cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
SPEECH INTERPRETATION THROUGH SPEECH STYLE USED BY THE EXCHANGE STUDENTS IN SURABAYA MEGA PURNAMASARI, NIMAS
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Interpretasi bahasa adalah cara untuk dapat menilai karakter dan sifat seseorang hanya dengan mendengar bagaimana cara mereka berbicara. Media untuk menginterpretasi bahasa adalah dengan menggunakan gaya bahasa. Hal ini merujuk pada pemahaman bahwa gaya bahasa dianggap sebagai karakter bicara yang hanya dimiliki oleh pembicara tertentu, diutarakan kepada lawan bicara tertentu dan juga didalam situasi tertentu. Faktanya, kaum muda cenderung membuat gaya bahasa menjadi lebih menarik karena kaum muda cenderung lebih mudah dalam menilai cara berbicara seseorang. Melalui riset ini, gaya bahasa tidak hanya dianalisis dari jenisnya saja, namun juga menguak arti dibalik gaya bahasa tersebut dan juga alasan-alasannya. Responden riset ini adalah enam orang pemuda pertukaran pelajar yang berasal dari negara berkebudayaan barat termasuk pemuda yang berasal dari Amerika, Brazil, Rusia dan India. Mereka semua adalah pemuda berusia 18 hingga 27 tahun. Metode kualitatif digunakan, mengingat data yang didapat bukan data angka maupun data statistic melainkan kata dan ujaran.  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan juga wawancara. Rincian ujaran-ujaran yang diberikan oleh para responden dan analisis alasan dibalik interpretasi bahasa mereka juga disertakan. Interpretasi bahasa mereka didasarkan pada pengalaman, latar belakang, ketertarikan dan kecenderungan. Lebih dari itu, temuan bahwa gaya bahasa, sebagai media untuk menginterpretasi bahasa dapat pula dijadikan sebagai media untuk membangun citra diri sebagai alat untuk memperdaya. Kemudian, hubungan antara fitur bahasa, lawan bicara dan juga situasi saling berkaitan dalam proses interpetasi bahasa. .Tidak kalah pentingnya, kesetaraan dalam interpretasi bahasa juga dianalisis dalam riset ini. Kata Kunci: gaya bahasa, interpretasi bahasa, fitur bahasa.   Abstract Speech interpretation is the way of people interpret someone’s speech in order to give the judgment of personality or character just by hearing the way people is talking. The media to interpret speech is by using the speech style. This is due to the circumstances that speech style is considered as the way of speaking or characteristic that belongs to particular person spoken in particular interlocutor and situation. In fact, youth tend to make it more interesting because youth tend to be judgmental in interprets someone’s way of speaking. Through this study, the speech style will not be only analyzed into its type but also discover the meaning beyond speech style and also the reasons behind it. Participants of this study are six exchange students from western culture countries including American, Brazilian, Russian, and Indian. They are all youth in the age of 18-27. This study used qualitative method as the data is neither numerical nor statistical but primarily about word and utterances. Data collection technique used in this thesis is by using interview and observation. This study has broken down the speech style delivered by the participants to analyze the reason behind the interpretation. Their speech interpretation is based on the previous experience, background, interests and preference. Moreover, the finding of speech style, as the media of interpreting someone’s speech can make self imagery as the tools of deceiving. Then, the finding of some relations between the amounts of features of talk, interlocutor and situation are linked to each other as the process of interpreting speech. Last but not least, the equality of interpretation was also analyzed. Keywords: speech style, speech interpretation, features of talk    
AN ANALYSIS OF PRESUPPOSITION USED IN FIFT SHADES OF GREY BY E.L JAMES GIANTIKA CHANDRA, DHONI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study is a descriptive qualitative study where it is designed to describe the case of the study by words or sentences rather than numbers. The object of the study is presuppositions which is found in Fifty Shades of Grey Novel and the existence of the complication of presupposition’s interpretation in the utterances and the cause. The reason why the writer use presupposition on Fifty Shades of Grey novel as the main object of this study is to find out the types of presupposition, the intended meaning of presupposition and the function of presupposition that are used in the