cover
Contact Name
Fadhlur Rahman
Contact Email
fadhlur.rahman@uinsuna.ac.id
Phone
+6285314740511
Journal Mail Official
jurnalsaree@uinsuna.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, IAIN Lhokseumawe Jl. Medan-B.Aceh, Km. 275, No.1 Alue Awe, Kota Lhokseumawe, Aceh. 24352
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Saree: Research in Gender Studies
ISSN : -     EISSN : 27464466     DOI : https://doi.org/10.47766/saree
Core Subject :
Saree dalam bahasa Aceh artinya rata, sejajar, dan setingkat. Kata Saree secara filosofis menggambarkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Keseimbangan mengacu kepada kolaborasi peran antara laki-laki dan perempuan yang menekankan pada konsep keharmonisan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, tanpa perbedaan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku, ras dan golongan. Ruang lingkup kajian fokus kepada gender dan anak berbasis keIslaman. Jurnal ini menerima tulisan tentang isu-isu gender dan anak dari berbagai perspektif, termasuk agama, ekonomi, budaya, sejarah, pendidikan, hukum, seni, komunikasi, dan politik. Jurnal Saree berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe dan terbit dua kali dalam setahun di bulan Juni dan Desember. e-ISSN: 2746-4466 Saree in Acehnese means even, equal, and level. The word Saree philosophically describes the balance between men and women. Balance refers to the collaboration of roles between men and women that emphasizes the concept of harmony in the relationship between men and women, without differences in position, wealth, descent, ethnicity, race and class. The scope of the study focuses on Islamic-based gender and children. It welcomes submissions on gender and child issues from any perspective, including religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, and politics. Saree : Research in Gender Studies with e-ISSN: 2746-4466 is under the Institute for Community Service and Research (LP2M) UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe and published twice a year in June and December. e-ISSN: 2746-4466
Arjuna Subject : -
Articles 80 Documents
Representation of Women's Struggle against Violence and Gender Discrimination in the Film “Women from Rote Island” Wulandari Wulandari; Anastasya Christine; Ghina Reftantia; Diana Dewi Sartika; Erlisa Saraswati
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6136

Abstract

ABSTRACT ENGLISH: Film is a mass communication media that combines audio and visual elements to convey messages to a wide audience. As a cultural product, film uniquely represents social realities, shapes public opinion, and serves as a platform for reflecting on various human issues. In the modern era, film has evolved into an effective tool for voicing social criticism and highlighting marginalized issues in public discourse, including violence and gender discrimination. One such film is Women from Rote Island, which focuses on the experiences of women in Eastern Indonesia who face domestic violence and structural discrimination. The film portrays how women fight to uphold their rights and dignity amid strong patriarchal cultural pressures. Through emotional storytelling and symbolic visuals, the film delivers messages of resistance against the injustices experienced by women. This article aims to analyse the representation of women's struggles in Women from Rote Island using Roland Barthes' semiotic theory. This theory is applied to explore the denotative (literal) and connotative (symbolic or cultural) meanings of the signs presented in the film—ranging from imagery, character expressions, and dialogue to setting. The research employs a qualitative method with a descriptive approach, allowing the researcher to interpret the hidden messages and meaning structures constructed by the film. The analysis reveals that this film not only represents the social realities faced by women but also serves as a symbolic resistance to an unjust social system. It succeeds in building audience empathy and encouraging critical awareness of issues related to gender-based violence and discrimination. Thus, film can be seen as an effective alternative medium in voicing women's struggles and advocating for gender equality. ABSTRACT INDONESIAN: Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa yang menggabungkan elemen audio dan visual untuk menyampaikan pesan. Sebagai produk budaya, film memiliki kemampuan unik dalam merepresentasikan realitas sosial, membentuk opini publik, serta menjadi wadah refleksi terhadap berbagai isu kemanusiaan. Di era modern, film berkembang menjadi alat yang efektif dalam menyuarakan kritik sosial dan mengangkat persoalan-persoalan yang sering kali terpinggirkan dalam wacana publik, termasuk isu kekerasan dan diskriminasi gender. Salah satu film yang mengangkat isu tersebut adalah Women from Rote Island, sebuah film yang berfokus pada pengalaman perempuan di wilayah Timur Indonesia yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi struktural. Film ini menggambarkan bagaimana perempuan berjuang mempertahankan hak dan martabatnya di tengah tekanan budaya patriarkis yang kuat. Melalui narasi yang emosional dan visual yang simbolis, film ini menyampaikan pesan-pesan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis representasi perjuangan perempuan dalam film Women from Rote Island dengan menggunakan teori semiotik Barthes. Teori ini digunakan untuk menggali makna denotatif (makna literal) dan konotatif (makna simbolik atau kultural) dari tanda-tanda yang muncul dalam film, baik berupa gambar, ekspresi tokoh, dialog, maupun latar tempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang memungkinkan peneliti untuk menginterpretasikan pesan-pesan tersembunyi dan struktur makna yang dibangun oleh film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya merepresentasikan kenyataan sosial yang dihadapi perempuan, tetapi juga menjadi sarana perlawanan simbolik terhadap sistem sosial yang tidak adil. Film ini berhasil membangun empati penonton dan mendorong kesadaran kritis terhadap isu kekerasan dan diskriminasi gender. Dengan demikian, film dapat dilihat sebagai media alternatif yang efektif dalam menyuarakan perjuangan perempuan serta memperjuangkan kesetaraan gender.
Preventing Violence Against Women and Children in Mandailing Natal Regency: A Criminological Perspective Zul Fahmi
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6265

