cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
languagehorizon@unesa.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/language-horizon/about/editorialTeam
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Language Horizon: Journal of Language Studies
ISSN : -     EISSN : 23562633     DOI : -
Core Subject : Education,
Language Horizon is a peer-reviewed academic journal dedicated to publishing high-quality original research articles that explore a wide range of topics related to language and communication, with a particular emphasis on: Linguistics Phonetics and Phonology Morphology and Syntax Semantics and Pragmatics Sociolinguistics Psycholinguistics Corpus Linguistics Language Acquisition Language Typology Historical Linguistics Discourse Analysis Text Analysis Critical Discourse Analysis Conversation Analysis Narrative Analysis Multimodal Discourse Analysis Discourse and Social Interaction Discourse and Power Discourse and Ideology Translation Studies Translation theory and methodology Translation across different languages and contexts Literary translation Audiovisual translation Machine translation Corpus-Based Translation
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
DECEPTION ANALYSIS OF CHUTNEY WINDHAM IN LEGALLY BLONDE MOVIE MAKHFIANA, LAYYIN
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 1 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini difokuskan pada analisis isyarat kebohongan Chutney Windham dalam film Legally Blonde. Penelitian ini menggunakan teori isyarat kebohongan oleh Bachenko dan teori transitivitas oleh Halliday (1994) untuk menemukan isyarat kebohongan yang digunakan Chutney yang menjadi tersangka. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk penggumpulan data dan pendekatan diskriptif kualitatif karena data dari penelitian ini adalah perkataan Chutney yang tertulis di naskah. Hasil penelitian menunjukkan Chutney menggunakan isyarat kebohongan sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang ketiga, dan pengelakaan. Dia juga menggunakan isyarat kebohongan kata akal, pengelakan, pemenggalan informasi dan ekspresi negatif untuk menutupi kelemahan ingatannya. Lebih dari itu, dalam kasus lain, dia juga menggunakan pemenggalan informasi dan pengelakan dalam mengevaluasi pernyataannya dan menata ulang deklarasinya tersebut. Negasi No dan kegagapan dalam berbicara, kata Ya dengan nada panjang berkontribusi untuk memperkuat pernyataan Chutney saat dia mencoba membuat pembenaran. Kata Kunci : Kebohongan, Chutney Windham, Legally Blonde   ABSTRACT This research concentrated on the analysis of Chutney Windham’s deception cues in Legally Blonde movie. This research uses Bachenko’s theory of deception cues  and theory of transitivity by Halliday (1994) to know the deception cues used by Chutney who is as the suspect. This research used documentary study for collecting data and a descriptive qualitative approach because th data of this research were the written utterances of Chutney in the script. The results of this research show Chutney uses deception cues of third self oriented pronoun, person oriented, and equivocation. She also used deception cues of sense word, equivocation, specificity reduction and negative expression to cover lack of memory. Yet, in another case she also used specified reduction and equivocation in evaluating her statement and rearranging her declaration. Negation form no and speech disfluency, the longer form of yes contributes to strengthen Chutney’s statement when she tried to make justification. Key Terms: Deception, Chutney Windham, Legally Blonde
SPEECH ACT CLASSIFICATION IN DONALD TRUMP’S POLICY-CAMPAIGN OF THE UPCOMING PRESIDENTIAL ELECTION USA 2017 SURYANI AYU F., ARVIN
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 1 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas mengenai klasifikasi tindak tutur pada kampanye kebijakan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat 2017. Disinyalir Donald Trump menghimpun kekuatan dan pidatonya mengandung rasisme. Namun di sisi lain, pidatonya dapat mempengaruhi orang lain. Penelitian ini akan terfokus pada dua rumusan masalah; (1) Apa saja klasifikasi tindak tutur yang muncul dalam kampanye Donald Trump? dan (2) Bagaimana Donald Trump membangun kampanyenya dengan menuturkan kata-kata rasis? Maka dari itu, untuk menyelesaikan penelitian ini, metode deskriptif kualitatif diterapkan dengan menggunakan metode observasi tidak langsung, dikarenakan objek media yang digunakan adalah video. Penelitian ini menerapkan teori