Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi
FISIENSI - Kajian Ilmu Administrasi adalah jurnal ilmiah dari hasil penelitian dan/atau kajian pustaka dalam bidang ilmu administrasi perkantoran baik dalam bidang kependidikan maupun dalam bidang ilmu administrasi murni dengan fokus dan ruang lingkup pembahasan tentang: 1) Pendidikan Vokasi Administrasi Perkantoran, 2) Manajemen Sumber Daya Perkantoran, 3) Administrasi/Manajemen Perkantoran, 4) Otomatisasi Perkantoran, 5) Teknologi Perkantoran, 6) Hubungan Masyarakat, 7) Simulasi Perkantoran, 8) Manajemen Event, 9) Pelayanan Prima, 10) Kesekretarisan, 11) Korespondensi, 12) Komunikasi, 13) Organisasi, dan 14) Kearsipan.
Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY secara berkala satu tahun dua kali yakni pada bulan Februari dan Agustus.
Articles
7 Documents
Search results for
, issue
"Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007"
:
7 Documents
clear
Peran Metode Experiential Learning dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Mahasiswa
Retno Sulistyowati
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6295.386 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3917
Selama ini materi dan metode yang disajikan pada Program Studi Sekretari cenderung bersifat konvensional, kuliah atau kerja praktek. Titik beratnya pada aspek pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skills). Hal ini menimbulkan gap karena untuk menjadi lulusan siap kerja, mahasiswa harus dibekali aspek-aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu pengembangan sikap (attitudes) dan perilaku (behavior). Salah satu pengembangan sikap dan perilaku yang penting dikembangkan adalah kemampuan berkomunikasi. Komunikasi adalah salah satu kompetensi yang bersifat aplikatif, berkaitan erat dengan kepribadian juga menyangkut relasi dengan orang lain dianggap lebih efektif dipelajari dan dipahami jika disampaikan dengan metode experiential learning. Penelitian ini menggunakan metode pre eksperimental dengan desain one group pretest-posttest design, yaitu dengan tes pra perlakuan (kemampuan komunikasi) dan tes paska perlakuan (kemampuan komunikasi) untuk melihat akibat pemberian perlakuan eksperimen (experiential learning). Subjek penelitian, mahasiswa Prodi Sekretari Politeknik PPKP Yogyakarta. Analisis data menghasilkan nilai uji t =-1.037 (p 0.05). menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi sebelum diberikan materi komunikasi dengan metode experiential learning tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kemampuan komunikasi setelah diberikan materi komunikasi dengan metode experiential learning. Faktor yang menyebabkan hal tersebut yaitu: keterbatasan durasi kegiatan (mulai pukul 10.00 sid 13.00 WIB) sehingga permainan kurang banyak dan bervariasi menyebabkan poin pembelajaran yang akan diraih menjadi terbatas. keterbatasan ruang kegiatan yaitu hanya di dalam kelas menyebabkan peserta merasa kurang bebas dalam menyampaikan ekspresinya
Membudayakan Komunikasi antar Budaya dalam Aktivitas di Perkantoran
Siti Umi Khayatun Mardiyah
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3207.286 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3924
Komunikasi antar budaya merupakan komunikasi biasa layaknya komunikasi yang sering kita lakukan, hanya orang-orang yang terlibat mernpuyai latar belakang budaya yang berbeda. Komunikasi kita dengan orang lain khususnya dalam aktivitas di perkantoran berpotensi mengandung komunikasi antar budaya, karena setiap orang selalu memiliki "budaya" yang berbeda-beda meskipun perbedaan itu hanya kecil. Komunikasi antar budaya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi. Aktivitas komunikasi meliputi: apa makna pesan verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya yang bersangkutan, apa yang layak dikomunikasikan, bagaimana cara mengkomunikasikannya (verbal dan nonverbal), dan kapan mengkomunikasikannya. Membudayakan komunikasi antar budaya memiliki keuntungan secara pribadi yaitu: 1) Perasaan senang dan puas dalam menentukan sesuatu yang baru, dalam hal ini kebudayaan orang lain yang belum pemah diketahui atau disadari sebelumnya; 2) Pengetahuan tentang komunikasi antar budaya dapat membantu untuk menghindari masalah komunikasi. Pemahaman mengenai faktor-faktor yang melatarbekangi persepsi seseorang atau sekelompok orang dapar menjadi pedoman untuk memperlakukan mereka, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman; 3) Kesempatan-kesempatan kerja banyak terbuka untuk bidang komunikasi antar budaya; 4) Memberikan kesempatan untuk mampu mempersepsikan dan memahaml diri sendiri. Usaha untuk mengerti kebudayaan orang lain dapat membuat pengertian yang lebih rasional tentang diri sendiri dan kebudayaan kita sendiri.
