cover
Contact Name
Eko Ariwidodo
Contact Email
ekarwdd@gmail.com
Phone
+62324118708113289009
Journal Mail Official
jurnalkarsa@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Madura, R. Rumah Jurnal, Gedung Rektorat Lt.4, Jl. Raya Panglegur km.4 Tlanakan, Pamekasan 69371 Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman (Journal of Social and Islamic Culture)
ISSN : 24423289     EISSN : 24424285     DOI : https://doi.org/10.19105
Core Subject :
KARSA Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman has reflected the Universitas Islam Negeri Maduras strong commitment to publishing the best of multidisciplinary research, arts and humanities, social studies, cultural studies, including decision studies, gender studies, theoretical or empirically grounded, contemporary or interdisciplinary research in a social and artistic investigation, especially in sociocultural studies and related areas on Southeast Asia, Western Europe, and Indo Pacific region. Karsa is designed to appeal to both regional and global audiences. This journal aims to promote excellent, agenda-setting scholarship and provide a forum for dialogue and collaboration within and beyond the region. KARSA engages in wide-ranging and in-depth discussions attuned to the regions issues, debates, and imperatives while affirming the importance of learning and sharing ideas on a cross-country and global scale. An integral part of the journals mandate is to foster scholarship that is capable of bridging the continuing divide in area studies between sociological issues, halal research, environmental issues or ecological modelling, decision issues for government policy, gender issues, comparative religion issues, religious or theological issues, philosophy, political issues, ethnic studies, and other humanities issues, on the one hand, and the Islamic cultural studies on the other hand. KARSA also refers to research and social issues that specialize in the Islamic culture and humanities of the different states and ethnic groups of Southeast Asia, Western Europe, and the Indo Pacific.
Arjuna Subject : -
Articles 362 Documents
DUA KEBENARAN DALAM NASKAH SUNDA CARIOS TAMIM Rohim Rohim
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 21 No. 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v21i2.522

Abstract

Artikel ini bertujuan menghadirkan teks naskah Sunda Carios Tamim yangberbentuk wawacan melalui suntingan teks dan analisis struktur. Selainsuntingan teks dan analisis struktur, untuk mengetahui keterpaduanperistiwa dalam mengeksplorasi tokoh digunakan teori aktan dan modelfungsional yang dikembangkan oleh Greimas. Dari hasil pembahasandiperoleh simpulan bahwa struktur formal Carios Tamim menggunakan 14jenis pupuh dengan 390 bait, 2644 larik dengan tiga unsur pembangun ceritayaitu manggala, isi cerita, dan penutup. Hasil analisis struktur teks naratifCarios Tamim ditemukan jalinan erat alur, tokoh, penokohan, dan latar sehingga terungkap tema cerita yaitu tegaknya kebenaran di antara duakebenaran. Kebenaran dalam teks Carios Tamim berhubungan denganmasalah munâkahah (pernikahan).  Berdasarkan uraian aktan dan modelfungsional  yang diajukan oleh Greimas, tokoh Tamim Ibnu Habib Al-Dâridan istrinya sebagai subjek berhasil memperoleh objek berkat peristiwa yangdialami keduanya saling berkaitan dalam hubungan sebab akibat.
EFEK ESTETIK DAN MAKNA DALAM PUISI YANG BERNAFASKAN ISLAM Akhmad Taufiq
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 21 No. 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v21i2.523

