cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
TRANSITIVITY AND IDEOLOGY IN EMMA WATSON’S SPEECH FOR THE HEFORSHE CAMPAIGN (CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS) MAHARANI HEMAS, SELA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini fokus terhadap analisis transitivitas dan ideologi dalam pidato Emma Watson untuk kampanye HeForShe dengan menggunakan kerangka teoritis analisis wacana kritis Fairclough. Sistem transitivitas yang dikemukakan oleh Halliday juga digunakan sebagai alat untuk menganalisis data linguistik yang telah diangkat oleh Faiclough dalam kerangka teoritis analisis wacana kritisnya. Hasil analisis menunjukan bahwa diantara enam tipe proses transitivitas yang disebutkan oleh Halliday, hanya terdapat lima proses yang digunakan oleh Emma Watson dalam pidatonya, yaitu proses material, proses mental, proses verbal, proses wujud, dan proses relasional. Proses relasional paling sering digunakan oleh Emma Watson untuk menggolongkan dan mendeskripsikan dirinya sebagai salah satu pejuang hak-hak wanita (feminists). Proses ini juga digunakan untuk menegaskan pandangannya terhadap feminisme, kesetaraan gender, dan persatuan. Emma Watson menginginkan masyarakat untuk memiliki pandangan yang lebih tepat terhadap feminisme dan gerakan pejuang hak-hak wanita bahwa hal-hal tersebut bukan tentang membenci kaum pria, namun untuk memperjuangkan hak-hak wanita dan sebagai usaha untuk mencapai kesetaraan gender. Berbicara mengenai keinginan besarnya untuk mencapai kesetaraan gender, dia juga menekankan dalam pidatonya bahwa ketidaksetaraan gender adalah sebuah masalah yang serius yang harus dipecahkan, tidak hanya oleh kaum wanita, namum kaum pria juga sebagai kunci bagi kesuksesan mereka, sehingga gagasan mengenai persatuan juga digambarkan di sini. Untuk menyampaikan pandangannya dan mempengaruhi masyarakat sehingga memiliki pemikiran yang sama seperti dirinya, proses mental merupakan proses lain yang sering digunakan dalam pidatonya, disusul oleh proses material. Proses-proses tersebut digunakan untuk mendukung gagasan yang telah dinyatakan melalui proses relasional sehingga dia dapat meyakinkan masyarakat dan mendapat simpati mereka dengan menunjukan perasaan, pemikiran, keinginan, dan aksi-aksinya yang telah dilakukan sebagai bukti. Tipe-tipe lainnya yaitu proses verbal dan proses wujud jarang digunakan, sedangkan proses tingkah laku tidak ditemukan. Kata Kunci: pidato, wacana, analisis wacana kritis, transitivitas, ideologi Abstract This research focuses on the analysis of transitivity and ideology in Emma Watson’s speech for the HeForShe campaign by using Fairclough’s theoretical framework of critical discourse analysis. Transitivity system that is proposed by Halliday is also used as the tool to analyze the linguistic data which has been adopted by Fairclough in his critical discourse analysis framework. The results show that among six types of transitivity processes which are mentioned by Halliday, there are only five processes that are used by Emma Watson in her speech, those are; material process, mental process, verbal process, existential process, and relational process. Relational process is mostly used by Emma Watson in order to classify and describe herself as one of feminists. It is also used to define her views toward feminism, gender equality, and unity. Emma Watson wants people to have more correct views toward feminism and feminist movements that it is not about man-hating but to fight for women’s rights and as the effort to achieve gender equality. Talking about her big pretention to achieve gender equality, she also emphasizes in her speech that gender inequality is a serious problem that has to be solved, not only by women, but men’s supports are also as the key to their success, so that the idea of unity is also represented here. In order to deliver her views and to influence people to have similar thought as her, mental process is another type that is used mostly in her speech, followed by material process. Those processes are used to support the idea that she has stated through relational process so that she can convince people and get their sympathy by showing her emotion, thinking, inclination, and also any actions that have been done by her as proofs. The other types, which are verbal process and existential process are rarely used, while behavioral process is not found. Key words: speech, discourse, critical discourse analysis, transitivity, ideology
