cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Hubungan antara Jarak Rumah dengan Sumber Pencemaran di Luar Rumah (Outdoors) terhadap Kejadian Asma Sukar, nFN; Hananto, Miko; Suharjo, nFN
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 1 Mar (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.69 KB)

Abstract

AbstrakTelah dilakukan analisis lanjut data Riskesdas tahun 2007 dengan tujuan untuk mengetahui prevalensidan hubungan antara jarak rumah dengan sumber pencemaran di luar rumah terhadap asma. Analisisdilakukan tahun 2014 di Jakarta selama 3 bulan. Analisis statistik meliputi univariat dan bivariatmenggunakan uji chi square, dengan nilai kekuatan hubungan dari nilai ORcrude (Odds Ratio). Dependenvariabel asma dan independen variabel jarak rumah dengan sumber pencemaran di luar rumah (kejalan raya/rel KA, ke TPS/TPA, ke industri/pabrik, dan lokasi kota/desa). Hasil menunjukkan bahwaprevalensi asma di Indonesia berdasarkan diagnosis petugas kesehatan atau gejala klinis yangdirasakan sebesar 2,51%. Faktor risiko lingkungan yang paling berisiko adalah jarak rumah ke industri/pabrik lebih dari 50 meter berisiko untuk menderita asma sebesar 30,2 kali, dengan tingkat kemaknaan(p) 0,005. Sedang lokasi rumah berada di perdesaan dengan mendapatkan penanggulangan sebesarnilai OR (95% CI) 0,03 dan tingkat kemaknaan (p) 0,003. Berdasarkan temuan, disarankan kepadaKementerian Kesehatan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa jarak rumah ke sumberpencemaran berisiko menyebabkan asma. Perlunya penyuluhan tentang bahaya dari kedekatan rumahdengan sumber pencemaran kaitan dengan penyakit. Perlu penelitian lebih lanjut menggunakan variabellingkungan hasil pengukuran sehingga dapat lebih baik.Kata Kunci: lingkungan, sumber pencemaran, luar rumah, asma AbstractFurther analysis of data Riskesdas 2007 has been conducted, with the aim to determine the prevalenceand the relationship between home distance to outdoors pollution sources to occurance of asthma.The analysis was conducted in 2014 in Jakarta for 3 months. Statistical analysis include univariate andbivariate using chi square test, with the value of the strength of the relationship of the value ORcrude (OddsRatio). The dependent variables is asthma and independent variables distance between home and asource of outdoors pollution. The results showed that the prevalence of asthma in Indonesia based onthe diagnosis of health or clinical symptoms felt by 2.51%. The risk factors most influential environmentis home to a range of industrial / factory of more than 50 meters at risk of developing asthma by 30.2times, with a significance level (p) 0.005. Average house is in a rural location with a gain reduction in theamount of OR (95% CI) of 0.03 and a significance level (p) 0.003. Based on the findings, it is suggestedto the Ministry of Health to disseminate to the public that the distance from the house to the source ofthe pollution risk of causing asthma. The need for education about the dangers of the proximity of thehouse to the sources of pollution linked to the disease. Further studies using environment variables sothat the measurement results can be better.Keywords: environment, sources of pollution, outdoors, asthma
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kekebalan Hepatitis B (anti-HBs) pada Anak Umur 1-14 Tahun dari Data Hasil Riskesdas 2007 Pracoyo, Noer Endah; Wibowo, nFN
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 1 Mar (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.501 KB)

