cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018" : 9 Documents clear
KALIMAT TANYA DALAM BAHASA MELAYU DIALEK TAMIANG Joko Hafrianto; Mulyadi Mulyadi
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.20225

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang membahas struktur kalimat tanya dalam bahasa Melayu dialek Tamiang. Penelitian struktur kalimat tanya ini menggunakan teori x-bar sebagai kajian sintaksis generatif. Data penelitian ini berupa kalimat tanya mae ‘apa’, hapo ‘siapa’, kalo ‘kapan’, kek mano ‘dimana’, keno mae ‘kenapa’, dan gano ‘bagaimana’. Data ini diperoleh dari hasil wawancara penutur asli bahasa Melayu dialek Tamiang dan data tersebut dianalisis dengan menggunakan metode agih. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kalimat tanya total dalam bahasa Melayu dialek Tamiang memerlukan jawaban “ya” atau “tidak”, sedangkan jenis kalimat tanya parsial dalam bahasa Melayu dialek Tamiang memerlukan jawaban penjelasan atau keterangan. Kata kunci: struktur kalimat, teori x-bar, bahasa Melayu dialek Tamiang INTERROGATIVE SENTENCES IN THE TAMIANG DIALECT OF MALAYAbstract This is a qualitative study discussing the structures of interrogative sentences in the Tamiang dialect of Malay. The study on the structures of interrogative sentences uses the x-bar theory as a study of generative syntax. The data were in the form of sentences asking mae ‘what’, hapo ‘who’, kalo ‘when’, kek mano ‘where’, keno mae ‘why’, and gano ‘how’. The data were collected through interviews with native speakers of the Tamiang dialect of Malaythe data were analyzed using the distributionalmethod. The results indicate that yes-no questions require a “yes” or “no” answer, while wh-questions require explanation or information. Keywords: sentence structures, x-bar theory, dialect Tamiang of Malay
PRESERVICE TEACHERS’ STRATEGIES TO NEGOTIATE ENGLISH TEACHING PRACTICES IN THE REMOTE AREA Puspitasari, Febi; Nurkamto, Joko; Kristina, Diah
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.20495

Abstract

Conditions and facilities of English language classes in the remote area encourage the negotiation of learning to solve problems. This narrative research aims to reveal strategies of pre-service teachers of the SM3T program in the process of the negotiation of English language learning. The study used diaries and interview transcripts from four teachers from Pidie Jaya and Sumba. The findings showthat teachers use interpersonal (IPS) and instructional (IS) strategies in the negotiation process. In Pidie Jaya, IPS strategies consist of the use of local languages and the help of local people. Meanwhile, IS strategies comprise learning groups and introduction to learning activities. In Sumba, teachers make language adjustment and establish rapport and informal communication as IPS strategies and they carry out buddy teaching and assign homework as IS strategies. This study contributes to the intercultural approach to designing English Language Education programs for remote areas. Keywords: EFL, remote areas, negotiation of learning STRATEGI GURU PRAJABATAN DALAM NEGOSIASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI DAERAH TERPENCIL Abstrak Kondisi dan fasilitas kelas Bahasa Inggris di daerah terpencil mendorong adanya negosiasi pembelajaran untuk menyelesaikan masalah. Penelitian naratif ini bertujuan untuk mengungkapkan strategi-strategi guru prajabatan program SM3T dalam proses negosiasi pembelajaran Bahasa Inggris. Studi ini menggunakan diary dan transkrip wawancara milik empat guru dari Pidie Jaya dan Sumba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan strategi Interpersonal (IPS) dan Instruksional (IS) dalam proses negosiasi. Di Pidie Jaya, IPS terdiri dari penggunaan bahasa lokal dan bantuan orang lokal. Sedangkan IS terdiri dari grup belajar dan pengenalan aktivitas-aktivitas pembelajaran. Di Sumba, guru melakukan penyesuaian bahasa dan membangun keakraban dan komunikasi informal sebagai IPS dan melakukan pengajaran dengan teman dan memberikan tugas rumah sebagai IS. Studi ini berkontribusi pada pendekatan antarkultur dalam merancang program Pendidikan Bahasa Inggris untuk daerah terpencil. Kata kunci: EFL, daerah terpencil, negosiasi pembelajaran
LITERASI MEMBACA UNTUK MEMANTAPKAN NILAI SOSIAL SISWA SD Muhammadi Muhammadi; Taufina Taufina; Chandra Chandra
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.16830

