cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
DECLARATIVE UTTERANCES IN “FOUR FREEDOMS” SPEECH BY FRANKLIN DELANO ROOSEVELT SELIAWAN FAUZI, NANDANG
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berpidato adalah sebuah kegiatan yang umum dilakukan di bidang politik. Dalam pidato-pidato yang disampaikan, para politisi biasanya menyampaikan beberapa maksud tertentu yang ingin mereka katakan kepada masyarakat. Maksud-maksud tertentu tersebut terkadang tidak disampaikan secara langsung. Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-32, merupakan salah satu politisi yang memiliki maksud-maksud tertentu dalam pidatonya. Salah satu pidatonya yang terkenal adalah “Four Freedoms” atau “Empat Kebebasan” yang  disampaikannya pada awal tahun 1941. Dalam penelitian ini, teori tindak tutur digunakan untuk meneliti pidato tersebut. Obyek yang menjadi fokus utama dari penelitian ini adalah penggunaan tindak tutur dalam pidato “Four Freedoms”. Naskah dan berkas audio dari pidato ini diambil dari internet melalui aplikasi Android yang diunduh dari Google Apps. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa Franklin D. Roosevelt beberapa kali menggunakan tindak representatif dan direktif dalam pidato “Four Freedoms”.Tindak representatif dan direktif digunakan Roosevelt untuk menjelaskan dan mengarahkan rakyat Amerika Serikat untuk menyadari pentingnya keamanan nasional.   Kata Kunci: tindak tutur, tindak representatif, tindak direktif.   Abstract Delivering speech is a common activity in politics. In the speeches that they deliver, politicians usually have a number of intended meanings that they want to tell to the people. The intended meaning that they performed sometime were not stated directly. Franklin D. Roosevelt, the 32nd President of the United States of America, is one of the politicians that have intended meaning in his sentences. The well-known speech that he had ever delivered is “Four Freedoms” speech that is delivered in the beginning of 1941. In this study, the speech acts theory is used to analyze this speech. The object that becomes the main focus of this study is the use of speech acts in the “Four Freedoms” speech. The script and the audio file of the speech that become the instrument of this study were retrieved from the internet via Android application that was downloaded from Google Apps. The descriptive qualitative method is used in this study. The result of this study is that Franklin D. Roosevelt often used representative and directive acts in the “Four Freedoms” speech. The representative and directive acts were used by Roosevelt in giving explanations and to direct the people of the United States of America to realize the important of national security.   Keywords: speech acts, representative acts, directive acts.  
THEMTIC RELATION OF JOKOWI’S NEWS HEADLINE IN THE JAKARTA POST ANDRIANI, RULI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Media masa telah memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat mengenai pemerintahan khususnya di Indonesia akhir-akhir ini. Salah satunya adalah tentang munculan headline yang memuat nama Jokowi yang laporkan dalam sebaris kalimat. Alhasil, terkadang Jokowi diposisikan dalam berbagai bagian headline yang ditunjukkan oleh penggunaan predikat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tipe predikat dan argumennya yang ditemukan di The Jakarta Post headline yang memuat nama Jokowi. Untuk menganalisis posisi Jokowi, digunakan thematic relation yang mendeskripsikan hubungan antar makna argument dalam suatu kalimat yang dipengaruhi oleh makna dari predikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar headline menggunakan predikat verb, yang mana mendiskripsikan mengenai tindakan Jokowi dalam memimpin Indonesia. Kemudian, Jokowi sebagai argument diposisikan sebagai <agent> yang berarti bahwa Jokowi selalu berperan aktif ketika bertugas sebagai presiden. Dengan demikian, The Jakarta Post terlihat seperti mendukung Jokowi karena Jokowi sering digambarkan sebagai inisiator dalam sebuat aksi yang disampaikan dalam headline berita berdasarkan penggunaan predikat. Kata Kunci: headline, predikat, thematic relation. Abstract Mass media has given a wide effect for society concerning to the governmental especially in Indonesia nowadays. One of cases is about the headline which contains the name of Jokowi who is reported in a set of sentence. As a result, sometimes Jokowi is positioned in a various part of headline structure which is showed by the predicate usage. The aim of this study is to examine the type of predicate and its argument found in The Jakarta Post headline which contains the name of Jokowi. In order to analyse Jokowi’s position, it is used thematic relation which describes the relationship among the meaning of arguments in a sentence which is impacted by the meaning of predicate. The result shows that headline mostly uses predicate of verb which describes Jokowi’s action in leading Indonesia. Moreover, Jokowi as argument is positioned as <agent> which means Jokowi always does something when he plays an important role as president. Hence, the Jakarta Post seems to support Jokowi because Jokowi is often depicted as the initiator in an action which is reported in headline news based on the usage of predicate.   Keywords: headlines, predicate, thematic relation.
