cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
kampuslppm@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
kampuslppm@gmail.com
Editorial Address
Komplek House Of Glory, Eden Park. Jalan Ahmad Yani, Taman Baloi, 29432 Batam
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education
ISSN : -     EISSN : 27742512     DOI : https://doi.org/10.53547/3q53ym38
Core Subject :
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education, E-ISSN 2774-2512, is an open-access and peer-reviewed scientific journal managed and published by Institut Agama Kristen REAL Batam, Riau Islands, Indonesia, through its Institute for Research and Community Service or LPPM. The journal is nationally accredited with SINTA 4 status, published twice a year in March and September, and accepts manuscripts in both Indonesian and English. The primary focus of REAL DIDACHE is the publication of scholarly works in the field of Christian Religious Education, covering philosophical, theological, pedagogical, spiritual, and practical studies through academic, interdisciplinary, and contextual approaches. REAL DIDACHE welcomes contributions from academics, researchers, educators, practitioners, and students, both from Indonesia and abroad, who are committed to advancing Christian Religious Education across diverse contexts. Every manuscript that meets the submission requirements is evaluated by expert reviewers through a double-blind review process. Each published article is assigned a DOI with the prefix 10.53547.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
Mengatasi Gap Generasi dalam Komunikasi Kristen: Pendekatan yang Relevan dan Kontekstual Ferdinan Pasaribu; Benget Parningotan
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 1: Maret 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/qkq05y81

Abstract

The generation gap in Christian communication is a significant issue that often hinders the effectiveness of the gospel message. Differences in communication styles, values, and media across generations create challenges in achieving shared understanding. This study aims to explore the generation gap in Christian communication and find approaches to overcome it, focusing on the relevance of the gospel message and the selection of appropriate media. The method used is qualitative through a literature review of various communication models in the church context. The results of the study emphasize the importance of an inclusive, relevant, and flexible approach to bridge the generation gap and develop Christian communities effectively. The findings show that digital technology is effective in reaching the younger generation, while traditional methods still play a role for the older generation. Intergenerational dialogue is also key to creating mutual understanding. In conclusion, churches need to adopt a flexible approach that combines digital and traditional media and encourages intergenerational dialogue so that Christian communication is more effective in reaching different generations in the faith community. Keywords: generation gap; communication; gospel; contextual; flexible Abstrak Gap generasi dalam komunikasi Kristen adalah isu signifikan yang sering menghambat efektivitas penyampaian berita Injil. Perbedaan cara berkomunikasi, nilai, dan media antar generasi menciptakan tantangan dalam mencapai pemahaman bersama. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gap generasi dalam komunikasi Kristen dan mencari pendekatan untuk mengatasinya, dengan fokus pada relevansi pesan Injil dan pemilihan media yang tepat. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi pustaka atas berbagai model komunikasi dalam konteks gereja. Hasil penelitian menekankan pentingnya pendekatan yang inklusif, relevan, dan fleksibel untuk menjembatani gap generasi dan mengembangkan komunitas Kristen secara efektif. Temuan menunjukkan bahwa teknologi digital efektif untuk menjangkau generasi muda, sementara metode tradisional tetap berperan bagi generasi tua. Dialog antar generasi juga menjadi kunci menciptakan pemahaman yang saling menghargai. Kesimpulannya, gereja perlu mengadopsi pendekatan fleksibel yang menggabungkan media digital dan tradisional serta mendorong dialog antar generasi agar komunikasi Kristen lebih efektif menjangkau berbagai generasi dalam komunitas iman. Kata Kunci: gap generasi; komunikasi; injil; kontekstual; fleksibel
PENTINGNYA PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTENYANG RELEVAN DENGAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI ANAK-ANAK DI LINGKUNGAN KELUARGA Victor Oktovianus Dethan; Febe Fenny Irawati Wanggai
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 2: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/scw00t11

