cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
GENDER FEATURES WITHIN CONVERSATIONAL IMPLICATURES IN CHRISTIAN DITTER’S LOVE ROSIE MOVIE: SOCIO-PRAGMATIC PERSPECTIVE HADI WIJAYANTI, CHRISTIN
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Didalam percakapan, beberapa pembicara ingin menyampaikan maksud lebih dari apa yang mereka katakan. Dalam ilmu bahasa hal ini disebut dengan implikatur percakapan, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna dari sebuah ungkapan. Kajian ini mencoba menganalisis percakapan implikatur yang digunakan oleh wanita dan laki-laki. Dua karakter utama film yang berjudul Love Rosie (Alex dan Rosie) sebagai subyek. Studi ini difokuskan pada percakapan implikatur yang memiliki fitur gender. Selain itu, studi ini juga membahas pengaruh fitur gender terhadap implikatur. Deskripsi kualitatif digunakan sebagai metode penelitian ini untuk menganalisis data dalam bentuk frase, kata, dan kalimat. Dalam penelitian ditemukan bahwa karakter wanita lebih sering menggunkan tipe implikatur percakapan umum. Sebaliknya, karakter laki laki lebih sering menggunakan tipe implikatur percakapan khusus.  Pada kedua karakter tersebut, ditemukan 12 tipe fitur – fitur gender. Pada 12 fitur tersebut terdiri dari 5 fitur wanita (tag question, raising intonation, hypercorrect grammar, intensifier, dan Emphatic stress) dan 3 fitur pria (quantitative reference, location word, dan judgemental adjective) yang digunakan oleh karakter wanita. Sementara itu, karakter pria ditemukan menggunakan 7 fitur wanita (Lexical hedges, superpolite form, empty adjective, tag question, raising intonation, hypercorrect grammar,and intensifier) dan hanya menggunakan 1 fitur laki – laki (self reference). Hal ini merupakan sebuah penemuan yang unik dalam penelitian ini. Sehubungan dengan hal tersebut ditemukan bahwa tidak semua fitur mempengaruhi implikatur. Terdapat 2 fitur (hypercorrect grammar dan intensifier) pada karakter wanita yang tidak mempengaruhi implikatur dan 4 fitur pada karakter pria yang tidak mempengaruhi implikatur seperti tag question, superpolite form, lexical hedge dan hypercorrect grammar. Kata Kunci: implikatur, percakapan implikatur, genderlect   Abstract In the conversation, some speakers expect to convey their messages more than what they said. In linguistics it is considered as conversational implicatures that learn the meaning of the sentences. This study analyzes conversational implicatures that are used by woman and man. The two characters in Love Rosie movie (Alex and Rosie) are the subjects of this study. It is only focused on conversational implicatures which contain of gender feature and the affect of gender feature toward implicatures. This study used descriptive qualitative method since it analyzed the data in the form of phrase, word, and sentences which presented descriptively. After completing the analysis, this study found that woman more often used generalized conversational implicature rather than particularized conversational implicature. In contrary, men more often used particularized conversational implicatures. On both of the characters’ conversational implicature are found 12 types of gender features. There are five woman’s feature (tag question, raising intonation, hypercorrect grammar, intensifier, and emphatic stress) used by woman on her implicature. It is also found that she used man’s features (quantitative reference, location word, and judgemental adjective) in certain occasion. Meanwhile, the unique result found that man’s character more often used woman’s feature (lexical hedges, superpolite form, empty adjective, tag question, raising intonation, hypercorrect grammar, and intensifier) than his own feature (self reference) in the implicature. In connection to this, it is found that not all features affect the implicatures, which on woman character found 2 features (hypercorrect grammar and intensifier) do not affect her implicature, whereas there are 4 features of man character do not affect his implicature such as tag question, superpolite form, lexical hedge and hypercorrect grammar. Keywords: implicatures,conversational implicatures, genderlect  
A PSYCHOLINGUISTICS ANALYSIS OF A DYSLEXIC CHARACTER IN “TAARE ZAMEEN PAR” MOVIE KHUMEYZIM .BM, BENY