FLOUTING MAXIMS TO CREATE HUMOR IN MOVIE THIS MEANS WAR AGUSTINIA, MAULIDA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam studi pragmatik, adanya humor di dalam sebuah percakapan dapat disebabkan oleh pelanggaran pada maksim percakapan. Pelanggaran pada maksim percakapan ini akan berorientasi pada situasi yang komikal yang akan membuat sebuah percakapan menjadi lucu. Studi ini dilakukan untuk menemukan bagaimana melanggar maksim percakapan digunakan untuk menciptakan humor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa humor dalam film This Means War adalah hasil dari melanggar maksim percakapan. Penelitian ini mencari jenis maksim apa saja yang dilanggar dan mengeksplorasi bagaimana karakter melanggar maksim percakapan. Data penelitian ini diambil dari percakapan berisi humor diantara empat karakter utama dalam film yang dipilih Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menciptakan humor, karakter melanggar keempat maksim percakapan. Maksim kualitas adalah yang paling sering dilanggar untuk membuat percakapan humoris dan karakter menggunakan konsep retoris overstatement di sebagian besar pelanggaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan dan informasi tambahan dalam studi humor di bidang pragmatik untuk peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mempelajari humor. Kata Kunci: melanggar maksim, humor, implikatur, konsep retoris.   Abstract In pragmatics, the existence of humor in conversation can be compelled by flouting four conversational maxims. The flouting of the maxims will result in ludicrous situation that will make the conversation become humorous. This study involves discovering how flouting conversational maxims are used to create humorous conversation. The aim of this study is to show that the humors in comedy-romance movie This Means War are the result of flouting the maxims. This study examines the type of maxims flout in the movie and explores how the characters flout the maxims. The data of this study are taken from the humorous conversation withhold by four main characters in This Means War  movie. The results show that in delivering the humor characters flout four maxims of conversation. The maxim of quality is the most flouted maxim which is used to create humorous conversation and the characters use the rhetorical concept of overstatement in most of the flouting. This study is expected to provide an additional view and information in the study of humor in pragmatics for the next researchers who are interested in studying about humor Keywords:flouting maxims, humor, implicature, rhetorical concepts.
INDIRECT SPEECH ACTS OF THE MAIN CHARACTER OF THE FAULT IN OUR STARS MOVIE ROSYANA E, ELVA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tindak tutur tidak langsung adalah sebuah permasalahan umum dalam percakapan yang terkadang membingungkan atau membuat percakapan tersebut menjadi gagal apabila sebagai pendengar tidak dapat menangkap makna implisit dari apa yang diucapkan oleh penutur. Dengan mempertimbangkan ekspresi wajah, nada bicara, konteks, situasi percakapan, dan interpreatasi penelitian berikut mencoba menemukan makna implisit dari penutur dengan menggunakan media film The Fault in Our Stars. Pada penelitian ini, hanya tindak tutur tidak langsung oleh Hazel sebagai pemeran utama dalam film tersebut yang dijadikan subyek penelitian. Selain itu, penelitian ini juga meneliti susunan ujaran Hazel yang tergolong tindak tutur tidak langsung berdasarkan fungsi bicaranya. Dalam melaksanakan penelitian ini, metode deskriptif kualitatif dipilih karena data dari penelitian ini berupa percakapan yang mana membutuhkan interpretasi makna secara deskriptif. Dengan menggunakan media dan metode tersebut, penelitian berikut menemukan hasil yang dapat disimpulkan bahwa tindak tutur tidak