Abstract

This study aims to analyze the role of parents as role models and the contribution of Christian Religious Education (CRE) in shaping children’s character in everyday life. The background of the study is rooted in the increasing moral and spiritual challenges faced by children in the contemporary era, which demand the integration of faith education through the synergy of family, school, and church. The method employed is a literature review using a narrative-descriptive approach, focusing on the analysis of scholarly works related to family, parental roles, and CRE. The findings reveal that parents serve as primary role models in instilling values of faith, morality, and spirituality, while CRE provides a systematic framework for deepening and internalizing these values. Collaboration among family, school, and church is proven to strengthen the holistic process of character formation in children. This study affirms that parental role modelling, when combined with the contextual implementation of CRE, establishes a conceptual foundation for a faith-based educational model grounded in threefold collaboration. Keywords: character building; Christian religious; educationearly childhood; parental role models Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis peran orang tua sebagai teladan dan kontribusi Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam pembentukan karakter anak dalam kehidupan sehari-hari. Latar belakang penelitian didasarkan pada meningkatnya tantangan moral dan spiritual yang dihadapi anak di era kontemporer, sehingga diperlukan integrasi pendidikan iman melalui sinergi keluarga, sekolah, dan gereja. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan naratif-deskriptif, melalui analisis terhadap artikel dan karya ilmiah yang relevan dengan tema keluarga, peran orang tua, dan PAK. Hasil kajian menunjukkan bahwa orang tua berfungsi sebagai teladan utama dalam menanamkan nilai iman, moral, dan spiritualitas, sedangkan PAK menjadi sarana sistematis untuk memperdalam dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan gereja terbukti memperkuat proses pembentukan karakter anak secara holistik. Penelitian ini menegaskan bahwa keteladanan orang tua, bila dipadukan dengan penerapan PAK yang kontekstual, membentuk fondasi konseptual bagi model pendidikan iman berbasis kolaborasi tripusat. Kata kunci: anak usia dini; pembentukan karakter; keteladanan orang tua; pendidikan agama Kristen  
Kajian Sosio Retorik Mengenai Makna Teologis Terang dalam Yohanes 1:5 Merrick Jonathan
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 2: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/46rk0948

Abstract

This research begins with the issue of the narrowing of the theological meaning of the concept of "light" in John 1:5, which in many modern Christian traditions is reduced to a mere ethical metaphor or symbol of well-being, so that the ontological, cosmic, and divine dimensions are neglected. The purpose of this research is to build a corrective hermeneutic framework that restores the meaning of light as an active and transformative divine reality, while placing it as the basis for the development of the curriculum and teaching of Christian Religious Education in the church. The method used is qualitative text analysis with a socio-rhetorical critical approach of Robbins' five textures (internal, intertextual, socio-cultural, ideological, and sacred), combined with canonical reading and evaluation of interpretive biases across traditions. The results of the analysis show that the use of the verb phain?i in the present tense and the narrative structure of the Gospel of John emphasize "light" as a divine reality that is alive, dynamic, and continuously working in creation. This research concludes that John 1:5 represents the presence of God that demands a transformative response from individuals and communities, while also correcting interpretive biases that narrow the meaning. This finding opens up opportunities for the reformulation of church curricula that emphasize the light of Christ as the basis of spirituality and the practice of liberating faith. Keywords: socio-rhetorical studies; Christian religious education; Jesus is the Light; John 1:5 Abstrak Penelitian ini berangkat dari persoalan penyempitan makna teologis atas konsep “terang” dalam Yohanes 1:5, yang dalam banyak tradisi Kristen modern direduksi menjadi sekadar metafora etis atau simbol kesejahteraan, sehingga dimensi ontologis, kosmis, dan ilahi terabaikan. Tujuan penelitian ini adalah membangun kerangka hermeneutik korektif yang memulihkan makna terang sebagai realitas ilahi yang aktif dan transformatif, sekaligus menempatkannya sebagai dasar bagi pengembangan kurikulum dan pengajaran Pendidikan Agama Kristen di gereja. Metode yang digunakan adalah analisis teks kualitatif dengan pendekatan kritik sosio-retorik lima tekstur Robbins (internal, intertekstual, sosial-budaya, ideologis, dan sakral), dipadukan dengan pembacaan kanonik serta evaluasi bias tafsir. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan verba phain?i dalam bentuk present tense serta struktur naratif Injil Yohanes menegaskan “terang” sebagai realitas ilahi yang hidup, dinamis, dan terus bekerja di dalam ciptaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Yohanes 1:5 merepresentasikan kehadiran Allah yang menuntut respons transformatif dari individu maupun komunitas, sekaligus mengoreksi bias penafsiran yang menyempitkan makna. Temuan ini membuka peluang bagi reformulasi kurikulum gerejawi yang menekankan terang Kristus sebagai dasar spiritualitas dan praksis iman yang membebaskan. Kata Kunci: kajian sosioretorika; pendidikan agama Kristen; Yesus adalah Terang; Yohanes 1:5
Toward an Integrative Model of Christian Counseling: Insights from Jesus’ Holistic Ministry Dewi Lidya S; Angela Queen
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 2: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/9wzk8580