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan metode yang diterapkan untuk mengatasi seorang karakter disleksia di film Taare Zameen Par. Disleksia berhubungan dengan gangguan bahasa dan ketidakmampuan belajar yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam membaca, menulis dan aritmatika. Kebanyakan anak disleksia memiliki masalah tersebut karena mereka tidak mengenali meteri dalam pembelajaran. Teori yang digunakan untuk masalah di penelitian ini yaitu teori Gillingham dan Stillman untuk memahami metode yang diterapkan oleh Mr. Nikum dalm mengatasi kesulitan belajar Ishaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk melakukan analisis data. Deskriptif kualitatif digunakan peneliti untuk menjelaskan setiap data yang lebih mendalam. Untuk mendapatkan data, peneliti menggunakan dokumentsi sebagai instrumen dalam penelitian ini. Data yang disajikan dalam bentuk kata dan huruf dalam film Taare Zameen Par yang dikumpulkan tidak hanya dari naskah saja tetapi dari pikiran dan perkataan karakter utama juga. Dan hasil dari penelitian ini, Mr. Nikum  menerapkan metode Gillingham dan Stillman dan memberikan Ishaan beberapa variasi dari media pengganti dalam mengajar Ishaan untuk mengatasi kesulitannya. Akhirnya Ishaan pulih dari gejala disleksia dan dia dapat membaca, menulis dan melakukan perhitungan aritmatika seperti anak anak normal. Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk pembaca dan juga dapat menjadi refernsi untuk penelitian berikutnya.   Kata Kunci: disleksia, gangguan bahasa, ketidakmampuan belajar, persepsi   Abstract The purpose of this study is to describe the method that are applied to overcome a dyslexic character in Taare Zameen Par movie. Dyslexia is related to language disorder and learning disability which can affect abilities in reading, writing, and arithmetic. Most of dyslexic children will have trouble in that abilities, because they are not familiar with the materials in learning. The theories that are applied for this research problem is Gillingham and Stillman’s theory in understanding the method which is applied by Mr. Nikum to overcome Ishaan’s learning difficulties. This study uses descriptive qualitative method in doing analysis the data. Descriptive qualitative is used by the researcher to get more details explanation from each data. To gain the data, the researcher uses documentation as the instrument of this study. The data are in the form of words and letters from Taare Zameen Par movie which are not collected from the script only, but also from the main character’s mind and speaks. And the result of this study, Mr. Nikum applies Gilingham and Stillman method and gives Ishaan some variants of substitute medium in teaching Ishaan to overcome the difficulties. Finally, Ishaan is recovers from dyslexia symptom and he can read, write and do arithmetic calculation like a normal children. This study are expected can be useful for the reader and also can be reference for the next researcher.   Keywords: dyslexia, language disorder, learning disability, perception
GENDER BIAS OF COMPLIMENT RESPONSES IN INSTAGRAM PUTRI JAVANI, RAYVANA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tanggapanpujianadalahsebuahtindakandarimenanggapipujian yang diberikan.Perempuandanlaki-lakimempunyaicara yang berbedadalammenanggapipujian. Biasanyalaki-lakimemilikitanggapanpujian yang lebihsingkatdariperempuan.Tujuandaripenelitianiniuntukmenganalisadengancaraapalaki-lakidanperempuanmenanggapipujiandengancara yang berbeda. Penelitianinimenggunakanteoridari Homes (1995) tentangtanggapanpujian, Coates (2005) danLakoff (2004) tentangkarakteristik Bahasa perempuandanlaki-laki, dan Eckert (2003) and Weatherall (2002) tentangalasanmengapalaki-lakidanperempuanberkomunikasidengancara yang berbeda. Penelitianinimenggunakanmetodekualitatifuntukmenganalisa data. Data di penelitianini di ambildali media sosialbernama Instagram, yang terdapatseksikomen. Padaseksikomen, adasebuahpujiandantanggapanpujian.Poinutamadadarihasildalampenelitianiniadalahlaki-lakidanperempuanmenanggapipujiandengancara yang berbedaberdasarkankarakteristiknya. Karakteristiktersebutadalah empty adjective vs neutral adjective, no sense of humor vs sense of humor, hedges, super polite form vs non polite form, hypercorrect grammar vs incorrect grammar, aggravated directives vs mitigated directives. Kata Kunci: pujian, tanggapanpujian, gender, Instagram Abstract Compliment response is an act of responding a given compliment. Women and men have different way when responding to the compliment. Men usually have a shorter compliment response than women. The aim of this research is to find in what way do males and females respond to the compliment differently. This study uses the theory from Holmes (1995) about compliment response, Coates (2005) and Lakoff (2004) about the characteristics of men and women language, and Eckert (2003) and Weatherall (2002)  about the reason why men and women speak differently.This study uses qualitative method to analyze the data. The data of this study were taken from a social media called Instagram which has comment section. In the comment section, there is a compliment and compliment response. There is one point of result in this study. That is male and female speaker are different in responding to the compliment based on their characteristics. Those characteristics are empty adjective vs neutral adjective, no sense of humor vs sense of humor, hedges, super polite form vs non polite form, hypercorrect grammar vs incorrect grammar, aggravated directives vs mitigated directives. Keyword: compliment, compliment response, gender, instagram.