langsung yang diucapkan oleh Hazel lebih banyak ia gunakan untuk tujuan kesopaman, dan untuk tujuan lainnya ia gunakan untuk memberikan kekuatan pada makasud yang ia sampaikan. Penelitian ini juga menemukan bahwa cara Hazel menyusun ujaran dalam bentuk tindak tutur tidak langsung berbeda dengan tujuan sebenarnya yang ia hendak maksudkan. Contohnya, ia menggunakan kalimat tanya untuk membuat pernyataan. Dari 16 data ujaran tindak tutur tidak langsung yang telah diteliti, ditemukan 11 diantaranya dimaksudkan untuk tujuan direktif, 2 lainnya dimaksudkan untuk ekspresif, dan 3 lainnya dimaksudkan untuk tujuan deklarasi, representatif, dan komisif. Kata Kunci: tindak tutur tidak langsung, makna implisit, struktur ujaran   Abstract Indirect speech act is one common issue in conversation that sometimes confusing or making the conversation failed if the hearer can not catch the intended meaning of what the speaker is said. By considering facial expression, tone of speaking, context, speech situation, and interpretation, this study attempted to find out the intended meaning of the speaker by using media The Fault in Our Stars movie. This study only analyzed Hazel’s indirect speech acts as the main character of the movie. Also, this study was attempted to find out the structure of Hazel’s indirect speech act based on the speech function. In conducting the study, descriptive qualitative method was used because it analyzed the data in the form of conversation that need to be interpreted the meanings descriptively. By using that media and method, the study presented finding that all of the Hazel’s indirect speech acts were mostly purposed for politeness, and for another purpose it is aimed for giving force of the message. This study also found that the way Hazel constructed her indirect speech act is different from the purpose she tried to convey. For example, she used interrogative sentence to function it for making statement. From 16 data of indirect speech act utterances that have been analyzed, it was found that 11 of those were functioned as directive, 2 others were expressive, and 3 others were declaration, representative, and commissive. Keywords: indirect speech act, intended meaning, structure of the utterance        
GESTURES AND FACIAL EXPRESSIONS USED IN “THE ELLEN SHOW” EKA PUTRI FEBRIANI, AGNESIA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dimana penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan kasus dari peneltian ini dengan kata-kata atau kalimat yang lebih banyak daripada angka-angka. Data akan ditampilkan dalam bentuk tabel dan cuplikan tertentu dari acara bincang-bincang “The Ellen Show”. Cuplikan-cuplikan tayangan tersebut akan dijelaskan berdasarkan referensi yang berhubungan dengan penelitian ini. Berdasarkan data analisis dan temuan-temuan dalam bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan bahwa ada enam belas gerak-isyarat yang sering digunakan oleh Ellen selama programnya. Gerak-isyarat tersebut adalah menggerakkan mata, kombinasi tangan dan mata, jabat tangan dan pelukan, senyum, menggosok telapak tangan, tangan di pinggul, menunjuk, kaki disilang, membuat tanda petik, kewilayahan, kepemilikan, mengacungkan jempol, menggosok mata, bertopang dagu, menyentuh hidung dan tangan yang membentuk menara. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, penulis boleh mengatakan bahwa gerak-isyarat dan ekspresi wajah yang digunakan oleh Ellen dalam acaranya dapat memfasilitasi pengetahuan kita untuk memahami apa yang Ellen maksudkan selama acaranya. Gerak-isyarat dan ekspresi wajah tersebut membantu Ellen untuk menyampaikan pesan yang dia coba sampaikan kepada tamu dan penontonnya. Mereka juga sesuai dengan kecerdasan Ellen, membuat acara bincang-bincang tersebut menjadi lebih menarik dan layak untuk ditunggu. Disamping itu, kita mampu mengidentifikasi makna sesungguhnya ketika dia mengekspresikan gerak-isyarat dan ekspresi wajahnya sesuai dengan teori Pease. Kata kunci: bahasa tubuh, gerak-isyarat, komunikasi, acara bincang-bincang.   