cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
kampuslppm@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education
ISSN : -     EISSN : 27742512     DOI : https://doi.org/10.53547/3q53ym38
Core Subject :
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education, E-ISSN 2774-2512, is an open-access and peer-reviewed scientific journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia, through its Institute for Research and Community Service or LPPM. The journal is nationally accredited with SINTA 4 status, published twice a year in March and September, and accepts manuscripts in both Indonesian and English. The primary focus of REAL DIDACHE is the publication of scholarly works in the field of Christian Religious Education, covering philosophical, theological, pedagogical, spiritual, and practical studies through academic, interdisciplinary, and contextual approaches. REAL DIDACHE welcomes contributions from academics, researchers, educators, practitioners, and students, both from Indonesia and abroad, who are committed to advancing Christian Religious Education across diverse contexts. Every manuscript that meets the submission requirements is evaluated by expert reviewers through a double-blind review process. Each published article is assigned a DOI with the prefix 10.53547.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
Rekonstruksi Landasan Biblika bagi Evaluasi Pendidikan Agama Kristen di Era Digital Simon; Jerie Refni Boy Maarende
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/n565rc24

Abstract

This article is written based on the researcher’s observation that studies related to the evaluation of Christian Religious Education still tend to focus on aspects related to the curriculum, teaching methods, and educators. However, the aspect of PAK evaluation based on Biblical foundations is still very rarely researched, which prompted the author to examine this topic. The formulation of the main research question posed from this topic is: what is the concrete reconstruction of the biblical foundation for the evaluation of Christian Religious Education (CRE) in the digital era? In outlining this paper, the author uses a literature study approach as the main strategy to reconstruct the biblical foundation in the evaluation of Christian Religious Education (CRE) in the digital era. This methodological approach was chosen not for the collection of numerical data but for the understanding of conceptual meaning. The findings of this study present the concept of evaluation in the Bible as never merely understood as an intellectual measurement, but rather as an assessment of the authenticity of faith manifested in concrete life. Therefore, the conceptual evaluation (PAK) based on biblical reconstruction needs to be designed as an integrative framework that combines normative-theological dimensions and contextual pedagogical dimensions. Keywords: biblical foundation; Christian religious education; digital era; learning evaluation; theological reconstruction Abstrak Artikel ini ditulis atas pengamatan peneliti bahwa penelitian yang berkaitan dengan evaluasi Pendidikan Agama Kristen masih cenderung bertumpu pada tataran terkait kurikulum, metode mengajar, dan juga pendidik. Akan tetapi, aspek evaluasi PAK dalam landasan Biblika masih sangat jarang diteliti, hal ini mendorong penulis mengkaji topik ini. Rumusan pertanyaan penelitian utama yang diajukan dari topik ini seperti apa kongkrit dari rekonstruksi landasan biblika bagi evaluasi PAK di era digital? Di dalam menguraikan tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan studi literatur sebagai strategi utama untuk merekonstruksi landasan Biblika dalam evaluasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) di era digital. Pendekatan metodologis itu dipilih  bukan pada pengumpulan data numerik melainkan pemahaman makna konseptual. Temuan kajian ini mengemukakan konsep evaluasi dalam Alkitab tidak pernah dipahami sekadar sebagai pengukuran intelektual, melainkan sebagai penilaian terhadap autentisitas iman yang termanifestasi dalam kehidupan konkret. Oleh sebab itu, konseptual evaluasi (PAK) berbasis rekonstruksi biblika perlu dirancang sebagai suatu kerangka integratif yang memadukan dimensi normatif-teologis dan dimensi pedagogis kontekstual. Kata Kunci: era digital; evaluasi pembelajaran; landasan biblika; pendidikan agama Kristen; rekonstruksi teologis
Navigating Digital Faith Formation: Christian Education Strategies for Indonesian Gen Z in Online Gaming Addiction Contexts I Putu Ayub Darmawan; Travis Duncan
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 2: September 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/99z07p53

