cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 32 No 1 (2022)" : 11 Documents clear
Peran Pengelolaan Limbah Rumah Tangga Terhadap Kejadian Diare Pada Balita di Indonesia (Analisis Data Riskesdas 2018) Ade Kurniawan; Made Agus Nurjana; Anis Nur Widayati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.4188

Abstract

Waste with a certain concentration and quantity has a negative impact on the environment, especially for human health. Dominant environmental factors such as excreta disposal, drinking water sources, household waste water disposal channels, waste management play a role in the spread of diarrhea germs in toddlers. Diarrhea is one of the main causes of morbidity and mortality in children under five. The purpose of this study was to determine the relationship between household waste management and the incidence of diarrhea. The design of this research was cross sectional, by utilizing data from the 2018 Riskesdas activity, this was in accordance with the approval letter for the use of data issued by the Health Research and Development Agency Number: 11062001-118 dated June 22, 2020. Analysis of the relationship between waste management and the incidence of diarrhea in children under five had been carried out using logistic regression. The samples analyzed were 93,448 toddlers from Riskesdas 2018 data. The results of the analysis showed that the factors related to the incidence of diarrhea in toddlers in Indonesia were the majority male, the age of toddlers over two years old, handling and RT trash bins, and waste disposal sites. Handling household waste is the most dominant factor with the incidence of diarrhea in toddlers. Handling household waste is carried out in an environmentally friendly way by dumping it in a landfill, stockpiling or making compost, it is necessary for households to do so as not to be infested with flies which can be a source of transmission of diarrhea in children under five. Abstrak Limbah dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia. Pengelolaan limbah rumah tangga merupakan pilar yang menentukan dalam kejadian diare pada balita. Faktor lingkungan yang dominan seperti pembuangan tinja, sumber air minum, saluran pembuangan air limbah rumah tangga, pengelolaan sampah,berperan dalam penyebaran kuman diare pada balita. Diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita. Tujuan kajian ini untuk mengetahui hubungan pengelolaan limbah rumah tangga terhadap kejadian diare. Desain penelitian ini adalah cross sectional, dengan memanfaatkan data hasil kegiatan Riskesdas 2018, hal ini sesuai dengan surat persetujuan penggunaan data yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nomor : 11062001-118 tanggal 22 Juni 2020. Analisis hubungan pengelolaan limbah dengan kejadian diare pada balita telah dilakukan dengan regresi logistik. Sampel yang dianalisis sebanyak 93.448 balita dari data Riskesdas 2018. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Indonesia yaitu mayoritas berjenis kelamin laki-laki, umurbalita di atas dua tahun, penanganan dan tempat sampah rumah tangga, serta tempat pembuangan tinja balita. Penanganan sampah rumah tangga merupakan faktor yang paling dominan dengan kejadian diare pada balita. Penanganan sampah rumah tangga dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan dengan membuang di TPA, menimbun, atau membuat kompos perlu dilakukan rumah tangga agar tidak dihinggapi lalat yang dapat menjadi sumber penularan diare pada balita.
Persepsi, Stigma, dan Perilaku Ketidakpatuhan Pencegahan COVID-19 Pada Masyarakat Wilayah Provinsi Jawa Timur Tahun 2020: Pendekatan Health Belief Model Nurul Fadhillah Kundari; Halwa Ainaya Addiina; Hoirun Nisa
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.4219