analisis wacana kritis dikombinasikan dengan pragmatik dalam menganalisa data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Donald Trump lebih sering menggunakan tindak tutur deklaratif dan direktif untuk menekankan kekuatannya dalam kampanye. Selain itu, kampanyenya juga memiliki kecenderungan rasisme. Kata kunci: kampanye, Donald Trump, rasisme   Abstract This study is about the speech act classification in Donald Trump’s policy-campaign of the upcoming presidential election USA 2017. It is found that Donald trump is gaining power, and his speech includes racism. But on the other hand, his speech might influence other people. The center of this study is focusing on two problems; (1) What are the speech acts classification appeared in Donald Trump’s campaign? and (2) How did he build his campaign by showing remarks of racism? To finish this study, the method applied was descriptive qualitative using observation non-participatory technique since it is a video. In this study, the theory of Critical Discourse Analysis and pragmatics point of view were applied to analyse the data. The finding showed that declarative and directive as the speech act classification were mostly used by Donald Trump to emphasize his power. Besides those utterances, there were also remarks of speech that showed Donald Trump had tendency in racism.   Keywords: campaign, Donald Trump, racism
TRANSITIVITY FOR REVEALING IDEOLOGY OF ENGLISH UNIVERSITY TAGLINE IN INDONESIA ROSITA APRILIANI, LELA
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 1 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini fokus terhadap analisis transitivitas untuk mengungkapkan ideologi pada slogan universitas berbahasa inggris di indonesia. Penelitian ini menggunakan teori ideologi oleh Van Djik (1998) untuk mengungkapkan ideologi sebagai identitas pada slogan universitas berbahasa inggris di indonesia melalui teori transitivitas oleh Halliday (1994) berdasarkan pertanyaan penelitian; bagaimana ideologi yang direfleksikan oleh analisis transitivitas pada slogan universitas berbahasa inggris di Indonesia? Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk pengumpulan data dan pendekatan diskriptif kualitatif karena data dari penelitian ini yaitu kata, frasa, dan kalimat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hanya ada satu tipe proses transitivitas yang digunakan oleh slogan universitas berbahas inggris di indonesia dalam mengungkapkan ideologi pada slogan universitas berbahasa inggris di indonesia. Tipe proses transitivitas tersebut yaitu proses relasional. Proses yang lain seperti proses material, proses mental, proses verbal, proses behavioral, dan proses wujud tidak dianalisis karena proses-proses tersebut tidak ditemukan. Proses relasional pada slogan universitas berbahasa inggris ini digunakan sebagai cara universitas di indonesia untuk mengklasifikasikan, mendiskripsikan dan mendefinisikan ide mereka. Proses tersebut juga digunakan untuk mendefinisikan ide mereka terhadap ideologi sebagai identitas. Melalui proses tersebut, tiap slogan unniversitas berbahasa inggris di indonesia ingin menunjukkan identitas mereka yang mana dikaitkan dengan visi dan tujuan universitas. Kata Kunci: transitivitas, ideologi sebagai identitas, slogan universitas, Indonesia     ABSTRACT   This research focuses on the analysis of transitivity for revealing ideology of English university tagline in Indonesia. This research uses the theory of ideology by Van Djik (1998) to reveal the ideology as identity in English university tagline in Indonesia through transitivity by Halliday (1994) based on the research question; how are the ideologies reflected on transitivity analysis found in English university tagline in Indonesia? This research used documentary study for collecting the data and descriptive approach because the data were words, phrases, and sentences. The results of this research show that there is only one type of transitivity process used by English university tagline in Indonesia for revealing ideology of English university tagline in Indonesia. It is relational process. Other processes like material process, mental process, verbal process, behavioral process, and existential process are not analyzed because those processes are not found. Relational process in this English university tagline is used as the way for the universities in Indonesia to classify, describe, and define their idea. It is also used to define their idea toward ideology as identity. Through relational process, each English university tagline in Indonesia wants to show their identity which is related to the vision and the goal of the university.   Keywords: transitivity, ideology as identity, English university tagline, Indonesia