FIGURATIVE LANGUAGES USED IN MOVIE TAGLINES HEIN WELAN, CLAUDYA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 3 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Slogan adalahsalahsatubagianterpentingdalamsebuah film. Setiap slogan dalam film memilikigayamerekamasing-masing yang membuat slogan tersebutberbedadari slogan yang lain. Penggunaanmajasbahasasebagaigayapembuatan slogan adalahsalahsatukunciuntukmembuat slogan tersebutberbedadari yang lain dandapatmenarikperhatian para pembaca yang membacanya. Selainitu slogan dalam film dapatmendukungpembentukanmaknadari film tersebut. Artidarisetiap slogan film berbedasatudengan yang lain bergantungpadakonteksdanjenisdari film tersebut. Tujuandaripenelitianiniadalahuntukmenganalisisgayadarimajasbahasadanmakna yang terbentukdarisetiap slogan film. Penelitianinimenggunakanteoritentangmajasbahasadari Perrine (1992) dan multimodal analisisdari O’Halloran (2011). Analisisdokumenmerupakanteknik yang digunakanmenggumpulkan data dalampenelitianini. Penelitianinimenggunakanmetodequalitatifuntukmenganalisis slogan film. Data dalampenelitianiniberupa poster, judul, dan slogan film.Adaduapoinutamadalampenelitianini. Yang pertamaadalahmajasbahasa yang digunakanuntukmenganalisis slogan film. Majas yang digunakandalam slogan film adalahmajarmetafora, alegori, personifikasi, sinekdok, symbol, paradox, hiperbola, dan understatement. Yang keduaadalahmakna yang terbentukdarimajasbahasadalam slogan film. Setiap slogan film memilikimaknanyamasing-masingberdasarkanpadajudul, slogan, gambar, danjenisdari film tersebut. Faktor-Faktortersebutlah yang membentukmaknadalam slogan film. Perbedaanjenisalirandalam film dapatmenimbulkanmakna yang berbedadarisetiao film. Setiap slogan film dibuatuntukmenarikperhatian para penontonuntukmelihat film tersebut Kata kunci:majasbahasa, film, slogan   Abstract Tagline is one part of the movie that has the big role for the movie. Every movie tagline always has their own style that makes them different from each other. Using the figurative language as the style of the tagline is one of the keys to make that tagline different and can attract the audience’s attention. Beside that tagline of the movie also can construct the meaning of the movie. The meaning of the tagline different from one and another depends on the context and the genre of the movie.The aim of this research is to analyze the style of the figurative language and the constructed meaning of every movie tagline. This research uses the theory from the Perrine (1992) about the figurative language and O’Halloran (2011) about the multimodal discourse analysis. Document is the technique to collect the data. This study uses the qualitative method to analyze the data. The data of this study is taken from the cover, title, and the tagline of the movie. There are two main points of the result of this study. The first is the figurative language that is used in the movie tagline. The figurative languages in the movie taglines are metaphor, allegory, personification, synecdoche, paradox, hyperbole, and understatement. Every movie tagline has their own figurative language that can construct the meaning of that tagline based on their title, tagline, picture, and genre. Different genre can cause the different meaning of the tagline. Every movie tagline is made to persuade and attract the audience’s attention to watch the movie. Keywords : figurative languages, movie, tagline. 