Abstract

Tujuan penelitian awal ini untuk mengumpulkan informasi tentang gaya belajar dan kesukaan siswa SD yang berguna untuk mengembangkan buku literasi membacasebagai bentuk pemantapan nilai sosial budaya di SD agar berdaya guna untuk Gerakan Literasi Sekolah. Hal ini dilandasi oleh masih ditemukan kasus siswa SD yang melakukan kekerasan terhadap teman sendiri. Model pengembangan literasi membaca untuk siswa SD yang digunakan adalah model Plomp dengan langkah:preliminary research, prototyping, dan assessment. Temuan penelitian dalam analisis awal yaitu siswa cenderung kurang termotivasi untuk membaca disebabkan bahan bacaan yang kurang menarik. Analisis kebutuhan menunjukkan bahwa siswa SD sangat menyukai cerita rakyat. Cerita rakyat yang perlu dikembangkan yaitu cerita rakyat nusantara yang tersebar di seluruh Indonesia dalam setiap provinsi. Diharapkan praktisi pendidikan menggunakan buku yang berisi tentang cerita rakyat dalam proses pembelajaran dan menjalankan Gerakan Literasi Sekolah. Hasil validasi bahan ajar menunjukkan bahwa bahan ajar literasi membaca dengan menggunakan cerita rakyat sudah valid dan dapat diujicobakan. Kata kunci: literasi membaca, cerita rakyat,sekolah dasar  READING LITERACY TO STRENGTHEN SOCIAL VALUES AMONG ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS Abstract This preliminary study aims to collect information about elementary school students’ learning styles and preferences that are useful for developing reading literacy books to strengthenthe socio-cultural values in elementary schools in order to be effective for the School Literacy Movement. This is as based on the fact that there are cases of elementary school students committing violence against their own friends. The development model of reading literacy for elementary school students was Plomp’s model with the steps of preliminary research, prototyping, and assessment. The research findings in the preliminary analysis show that students tend to have less motivation to read due to reading materials which are not interesting enough. The needs analysis results show that elementary school students really like folklore. The folklore to be developed comprises traditional Indonesian folklore spreading throughout the country in every province. It is expected that educational practitioners use a book about folklore in the learning process and the School Literacy Movement. The results of the teaching materials validation show that reading literacy learning materials using folklore are valid and can be tried out.Keywords: reading literacy, folklore, elementary school
KATEGORI PERTANYAAN PADA UJIAN TUGAS AKHIR SKRIPSI Dwiyanto Djoko Pranowo; Roswita Lumban Tobing
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.21019