Abstract

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) has spread in various parts of Indonesia. East Java Province is listed as one of the provinces with the highest number of COVID-19 cases. The purpose of this study was to determine the relationship between perceptions, stigma, and non-compliance behavior in preventing COVID-19 through a health belief model approach in the people of East Java Province. This cross-sectional study used voluntary sampling technique by distributing online questionnaires. This research took place in September – November 2020. The people of East Java province who participated were 420 respondents. The proportion of respondents who are not compliant in preventing COVID-19 is 57.4%. The results of the multivariate analysis showed a relationship between perceptions of contracting COVID-19 (OR=2.067; 95% CI=1.304 - 3.276), perceptions of barriers to preventing COVID-19 (OR=2.306; 95% CI= 1.151 - 4.621), perceptions of action cues (OR=1.968; 95% CI= 1.281 – 3.024), perceived severity of COVID-19 (OR=1.158; 95% CI 0.728 – 1.841), stigma (OR=1.467; 95% CI=0.595 – 3.615), gender (OR = 2.305; 95% CI = 1.388 – 3.828, high school education equivalent (OR =1.735; 95% CI = 1.100 – 2.734) with non-compliance behavior to prevent COVID-19. We concluded that non-compliance behavior in preventing COVID-19 was associated with the perception of being infected, the perception of obstacles, and the perception of action cues related to COVID-19. This study highlighted the necessity of COVID-19 education to improve community compliance in preventing COVID-19 through collaborative efforts by local government and stakeholders. Abstrak Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah menyebar di berbagai wilayah Indonesia. Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan persepsi, stigma dengan perilaku ketidakpatuhan pencegahan COVID-19 melalui pendekatan health belief model pada masyarakat Provinsi Jawa Timur. Penelitian cross sectional ini menggunakan teknik voluntary sampling dengan menyebarkan kuesioner secara daring. Penelitian ini berlangung pada September – November 2020. Masyarakat provinsi Jawa Timur yang berpartisipasi berjumlah 420 responden. Proporsi responden yang tidak patuh dalam melakukan pencegahan COVID-19 sebesar 57,4%. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan antara persepsi tertular COVID-19 (OR=2,067; CI 95%= 1,304 - 3,276), persepsi hambatan melakukan pencegahan COVID-19 (OR=2,306; CI 95%= 1,151 - 4,621), persepsi isyarat tindakan (OR=1,968; CI 95%= 1,281 – 3,024), persepsi keparahan (OR=1,158; CI 95% 0,728 – 1,841), stigma (OR=1,467; CI 95%=0,595 – 3,615), jenis kelamin (OR=2,305; CI 95%= 1,388 – 3,828), tingkat pendidikan SMA sederajat (OR=1,735; CI 95%= 1,100 – 2,734) dengan perilaku ketidakpatuhan pencegahan COVID-19. Disimpulkan bahwa persepsi tertular, persepsi hambatan, dan persepsi isyarat tindakan terkait COVID-19 memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan perilaku ketidakpatuhan pencegahan COVID-19. Penelitian ini menunjukkan perlu ditingkatkan edukasi COVID-19 yang dapat dilakukan pemerintah setempatdengan menjalin kerjasama lintas sektor untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam melakukan pencegahan COVID-19.
Media Massa dan Online sebagai Faktor yang Berpengaruh terhadap Kelangsungan Hidup Balita di Indonesia: Analisis Data Sekunder SDKI 2017 Mitra Mitra
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.4383

Abstract

The 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) report showed that the under-five The 2017 Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) report showed that the under-fivemortality rate in Indonesia was still high at 32 deaths per 1,000 live births. The study aimed to analyzethe relationship between mass media and online and other factors with the survival of children underfive in Indonesia. The type of research was quantitative analytic using secondary data from the 2017IDHS with a cross sectional study design. The sample was mothers aged 15-49 years who hadtoddlers (last-child) totaling 8,175 respondents spread throughout Indonesia. The variables collectedconsisted of sociodemographic factors, health service factors, maternal factors, and toddler factors.Mass media and online was one of variables of sociodemographic factors. We used univariateanalysis to determine the probability of child survival, bivariate analysis using Kaplan Meir and logranktests, and multivariate analysis using Cox Regression test. The results found that the overall survivalprobability of children under five (0-59 months) in Indonesia was 97.8%. Variables that were significantly related to the survival of children under five were the use of mass media and online,mothers occupation, parity, and early initiation of breastfeeding. The most dominant variable on thesurvival of children under five was the use of mass media and online. Mothers with the characteristicsof rarely using mass media and online have a three times higher hazard for toddler survivalcompared to mothers who often use mass media and online. Mass media and online can be used as aforum for education and campaigns in providing information about health, parenting, care, and othermatters for the survival of toddlers. Abstrak Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan bahwa angkakematian balita di Indonesia masih tinggi yaitu 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Tujuanpenelitian adalah untuk menganalisis hubungan media massa dan online dan faktor lainnya dengankelangsungan hidup balita di Indonesia. Jenis penelitian adalah kuantitatif analitik menggunakan datasekunder SDKI 2017 dengan desain cross sectional study. Sampel penelitian adalah iIbu usia 15-49tahun yang memiliki balita (anak terakhir) berjumlah 8.175 responden yang tersebar di seluruhIndonesia. Variabel yang dikumpulkan terdiri dari faktor sosiodemografi, faktor pelayanan kesehatan,faktor ibu, dan faktor balita. Media massa dan online merupakan salah satu variabel yang terdapatpada faktor sosiodemografi. Analisis dilakukan secara univariat untuk mengetahui probabilitaskelangsungan hidup balita, bivariat menggunakan Kaplan Meir, dan logrank test, serta multivariatdengan uji Cox Regression. Hasil menunjukkan bahwa probabilitas kelangsungan hidup balita (0-59bulan) di Indonesia secara keseluruhan adalah 97,8%. Variabel yang berhubungan signifikan dengankelangsungan hidup balita adalah penggunaan media massa dan online, pekerjaan ibu, paritas, daninisiasi menyusu dini (IMD). Variabel yang paling berpengaruh terhadap kelangsungan hidup balitaadalah penggunaan media massa dan online. Ibu dengan karakteristik jarang menggunakan mediamMassa dan online mempunyai hazard 3 tiga kali lebih tinggi untuk ketidakberkelangsungan hidupbalita dibandingkan dengan ibu yang sering menggunakan media massa dan online. Media massadan online dapat dijadikan sebagai wadah edukasi dan kampanye dalam pemberian informasi tentangkesehatan, pengasuhan, perawatan, dan hal-hal lainnya untuk kelangsungan hidup balita.
Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri dalam Upaya Pencegahan COVID-19 di Puskesmas Kawasan Terpencil dan Sangat Terpencil Iin Nurlinawati; Mimi Sumiarsih
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.4499