THE USE OF POLITENESS STRATEGY IN “GOOD COMPANY” MOVIE PRATAMA PUTRA, ANGGA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kegunaan dari strategi kesopanan merupakan ketrampilan dasar dari seseorang dalam besikap sopan karena karakteristik sesesorang dapat dilihat dan dinilai dari kesopanan mereka. Menjadi salah satu cabang dari kajian pragmatik, fungsi utama dari strategi kesopanan adalah menganalisa makna dalam konteks pembicaraan. Penelitian ini memperhatikan tentang pengaplikasian daripada strategi kesopanan dalam film in good company termasuk dua karakter utama (yakni Carter duryea dan Dan foreman) dan bagaimana mereka menkonsep strategi kesopanan dan apa saja faktor yang mempengaruhi mereka seperti kekuatan, jarak sosial dll. Tujuan penilitian ini adalah untuk menunjukkan keefektifan daripada strategi kesopanan dalam film yang berlatarbelakang tempat kerja yang dilakukan oleh dua karakter utama tersebut  Penilitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisa data dan bergantung pada teori Brown dan Levinson. Bahkan, data yang sudah di kumpulkan melalui proses melihat film, menyalin naskah dan mengelompokkan data di bagi menjadi beberapa poin. Poin-poin yang di maksud adalah (1) menunjukkan tipe-tipe kesopanan yang digunakan Carter dan Dan, (2) apakah faktor utama yang mempengaruhi mereka dalam pengaplikasian strategi kesopanan tersebut dan (3) apakah hasil dari pengaplikasiaan strategi kesopanan yang telah diterapkan. Penelitian ini juga mengemukakan beberapa poin dimana strategi kesopanan yang di pergunakan oleh Dan Foreman dan Carter Duryea yang dikategorikan sebagai strategi yang sukses atau tidak sukses bergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi mereka dalam menunjukkan kesopanan mereka. Didalam film tersebut, strategy kesopanan negative lebih sering di tunjukkan daripada strategi kesopanan yang lain, tetapi strategi kesopanan negatif ini juga dikategorikan sebagai strategi yang tidak sukses dikarenakan faktor jarak social dan kekuatan yang memaksa strategi yang telah di tunjukkan menjadi kurang efektif daripada kegunaan yang sebenarnya dimana strategi kesopanan negatif lebih cenderung dikaitkan dengan strategi yang sukses. Kata Kunci: percakapan, kesopanan, wajah   Abstract The use of politeness strategy is the basic skill of a person in being polite because someone characteristic can be seen through their politeness. As the branch of pragmatic study, the function of politeness is to analyze the contextual meaning in a conversation. This study focuses on the implied politeness strategies In Good Company movie including the two main characters (Carter Duryea and Dan Foreman) in how they construct politeness strategies and what factors that influences them. The purpose of this study is to show the effectiveness of politeness strategy in a workplace background movie by the main characters. This study used descriptive qualitative method to do the analysis and relied on the Brown and Levinson politeness strategy theory. Moreover, the data that have been collected through the process of watching movie, transcribing the script and classifying are analyzed by several points. Those are, (1) to shows what kind of politeness strategies that frequently used by Dan and Carter (2) what is the main factors that influence them to do politeness strategies and (3) what is the result in applying the politeness strategy. This study also points out the outcome of politeness strategy which is used by Dan Foreman and Carter Duryea which categorized as successful or unsuccessful strategy depends on several factors that influence them in being polite. In the movie, the negative politeness strategy is the most used strategy by both main characters than the others strategies, but that strategy is also failed and classified as unsuccessful strategy because the factors of social distance and power that pushed the strategy become less effective than it really is. Keywords: conversation, politeness, face