Abstract

AbstrakVirus Hepatitis B (VHB) masih merupakan masalah utama dalam dunia kesehatan, hal ini terbuktidengan meningkatnya prevalensi di beberapa belahan dunia seperti di Afrika, Asia dan negara-negaraPasifik. Angka prevalensi ≥ 8% dinyatakan endemis tinggi terhadap VHB ditemukan di daerah Afrikadan Asia. Tahun 2012 telah dilaporkan lebih dari 350 juta orang terinfeksi VHB dengan perkiraan 1,2juta orang kematian per tahun karena hepatitis kronis, sirosis dan karsinoma hepatoseluler. Penelitianini merupakan analisis lanjut data sekunder RISKESDAS Kemenkes tahun 2007, yaitu suatu penelitiancross-sectional. Total sebanyak 1.618 sampel anak umur 1-14 tahun telah dianalisis. Tujuan daripenelitian adalah untuk menentukan faktor risiko yang terkait dengan kekebalan Hepatitis B (titer anti-HBs) dengan menganalisis data titer anti-HBs terhadap data KESMAS-nya. Manfaaat penelitian untukmengetahui penurunan kekebalan aktif anti-HBs pada anak Indonesia umur 1-14 tahun. Kesimpulanpenelitian menunjukkan bahwa faktor umur memiliki hubungan yang paling signifikan terhadap titer anti-HBs, (p = 0,001) dengan tingkat terlindungi sebesar 91% (OR = 0,91; 95% CI = 0,886-0,938 p=0,001).Kata Kunci: virus Hepatitis B (VHB), anti-HBs, anak umur 1-14 tahun, data Riskesdas 2007AbstractHepatitis B virus (HBV) is still a major problem in the world, it is proved by the increasing prevalence in someparts of the world such as in Africa, Asia and Pacific countries. ≥ 8% prevalence rate is expressed highlyendemic for HBV is found in regions of Africa and Asia. In the year 2012 has been reported more than 350million people infected with HBV with an estimated 1.2 million deaths per year due to chronic hepatitis,cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. The study was an advanced analysis of National Basic HealthResearch 2007 Data, which was using a cross-sectional design. A total of 1,618 samples of children aged1-14 years have been analyzed. The aim of the study was to determine the risk factors associated withHepatitis B immune (anti-HBs titers) by analyzing the data of anti-HBs titers against the data of its publichealth.The benefit of the study was to find the active anti-Hbs immunity decline in Indonesian children aged1-14 years. Conclusion of the study indicated that age factor has the most significant relationship to theanti-HBs titers (p=0.001) with the protected level of 91%. (OR = 0.91; 95% CI = 0.886 to 0.938 p=0.001).Keywords: Hepatitis B virus (HBV),anti-HBs, children of 1-14 years, National Basic Health Research2007 Data
Back-Matter Media Litbangkes Vol 26 No 1 Mar 2016 Litbangkes, Media
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 1 Mar (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.193 KB)

Abstract

Risiko Penularan Demam Berdarah Dengue berdasarkan Maya Indeks dan Indeks Entomologi di Kota Tangerang Selatan, Banten Astuti, Endang Puji; Prasetyowati, Heni; Ginanjar, Aryo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i4.4510.211-218

Abstract

South Tangerang City become the highest contributor of dengue in 2014 in the province of Banten. The increasing of dengue cases in this city indicates that transmission still ongoing and the vector controlsless optimal. The aim of this study is to assess the transmission risk of dengue in endemic regions based Maya index and Entomology index. This cross sectional study was conducted in three health centers which highest dengue case at last three years that is Benda Baru, Bakti Jaya and Pondok Jagung in June2015. The survey larvae in containers has conducted in 100 houses in each area of the health center,so that the total sample taken is 300 houses. Containers were observed categorized into containers of controlled / Controllable Containers (CC) and containers used / Disposable Container (DC). Datawere analyzed descriptively to determine the proportion of the number and types of containers. Mayaindex obtained from categorization ratio of Breeding Risk Indicator (BRI) and Hygiene Risk Indicator(HRI). Container Index (CI), House Index (HI), Bruteau Index (BI), House Pupa Index (HPI), Pupa Index (PI) were calculated to assess the density of larvae. The results showed 833 containers with 785 containers belonging to CC and 48 included in the DC. The largest of positive Controllable Container inSouth Tangerang City is a bucket (22.7%), bath up (15.5%) and water reservoirs in dispenser (12.4%),while Disposable Container most positive larvae are buckets former (10.3%) and used goods (7.2%).Value Container Index (CI) was 11.7%, House Index (HI) 27.3%, Angka Bebas Jentik (ABJ) 72.7%,and Bruteau Index (BI) 32.3%. The number of pupae depicted with PI 29.3% and HPI 2.7% which is relatively low. Based on Maya index and Entomology index South Tangerang city has a moderate risk level in the transmission of dengue.Keywords: DBD, Entomology Index, Maya index, South Tangerang City AbstrakKota Tangerang Selatan menjadi penyumbang tertinggi DBD tahun 2014 di Provinsi Banten. Peningkatan kasus DBD tiap tahun di wilayah ini menunjukkan penularan masih berlangsung dan upaya pengendalian yang dilakukan kurang optimal. Oleh sebab itu dilakukan penelitian untuk menilai risiko penularan DBD di wilayah endemis DBD berdasarkan Maya Indeks dan indeks entomologi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan potong lintang di tiga puskesmas endemis tertinggi tiga tahun terakhir yaitu Benda Baru,Bakti Jaya dan Pondok Jagung Kota Tangerang Selatan bulan Juni 2015. Survei jentik pada kontainerdi 100 rumah di masing-masing wilayah puskesmas sehingga total sampel yang diambil adalah 300rumah. Kontainer yang diamati dikategorikan menjadi kontainer terkendali/Controllable Containers (CC)dan kontainer bekas/Disposable Container (DC). Data dianalisa secara deskriptif untuk menentukan proporsi jumlah dan jenis kontainer. Maya Indeks diperoleh dari hasil pengkategorian rasio Breeding Risk Indicator (BRI) dan Hygiene Risk Indicator (HRI), Container Index (CI), House Index (HI), BruteauIndex (BI), House Pupa Index (HPI), Pupa Index (PI) dihitung untuk menilai kepadatan larva. Dari hasil pengamatan diperoleh 833 kontainer dengan 785 kontainer tergolong CC dan 48 termasuk dalam DC.Controllable Container yang positif larva terbanyak di Kota Tangerang Selatan adalah ember (22,7%),bak (15,5%) dan penampungan air di dispenser (12,4%), sedang Disposible Container yang paling banyak positif larva adalah ember bekas (10,3%) kemudian barang bekas (7,2%). Nilai Container Index(CI) sebesar 11,7% dan House Index (HI) 27,3%, Angka Bebas Jentik (ABJ) 72,7%, dan Bruteau Index(BI) 32,3%. Indeks pupa digambarkan dengan PI 29,3% dan HPI 2,7% yang masih relatif rendah.Wilayah endemis DBD Kota Tangerang Selatan memiliki tingkat risiko sedang dalam penularan DBD.Kata Kunci: DBD, indeks entomologi, Maya Indeks, Tangerang Selatan
Hubungan Pola Konsumsi dengan Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Dr. Fauziah Bireuen Provinsi Aceh Hanum, Sari; Nur, Abidah; Fitria, Eka; Zulhaida, Andi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.4607.145-150