REVEALING THE FUNCTION OF REFERENCE IN PRESUPPOSITION OF ENGLISH CIGARETTE TAGLINES IN DJARUM AND ITS SUB-BRANDS ADVERTISEMENTS CATUR WAHYU R, IDA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karena perusahaan rokok dilarang untuk memprovokasi kegiatan merokok secara terang-terangan dalam iklannya, mereka menggunakan referensi dan praanggapan dalam slogan mereka. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan bagaimana pengiklan mempengaruhi konsumen untuk memahami makna tersirat dalam slogan dengan memanfaatkan fungsi referensi dalam analisis praanggapan melaui pendekatan pragmatik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang melibatkan teknik analisis dokumen dan material untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa referensi digunakan untuk membatasi inferensi konsumen akan informasi yang tersirat. Terdapat tiga bentuk referensi yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu dalam bentuk proper noun, noun phrase dan pronoun. Ketiga bentuk referensi tersebut digunakan secara berbeda untuk menunjukkan keberadaan produk atau konsumen yang ditargetkan. Selain itu, bisa disimpulkan bahwa praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang paling umum digunakan oleh para pengiklan rokok untuk mempertahankan eksistensi produk mereka dengan mengaplikasikan fungsi conciseness dan fungsi emphasis. Mereka juga sering mengaplikasikan praanggapan faktif untuk menunjukkan fakta tentang tingginya kualitas produk tersebut dengan menggunakan fungsi conciseness, fungsi emphasis dan fungsi enlargement. Dapat disimpulkan bahwa referensi digunakan untuk memberikan efek positif terhadap praanggapan konsumen. Di sisi lain, praanggapan memberikan penjelasan rinci tentang informasi tersirat dalam slogan. Dengan kata lain, keduanya dapat digunakan sebagai alat yang ampuh dalam strategi pemasaran untuk mebuat slogan yang menarik. Kata Kunci: pragmatik, referensi, praanggapan, slogan, iklan.   Abstract As the advertiser of Cigarette Company is prohibited to provoke or suggest doing smoking obviously in their advertisements, they choose applying referring expression and presupposition in their taglines. This study hence aims to reveal how the advertisers utilize the function of reference in presupposition analysis of pragmatics to inform and persuade the targeted consumers in decoding the meaning implied in taglines. This study used descriptive qualitative method which involves document and material analysis to collect the requisite data. As the result, this study found that referring expressions help to limit the consumers’ inference of the presupposition information. There are three referring expressions that are found in this study which are in form of proper noun, noun phrase and pronoun. Those referring expressions can be used differently to show the brand product existence or to represent the targeted consumers. Moreover, it can be inferred that existential presupposition is the most common presupposition used by the advertiser to maintain the product existence by employing conciseness and emphasis functions. They also often use factive presupposition to show the fact of the high-quality of the product by using conciseness, emphasise and enlargement functions. It can be concluded that referring expression is employed to give positive effect to the consumers’ interpretation of presupposition information. Meanwhile, presupposition gives more detail explanation of intended meaning contained in taglines. In a word, both reference and presupposition hence becomes a powerful tool that can be used in the marketing strategy to compose attractive taglines. Keywords: pragmatic, reference, presupposition, taglines, advertisement.