POLITENESS STRATEGIES IN CRAZY, STUPID, LOVE MOVIE SATRIA MANUPUTTY, YEREMIA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuan dalam penelitian ini untuk mendiskripsikan betapa serba gunanya kegunaan strategi kesopanan dalam film Crazy, Stupid, Love. Strategi kesopanan berhubungan dengan penggunaan strategi untuk menjaga tindakan pengancaman muka dan tindakan penyelamatan muka. Teori yang digunakan untuk masalah di penelitian ini yaitu teori Brown dan Levinson (strategi kesopanan)untuk memahami fungsi tiap tipe strategi yang ada digunakan dan Leech (prinsip kesopanan) untuk memahami tipe prinsip yang ada dibalik strategi kesopanan yang digunakan. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam menganalisa data dalam penelitian ini. Penggunaan deskriptif kualitatif guna memperdalam penjelasan setiap data. Peneliti memahami film Crazy, Stupid, Love dan mengklasifikasikan data dari awal hingga akhir film. Data yang diperoleh adalah dalam bentuk ucapan yang digunakan oleh dua tokoh utama dalam film ini, yang berkaitan dengan strategi kesopanan. Hasil dari penelitian ini menunjukan hasil bahwastrategi kesopanan sangat serba guna dalam penggunaannya. Tokoh utama selalu menggunakan strategi kesopanan dalam segala situasi untuk menyelamatkan kehormatan sang pendengar. Karena seluruh strategi kesopanan berdasar Brown dan Levinson ditemukan dalam penelitian ini. Hal tersebut memberikan penekanan lebih kepada betapa serba gunanya strategi kesopanan ini. Saat sedang menyelamatkan kehormatan pendengar, analisa pada prinsip kesopanan menunjukan bagaimana cara menjaga hubungan yang baik antar pembicara dan pendengar. Hubungan antata strategi kesopanan dan rinsip kesopanan adalah sang peneliti dapat menemukan tipe prinsip kesopanan tertentu dibalik strategi kesopanan tertentu. Di saat seorang pembicara ingin meminimalkan tindakan pengancaman muka, dia juga sedang membangun rasa anatara pembicara dan pendengar. Jadi saat pendengar menurunkan tindakan pengancaman muka hal tersebut disebut strategi kesopanan. Dalam proses penurunan ancaman muka, pembicara juga sedang membangun hubungan sosial yang baik yang disebut prinsip kesopanan. Maka dari itu hubungan antara strategi kesopanan dan prinsip kesopanan tak terpisahkan.   Kata Kunci: strategi kesopanan, prinsip kesopanan, tindakan pengancaman muka, tindakan penyelamatan muka Abstract The purpose of this research is to describe the versatility application of politeness strategy in Crazy, Stupid, Love. Politeness strategy is needed to maintain the face threatening act and face saving act. The theories that are used in this research are Brown and Levinson (politeness strategies) to understand the use of politeness strategy and Leech (politeness principles) to get an idea of the politeness principles that underly each politeness strategy. Descriptive qualitative is used to analyze the data in this research. The use of descriptive qualitative to give deeper explanation of each datum. Researcher understands the Crazy, Stupid, Love movie and classified the data from the beginning to the end of the movie. Data that are acquired are in the form of utterances that is used by the main characters, that is related to politeness strategies. The result of this study shows that politeness strategies are so versatile in the application. The main characters apply politeness strategy in every situation to save the hearer’s “face”. Since all politeness strategies according to Brown and Levinson are found in this research. It gives more focus on how versatile politeness strategies are. While saving the honor of the hearer, the analysis on politeness principles shows how to maintain relationship among speaker and hearer. All of politeness principles are found in this research. The relation between politeness strategies and politeness principles is that the researcher can find certain type of politeness principle that underly certain type of politeness strategy. When a speaker wants to minimize face threatening act, he also shall establish feeling between the speaker and the hearer. So when speaker minimizes FTA it is called politeness strategies. In the process of minimizing FTA, the speaker also establishing social relationship, which is called as politeness principle. Therefore, the relation of politeness principles and its strategies are inseparable.   Keywords: politeness strategies, politeness principles, face threatening act, face saving act
