cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 23, No 2 Jun (2013)" : 6 Documents clear
EFEKTIVITAS Bacillus thuringiensis H-14 STRAIN LOKAL DALAM BUAH KELAPA TERHADAP LARVA Anopheles sp dan Culex sp di KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP P, Blondine Ch.; Widyastuti, Umi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.483 KB)

Abstract

Abstrak Bacillus thuringiensis serotipe H-14 strain lokal adalah bakteri patogen bersifat target spesifiknya larva nyamuk, aman bagi mamalia dan lingkungan. Penelitian bertujuan menentukan efektivitas B. thuringiensis H-14 strain lokal yang dikembangbiakkan dalam buah kelapa untuk pengendalian larva Anopheles sp dan Culex sp. Rancangan eksperimental semu, terdiri dari kelompok perlakuan dan kontrol. Bacillus thuringiensis H-14 strain lokal dikembangbiakan dalam10 buah kelapa umur 6–8 bulan, dengan berat kira-kira 1 kg, telah berisi air kelapa sekitar 400-500 ml/buah kelapa yang diperoleh dari Desa Klaces, Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. Diinkubasi selama 14 hari pada temperatur kamar dan ditebarkan di 6 kolam yang menjadi habitat perkembangbiakan larva nyamuk dengan luas berkisar 3–100 m2.Hasil yang diperoleh menunjukkan efektivitas B. thuringiensis H-14 strain lokal terhadap larva Anopheles sp dan Culex sp selama 1 hari sesudah penebaran kematian larva berturut-turut sebesar 80–100% dan 79,31–100%. Sedangkan pada hari ke-14 sebesar 69,30–76,71% dan 67,69–86,04%. Buah kelapa dapat digunakan sebagai media lokal alternatif untuk pengembangbiakan B. thuringiensis H-14 strain lokal Kata kunci: B. thuringiensis H-14,  strain  lokal, buah kelapa, pengendalian larva Abstract Bacillus thuringiensis serotype H-14 local strain is pathogenic bacteria which specific  target to mosquito larvae. It is safe for mammals and enviroment. The aims of this study was to determine the effectivity of B. thuringiensis H-14 local strain which culturing in thecoconut wates against Anopheles sp and Culex sp mosquito larvae. This research is quasi experiment which consist of treated  and control groups. Bacillus thuringiensis H-14 local strain was cultured in 10 coconuts with 6–8 months age with weight around 1 kg that contained were approximately 400-500 ml/coconut were taken from Klaces village, Kampung Laut. After that the coconuts incubated for 14 days in the room temperatur and applied to 6 ponds breeding habitat larvae with the width of samples  from  3–100 m2 . The results showed the effectivity of B. thuringiensis H-14 local strain against Anopheles sp and Culex sp mosquito larvae until 1 day after applied the larvae mortalities were 80–100% dan 79,31–100% respectively. Fourteen days after applied were 69,30–76,71% and 67,69–86,04%. Coconut water can be used as  alternative local media to culture B. thuringiensis local strain. Key words : B. thuringiensis H-14,  local strain, coconut, larvae control
CHEMICAL CONSTITUENTS AND ANTIBACTERIAL EFFECT OF ESSENTIAL OIL OF JAVANEESE PEPPER LEAVES (PIPER RETROFRACTUM VAHL.) Jamal, Yuliasri; Irawati, Pipit; Fathoni, Ahmad; Agusta, Andria
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.498 KB)