Fifty Shades of Grey novel. From data collected, the writer found 31 presuppositions and the most dominant type of presupposition that used is factive presupposition, it is shown from the data that there are 13 factive presupposition and 3 presuppositions for counter factual presupposition and there are 9 lexical presuppositions from data and 4 data for existential presupposition. In this study, the writer also try to describe the function or the significance of presupposition to find the meaning of utterances which expressed by the author to the reader. The most common of presupposition function which the writer found in this novel was as a tool for the author to share information and express their feeling through presupposition, it is because they need to deliver information that the writer believe the reader already known the intended meaning. Keywords: pragmatic, presuppositions, utterances, communication Abstrak Penelitianinimerupakanpenelitiandeskriptifkualitatif di manaiadirancanguntukmenggambarkankasusstudioleh kata-kata ataukalimatdaripadaangka. Objekpenelitianiniadalahpresuposisi yang ditemukandalam Fifty Shades of Grey Novel danadanyakomplikasiinterpretasipresuposisidalamucapan-ucapandanpenyebabnya. Alasanmengapapenulismenggunakanpengandaian di Fifty Shades of Grey novel sebagaiobjekutamadaripenelitianiniadalahuntukmengetahuijenispresuposisi, arti yang diinginkandaripresuposisidanfungsipresuposisi yang digunakandalam Fifty Shades of Grey novel. Dari data yang dikumpulkan, penulismenemukan 31 presuposisidanjenis yang paling dominandaripresuposisi yang digunakanpadaFift Shades of Greyadalahanggapanfaktif, terlihatdari data yang ada 13 presuposisifaktifdan 3 presuposisiuntuk counter faktualdanada 9 presuposisileksikaldari data dan 4 data untukpresuposisieksistensial. Dalampenelitianini, penulisjugamencobauntukmenggambarkanfungsiatausignifikansipresuposisiuntukmenemukanmaknadariucapan-ucapan yang diungkapkanolehpenuliskepadapembaca. Yang paling umumdarifungsipresuposisi yang penulisditemukandalam novel iniadalahsebagaialatdaripenulisuntukberbagiinformasidanmengekspresikanperasaanmerekamelaluipresuposisi, itukarenamerekaharusmemberikaninformasi yang penulispercayapembacasudahmengetahuimakna yang dimaksud. Kata kunci: pragmatis, presuposisi, ucapan, komunikasi
CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF THE HEADLINE NEWS IN THE GUARDIAN AND THE DAILY TELEGRAPH RACHMA MARDHYARINI, MAQVIRA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat banyak macam surat kabar di Inggris, hampir setiap surat kabar tersebut mendukung sebuah partai tertentu, seperti halnya The Guardian dan The Daily Telegraph. Ketika masa kampanye untuk pemilihan umum di bulan Mei 2015, terdapat sebuah isu yang menghebohkan dan tersebar di seluruh penjuru negara. The Guardian dan The Daily Telegraph menerbitkan berita mengenai isu tersebut namun dalam cara yang sangat berbeda. Hal demikian terjadi karena kedua surat kabar tersebut memiliki pandangan yang berbeda, yakni mendukung atau menentang seseorang yang di dalam isu. Kedua berita diinterpretasikan menggunakan tiga tingkatan konteks wacana: makro, meso, dan mikro. Sebuah isu yang dikaitkan dengan informasi di luar teks akan mejadi fokus utama dalam analisis di makro dan meso level. Pada mikro level, analisis melihat langsung pada penggunan bentuk-bentuk linguistik di dalam teks. The Guardian menuliskan hampir semua kalimat dalam bentu aktif, cenderung menamai orang-orang dalam teks secara individu, sering menambahkan frasa modifikasi sufiks, dan menuliskan kutipan-kutipan dalam bentuk langsung untuk mengungkap isu pada saat itu. The Daily Telegraph juga menuliskan kalimat-kalimat menggunakan bentuk aktif namun lebih sering menyebut nama ataupun sumber informasi secara kolektif. Hal tersebut terjadi karena The Daily Telegraph membutuhkan informasi ataupun fakta yang dapat membantu seseorang di dalam isu pada saat itu, meskipun sumber dari informasi tersebut tidak begitu jelas, informasi tersebut tetap disajikan. Untuk mengindari penulisan nama seseorang secara langsung untuk sumber informasi, The Daily Telegraph menuliskannya dalam bentuk grup. Surat kabar ini juga banyak menambahkan klausa modifikasi sufiks, dan menuliskan penyataan-pernyataan dalam bentuk kutipan tidak langsung untuk memperbaiki reputasi seseorang di dalam isu tersebut. Kata Kunci: Tiga Tingkatan Konteks Wacana (makro, meso, mikro), The Guardian, The Daily Telegraph   Abstract There are many kinds of newspaper in United Kingdom, those newspapers