POLITENESS IN ADELINE’S IMPLICATURE IN “THE AGE OF ADELINE” MOVIE NUR ANGGRAETA, JULIA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Komunikasi koperatif merupakan syarat dari terbentuknya komukasi efektif. Perkataan seseorang dapat mempengaruhi jalannya komukasi yang berlangsung antara pembicara dan pendengar. Akan tetapi, tidak semua asas koperatif untuk berkomunikasi harus dilakukan. Melalui implikatur, pembicara dapat memberikan makna tambahan dalam perkataan mereka. Salah satu film yang menggunakan implikatur dalam percakapan adalah The Age of Adeline. Dalam film ini, Adeline menggunakan implikatur dalam perkataanya dengan tujuan untuk menyembunyikan identitasnya. Hal ini tidak mudah baginya karena dia harus terus menerus menyembunyikan identitas dari tahun ke tahun. Maka dari itu, Adeline menerapkan asas kesopanan dalam implikaturnya. Hal itu membantunya menjadikan identitasnya tetap aman dan agar orang-orang disekitarnya tidak merasa terancam olehnya. Adeline menerapkan empat dari enam asas kesopanan yang dirumuskan oleh Leech (1983), yaitu asas kebijaksanaan, kedermawanan, pujian, dan asas kesederhanaan. Penerapan asas-asas tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor sosial, antara lain kelas sosial, hubungan sosial, dan fungsi dari percakapan antar lawan bicara. Kata kunci: koperatif, implikatur, kesopanan, factor sosial. Abstract Cooperative communications is a requirement of the establishment of an effective commucation. Someone’s utterances could affect the course of the communication that takes place between the speaker and the listener. However, not all the cooperative principle to communicate should be done. Through implicature, the speaker could give additional conveyed meaning in their utterances. One of the movies that apply implicature in the conversation is The Age of Adeline. In this movie, Adeline uses implicatures in her utterance in order to hide her identity. It is not easy for her because she must continue to hide the identity from year to year. Therefore, Adeline applies the politeness principles in her implicatur. It helped her turn her identity remain safe so people around her do not feel threatened by her. Adeline applies four of the six politeness principles formulated by Leech (1983); they are tact maxim, generosity maxim, approbation maxim, and modesty maxim. The application of these principles is influenced by several social factors, such as social class, social relationships, and functions of the conversation between the interlocutors. Keywords: cooperative, implicatures, politeness, social factors.
THE LANGUAGE CHOICE OF FOREIGN STUDENTS IN LEARNING BAHASA INDONESIA AT UNESA MYRRHA RAHMAWATI, NABILA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pemilihan Bahasa adalah salah satu dari studi yang berfokus pada penelitian sosiolinguistik. Dalam proses penelitianya, study ini menjelaskan tentang pemilihan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Hal tersebut menghubungkan kontek sosial dan domain pemakaian bahasa. Dengan menerapkan hubungan tersebut, maka terdapat pandangan tentang bagaimana perilaku pemilihan bahasa oleh mahasiswa asing pada domain pendidikan dan pertemanan dan bagaimana kontek sosial mempengaruhi perilaku pemilihan bahasa mereka.Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menganalisa data. Metode tersebut digunakan untuk membahas masalah-masalah penelitian yang mana: (1) penerapan pemilihan bahasa, (2) pengaruh kontek sosial terhadap perilaku pemilihan bahasa. Mahasiswa asing yang sedang belajar bahasa indonesia di UNESA adalah sumber data pada studi ini. Khususnya, data yang telah diambil adalah dari aktifitas perkuliahan di kelas dan kegiatan sehari-hari diluar kampus. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa utama yang digunakan di domain pendidikan. Pada domain pertemanan, mahasiswa asing lebih cenderung untuk menggunakan bahasa yang berbeda untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang berbeda. Penemuan kedua adalah terdapat tiga factor yang dapat mempengaruhi perilaku pemilihan bahasa mereka. Bahasa-bahasa yang berbeda digunakan untuk berkomunikasi dengan participan yang berbeda pada tempat dan fungsi yang berbeda.Studi ini setuju bahwa mahasiswa asing yang sedang tinggal di negara lain mempunyai kecenderungan untuk menjadi penutur tiga bahasa dan menggeser bahasa. Sementara itu, mengalihkan bahasa dalam suatu percakapan sering terjadi ketika mereka berbicara dengan orang yang bukan berasal dari negara mereka. Tinggal di Indonesia selama satu tahun menyebabkan mereka menggeser  dari bahasa resmi negara mereka ke Bahasa Indonesia. Keywords:language choice   Abstract Language choice  is one of studies under sociolingulistic research. In its research process, this study clarifiesthe choice of languge used in society. It correlates the social context and domain of language use. By applying these