Membangun Kinerja Profesional dalam Organisasi Publik
Rosidah Rosidah
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4895.639 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3918
Dalam membangun kinerja profesional dalam organisasi publik salah satunya adalah meningkatkan produktivitas kerja yang berkualitas pada aparatur pemerintah. Upaya tersebut mengandung konsekuensi bahwa pemerintah perlu membuat aturan yang mampu memicu dan mendorong aparatur berperilaku mengarah pada kualitas yang diharapkan. Beberapa hal terkait dengan itu, maka jajaran kepemimpinan perlu kiranya mensosialisasikan dan menerapkan dalan kinerja sehari-hari Keputusan Menteri PAN No.25/Kep/M.Pan/4/2002 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara, yang sarat dengan nilai-nilai moral, yang harus ditegakkan, antara lain adanya: komitmen dan konsistensi, integritas dan profesional, kebersamaan dan dinamika kelornpok kerja, disiplin dan keteraturan kerja, keikhlasan dan kejujuran. Di samping itu kiranya perlu mengevaluasi kembali Daftar Penilaian Prestasi Pegawai (DP3), yang selama ini terkesan formalitas serta pedoman Pemberian Penghargaan kepada aparatur yang mampu memberikan pendorong untuk meningkatkan prestasi kerja.
Menumbuhkan Minat Meneliti Guru dengan Penelitian Tindakan Kelas
Sugi Rahayu
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7849.309 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3919
Masalah pendidikan di sekolah terjadi karena guru belum memiliki cukup kecakapan dalam memecahkan masalah. Guru orang yang paling berkepentingan dan paling mungkin untuk menemukan masalah dan berusaha memecahkannya sehingga pembelajaran berlangsung secara optimal. Salah satu upaya yang dilakukan untuk ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas (PTK) salah satu jenis penetitian yang sangat bermanfaat untuk menggali masa!ah,mencan alternative pernecahan masalah, memberikan tindakan yang tepat, dan merefleksi hasil tindakannya sekaligus digunakan untuk peningkatan kualitas diri. PTK dilaksanakan sebagai suatu upaya meningkatkan efisiensi dan kualitas pendidikan,terutama proses dan hasil belajar siswa pada level kelas. PTK juga berguna bagi guru untuk menguji suatu teori pembelajaran. Melalui PTK guru dapat memilih dan menerapkan teori atau strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi kelasnya. Dengan demikian, PTK adalah bentuk penelitian yang secara langsung dapat dimanfaatkan oleh guru. Minat meneliti di kalangan guru perlu ditumbuh-kembangkan. Kemauan untuk belajar merupakan daya dorong yang kuat dan dalam diri guru. Penelitian merupakan kegiatan yang memiliki makna penting bagi seorang guru. Minat meneliti akan bertumbuh apabila ada dukungan dari luar din guru, yaitu perhatian dari berbagai pihak terkait untuk meningkatkan kemampuandan kualitas meneliti guru, misalnya mengadakan pelatihan penelitian dan memberikan kesempatan (khususnya pendanaan) kepada guru untuk melakukan penelitian.