Abstract

Acehnese daily meals are sweety, salty, and fatty foods. High consumption of carbohydrates, sugars andsweety foods and beverages in Acehnese at risk of developing diabetes mellitus. This study aims to revealthe relationship between dietary habit and diabetes mellitus. The research was descriptive analitic withcase-control design at RSUD dr. Fauziah Bireuen in Aceh Province 2014. The population was out patient who visit the hospital periode May-June 2014. Sampling was done by purposive sampling. Samplesize was determined using the formula of Lemeshow to hypothesis test. Total respondents are 100outpatients with 50:50 ratio between case (outpatients with diabetes mellitus) and control (outpatientswithout diabetes mellitus) respondents. The instruments are questionnaire and form food frequency.Data were analyzed with bivariate logistic regression. The results showed that diabetes melitus riskfactors are sex and age. Men at risk of diabetes mellitus by 2.48 times. Age over 50 years at risk ofdiabetes mellitus by 2.16 times. The pattern of eating sweety, fatty and salty foods also significantlyassociated with diabetes mellitus. The consumption of salty foods at risk of diabetes mellitus by 2.62times. While the consumption of sweety and fatty foods at a lower risk of diabetes mellitus. Healthylifestyle and a balanced diet is recommended to avoid diabetes mellitus.Keywords: diabetes mellitus, consumption patterns, risk factorsAbstrakKebiasaan masyarakat Aceh adalah mengonsumsi makanan manis, asin, dan berlemak. Konsumsikarbohidrat, gula, dan makanan serta minuman manis yang tinggi dalam masyarakat Aceh berisikoterkena diabetes melitus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pola konsumsi masyarakatAceh dengan penyakit diabetes melitus. Penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain kasuskontroldi RSUD dr. Fauziah Bireuen Provinsi Aceh tahun 2014. Populasi penelitian adalah pasien yangrawat jalan yang berkunjung ke rumah sakit periode Mei-Juni 2014. Pengambilan sampel dilakukandengan cara purposive sampling. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow untukuji hipotesis. Responden berjumlah 100 orang pasien rawat jalan yang terdiri dari 50 kasus (pasiendiabetes melitus) dan 50 kontrol/tidak berpasangan (pasien non diabetes melitus). Instrumen yangdigunakan dalam penelitian adalah kuesioner dan form food frequency. Data dianalisis secara bivariatmenggunakan regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko diabetes melitus yang signifikanadalah jenis kelamin dan umur. Laki-laki berisiko diabetes melitus sebesar 2,48 kali. Umur lebih dari 50tahun berisiko diabetes melitus sebesar 2,16 kali. Pola makan makanan manis, berlemak dan asin jugaberhubungan signifikan dengan kejadian diabetes melitus. Konsumsi makanan asin berisiko diabetesmelitus sebesar 2,62 kali. Sedangkan konsumsi makanan manis dan berlemak berisiko lebih rendahterkena diabetes melitus. Pola hidup sehat dan pola makan seimbang dianjurkan agar terhindar daripenyakit diabetes melitus.Kata kunci: diabetes melitus, pola konsumsi, faktor risiko
Potensi Resistensi Virus HIV-1 terhadap Terapi Anti Retroviral (ART) pada Pasien Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Beberapa Kota di Indonesia Hariastuti, Nur Ika; Wibowo, Holy Arif; Adam, Kindi; Subangkit, nFN; Kipuw, Natalie Laurensia; Roselinda, nFN
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.4610.151-156