mostly have a party on their side, for examples are The Guardian and The Daily Telegraph. During the campaign period for general election on May 2015, there was a big issue spreaded around the country. The Guardian and The Daily Telegraph released the news related to that issue but in a total different way. It has come to this because those newspapers have a different view, whether they support or against the one in the issue. The two news are interpreted using three levels of discourse context: macro, meso, and micro. The latest issue which is combined with the  information outside the text is being the focus in macro and meso-level analysis. In micro-level, the analysis looks directly into the use of linguistic devices in news. The Guardian writes almost all the passages in active voice, tends to name the people individually, likes to add phrasal post-modifier, and puts the quotations in direct form to reveal the issue. Meanwhile, The Daily Telegraph also uses active voice but it tends to name the people or the source collectively. It has come to this because The Daily Telegraph needs to serve some information or facts to help the person on the issue so then they still provide the infromation eventhough the source is not clear enough, and for getting rid from writing the  name of the person or the source, The Daily Telegraph named them in group. This newspaper also likes to add clausal post-modifier to modify the noun, and writes the statements in indirect quotation to fix the reputation of the one in the issue.   Keywords: Three Levels of Discourse Context (macro, meso, micro), The Guardian, The Daily Telegraph   
STYLES OF LANGUAGE GENDER OF AUTISTIC AND NON-AUTISTIC CHILDREN SETIAWATI, LINDA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gender adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mengguanakan bahasa. Penelitian ini menganalisa tentang gaya bahasa dari laki-laki dan perempuan berdasarkan teori dari Holmes and Stubbe (2003) yang terjadi pada anak autis dan anak normal lainnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskripsi untuk menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan menggunakan gaya bahasa yang sama di situasi yang berbeda. Melalui tes dan pengamatan sederhana terhadap pembicaraan antara anak autis dan normal, penelitian ini menunjukkan bagaimana kebiasaan mempengaruhi bahasa dan gender di kehidupan modern. Kata Kunci: bahasa perempuan, bahasa laki-laki, kebiasaan, autis   Abstract Gender is one factor which influences someone in the different usage of language. This research analyzed the styles of feminine and masculine language as the claim of Holmes and Stubbe (2003) which happened to the autistic and non-autistic children.The study applied the descriptive qualitative as the method in order to show that females and males shared same styles of feminine and masculine language in the different situation. Through the simple test and the observation of the autistic’s and non-autistic’s recorded conversation, the research presents new finding how the behaviorism affects the language and gender in the modern life. Keywords: feminine language, masculine language, behaviorism, autism spectrum disorder  
RIDICULE IN MEME OF 9GAG: MULTIMODALITY PERSPECTIVES KOSA, NADIYAH
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Meme adalah aktivitas mimikri terhadap suatu objek berbentuk gambar dan teks yang terdapat pada gambar tersebut dapat diubah sesuai dengan konteks sehingga menghasilkan arti yang berbeda. Salah satu situs yang menampilkan meme adalah 9gag.Terdapat beberapa fakor yang membuat tertarik unuk membuat meme.Salah satu tujuan dari membuat meme adalah mengekspresikan ide.Penelitian ini juga bertujuan untuk meneliti bagaimana ridicule yang ada di 9gag memberikan peranan dalam kehidupan sosial. Peran yang dimaksud berhubungan dengan kemahiran dalam berkomunikasi. Kemahiran dalam berkomunikasi dapat terlihat dengan meneliti cara tiap individu berinteraksi dengan sesama dan bagaimana tiap individu mengungkapkan pendapat mereka mengenai suatu objek atau individu. Dalam hal ini, ridicule digunakan untuk berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. Terdapat lima belas data yang berbentuk meme dengan tujuan ridiculeditemukan dalam penelitian ini. Data tersebut kemudian dianalisa berdasarkan teori Multimodality. Teori multimodality menjelaskan terdapat empat jenis mode yaitu teks, gambar, warna, dan mimik wajah. Untuk menganalisa mode teks,, teori yang digunakan adalah internal dan eksternal faktor dari Attardo. Dari penelitian disimpulkan bahwa semua mode muncul dalam data dan berkontribusi terbentuknya gambaran ridiculepada meme di 9gag. Gambar mode menampilkan gambaran mengenai mimik wajah dan warna kemudian diikuti barisan kata yang mengikuti gambar sebagai dasar sehingga keduanya menghasilkan ridicule. Pada penelitian ini  diketahui pula bahwa ridicule berpengaruh dalam kehidupan dan memiliki peranan dalam kehidupan sosial. Peranan tersebut berdampak akan munculnya kegagalan dalam berkomunikasi dan Satir (gaya humor yang bersifat menyindir). Kata Kunci:Multimodality, humor, ridicule, meme.      