Abstract

The addiction to online gaming among Generation Z is a major social problem in Indonesia, hitting roughly 28% of the digital-native population and causing psychological upheaval, social isolation, and hindered spiritual development. However, there was no scientific integration of the empirical findings on gaming addiction with Christian educational methods to the growth of digital faith, in terms of a systematic synthesis that links psychological impacts with contextual discipleship frameworks. The research aimed to identify and contextualize Christian educational methods to Gen Z in Indonesia who are facing internet gaming addiction. The research targeted Gen Z (born from mid-1990s to early 2010s) with significant access to internet and gaming in urban and semi-urban areas in Indonesia, and the worldwide literature was used for contextual adaption. A systematic literature search of DOAJ-indexed and Christian education articles (2013–2025) was undertaken applying purposive sampling of both empirical and conceptual studies on gaming addiction, digital Christian education, and gamification. Data collected amalgamated primary themes: thematic analysis. Gaming addiction was most common in males aged 12 to 25 years and resulted in physical, psychological, social and scholastic disadvantages when playing for 4 to 6 hours per day. Five strategy themes emerged: theological realignment, spiritual online literacy, salvaging gamification, hybrid congregations, and family, church, and school cooperation. Christian schooling shifted from constraints to full digital faith growth, using gaming components to discipleship. Abstrak Kecanduan gim daring pada Generasi Z merupakan persoalan sosial yang serius di Indonesia, yang diperkirakan dialami oleh sekitar 28% populasi digital native serta menimbulkan gejolak psikologis, isolasi sosial, dan hambatan dalam perkembangan spiritual. Namun, belum terdapat integrasi ilmiah yang memadai antara temuan empiris mengenai kecanduan gim dan metode pendidikan Kristen bagi pertumbuhan iman digital dalam bentuk sintesis sistematis yang menghubungkan dampak psikologis dengan kerangka pemuridan yang kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengontekstualisasikan metode pendidikan Kristen bagi Generasi Z di Indonesia yang menghadapi kecanduan gim daring. Penelitian ini berfokus pada Generasi Z yang lahir dari pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, dengan akses yang signifikan terhadap internet dan gim di wilayah perkotaan dan semi-perkotaan di Indonesia, sementara literatur global digunakan sebagai dasar untuk melakukan adaptasi kontekstual. Penelusuran literatur sistematis terhadap artikel yang terindeks DOAJ dan artikel dalam bidang pendidikan Kristen yang diterbitkan pada 2013–2025 dilakukan dengan menggunakan purposive sampling terhadap studi empiris dan konseptual mengenai kecanduan gim, pendidikan Kristen digital, dan gamifikasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema utama. Kecanduan gim paling banyak ditemukan pada laki-laki berusia 12 hingga 25 tahun dan menimbulkan dampak negatif secara fisik, psikologis, sosial, dan akademik ketika aktivitas bermain berlangsung selama 4 hingga 6 jam per hari. Lima tema strategi yang muncul meliputi penyelarasan kembali teologis, literasi spiritual daring, pemanfaatan gamifikasi, jemaat hibrida, serta kerja sama antara keluarga, gereja, dan sekolah. Pendidikan Kristen mengalami pergeseran dari pendekatan yang berorientasi pada pembatasan menuju pengembangan iman digital secara menyeluruh dengan memanfaatkan komponen gim sebagai sarana pemuridan.
Integrating Heideggerian Ontology into Educational Management: A Framework for Implementing Indonesia’s Kurikulum Merdeka Noh Ibrahim Boiliu; Mariska Lauterboom
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 2: September 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/hyagm441