Abstract

Upaya peningkatan kualitas suatu program perlu dukungan data tingkat capaian secara periodik melalui evaluasi. Evaluasi diperlukan agar kualitas proses dan hasil dapat ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan ujian Tugas Akhir Skripsi dan mengkategorisasikan pertanyaan-pertanyaan dalam tes lisan. Penelitian ini merupakan penelitian survei. Subjek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Prancis, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, yang menempuh ujian pada lima tahun terakhir (2012 – 2017). Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan angket. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitan sebagai berikut. Pertama, ujian lisan yang dilaksanakan selama 60-90 menit dengan tiga anggota tim penguji terbagi dalam tiga bidang kajian skripsi, yaitu: (1) inguistik, (2) sastra, dan (3) pengajaran. Kedua, pertanyaan-pertanyaan terpetakan dalam lima kategori dan 14 sub-kategori, yaitu pertanyaan: (1) terbuka-tertutup, (2) teknis-substantif, (3) berdasar tingkat kognitif (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta), (4) klarifikasi-pendalaman-perluasan, dan (5) di luar naskah skripsi. Kata kunci: tes lisan, skripsi, kategori pertanyaan CATEGORIES OF QUESTIONS IN THE UNDERGRADUATE THESIS EXAMINATIONAbstract Efforts to improve the quality of a program need to be supported by data on the periodic achievement levels through evaluation. Evaluation is necessary to improve the quality of the process and outcomes. This study aims to describe undergraduate thesis examinations and to categorize examination questions. This was a survey study. The subjects were students of the French Language Department, Faculty of Languages of Arts, Yogyakarta State University, sitting for the examinations in the last five years (2012-2017). The data were collected using documentation and questionnaires. They were analyzed by means of quantitative and qualitative descriptive techniques. The findings are as follows. First, an undergraduate thesis examination is conducted for 60-90 minutes with three examiners and there are three fields of study, namely: (1) linguistics, (2) literature, and (3) teaching. Second, questions are classified into five categories and 14 sub-categories, namely: (1) open and closed ended; (2) technical and substantive; (3) cognitive-level-based (remembering, understanding, implementing, analyzing, evaluating, and creating); (4) clarifying, probing, and extending; and (5) out-of-script questions.Keywords: examination, undergraduate thesis, categories of questions
STIGMA NEGATIF BAHASA KORUPSI DALAM PEMBERITAAN MEDIA MASSA Dadang S. Anshori
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.18581

Abstract

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran pemakaian bahasa korupsi di media massa sebagai stigma negatif dan terjadinya dekonstruksi makna korupsi yang disebabkan oleh variasi penggunaan bahasa. Dalam analisis bahasa fungsional, pemakaian kosakata dan kalimat yang ditulis di media massa menggambarkan realitas sosial sesungguhnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Korpus penelitian ini adalah bahasa (kosakata) korupsi yang digunakan majalah Tempo selama 20 edisi yang bertajuk tentang korupsi. Data yang terkumpuldiklasifikasikan dan dianalisis sesuai dengan konteks penggunaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majalah Tempo menggunakan kosakata yang bermakna korupsi dalam beragam jenis, terdiri atas 47 kata dan 88 frasa. Hasil analisis sebagai berikut. (1) Luasnya penggunaan kosakata korupsi menggambarkan beragamnya prilaku korupsi yang terjadi di tengah masyarakat. (2) Kata korupsi banyak digunakan dalam bentuk lain, seperti idiom yang bermakna pejoratif dan stigmatisasi. (3) Kata korupsi ditulis dalam bentuk metafora untuk menggambarkan prilaku korupsi dengan makhluk atau benda lain yang memiliki karakter jahat dan bermakna hukuman sosial. (4) Konteks yang ditampilkan lebih pada bahwa korupsi merupakan kejahatan yang merugikan negara dan rakyat. Kata kunci: hukuman sosial, korupsi, kontruksi, stigmatisasi, diksi, ragam makna NEGATIVE STIGMA OF THE LANGUAGE OF CORRUPTION IN THE MASS MEDIA NEWSAbstract This study aims to provide an overview of the use of the language of corruption in the mass media as a negative stigma and the deconstruction of the meaning of corruption caused by variations in language use. In the analysis of functional language, the use of vocabulary and sentences written in the mass media describes the social reality. The study used the qualitative approach with the descriptive analytical method. The corpus was the language (vocabulary) of corruptionusedby Tempo magazine for 20 editions focusing on corruption. The collected data were classified and analyzed according to the context of the use. The results showthatTempo magazine used vocabulary meaning corruption in various types, consisting of 47 words and 88 phrases. The results are as follows. (1) The extent of the use of the vocabulary of corruption illustrates the variety of corrupt behaviors in our society. (2) The wordcorruptioniswidely used in other forms, such as idioms with pejorative and stigmatization meanings. (3) The word corruption is written in the form of a metaphor to describe corrupt behaviors with other creatures or things that have evil characters and mean social punishment. (4) The context shown is more on the fact that corruption is a crime that harms the state and the people. Keywords: social punishment, corruption, construction, stigmatization, diction, variety of meanings
THE AESTHETICS OF SENAPATI PINILIH, A KETOPRAK STORY BY BONDAN NUSANTARA Sumaryadi, Sumaryadi
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.21020