correlations, there comes a view of how is the language choice behavior of the foreign students in (education and friendship domain) and how does the social context influence their language choice.This study used descriptive qualitative method to do the analysis in order to expose the research problems which are; (1) the application of language choice, (2) the influence of social context toward language choice behaviour. This study took foreign students who are learning Bahasa Indonesia at UNESA as a source of data. In specific, data were taken mostly from their lecturing activities in class and their daily activities outside of campus. There comes a finding that Bahasa Indonesia is the priority language to use in education domain. While in friendship domain, different languages tend to be applied by foreign students  to communicate with different interlocutors. As the second aim, there are three factors that influence their language choice behaviour. Different languages were applied during communication with different participant, in different setting and function of language.This study argues that foreign students who are living in another country have a tendency for becoming a multilingual speaker and shifting the language. Meanwhile, switching the language often occored when they communicated with non native speaker. Living in Indonesia during one year caused them in shifting from their official language to Bahasa Indonesia. Kata Kunci:pemilihan bahasa
REFERENCE PROCESS USED BY STEVE BACKSHALL, THE HOST OF DEADLY 60, AN ANIMAL DOCUMENTARY PROGRAM FAWAID, ASAD
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Proses komunikasi dengan  menggunakan bahasa verbal sudah berkembang dan meningkat seiring berjalannya waktu. Beragam jenis proses komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal terus bertambah dan  berakibat pada bagaimana masyarakat menggunakan sebuah bagian dari proses berkomunikasi dalam proses referensi dengan menggunakan formasi linguistik yang disebut acuan ekspresi.  Deadly 60 adalah sebuah program dokumenter hewan dimana proses referensi diaplikasikan oleh sang pembawa acara, Steve Backshall, untuk mereferensikan hewan berdasarkan beberapa aspek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipe-tipe dari acuan ekspresi, penggunaanya dalam sebuah konteks, dan arti dari tiap- tiap acuan ekspresi tersebut yang dilakukan oleh pembawa acara Deadly 60. Penelitian ini menghasilkan 3 poin penting. Yang pertama, baik tipe acuan ekspresi pasti dan tipe acuan ekspresi tidak pasti di video ini terbentuk dengan tujuan referensial karena ekspresi – ekspresi tersebut terbentuk oleh elemen – elemen yang spesifik. Kedua, pembicara menggunakan acuan ekspresi untuk memberikan deskripsi dari seekor hewan yang terbentuk dari 2 hal, yaitu sikap dan ciri fisik dari hewan tersebut. Pembawa acara juga menggunakan acuan - acuan ekpresi ini untuk memberikan sebuah penjelasan secara tidak langsung tentang seekor hewan dan dengan ini pula proses penyaluran informasi terjadi secara otomatis.  Dapat disimpulkan  bahwa selain untuk merepresentasikan seekor hewan,proses referensi yang dipakai oleh sang pembawa acara Deadly 60 juga memberikan sebuah diskripsi dan penjelasan yang terjadi secara tidak langsung kepada pemirsa dan juga terjadinya proses penyaluran informasi dan pengetahuan dari sang pembicara kepada pendengar. Kata kunci: referensi, acuan ekspresi, pembawa acara   Abstract The communication using verbal language has developed and improved as the era goes by. The communication variety using verbal language appears more and more and affects on how people use a part of language such as reference to identify and related something by linguistic form called referring expression. Deadly 60 is an animal documentary program in which reference process is applied by the host, Steve Backshall, to refer animal based on many aspects. The aim of this study is to identify the type of referring expression , the use in the context, and the meaning of each referring expression used by the host of Deadly. This study results 3 points. First of all, both definite and indefinite referring expression used in this video occur with referential intention since those expressions are formed by specific elements. Secondly, the speaker uses referring expression to describe the mentioned animal based on two characteristics, they are animal’s habit and physical appearance. And the last is, the host uses these referring expression to give an indirect explanation about the animals and automatically shared information and knowledge the host has in mind. In conclusion, in addition to refer the animal, the reference process used by the host of Deadly 60 also give an indirect description and explanation for the viewer and also information and knowledge  transfer process from the speaker to the hearer. Keywords : reference, referring expression, the host.