THE FLOUTING MAXIMS OF HUMOROUS LYING IN “HOW I MET YOUR MOTHER” TV SERIES SAFAUDIN,
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Selain digunakan untuk konteks yang luas dalam kehidupan sehari-hari, kita juga bisa melihat bagaimana kebohongan digunakan sebagai media dalam komedi dengan melihat pada kecenderungannya untuk berputar pada pola tertentu. Hal ini menjadi dasar pada studi ini untuk berfokus padaaktingbohong berkarakteristik humor yang dilakukan oleh karakter dalam serial TV How I Met Your Mother. Tujuan dari studi ini adalah membahas pelanggaran maksim dalam proses bohong pada tataran Implikatur yang dilakukan dalam serial TV How I Met Your Mother selain juga untuk mendeskripsikan kontribusi dari pelanggaran maksim dan imlplikatur dari percakapan terhadap bohong yang ditunjukkan dalam serial TV How I Met Your Mother terkait hal nya dengan memunculkan efek humor. Teori yang digunakan adalah teori implikatur percakapan, prinsip kerjasama, dan mekanisme humor. Data dalam studi ini diambil dari kumpulan percakapan dalam serial TV How I Met Your Mother yang sudah dipilih terlebih dahulu. Studi ini menemukan hubungan yang kuat antara pelanggaran maksim dan implikatur percakapan dalam pembentukan fenomena bohong berkarakteristik humor. Tipe kebohongan tersebut menjadi mudah dikenali dengan adanya  eksploitasi oleh pelanggaran maksim. Sedangkan implikatur percakapan dibutuhkan untuk memahami adanya kebohongan dimana eksploitasi kebohongan berperan sebagai titik kulminasi nya.    Kata Kunci:Bohong, humor, implikatur percakpan, prinsip kerjasama, melanggar maksim Abstract Despite being used in a broad context of daily life, Lying is also seen to be an adequate device to be applied in comedy with a tendency to circulate the process around certain typical patterns. With regard to this fact, this study focuses upon the act of humorous Lying performed by characters of How I Met Your Mother TV Series. The purpose of this study is to examine the conversational maxims which are being flouted during the process of lying within conversational implicature performed at How I Met Your Mother TV Series as well as describing the contribution flouting maxims and conversational implicature toward the lie performed at How I Met Your Mother TV Series in terms of stimulating humorous effect. The theories of Conversational Implicature, Co-operative principles, and humor theories are used within this study. This study also uses descriptive qualitative method as a meant to do the data analysis.The data are set of utterances taken from the dialogue between the characters of How I Met Your Mother TV Series which has been filtered carefully beforehand. This study found that there is a well-established connection between the production of humorous lying with the flouting maxims and conversational implicature theory. Humorous lying are recognized through the exposition of lying in which the surprise element brought by the flouting maxims are somewhat useful in supporting the lying to be exposed. Meanwhile, the conversational implicature is needed in its importance to understand lying as method of asserting in which the exposition of lying is seen to be a culmination point within humorous lying.   Keywords:Lying, humor, conversational implicature, co-operative principles, flouting maxims  
ILLOCUTIONARY ACTS ON CHRIS GARDNER’S DIALOGUE IN PURSUIT OF HAPPYNESS MOVIE PRADANA AQUATAMA, RIO
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tujuandaripenelitianiniuntukmengidentifikasidanmenganalisisjenistindakanilokusidari Chris Gardner sebagaikarakterutamadalam film yang berjudulPursuit of Happyness. Film iniberdasarkankisahnyatadari Chris Gardner yang memilikimimpibesaruntukdirinyadankeluarganya. Chris memilikikesempatanuntukmenjadipialangsaham, tetapiiaharusberada di anggotamagangpertama yang berartiiatidakmenerimagaji. Chris memutuskanuntukmelakukannyatapiketikaistrinyameninggalkannyadandiadiusir, diaharusmengurusanaknyasendiri. Jadimerekakadang-kadanghidup di jalandanberjuanguntukmelewatinya. Dan Chris bertekaduntukmelaluinya.Penelitianinimenggunakankeduametodekualitatifdankuantitatifuntukmelakukananalisisdalamrangkauntukmengeksposmasalahpenelitian; 1) jenistindaktuturilokusi yang munculpadapercakapan Chris, dan (2) alasantinndaktuturilokusi yang dominanmunculdaripercakapan Chris. Data termasukucapan-ucapandaripercakapandengantokohutamaberisitindakanilokusidalam film. Teori yang diterapkanuntukpenelitianiniadalahjenistindakanilokusioleh George Yule. Data telahdiklasifikasikankedalamlimaklasifikasi; representatif, direktif, komisif, ekspresifdandeklaratifdaritindaktuturilokusidandianalisissemua.