Abstract

This study examines Jesus’ holistic ministry as a theological resource for developing an integrative model of Christian counseling. While previous studies in Christian psychology and pastoral counseling have highlighted the need for integration, they often remain either theologically descriptive or psychologically reductionist. This research employs a qualitative narrative theological review, drawing on the canonical Gospels as primary sources and contemporary scholarship in Christian psychology and pastoral theology as secondary sources. Through thematic analysis of biblical narratives alongside recent counseling models, four central dimensions of holistic ministry were identified: spiritual restoration, emotional healing, social inclusion, and physical care. These themes provide a theological framework that both resonates with and critiques existing models of Christian counseling. The findings suggest three key propositions: (1) Jesus’ holistic ministry challenges the dualism between spiritual and psychological care; (2) integration requires re-centering counseling on a theology of wholeness (shalom); and (3) biblical narratives can function as paradigmatic case studies for interdisciplinary dialogue between theology and psychology. The contribution of this study lies not only in its pastoral implications for counseling practice but also in its academic advancement of integrative discourse, offering a biblically grounded and theoretically robust framework for future scholarship in Christian psychology and pastoral counseling. Keywords: Christian counseling; holistic ministry; pastoral care; psychological integration; spiritual well-being Abstrak Studi ini mengkaji pelayanan holistik Yesus sebagai sumber teologis untuk mengembangkan model konseling Kristen yang integratif. Meskipun studi-studi sebelumnya dalam psikologi Kristen dan konseling pastoral telah menyoroti perlunya integrasi, studi-studi tersebut seringkali masih bersifat deskriptif teologis atau reduksionis psikologis. Penelitian ini menggunakan tinjauan teologis naratif kualitatif, dengan mengambil Injil kanonik sebagai sumber utama dan kajian kontemporer dalam psikologi Kristen dan teologi pastoral sebagai sumber sekunder. Melalui analisis tematik narasi Alkitab beserta model-model konseling terkini, empat dimensi sentral pelayanan holistik diidentifikasi: pemulihan rohani, penyembuhan emosional, inklusi sosial, dan perawatan fisik. Tema-tema ini menyediakan kerangka teologis yang selaras dan mengkritik model-model konseling Kristen yang ada. Temuan-temuan ini menyarankan tiga proposisi kunci: (1) pelayanan holistik Yesus menantang dualisme antara perawatan rohani dan psikologis; (2) integrasi menuntut konseling yang kembali berpusat pada teologi keutuhan (shalom); dan (3) narasi Alkitab dapat berfungsi sebagai studi kasus paradigmatik untuk dialog interdisipliner antara teologi dan psikologi. Kontribusi penelitian ini tidak hanya terletak pada implikasi pastoralnya terhadap praktik konseling tetapi juga dalam kemajuan akademisnya terhadap wacana integratif, yang menawarkan kerangka kerja yang berlandaskan Alkitab dan kuat secara teoritis untuk kajian masa depan dalam psikologi Kristen dan konseling pastoral. Kata kunci: konseling kristen; pelayanan holistik; perawatan pastoral; integrasi psikologis; kesejahteraan rohani
Pola Kepemimpinan Kristen Yang Menginspirasi: Strategi Meningkatkan Motivasi Jemaat Dalam Pelayanan Imelda Marcos Simbolon; Fransiskus Irwan Widjaja
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 2: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/xw4bse28