Abstract

Abstrak Daun cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) telah terbukti berkhasiat sebagai bahan antimikroba, akan tetapi belum ada informasi lebih lanjut tentang mekanisme aksi antibakteri dari minyak atsiri daun cabe jawa. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri daun cabe jawa terhadap bakteri uji sensitif serta difokuskan untuk melihat kerusakan membran sel bakteri melalui analisis protein, asam nukleat dan ion-ion logam kalsium dan kalium. Distilasi uap minyak atsiri dari daun segar cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) menghasilkan 0.03% cairan kental kekuningan. Analisis dengan GC-MS mengidentifikasi 4 senyawa sebagai komponen utama, yaitu germakren D (24.20%), tetrametilsiklo[5.3.1.0(4.11)]-undek-8-ena (17.73%), ar-turmeron (11.55%) dan benzil benzoat (6.28%). Minyak atsiri cabe jawa terbukti aktif melawan beberapa bakteri patogen antara lain Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis and Micrococcus luteus dengan diameter daya hambat berturut-turut 8.0; 9.7; 8.5 mm. Pengamatan lebih lanjut memperlihatkan nilai MIC dari minyak atsiri cabe jawa  terhadap B. subtilis adalah 2% (v/v), dan juga merubah morfologi sel dari bakteri yang diobservasi menggunakan SEM. Kata kunci: Piper retrofractum Vah., cabe jawa, minyak atsiri, aktivitas antibakteri Abstract The leaves of Javaneese pepper (Piper retrofractum Vahl.) has been proven efficacious as antimicrobial agent, however, there was no further information about action mechanism of antibacterial of Javaneese pepper leaves essential oil. This study was to determine the effect of essential oils of javaneese pepper leaves against bacterial sensitive test and is focused on investigating the damage of cell membranes of bacteria through the analysis of proteins, nucleic acids and metal ions, calcium and potassium. Steam distillation of essential oil from fresh leaves of Javaneese pepper (Piper retrofractum Vahl.) gave 0.03 % yellowish viscous liquid. Germacrene D (24.20 %), tetramethylcyclo[5.3.1.0(4.11)]-undec-8-ene (17.73 %), Ar-turmeron (11.55 %) and benzyl benzoate (6.28 %) were identified as major constituents analyzed by GC-MS. Javaneese pepper essential oil was active against pathogenic bacteria Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis and Micrococcus luteus with diameter of clear zone of 8.0, 9.7 and 8.5 mm respectively. Further investigation showed MIC value of the oil against B. subtilis was 2 % (v/v), and was also alter the cell morphology of tested bacterium observed by SEM. Key words: Piper retrofractum Vahl., Javeneese pepper, essential oil, antibacterial activity
CURRENT STATUS AND FUTURE CHALLENGES OF HEALTHCARE WASTE MANAGEMENT IN INDONESIA Irianti, Sri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.675 KB)

Abstract

Abstrak Latar belakang: Dalam memberikan pelayanan kesehatan, rumah sakit maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya menghasilkan limbah medik yang mempunyai risiko menularkan penyakit-penyakit  tular darah dan penyakit lainnya  apabila tidak dikelola secara aman. Tujuan:Diperolehnya gambaran tentang kondisi dan praktik Pengelolaan Limbah Layanan Kesehatan (PLLK) di beberapa rumah sakit umum (RSU) di Indonesia, agar dapat digunakan oleh RSU dan sarana pelayanan kesehatan lainnya untuk melaksanakan PLLK secara aman. Bahan dan Cara: Kajian berupa survei dilakukan oleh Direktorat Penyehatan Lingkungan dengan cara mengirimkan kuesioner terstruktur di100 RSU pada tahun 2004. Hanya 76 RSU yang mengisi kuesioner. Lingkup survei meliputi aspek sanitasi RSU, di antaranya PLLK yang meliputi variabel ketersedian unit organisasi yang bertanggungjawab dalam PLLK, rencana pengelolaan limbah medik , ketersediaan pedoman PLLK, praktik pemilahan dan teknologi pengolahan limbah medik. Hasil: Sebagian besar RSU telah mempunyai unit yang bertanggungjawab dalam PLLK, namun hanya sekitar 33% yang mempunyai rencana PLLK. Demikian pula hanya sekitar 30% RSU yang memilah limbahnya menjadi tiga kategori sesuai pedomanPLLK, walaupun lebih dari 60% RSU telah mempunyai buku pedoman PLLK sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/2004. Insinerasi merupakan cara pemusnahan limbah yang dipilih oleh mayoritas RSU. Kesimpulan: Masih banyak RSU yang disurvei belum mengelola limbahnya sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/2004 seperti diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun termasuk  limbah layanan kesehatan. Kata kunci: fasilitas kesehatan, pengelolaan limbah layanan kesehatan, kebijakan, risiko kesehatan Abstract Background: In providing healthcare services, hospitals and other healthcare facilities generate medical wastes which can spread blood-borne diseases and other waste diseases if they do not manage their medical wastes safely. Material and Method: Information presented in this paper is part of a survey of Environmental Health Directorate regarding hospital sanitation using a structured questionnaire mailed to 100 general hospitals in 2004. There were 76 hospitals participated in the survey by filling in the questionnaires and sending them back to the Environmental Health Directorate. Study variables include availability of sanitation unit responsible for Health Care Waste Management (HCWM), HCWM plans, HCWM guidelines, waste segregation practices, and HCWM technologies used. Result: Majority of hospitals had sanitation units; however, only about 30% hospitals had HCWM plans. Moreover, only about 33% hospitals segregated their wastes into three categories as recommended by HCWM guidelines, although more than 60% hospitals owned HCWM guidelines according to Health Ministerial Decree No. 1204/2004. Incineration is a preferred means of medical waste treatment technology. Conclusion: There were many surveyed hospitals did not comply with Ministerial Health Decree No.1204/2004 in terms of safe HCWM as mandated by Government Regulations No. 18 and 85/1999 concerning Hazardous Waste Management, including HCWM. Keywords: healthcare institution, healthcare waste, policy, health risk.
KAJIAN EPIDEMIOLOGIS PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) Oemiati, Ratih
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.306 KB)