Abstract

ABSTRACT ENGLISHThis study analyzes the patterns and characteristics of violence against women and children in Mandailing Natal Regency during 2023–2024, focusing on sexual violence, domestic abuse, and homicide. The primary aggravating factors include poverty, gender inequality, early marriage, low educational attainment, and weak law enforcement. A criminological approach, drawing on Social Disorganization, Strain, Social Control, and Labeling theories, was employed to uncover root causes and propose prevention strategies based on economic empowerment, education, and legal reform. A qualitative methodology, utilizing literature review and content analysis, was applied to assess key themes in primary and secondary data sources, including books, scholarly articles, and local and national news reports. The findings reveal that sexual violence constitutes the most prevalent category, followed by domestic abuse often resulting in fatalities, and a rising incidence of child sexual exploitation, predominantly perpetrated by acquaintances of the victims. Factors such as gender disparity, poverty, limited educational opportunities, and inadequate law enforcement significantly exacerbate these conditions. Effective mitigation requires synergy among government agencies, community stakeholders, and related sectors, including strengthening legal frameworks, enhancing law enforcement capacities, and providing integrated support services. Community-based interventions and sustained educational programs, engaging religious and customary leaders—are expected to foster a safer, more inclusive environment. Cross-sector collaboration is identified as the key to reducing violence and bolstering public confidence in the justice system. ABSTRACT INDONESIANPenelitian ini menganalisis pola dan karakteristik kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Mandailing Natal pada periode 2023-2024, dengan fokus pada kekerasan seksual, penganiayaan domestik, dan pembunuhan. Faktor utama yang memperburuk situasi ini adalah kemiskinan, ketimpangan gender, pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan, dan lemahnya penegakan hukum. Pendekatan kriminologi, dengan menggunakan teori Disorganisasi Sosial, Strain, Social Control, dan Labeling, diterapkan untuk menggali akar permasalahan dan menawarkan solusi pencegahan berbasis pemberdayaan ekonomi, pendidikan, serta reformasi hukum. Metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan analisis konten digunakan untuk menilai tema-tema utama dalam data primer dan sekunder, termasuk buku dan artikel jurnal, serta laporan berita local dan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan seksual adalah kasus dominan, diikuti oleh penganiayaan domestik yang sering berujung pada kematian, serta meningkatnya eksploitasi seksual terhadap anak, terutama oleh pelaku yang dikenal korban. Faktor-faktor seperti ketimpangan gender, kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan lemahnya penegakan hukum berperan besar dalam memperburuk kondisi ini. Penanggulangan kekerasan memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor terkait, termasuk penguatan regulasi, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, serta penyediaan layanan terintegrasi. Pendekatan berbasis komunitas dan edukasi berkelanjutan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan inklusif, dengan melibatkan tokoh agama dan adat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengurangi kekerasan dan meningkatkan kepercayaan terhadap sistem hukum.
Nurturing Resilient Women: Single Parents from the Perspective of Islamic Education Zulfikar Ali Buto; Muhibuddin Muhibuddin; Taufiq Taufiq
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6326