Abstract Meme is the activity of doing mimicry from the picture source and change the verbal text in the picture to produce various meanings. One of the sites which provide meme is 9gag. There are many reasons why people start to make meme. One of the purposes of people making meme is to ridicule. Here, this study focused on how the ridicule depicted in meme. This study aims to analyze the depiction of ridicule and to analyze how is ridicule in meme of 9gag plays roles in human society. The role in this case is dealing with the communication skills. The communication skills can be how to communicate with each other and how to express the idea of someone or object. Communication is essential in the daily activity of social life which is why it is essential to have ridicule in social life because ridicule is used to communicate and to express the idea. This study used fifteen data in the form of meme, which can be categorized as ridicule. The data are analyzed according to the pattern which picture portrayed then relating the picture with the text. To analyze the data, this study focuses on the multimodality theory. Multimodality theory explained four types of modes. They are writing, image, color, and facial expression. Since, the idea of each meme is on the line, then it is essential to analyze deeper in line or writing concept. Thus, the internal and external factors by Attardo are used to analyze the writing concept since the theory is generally for verbal text. In conclusion, this study has found that all of the modes shared the contribution towards the depiction of ridicule. The picture as base then followed by lines as writing modes then depicting the ridicule. This study also found that ridicule is affecting the social life or in other hand it can be said that ridicule plays role in social life. The role contributes communication failure and satire as effect. Keywords:English, humor, ridicule, and meme.
THE USE OF AAVE BY MAIDS IN THE MOVIE “THE HELP” FITRIADI, ANGGAH
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satudialekdariBahasaInggrisadalahdialek orang Afrika-Amerika.Dialekinidigunakanoleh orang-orang keturunanAfrika-Amerika. Definisidialeksendiriadalahbahasa yang belum di standarisasidanjugatidakmemiliki status resmi. BahasadialekinggrisAfrika-Amerikamemilikibeberapanamaatausebutanantara lain: Negro dialect, Nonstandard Negro English, Negro English, American Negro Speech, Black Communication, Black Dialect, Black Folk Speech, Black Street Speech, Black English, Black English Vernacular, Black Vernacular English, Afro American English, African American English (AAE), and African American Language. bahasadialekiniberbedadenganStandartBahasaInggrisAmerikadalamfonologi, tatabahasadankosakatanya. Dalampenelitianini, penelitibertujuanuntukmendeskripsikanpenggunaan AAVE olehpelayanwanitakulithitam di Amerikatepatnya di Jakson, Mississippi. diskripsinyameliputidari (1) apasajafiturdari AAVE yang digunakanolehpelayanwanita di film The Help; (2) bagaimanapenggunaanfiturdari AAVE olehpelayanwanita di film The Help dan (3) bagaimanadampakpenggunaanfiturdari AAVE dalamjalanceritadalam film The Help.     Penelitianinimenggunakanmetodedeskriptifkualitatifdenganmenggunakanteorifitur AAVE karya Lisa J. Green (2002).Pengumpulan data dilakukandengancaramendokumentasiucapan-ucapan yang dilontarkanolehempatpelayanwanita di film “The Help”. Dokumentasi data dilakukanmelaluibeberapa proses yaknimelihat film, mendengarkan dialog, menulis data, mengelompokkan data, pemberiancatatankhusus, danpengecekkan data ulanglalu data yang sudahterkumpulakandianalisamelaluitahappemahaman dialog, analisadanpengelompokkan data berdasarkanfiturnyadanmenjelaskan alas an daripenemuantersebut.     