Reformasi Birokrasi dalam Era Globalisasi
Dwi Harsono
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7971.308 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3921
Globalisasi membawa pengaruh yang kuat terhadap kondisi politik dan ekonomi di seluruh dunia. Kondisi ini membuat setiap negara harus mempersiapkan din terhadap efek yang ditimbulkannya sehjngga tidak berakibat negatif. Reformasi adalah salah satu contoh dampak dari globalisasi. Reformasi yang terjadi di negara-negara berkembang lebih banyak terjadi karena intervensi asing. Hal ini karena asumsi yang digunakan yang menganggap kegagalan birokrasi untuk menciptakan kondisi ekonomi disebabkan faktor-faktor internal. Oleh karena itu lembaga bantuan asing mensyaratkan adanya penyesuaian struktural yang mengarah pada penciptaan good governance. Ketertibatan institusi asing dalam jangka pendek bisa membantu tapi dalam jangka panjang harus dievaluasi ulang. Hal ini dilakukan karena bantuan hutang yang diberikan diemtal-embeli oleh adanya prasyarat lain berupa program penyesuaian struktural yang bersifat politis. Bantuan dan donor asing memang sulit dihindari karena krisis ekonomi tapi proses tersebut harus selektif dan syarat lunak serta secepatnya dilunasi. Setiap negara harus rnemiliki agenda dalam melakukan refonnasi. Informasi tentang kondisi suatu negara yang, paling mengetahui adalah negara itu sendiri. Oleh karena itu, analisis kebutuhan untuk melakukan reformasi dapat dilakukan sehingga strategi reformasi yang dipilih tepat serta tidak merugikan masyarakat/warganegara.
Virtual Office Realitas dari Office Automation
Saliman Saliman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (10130.576 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3922
Informasi salah satu dari lima jenis utama sumber daya yang dapat dipakai oleh manajer. Pengelolaan informasi semakin penting seiring dengan rumitnya kegiatan bisnis yang setiap saat membutuhkan informasi yang akurat dan demi pelayanan yang memuskan. Pengelolaan informasi juga lebih menantang sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer saat ini. Output komputer digunakan untuk bahan pengambilan keputusan seorang manajer. Saat manajer melakukan fungsi dan perannya, memerlukan dukungan informasi yang akurat, cepat dan tepat agar dapat melakukan tugasnya secara efektif. Hal ini akan terwujud bila manajer memiliki keahlian bidang komunikasi dan pemecahan masalah dengan pengetahuan tentang komputer dan informasi. Selanjutnya pengelolaan informasi akan merupakan sebuah sistem, yang saling tergantung sekaligus bersinergi antar berbagai komponen yang membentuk sistem tersebut yang dikenal dengan sistem informasi. Karena digunakan untuk membantu manajer dalam mengambil kebijakan maka disebut dengan sistem informasi manajemen. Akibat perkembangan lembaga, manajer juga mengelola sumber daya konseptual namun sangat abstrak sehingga sulit untuk dikelola. Cara pengelolaannya adalah dengan mengubah menjadi simbolĀsimbol yang memiliki value (nilai), sehingga dapat dikalkulasi. Cara ini yang paling tepat adalah dengan menggunakan bantuan mesin (komputer). Dengan demikian sistem informasi manajemen lebih efektif apabila dikelola atau berbasis komputer atau lebih dikenal sebagai (computer-based information system) atau CBIS.
Kontribusi Evaluasi untuk Efisiensi Pengelolaan Program dan Kebijakan Pendidikan
Suranto Aw
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi No. 2 Volume VII, Agustus 2007
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7307.847 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v7i2.3923
Evaluasi adalah proses untuk menentukan seberapa jauh efisiensi pengelolaan program dan kebijakan pendidikan telah tercapai. Hal ini mengandung maksud bahwa dengan evaluasi, para pengambil kebijakan memperoleh informasi akurat sejauhmana efisiensi tersebut telah tercapai. Dengan informasi tersebut maka program pendidikan itu dapat ditinjau kembali untuk menyusun langkah-langkah dan kegiatan-kegiatan yang lebih efisien. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa evaluasi akan menghasilkan sejumlah informasi. dan berdasarkan lnformasi itu dapat dilakukan pengambilan keputusan secara komprehensif. Kontribusi evaluasi ialah sumbangsih evaluasi melalui temuanĀtemuan dan rekomendasinya untuk perbaikan program dan kebijakan pendidikan.