Abstract

Church leadership plays a vital role in motivating congregants, yet many churches face declining youth involvement, weakened commitment, and fragile leader–congregation relationships. This study examines inspiring Christian leadership patterns and strategies to strengthen congregational motivation using a qualitative descriptive design with a library research approach. Findings show that effective leadership integrates biblical values with transformational and servant leadership principles, supported by clear communication, emotional connection, and leadership training. Leaders who embody these elements are better able to foster active participation and build sustainable ministry cultures. The study’s novelty lies in contextualizing the integration of transformational and servant leadership with biblical values in Indonesian churches, offering both theoretical contributions and practical guidance. Nonetheless, reliance on secondary literature limits direct insights from congregants. Future research should apply mixed methods, including surveys and interviews, for deeper understanding. Ultimately, Christian leadership is not merely managerial but a theological calling to emulate Christ, the Good Shepherd (John 10:11), who leads with vision, humility, and love. Keywords: christian leadership; communication; congregation; ministry Abstrak Kepemimpinan gereja memiliki peran vital dalam memotivasi jemaat, namun banyak gereja menghadapi tantangan berupa menurunnya keterlibatan kaum muda, melemahnya komitmen, serta rapuhnya hubungan antara pemimpin dan jemaat. Penelitian ini mengkaji pola kepemimpinan Kristen yang inspiratif serta strategi untuk memperkuat motivasi jemaat dengan menggunakan desain deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif ditandai dengan integrasi nilai-nilai Alkitabiah dengan prinsip kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan pelayanan, yang didukung oleh komunikasi yang jelas, kedekatan emosional, serta pelatihan kepemimpinan. Pemimpin yang menerapkan elemen-elemen ini lebih mampu mendorong partisipasi aktif dan membangun budaya pelayanan yang berkelanjutan. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengontekstualisasikan integrasi kepemimpinan transformasional dan pelayanan dengan nilai-nilai Kristiani dalam gereja di Indonesia, sehingga memberikan kontribusi teoretis sekaligus panduan praktis. Namun, ketergantungan pada literatur sekunder membatasi perolehan wawasan langsung dari jemaat. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan menggunakan metode campuran, termasuk survei dan wawancara, untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Pada akhirnya, kepemimpinan Kristen bukan sekadar manajerial, melainkan panggilan teologis untuk meneladani Kristus, Sang Gembala Agung (Yohanes 10:11), yang memimpin dengan visi, kerendahan hati, dan kasih. Kata Kunci: jemaat; kepemimpinan kristen; komunikasi; pelayanan
Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Kota Kupang Yusuf Elpontus Tanaem; Imleda Marina Djira; Nimrot Doke Para; Sonia Magdewati Nubatonis; Armanjo Kamlasi
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/j15nh662