Abstract

Abstrak Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sangat kurang dikenal di masyarakat. Di Amerika Serikat pada tahun 1991 diperkirakan terdapat 14 juta orang menderita PPOK, meningkat 41,5% dibandingkan tahun 1982, sedangkan mortalitas menduduki peringkat IV penyebab terbanyak yaitu 18,6 per 100.000 penduduk pada tahun 1991 dan angka kematian ini meningkat 32,9% dari tahun 1979 sampai 1991. WHO menyebutkan PPOK merupakan penyebab kematian keempat didunia yaitu akan menyebabkan kematian pada 2,75 juta orang atau setara dengan 4,8%. Selain itu WHO juga menyebutkan bahwa sekitar 80 juta orang akan menderita PPOK dan 3 juta meninggal karena PPOK pada tahun 2005. Kajian ini bertujuan untuk mengukur prevalensi PPOK, tingkat keparahan, serta untuk mengidentifikasi tipe PPOK, faktor risiko, morbiditas dan mortalitas, dampak PPOK dan biaya pengobatan. Penelitian ini merupakan review PPOK berdasarkan data kepustakaan dan jurnal dengan fokus penulisan PPOK, yang meliputi; gejala, klasifikasi, prevalensi, faktor risiko, morbiditas dan mortalitas, dampak PPOK, pengobatan dan biaya pengobatan PPOK. Berdasarkan kajian tipe PPOK ada dua yaitu bronchitis kronik dan emphysema. Di Asia Tenggara diperkirakan prevalensi PPOK sebesar 6,3% dengan prevalensi tertinggi ada di negara Vietnam (6,7%)dan RRC (6,5%). Faktor risiko antara lain merokok; polusi indoor, outdoor, dan polusi di tempat kerja; genetik; riwayat infeksi saluran napas berulang. Ada 4 indikator tingkat keparahan berdasarkan ATS (American Thoracic Society). Keterbatasan aktivitas pada pasien PPOK, penurunan berat badan, peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler, osteoporosis dan depresi merupakan akibat PPOK.Dibutuhkan sekitar $ 18 miliar biaya langsung dan biaya tidak langsung sekitar $14.1 miliar dalam penanggulangan PPOK di Eropa. Kata Kunci: PPOK, faktor risiko, mortalitas Abstract Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) was unknown diseases. It predicted 14 million COPD’s patient in 1991 in USA,in the other hand it raised to 41.5% compare with in 1982.Mortality rate have raised up 32.9% from 1979 to 1991. World Health Organization (WHO) assumed that COPD was in fourth ranks of cause of death in the world, would have 2.75 million mortality or equivalence with 4.8%. Otherwise WHO predicted 80 million people had COPD that 3 million among of them would be death in 2005. The aim of this study to measure COPD prevalenced, degree of severity, COPD types, risk factors, morbidity and mortality, impact of COPD and cost of health care in COPD. The data wasexplored of review COPD based on literature and journal that focused on type of COPD, risk factors, prevalence, morbidity and mortality, severe ranks, impact of COPD, medication and cost of PPOK medication.There were two types of COPD, i.e chronic bronchitis and emphysema. It was 6.3 % prevalence of COPD in South East Asian where maximum prevalences were in Vietnam (6.7%) and China (6.5%). The risk factors of COPD were smoking, indoor, outdoor and workplace pollution, genetic (ATT); repeated of infectious respiratory disease history.It was four indicators severe based on ATS (American Thoracic Society) standards. There were many impacts of COPD i.e; disability, decending of weight body, rising up of risk of cardiovascular disesase, osteoporosis and depression. It needed $ 18 billion to cover direct cost and $14.1 billion covered indirect cost, according to cope of COPDin Europe Key words: COPD, risk factors, mortality
SERO SURVEI STATUS KEKEBALAN CAMPAK HASIL RISKESDAS 2007 Pracoyo, Noer Endah; Yekti, Rabea Pangerti; Roselinda, Roselinda
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.094 KB)