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan bunyi bahasa ditinjau dari aspek efek estetikdan makna. Ditinjau dari aspek estetik dan makna, kajian terhadap bunyibahasa menarik dilakukan. Dalam kajian ini digunakan metode analisisfonem; yakni pada fonem vokal dan konsonan. Terdapat lima jenis vokal,yakni /a/,/i/,/u/,/e/,/o/, dan enam fonem konsonan/p/,/b/,/m/,/h/,/?/,/ng/ yang dianalisis. Hasil analisis dari kajian inimenyatakan bahwa bunyi bahasa, secara khusus berupa fonem vokal dankonsonan dapat menimbulkan efek estetik dan efek makna. Efek estetiktersebut dapat muncul dengan bertolak dari daya imajinatif yangditimbulkan. Efek makna dalam konteks tersebut dapat ditimbulkan darinilai rasa tertentu, baik hal itu pengaruh dari fonem vokal maupunkonsonan. Dalam puisi yang bernafaskan Islam juga tidak luput dalampenggunaan kekuatan bunyi bahasa itu dalam rangka memperkuat dayaimpresinya kepada pembaca. Lebih lanjut, hasil kajian ini dapatdikembangkan lebih luas, misalnya terhadap efek estetik dan maknavarian-varian fonem vokal dan fonem konsonan yang lain, yang belumdibahas dalam tulisan ini.
REPRESENTASI PESAN-PESAN DAKWAH DALAM FILM AYAT-AYAT CINTA Sri Wahyuningsih
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 21 No. 2 (2013): ISLAM, BUDAYA DAN BAHASA
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v21i2.524

Abstract

Film memiliki potensi untuk memengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan dibaliknya. Salah satu film yang cukup fenomenaladalah film Ayat-Ayat Cinta. Film ini sarat dengan pesan-pesan dakwah.Karenanya, kajian ini dilakukan untuk mengetahui representasi pesan-pesandakwah secara verbal dan nonverbal dalam film Ayat-Ayat Cinta. Kajian inimenggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisissemiotika Roland Barthes untuk mengetahui makna denotatif, maknakonotatif, dan mitos/ideologi yang tersembunyi dalam film tersebut. Teknikpengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, studi kepustakaan,dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film AyatAyatCinta merupakan film yang merepresentasikan pesan-pesan dakwah,baik  pesan verbal maupun pesan nonverbal. Pesan-pesan dakwah verbal adayang bersifat mengajak, seperti anjuran menikah, menjunjung tinggiperempuan, dan berperilaku adil dalam berpoligami, hubungan sesamaMuslim. Ada yang bersifat melarang, seperti dilarang bersentuhan denganyang bukan mahramnya. Demikian juga, pesan-pesan dakwah nonverbal adayang bersifat mengajak, seperti menjaga pandangan untuk menghindari zinamata dan mengerjakan shalat sebagai media komunikasi spiritual, dan adayang bersifat melarang, seperti aurat laki- laki.
KALEBUN BEBINI’ (Kontruksi Budaya Masyarakat Madura dalam Melestarikan Kekuasaan) Tatik Hidayati Hidayati
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.525

Abstract

Fenomena kalebun bebini’ (kepala desa perempuan) pada masyarakat Madura yang semakin merebak, tidak jarang hanya sebagai penerus dan melestarikan kekuasaan yang sebelumnya dimiliki oleh suami, bapak atau bahkan kakek mereka. Sehingga tulisan ini bermaksud mengungkap: Pertama: bagaimana konstruksi budaya Madura tentang peran dan posisi perempuan sebagai kalebun. Kedua: bagaimana mekanisme yang dilakukan oleh kaum laki-laki dalam menempatkan perempuan sebagai penerus kekuasaan politik pada kekuasaan desa (kalebun). Ketiga, bagaimana relevansi potensi dan kompetensi perempuan dalam posisinya sebagai Kalebun. Selanjutnya tulisan ini akan menggunakan empat pendekatan Pertama: pendekatan subyektif, dimaksudkan untuk mengetahui alasan atau motif serta apa yang sebanarnya yang diinginkan perempuan ketika menjabat sebagai kalebun, dalam faktanya posisi kalebhun yang diperankan tidak lebih dari keinginan outside view. Kedua, pendekatan relasional, yaitu melihat pola relasi yang terbangun dalam keluarga dan masyarakat anatara laki-laki dan perempuan. Pada konteks ini proses menjadi kalebun bebhini’ telah memunculkan relasi dominatif dan subordinat melalui public transcript. Ketiga, pendekatan struktural, institusi kalebun dimaksudkan untuk membuat tatanan masyarakat yang bermartabat, dikotori oleh praktik-praktik politik kekuasaan yang tanpa makna dengan membolehkan berbagai cara, termasuk menjadi perempuan sebagai obyek keberlangsungan kekuasaan. Keempat, tulisan ini sebagai seruan moral untuk membangun kesadaraan kolektif untuk mengedepankan politik makna, dengan menjunjung integritas dalam kepemimpinan.
PERILAKU POLITIK KELAS MENENGAH MADURA Fathol Haliq
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.526