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaada 488 ucapan yang berisitindakanilokusi. Yang ditemukan 204 ucapanatau 41,8% dari total data untukrepresentatifdengantindakan yang dilakukanseperti: menegaskan, menginformasikan, melarang, mengklaim, danbersikeras. Kemudiandiikutiolehdirektifdengan 176 ucapanatau 36,1% data dengantindakan yang dilakukanseperti: meminta, memerintah, meminta, pemesanan, memohon, danmenasihati. Ekspresifdigunakan di 72 ujaranatausekitar 14,7% dengantindakan yang dilakukanseperti: berterimakasih, memintamaaf, ucapan, mengejek, danmemuji. Sementaraitukomisfdigunakan di 34 ujaranatau 7% dengantindakan yang dilakukanseperti: menjanjikan, menawarkan, memprotes, mengancam, menerima, menolak, danmeyakinkan. Yang terakhiradalahdeclaratifdenganhanya 2 ucapanditemukanatauhanya 0,4% dari total data denganhanyamenemukan 1 tindakanyaitumenerimapekerjaan.     Kata Kunci:tindaktuturilokusi, representatif, direktif, expresifs, komisif, deklaratif Abstract The purpose of this study to identify and analyze the types of illocutionary acts from Chris Gardner as the main Character in the movie entitled Pursuit of Happyness. This movie based on the true story from Chris Gardner who had big dream for him and his family. Chris had an opportunity to become stockbroker but he had to be in the internship member first which means he had no salary. Chris decided to do it but when his wife left and he was evicted, he had to take care of his son on his own. So they sometimes lived on the street and struggled to get by. But Chris was determined to make it.This study uses both qualitative and quantitative methods to do the analysis in order to expose the research problems which are; 1) the types of illocutionary acts that occur on Chris dialogues, (2) the function of illocutionary acts, and (2) the reason of dominant illocutionary acts that occur from Chris dialogue. The data included utterances from the conversation by main character contain illocutionary acts in the movie. The theory that were applied for this study was the types of illocutionary acts by George Yule. The data had been classified into five classification; representative, directive, commissive, expressive and declarative illocutionary acts and analyzed them.The result of the study showed that there are 488 utterances containing the illocutionary acts. That found 204 utterances or 41.8% from the total data for representative with the performed actions such as: asserting, informing, prohibiting, claiming, and insisting. Then followed by directive with 176 utterances or 36.1% data with performed actions such as: asking, commanding, requesting, ordering, pleading, and advising. Expressives used in 72 utterances or about 14.7% with the performed action such as: thanking, apologizing, greeting, mocking, and praising. Meanwhile commissives used in 34 utterances or 7% with performed actions such as: promising, offering, protesting, threatening, accepting, refusing, and assuring. The last is declaratives with only 2 utterances found or only 0.4%.   Keywords:illocutionary acts, representatives, directives, expressives, commissives, declaratives
THE RELEVANCE BETWEEN WORD FORMATION OF POKéMON NAME AND ITS APPEARANCE CIPTA AGI MAULANA, PRATAMA