Abstract

The Independent Learning Curriculum (Kurikulum Merdeka) in Indonesia reflects a shift in education toward a holistic understanding of human life and existence, which resonates with the philosophical tenets of Martin Heidegger’s ontology. This paper conducts an intellectual and existential analysis of the Kurikulum Merdeka to address the persistent theory–practice gap in educational management. Although the curriculum promotes flexibility and student-centered learning, its implementation continues to face several challenges, including disparities in resources, unclear operational guidelines, and the persistent dominance of quantitative evaluation methods. Heideggerian ontology offers a crucial existential dimension by viewing the student as Dasein, a being conscious of its presence and meaning in the world, and by understanding education as a process of becoming an authentic human being rather than merely a means of career preparation. By bringing these perspectives together, educational management can move beyond a mechanistic paradigm. Educational administrators can integrate data-based accountability informed by positivism, accommodate contextual plurality associated with postmodernism, and cultivate existential reflection grounded in Heideggerian ontology. The analysis shows that Heidegger’s emphasis on authentic understanding, contextual awareness, and experiential learning provides a necessary framework to ensure that the Kurikulum Merdeka is implemented as a transformative praxis that liberates individuals and addresses a profound philosophical gap in educational policy. Abstrak Kurikulum Merdeka di Indonesia mencerminkan pergeseran pendidikan menuju pemahaman yang lebih holistik mengenai kehidupan dan eksistensi manusia, yang memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip filosofis ontologi Martin Heidegger. Artikel ini melakukan analisis intelektual dan eksistensial terhadap Kurikulum Merdeka untuk menjawab kesenjangan teoretis dan praktis yang masih berlangsung dalam manajemen pendidikan. Meskipun kurikulum ini mendorong fleksibilitas dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesenjangan sumber daya, ketidakjelasan pedoman operasional, serta dominasi metode evaluasi yang bersifat kuantitatif. Ontologi Heidegger menawarkan dimensi eksistensial yang penting dengan memandang peserta didik sebagai Dasein, yaitu keberadaan yang menyadari kehadiran dan makna dirinya di dalam dunia, serta memahami pendidikan sebagai proses menjadi manusia yang autentik, bukan sekadar sarana mempersiapkan karier. Dengan mempertemukan kedua perspektif tersebut, manajemen pendidikan dapat bergerak melampaui paradigma mekanistik. Pengelola pendidikan dapat mengintegrasikan akuntabilitas berbasis data yang dipengaruhi positivisme, mengakomodasi pluralitas kontekstual yang berkaitan dengan postmodernisme, serta mengembangkan refleksi eksistensial yang berlandaskan ontologi Heidegger. Analisis ini menunjukkan bahwa penekanan Heidegger pada pemahaman autentik, kesadaran kontekstual, dan pembelajaran berbasis pengalaman menyediakan kerangka yang diperlukan untuk memastikan bahwa Kurikulum Merdeka diterapkan sebagai praksis transformatif yang membebaskan individu sekaligus menjawab kesenjangan filosofis yang mendalam dalam kebijakan pendidikan.
Developing the Seed of Faith Model: Integrating Piagetian Cognitive Development and Pauline Theology Didimus Sutanto B. Prasetya; Johnly Mewengkang; Winson Hermanto Simamora
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 2: September 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/xdzbbq66