Abstract

Politik sebagai permainan seringkali menghadirkan paradoks bagi aktor politik. Masa Orde Baru, perilaku politik menghadirkan anomali yang menghadapkan masyarakat (civil society) dengan pemerintah, wacana pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) melahirkan BASSRA vis-a-vis Orde Baru. Orde Reformasi, setelah keruntuhan Orde Baru, Mei 1998, para ulama’ BASSRA tersedot ke lembaga legislatif dan eksekutif. Mereka telah menjadi bagian dari negara (state) sehingga—seharusnya—orang yang dulunya “berjuang bersama masyarakat” mengimplementasikan apa-apa yang telah diserap dalam masyarakat. Artikel hasil riset di Bangkalan dan Sumenep ini merupakan riset yang membahas dinamika perilaku politik kelas menengah Madura, terutama setelah keruntuhan Orde Baru, 21 Mei 1998 dan selesainya Pembangunan Jembatan Suramadu, 10 Juni 2009.
POLA KOMUNIKASI KELOMPOK PETANI TEMBAKAU MADURA SEBAGAI BASIS PENYUSUNAN KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN EKONOMI POLITIK Tatag Handaka; Surokim -
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.527

Abstract

Penelitian ini meneliti tentang pola komunikasi kelompok petani tembakau di 3 (tiga) wilayah sentra penghasil tembakau di Madura, yaitu Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Selain itu juga meneliti tentang bagaimana kebijakan pemberdayaan ekonomi politik petani tembakau di Madura. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi kelompok, ekonomi politik dan kebijakan publik. Paradigma penelitian yang digunakan interpretif, jenis penelitian kualitatif, metode penelitian deskriptif dan instrumen penelitian observasi terlibat, wawancara dan FGD. Pola komunikasi kelompok petani tembakau terbentuk melalui tiga isu yaitu, pengadaan bibit, pupuk dan pemasaran. Opinion leader dalam komunikasi kelompok adalah klebun, pengurus pembibitan, pedagang pupuk dan juragan/bandhol.
PERAN DAN FUNGSI PARTAI POLITIK ISLAM SEBAGAI RUMAH ASPIRASI MASYARAKAT (Studi Kasus di DPW PPP Jatim) Nurul Azizah
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.528

Abstract

Tulisan ini mengulas peran dan fungsi dari partai politik Islam; sebagai penyerap aspirasi masyarakat dengan studi kasus di DPW PPP Jatim. Adapun Rumusan masalah secara spesifik adalah; (1) Bagaimanakah Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (DPW PPP) Propinsi Jawa Timur mengimplementasikan Undang-Undang  No. 2/2008 tentang Partai Politik dalam mengaktualisasikan fungsinya sebagai sarana penyalur aspirasi masyarakat. (2) Bagaimanakah pola komunikasi politik dalam penjaringan aspirasi masyarakat yang dilakukan Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan ( DPW PPP ) Propinsi Jawa Timur. Perspektif kajiannya adalah sosial politik. Penelitian ini dilakukan di Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Propinsi Jawa Timur. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan model fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Implementasi Undang-undang No.02 Tahun 2008 tentang Partai Politik telah dilakukan secara baik oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan Propinsi Jawa Timur dalam mengaktualisasikan fungsinya sebagai penyalur aspirasi masyarakat. (2) Komunikasi politik Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan sebagai penyalur aspirasi masyarakat sebagian besar telah dilakukan oleh para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Jawa Timur. Tiga fungsi yang tersebut adalah; fungsi legeslatif, fungsi controling/ pengawasan, dan fungsi budgeting/ anggaran telah dilaksanakan oleh para anggota DPRD Jatim dari Fraksi Persatuan Pembangunan.
MODEL PEMBINAAN LEMBAGA SOSIAL DALAM PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT USING Sri Yuniati; Suyani Indriastuti; Agung Purwanto
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.530