A COGNITIVE APPROACH TO TRANSLATE METAPHOR IN JACK LONDON’S THE CALL OF THE WILD LISTIANA, RATNA
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 1 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendekatan kognitif bisa menjadi alternatif untuk memahami terjemahan metafora. Dalam semantik kognitif, pengertian metafora berarti ekspresi dari konsep abstrak dalam bentuk empiris. Penelitian ini berfokus dalam menganalisis pendekatan kognitif untuk menerjemahkan metafora dalam sebuah novel, The Call of the Wild karya Jack London. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan untuk menganalisis data digunakan teori dari Lakoff dan Johnson (1980a) tentang pendekatan kognitif untuk menerjemahkan metafora, dan Newmark (1988b) tentang strategi untuk menerjemahkan metafora. Hasil dari penilitian menujukkan bahwa kognitif semantik dalam strategi untuk menerjemahkan metafora tidak membuat perubahan dalam makna, karena penulis tetap memberi makna metafora yang sesuai dalam versi terjemahan dari novel. Strategi-strategi untuk menerjemahkan metafora terdiri dari (1) membentuk ulang citra yang sama dalam bahasa target, the heart of civilization menjadi jantung peradaban, (2) mengganti citra di bahasa sumber dengan citra standar bahasa target, every tide-water dog menjadi semua anjing salju, (3) menerjemahkan metafora dengan kiasan, the moon-flooded snow menjadi gundukan salju seputih rembulan, (4) mengubah metafora ke dalam maknanya, the foot of Lake Le Barge  menjadi ujung Danau Le Barge, (5) menghapus metafora all’ll go well and the goose hang high menjadi semuanya akan berjalan baik. Kata Kunci: penerjemahan, metafora, strategi penerjemahan, kognitif semantik.   Abstract The cognitive approach can be an alternative to understand the translation of metaphor. In the cognitive semantics, the notion of metaphor stands for the expression of abstract concepts in the form of empirical ones. This study focuses on analyzing the cognitive approach to translate metaphor in a novel, The Call of the Wild by Jack London. This study uses descriptive qualitative method and to analyze the data, it uses theory by Lakoff and Johnson (1980a) cognitive approach to translate metaphors, and Newmark (1988b) the strategies to translate metaphors. The result of this study showed that the cognitive semantics in the strategies to translate metaphor does not make any different in meaning, because the author still gives the appropriate of meaning of metaphor in the translated version of this novel. The strategies to translate metaphor consist of (1) reproducing the same image in the target language, , the heart of civilization into jantung peradaban, (2) replacing the image in the SL with standard TL image, every tide-water dog into semua anjing salju, (3) translating metaphor by simile, the moon-flooded snow into gundukan salju seputih rembulan, (4) converting a metaphor to its sense, and (5) deleting the metaphor, all’ll go well and the goose hang high into semuanya akan berjalan baik. Keywords: translation, metaphor, translation strategy, cognitive semantics.  
TRANSLATION EQUIVALENCE OF SWEARWORD IN THE WALKING DEAD COMIC Anggraini, Diana
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 1 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Mengumpat merupakan salah satu dari fenomena  di masyarakat yang di gunakan dalam percakapan atau dialog dalam berbagai media; salah satunya adalah komik The Walking Dead. Bertahan dalam pasca-apokaliptik zombi membuat karakter – karakter dalam komik mengumpat dengan tidak sengaja. Studi ini menggunakan teori Bell (1991) untuk mengetahui  bagaimana padanan kata makian dalam terjemahan menurut teknik penerjemahan yang diusulkan oleh teori Davoodi (2009). Penelitian ini mengaplikasikan metode deskriptif qualitatif. Data penelitian ini diambil dari pengelompokan dan analisis dialog para tokoh dalam komik yang mengandung kata umpatan. Instrumen yang digunakan untuk membantu penelitian ini adalah laptop. Penelitian ini menunjukkan bahwa semua teknik penerjemahan digunakan dalam menerjemahkan kata umpatna. Teknik – teknik tersebut adalah teknik sensor seperti what a gloomy goddamn day yang diterjemahkan menjadi sepertinya mendung, teknik penggantian dengan contoh Oh fuck! Yang diterjemahkan menjadi Astaga!, teknik tabu ke tabu dengan contoh fuck you yang diterjemahkan menjadi