Abstract

This study aims to describe the aesthetics of Senapati Pinilih, a ketoprak (Javanese play) story by Bondan Nusantara. The material object of the study is the story and the formal object is its philosophy of beauty or aesthetics. The ketoprak story is an integral part of the ketoprak art. The aesthetics of Senapati Pinilih is approached by Monroe Beardsley’s theory in his book Aesthetics: Problems in the Philosophy of Criticism that explains that there are three characteristics of the good or beautiful nature of aesthetic objects, namely unity, complexity, and intensity. The data were collected through observations, in-depth interviews, and documentation study. They were analyzed through the stages of data reduction, data classification, and data display, and by the methods of verstehen, interpretation, language analysis, and heuristics. The findings are as follows. Aesthetics has integrated patterns and forms, especially for the characters in Senapati Pinilih, and serves as markers of the story atmosphere. In this story, Bondan Nusantara wraps the theme, dialog media, directions of motion and behavior into a unified whole. With an unconventional plot Bondan Nusantara makes this story complex, rich in contents and mutually contrary elements. In this story, Bondan Nusantara structures the story dynamically, not monotonously, so that the concentration or attention of the readers (or viewers) can be maintained throughout the progress of the story. Serious nuances are proportionately and effectively combined with humorous ones. Keywords: ketoprak story, aesthetics, character education ESTETIKA SENAPATI PINILIH, SEBUAH CERITA KETOPRAK OLEH BONDAN NUSANTARA Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan estetika Senapati Pinilih, sebuah cerita ketoprak (Jawa) oleh Bondan Nusantara. Objek material penelitian adalah cerita dan objek formal adalah filosofinya tentang keindahan atau estetika. Cerita ketoprak merupakan bagian integral dari seni ketoprak. Estetika Senapati Pinilih diteliti dengan pendekatan teori Monroe Beardsley dalam bukunya Aesthetics: Problems in the Philosophy of Criticism yang menjelaskan bahwa ada tiga karakteristik dari sifat baik atau keindahan objek estetika, yaitu kesatuan, kompleksitas, dan intensitas. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data dianalisis melalui tahap-tahap pengurangan data, klasifikasi data, dan tampilan data, dan dengan metode verstehen, interpretasi, analisis bahasa, dan heuristik. Temuan penelitan sebagai berikut. Estetika memiliki pola dan bentuk yang terintegrasi, terutama untuk karakter dalam Senapati Pinilih dan berfungsi sebagai penanda suasana cerita. Dalam cerita ini, Bondan Nusantara membungkus tema, media dialog, arah gerak, dan perilaku menjadi satu kesatuan yang utuh. Dengan plot yang tidak konvensional, Bondan Nusantara membuat cerita ini kompleks, kaya isi, dan unsur-unsur yang saling bertentangan. Dalam cerita ini, Bondan Nusantara menyusun cerita secara dinamis, tidak monoton, sehingga konsentrasi atau perhatian para pembaca (atau pemirsa) dapat dipertahankan sepanjang perkembangan cerita. Suasana serius dikombinasikan dengan humor secara proporsional dan efektif.Kata kunci: cerita ketoprak, estetika, pendidikan karakter
MODIFIED CHILD-DIRECTED SPEECH (MCDS) AND THE USE OF A NAMING TASK TO COMPARE THE PACING OF LANGUAGE ACQUISITION AND VOCABULARY BUILDING OF AGE 2-6 LEARNERS OF THEFIRST AND SECOND LANGUAGES Rayven Panes Aledo
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.20557