Abstract

During COVID-19 pandemic, puskesmas (community health center) made various efforts in accordance with technical instructions issued by the Ministry of Health.. As an effort to prevent transmission from patients to officers and vice versa, the use of Personal Protective Equipment (PPE) is mandatory. This study aimed to determine the behavior of using PPE as an effort to prevent COVID-19, especially in health centers in remote and very remote areas. The research design used was a cross-sectional study carried out at health centers in remote and very remote areas in 21 provinces, 66 districts. The data collection tool was in the form of a google form which was distributed through the special assignment personnel for Nusantara Sehat placement in 2019. The Google form was filled out by health workers at health centers, both Nusantara Sehat personnel and not. The data collection period was May-June 2020. The results showed that the behavior of health workers in remote and very remote community health centers in using complete PPE was not good. The use of PPE was generally high in personnel who provide services to patients, especially doctors and dentists. The reason respondents did not/sometimes use PPE was the limited number of PPE. The results of bivariate test using Chi-square test showed that involvement as a member of the Covid-19 task force team and marital status were significantly related to the behavior of using complete PPE. Meanwhile, the type of assignment (UKP and UKM), and gender were not statistically related. In an effort to prevent the spread of Covid-19, it is recommended that health workers at health centers improve the behavior of using PPE properly according to standards. For this reason, the Health Office should prioritize the procurement and distribution of PPE, and provide adequate training to health care professionals in its use. Abstrak Pada masa pandemi COVID-19, puskesmas melakukan berbagai upaya pencegahan penularan sesuai dengan petunjuk teknis yang diterbitkan Kementerian Kesehatan. Dalam upaya pencegahan penularan dari pasien ke petugas dan juga sebaliknya, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi wajib. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku penggunaan APD dalam upaya pencegahan COVID-19 terutama di puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang, dilakukan pada puskesmas daerah terpencil dan sangat terpencil di 21 provinsi, 66 kabupaten. Alat pengumpul data berupa google form yang disebarkan melalui tenaga penugasan khusus Nusantara Sehat penempatan tahun 2019. Google form diisi oleh tenaga kesehatan di puskesmas baik tenaga Nusantara Sehat ataupun bukan. Rentang waktu pengumpulan data selama bulan Mei-Juni 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku tenaga kesehatan di puskesmas daerah terpencil dan sangat terpencil dalam memakai APD secara lengkap, belum baik. Penggunaan APD secara umum tinggi pada tenaga yang memberikan pelayanan kepada pasien terutama dokter dan dokter gigi. Alasan responden tidak/kadang-kadang menggunakan APD adalah adanya keterbatasan jumlah APD. Hasil uji bivariat dengan menggunakan Chi-square test memperlihatkan bahwaketerlibatan sebagai anggota tim satgas COVID-19 dan status perkawinan berhubungan secara signifikan dengan perilaku penggunaan APD secara lengkap. Sementara jenis penugasan (UKP dan UKM), dan jenis kelamin secara statistik tidak berhubungan. Dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19, disarankan agar tenaga kesehatan di puskesmas meningkatkan perilaku penggunaan APD secara baik dan sesuai dengan standar. Untuk itu Dinas Kesehatan agar memprioritaskan pengadaan dan distribusi APD, dan memberikan pelatihan yang memadai kepada profesional perawatan kesehatan dalam penggunaannya.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Cipayung Kota Depok Shelvi Novianita; Sandra Fikawati; Stella Maris Bakara
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.5256