Abstract   This study is a descriptive qualitative study where it is designed to describe the case of the study by words or sentences rather than numbers. Data will be served as in table and frame of scenes from a certain episodes during “The Ellen Show” talk show. Those scenes will be explained according to a certain references which are connected to this study. Based on the data analysis and findings in the previous chapter, the writer can conclude that there are sixteen gestures that are mostly used by Ellen during her show. Those gestures are eye rolling, combination hand and eye, handshake and hugging, smile, rubbing palm, hand on hip, hand pointing, crossed leg, apostrophe, territorial, ownership, thumb display, eye-rub, chin stroking, nose-touch and raised steeple. According to the findings above, the writer may say that gestures and facial expressions that are expressed by Ellen in her talk show can facilitate our understanding to undertsand what Ellen conveyed during the show. Those gestures and facial expressions help Ellen in delivering the meaning of what she tries to explain to her guests or audiences. They also fit to her intelligence, make the talk show becomes more interesting and worth waiting for. Beside, we can identify or reveal its meaning when she expresses her gestures and facial expressions according to Pease’s theory. Keywords: body language, gesture, communication, talk show
INACCURACY IN THE VERBAL HUMOR SUBTITLE OF F.R.I.E.N.D.S AMERICAN SERIES MUTIARA SYIFA, RIFKA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

abstrak
POLITENESS STRATEGIES EMPLOYED BY THE MAIN CHARACTER IN AMC’S TV SERIES: THE WALKING DEAD ARDIANTO, SEPTIAN
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kesopanan tidak hanya di terapkan oleh lebih dari dua individu yang berada di dalam situasi dimana terdapat jarak umur yang sangat jauh. Hal tersebut juga digunakan ketika salah satu individu ingin menyampaikan sesuatu yang spesifik. Pemeran utama di dalam TV seri The Walking Dead, Rick Grimes, sering menerapkan strategi kesopanan ini khususnya untuk bekerja sama dengan orang-orang yang ada di sekitarnya demi dapat bertahan dari para zombie dan semua bahaya yang harus dia hadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi manakah yang digunakan oleh pemeran utama terhadap lawan bicara di dalam situasi tertentu beserta dengan faktor-faktor social yang mempengaruhinya. Jurnal ini hanya akan berfokus di empat tipe dari strategi kesopanan yang di gunakan untuk mengklarifikasi seluruh data, strategi tersebut adalah off-record, bald-on-record, positif dan negatif. Season pertama dan kedua dari TV seri ini merupakan focus dalam jurnal ini. Dokumentasi merupakan instrumen dalam pengerjaan jurnal ini dan deskriptif kualitatif dipilih sebagai metode untuk menganalisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bagaimana pemeran utama menerapkan strategi-strategi tersebut di dalam film tersebut, selaras dengan faktor social yang mempengaruhi penggunaan strategi. Data yang ada diklasifikasikan sesuai dengan empat tipe dari strategi kesopanan, bald-on-record, off-record, positive dan negative politeness. Skirpsi ini menemukan bahwa dalam film ini, Positive politeness lebih sering digunakan daripada strategi yang lainnya, khususnya negative politeness. Kata Kunci: strategi kesopanan, The Walking Dead, faktor-faktor sosial Abstract Politeness is not only applied by more than two individuals whilst being situated in the circumstances where there is a large age gap. It is also used to imply when one individual means to deliver something specific. One main character in The Walking Dead TV series, Rick Grimes, frequently employed this politeness strategy to particularly work together with his surrounding in order to survive from the zombies and all the dangers he had to face. This study aims to discover which strategies are used by the main character toward the interlocutor in certain situation followed with the factors. This study only focused on four types of politeness strategy which are employed to verify the entire data, those are the off-record, bald-on-record, positive and negative strategies. The first and second season of this TV series are the main focus for this study. Documentation is the instrument of the study while descriptive qualitative is chosen as the method to analyse the data. The result of this study shows how the main character employed the strategies in the movie, as well as the social factors that influence the use of strategy. The data are classified based on the four types of the politeness strategy, bald-on-record, off-record, positive and negative politeness. This study has found out that in this movie, the positive politeness was used more often than any other strategies, especially the negative politeness. Keyword: politeness, The Walking Dead, Social Factors