dasar berengsek dan teknik eufemisme dengan contoh Jesus yang diterjemahkan menjadi Ya Tuhan. Hasil penelitian dari menerjemahkan kata umpatan juga ditemukan bahwa terdapat pergeseran bentuk, pergeseran makna, and tema. Kata Kunci: penerjemahan, kata umpatan, padanan kata, komik   Abstract Swearwords as one of phenomenon in society are used in conversation or dialogue of numerous media; one of them is in the comic The Walking Dead. Surviving in zombie apocalypse make the characters unintentionally do swearing. This research used theory of Bell (1991) to analyze how equivalence of swearword translation based on its translation technique proposed by Davoodi (2009). This research used descriptive qualitative method. The data were collected by gathering and analyzing the dialogs from The Walking Dead comic characters which contain swearword. The instrument of this research is the researcher herself who used laptop to help collecting the data. This research finds that all of the techniques are used to translate swearword. They are censorship technique such as what a gloomy goddamn day is translated into sepertinya mendung, substitution technique such as Oh fuck! Translated into Astaga!, taboo for taboo technique such as fuck you translated into dasar berengsek, and euphemism technique such as Jesus translated into  Ya Tuhan. The translation result of translating swearword also has shift of form, shift of meaning, and theme. Keywords: Translation, Swearword, Equivalence, Comic
GENDER FEATURE IN WOMEN AND MEN’S SKIN CARE ADVERTISEMENTS DINA, MARIYAMA
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 1 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Studi ini membahas fitur-fitur gender yang digunakan pada iklan perawatan kulit wanita dan pria. Ditemukan bahwa iklan wanita tidak hanya menggunakan fitur wanita tapi juga menggunakan fitur pria dan sebaliknya. Namun, fenomena itu bisa terjadi karena pria belajar bahasa pertama mereka dari ibu mereka yang menggunakan bahasa wanita. Di sisi lain, wanita juga menggunakan bahasa pria karena mereka memiliki kesempatan yang sama untuk bersosialisasi dengan orang-orang di luar, di mana hal itu membuat mereka beradaptasi, belajar dan meniru lebih banyak bahasa. Dengan demikian, penelitian ini berfokus pada masalah: fitur-fitur gender apa saja yang ditemukan pada iklan perawatan kulit wanita dan pria? Untuk menyelesaikan penelitian ini, metode kualitatif deskriptif diterapkan. Selain itu, karena objek penelitian ini adalah video, observasi non partisipatif dan dokumentasi diaplikasikan sebagai teknik mengumpulkan data. Penelitian ini menerapkan teori fitur gender dari Lakoff dan Mulac untuk menganalisis data. Hasilnya menunjukkan bahwa iklan wanita dan pria memiliki beberapa perbedaan dalam penggunaan fitur gender meskipun penggunaanya berkebalikan. Perbedaannya terletak pada penggunaan kata sifat. Meskipun pria menggunakan fitur ini, mereka menggunakan kata sifat yang netral seperti keren dan kuat, sedangkan wanita tetap menggunakan kata sifat wanita seperti halus, lembut dan cantik. Kata Kunci: fitur gender, periklanan, persangkaan, perawatan kulit.   Abstract This study is discussing about the gender features that are used in women and men’s skin care advertisements. It is found that women’s advertisements are not only using women’s features but also using men’s feature and vice versa. Yet, that phenomenon can happen because men learned their first language from their mother whose used women’s language. On the other hand, women also used men’s language because they have same opportunity to socialize with people in the outside where make them adopted, learned and imitated more languages. Thus, this study focuses on a problem: what are the gender features found in women and men’s skin care advertisements? In order to finish this study, descriptive qualitative method is applied. In addition, since the object of this study is video, observation non-participatory and documentation is applied as the techniques to collect the data. This study applied Lakoff and Mulac’s theory of gender feature to analyze the data. The results showed that women and men’s advertisements are having some differences in the use of gender feature although the use is vice versa for women and men. The differences are laid on the use of empty adjective feature. Even though men use this feature, they use the neutral adjective such as cool and strong, while women use women adjective such as smooth, soft, and beautiful. Keywords: gender feature, advertisement, skin care.