TURN TAKING IN THE CONVERSATION PRODUCED BY MEMBERS OF ENGLISH SPEAKING COMMUNITY AT SURABAYA STATE UNIVERSITY DEWI, FITRIYAH
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract English Speaking Community is the community which exists in Surabaya State University which is functioned to improve the student’s speaking skill. In Discourse Analysis, the conversation produced by the members of English Speaking Community has created phenomena of turn taking. This study focuses on the turn taking phenomena which emerge in the member’s conversation. The purposes of the study are: to describe the categories of turn taking  that happen in the conversation produced by the member of English speaking community; to find out how the phenomena of turn taking strategies through interruption, overlap, and backchannel happen during the conversation. This study uses qualitative approach. Observing directly and video recording are chosen to collect the data. The findings of the study show that adjacency pairs and repair are the most categories that emerge in the conversation among participants. Overlap and interruption happen in the same time but in different purpose, if overlap use to show the enthusiasm and closeness while interruption can be indicate as the power in the conversation. The participants use the signal of understands, listens the participant’s opinion, and the way they cannot answer the question from the leader.
TURN TAKING STRATEGIES USED IN MASTERCHEF JUNIOR SEASON 3 IN AMERICA TV SHOW ERTANTI, DEVI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Percakapan merupakan sebuah bentuk dari komunikasi verbal yang terjadi diantara dua orang atau lebih di dalam suatu masyarakat. Percakapan merupakan salah satu jalur pilihan bagi masyarakat untuk berkomunikasi dengan masyarakt lainnya. Dengan demikian, alih bicara merupakan suatu sistem yang mengatur jalan dari sebuah percakapan untuk menghasilkan sebuah percakapan yang teratur. Penutur di dalam sebuah percakapan juga berpengaruh dalam pelaksanaan alih bicara. Tujuan dilakukanya penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi – strategi alih bicara yang digunakan oleh juri dan peserta di dalam percakapan sesuai dengan teori Stenstrom (1994) dan juga menganalisa bagaimana cara juri dan peserta mengatur alih bicara dengan menggunakan teori yang sama. Kemudian menganalisa bagaimana alih bicara dalam percakapan dapat mempengaruhi adanya kekuasaan dan solidaritas di dalam percakapan. Hal ini ditinjau melalui dua aspek, sapaan berdasarkan teori dari Brown dan Gilman (1960) dan juga opini setuju dan ketidaksetujuan berdasarkan teori dari Tanen dan Kakava (1992).Metode deskriptif kualitatif digunakan di dalam penelitian ini untuk menganalisis data. Data yang digunakan di kumpulkan dan di transkrip secara manual dari video Masterhef Junior Sesi 3 yang diungguh melalui situs Youtube. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang paling banyak digunakan oleh para penutur adalah strategi pengambilan alih bicara. Pengambilan alih bicara dapat memimpin penutur untuk menyampaikan opini dan berdebat satu dengan yang lain. Kemudian, strategimempertahankan peralihan bicara digunakan untuk mengatur alih bicara di dalam percakapan. Juri merupakan orang yang berkuasa untuk mengatur jalannya percakapan. Tetapi, para peserta juga dapat mengatur alih bicara mereka dengan menggunakan interupsi. Terakhir, kekuasaan dan solidaritas yang ditemukan di dalam percakapan dibangun oleh para penutur melalui sapaan dan dalam memberikan opini. Kata Kunci: analisis percakapan, strategi alih bicara, kekuasaan dan solidaritas   Abstract Conversation is a verbal communication which engaged in a society between two people or more. It is one of the ways people communicate with others. Thus, turn taking is a system that controls the flow of the conversation in order to get a good conversation. The participants can also influence how turn taking engaged in the conversation. Children are not good turn-taker and it is one of the reasons to conduct this study. Masterchef Junior is one of cooking competition program in almost all over the world. The aims of this study are to analyze