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pokemon telah menjadi waralaba yang sukses di dunia sejak kemunculan video game pertamanya pada tahun 90-an. Pokemon menjadi sangat unggul berkat ­gameplay-nya yang unik. Pemain dapat mengumpulkan atau menangkap berbagai jenis makhluk fiksi dengan nama yang berbeda. Nama-nama makhluk tersebut diciptakan dari kombinasi banyak kata. Relevansi antara makna nama dan penampilan mereka dianalisis menggunakan semantik kognitif dan metafora konseptual dari Dobri? (2010) dan segitiga relativitas dari Ogden dan Richards (1923). Metode yang paling cocok untuk menganalisis nama Pokémon adalah deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan teknik dokumentasi, nama Pokémon dan informasi terkait apapun dapat diperoleh. Ada enam jenis proses pembentukan kata yang digunakan dalam nama Pokémon. Mereka adalah penciptaan kata-kata baru, pencampuran, penggabungan, pemendekan, derivasi, dan proses ganda. Hubungan antara nama Pokémon dan penampilan dapat dibedakan menjadi hubungan langsung dan tidak langsung. Kata kunci: pembentukan kata, morfologi, Pokémon, semantik, metafora     Abstract Pokémon has become a successful franchise around the world since its first appearance as a video game in the middle of 90s. Pokémon becomes distinguished because of its unique gameplay. The player can collect or catch many kinds of fictional creatures with different names. The names of those creatures are created from the combination of many words. This study examines the relevance between the meaning of Pokémon names and using cognitive semantics and conceptual metaphor from Dobri? (2010) and basic triangle of relativity by Ogden and Richards (1923). The most suitable method to analyze Pokémon names is descriptive qualitative. By using documentation technique, Pokémon names and any related information can be obtained. There are six type of word-formation process used in Pokémon names. They are coinage, blending, compounding, clipping, derivation, multiple process. The relation between Pokémon names and appearances are direct and indirect. Keywords: word-formation, morphology, Pokémon, semantics, metaphor
ENGLISH LANGUAGE VARIATION IN COUNTRYBALLS CARTOONS Finsa Zulkarnain, Bachtiar
LANGUAGE HORIZON Vol 4, No 4 (2016):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat milyaran macam bahasa di seluruh dunia yang mana beberapa diantaranya digunakan sebagai bahasa internasional untuk mempermudah masyarakat antar bangsa berkomunikasi satu sama lain. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa internasional yang penggunaannya begitu luas. Penggunaan yang sangat luas ini mengakibatkan terjadinya perubahan struktur dasar pada Bahasa Inggris, beberapa daerah bahkan memiliki versi bahasa Inggrisnya sendiri. Oleh karena itu, variasi dalam penggunaan bahasa Inggris mulai bermunculan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa salah satu contoh variasi Bahasa Inggris yang ditemukan dalam kartun Countryballs. Meskipun penggunaannya terbatas hanya pada kartun Countryballs, variasi bahasa Inggris ini sangat unik. Fokus penelitian ini menitik pada struktur variasi tersebut dengan menggunakan metode kualitatif dan menerapkan teknik pengambilan sampel dengan tujuan tertentu. Data yang dianalisa pada penelitian ini didapatkan dari sejumlah sosial media dan situs web. Dalam menganalisa strukturnya, penelitian ini berdasar pada penjelasan Tatabahasa dan Gaya oleh Simpson (2004). Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa variasi bahasa Inggris ini memiliki empat ciri struktural. Kata Kunci: Variasi bahasa Inggris, kartun Countryballs, tatabahasa dan gaya.   Abstract There exist billions of languages throughout the world, some of which are used as an international language helping people to communicate with one another easily. English is one of them; it is spoken so broadly that it may change from its proper structure, some regions even have their own version of English. Consequently, certain variation in English seems to begin emerging. This study aims at analyzing one example of English variations found in Countryballs cartoons. Despite its use is limited only in the cartoons, this particular variation is remarkably unique. This study specifically focuses on the structure of this English variation. This is a qualitative study applying purposeful data sampling which data were collected from various social media and web sites. This study analyzed the structure of this English variation based on an explanation of Grammar and Style by Simpson (2004). The findings show that this English variation has four structural characteristics. Keywords: English variation, Countryballs cartoons, grammar and style.  

Page 6 of 12 | Total Record : 115