Abstract

Lembaga sosial sebagai asosiasi berperan dalam meningkatkan produktivitas masyarakat suku Using. Peran lembaga sosial dalam hal ini lembaga seni  berkaitan dengan pengembangan budaya sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat suku Using. Namun peran tersebut belum optimal dalam menunjang produktivitas masyarakat suku Using karena kurangnya peran dan dukungan dari pemerintah daerah setempat. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model pembinaan lembaga sosial dalam peningkatan produktivitas masyarakat suku Using. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, diskusi, dan dokumentasi serta dianalisis dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan lembaga sosial yang ada di masyarakat Using belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Meskipun pemerintah daerah sudah membuat beberapa kebijakan untuk memberdayakan lembaga sosial namun belum sepenuhnya dirasakan oleh lembaga sosial. Oleh karena itu perlu ada pembinaan terhadap lembaga sosial khususnya lembaga seni agar mereka terpacu untuk meningkatkan produktivitasnya.
PERGOLAKAN POLITIK ANTARA TOKOH MUSLIM DAN NASIONALIS PADA SAAT PENENTUAN DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA Imam Amrusi Jailani
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.531

Abstract

Pengkajian yang  menggambarkan moment-moment krusial dan bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia menjelang dan sesaat setelah proklamasi kemerdekaan amatlah urgen. Sudah dimaklumi bahwa terdapat dua faksi yang keduanya saling berkompetisi dalam menentukan dasar Negara Republik ini, yaitu  kalangan Islam, yang berpendirian bahwa dasar Negara dari bangsa Indonesia harus Islam, dan golongan golongan nasionalis “sekuler” yang memandang bahwa Negara Republik Indonesia, harus berdasarkan atas kebangsaan, bukan Islam. Memang diakui bahwa mayoritas tim perumus yang tergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) adalah Muslim, namun pada kenyataannya mereka tidak seia sekata dalam memposisikan Islam sebagai dasar negara, dan akhirnya dicapai kesepakatan bahwa dasar Negara republik Indonesia adalah Pancasila. Pencapaian konsesus tersebut merupakan kredit point tersendiri, khususnya mengenai jiwa besar para elit atau tokoh Muslim dengan menerima Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Bagi mereka, kepentingan bangsa dan Negara berada di atas segala-galanya. Tendensi golongan, apalagi kepentingan pribadi, untuk sejenak dilupakan, demi kepentingan umat dan bangsa.
AGAMA DAN KEKUASAAN POLITIK NEGARA Nor Hasan
KARSA Journal of Social and Islamic Culture Vol. 22 No. 2 (2014): ISLAM, BUDAYA DAN POLITIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v22i2.532

Abstract

Agama dan negara adalah dua entitas yang sama-sama berfungsi bagi kehidupan manusia. Jika  negara berada pada dimensi kekinian manusia yang sekuler,memenuhi kebutuhan hidup di dunia, maka agama berperan pada dimensi relegius, menyeberang dari dimensi kekinian ke alam dimasa datang.  Sejatinya keduanya berdiri sejajar, namun dalam realitasnya memiliki dinamika tersendirinya. Awalnya, agama berdiri agak merunduk di belakang negara, kemudian bergerak disampingnya, akhirnya merangkul pundak negara bahkan bertindak sebagai negara itu sendiri. Jadilah apa yang kita kenal agama-negara.  Elite agama seringkali dijadikan alat penyambung lidah penguasa pada masyarakatnya. Sehingga sering tampil sebagai nabi “negara” bukan nabi “rakyat”. Dalam kedudukannya yang serba terkungkung akhirnya agamapun tak berdaya berhadapan dengan negara.