Abstract

The exclusive breastfeeding in some parts of Indonesia is still relatively low, whereas exclusive breastfeeding is very important for the growth and development of babies. Many factors influence the success of exclusive breastfeeding. Health service factor is the most important factor. One of the efforts to improve these health services is through improving the quality of Antenatal Care (ANC). Quality ANC services include 10T standards, including an assessment of the mother's nutritional status and talks/counseling about exclusive breastfeeding. ANC coverage in Depok City has reached the target, but exclusive breastfeeding coverage is still low. The purpose of this study was to determine the factors associated with the success of exclusive breastfeeding, and also to overview the quality of ANC in the working area of ​​the Cipayung Public Health Center, Depok City. This cross-sectional study used secondary data conducted on 169 breastfeeding mothers. Bivariate analysis conducted by using chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regressions. The results of the bivariate analysis showed that the quality of ANC, occupation, knowledge, and energy supplementation for mothers were related to the success of exclusive breastfeeding (p-value <0.05). The results of multivariate analysis showed that the dominant factor for the success of exclusive breastfeeding was energy supplementation for mothers (OR=5.460; 95% CI=1.63-18.18). The description of the quality of ANC related to exclusive breastfeeding is shown by measurements of BB, TB, LILA and counseling related to exclusive breastfeeding which have not been fully (100%) carried out. It can be concluded that the factors related to the success of exclusive breastfeeding are the quality of ANC, occupation, knowledge, and energy supplementation as the dominant factor. It is recommended that health stakeholders increase support for energy supplementation (milk) program for mothers, as well as improve the quality of ANC through counseling services about exclusive breastfeeding during ANC visits. Abstrak Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif di beberapa wilayah Indonesia masih terbilang rendah. Padahal ASI eksklusif sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan ASI eksklusif. Faktor pelayanan kesehatan merupakan faktor yang paling berperan. Salah satu upaya meningkatkan pelayanan kesehatan tersebut adalah melalui peningkatan kualitas Antenatal Care (ANC). Pelayanan ANC berkualitas meliputi standar 10T, diantaranya adalah penilaian status gizi ibu dan temu wicara/konseling seputar ASI eksklusif. Cakupan ANC di Kota Depok sudah mencapai target, tetapi cakupan ASI eksklusif masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan ASI eksklusif, serta gambaran kualitas ANC di wilayah kerja Puskesmas Cipayung Kota Depok. Studi cross-sectional ini menggunakan data sekunder yang dilakukan terhadap 169 ibu menyusui. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kualitas ANC, pekerjaan, pengetahuan, dan suplementasi energi pada ibu berhubungan dengan keberhasilan ASI eksklusif (p-value <0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan keberhasilan ASI eksklusif adalah suplementasi energi pada ibu (OR=5,460; CI 95%=1,63-18,18). Gambaran kualitas ANC yang berhubungan dengan ASI eksklusif ditunjukkan oleh pengukuran BB, TB, LILA serta konseling terkait ASI eksklusif yang belum sepenuhnya (100%) dilakukan. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang berhubungan dengan keberhasilan ASI eksklusif adalah kualitas ANC, pekerjaan, pengetahuan, dan suplementasi energi sebagai faktor dominan. Disarankan agar para stakeholderkesehatan meningkatkan dukungan program pemberian suplementasi energi (susu) pada ibu, serta meningkatkan kualitas ANC melalui pelayanan konseling seputar ASI eksklusif pada saat kunjungan ANC.
Faktor Karakteristik Kepala Keluarga yang Berhubungan dengan Kepemilikan Jamban di Desa Bengawan Ampar Kabupaten Landak Resky Nanda Pranaka; Edy Agustinus
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.5291