Abstract

Early Childhood Christian Education (ECCE) requires a pedagogical foundation that integrates children's cognitive development with holistic faith formation. Although Piagetian cognitive developmental theory and Pauline theology provide relevant theoretical foundations, limited research has systematically synthesized these perspectives into a pedagogical model for Pentecostal Early Childhood Christian Education in Indonesia. This study aims to develop the Seed of Faith Model through a theoretical synthesis of Piagetian cognitive development and Pauline theology. The study employed an integrative theory-building research design supported by an exploratory case study. The first phase integrated developmental theory and grammatical-historical exegesis of selected Pauline texts to construct the conceptual framework, while the second phase used an exploratory case study in a Pentecostal church-based ECCE institution to examine and contextualise the model and provide preliminary evidence of its pedagogical relevance. The resulting Seed of Faith Model comprises four interrelated components: Prepared Soil, Planted Seed, Nurtured Growth, and Expected Fruit. These components describe the dynamic relationship between children's cognitive development, faith formation, community mentoring, and Christian character development. The study contributes a theoretically grounded and theologically coherent pedagogical model that integrates developmental psychology and Pauline theology for curriculum development and pedagogical practice in Indonesian Pentecostal Early Childhood Christian Education. Abstrak Pendidikan Kristen Anak Usia Dini (Early Childhood Christian Education/ECCE) memerlukan landasan pedagogis yang mengintegrasikan perkembangan kognitif anak dengan pembentukan iman yang holistik. Meskipun teori perkembangan kognitif Piaget dan teologi Paulus menyediakan landasan teoretis yang relevan, penelitian yang secara sistematis mensintesiskan kedua perspektif tersebut ke dalam suatu model pedagogis bagi Pendidikan Kristen Anak Usia Dini Pentakostal di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Seed of Faith Model melalui sintesis teoretis antara perkembangan kognitif Piaget dan teologi Paulus. Penelitian ini menggunakan desain integrative theory-building research yang didukung oleh studi kasus eksploratoris. Tahap pertama mengintegrasikan teori perkembangan dan eksegesis gramatikal-historis terhadap teks-teks Paulus yang dipilih untuk membangun kerangka konseptual, sedangkan tahap kedua menggunakan studi kasus eksploratoris pada sebuah lembaga Pendidikan Kristen Anak Usia Dini berbasis gereja Pentakostal untuk mengontekstualisasikan model dan memberikan bukti awal mengenai relevansi pedagogisnya. Seed of Faith Model yang dihasilkan terdiri atas empat komponen yang saling berkaitan, yaitu Prepared Soil (Tanah yang Dipersiapkan), Planted Seed (Benih yang Ditaburkan), Nurtured Growth (Pertumbuhan yang Dipelihara), dan Expected Fruit (Buah yang Diharapkan). Keempat komponen tersebut menggambarkan hubungan dinamis antara perkembangan kognitif anak, pembentukan iman, pendampingan komunitas, dan perkembangan karakter Kristiani. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa model pedagogis yang memiliki landasan teoretis dan koherensi teologis dengan mengintegrasikan psikologi perkembangan dan teologi Paulus sebagai dasar bagi pengembangan kurikulum dan praktik pedagogis dalam Pendidikan Kristen Anak Usia Dini Pentakostal di Indonesia.
Reconstructing Christian Education Through Narrative Epistemology: Integrating Biblical Narrative and Hebrew Thought Desetina Harefa; Yasman Telaumbanua
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 2: September 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/9txbsf30