Abstract

Quality education is a constitutional right of every Indonesian citizen, including children with special needs (CSN). In practice, however, the implementation of Christian Religious Education (CRE) for CSN in Special Schools still faces systemic challenges that have rarely been studied, particularly from a simultaneously managerial and theological perspective. This study aims to analyze in depth the management of CRE learning for CSN at SSNS Pembina Kupang City, which serves five disability categories: visual impairment, hearing impairment, intellectual disability, physical disability, and autism. A qualitative descriptive approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and documentation involving four purposively selected research subjects: one principal and three CRE teachers. Data validity was ensured through source triangulation and technique triangulation, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana. The findings reveal that CRE learning management at SSNS Pembina Kupang is carried out through three stages: (1) individual assessment-based planning, in which teachers design lesson plans tailored to each child's type and level of disability; (2) multisensory adaptive implementation, using methods and media selected situationally based on each child's sensory, cognitive, and emotional conditions; and (3) continuous daily evaluation, conducted every day due to the fluctuating emotional conditions of CSN, which cannot be standardized. The novelty of this study lies in its simultaneous integration of three perspectives: managerial, pedagogical, and biblical-theological, which has not been found in previous similar studies in Indonesia. These findings contribute to the development of an inclusive and adaptive CRE learning model and provide a basis for policy recommendations for teachers, schools, and parents in accompanying CSN. Keywords: adaptive evaluation; children with special needs; christian religious education; learning management; special school Abstrak Pendidikan yang berkualitas merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun dalam praktiknya, implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) bagi ABK di Sekolah Luar Biasa (SLB) masih menghadapi tantangan sistemik yang belum banyak dikaji, khususnya dari perspektif manajerial sekaligus teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara mendalam manajemen pembelajaran PAK bagi ABK di SLBN Pembina Kota Kupang, yang melayani lima kategori ketunaan: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan dokumentasi terhadap empat subjek penelitian, yaitu satu kepala sekolah dan tiga guru PAK, yang dipilih secara purposive. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, serta dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran PAK di SLBN Pembina Kupang dilaksanakan melalui tiga tahapan: (1) perencanaan berbasis asesmen individual, di mana guru merancang RPP yang disesuaikan dengan jenis dan tingkat ketunaan setiap peserta didik; (2) pelaksanaan adaptif multisensori, dengan pemilihan metode dan media yang disesuaikan secara situasional berdasarkan kondisi sensoris, kognitif, dan emosional anak; serta (3) evaluasi harian berkelanjutan, yang dilakukan setiap hari karena kondisi emosional ABK bersifat fluktuatif dan tidak dapat distandarkan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga perspektif secara simultan: manajerial, pedagogis, dan teologis-Alkitabiah, yang belum dijumpai dalam penelitian sejenis di Indonesia. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran PAK yang inklusif dan adaptif, serta menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi guru, sekolah, dan orang tua dalam mendampingi ABK Kata kunci: anak berkebutuhan khusus; evaluasi adaptif; manajemen pembelajaran; pendidikan agama kristen; sekolah luar biasa
Implementasi Nilai 1 Tesalonika 4:3-5 dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Mengatasi Fenomena Sexting di Kalangan Remaja Harun Puling; Sandra Rosiana Tapilaha
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 5 No. 2: September 2025
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/8422n364

Abstract

The rapid development of digital technology has created a new social reality that poses significant moral challenges for adolescents, particularly the increasing prevalence of sexting. Sexting not only entails psychological, social, and legal risks but also threatens the moral and spiritual integrity of adolescents in the process of forming their identities. This phenomenon indicates that conventional education alone is insufficient to equip adolescents to face complex digital pressures. This study aims to analyze the implementation of the values of 1 Thessalonians 4:3–5 in Christian Religious Education as a strategy to prevent sexting behavior, emphasizing holiness, self-control, and spiritual awareness. The method employed is a hermeneutical approach, including textual, contextual, and applicative analyses of biblical verses to interpret moral and spiritual meanings and their application in religious education. The findings indicate that integrating holiness values through participatory methods, digital literacy, personal reflection, and family counseling fosters moral resilience, ethical awareness, and self-control among adolescents, making Christian Religious Education effective in developing their character and spirituality in facing digital sexual behavior challenges. Keywords: Christian religious education; dolescent; hermeneutics; sanctificationl; sexting Abstrak Perkembangan teknologi digital telah menciptakan realitas sosial baru yang menimbulkan tantangan moral serius bagi remaja, terutama praktik sexting yang semakin marak. Sexting tidak hanya menimbulkan risiko psikologis, sosial, dan hukum, tetapi juga mengancam integritas moral dan spiritual remaja sebagai individu yang sedang membentuk identitas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan konvensional tidak cukup untuk membekali remaja menghadapi tekanan digital yang kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai 1 Tesalonika 4:3–5 dalam Pendidikan Agama Kristen sebagai strategi pencegahan perilaku sexting, menekankan prinsip kekudusan, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual. Metode yang digunakan adalah kajian hermeneutika, meliputi analisis tekstual, kontekstual, dan aplikatif terhadap ayat-ayat Alkitab untuk menafsirkan makna moral dan spiritual serta penerapannya dalam pembelajaran PAK. Hasil kajian menunjukkan integrasi nilai kekudusan melalui metode partisipatif, literasi digital, refleksi pribadi, dan konseling keluarga mampu menumbuhkan ketahanan moral, kesadaran etis, dan pengendalian diri remaja, sehingga PAK efektif membina karakter dan spiritualitas mereka dalam menghadapi tantangan perilaku seksual digital. Kata Kunci: hermeneutik; pendidikan agama Kristen; pengudusan; remaja; sexting
Peran Artificial Intelligence dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen: Peluang, Etika, dan Tantangan Sarah Gracia Lumbantobing; Laurenz Enjelina Siagian
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/pcxv5218