Abstract

Environmental health is the main problem experienced by Indonesian people, particularly related with indicators of healthy houses, including the availability of toilets, safe drinking water, and household waste management. The environmental health problems in West Kalimantan is also similar, including low number of households having both access and improved sanitation, ownership of the improved sanitation in each household. The low access to latrines certainly indicates that there are many people who still defecate openly . The purpose of this study cross-sectional study is to determine factors related to the latrine ownership in Bengawan Ampar Village, Landak Regency. Variables of the study included education of householders, knowledge regarding toilet of householders , and healthy behavior of the family and ownership of a toilet. The population is residents of Bengawan Ampar Village, Kuala Behe ​​District, Landak Regency, and the sample size from proportional random sampling was 73 households. The instrumentused is a structured questionnaire and data collected were . analyzed using chi square test. The results of the analysis showed a significant relationship between education (p = 0.038), knowledge (p = 0.001), income (p = 0.005), and actions (p = 0.000) on latrine ownership. The study suggested that there is a need to increase knowledge, education, cleans, and healthy behaviour, have more job options and have better access to clean water. In addition, sanitationmanagers should be able to provide guidance and counseling to the community. Abstrak Kesehatan lingkungan masih menjadi masalah utama masyarakat Indonesia, terutama berkaitan dengan indikator rumah sehat yang meliputi kepemilikan jamban sehat, ketersediaan air minum, dan pengelolaan limbah rumah tangga. Masalah kesehatan lingkungan di Wilayah Kalimantan Barat adalah masih rendahnya rumah tangga yang memiliki sarana sanitasi (jamban) baik secara akses maupun jenis sarana yang layak. Rendahnya akses jamban tentu diikuti dengan sebagian masyarakat yang masih buang air besar baik di sembarang tempat. Tujuan penelitian potong lintang ini adalah menentukan determinan kepemilikan jamban di Desa Bengawan Ampar Kabupaten Landak dengan meliputi pendidikan kepala keluarga, pengetahuan kepala keluarga terkait jamban, dan perilaku hidup bersih keluarga. Populasi penelitian adalah penduduk DesaBengawan Ampar dengan jumlah sampel sebanyak 73 KK yang diambil secara proportional random sampling dengan instrument kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji chi square dan hasilnya menunjukkan hubungan antara pendidikan (p = 0,038), pengetahuan (p = 0,001), pendapatan (p = 0,005), dan tindakan (p = 0,000) terhadap kepemilikan jamban. Simpulan penelitian adalah terdapat hubungan yang siginifikan antara variabel pendidikan, pengetahuan, pendapatan, dan tindakan terhadap kepemilikan jamban. Saran dalam penelitian ini perlunya peningkatan pengetahuan, akses pendidikan, tindakan perilaku air bersih dan sehat,lapangan pekerjaan dalam meningkatkan pendapatan serta akses terhadap air bersih bagi masyarakat Desa Bengawan Ampar. Selain itu bagi pengelola sanitasi agar dapat memberikan pembinaan dan , penyuluhan kepada masyarakat.
Determinan Kejadian Anemia Pada Balita Di Indonesia Sri Poedji Hastoety; Nuzuliyati Nurhidayati; Yudi Kristanto
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.5360