ENGLISH ADAPTATION IN INDONESIAN BANNER: PHONOLOGICAL PERSPECTIVE ARNAS PRAHASTO, ROKHMAD
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 2 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini fokus terhadap adaptasi bahasa Inggris dalam spanduk berbahasa Indonesia: perspektif fonologi. Penelitian ini menggunakan teori oleh Jensen (2004), Katamba (1995), dan Yule (2010) untuk menemukan tipe proses fonologi adaptasi bahasa Inggris dalam spanduk berbahasa Indonesia. Oleh karena, data dari penelitian ini diperoleh dari spanduk-spanduk berbahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif. Alasan menggunakan pendekatan tersebut karena data berupa kata-kata dari pada ke bilangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada lima tipe proses fonologi adaptasi bahasa Inggris dalam spanduk-spanduk berbahasa Indonesia, yaitu pemendekan, penghapusan, asimilasi, penambahan, dan disimilasi. Proses lain tidak dianalisis karena proses-proses yang lain tidak ditemukan. Tipe-tipe ini ditemukan dalam spanduk-spanduk berbahasa Indonesia yang digunakan untuk beradaptasi dengan bahasa penerima dan juga untuk membuat penyesuaian pada sistem. Kata Kunci: adaptasi bahasa Inggris, spanduk berbahasa Indonesia, proses fonologi                   Abstract This research focuses on English adaptation in Indonesian banner: phonological perspective. This research uses theory from Jensen (2004), Katamba (1995), and Yule (2010) to find out the types of phonological process of English adaptation in Indonesian banners. Since the data of this research were taken from Indonesian banners. This research used descriptive qualitative approach. The reason using this approach because the data were words rather than number. The results of this research show that there are five types of phonological process of English adaptation in Indonesian banners, they are shortening, deletion, assimilation, insertion, and dissimilation. Other processes are not analyzed because those processes are not found. These types found in Indonesian banners are used to adapt with recipient language and also to make a fit to the system. Key words: English adaptation, Indonesian banner, phonological process
RHETORICAL TECHNIQUES ON REDDIT’S RACIST JOKES LUTFI S, RIZKY
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 2 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study will be focus on analyzing the racist jokes in Reddit’s dark humor forum, from rhetorical perspective. This research uses theory of rhetorical technique by Berger (1995) to identify the techniques used by the creator of humor. The data was taken from Reddit, and the research employed descriptive qualitative method, embracing the characteristics of a qualitative texts analysis. The results of this research shows that among the four categories of rhetorical techniques proposed by Berger, there are only three categories that were found in the data, those are; Language-based, Logic-based, and Identity-based. The last category which is Visual-based technique, was not found in the data, since the data was in a form of texts, instead of picture or video. Keywords: Racist Joke, Rhetorical Techniques .   Abstrak Studi ini akan fokus menganalisa lelucon rasis yang ada di forum dark humor Reddit, melalui perpektif retorika. Penelitian ini menggunakan teory teknik retorika oleh Berger (1995) untuk mengidentifikasi eknik-teknik yang digunakan oleh pencipta humor. Data-data diambil dari Reddit, dan penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian deskriptif kualitatif, yang memegang karakteristik dari analisa teks kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan diantara empat kategori dari teknik retorika yang di kemukakan Berger, hanya ada tiga kategori yang diketemukan pada data, di antaranya; Languange-based, Logic-based, dan Identity-based. Kategori terakhir yaitu tenik Visual-based, tidak di ketemukan karena data yang di ambil berbetuk tulisan, bukanlah gambar atau video. Kata Kunci: Lelucon Rasis, Teknik Retorika.
THE USE OF SPEECH ACTS FOR GIVING MOTIVATION IN THE KING’S STUTTERING THERAPY IN THE “THE KING’S SPEECH” MOVIE HADI SYAFII, INDRAWAN
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 2 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Speech acts are one of linguistic feature that describes actions performed via utterances which need theory of giving motivation for the further and specific effect of speaker commanding indirectly. The stuttering therapy is kind of psychology disorder. Giving motivation is one of psychology disorder treatment, such as stuttering problem. This study focuses on how the influence of giving motivation elements through speech acts correlating with the successful commanding of Lionel to make The King do the steps of stuttering therapy. This research uses descriptive qualitative method using the main theory of speech acts by J. R. Searle (1972) and theory of giving motivation by Daniel Goleman (1995). The data analysis requires the process of (1) ordering the data based on each sub sections speech acts and giving motivation; (2) explaining the influence of giving motivation through speech acts. The result shows that this study has found elements of giving motivation by using speech acts used by Lionel Logue in the movie. They are initiative, commitment, optimism, and personal drive. Each of the strategies has their own function and effect to interlocutor depending on the topic and meaning.   