Abstract

The rapid advancement of artificial intelligence has triggered paradigmatic transformations across educational sectors, including Christian Religious Education (CRE), which is inherently oriented toward holistic, relational, and transformative faith formation. However, the integration of this technology remains insufficiently grounded in an adequate pedagogical ethical framework, creating tension between digital innovation and theological values. This study aims to analyze the implications of artificial intelligence in CRE across three dimensions: pedagogical opportunities, implementation challenges, and a theologically grounded ethical framework. Employing a qualitative approach through systematic literature review and critical analysis of indexed scholarly sources, the findings reveal that artificial intelligence offers substantive opportunities for enhancing learning effectiveness, personalization, and student engagement. Nevertheless, significant challenges emerge, including the risk of spiritual reductionism, doctrinal distortion, erosion of pedagogical relationships, and digital inequality. A theological synthesis affirms that artificial intelligence must be positioned as a pedagogical instrument subordinate to the authority of faith, rather than a substitute for the teacher's irreplaceable role in character formation and spiritual development. Accordingly, a contextual and theologically-informed pedagogical ethical framework is essential to ensure that the integration of artificial intelligence genuinely supports authentic faith formation in the digital age. Keywords: artificial intelligence; challenges; Christian religious education; Opportunities; pedagogical ethics Abstrak Perkembangan kecerdasan buatan telah menghadirkan transformasi paradigmatis dalam dunia pendidikan, termasuk dalam konteks Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang berorientasi pada pembentukan iman yang holistik, relasional, dan transformatif. Namun demikian, integrasi teknologi ini belum diimbangi dengan kerangka etika pedagogis yang memadai, sehingga memunculkan ketegangan antara inovasi digital dan nilai-nilai teologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis implikasi kecerdasan buatan dalam PAK melalui tiga dimensi: peluang pedagogis, tantangan implementasi, dan kerangka etika berbasis teologi Kristen. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis kritis terhadap sumber-sumber ilmiah terindeks yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan buatan memberikan peluang nyata dalam peningkatan efektivitas, personalisasi, dan keterlibatan peserta didik. Namun, terdapat tantangan serius berupa potensi reduksi makna spiritual, risiko penyimpangan doktrin, degradasi relasi pedagogis, serta kesenjangan digital. Sintesis teologis menegaskan bahwa kecerdasan buatan harus diposisikan sebagai instrumen pedagogis yang berada di bawah otoritas iman, bukan sebagai pengganti peran guru dalam pembentukan karakter dan spiritualitas. Oleh karena itu, diperlukan kerangka etika pedagogis yang kontekstual dan teologis agar pemanfaatan kecerdasan buatan mendukung pembentukan iman yang autentik di era digital. Kata Kunci: etika pedagogis; kecerdasan buatan; peluang; pendidikan agama Kristen; tantangan
Digital Asceticism: Reimagining Christian Education in an Age of Digital Distraction Daniel Agustin; Charles Berebon; Margarita Kaunang
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/5prp4t09