Abstract

The prevalence of anemia in children under five tends to increase from year to year. The impact onmortality and the quality of human resources in the future due to the incidence of anemia, encourages thegovernment to carry out more optimal handling. There are many factors that cause the high prevalence ofanemia in children under five, this article aims to find the determinants associated with anemia in childrenunder five in Indonesia. The preparation of this article uses data from the integration of Riskesdas 2018 andSusenas in March 2018. The samples in this analysis are children under five who are the samples ofSusenas and Riskesdas. Sampling was carried out using the PPS method using Two-Stage SystematicSampling. To find out the determinants related to the incidence of anemia in children under five, BinaryLogistics Regression was used, unadjusted and adjusted. Unadjusted sees the relationship of eachindependent variable to the dependent variable without being influenced by other variables, while adjustedsees the relationship of all independent variables to the dependent variable simultaneously. The results ofthe analysis showed that the prevalence of anemia in children under five was 40.4%, unadjusted, thedeterminants related to anemia were the children under five, the number of household members (ART) andthe economic status of the family, while from the adjusted analysis the influential determinants were thechild&#39;s age and economic status. family. Determinants in the age group of children and economic status,both unadjusted and adjusted, have the same pattern, age groups are easier to have a higher risk ofdeveloping anemia compared to the older group, as well as based on family economic status, familyeconomy has a protective relationship to the incidence of anemia in children. children under five, familieswith better economic conditions, can prevent anemia in children under five. Efforts that can be made toreduce the incidence of anemia in children under five in Indonesia include reducing the incidence of anemiain pregnant women in order to reduce the incidence of anemia in children under 24 months. To overcomethis problem, there is counseling about the importance of consuming high-protein foods for children underfive, either in posyandu or other health service facilities, either actively (through face-to-face counseling) orthrough indirect counseling (through posters or leaflets). Abstrak Prevalensi anemia anak balita cenderung menunjukan kenaikan dari tahun ke tahun. Dampak terhadap kematian dan kualitas sumber daya manusia dimasa mendatang akibat kejadian anemia, mendorong pemerintah untuk melakukan penanganan yang lebih optimal. Ada banyak faktor yang menyebabkan tingginya prevalensi anemia pada anak balita, artikel ini bertujuan mencari determinan yang behubungan dengan anemia pada balita di Indonesia. Penyusunan artikel ini menggunakan data integrasi Riskedas 2018 dan Susenas bulan maret 2018. Sampel dalam analisis ini adalah anak balita yang menjadi sampel susenas dan riskesdas. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode PPS menggunakan Two-Stage Systematic Sampling. Untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan kejadian anemia pada anak balita digunakan Regresi Logistics Binary, secara unadjusted dan adjusted. Unadjusted melihat keterkaitan masing-masing variabel independen terhadap dependen variabel tanpa dipengaruhi variabel lain, sedangkan adjusted melihat keterkaitan seluruh variabel independen terhadap dependen variabel secara bersamaan. Hasil analisis di dapatkan prevalensi anak balita anemia 40,4%, secara unadjusted diperoleh determinan yang berhubungan dengan anemia adalah usia balita, jumlah anggota rumah tangga (ART) dan status ekonomi keluarga, sedangkan dari analisis adjusted determinan yang berpengaruh adalah usia anak dan status ekonomi keluarga. Determinan pada kelompok usia anak dan status ekonomi baik secara unadjusted maupun adjusted mempunyai pola yang sama kelompok usia lebih muda mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami anemia dibandingkan dengan kelompok lebih tua, begitu pula berdasarkan status ekonomi keluarga, ekonomi keluarga mempunyai hubungan protektif terhadap kejadian anemia pada anak balita, keluarga dengan ekonomi lebih baik, dapat mencegah terjadinya anemia pada anak balita. Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan kejadian anemia pada anak balita di Indonesia diantaranya dengan menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil agar dapat menurunkan kejadian anemia anak dibawah 24 bulan. Untuk mengatasi permasalahan tesebut penyuluhan tentang pentingnya mengonsumsi makanan tinggi protein bagi anak balita baik di posyandu ataupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya baik secara aktif (melalui penyuluhan tatap muka) atau melalui penyuluhan tidak langsung (melalui poster ataupun leaflet).
Peningkatan Sikap Ibu terhadap Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir melalui Program Pendampingan Ibu Hamil di Tujuh Kabupaten/Kota di Indonesia Anissa Rizkianti; Novianti Novianti; Suparmi Suparmi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.5420

Abstract

This study aimed to measure the increase in maternal attitudes towards maternal and child health as a result of maternity mentoring program. Using quasi-experimental design, this study evaluated changes in attitudes of 280 pregnant women in the intervention and control groups in seven districts/cities in Indonesia. Intervention was one-on-one mentoring program to pregnant women by midwifery students and cadres. Results of the regression analysis showed that the scores of mothers' attitudes in each group were significantly different. The average score of maternal attitudes after mentoring increased by 5.7% in the intervention group (p = 0.000), and increased by 3.8% in the control group (p = 0.000). However, when comparing between the intervention and the control group, the difference in the mothers’ attitudes before and after mentoring was not significantly different (p = 0.655). Thus, maternal mentoring by students can be an alternative tool of education for pregnant women, and hopefully can be conducted sustainably by involving cross-sectoral coordination.
Front Matter Media Litbangkes Vol 32 No 1 Sri Lestari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.6470

Abstract

Back Matter Media Litbangkes Vol 32 No 1 Sri Lestari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 1 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i1.6471

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 11