Berdasarkandarihasilanalisis, penelitimenemukanbeberapafiturdari AAVE yang dilakukanolehpelayanwanitadalam film The Help. Fitur AAVE dalamfonologi yang ditemukanpada data antara lain pergantianing/in, pergantian ask/aks, penghapusanbunyi /r/ dan /l/, pengurangankonsonanakhirtunggal, penguranganakhirkonsonandalamkluster, monoftong, perubahanbunyi /th/ menjadi /d/ atau /t/, pengurangansuku kata pertama, sedangkanfitur AAVE dalamtatabahasa yang ditemukandalamtutur kata pelayanwanitaantara lain tidakadanya kata kerjapenghubung, tidakadanya kata kerja bantu, peraturansubjek-kata kerjatidakberlaku, tidakmengubahkebentuk possessive, tidakmengubah kata kerjabentuk kata kerjauntuk orang ketigatunggal, inversi kata kerjadan verb di kalimattanyadankompletif done. Namun, hanyaditemukanduakategoridarifitur AAVE dalamkosa kata yang dilakukanolehpelayanwanitaantara lain penandalisan be danlogat. Fitur-fiturtersebutdiatasdigunakanolehparapelayanwanitauntukberkomunikasidenganlawanbicarabaikkepada orang kulitputihdanjuga orang kulithitam. Usia, etnisitasatauras, dan status social hamper samasekalitidakmempengaruhimerekadalammenggunakanfitur AAVE di setiaptutur kata mereka. Tetapi, penelitianinimenemukanbahwasanyapendidikandapatmempengaruhidalampenggunaanbahasakhususnya SAE dan AAVE yang digunakanolehpembicara.     Secarasingkat, ucapan0ucapan yang dilontarkanolehkarakterpelayanwanita di dalam film “The Help” hampirsemuanyamengikutiaturan-aturan AAVE dibandingkan SAE. Bagaimanapunjuga, halinitidakberartibahwapelayanwanita di film inihanyamenggunakan AAVE dalampercakapansehari-harimereka. Dalambeberapakasus yang di temukandalam study inimenunjukkanbahwapelayanwanitaterkadangmenggunakanBahasaInggris yang sudah di standartkanketikaberkomunikasidengan yang lain khususnyadengan orang-orang kulitputih. Kata Kunci: bahasaInggris, AAVE, keturunanAfrika-Amerika, Film   Abstract African American Vernacular English is a vernacular English spoken by African Americans. Vernacular itself refers to a language which has not been standardised and which doesn not have anofficial status. African American Vernacular English has other names or terms. Those terms are negro dialect, Nonstandard Negro English, Negro English, American Negro Speech, Black Communication, Black Dialect, Black Folk Speech, Black Street Speech, Black English, Black English Vernacular, Black Vernacular English, Afro American English, African American English (AAE), and African American Language. This vernacular is different from SAE (Standard American English) in its phonology, grammar and lexical. In his study, the researcher aimed to describe the use of AAVE in Blacks’ utterances in the movie “The Help”. “The Help” is a movie which tells about the life of Blacks in America specifically Jackson, Mississippi. The description consists of (1) what AAVE features used by maids in the movie The Help; and (2) how the maids apply the features of AAVE in the movie The Help.     The study used descriptive qualitative method using the AAVE features theory conducted by Lisa J. Green (2002). The data is collected by documenting the utterances of the 4 maids in the movie “The Help” through several processes include watching the movie, listening the dialogue, transcribing the data, classifying the data, note taking, and cross-checking the data and then the collected data is analyzed through the process of understanding the dialogue, Analyzing, classifying and calculating the data based on its class and explaining the reason of the finding.     The results shows that this study has found some AAVE features used by maids in the movie. AAVE features in Phonology, they are ing/in alternation, ask/aks alternation, /r/ and /l/ deletion, single final consonant reduction, final consonant reduction in cluster, monophthong, initial /th/ changing as /d/ or /t/, reduction of first syllable. While the AAVE features in Grammar which found in the data are absence of copula, absence of auxiliary verb, subject-verb non-agreement, unmarked third person singular verb, existential dem, multiple negation, the use of ain’t, unmarked possessive, inversion of subject-verb in question and completive done. However, there are only two categories of AAVE features in lexical used by maids. They are verbal marker be and Slang. Those features are used by maids to communicate towards both Whites and Blacks. Age levels, Ethnicity and social status almost does not have a role in the application of the features in maids’ utterances. However, this study finds that education effects on the way language specifically SAE and AAVE used by the speaker.     In brief, the utterances of maids characters in the movie “The Help” are mostly follows the rule of AAVE instead SAE. However, it does not mean that maids only use AAVE in their daily activity. In some cases show that maids sometimes use standardized English when communicates with others specifically toward whites. Keywords:English, AAVE, African-Americans, Movie