turn taking strategies which are used by the judges and the contestants in the conversation based on Stenstrom (1994), also find out how the judges and the contestants maintaining their turn by using the same theory from Stenstrom. Then find out turn taking strategies which influence the existence of power and solidarity in the conversation. There are two aspects, addressing based on Gilman and Brown (1960) and also in agreeing and disagreeing based on Tanen and Kakave (1992).The descriptive qualitative method is used in analyzed the data of this study. The data is collected and transcibed manually from the Masterchef Junior Season 3 video which downloaded from Youtube.The result of this study shows that, the most strategy which used by the participants is taking over strategy. Taking the turn leads the participants to deliver their opinion and argued one each other. Then holding the turn strategy is used in order to maintain the turn in the conversation. The judge is the one who mainly maintain the flow of the conversations. Therefore the contestants also maintain their turn by using interrupting. The last is power and solidarity which found in the conversation were built by the participants in they way they addressing and giving opinion. Keywords:conversation analysis, turn-taking strategies, power and solidarity  
SPEECH STYLES USED BY WOMAN CHARACTERS IN “ARMY;S WIFE” TV SERIES AISYAH NAILY, DWI
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa telah berkembang dengan cepat dalam masyarakat dan menyebabkan adanya variasi bahasa. Salah satunya merupakan gaya bahasa yang berhubungan dengan tingkatan penggunaan formalitas berdasarkan pada situasi, kondisi dan kebutuhan dalam terjadinya percakapan. Umumnya, seseorang berbicara formal kepada sesorang yang baru saja dikenal, lebih tua, atau kedudukan yang lebih tinggi. Tetapi, dalam TV seri Army’s Wife, seluruh pemeran utama merupakan wanita. Mereka adalah Claudia Joy, Roxy LeBlanc, Pamela Moran dan Denise Sherwood. Oleh sebab itu, penulis bermaksud untuk menganalisa 1) Gaya bahasa apa saja yang digunakan oleh pemeran wanita dalam TV seri “Army’s Wife” dan 2) Dalam situasi macam apa pemeran wanita menggunakan gaya bahasa di TV seri “Army’s Wife”. Karya ilmiah ini dibuat dengan menggunakan metode kualitatif dan teori SPEAKING berdasarkan Dell Hymes dimana keadaan dan kejadian, partisipan, akhir, urutan kejadian, kunci, instrumen, norma dan genre merupakan pertimbangan untuk menentukan gaya bahasa sesorang. Kemudian, hasil yang di dapat dari karya ilmiah ini bahwa terdapat 2 data menunukan gaya formal, 5 data menunjukan gaya konsultatif, 8 data menunjukan gaya sederhana dan 2 data menunjukan gaya intim. Tidak ada gaya kaku yang ditemukan dalam film. Gaya formal tidak harus selalu terjadi tempat formal atau sebaliknya. Hal ini berlaku dengan aspek lainnya dalam SPEAKING Abstract Language has developed quickly in society and causes the existence of language variations. One of them is speech style in which it deals with the level of formality determined based on the situations, condition and need of speech event. Generally, someone speaks formally to the person who has just been known, older or higher status. However, in the Army’s Wife TV series, all the main characters are women. They are Claudia Joy, Roxy LeBlanc, Pamela Moran and Denise Sherwood. Hence, the writer intends to analyze 1) What types of speech style are used by women characters in “Army Wife” TV Series and 2) What kind of situation women used the types of speech in “Army Wife” TV Series. This study is conducted by using qualitative method and SPEAKING theory proposed by Dell Hymes where the setting and scene, participants, ends, act sequences, key, instrumentalities, norms of interaction and interpretation, and genre are considered to determine someone’s speech style. Then, the result gotten from this study shows that there are 2 data of formal style, 5 data of consultative style, 8 data of casual style and 2 data of intimate style. There is no frozen style found in the movie. Formal style does not always happen in a formal place or vice versa. This goes the same with other aspects of SPEAKING.