Keywords: Speech acts, giving motivation, stuttering therapy   Abstrak   Tindak tutur adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang menggambarkan tindak tutur dari sebuah percakapan yang membutuhkan teori memberi motivasi untuk efek lebih lanjut dan spesifik terhadap perintah pembicara secara tidak langsung. Terapi kegagapan adalah salah satu macam dari gangguan psikologi. Memberi motivasi adalah salah satu perlakuan penyembuhan untuk pasien dengan gangguan psikologi, seperti contohnya masalah kegagapan. Penelitian ini fokus pada bagaimana pengaruh elemen dari memberi motivasi dengan menggunakan tindak tutur yang berhubungan dengan kesuksesan perintah Lionel untuk membuat The King melakukan tahapan-tahapan terapi kegagapan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori tindak tutur sebagai teori utama oleh J. R. Searle (1972) dan teori memberi motivasi dari Daniel Goleman (1995). Data analisa meliputi proses (1) mengelompokkan data berdasarkan klasifikasi tindak tutur dan memberi motivasi dan (2) menjelaskan pengaruh memberi motivasi dengan menggunakan tindak tutur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penelitian ini telah menemukan elemen-elemen dari memberi motivasi dengan menggunakan tindak tutur yang digunakan oleh Lionel Logue di dalam film. Elemen-elemnt dari memberi motivasi tersebut adalah inisiatif, komitmen, optimis, dan tujuan pribadi. Masing-masing strategi tersebut mempunyai fungsi dan efek terhadap lawan bicara bergantung pada topik dan arti dari tindak tutur tersebut. Kata kunci: tindak tutur, memberi motivati, terapi kegagapan
THE FACE-THREATENING ACTS ANALYSIS: DECLARATION OF LESBIAN, JENNY TOWARD HER FAMILY IN JENNY’S WEDDING MOVIE YUNIKA INGGERANIDIA, SENDY
LANGUAGE HORIZON Vol 5, No 2 (2017):
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Bahasa merupakan sesuatu yang penting yang digunakan setiap orang untuk berinteraksi di masyarakat. Setiap kata yang diucapkan oleh penutur memiliki sebuah arti dan tujuan, baik secara langsung atau tidak langsung dan secara jelas atau samar. Setiap ungkapan memiliki potensial untuk mengancam muka. Segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginan wajah penutur dan bagian perkataan adalah termasuk dalam tindak mengancam muka. Studi ini bertujuan untuk menganalisa tindak mengancam muka berdasarkan pada teori Brown dan Levinson.  Film “Jenny’s Wedding”adalah film 2015 American independent film yang ditulis oleh Mary Agnes Donoghue yang mengisahkan tentang Jenny, sebagai pemeran utama, seorang lesbian yang ingin mengungkapkan siapa sebenarnya dirinyayang selama ini dia sembunyikan, dan juga dia ingin menegaskan kepada keluarganya bahwa dia akan menikah dengan Kitty. Studi ini menginvertigasi bagaimana pengancaman muka yang dilakukan oleh Jenny terhadap keluarganya ketika dia memberitahukan bahwa dia seorang lesbian dan akan menikah, tujuannya, faktor apa saja yang menyebabkan Jenny menggunakan tindak mengancam muka dan bagaimana respon dari lawan bicaranya. Sebagai hasil, terdapat 24 tindak mengancam muka dari 3 bentuk tindak mengancam muka (tindak mengancam muka positif pendengar, tindak mengancam muka negatif pendengar, dan tindak mengancam muka positif penutur) dan 4 strategi mengancam (secara langsung, kesopanan positif, kesopanan negatif dan secara samar atau tidak langsung) telah ditemukan. Ada 3 faktor yang menyebabkan Jenny menggunakan tindak mengancam muka; kekuatan, jarak dan rangking posisi. Untuk respon dari lawan bicara Jenny, diam adalah respon yang paling banyak ditemukan dalam analisa. Kata Kunci: Tindak Mengancam Muka, Strategi Pengancaman, Jenny’s Wedding Movie  Abstract Language is an important thing that people use to interact in society. Every word has a meaning and purpose, either directly or indirectly. In every speech must have the potential to threaten the face. Any action contrary to the face desired by the speaker and the spoken partner is included in the act of threatening the face. This study in purpose to analyze the face-threatening act based on Brown and Levinson’s theory. “Jenny’s Wedding” movie as a 2015 American independent film written by Mary Agnes Donoghue which is about Jenny as the main character, who is a lesbian coming out that she has been hiding about who she is, also asserts her family that she is going to get married with her partner, Kitty. This study investigated how face threatening constructed when Jenny declare that she is lesbian and going to get married toward her family, what the purpose, what the factor affecting and how the interlocutor’s responses. As the result, there are 24 threatening acts from 3 kinds of face-threatening acts (face-threatening acts the hearer’s positive face, face-threatening acts the hearer’s negative face and face-threatening acts the speaker’s positive face) and 4 main threat strategies (on-record or direct, positive politeness, negative politeness and off-record or indirect) were founded. The factors affecting Jenny’s use of threatening acts: the interlocutor, power, social distance, and ranking of imposition. The interlocutor’s response toward Jenny’s use of threats, silence was the most frequent response. Keywords: Face Threatening Acts, Threat Strategies, Jenny’s Wedding Movie.   

Page 8 of 12 | Total Record : 115