Abstract

As support to several studies about Child-Directed Speech (CDS), also known as motherese or parentese, this study compared the pacing of three children learning their first and second languages (Filipino and English) and explored the language learning of children exposed to aspecialized language task specific to the vocabulary building and facilitated through a style derived from CDS while listening to the oral drills and language reviews done by the mother and the other siblings at home. The respondents were of different ages (i.e. 2, 4, and 6 years old) and varied interms of language input and output due to differences in exposure and environment (i.e. schooling and non-schooling). Furthermore, the study used a specially-designed framework explaining the totality of the process, actions taken to address difficulties, and corrected output or acquired vocabulary through interaction and exposure. Exposure to language input was tested in the assessment phase. The study also tested the ability of the youngest child not yet studying in a formal school, unlike his siblings, to absorb language input, still, with constant exposure (in the corrective phase) leading to success in correction of difficulties and acquisition of language input.Keywords: Modified Child Directed Speech, exposure, uncorrected output, corrected output MODIFIED CHILD-DIRECTED SPEECH (MCDS) DAN PENGGUNAAN TUGAS PENAMAAN UNTUK MEMBANDINGKAN KECEPATAN PEMEROLEHAN BAHASA DAN PENGEMBANGAN KOSAKATA PEMBELAJAR BAHASA PERTAMA DAN KEDUA USIA 2-6 TAHUNAbstrakUntuk mendukung beberapa penelitian tentang Child-Directed Speech(CDS), juga dikenal sebagai bahasa ibu atau orang tua, penelitian ini membandingkan kecepatan tiga anak yang mempelajari bahasa pertama dan kedua (bahasa Filipina dan Inggris) dan mengeksplorasi pembelajaran bahasa anak-anak yang dipajankan pada tugas kebahasaan khusus terutama untuk mengembangkan kosakata dan difasilitasi melalui gaya yang berasal dari CDS sambil mendengarkan latihan lisan dan penjelasan yang dilakukan oleh ibu dan saudara lainnya di rumah. Responden berbeda usia (yaitu 2, 4, dan 6 tahun) dan bervariasi dalam hal input dan output bahasa karena perbedaan dalam pajanan dan lingkungan (yaitu sekolah dan non-sekolah). Selanjutnya, penelitian ini menggunakan kerangka yang dirancang khusus yang menjelaskan totalitas proses, tindakan yang diambil untuk mengatasi kesulitan, dan mengoreksi luaran atau memperoleh kosakata melalui interaksi dan pajanan. Pajanan masukan bahasa diuji dalam fase penilaian. Penelitian ini juga menguji kemampuan anak bungsu yang belum belajar di sekolah formal, tidak seperti saudara kandungnya, untuk menyerap input bahasadengan pajanan yang terus menerus (dalam fase korektif) yang mengarah pada keberhasilan dalam koreksi kesulitan dan perolehan input bahasa.Kata kunci: Modified Child-Directed Speech, pajanan, luaran tidak terkoreksi, luaran terkoreksi
MODEL PENILAIAN OTENTIK BERBASIS KECAKAPAN HIDUP SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Nusrotus Sa'idah; Hayu Dian Yulistianti; Yushinta Eka Farida
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.18551

