Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi
FISIENSI - Kajian Ilmu Administrasi adalah jurnal ilmiah dari hasil penelitian dan/atau kajian pustaka dalam bidang ilmu administrasi perkantoran baik dalam bidang kependidikan maupun dalam bidang ilmu administrasi murni dengan fokus dan ruang lingkup pembahasan tentang: 1) Pendidikan Vokasi Administrasi Perkantoran, 2) Manajemen Sumber Daya Perkantoran, 3) Administrasi/Manajemen Perkantoran, 4) Otomatisasi Perkantoran, 5) Teknologi Perkantoran, 6) Hubungan Masyarakat, 7) Simulasi Perkantoran, 8) Manajemen Event, 9) Pelayanan Prima, 10) Kesekretarisan, 11) Korespondensi, 12) Komunikasi, 13) Organisasi, dan 14) Kearsipan.
Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY secara berkala satu tahun dua kali yakni pada bulan Februari dan Agustus.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011"
:
8 Documents
clear
Kiat Memotivasi Karyawan
Bambang Suseno Hastono
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5779.006 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3991
Employee's motivation has become crucial for the organization to be enhanced because of the rapid changing situation faced by organization. High motivation to work will result in good behavior and job performance. Understanding some motivation theories and applying them properly will help a manager to find out the right methods to motivate the employees well. In addition to the changing employees paradigm, a manager should have good understanding about some factors that affect employee's motivation such as a good reward system and appraisal, physical and non-physical improvements and organizational culture. All of them are needeed to be implemented in order to motivate employees effectively.
Pengelolaan Laboratorium Pendidikan Administrasi Perkantoran
Didi Wahyu Sudirman
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6229.523 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3992
Laboratorium Administrasi Perkantoran merupakan salah satu media yang mengacu pada konsep lembaga pendidikan untuk membantu peserta didik memaknai, mengenali proses kegiatan kantor termasuk kegiatan praktik perkantoran yang menggunakan berbagai alat-alat kerja dan perlengkapan kantor berbasis teknologi perkantoran. Agar laboratorium Administrasi Perkantoran lebih efektif dalam mendukung proses pembelajaran Administrasi Perkantoran peerlu pengelolaan yang baik. Dleh karena itu fungsi-fungsi manajemen diterapkan dalam pengelolaan laboratorlurn Administrasi Perkantoran agar keberhasilan proses pembelajaran keterampilan di bidang keahlian administrasi perkantoran dapat lebih berkualitas sesuai standar kompetensi yang diharapkan. Ke depan upaya-upaya pengembangan laboratorium Administrasi Perkantoran perlu dilandasi budaya organisasi menuju profesionalisme sesuai kemajuan ilmu, teknologi di samping itu untuk mengantisipasi output peserta didik agar mampu rnemberikan pembelajaran laboratorium Administrasi Perkantoran di SMK (Bisnis dan Manajemen).
Model Telstar sebagai Inovasi Pembelajaran Nilai di Indonesia
Victor Novianto
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8084.528 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3993
Nilai dianggap panduan yang lebih stabil dan tahan lama untuk sikap dan pengambilan keputusan dibandingkan perilaku. Oleh karena itu pendidikan nilai adalah upaya memberi bimbingan kepada anak didik agar menyadari secara logika, etika dan estetika melalui proses internalisasi nilai dan pembiasaan bertindak. Pembelajaran dikelas seharusnya menekankan pentingnya proses perjuangan dalam meraih sesuatu sehingga pada pencapaian lebih lanjut blsa mencapai tingkat 'pembelajaran sepanjang hayat'. Model yang sering diterapkan di sekolah Australia yaitu TELSTAR (Tune in, Explore, Look, Sort, Test, Act Reflect). Dalam langkah-Iangkah model TELSTAR tersebut, anak didik diajak untuk membahas suatu topik, tidak berpijak dari engetahuan guru tapi dengan pemahaman bahwa seorang murid sudah membawa pengetahuan sendiri sebelum pembelajaran dilakukan.