FLOUTING MAXIMS IN CONVERSATIONAL IMPLICATURE IN THE ELLEN DEGENERES TALK SHOW MONICA LESTARI, YANTHI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 1 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Secara teori di dalam percakapan setiap orang harus mematuhi prinsip kerjasama.Hal itu harus dilaksanakan agar penutur dan tindak tutur memahami maksud dari percakapan tersebut. Menurut  Grice (1975), buatlah kontribusi percakapanan sesuai dengan yang diperlukan pada tahap terjadinya kontribusi itu, berdasarkan tujuan atau arah yang  diterima dalam pertukaran percakapan yang anda lakukan. Pendekatan deskriptif kualitatif di gunakan oleh penulis untuk menjawab masalah yang ada di data. Subjek penelitian ini adalah percakapan yang ada di Ellen DeGeneres talk show. Penulis tertarik untuk membahas tipe implikatur percakapan, pelanggaran maksim dan tujuan dari pelanggaran maksim tersebut. Hasil dari penelitian ini berupa deskripsi wujud dan tujuan penyimpangan prinsip kerjasama dalam acara Ellen Degeneres  show. Tipe implikatur yang diperoleh meliputi tipe Implikatur standart dan tipe implikatur khusus.  Hasil penelitian menunjukan bahwa semua jenis maksim dilanggar oleh peserta. Dari analisa yang telah dilakukan, penulis menemukan hanya ada dua maksim yang di langgar di tipe implikatur standar yaitu maksim kualitas dan maksim kuantitas dan hanya ada dua maksim hyang dilanggar di tipe implikatur khusus yaitu maksim relasi dan maksim cara. Berdasarkan hasil dari data tersebut terdapat empat fungsi yaitu bertujuan untuk mengalihkan, memberikan informasi, memberikan penjelasan dan manghibur. Alasan terbanyak dari pelanggaran maksim adalah bertujuan untuk memberi penjelasan agar menghindari kesalahpahaman dan penonton mendapat penjelasan yang jelas adalah efek yang paling dominan.  Kata Kunci :Implikatur, PrinsipKerjasama, Maksim, Fungsi, Talk Show Abstract Theoretically, there is one principle that must be taken into account when people have a conversation. It is so to ensure that the speakers and the speech acts can be comprehended well. Grice (1975) suggested that people make a speech contribution which is related to the stage of occurrence of that contribution based on the objectives of the conversation. The researcher used descriptive qualitative research to answer the formulated research questions. The research subjects are the conversations of Ellen DeGeneres Talk Show. The researcher is interested in discussing the type conversational implicatures, the flouting of maxims, and the function of the flouting. The results of this research show are in the forms of description of the embodiment and the objectives of the flouting of cooperative principles in Ellen DeGeneres Show. There are two types of implicatures found; they are Generalized conversational implicature and particularized conversational implicature. The results show that every type of maxim is violated by the participants. Based on the analysis, the researcher found that there are only two maxims which are flouted in Generalized conversational implicature those are Quantity and Quality and there are only two maxims which are flouted in Particularized conversational implicature those are maxim relevance and maxim manner. Based on the data, it can be stated that there are four functions of flouting the maxim; they are changing the subject, giving information, explaning and entertaining. The major cause of the flouting of maxim is to provide explanation in order to avoid misunderstanding; the most dominant effect is that the audience should get an obvious explanation. Key words: Implicatures, Cooperative Principle, Maxim, Functions, Talk Show
BILL PORTER’S SPEECH STYLE IN DOOR TO DOOR MOVIE: SOCIOLINGUISTICS PERSPECTIVE WULANDARI, YENNI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kesuksesan dalam penjualan produk ditentukan oleh kesuksesan individual dalam berkomunikasi. Pelanggan bisa memberikan respon baik atau buruk berdasarkan gaya bahasa dan kejelasan ucapan yang disampaikan oleh seorang salesman. Penelitian ini menganalisis gaya bahasa seorang salesman yang mengidap penyakit cerebral palsy karena banyak orang yang meremehkan kemampuannya dalam hal berkomunikasi. Penelitian ini menggunakan teori milik Joos (1967), Hymes (1974), dan Maassen & Povel (1985) untuk menjawab rumusan masalah berdasarkan pandangan sosiolinguistik. Deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana orang yang mengidap penyakit cerebral palsy membentuk gaya bahasa mereka dan faktor yang mempengaruhi mereka menggunakan gaya bahasa tertentu dalam berkomunikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kejelasan ucapan orang yang mengidap cerebral palsy menurun jika kalimat yang diucapkan semakin panjang. Hal itu di sebabkan penyakit cerebral palsy mempengaruhi sistem gerak otot disekitar mulut saat orang yang mengidap penyakit cerebral palsy memproduksi suatu ucapan. Sehingga, penderita lebih banyak menggunakan gaya bahasa casual untuk menciptakan komunikasi yang baik dengan lawan bicara.  Kata Kunci:gaya bahasa, film Door to Door, salesman, cerebral palsy, Sosiolinguistik Perspektif   Abstract Successful selling depends on successful interpersonal communication. Positive or negative response from the customer to the salesman depends on the use of speech style and the intelligibility of the utterances. This study analyses the speech style of door to door salesman who has cerebral palsy in Door to Door movie. This is due to the fact that many people underestimate the ability of cerebral palsy person especially in communication. Joos (1967), Hymes (1974), and Maassen & Povel (1985) theories are employed to analyse research questions in this study, based on sociolinguistics perspective. Descriptive-qualitative is applied in this study to describe the way how cerebral palsy person constructs his speech style and the factors trigger him to use certain type of speech style in conversation. This study found that the intelligibility of cerebral palsy person decreased when utterance length increased. It is because cerebral palsy affects muscle control around the mouth when he produces the utterance. The result confirms that casual style is the most style used by cerebral palsy person to build up successful communication with the interlocutor. Keywords: speech style, Door to Door Movie, salesman, cerebral palsy, Sociolinguistics perspective  
INTERCULTURAL NONVERBAL COMMUNICATION AMONG PLAYERS OF MANCHESTER UNITED FOOTBALL CLUB IN ENGLAND KUMALA B, PRAMESTI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Permasalahan sederhana yang terjadi di sepak bola Liga Inggris adalah mengenai bahasa yang digunakan  oleh pemain lokal Inggris dan luar Inggris. Sebuah klub seperti Manchester United yang memiliki hampir setengah persentase dari keseluruhan skuad tentu mengalami permasalahan seperti ini. Beberapa pemain luar Inggris tidak familiar dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara verbal akan menyebabkan bahasa sebagai penghalang di dalam tim. Komunikasi nonverbal antar budaya adalah media untuk sekelompok individu dengan bermacam kewarganegaraan dan penghalang bahasa dalam situasi tertentu. Dalam proses tersebut melibatkan bahasa tubuh yang dimengerti secara semi-universal oleh anggota kelompok. Highlight pertandingan dari musim 2012/2013 hingga musim 2015/2016 adalah fokus utama dalam studi ini. Dokumentasi menjadi instrumen dalam studi ini, sedangkan metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengalisis data. Hasil dari studi menunjukkan bagaimana pemain membangun komunikasi di dalam lapangan. Sumber data adalah screenshot yang diambil dari video highlight pertandingan maupun individual diunduh dari Youtube dan alamat web klub. Kata Kunci: komunikasi antar budaya, komunikasi dalam lapangan, Manchester United.   Abstract A cliché complication in English Premier League football is about languages which are used by English and non-English players. A club like Manchester United which possess nearly half percentage of non-English players in the whole squad certainly have this problem. Several non-English players are not quite familiar in communicating verbally in English. It surely emerges language barrier among the players. Intercultural nonverbal communication is a medium for a group of individuals with assorted nationalities and language barrier to communicate in particular circumstances. Match highlights from season 2012/2013 until 2015/2016 are the main focus in this study. Documentation is the instrument for this study. It applies descriptive qualitative method in analysing the data. The results of the study show how players build up their communication whilst playing with nonverbal behaviours. Keywords: Intercultural communication, on-the-pitch communication, Manchester United.