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen berbasiskecakapan hidup dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, menguji kualitas instrumen, serta mengetahui respon guru terhadap instrumen tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang diadopsi dari Borg dan Gall yang mencakup observasi, penggalian permasalahan, dan kebutuhan model penilaian melalui focus group discussion, penyusunan model, validasi ahli, uji coba produk, dan implementasi sebagai tahap uji coba skala besar. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa produk pengembangan, yaitu model penilaian otentik, baik (86,11%). Hasil analisis uji coba produk menunjukkan bahwa produk ini reliabel dengan koefisien sebesar 0,756. Tahap implementasi, yaitu uji coba produk penilaian otentik, menggunakan salah satu jenis penilaian, yaitu penilaian kinerja. Perbandingan antara kelas yang menggunakan penilaian kinerja dengan kelas kontrol menunjukkan hasil dengan signifikansi 0,000. Hal ini dapat diinterpreasikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara penilaian otentik dengan penilaian konvensional. Hasil analisis dari respon pendidik sebagai user menunjukkan bahwa produk ini baik dengan nilai 41,85. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk penilaian otentik ini baik, reliabel, dan efektif digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Kata kunci: penilaian otentik, kecakapan hidup, bahasa Indonesia A MODEL OF AUTHENTIC ASSESSMENT BASED ON STUDENTS’ LIFE SKILLS IN INDONESIAN LANGUAGE LEARNING AbstractThis study aims to develop instruments based on life skills in Indonesian language learning, test the instrument quality, and find out teachers’ responses to the instruments. This was a research and development study using a model adapted from Borg and Gall’sconsisting of observation, identifying problemsand needs for an assessment model through focus group discussions, modeling, conducting expert validation, trying out the product, and implementing it as a large-scale tryout. The results of the expert validation indicate that the development product, namely an authentic assessment model, is good(86.11%). The resultof the product tryout analysis shows that the product is reliable with a coefficient of 0.756. The implementation phase, namely the tryout of the authentic assessment product, used one assessment type, namely performance assessment. A comparison between a group using performance assessment and a control group shows a result with a significance of 0.000. This can be interpreted that there is a significant difference between authentic assessment and conventional assessment. The result of the analysis of the responses from teachers as users shows that the product is good with a score of 41.85. These results indicate that the authentic assessment product is good, reliable, and effective to be used in Indonesian language learning.Keywords: authentic assessment, life skills, Indonesian language
SEMANTIC PROTOTYPES OF INDONESIAN STAPLE FOODS Latif Amrullah
LITERA Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v17i2.14544

Abstract

Semantic prototypes of staple foodsare different among community members in Indonesia. These differences can be affected by,among others, geographical and socio-cultural factors. Departing from these differences, this study aims to find out the semantic prototype formula of the staple food concept based on Indonesian people’s perspectives. The study was carried out by distributing a questionnaire as a means of collecting data and the data were then quantitatively analyzed. Referring to the theories of Wierzbicka and Coleman Kay, the study reveals that Indonesian people still firmly believe that rice is an irreplaceable staple food. The proposed semantic prototypesare proved to have patterns similar to the findings. In addition, it turns out that cultural and natural factors also affect the way people interpret these staple foods.Keywords: staple foods, semantic prototypes, Indonesian people PROTOTIPE SEMANTIK MAKANAN POKOK MASYARAKAT INDONESIAAbstrak Prototipe semantik makanan pokok memiliki perbedaan penafsiran di antara anggota masyarakat di Indonesia. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh antara lain faktor geografis dan sosial budaya. Berangkat dari adanya perbedaan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menemukan formula prototipe semantik dari konsep makanan pokok berdasarkan cara pandang masyarakat Indonesia. Penelitian dilaksanakan dengan menyebarkan angket sebagai alat pengumpulan data dan data kemudian dianalisis secara kuantitatif. Dengan mengacu teori Wierzbicka dan Coleman dan Kay, penelitian ini mengungkap bahwa masyarakat Indonesia masih berpegang teguh bahwa nasi merupakan makanan pokok yang tidak tergantikan. Prototipe semantik yang diajukan dalam penelitian ini terbukti memiliki pola yang hampir sama dengan hasil penelitian. Disamping itu, ternyata faktor budaya dan alam sekitar turut mempengaruhi cara masyarakat menafsirkan bahan makanan pokok tersebut.Kata kunci: makanan pokok, prototipe semantik, masyarakat Indonesia

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue