cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 24, No 2 Jun (2014)" : 7 Documents clear
PERAN DUKUN BAYI DALAM MENUNJANG KESEHATAN IBU DAN ANAK Kasnodihardjo, Kasnodihardjo; Kristiana, Lusi; Angkasawati, Tri Juni
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.597 KB)

Abstract

AbstrakHasil analisis Riskesdas 2010 menggambarkan bahwa Kabupaten Bantul Yogyakarta termasuk 10 besar dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia yang mempunyai Indek Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) cukup baik yaitu sebesar 0,69148. IPKM yang merupakan komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan termasuk di dalamnya kesehatan ibu dan anak. Jika mendasarkan pada asumsi bahwa ada hubungan yang signifikan kemajuan ekonomi suatu masyarakat dengan tingginya status kesehatan masyarakat maka untuk daerah Bantul menjadikan suatu pertanyaan, karena jumlah keluarga pra-sejahtera atau keluarga miskin di kabupaten tersebut masih cukup tinggi. Oleh karena itu perlu diungkap berbagai faktor endogen; salah satunya faktor sosial budaya yang diduga ikut berperan menunjang status kesehatan masyarakat di kabupaten tersebut. Daerah penelitian dikonsentrasikan di desa Gadingsari Kecamatan Sanden Bantul Yogyakarta, yang mana kasus kematian bayi dan balita sedikit. Data berupa berbagai informasi budaya kaitannya dengan KIA dikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada sejumlah informan yang terdiri dari ibu-ibu yang sedang hamil, ibu-ibu pernah melahirkan dan atau sedang mempunyai bayi atau anak balita, sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa warga masyarakat yang dianggap mengetahui tentang budaya setempat. Selain wawancara juga dilakukan pengamatan terhadap sejumlah obyek yang berkaitan dengan KIA. Hasil wawancara dimasukan ke dalam tabel matrik informasi esensial untuk menemukan berbagai informasi yang erat kaitannya dengan KIA. Analisa hasil secara diskriptif kualitatif. Salah satu hasil penelitian menggambarkan masih adanya kepercayaan dan keterikatan masyarakat kepada dukun bayi. Dukun bayi walaupun tidak lagi melakukan pemeriksaan kehamilan dan menolong persalinan, namun masih dibutuhkan jasanya untuk memijat ibu sehabis bersalin dan bayi setelah dilahirkan, membantu ibu dalam menangani bayi setelah dilahirkan dan memberikan nasehat tentang hal-hal yang berkaitan dengan KIA, ini tentunya ikut berperan menunjang KIA di desa Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul Yogyakarta.Kata Kunci : dukun bayi, Kesehatan Ibu dan AnakAbstractThe results of the analysis of Basic Health Research in 2010 showed that Bantul District of Yogyakarta Province, is one of the 10 Districts / Municipalities in Indonesia bearing good Community Health Development Index of 0.69148. Community Health Development Index (CHDI) is a composite that describes the progress of health development, including maternal and child health. Based on the assumption that there is a significant relationship economic development of community and hight status of health as shown by the CHDI , it is a draws a question, because the preposperous and poor families in the district are quite high. Therefore, it is should be determine what are the various endogenous factors, such as socio-cultural factors; among those factors might play an important role in supporting the health status of the community. This study was concentrated in the rural village of Gadingsari Sanden, Bantul District in the Province of Yogyakarta, which has low cases of infant and child mortality. Data on the various culture practices in relation with mother and child health were collected through in-depth interviews. The informan were pregnant women, women whohave given births, or those who have babies or toddlers. Onther informants were community leaders and some members of the community considered familier with local culture. Alongside with interviews, observations were also conducted on the number of objects related to mother and child health. The results was qualitative descriptive analysis. The result of the study illustrates although perform its role antenatal care and attending births,TBAs is still needed to massage of mothers and infant, and give advice another matters related to MCH.Keywords : traditional birth attendans, Maternal and Child Health Care
HITUNG ANGKA LEKOSIT SEBAGAI SALAH SATU PREDIKTOR PROGNOSIS FUNCTIONAL OUTCOME DAN LAMA PERAWATAN RUMAH SAKIT PADA STROKE ISKEMIK AKUT Gofir, Abdul; Indera, Indera
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.799 KB)

Abstract

AbstrakLekositosis merupakan petanda klasik inflamasi sistemik. Iskemik serebral akan mencetuskan respons inflamatorik  melalui  akumulasi  granulosit  dan  akhirnya  lekosit  mononuclear  di  sekitar  daerah  infark. Dengan  demikian,  hitung  angka  lekosit  kemungkinan  dapat digunakan  sebagai  indikator  prognosis outcome klinis dan lama rawat inappada stroke iskemik akut. Tujuan studi adalah untuk mengetahui apakah hitung angka lekosit dapat memprediksi severitas prognosis outcome klinis dan lama rawat inap pada stroke iskemik akut. Dalam studi prospektif ini, didapatkan 120 subyek penelitian dengan stroke iskemik akut. Hitung angka lekosit subyek penelitian didapatkan saat awal masuk rumah sakit. Prognosis outcome klinis stroke iskemik akut dinilai menggunakan National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) setelah keluar dari rumah sakit. Lama rawat inap dihitung dari saat masuk sampai keluar rumah sakit. Korelasi antara hitung angka lekosit dengan NIHSS dan lama rawat inap dianalisis untuk menentukan prediktor prognosis stroke iskemik akut. Hasil studi menunjukkan pasien dengan angka lekosit yang tinggi memiliki outcome fungsional neurologis yang berat berdasarkan National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS). Lekositosis juga meningkatkan lama masa rawat inap. Angka lekosit menunjukkan  korelasi  yang  sedang  terhadap  outcome  klinis  dan  korelasi  yang  kuat  terhadap  lama rawat inap pada stroke iskemik akut (r = 0.647 dan 0.706) dan bermakna signifikan secara statistik (p < 0.001 untuk keduanya). Kesimpulan yang didapat adalah angka lekosit saat masuk rumah sakit dapat menjadi prediktor outcome fungsional neurologis dan lama masa rawat inap pada pasien stroke iskemik akut.Kata Kunci : Stroke iskemik akut; Hitung angka lekosit; NIHSS; Lama rawat inap; PrognosisAbstractElevated leukocyte count is a classic marker of systemic inflammation. Brain ischemia elicits an inflammatory response with a rapid accumulation of granulocytes and later of mononuclear leukocytes around the infarct zone. Therefore, it is possible that blood leukocyte count might serve as prognostic indicator of functional outcome and length of stay (LOS) in acute ischemic stroke. The aim of the study is to determine whether the leukocyte count can predict prognosis of functional outcome and length of stay in acute ischemic stroke. This study is a prospective study. Leukocyte count of 120 patients with acute ischemic stroke was obtained on admission to the hospital. Prognosis of functional outcome was determined by using National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) after hospital discharge. Length of stay was measured from admission until hospital discharge. Correlation between leukocyte count and functional outcome (as measured by NIHSS) and LOS was analysed to establish predictor of prognosis in acute ischemic stroke. Patients with higher leukocyte count had poor functional neurological outcome based on National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS). Higher leukocyte count also increased length of stay (LOS). Leukocyte count showed moderate correlation with clinical outcome and strong correlation with length of stay of acute ischemic stroke (r = 0.665 and 0.706 respectively) and was statistically significant (p < 0.001 for both). The conclusion is that Leukocyte count on admission could serve as a predictor of functional neurological outcome and length of stay in patients with acute ischemic stroke.Keywords : Acute ischemic stroke; leukocyte count; NIHSS; Length of stay; Prognosis
KESESUAIAN GEJALA KLINIS MALARIA DENGAN PARASITEMIA POSITIF DI WILAYAH PUSKESMAS WAIRASA KABUPATEN SUMBA TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Mau, Fridolina; Sopi, Ira Bule
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.279 KB)

Abstract

AbstrakSalah satu indikator penentuan endemisitas malaria adalah Annual Malaria Incidence (AMI). Angka AMI Puskesmas Wairasa Kabupaten Sumba Tengah selama tiga tahun berturut-turut (2009, 2010, 2011) sebesar 144‰, 187‰, dan 108‰. Tujuan kegiatan adalah menilai kesepakatan antara hasil pemeriksaan mikroskopis Puskesmas Wairasa  dan  Loka  Litbang  P2B2  Waikabubak  dan  mengidentifikasi  gejala  klinis  yang  dapat  menjadi  penanda sesorang positif malaria. Desain kegiatan cross sectional, subyek kegiatan adalah pasien tersangka malaria yang berkunjung ke puskesmas. Kesepakatan hasil pemeriksaan kedua mikroskopis cukup tinggi (0,92). Disimpulkan bahwa kesepakatan pemeriksaan cukup baik. Ada 14 gejala klinis pada responden dengan parasitemia positif yaitu demam, mengigil, sakit kepala, berkeringat, suhu badan meningkat (37°C), mual, muntah, pucat, pegal (nyeri otot), nafsu makan kurang, diare, batuk, pilek, pembesaran limpa. Gejala yang secara bermakna menunjukkan kemungkinan lebih besar infeksi malaria adalah demam (OR 4,945 95% CI 2,010-12,168), sakit kepala (OR 2,230 95% CI 1,551-3,470), pucat (OR 1,557 95% CI 1,046-2,318), dan badan pegal (nyeri otot) (OR 1,778 95% CI 1,778-2,622), sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu tanda adanya infeksi malaria di daerah ini.Kata Kunci : Malaria, Parasitemia, gejala klinisAbstractOne of the indicator to determine malaria endemicity is the Annual Malaria Incidence (AMI). The number of AMI at Wairasa Health Center, Central Sumba within three consecutive year (2009,2010 and 2011) were 144‰, 187‰ and 108‰. The aim of the study were to confirm the results of microscopic examination between Wairasa Health Center  and  Loka  Litbang  P2B Waikabubak  and  to  identify  clinical  symptoms  that  can  be used as a marker of malaria positive. The study used cross sectional design, the sampel were patient suspected with malaria visiting the health center. The conformity of the microscopic assessment between the two centers are quite high (0.92). The symptoms found in patient with parasitemia positive in which fever, headache, pale and body aches (muscle pain) are significantly showed the likelihood of having malaria infection and therefore can be used as a marker of malaria infection in central Sumba. The conclusion that the agreement is quite good examination. Based on multivariate analysis found four symptoms were significantly associated with parasitaemia of fever (95% CI 2.010 to 12.168 4.945), headache (OR 2.230 95% CI 1.551 to 3.470), white (OR 1.557 95% CI 1.046 to 2.318), body feels stiff (OR 1.778 95% CI 1.778 to 2.622) can be one sign of malaria infection in this area.Keywords : Malaria, Parasitemia, clinical symptoms
SINDROM METABOLIK PADA ORANG DEWASA DI KOTA BOGOR, 2011-2012 Sirait, Anna Maria; Sulistiowati, Eva
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.859 KB)

Abstract

AbstrakUntuk mengetahui prevalensi sindrom metabolik pada orang dewasa di Kota Bogor. Data diperoleh dari data baseline Studi Kohor Penyakit Tidak Menular di Kota Bogor yang dilakukan pada tahun 2011 dan 2012. Sampel adalah penduduk tetap yang berumur 25-65 tahun di 5 kelurahan, Kota Bogor. Dari 5000 responden, hanya 4507 yang dapat dianalisis yaitu 36,2% laki-laki dan 63,8% perempuan. Semua responden dilakukan wawancara, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.Diagnosis sindrome metabolik didasarkan pada kriteria National Cholesterol  Education  Program  Adult  Treatment  Panel  (NCEP-ATP  III)  yang  telah  disesuaikan  dengan  orang Asia.Prevalensi sindrome metabolik 18,7%, pada perempuan 21,2% dan pada laki-laki 14,1% dengan p<0,001. Ditemukan komponen sindrome metabolik yaitu obesitas sentral, HDL rendah,hipertensi, hipertrigliserida dan hiperglikemi masing-masing 44,7%, 35,3%, 29,2%, 19,5%, 12,9%. Dibanding perempuan, laki-laki mempunyai ORadj 1,63 dengan 95% CI 1,38-1,93. Risiko sindrome metabolik meningkat dengan bertambahnya umur. Dibanding dengan umur 25-34 tahun, ORadj1,170 dengan 95% CI 0,96-1,42 pada umur 35-44 tahun, ORadj2,02 dengan 95% CI 1,64-2,50 pada umur 45-54 tahun dan ORadj 4,39 dengan 95% CI 3,32-5,79 pada umur 55-65 tahun. Dibanding kurus diperoleh ORadj3,45 dengan 95% CI 2,74-4,34 pada normal; ORadj14,51 dengan 95% CI 10,67-19,75 pada gemuk dan ORadj40,33 dengan 95% CI 14,98-108,58 pada obese. Aktivitas fisik nampaknya kecil pengaruhnya pada risiko terjadinya sindrome metabolik. Perlu dilakukan pendidikan kesehatan tentang pola hidup sehat. Bagi yang terlanjur obesitas perlu dilakukan olah raga untuk mengurangi berat badannya.Kata Kunci : sindrome metabolik, umur, Index Masa Tubuh, aktivitas fisik, BogorAbstractThe Objective of this study is to measure prevalence of metabolic syndrome among adult in Bogor city. The method study is using baseline  data  of  Cohort  Study  on  Non  Communicable  Disease  in  Bogor  city,  2011-2012.  Study samples are permanent residents aged 25-65 years in 5 villages, Bogor city. From 5000 data residents, only 4507 which composed of 36.2% male and 63.8% can be analyzed. Data collection was conducted through interview, physical examination, and laboratory examination. Diagnosis of metabolic syndrome was made based on modified National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III) adapted for Asian people. The prevalence of metabolic syndrome among Indonesian adult in Bogor city is 18,7% (21,2% female and 14,1% males, p<0.001). The biggest component of metabolic syndrome was central obesity (44,7%) followed by low level of HDL cholesterol, hypertension, hyper-triglyceride and hyperglycemia (35.3%, 29.2%, 19.5% and 12.9%) respectively. Using female as reference class, the OR of male to suffer metabolic syndrome was 1,63 (95% CI 1.38-1.93). The Odds Ratio to suffer metabolic syndrome increased with their increasing age. Using 25-34 years as reference class, the Odds Ratio of residents aged 35-44, 45-55 and 55-65 years to suffer metabolic syndrome were 1.17 (95% CI 0.96-1.42), 2.02 (95% CI 1.64-2.5), 4.39 (95% CI 3.32-5.79) respectively. Using underweight residents as reference class the Odds Ratioof normal weight, overweight and obesity to suffer metabolic syndrome were 3.45 (95% CI 2.74-4.34), 14.51 (95% CI 10.67-19.75) and 40.33 (95% CI 14.98-108.58) respectively. Physical activity seemed have no significant effects on the onset of metabolic syndrome. Health education needs to be done (about the lifestyle) is needed to be conducted. For those who are obese need to do to lose weight.Keywords : metabolic syndrome, aged, Body Mass Index, physical activity, Bogor
GAMBARAN INFEKSI MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS PADA ANGGOTA RUMAH TANGGA PASIEN TB PARU (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar) Marissa, Nelly; Nur, Abidah
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.934 KB)

Abstract

AbstrakPenularan tuberkulosis paru melalui droplet nuclei merupakan ancaman kesehatan bagi orang-orang yang berada disekitarnya. Adanya penderita TB paru BTA (+) dalam satu keluarga merupakan sumber penularan bagi anggota keluarga lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran infeksi Mycobacterium tuberculosis pada anggota rumah tangga pasien TB paru (studi kasus di wilayah kerja Puskesmas Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar). Metode penelitian studi potong lintang dengan total sampling. Sampel berjumlah 31 orang, terdiri dari 12 orang pasien TB paru diambil dari catatan medis periode Juli 2011 sampai Juni 2012, dan 19 orang anggota rumah tangga pasien TB paru. Wawancara dilakukan untuk mengetahui karakteristik pasien TB paru berupa status demografi, lama didiagnosa, pengawas minum obat, keteraturan minum obat, tidur sekamar dengan orang lain, tutup mulut jika batuk atau bersin, dan buang dahak di tempat terbuka. Dilakukan juga wawancara terhadap anggota keluarga untuk mengetahui status demografi, jumlah anggota rumah tangga, riwayat imunisasi BCG dan gejala TB Paru yang dialami. Uji tuberkulin dilakukan dengan cara Mantoux. Hasil penelitian didapatkan bahwa pasien sebagian besar adalah laki-laki pada usia produktif, didiagnosa TB paru kurang dari 6 bulan sebelum penelitian, memiliki PMO, teratur minum obat, tidur sekamar dengan anggota rumah tangga lainnya, tidak tutup mulut jika batuk atau bersin, dan buang dahak tidak di tempat terbuka. Semua anggota rumah tangga yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis memiliki anggota rumah tangga yang banyak. Sebagian besar berjenis kelamin perempuan, berada pada usia produktif, merupakan anggota keluarga inti, memiliki riwayat imunisasi BCG dan tidak memiliki gejala TB Paru. Penularan penyakit TB paru lewat udara, sehingga perlu pendidikan kesehatan untuk penderita TB paru agar tidak menulari ART lainnya.Kata Kunci : kontak serumah, pasien TB paru, penularanAbstractPulmonary tuberculosis transmission via droplet nuclei is a health threat to people who are nearby. The existence of patients with pulmonary TB smear (+) in the family is a source of transmission to other family members. This study was aimed to overview the infection of Mycobacterium tuberculosis in household members of the patient at Puskesmas Darul Imarah, Aceh Besar. Cross sectional study used total sampling with 31 peoples, consisting of 12 pulmonary TB patients were taken from the medical records from July 2011 to June 2012, and 19 household members of pulmonary tuberculosis patients. Interviews were done to determine the demographic characteristics of the patients in the form of status, length of diagnosis, medication oversight, adherence to medication, sharing a room with others, cover their mouth when coughing or sneezing, and dispose of sputum in the open area. Also conducted interviews with family members to determine the demographic status, history of BCG immunization and experienced symptoms of pulmonary TB. Tuberculin test used Mantoux. Most of the pulmonary TB patients were men of reproductive age, was diagnosed with pulmonary TB less than 6 months before the study, had a PMO, take medication regularly, sharing a room with others, do not cover their mouth when coughing or sneezing, and did not dispose the sputum in the open area. All household members who infected with Mycobacterium tuberculosis have a large household. Most of the respondents were women in the productive age, an immediate family member, has a history of BCG immunization and do not have symptoms of pulmonary TB.Pulmonary Tb is an infectious air borne disease, health education necessary for TB patients to protect another household.Keywords : household contacts, tuberculosis, transmission
EVALUASI PRAKTIK DOKTER YANG MERESEPKAN JAMU UNTUK PASIEN PENDERITA PENYAKIT DEGENERATIVE DI 12 PROPINSI Widowati, Lucie; Siswanto, Siswanto; Delima, Delima; Siswoyo, Hadi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.503 KB)

Abstract

AbstrakWHO merekomendasikan penggunaan obat tradisional untuk penyakit degeneratif. Tujuan studi adalah untuk mengevaluasi implementasi praktik dokter komplementer-alternatif menggunakan ramuan jamu untuk penyakit degeneratif di 12 provinsi. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, secara purposive. Hasil studi menunjukkan bahwa, sebanyak 86% dari 145 responden melakukan praktik komplementer-alternatif, dengan penggunaan obat tradisional/jamu. Separuh dari jumlah dokter tersebut, 49 % berada di Provinsi Jawa Tengah, dan 50 % berpraktik sebagai dokter praktik mandiri. 91,2 % dokter melakukan praktik komplementeralternatif dengan alasan utama atas permintaan masyarakat. Menurut persepsi dan pendapat dokter, alasan terbesar dari pasien berobat ke dokter dan meminta pelayanan jamu, adalah karena percaya, mencapai angka 85,1%. Terdapat upaya untuk memisahkan catatan medik pasien (28,3%) dan meminta pasien untuk menanda tangani informed consent (43,4%). Penggunaan tanaman obat oleh dokter terbanyak berturut-turut adalah jahe (artritis), sambiloto (hiperglikemia), seledri ( hipertensi), jatibelanda (hiperlipidemia dan obesitas), serta sidaguri ( hiperurisemia). Menurut pendapat dokter urutan kecepatan kesembuhan pasien, berurutan mulai dari penyakit artritis, hiperglikemia, hipertensi, hiperlipidemia, hiperurisemia dan terakhir adalah obesitas. Pelayanan dengan jamu/obat tradisional oleh dokter di masyarakat sudah menjadi pilihan pasien. Menurut pendapat dokter obat tradisional/jamu ada manfaatnya.Kata Kunci : Praktik complementary aternative medicine, obat tradisional, penyakit degeneratif , dokterAbstractWHO has recommended the use of traditional medicine for degenerative diseases. The objective of this study is to evaluate the implementation of CAM doctors practice in using traditional medicine for degenerative diseases in 12 provinces. Data were collected through interviews using questionnaire to CAM doctors purposively. This study showed that 86 % of 145 the respondents did CAM practice by using traditional medicine. Almost half (49 %) of the doctors, were in Central Java Province and 50 % were independent doctors. There were 91.2 % doctors did CAM practice by demand from the society as main reason. Based on the doctor’s perception and opinion, the main reason for the patients seeing the doctors and asking for traditional medicine were trust (85.1 %). There were initiatives to differentiate CAM patient medical record from the common one (28.3 %) and ask patients to sign the informed consent (43.4 %). The most common medicinal plant utilized by doctors, consecutively were jahe (arthritis), sambiloto ( hyperglicaemia), seledri ( hypertension), jati belanda ( hyperlipidemia, and obesity), and also sidaguri ( hyperuricemia). Based on the doctors’ opinion, the most rapid disease to heal with traditional medicine consecutively were arthritis, hyperglycemia, hypertension, hyperlipidemia, hyperuricemia, and the last was obesity. Traditional medicine prescribed by the doctors in the community had already been the patient choice. The CAM doctors believed there were benefits from traditional medicine.Keywords : complementary-alternative medicine practice, traditional medicines, degenerative diseases, doctor
SITUASI PATEN OBAT ANTI DIABETES, ANTI HIPERTENSI, ANTI MALARIA DAN ANTI TUBERKULOSIS DI INDONESIA Utami, Basundari Sri; Tuti, Sekar; Anggraini, Anggita Bunga; Faatih, Mukhlissul; Siswanto, Siswanto; Trihono, Trihono
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 2 Jun (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.483 KB)

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara berpenduduk keempat terbanyak setelah Cina, India dan Amerika. Indonesia sedang mengalami transisi epidemiologi, dimana terjadi peningkatan penyakit tidak menular (PTM), sementara penyakit menular (PM) seperti malaria, tuberkulosis dan demam dengue prevalensinya masih tinggi. Tingginya morbiditas merupakan lahan yang bagus untuk melaksanakan obat anti PM dan anti PTM yang mendapat paten karena pangsa pasarnya yang sangat luas. Sayangnya potensi pasar yang masih luas ini hanya ditangkap oleh luar negeri. Data dari Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) pada tahun 2010 menunjukkan pemohon paten dalam negeri yang mendapatkan persetujuan perlindungan paten (granted) hanya 4,6% sedangkan dari luar negeri sebanyak 92,03%. Hal yang sangat ironis bagi Indonesia yang merupakan negara dengan potensi bahan dasar obat alam dan keanekaragaman hayati terbanyak ketiga setelah Brazil dan Cina. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi situasi paten obat yang terdaftar di Direktorat Paten, Ditjen HKI, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dalam 7 tahun terakhir (tahun 2005 sampai 2011) untuk PM (malaria dan tuberkulosis) dan PTM (hipertensi dan diabetes). Metode observasional dengan penelusuran dokumen paten dari alamat web instansi terkait. Hasilnya Indonesia hanya mendaftarkan 4,9% dari seluruh paten yang didaftarkan di Dirjen HKI dari tahun 2005 sampai dengan 2011, sebagai berikut untuk obat anti-hipertensi 3,4% dari 89 paten, anti-diabetes hanya 4,8% dari 250 paten, anti malaria 21,1% dari 18 paten anti-tuberkulosis 7,1% dari 14 paten. Sebagian besar paten yang didaftarkan oleh pendaftar Indonesia merupakan paten obat ekstrak herbal atau komposisinya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah paten obat untuk PTM dan PM di Indonesia masih didominasi paten luar negeri.Kata Kunci : Situasi paten, obat, Ditjen HKI, IndonesiaAbstractIndonesia is the fourth most populous country after China, India and America. There has been an epidemiological transition. While the prevalence of infectious diseases such as malaria, tuberculosis and dengue fever is still high, the incidence of non-communicable diseases is increasing. High rates of morbidity becomes good opportunity to develop medicine for infectious diseases as well as non-communicable diseases to get patent because of a very large market share. Unfortunately, the vast market potential is only captured by foreign countries. Data from the Directorate General of Intellectual Property Rights (IPR DG) in 2010 showed that domestic patent applicants who get approval (granted) were only 4.6% while overseas were 92.03%. This situation is very ironic, since Indonesia is a country with potential basic ingredient of natural medicines and the third highest biodiversity after Brazil and China. The aim of this study was to evaluate patent situation of medicine registered in IPR DG, Law & Human Rights Ministry in the last 7 years (2005 to 2011) for infectious diseases (malaria and tuberculosis) and non communicable (hypertension and diabetes). This study used observational method by tracing patent documents from web addresses of the relevant agencies. It showed that Indonesia only registered 4.9% patent from all patents registered in IPR DG from 2005 to 2011. Indonesia only registered 3.4% from 89 patents for anti-hypertension, 4.8% from 250patents for anti-diabetic, and 21.1% from 18 patents for anti-malaria, and 7.1% from 14 patents for antituberculosis. Most of the patents filled or registered by Indonesian registrant is a patent medicine of herbs’ extract or its composition, it was concluded that medicine patents for non-communicable diseases and infectious diseases in Indonesia are dominated by foreign country.Keywords : Patent situation, medicine, IPR-DG, Indonesia

Page 1 of 1 | Total Record : 7