusaha bioskop bisa bergabung dalam sebuah lembaga yaitu Gabungan Pengusaha Bioskop Surabaya (GPBS). Terbukti juga disetiap peningkatan penerimaan pajak tontonan selalu diikuti oleh peningkatan Pendapatan Asli Daerah, yang didukung dengan penerimaan pajak tontonan yang selalu di atas target, dan kedudukan penerimaan daerah dalam sub sektor pendapatan asli daerah kotamadya Surabaya selalu menempati urutan pertama. Upaya yang dilakukan pemerintah kota Surabaya dalam meningkatkan pajak tontonan adalah (1) penyempurnaan sistem pungutan yang telah ada; (2) Menambah fasilitas gedung yang ada hingga nantinya akan mampu menarik minat masyarakat untuk menonton film pada gedung tersebut; (3) Memutar film yang baik mutunya dan banyak digemari masyarakat; (4) Memberi potongan harga pada para pelajar dan mahasiswa. Dan (5) Menambah jam pemutaran film tentunya atas seijin yang bersangkutan. Kata Kunci: Pendapatan Asli Daerah, Bioskop, Surabaya.

Page 8 of 46 | Total Record : 456