Abstract

Abstrak Penyakit campak merupakan penyakit menular yang sering terjadi pada anak-anak. Kasus campak di Indonesia masih sering terjadi meskipun telah berhasil direduksi. Jumlah kasus tahun 1990 sebanyak 180.000 kasus menjadi sekitar 20.000 kasus pada tahun 2010. Upaya mengurangi terjadinya penularan penyakit campak telah dilakukan pemberian imunisasi secara rutin pada balita dan booster pada anak usia sekolah dasar. Telah dilakukan analisis hubungan antara kekebalan campak pada individu terpilih dengan faktor risiko penyebab terjadinya kekebalan campak pada  Riskesdas 2007. Tujuannya untuk menilai hubungan antara fator risiko dengan kekebalan campak pada individu terpilih hasil Riskesdas 2007. Metode mengikuti kerangka Riskesdas 2007. Analisis data dengan menggunakan perangkat lunak stata 9.00. Hasilnya risiko non protektif campak sebesar 68% pada individu yang berusia 10-14 tahun, dan risiko non protektif  sebesar 73% pada golongan ekonomi menengah ke bawah yakni pada golongan ekonomi tingkat 3 . Kata kunci: titer antibodi campak, individu terpilih, riskesdas 2007 Abstract Measles is a contagious disease that often occurs in children. Cases of measles in Indonesia are still common despite successfully reduced. The number of cases of 180,000 cases in 1990 to approximately 20,000 cases in 2010. Efforts to reduce disease transmission measles immunization has been carried out on a regular basis. In the toddler and booster at primary school age children. Analyzed the relationship  measles antibody titers in individuals with risk factors for selected causes immunity against measles in Riskesdas 2007. The aim is to assess the relationship between risk factor immunity against measles in selected individual in Riskesdas 2007. The method follows the framework of Riskesdas 2007. Analysis of the data using the software stata 9:00. The result, risk non protective measles by 68% in individuals aged 10-14 years, and non-protective risk by 73% in the middle and lower economic classes namely the economic group level 3. Keywords: measles antibody titers, the individual selected, Riskesdas 2007.
KOMPETENSI VEKTORIAL Anopheles maculatus, Theobald di KECAMATAN KOKAP, KABUPATEN KULONPROGO Widyastuti, Umi; Boewono, Damar Tri; Widiarti, Widiarti; Supargiyono, Supargiyono; Satoto, Tri Baskoro T.
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 23, No 2 Jun (2013)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.131 KB)