PHONOLOGICAL ADAPTATION OF ENGLISH LOANWORDS TO INDONESIAN WORDS IN JAWA POS NEWSPAPER ZULDI IMAMAH, FIRDA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Adaptasi kata serapan adalah salah satu model studi dalam penelitian  sejarah linguistik. Dalam penelitiannya, penelitian ini menghubungkan antara kontak bahasa pada tingkat linguistik seperti fonologi dan morfologi yang masyarakat Indonesia terapkan. Dengan menerapkan analisis dalam bentuk perbandingan, muncul suatu pandangan tentang bagaimana proses adaptasi di level tersebut dan bagaimana kontak bahasa mempengaruhi proses itu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melakukan analisis dalam rangka unuk mengekspos hasil tujuan; (1) penggambaran adaptasi fonologis dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, (2) dampak dari afiksasi di kata-kata pinjaman dari bahasa Inggris. Penelitian ini mengambil kata pinjaman dari surat kabar Jawa Pos sebagai sumber data. Secara khusus, data yang diambil sebagian besar dari rubrik halaman judul, politk dan ekonomi. Muncul kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia telah mengatasi kendala sistem bahasa Inggris dengan melakukan proses adaptasi. Dalam adaptasi fonologi, Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengikuti ejaan dari kata pinjaman untuk pengucapannya. Tujuan kedua, ada dua dampak afiksasi yang diterapkan ada perubahan kelas kata dan fenomena morfofonemik pada awalan itu sendiri. Penelitian ini berpendapat bahwa adaptasi dari bahasa donator (Inggris) akan berhasil jika bahasa penerima (Indonesia) dapat mencapai tingkat kepuasan. Tingkat kepuasan mengacu pada keberhasilan sistem bahasa Indonesia agar sesuai dengan sistem bahasa Inggris. Tingkat kepuasan tergantung pada aspek yang ingin dicapai Indonesia. Kata Kunci: kontak bahasa, adaptasi, fonologi, kata serapan.   Abstract Loanwords adaptation is one of studies under historical linguistics research. In its execution, this study correlates language contact to linguistic level such as phonology and morphology. By applying comparative display, there comes a view of how process of adaptation in those levels and how language contact influences Indonesian linguistic system. This study used descriptive qualitative method to do the analysis in order to expose the result of aims which are; (1) the depiction of phonological adaptation from English to Indonesian, (2) the impact of affixation in loanwords from English. This study took loanwords from Jawa Pos newspaper as source of data. In specific, data were taken mostly from headline, politic and economy columns. There comes a finding that Indonesian language system has overcome the constraint of English language system by doing adaptation and transition process. In phonological adaptation, Indonesian has tendency to follow the spelling of loanwords to pronounce it. As the second aim, there are two impacts of affixation which is applied to loanwords; there is derivational affix since it changes part of speech of pertinent word, and there is morphophonemic phenomena on the prefix itself which based on certain condition of pertinent word too.This study argues that adaptation from donator language (English) is success if recipient language (Indonesian) can achieve the level of satisfaction. This refers to the successful of Indonesian language system to fit to English language system. Level of satisfaction depends on what linguistic system that Indonesian intend to achieve. Keywords:language contact, adaptation, phonology, loanword.