Moratorium Rekrutmen CPNS dalam Kerangka Reformasi Birokrasi
Marita Ahdiyana
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (12536.004 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3988
Besarnya jumlah PNS di Indonesia berimplikasi pada peningkatan beban anggaran negara maupun anggaran daerah. Dalam APBN tahun 2011, anggaran pembangunan hanya tersisa 12 persen dari total anggaran, sedangkan 61 persen digunakan untuk gaji pegawai. Kemenkeu bahkan mencatat ada 124 daerah yang belanja pegawainya menghabiskan 60 persen lebih APBD, atau jika dirinci ada 16 daerah yang menggunakan 70 persen atau lebih dana APBD untuk membayar gaji pegawai, bahkan ada yang mencapai 83 persen. Kebijakan harus diambil pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya adalah melalui moratorium rekrutmen CPNS. Namun demikian hal tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk mengurangi berat beban anggaran semata, lebih dari itu harus sejalan dengan kerangka reformasi birokrasi yang sudah dicanangkan sebelumnya oleh pemerintah. Pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk mendorong reformasi birokrasi agar tidak terjadi paradoks didalamnya. Kebijakan yang berbeda dalam penataan CPNS yang dikeluarkan oleh tiga kementrian, menyebabkan pelaksana di daerah mengalami kebingungan dalam melaksanakannya. Beratnya beban anggaran daerah selain disebabkan oleh belanja pegawai, juga disebabkan oleh beberapa faktor lain seperti pengangkatan Honda dan pemekaran daerah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong reformasi birokrasi di Indonesia, antara lain melalui rasionalisasi jumlah pegawai. peningkatan kinerja PNS, dan pendataan kompetensi PNS.
Aplikasi Total Quality Management (TQM) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Tinggi
Daimatun Nafiah
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7953.133 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3994
Organisasi pendidikan adalah penghasil jasa pendidikan yang diharapkan masyarakat untuk mewujudkan kualitas sumber daya manusia melalui sistem dan hasil pendidikan yang berkualitas. Dari perspektif pedagogik, kualitas bersifat subyektif. Pengukuran kualitas harus menyeluruh yang didasarkan pada input, pelanggan, dan produk atau jasa secara fundamental. Peningkatan kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan perguruan tinggi sudah sangat dirasakan perlu, termasuk untuk menggunakan prinsipprinsip manajemen modern yang berorientasi pada mutu/kualitas. Lulusan pendidikan tinggi dituntut mempunyai pengetahuan, kemampuan intelektual,kemampuan untuk bekerja dalam organisasi moderen, keahlian untuk berhubungan dengan orang lain, dan komunikasi. Perlu penerapan sistem yang mampu meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara keseluruhan. Bagi para pemilik dan pengelola Perguruan Tinggi, sistem manajemen mutu pada hakekatnya berinti pada perbaikan terus menerus untuk memperkuat dan mengembangkan mutu. Dalam hal ini aplikasi Total Quality Management (TOM) merupakan cara perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk masa yang akan datang.
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) Berbasis Kompetensi sebagai Strategi Membangun Organisasi Kompetitif
Yenny Dwi Artini
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8676.785 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3989
Pergeseran dan perubahan regional, nasional maupun. global yang berlangsung sangat cepat harus direspons oleh organisasi/perusahaan dengan melakukan perubahan-perubahan strategis. Dalam pergeseran dan perubahan tersebut, peran manusia menjadi semakin strategis karena merupakan satu-satunya sumber daya yang paling aktif dan adaptif. Peran manajemen sumber daya manusia tersebut ditingkatkan agar organisasi menjadi lebih kompetitif dan mampu merespons tantangan-tantangan ekstenaldemi eksistensi serta keberlangsungannya. Peningkatan peran strategis manajemen sumber daya manusia tersebut diwujudkan melalui kebijakan rekrutmen, penempatan, penggajian/pemberian kompensasi dan pengembangan karier yang didasarkan pada kompetensi. Penting bagi organisasi untuk melakukan analisis jabatan untuk menetapkan standar kompetensi yang dibutuhkan setiap jabatan pada semua level. Standar kompetensi tersebut kemudian digunakan untuk mengambil keputusan dalam memilih/menolak, menetapkan/memberhentikan seseorang dalam jabatan atau memberikan penghargaan/hukuman kepada pegawai. Dengan melaksanakan manajemen sumber daya manusia berbasis kompetensi bagi organisasi/perusahaan akan selalu tersedia sumber daya manusia yang handal dalam menghadapi perubahan dan pergeseran era globalisasi.