Abstract

The dominance of the rationalist paradigm in modern education has fostered learning practices that prioritize cognitive achievement while overlooking learners' relational, spiritual, and transformative dimensions. This tendency has also influenced Christian education, where doctrinal mastery often receives greater emphasis than faith identity and lived religious experience. Although storytelling has been widely recognized as an effective pedagogical strategy, it is rarely understood as an epistemological foundation for Christian education. This study reconstructs the paradigm of Christian education by integrating narrative epistemology, biblical narrative, and Hebrew thought using qualitative library research and conceptual analysis. The findings indicate that narrative epistemology understands knowledge as a process of meaning-making through stories, lived experience, and community, enabling faith learning to foster spiritual transformation, character formation, and faith identity. The study develops the Narrative Christian Education Framework (NCEF), which integrates narrative epistemology, biblical narrative, and Hebrew thought into a relational, participatory, dialogical, reflective, and transformative model of faith formation. The NCEF constitutes the study's principal theoretical contribution by repositioning narrative as the epistemological foundation of Christian education rather than merely a pedagogical strategy. Abstrak Dominasi paradigma rasionalistik dalam pendidikan modern telah membentuk praktik pembelajaran yang lebih mengutamakan pencapaian kognitif, sementara kurang memberikan perhatian pada dimensi relasional, spiritual, dan transformatif peserta didik. Kecenderungan ini juga memengaruhi Pendidikan Agama Kristen, di mana penguasaan doktrin sering kali lebih ditekankan daripada pembentukan identitas iman dan pengalaman iman yang dihidupi. Meskipun storytelling telah diakui secara luas sebagai strategi pedagogis yang efektif, pendekatan ini masih jarang dipahami sebagai landasan epistemologis bagi Pendidikan Agama Kristen. Penelitian ini merekonstruksi paradigma Pendidikan Agama Kristen melalui integrasi epistemologi naratif, narasi biblika, dan pemikiran Ibrani dengan menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan kualitatif dan analisis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi naratif memandang pengetahuan sebagai proses pembentukan makna melalui cerita, pengalaman hidup, dan komunitas, sehingga pembelajaran iman tidak hanya menghasilkan pemahaman kognitif, tetapi juga mendorong transformasi spiritual, pembentukan karakter, dan identitas iman. Penelitian ini mengembangkan Narrative Christian Education Framework (NCEF), yaitu suatu model konseptual yang mengintegrasikan epistemologi naratif, narasi biblika, dan pemikiran Ibrani ke dalam model pembentukan iman yang bersifat relasional, partisipatif, dialogis, reflektif, dan transformatif. NCEF merupakan kontribusi teoretis utama penelitian ini dengan memosisikan narasi bukan sekadar sebagai strategi pedagogis, melainkan sebagai landasan epistemologis bagi Pendidikan Agama Kristen.
Pendidikan Karakter sebagai Rekonstruksi Identitas Remaja Kristen Menghadapi Krisis Validasi di Ekosistem Digital Jacob Messakh; Sostenis Nggebu
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 2: September 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/5a1tge32

Abstract

The digital age brings real disruption in the form of identity crises, anxiety, and moral degradation in Christian adolescents due to gadget dependence and the search for pseudo-validation on social media. This research aims to formulate a reconstruction strategy for faith development based on a biblical perspective to restore adolescent identity in the midst of the complexity of the virtual world. Through the method of literature review with a theological-practical analysis approach, this research produces three main pillars of character reconstruction, namely the integration of classical spiritual disciplines (such as prayer and solitude) as an antidote to digital noise, the grounding of the fruit of the Spirit (especially self-mastery) into social media ethics, and the optimization of the role of the family and the church as redemptive communities (safe spaces). The three pillars are not just practical recommendations, but are the result of a conceptual synthesis of research that integrates spiritual, ethical, and communitarian dimensions in the reconstruction of Christian adolescent identity. In conclusion, the existential crisis of digital adolescents can be restored through progressive Christian Religious Education, so that they are no longer victims of information flows, but transform into bearers of light and agents of change with integrity in the virtual space. Abstrak Era digital membawa disrupsi nyata berupa krisis identitas, kecemasan, dan degradasi moral pada remaja Kristen akibat ketergantungan gawai dan pencarian validasi semu di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi rekonstruksi pembinaan iman berbasis cara pandang Alkitabiah guna memulihkan identitas remaja di tengah kompleksitas dunia virtual. Melalui metode kajian literatur dengan pendekatan analisis teologis-praktis, penelitian ini menghasilkan tiga pilar utama rekonstruksi karakter, yaitu integrasi disiplin spiritual klasik (seperti doa dan solitude) sebagai penawar kebisingan digital, pembumian buah Roh (khususnya penguasaan diri) menjadi etika bermedia sosial, serta optimalisasi peran keluarga dan gereja sebagai redemptive community (ruang aman). Ketiga pilar tersebut bukan sekadar rekomendasi praktis, tetapi merupakan hasil sintesis konseptual penelitian yang mengintegrasikan dimensi spiritual, etis, dan komunitarian dalam rekonstruksi identitas remaja Kristen. Kesimpulannya, krisis eksistensial remaja digital dapat dipulihkan melalui Pendidikan Iman Kristen yang progresif, sehingga mereka tidak lagi menjadi korban arus informasi, melainkan bertransformasi menjadi pembawa terang dan agen perubahan yang berintegritas di ruang virtual.