Abstract

In an era defined by digital saturation, understood not merely as the prevalence of technology but as a cultural state of pervasive distraction and fragmented attention, Christian education faces unprecedented challenges in fostering deep spiritual formation. This environment often treats attention as a commodity, thereby undermining the contemplative practices essential for discipleship. This paper proposes digital asceticism, a deliberate and theologically grounded approach to minimizing technological interference, as an essential framework for reimagining Christian pedagogy. The study employs an interdisciplinary methodology, conducting a systematic synthesis of theological literature drawing on ascetic traditions from the Desert Fathers to Bonhoeffer with contemporary philosophical critiques of technology from Ellul and Borgmann and an analysis of qualitative case studies from Christian educational settings implementing tech-fast pedagogies. The analysis reveals that uncritical adoption of digital tools correlates with fragmented attention and eroded communal worship. Conversely, the case studies demonstrate that interventions such as device-free Scripture memorization and analog-based liturgies yield tangible outcomes including improved scriptural recall, deeper cognitive engagement, and enhanced relational intimacy within learning communities. The study concludes that digital restraint functions not as a rejection of technology but as a form of resistance against the idolatry of efficiency, creating essential space for attentiveness to the Holy Spirit. The paper concludes by advocating for a via media and offers actionable principles for educators including curated digital curriculums and the design of sacred spaces free from screens. By integrating ancient ascetic wisdom with contemporary educational needs, this research provides a prophetic and practical counter-narrative to the uncritical digitization of faith formation. Keywords: Christian education; contemplative pedagogy; digital asceticism; spiritual formation; technology and discipleship Abstrak Di era yang ditandai oleh saturasi digital dipahami bukan sekadar sebagai meluasnya teknologi, melainkan sebagai kondisi budaya yang penuh dengan distraksi dan perhatian yang terfragmentasi, pendidikan Kristen menghadapi tantangan yang belum pernah ada sebelumnya dalam menumbuhkan pembentukan spiritual yang mendalam. Lingkungan ini kerap memperlakukan perhatian sebagai komoditas, sehingga melemahkan praktik-praktik kontemplatif yang sangat penting bagi pemuridan. Artikel ini mengusulkan asketisme digital, yakni suatu pendekatan yang disengaja dan berakar secara teologis untuk meminimalkan gangguan teknologi, sebagai kerangka yang esensial dalam menggagas ulang pedagogi Kristen. Penelitian ini menggunakan metodologi interdisipliner melalui sintesis sistematis terhadap literatur teologi, yang menggali tradisi asketis dari para Bapa Padang Gurun hingga Bonhoeffer, dikombinasikan dengan kritik filosofis kontemporer tentang teknologi dari Ellul dan Borgmann, serta analisis studi kasus kualitatif dari lembaga pendidikan Kristen yang menerapkan pedagogi tech-fast. Hasil analisis menunjukkan bahwa adopsi alat digital secara tidak kritis berkorelasi dengan perhatian yang terfragmentasi dan melemahnya ibadah komunal. Sebaliknya, studi kasus memperlihatkan bahwa intervensi seperti hafalan Kitab Suci tanpa perangkat digital dan liturgi berbasis analog menghasilkan dampak nyata, mencakup peningkatan daya ingat terhadap teks Alkitab, keterlibatan kognitif yang lebih dalam, dan keintiman relasional yang lebih erat dalam komunitas belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian diri secara digital tidak berfungsi sebagai penolakan terhadap teknologi, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap penyembahan berhala efisiensi, yang menciptakan ruang penting bagi kepekaan terhadap karya Roh Kudus. Artikel ini diakhiri dengan mengadvokasi via media dan menawarkan prinsip-prinsip aplikatif bagi para pendidik, termasuk kurikulum digital yang terseleksi dan perancangan ruang-ruang sakral yang bebas dari layar. Dengan mengintegrasikan kearifan asketis kuno dan kebutuhan pendidikan kontemporer, penelitian ini menghadirkan narasi tandingan yang profetis sekaligus praktis terhadap digitalisasi pembentukan iman yang tidak kritis. Kata Kunci: asketisme digital; pendidikan Kristen; pembentukan spiritual; pedagogi kontemplatif; teknologi dan pemuridan
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Menanamkan Etika Kristen Bagi Generasi Alpha dalam Bermedia Sosial Agus Arda Setiawan Telaumbanua; Desmeni Telaumbanua; Mesra Cani Putri Daeli; Marchel Anthony Leiwakabessy
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol. 6 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Agama Kristen REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/zbkvs837