CONVERSATIONAL IMPLICATURE AS THE REPRESENTATIVE OF THATCHER-INTERLOCUTORS RELATIONSHIP IN IRON LADY MOVIE SELA ARDINE, LYDIA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikatur percakapan yang digunakan oleh Margaret Thatcher berdasarkan hubungan Thatcher dengan lawan bicaranya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Thatcehr menyampaikan implikatur percakapan dan bagaiman dia membentuk implikatur melalui hubungan solidaritas yang terjalin antara dia dan lawan bicara. Subjek dari penelitian adalah Margaret Thatcher sebagai karakter utama dalam film Iron Lady. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari ucapan Thatcher yang diklasifikasikan berdasarkan teori milik Grice (1975) tentang implikatur dan teori milik Holmes (1992) tentang social distance. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Thatcher menyampaikan implikatur menggunakan violating maksim dari kuantitas karena dia ingin membuat knotribusi ucapannya tidak spesifik. Dia juga menggunakan maksim dari kualitas untuk menunjukan kontribusi ucapannya agar terlihat salah.  Selain itu, maksim dari relavansi digunakan untuk menunjukan bahwa Thatcher ingin membuat kontribusi ucapannya tiodak relevan, dan di juga melakukan violate maksim cara untuk menunjukan eskspresi yang tidak jelas. Penelitian ini juga menunjukan bahwa partisipan dalam percakapan menetukan jenis implikatur yang akan digunakan. Generalized implicature adalah tipe yang paling banyak digunakan oleh Thatcher ketika dia berbicara dengan orang-orang yang tidak dekat karena tidak membutuhkan pengetahuan khusus antara partisipan, sedangkan particularized implicature banyak di ucapkan oleh Thatcher untuk menyampaikannya kepada orang-orang terdekat karena tipe ini membutuhkan pengetahuan khusus yang harus diketahui oleh partisipan yang mengindikasikan bahwa hubungan mereka terjalin dekat satu sama lain. Kata kunci: ucapan, sistem kerjasama,film Iron Lady, implikatur percakapan. Abstract The aim of this study is to analyze conversational implicature that are used by Margaret Thatcher through Thatcher-interlocutors relationship. The questions are about how she delivered her conversational implicature, and  how she generated her implicature through high solidarity and low-solidarity relationship among them. The subject of this study is Margaret Thatcher as the main character in movie: IRON LADY. The data  are taken in Thatcher’s utterances that are classified by Grice’s theory of implicature, and Holmes’s theory of social distance. The method of this study is qualitative approach.As the results, it is found that the ways she delivered her implicature are violating maxim quantity since she wanted to make her contribution is not specific, she violated maxim of quality in order to make her contribution be false, then violated maxim of relevance since she wanted to make her contribution is not relevant , and violated  maxim of manner since she wanted to make an obscurity of expression. It is also found that the use of types of her implicature depends on the participants. Generalized implicature is mostly used by Thatcher when she tlked with low-solidarity people since it does not need any specific knowledge, while particularized implicature is mostly used when she talked with high solidarity people since it needs specific context that indicates the participants in conversation are connected each other. keywords: utterance, cooperative principle, Iron Lady’s movie, conversational implicature

Page 3 of 12 | Total Record : 115