ENGLISH TERMS AS REGISTER USED BY ONLINE PROSTITUTION COMMUNITY IN CLOSED GROUPS OF SOCIAL MEDIA OCTAVIANI, ONI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Fenomena prostitusi online muncul karena adanya pengurangan praktik prostitusi di lokalisasi. Keberadaan komunitas prostitusi online di media sosial yang dilakukan secara tertutup membuat para anggota di dalam komunitas tersebut memiliki istilah - istilah khusus dalam berkomunikasi. Komunitas prostitusi online menggunakan beberapa istilah Bahasa Inggris sebagai bahasa variasi di dalam berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi istilah – istilah  Bahasa Inggris sebagai variasi bahasa, pembentukannya, dan fungsi variasi bahasa terhadap para anggota yang ada di dalam komunitas prostitusi online. Penelitian ini menggunakan deskripsi kualitatif berupa dokumentasi dan interview. Dalam pengumpulan data dokumentasi, penelitian ini mengambil transkrip dari status promosi pekerja sek online dan ulasan pelanggan di dalam grup tertutup prostitusi online di media sosial. Sementara itu, penelitian ini mengundang 7 narasumber yang merupakan anggota aktif di grup prostitusi online. Narasumber tersebut memiliki latar belakang sosial dan pendidikan yang berbeda. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa ada dua tipe variasi bahasa yang ada di dalam komunitas prostitusi online yaitu variasi bahasa yang berkaitan dengan status promosi dari pekerja sek online (menawarkan, menanggapi) dan variasi bahasa yang berkaitan dengan ulasan para pelanggan (menanyakan). Proses pembentukan variasi bahasa di penelitian ini melibatkan Clipping (EXE), Acronyms(WOT), Abbreviation(ST), dan process lain yaitu pernyataan ungkapan metafora (Angel). Dari data interview, ada tiga fungsi dari variasi bahasa di dalam grup prostitusi online tertutup di media sosial. Fungsi tersebut adalah fungsi variasi bahasa untuk menjaga identitas dan kerahasiaan, mencegah kata – kata tabu, dan untuk menunjukan harga diri. Sebanyak 5 partisipan di dalam interview menyatakan bahwa fungsi variasi bahasa di dalam prostitusi online adalah untuk mencegah penggunaan kata – kata tabu karena mereka menyadari bahwa prostitusi online adalah sebuah bisnis ilegal. partisipan yang lainnya menyatakan bahwa fungsi dari variasi bahasa adalah untuk menjaga identitas atau kerahasiaan dan untuk menunjukkan harga diri seseorang. Kata Kunci: Register, Prostitusi Online, Variasi Bahasa, Istilah Bahasa Inggris Abstract Online prostitution phenomena appears because of the decrease of prostitution practice in localization area. The existence of online prostitution community in social media that work secretly makes the community members have peculiar terms in their communication. The online prostitution online use several English terms as register in its interaction. This study want to identify the English terms as register, register construction process, and the function of register toward to the member of online prostitution community. The descriptive qualitative is the method of the study which employs the documentation and interview.In collecting the documentation data, it is taken from the promotion status’s transcript and customer’s review in online prostitution closed groups in social media. Meanwhile, the subject of interview in this study, invited 7 informants who are the active member in online prostitution group. The subjects have different social backround and education. The result of this study found that there are two types of register in online prostitution community; the register related to the promotion status of sex worker online (offering and responding) and the customer’s review (asking).The register construction process in this study involved the Clipping(EXE), Acronyms (WOT), Abbreviation (ST), and another process which is metaphorical expression (Angel). From the interview, the function register toward to the members in online prostitution community can be divided into three functions, those are; the function of keeping the identity and privacy, avoiding taboo words, and showing the prestige. the most register function in this study is avoiding taboo words. There are 5 participants stated that the function of register is avoiding the taboo words (register of service) because they realize that the online prostitution is illegal business. Then the rest participants stated that the function of using register is for keeping identity and showing prestige. Keyword: Register, Online Prostitution, Language Variation, English Terms
READER’S RESPONSE UPON 9GAG’S MEME BY LECTURERS IN ENGLISH DEPARTMENT NYSSA PUTRI, IFFATUR
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Humor adalah salah satu karya satra terkenal di dunia yang memeiliki cara yang unik untuk membuat orang tertawa. Karena tiap orang memiliki pemikiran yang berbeda tentang humor, tidak semua humor itu lucu bagi seseorang. Meskipun lelucon tersebut berisikan gambar yang lucu, terkadang pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis tidak dapat tersampaikan sepenuhnya kepada para pembaca. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sebuah meme dalam lingkup pemahaman pembaca dengan menggunakan teori penerimaan. Transkripsi interview dan respon dosen terhadap meme merupakan data dari penelitian ini, sedangkan dosen merupakan subjek penelitian. Disamping itu, peneliti merupakan instrumen dari penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Dengan menganalisis respon dan interpretasi para dosen, analisa dari penelitian ini menemukan bagaimana pembaca dapat mengerti ide dari meme yang mereka baca dan menemukan kelucuan dari meme tersebut. Hasil dari studi ini adalah respon yang diberikan oleh para dosen terdiri atas dua hal, yaitu penerimaan dan penolakan. Kata Kunci: humor, teori penerimaan, respon pembaca   Abstract Humor is one of famous literary works in the world which has a unique way to make people laugh. Since every person has different sense of humor, not every humor is funny for someone. Although the joke contains of a funny picture, the message from the author cannot be transferred fully to the reader. The aim of this study is to analyze a meme in the area of receptive skill by using the reception theory. Transcription of the interview and the lecturer’s response to the meme are the data and the lecturers are the subject of this study. Meanwhile, researcher is the instrument of this study. This study employs descriptive qualitative method. By analyzing the lecturers’ response and interpretation, the analysis of this study figured out how the readers can understand the idea of the meme and feel the sense of humor seeing the meme. The result of this study is the response of the lecturers towards the meme consists of acceptance and rejection. Keywords: humor, reception theory, reader’s response
POWERFUL AND POWERLESS SPEECHES AMONG STUDENTS IN ENGLISH SPEAKING COMMUNITY: TYPES OF SPEECH STYLES NOVITASARI, AJENG
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam proses berkomunikasi, karakter kepribadian dan gaya bahasa diklaim sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi penggunaan bahasa dalam komunikasi. Gaya bahasa “powerful” dan “powerless” merupakan pola unik yang bisa digunakan dalam menganalisa kemampuan berbicara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penggunaan gaya bahasa “powerful” dan “powerless” dalam proses komunikasi yang mengaplikasikan pelajar dengan kepribadian ekstrovert dan introvert sebagai subjek penelitian. Teori dari Eyesenk (1981) diaplikasikan untuk menjelaskan cara pelajar ekstrovert dan introvert menggunakan gaya bahasa “powerful” dan “powerless” dan teori dari Erickson (1978) digunakan untuk menggolongkan dan menentukan gaya bahasa yang mereka gunakan. Metode deskriptif kualitatif diaplikasikan untuk menjelaskan hasil dari penelitian ini. Penelitian ini menemukan bahwa pelajar introvert lebih cenderung menggunakan gaya bahasa “powerless karena ungkapan yang mereka ucapkan mengandung kalimat pengelakan, penekanan, dan keragu-raguan yang membuat ungkapan mereka kurang meyakinkan. Sedangkan ekstrovert cenderung menggunakan gaya bahasa “powerful” karena ungkapan yang mereka ucapkan tidak mengandung pengelakan, penekanan, dan keragu-raguan dan membuat pernyataan mereka kuat. Sehingga, ekstrovert dengan gaya bahasa “powerful” dinilai lebih sukses daripada introvert dengan gaya bahasa “powerless” dalam komunikasi. Kata Kunci:gaya bahasa, gaya bahasa “powerful” dan “powerless”, ekstrovert, introvert, Sociolinguistik   Abstract In communication process, personality trait and speech style are claimed to be the significant factors which affect the language use in communication. Powerful and powerless speech styles are uniqe patterns that can be used to analyse oral skill. This study is proposed to analyse the use of powerful and powerless speech styles in communication process which applies extrovert and introvert students in English Speaking Community as the subject of the study. The theory of Eyesenk (1981) is applied in this study to describe the way the extrovert and introvert students use the powerful and powerless speech styles and the theory from Erickson (1978) is applied to classify and determine the type of speech style they use. Descriptive-qualitative method is applied to explain the result of this study. This study found that introverts tend to use powerless speech style because the utterances they produce contain hedges, intensifiers and hesitations that make the speech has less power. While the extroverts tend to use powerful speech style because the utterances they produce do not contain hedges, intensifiers, and hesitation and make the statement has power. As a result, the extroverts with their powerful speech style are more successful than the introvert with the powerless speech style in communication. Keywords: speech style, powerful and powerless speech styles, extrovert and introvert, sociolinguistic

Page 4 of 12 | Total Record : 115