TURN-TAKING STRATEGIES IN MACLEAN’S NATIONAL LEADERS DEBATE 2015 NUGRAHENI, ARIFA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Strategi pengambilan giliran adalah strategi yang digunakan di dalam berbagai interaksi, seperti wawancara, percakapan sehari hari, debat, atau berabagai macam percakapan lainnya. Penelitian ini mencoba untuk menemukan strategi pengambilan giliran pada MacLean’s National Leaders Debate 2015. Adapun penelitian ini menganalisa cara partisipan untuk membangun sebuah debat melalui strategi pengambilan giliran karena strategi tersebut memiliki peran penting untuk menganalisa debat ini. Oleh sebab itu, peneletian ini juga menganalisa alasan apa saja di balik terjadinya pengambilan giliran selama debat berlangsung. Untuk melakukan penelitian ini, metode deskriptif kualitatif dipilih untuk menganalisa data percakapan yang ada di dalam debat. Dengan menggunakan media dan metode tersebut, penelitian ini menyajikan beberapa hasil penemuan yaitu bahwasannya di dalam membangun suatu debat, seluruh peserta debat menggunakan strategi pengambilan giliran. Strategi pengambilan giliran tersebut terdiri dari tumpah tindih, interupsi, dan juga sinyal backchannel. Tumpang tindih dan interupsi adalah yang paling banyak muncul di dalam debat. Penelitian ini juga menemukan bahwa ada beberapa alasan mengapa para pendebat dan juga moderator melakukan strategi tumpang tindih. Faktanya setiap strategi memiliki alasan sendiri. Yang pertama, tumpang tindih yang ditemukan di dalam debat dapat dikarenakan untuk memberi sinyal jengkel, memperbaiki, melengkapi, mengingatkan, merespon, memberi pertanyaan, mengambil bagian, dan juga memberikan informasi. Di samping itu, kemunculan interupsi dapat dikarenakan untuk klarifikasi, kelengkapan, dan juga mengambil giliran di dalam debat. Yang terakhir adalah sinyal backchannel yang terjadi untuk dapat merespon pernyataan pendebat yang sebelumnya. Kata kunci: pengambilan giliran, debat   Abstract Turn taking strategies are the strategies which are used for taking a turn in many kind of interactions such as interview, daily conversation, debate, or it can be many things of conversation. This study attempted to find out the turn taking strategies used by the participants of MacLean’s National Leaders Debate 2015. Meanwhile, this study concerned to analyse the way participants are constructed by the debate through the turn taking strategies because those strategies have the important roles to analyse the debate. Therefore, this study also analysed the reasons of the turn-taking during the debate. In constructing the study, descriptive qualitative method was used to analyse the data in the form of conversation in the debate. By using that media and method, the study presented findings that in constructing the debate, all the participants use the turn taking strategies. Those turn taking strategies consist of overlap, interruption, and also backchannel signals. The overlap and interruption often appeared in the debate. This study also found several reasons why the debaters and the moderator do the turn taking strategies. In fact, each of strategy have their own reasons. First, the overlaps that are found in the debate can be caused for signalling annoyance, correction, completing, reminding, responding, questioning, taking turn, and also informing. Besides, the appearance of interruption are caused by clarification, completion, and also taking the debater’s turn. The last one is backchannel signal that are emerged for only responding the previous debaters’ statement. Key words: turn-taking strategies, debate 

Page 5 of 12 | Total Record : 115