Abstract

Generation Alpha inhabits a digital ecosystem in which social media is not merely a communication tool but the primary arena for identity formation, social learning, and moral negotiation. Yet this very condition of immersion has given rise to ethical crises such as cyberbullying, identity fragmentation, exposure to pornographic and violent content, and an ongoing erosion of spiritual values. Although scholarship on Christian Religious Education (CRE) and digital formation is growing, existing studies tend either to examine pedagogical models that gesture toward concrete Christian ethical content without specifying it, or to describe social media phenomena without constructing an ethical framework grounded in biblical texts. This study addresses that gap by building a biblical-ethical framework from four normative texts, namely Colossians 4:5 on wisdom as a way of life, Proverbs 2:5 on the fear and knowledge of God, Matthew 5:13–14 on being salt and light in the world, and Galatians 5:22–23 on life according to the fruit of the Holy Spirit. It further explicates how each norm can be concretely implemented in CRE curriculum and practice for Generation Alpha. Drawing on qualitative methods grounded in hermeneutical analysis, this study demonstrates that the four ethical dimensions are not only theologically coherent but also pedagogically actionable. Accordingly, CRE serves as a strategic normative agent in instilling Christian ethics and shaping the digital character of Generation Alpha, equipping them with a moral compass for responsible and Christlike engagement in digital spaces. Keywords: christian ethics; christian religious education; digital character formation; generation alpha; hermeneutical analysis Abstrak Generasi Alpha menghuni ekosistem digital di mana media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan arena utama pembentukan identitas, pembelajaran sosial, dan negosiasi moral. Namun justru kondisi imersi inilah yang melahirkan krisis etika seperti perundungan siber, fragmentasi identitas diri, paparan konten pornografis dan kekerasan, serta pengikisan nilai-nilai spiritual secara berkelanjutan. Meskipun kajian tentang Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan formasi digital semakin berkembang, penelitian yang ada umumnya hanya mengkaji model pedagogis yang mengarah kepada konten etika Kristen yang konkret, atau sekadar mendeskripsikan fenomena media sosial tanpa membangun kerangka etis yang berpijak pada teks Alkitab. Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan mengonstruksi kerangka etika alkitabiah dari empat teks normatif, yaitu Kolose 4:5 tentang kebijaksanaan sebagai gaya hidup, Amsal 2:5 tentang takut dan mengenal Tuhan, Matius 5:13-14 tentang menjadi garam dan terang dunia, serta Galatia 5:22-23 tentang hidup menurut buah Roh Kudus. Penelitian ini juga menjelaskan bagaimana setiap norma dapat diimplementasikan secara konkret dalam kurikulum dan praksis PAK bagi Generasi Alpha. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis analisis hermeneutis, penelitian ini membuktikan bahwa keempat dimensi etika tersebut tidak hanya koheren secara teologis, tetapi juga dapat dioperasionalkan secara pedagogis. Dengan demikian, PAK berperan sebagai agen normatif yang strategis dalam menanamkan etika Kristen dan membentuk karakter digital Generasi Alpha, sehingga mereka mampu berinteraksi di ruang digital secara bertanggung jawab dan berkarakter Kristiani. Kata Kunci: analisis hermeneutis; etika Kristen; formasi karakter digital; generasi alpha; pendidikan agama Kristen