Abstract

Abstrak Malaria masih merupakan masalah kesehatan di Kabupaten Kulonprogo, khususnya di Kecamatan Kokap. Dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa pada tahun 2009, 1 dari 5 desa di Kecamatan Kokap sebagai daerah malaria dengan statifikasi Insidensi Kasus Rendah (Low Case Incidence/LCI). Pada tahun 2010 meningkat menjadi 3 desa, peningkatan kasus malaria di Kecamatan Kokap berkaitan dengan keberadaan nyamuk Anopheles yang berpotensi sebagai vektor. Beberapa spesies seperti An. maculatus, An. aconitus, dan An. balabacensis diduga sebagai vektor malaria potensial di daerah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi vektorial An. maculatus yang terdiri dari: kerentanan nyamuk An. maculatus terhadap Plasmodium, sifat antropofilik, angka paritas, dan kepadatan nyamuk. Kerentanan nyamuk terhadap Plasmodium diukur dengan deteksi antigen protein sporozoit (Circum Sporozoite Protein/CSP) dari P. falciparum atau P. vivax pada dada-kepala dari semua nyamuk parous. Karakteristik antropofilik diukur dengan mendeteksi darah manusia pada perut nyamuk dengan kondisi penuh darah dan setengah gravid. Kedua deteksi tersebut dilakukan dengan teknik ELISA. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Oktober 2011 di dua desa yaitu: Tegiri dan Gunungrego, Kecamatan Kokap. Nyamuk ditangkap dengan menggunakan metode sesuai dengan pedoman WHO. Penangkapan dilakukan pada malam hari (18.00-06.00) terhadap nyamuk yang hinggap pada manusia di dalam rumah, di luar rumah, nyamuk yang istirahat baik di dalam rumah (dinding) maupun luar rumah (sekitar kandang ternak) dan penangkapan pada pagi hari (06.00-08.00). Kepadatan An. maculatus dihitung dan paritas nyamuk ditentukan dengan pembedahan ovarium secara mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa An. maculatus di Gunungrego rentan terhadap P. vivax dengan angka sporozoit 3,57%. Namun, CSP antigen P. vivax tidak terdeteksi pada dada-kepala nyamuk An. maculatus dari Tegiri. Antigen CSP P. falciparum negatif pada dada-kepala nyamuk An. maculatus dari Gunungrego dan Tegiri. Proporsi An. maculatus yang mengisap darah manusia (Human Blood Index / HBI) adalah 40,00% di Tegiri dan 33,33% di Gunungrego. Angka paritas dan kepadatan An. maculatus lebih tinggi ditemukan di Tegiri daripada di Gunungrego. Kata Kunci: malaria, ELISA sporozoit, analisis pakan darah. Abstract Malaria is still a health problem in Kulonprogo Regency, particularly in the Kokap Subdistrict. In the last two years indicate that in 2009, 1 out of 5 villages in Kokap Subdistrict were considered as malarious areas with Low Case Incidence (LCI). In the year of 2010, it increased to 3 villages. The increase of malaria cases in Kokap Subdistrict was related to the presence of  Anopheline mosquitoes which serve as potential vector. Several species such as Anopheles maculatus, An. aconitus, and An. balabacensis are suspected as potential malaria vectors in this area.  The objective of this study was to determine the vectorial competence of An. maculatus consisting of:  the An. maculatus mosquitoes susceptibility to Plasmodia,  its anthropophilic characteristics, the parity rate, and the mosquito density. The susceptibility of mosquito to Plasmodia was measured by detection of sporozoite protein antigen (Circum Sporozoite Protein/ CSP) of P. falciparum or P. vivax on the head-thorax of all parous mosquitoes. The anthropophilic characteristics were measured by detection of human blood on the abdomen of blood fed and half gravid mosquitoes. Both of these were done by Enzyme Linked Immunosorbant Assay (ELISA) technique. The study was conducted from  May until October 2011 in two villages i.e: Tegiri and Gunungrego, Kokap Subdistrict. The Anopheline mosquitoes were collected using the landing and resting mosquito collection technique both indoors and outdoors, at night (18.00-06.00) as well as in the morning (06.00-08.00) according to the WHO guideline. The density of An. maculatus was calculated and its parity was determined by microscopic ovary dissection. The result showed that An. maculatus in Gunungrego was susceptible to P. vivax with a sporozoite rate of 3.57 %. However, CSP antigen of P. vivax was not detected in the head-thorax of mosquitoes from Tegiri. CSP antigen of  P. falciparum was negative in the head-thorax  of mosquitoes both from Gunungrego and Tegiri villages. The proportion of An. maculatus fed on human (Human Blood Index / HBI) was 40,00 % in Tegiri and 33,33 % in Gunungrego. The parity rate of An. maculatus and its density was found higher in Tegiri than  in Gunungrego. Keywords: malaria, sporozoite ELISA, blood meal analysis.

Page 1 of 1 | Total Record : 6