Abstract

The phenomenon of single mothers is on the rise in modern society, bringing complex challenges in economic, psychological, social, and spiritual aspects. This article aims to examine the role and strength of women who live as single parents in educating their children based on Islamic educational principles. This research uses qualitative methods with Critical literature review to highlight the importance of spiritual education, moral strengthening, social skills development, life skills, and support from institutions and communities based on Islamic values. Based on a review of classical and contemporary Islamic educational literature, it was found that Islamic teachings give women a very noble position, especially as the main educators in the family environment, even without the presence of a spouse. Islam not only glorifies the role of mothers, but also emphasizes their pivotal role in shaping the character and personality of their children. The mental toughness, emotional independence, and spiritual intelligence of a single mother are formed through a comprehensive Islamic tarbiyah process, covering the spiritual, intellectual, and physical aspects. Through comprehensive education, women are able to raise a quality generation and build a just and civilized society. AbstrakFenomena ibu tunggal (single mother/parent) semakin meningkat di masyarakat modern, membawa tantangan kompleks dalam aspek ekonomi, psikologis, sosial, dan spiritual. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran dan kekuatan perempuan yang hidup sebagai orang tua tunggal dalam mendidik anak-anak mereka berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tinjauan literatur kritis untuk menyoroti pentingnya pendidikan spiritual, penguatan moral, pengembangan keterampilan sosial, keterampilan hidup, dan dukungan dari lembaga dan komunitas berdasarkan nilai-nilai Islam. Berdasarkan tinjauan kritis terhadap sumber tulisan ilmiah dibidang pendidikan Islam klasik maupun kontemporer, ditemukan bahwa ajaran Islam memberikan posisi yang sangat mulia bagi perempuan, terutama sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga, bahkan tanpa kehadiran suami. Islam tidak hanya mengagungkan peran ibu, tetapi juga menekankan peran sentral mereka dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak mereka. Ketahanan mental, kemandirian emosional, dan kecerdasan spiritual seorang ibu tunggal terbentuk melalui proses tarbiyah Islam yang komprehensif, mencakup aspek spiritual, intelektual, dan fisik. Melalui pendidikan yang komprehensif, perempuan mampu mendidik generasi berkualitas dan membangun masyarakat yang adil dan beradab.
Women’s Exploitation under Capitalism: A Marxist-Feminist Analysis of Rena Asyari’s Perempuan dan Mentalitas Revi Br. Saragih; Lailatul Zuhriah; Purwarno Purwarno
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6599

Abstract

ABSTRACT ENGLISHThis research analyzes the exploitation of women in the short story Perempuan dan Mentalitas by Rena Asyari using a Marxist-Feminist approach. The background of this research departs from the phenomenon of exploitation of women in rural Indonesia who are trapped in the structure of capitalism and patriarchal culture, where women are used as cheap labour without equal access to education and self-development. This short story displays the reality of how young women are conditioned from the start to accept factory work as their only way of life, which reflects a form of systemic exploitation that is ideological and material in nature. This research uses a descriptive qualitative method with a close reading technique of literary texts. Marxist-Feminist theory is used to reveal the relationship between economic power, patriarchal culture, and false consciousness formed through consumption and normalization of domestic roles. The analysis shows four main forms of exploitation: the commodification of women's labour, patriarchal ideology and structural submission, consumerism as a distraction of consciousness, and women and the double burden. The short story illustrates how the capitalist system not only drains women physically, but also limits their consciousness and freedom through the internalization of social norms. The conclusion of this study confirms that literature can be an effective medium of social criticism to expose the structured exploitation of women. This study also emphasizes the importance of critical consciousness, access to education, and systemic change as absolute conditions towards women's liberation in a capitalist-patriarchal society. ABSTRACT INDONESIANPenelitian ini menganalisis eksploitasi perempuan dalam cerpen Perempuan dan Mentalitas karya Rena Asyari menggunakan pendekatan Marxis-Feminis. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena eksploitasi perempuan di pedesaan Indonesia yang terjebak dalam struktur kapitalisme dan budaya patriarki, di mana perempuan digunakan sebagai tenaga kerja murah tanpa akses yang setara terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Cerpen ini menggambarkan realitas bagaimana perempuan muda sejak awal dikondisikan untuk menerima pekerjaan pabrik sebagai satu-satunya cara hidup mereka, yang mencerminkan bentuk eksploitasi sistemik yang bersifat ideologis dan material. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pembacaan mendalam teks sastra. Teori Marxist-Feminist digunakan untuk mengungkap hubungan antara kekuasaan ekonomi, budaya patriarki, dan kesadaran palsu yang terbentuk melalui konsumsi dan normalisasi peran domestik. Analisis menunjukkan empat bentuk eksploitasi utama: komodifikasi tenaga kerja perempuan, ideologi patriarki dan penyerahan struktural, konsumerisme sebagai pengalihan kesadaran, dan beban ganda perempuan. Cerpen ini menggambarkan bagaimana sistem kapitalis tidak hanya menguras tenaga perempuan secara fisik, tetapi juga membatasi kesadaran dan kebebasan mereka melalui internalisasi norma-norma sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa sastra dapat menjadi medium kritik sosial yang efektif untuk mengungkap eksploitasi terstruktur terhadap perempuan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kesadaran kritis, akses terhadap pendidikan, dan perubahan sistemik sebagai syarat mutlak menuju pembebasan perempuan dalam masyarakat kapitalis-patriarkal.
Constructing Gender Equality in Salaf Pesantren Ellyda Retpitasari; Maulida Rohmatul Laili
Saree: Research in Gender Studies Vol. 8 No. 1 (2026): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v8i1.6697

Abstract

Discussions on gender equality continue to evolve and warrant further research in various settings, one of which is religious educational institutions such as pesantren (Islamic boarding school). The concept of gender equality is often perceived as conflicting with the Pesantren Salafiyah model, which typically features an authoritarian, conservative, and patriarchal culture. The objective of this study is to examine how gender equality is constructed at the Pesantren Salafiyah Kapurejo in Kediri Regency. The approach used in this study is a descriptive qualitative approach that examines the construction of gender equality in social interactions within the pesantren from the perspectives of students, teachers, and the pesantren leader (Kiai). Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation at the Pesantren Salafiyah Kapurejo, Kediri Regency, East Java. This study involved 14 informants, consisting of boarding school administrators, teachers, and male and female students. The results indicate that gender equality values have developed unevenly within the pesantren environment. First, in the externalization sphere, a culture of gender equality has been established through pesantren regulations and daily activities that provide relatively equal opportunities for male and female students to participate in learning, organizational activities, and decision-making. Second, in the internalization sphere, these values have been accepted and practiced by members of the pesantren community, as reflected in cooperation, tolerance, and the division of responsibilities based on competence, not gender. However, in the realm of objectification, the institutionalization of gender equality remains limited. Although pesantren formally promote equal treatment, these values have not yet been fully embedded in organizational structures, written policies, or leadership arrangements; consequently, the implementation of equality still relies heavily on individual awareness and informal practices rather than on permanent institutional mechanisms.   Abstract IndonesianWacana tentang kesetaraan gender terus berkembang dan layak untuk diteliti di berbagai ruang, salah satunya adalah lembaga pendidikan berbasis agama seperti pesantren. Konsep kesetaraan gender sering dianggap bertentangan dengan konsep pesantren salaf yang umumnya memiliki budaya otoriter, konservatif, dan patriarkal. Tujuan untuk mengetahui bagaimana kesetaraan gender dikonstruksi di Pesantren Salafiyah Kapurejo, Kabupaten Kediri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif yang mengkaji konstruksi kesetaraan gender dalam interaksi sosial di pesantren dari perspektif santri, guru, dan pimpinan pesantren (Kiai). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi di Pesantren Salafiyah Kapurejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penelitian ini melibatkan 14 informan, yang terdiri dari pengasuh pesantren, guru, dan santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kesetaraan gender berkembang secara tidak merata di pesantren. Pertama, di ruang eksternalisasi, budaya kesetaraan gender telah terbentuk melalui peraturan pesantren dan kegiatan sehari-hari yang memberikan kesempatan yang relatif sama bagi santri laki-laki dan perempuan untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, kegiatan organisasi, dan pengambilan keputusan. Kedua, di ruang internalisasi, nilai-nilai ini telah diterima dan dipraktikkan oleh anggota komunitas pesantren, sebagaimana tercermin dalam kerja sama, toleransi, dan pembagian tanggung jawab berdasarkan kompetensi, bukan gender. Namun, dalam ruang objektivasi, institusionalisasi kesetaraan gender masih terbatas. Meskipun pesantren secara formal mempromosikan perlakuan yang setara, namun nilai-nilai ini belum sepenuhnya tertanam dalam organisasi, kebijakan tertulis, atau pengaturan kepemimpinan, sehingga implementasi kesetaraan masih sangat bergantung pada kesadaran individu dan praktik informal daripada mekanisme kelembagaan yang permanen.
The False Promise of "Neoliberal Cinderella": Deconstructing Gender and Social Class Discourse in Anora (2024) Fadhlur Rahman
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6700

Abstract

ABSTRACT ENGLISHFilm is a discursive sphere where cultural meanings are constructed and debated through visual storytelling. Therefore, it is significant to expose binary contradictions in neoliberal gender ideology and reveal structural violence against women hidden behind narratives of social mobility in film. This study, thus, aims to unravel the complexity of gender and class representations in Anora (2024) through a critical analysis of “Neoliberal Cinderella” discourse, which frames labour relations as romance and shifts the costs of social reproduction onto women's bodies. This research employs interpretive qualitative study with two mutually reinforcing analytical frameworks. First, Derrida's Deconstruction to identify and dismantle dominant binary oppositions (love versus money, spontaneity versus strategy, reality versus fantasy) through an in-depth reading of mise-en-scène, dialogue and material markers. Second, Marxist-feminist perspective is utilised to map the political economy of affective labor, the mechanisms of commodification through gifts and access, and the unequal distribution of risks and costs affecting the main character, Ani. The results show that Anora both produces and disrupts the neoliberal Cinderella myth by revealing the hidden costs behind the promise of social mobility (social climbing): fragmented time, exploited emotions, and commodified security. The movie reveals that social mobility is a lease, not a right, and that love is used to glorify labour contracts. This paper proposes a methodological bridge of Marxist-feminist and deconstruction for cultural criticism that demands structural redistribution and recognition of affective labour as real work that is entitled to protection, compensation, and dignity. ABSTRACT INDONESIANFilm merupakan ruang diskursif di mana makna-makna budaya dibangun dan diperdebatkan melalui bahasa sinematik, sehingga mampu mengungkap kontradiksi dalam ideologi gender neoliberal dan mengungkap kekerasan struktural terhadap perempuan yang tersembunyi di balik narasi mobilitas sosial. Studi ini bertujuan untuk mengurai kompleksitas wacana gender dan kelas dalam film Anora (2024) melalui analisis narasi “Neoliberal Cinderella” yang menggambarkan hubungan kerja sebagai romansa dan mengalihkan beban reproduksi sosial dalam tubuh perempuan. Metode penelitian menggunakan studi kualitatif interpretatif dengan dua alat analitis yang saling memperkuat. Dekonstruksi Derrida digunakan untuk mengidentifikasi dan membongkar oposisi biner yang dominan seperti cinta versus uang, spontanitas versus strategi, realita versus fantasi, melalui analisis mendalam mise-en-scène, dialog, dan tanda-tanda material di dalam film. Kemudian teori feminis-Marxis digunakan untuk memetakan ekonomi politik kerja afektif, mekanisme komodifikasi melalui hadiah dan akses kekuasaan, serta distribusi risiko dan “harga” yang harus ditanggung dan “dibayar” oleh karakter perempuan dalam fiim ini. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa Anora membongkar fantasi Cinderella modern dimana mobilitas social yang dijanjikan hanya akan selalu mengorbankan stabilitas hidup, mengeksploitasi emosi dan menjadikan rasa aman sebagai komodifikasi. Film ini mengungkapkan bahwa mobilitas sosial adalah bersifat sementara, bukan hak yang berkelanjutan, dan cinta hanya digunakan untuk menghormati kontrak kerja. Penelitian ini menawarkan kerangka-metodologi teori baru (dekonstruksi-feminis-Marxis) untuk kritik budaya yang menuntut redistribusi struktural dan pengakuan terhadap pekerja emosional sebagai pekerjaan nyata yang berhak atas perlindungan, kompensasi, dan martabat.
Media Framing Analysis in National News Regarding the Issue of Sending Suspected LGBT Students to Military Barracks Ghina Reftantia; Randy William; Ariendra Jamine Prameswari; Diana Dewi Sartika; Erlisa Saraswati; Yuanita Dwi Hapsari
Saree: Research in Gender Studies Vol. 8 No. 1 (2026): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v8i1.6757

Abstract

This study examines the construction of reality in the online media coverage by Detik.com and Tribunnews.com, from May 2 to 8, 2025 (coverage news period). The coverage focuses on the Regent of Cianjur Regency’s decision to send students alleged to be LGBT to military barracks. Using a qualitative approach and Robert N. Entman's framing analysis method within the constructivist paradigm, this study focuses on four components of framing analysis: problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and treatment recommendation. Data were derived in the form of four news stories (two news articles from each media) and were selected purposively to allow for an in-depth analysis of the framing strategies used. The results show that both media frame the issue from different perspectives. The findings suggest that Detik.com constructs its coverage through an informative frame shaped by nationalist ideology and an orientation toward objectivity, while Tribunnews.com frames its reporting by foregrounding moral judgements and controversial aspects. These findings demonstrate that the media not only convey facts but also reconstruct reality according to their respective ideologies and news orientations. This research is significant because the LGBT issue remains a social and political debate in Indonesia, so media framing has been influenced and shaped public opinion, moral perceptions, and the direction of government policy. Thus, by understanding how the media frames this sensitive issue, readers and researchers can be more critical in interpreting information and its impact on the construction of social reality Abstract Indonesian: Penelitian ini menganalisis konstruksi realitas dalam liputan media daring Detik.com dan Tribunnews.com terkait isu pengiriman mahasiswa diduga LGBT ke barak militer oleh Bupati Cianjur dalam kurun waktu 2-8 Mei 2025. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis framing model Robert N. Entman dalam paradigma konstruktivis, penelitian ini berfokus pada empat komponen analisis framing: definisi masalah, interpretasi kausal, evaluasi moral, dan rekomendasi penanganan. Data berupa empat berita (dua artikel berita dari setiap media) dipilih secara purposif untuk memungkinkan analisis mendalam terhadap strategi framing yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua media membingkai isu dari perspektif yang berbeda. Detik.com cenderung menampilkan frame informatif dengan ideologi nasionalis yang menekankan objektivitas, sementara Tribunnews.com menekankan aspek moralitas dan kontroversi. Temuan ini menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga merekonstruksi realitas sesuai dengan ideologi dan orientasi beritanya masing-masing. Penelitian ini penting karena isu LGBT masih menjadi perdebatan sosial dan politik di Indonesia, sehingga pembingkaian media berpotensi memengaruhi opini publik, persepsi moral, dan arah kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, dengan memahami bagaimana media membingkai isu-isu sensitif ini, pembaca dan peneliti dapat lebih kritis dalam menafsirkan informasi dan dampaknya terhadap konstruksi realitas sosial.
Women’s Double Burden: Balancing Domestic and Professional Spheres Radine Salsabila; Kholida Ulfi Mubaroka
Saree: Research in Gender Studies Vol. 8 No. 1 (2026): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v8i1.6790

Abstract

This study discusses the phenomenon of double burden experienced by women in Jelun Village, Banyuwangi, who must carry two main responsibilities: working in the public sphere and managing household duties. Although they actively contribute to the family economy through farming, trading, and other informal jobs, household tasks such as cooking, washing, and taking care of children remain their primary obligations. This condition displays that social and economic changes in rural areas have not fully altered traditional gender-based role divisions. The research uses a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews with three informants and documentation. The findings reveal that women in Jelun Village demonstrate high resilience in balancing these multiple responsibilities, even when facing physical exhaustion and emotional stress. Values of hard work, patience, and responsibility play an important role in helping them endure daily challenges. However, behind this strength, the influence of patriarchy remains strong, positioning women as the main caretakers of domestic affairs. This situation indicates that gender equality in rural areas has not yet been fully achieved. Therefore, there is a need to increase social awareness and encourage a fairer division of household roles, so that women can participate more equally in both public and domestic spheres without being overburdened.   Abstrak Penelitian ini mengkaji fenomena peran ganda yang dialami oleh perempuan di Desa Jelun, Banyuwangi, yang harus menjalankan dua tanggung jawab utama, yaitu bekerja di ranah publik dan mengelola tugas domestik. Meskipun mereka berkontribusi aktif dalam perekonomian keluarga melalui kegiatan bertani, berdagang, dan pekerjaan informal lainnya, tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan merawat anak tetap menjadi kewajiban utama mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan sosial dan ekonomi di wilayah pedesaan belum sepenuhnya mengubah pembagian peran berbasis gender yang tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap tiga informan serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan di Desa Jelun memiliki tingkat ketahanan yang tinggi dalam menjalankan berbagai tanggung jawab tersebut, meskipun menghadapi kelelahan fisik dan tekanan emosional. Nilai-nilai kerja keras, kesabaran, dan tanggung jawab memiliki peran yang signifikan dalam membantu mereka menghadapi tantangan sehari-hari. Namun, di balik ketangguhan tersebut, pengaruh patriarki masih kuat, karena terus menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kesetaraan gender di wilayah pedesaan belum sepenuhnya tercapai. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran sosial serta pembagian peran yang lebih adil dalam rumah tangga agar perempuan dapat berpartisipasi secara lebih seimbang di ranah publik dan domestik tanpa mengalami beban yang berlebihan.
Resilience in the Double Burden: Women's Productive and Reproductive Labour in Indonesian Rural Communities Aretha Shandy Charenyna; Fransiscus Xaverius Sri Sadewo
Saree: Research in Gender Studies Vol. 8 No. 2 (2026): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v8i2.6791

Abstract

The double burden experienced by women remains a persistent social reality in rural communities, including Kebondalem Village, Banyuwangi. Women are expected to manage both domestic and economic responsibilities simultaneously, often without clear boundaries between the two. This study explores how women negotiate and adapt to these dual roles amid social expectations and economic limitations. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews and light observations with four women and one village officer as supporting informant. The analysis is based on Caroline Moser’s double burden theory and Talcott Parsons’s functional feminism theory to understand the interconnection between household and economic roles. The findings reveal that women in Kebondalem balance productive and reproductive work through resilience, cooperation, and moral commitment to family well-being. They do not perceive their dual burden as oppression but as a moral and social obligation that strengthens family harmony. The coexistence of male and female roles in daily life demonstrates complementarity rather than inequality, showing that social cooperation is the foundation of family and community resilience in rural settings. ABSTRACT INDONESIANFenomena beban ganda perempuan masih menjadi realitas sosial yang kuat di masyarakat pedesaan, termasuk di Desa Kebondalem, Banyuwangi. Perempuan dituntut untuk menjalankan peran ekonomi dan domestik sekaligus, tanpa batas yang jelas di antara keduanya. Penelitian ini menelaah bagaimana perempuan menegosiasikan kedua peran tersebut di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan sosial. Pendekatan kualitatif digunakan dengan teknik wawancara mendalam dan observasi ringan terhadap empat perempuan dan satu informan pendukung dari aparatur desa. Analisis menggunakan teori double burden Caroline Moser dan teori feminisme fungsional Talcott Parsons (1955) untuk memahami pola adaptasi sosial yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan di Kebondalem mampu menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga melalui keteguhan, kerja sama keluarga, serta komitmen moral terhadap kesejahteraan keluarga. Mereka tidak memandang beban ganda sebagai penindasan, tetapi sebagai tanggung jawab sosial dan moral. Temuan ini menggambarkan bahwa relasi gender di Kebondalem bersifat saling melengkapi, bukan bertentangan, dan justru memperkuat keharmonisan keluarga serta ketahanan sosial masyarakat pedesaan.
Promoting Fathers’ Roles through the Implementation of the Sekolah Bersama Ayah Program: A Qirā’ah Mubādalah Perspective Farah Elvira; Nabiela Naily
Saree: Research in Gender Studies Vol. 8 No. 2 (2026): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v8i2.7066

Abstract

Father involvement in children’s education is often still regarded as a secondary role, this condition creates an imbalance of roles within the family, which then encouraged the school, SDN Kertajaya Surabaya to initiate the Sekolah Bersama Ayah (SEBAYA) as an effort to increase fathers’ participation in the educational process. The study aims to analyze the implementation of the SEBAYA Program, identify its supporting and inhibiting factors, and examine the role of fathers within the program through the Qirā’ah Mubādalah framework (an interpretive approach emphasizing reciprocity and equal partnership between men and women in carrying out family functions). A qualitative method with a case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews with the principal, participating fathers, and accompanying teachers, as well as direct observation of the activities. The findings indicate that the SEBAYA Program is implemented through father–child accompaniment activities on the first day of school as a way to strengthen the role of the father in the family. Supporting factors include government policies, teacher’s support, and the enthusiasm of the fathers. Meanwhile, inhibiting factors involve fathers’ limited working time, insufficient understanding of caregiving roles, and the condition of students who do not have a father. From the Qirā’ah Mubādalah perspective, this program aligns with the principles of reciprocity and justice within the family, emphasizing that childcare is not solely the responsibility of the mother but a shared duty between father and mother as a unified parental unit. ABSTRACT INDONESIANKeterlibatan ayah dalam pendidikan anak seringkali dipandang sebagai peran sekunder, sehingga pengasuhan dan pendampingan belajar lebih banyak dibebankan kepada ibu. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan peran dalam keluarga. Untuk menanggapi polemik ini, SDN Kertajaya Surabaya menginisiasi Program Sekolah Bersama Ayah (SEBAYA) sebagai upaya meningkatkan partisipasi ayah dalam proses pendidikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan program SEBAYA, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya, serta mengkaji peran ayah dengan perspektif Qiraah Mubādalah (sebuah pendekatan tafsir yang menekankan prinsip kesalingan dan kemitraan setara antara laki-laki dan perempuan dalam menjalankan fungsi keluarga). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, ayah peserta program, dan guru pendamping, serta observasi langsung kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program SEBAYA dilaksanakan dengan kegiatan pendampingan ayah pada hari pertama sekolah sebagai penguatan peran keluarga. Faktor pendukung program meliputi kebijakan pemerintah, dukungan guru, serta antusiasme sebagian ayah. Adapun faktor penghambatnya mencakup keterbatasan waktu kerja ayah, kurangnya pemahaman terkait peran pengasuhan, dan kondisi siswa yang tidak memiliki ayah. Dalam perspektif qiraah mubadalah, program SEBAYA selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan dalam keluarga, yakni bahwa pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi merupakan tugas bersama ayah dan ibu sebagai satu kesatuan keluarga.