Penciptaan Merek Kharismatik sebagai Basis Penguatan Keuitas Merek dalam Rangka Menciptakan Keunggulan bersaing
Agung Utama
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (9295.869 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3995
Pada abad milenium sekarang ini perusahaan dituntut bersaing secara kompetitif dalam hal menciptakan dan mempertahankan konsumen yang loyal, dan salah satunya melalui perang antar merk. Perang antar merek yang dilakukan oleh berbagai perusahaan akhir-akhir ini sebenarnya dimaksudkan untuk membangun ekuitas merek yang kokoh atau kuat karena ekuitas merek merupakan kunci dalam memenangkan persaingan bisnis. Ekuitas merek tersebut terdiri dari kepemilikan secara kokoh atau kuat atas loyalitas merek (brand loyalty), kesadaran nama (name awarnes) , kesan kualitas (percive quality), asosiast-asosiasi merek serta asset-aset merek yang lain. Akan tetapi pada saat masing-masing perusahaan cenderung berusaha untuk memperkuat dan mencapai ekuitas merek yang kokoh atau kuat sebagai kunci keunggulan bersaing, maka keunggulan tersebut tidak akan ada artinya lagi pada saat perusahaan memiliki keunggulan yang sama berupa ekuitas merek yang kuat atau kokoh. Dleh karena itulah dalam kondisi demikian ekuitas merek yang ada perlu diperkuat melalui penciptaan merek kharismatik dikarenakan melalui kharismanya merek tersebut tidak hanya memberikan emotional value, intellectual value, apalagi sekedar functional value. Dalam hal ini merek kharismatik mampu memberikan spiritual value yang menjadi landasan bagi terbentuknya spiritual conection antara merek dengan pelanggannya sehingga mampu menjadikannya sebagai kunci dalam menciptakan keunggulan bersaing.
Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan dalam Organisasi
Rosidah Rosidah
Efisiensi : Kajian Ilmu Administrasi Efisiensi Volume XI, No. 2, Agustus 2011
Publisher : Jurusan Pendidikan Administrasi FE UNY & ASPAPI PUSAT
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6470.195 KB)
|
DOI: 10.21831/efisiensi.v11i2.3990
Seiring dengan pengembangan teknologi dan informasi, persoalan organisasi semakin bertambah banyak baik dari segi kuantitas maupun tuntutan kualitas para pengguna jasa. Macam kualitas sebagaimana tuntutan masyarakat atau pengguna jasa kantor sernakin kompleks. Apalagi dengan berlakunya Undang-Undang Pelayanan Publik No. 25 tahun 2009 memberikan sinyal akan perlunya organisasi memperhatikan penyelenggaraan pelayanan, karena ada kewajiban organisasi yang harus dilakukan serta pemenuhan hak pengguna jasa yang harus diperhatikan. Ini semua memaksa manajemen lembaga untuk melihat kembali sejauhmana kualitas yang dapat diberikan kepada pelanggannya. Perhatian lembaga akan kualitas pelanggan meliputi berbagai aspek. Diantaranya adalah dilihat dari bagaimana membangun budaya peningkatan kualitas, memberikan kesadaran kepada sumber daya manusia organisasi akan pentingnya kualitas pelayanan . Di samping itu juga perlu perhatian terhadap aspek manajemen dalam mengaplikasikan proses penyelenggaraan pelayanan organisasi. Tidak kalah pentingnya adalah penentuan stadar kualitas pelayanan sebagai pedoman dalam penilaian kinerja.