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that damages the immune system. The use of antiretroviraltherapy drugs combination (ARV) has demonstrated highly effective in controlling thedevelopment of the HIV virus and prolongs survival. Comprehensive coverage of antiretroviral therapy(ART) also has an impact on the incidence of mutations in the HIV virus that can lead to resistance. Ingeneral, resistance to a particular drug is the result of a mutation in a number of positions in the proteincodinggenes that are targeted by drugs. This study is aimed to find out mutations that related to ARVresistance in some cities in Indonesia. Genotypic assays are used in this study to analyze the viralresistance properties. The samples are from stored biological materials in the Center for Biomedicaland Basic Technology of Health. One hundred and eightspecimens that meet the inclusion criteriawere amplified and sequenced. Further analysis is conducted by uploading sequences to the StanfordUniversity website for the analysis of resistance mutations. Based on the results of this study there aresome mutations in the HIV virus that leads to a low potential of antiretroviral drug resistance of efavirenz(EFV) and nevirapine (NVP). These drugs are used in the first-line treatment of HIV in Indonesia.Overview of the mutations that cause viral resistance to antiretroviral drugs with genetic methods isexpected to serve as baseline data for program development of new drugs or vaccines HIV / AIDS inthe response to HIV in Indonesia.Keywords: resistance, HIV-1 virus, VCT AbstrakHuman Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh. Penggunaankombinasi obat terapi anti retroviral (ARV) telah menunjukkan efektivitas yang tinggi dalammengendalikan perkembangan virus HIV dan memperpanjang harapan hidup penderita. Cakupan pemberian anti retroviral therapy (ART) yang luas juga berdampak pada timbulnya mutasi pada virus HIV sehingga dapat menyebabkan resistensi. Secara umum, resistensi terhadap obat tertentu adalah hasildari mutasi pada sejumlah posisi dalam gen pengkode protein yang ditargetkan oleh obat. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui adanya mutasi yang mengarah pada resistensi terhadap ART pada beberapa kota di Indonesia. Metode yang digunakan untuk melakukan analisis resistensi pada studiini adalah dengan pemeriksaan genotipik. Sampel yang digunakan adalah Bahan Biologi Tersimpanpada Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Seratus delapan spesimen yang memenuhi kriteria inklusi diamplifikasi dan dilakukan sequencing. Selanjutnya analisis hasil sekuensing virus HIV dilakukan dengan mengunggah sekuen ke situs web Stanford University untuk analisis mutasi resistensi.Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan adanya mutasi pada virus HIV yang mengarah pada lowpotential resistensi obat ARV yaitu jenis efavirenz (EFV) dan nevirapine (NVP). Obat ini merupakan linipertama pengobatan HIV di Indonesia. Tinjauan mengenai mutasi yang menyebabkan resistensi virusterhadap ARV dengan metode genetik ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar bagi programpengembangan obat baru atau vaksin HIV/AIDS dalam program penanggulangan HIV di Indonesia.Kata Kunci: resistensi, virus HIV-1, VCT
Akurasi Sistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian (Studi Tipikal Sejumlah Daerah di Indonesia) Masih Perlu Banyak Peningkatan: Sistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian di Beberapa Daerah, Indonesia 2014 Sulistiyowati, Ning; Irianto, Joko; Usman, Yusleli
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i4.4822.191-200

Abstract

Death Registrations System and Cause of Death are fundamental in creating demographic andepidemiological measures needed by regional planning in various sectors, such as education,employment and health. The aims of this study are to address the strengths and weaknesses of the Death Registrations System and Causes of Death in several regions in Indonesia; so they will know the areas that require improvement and actions that need to be done. The current system status is determined using a rapid assessment which has been developed by WHO and Health Information Systems Knowledge Hub, from the University of Queensland (2010a). Twenty-five questions were discussed by participants consisting of 2–4 groups of senior staffs responsible for various aspects ofthe Death Registration System and Cause of Death. The assessment was conducted in 13 districts/municipalities in 2014. As a result, there are still some aspects of the function of the system should beimproved. Regions with a high enough value is Surakarta (80%) and Yogyakarta (68%) included in thecategory of moderate or 65–84; functional but not sufficient. The average area with values below 64%,is classified as weak. There are variations in the strength and a weakness of each region. It is importantto develop appropriate strategies to obtain Death Registrations System and Cause of Death better.Keywords: rapid assessment, Death Registrations and Cause of Death, Indonesian Key word: Rapid Assessment, Civil Registrations and Cause of Death, Indonesia AbstrakSistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian merupakan landasan untuk memperoleh berbagai ukuran demografi dan epidemiologi dalam perencanaan regional di berbagai sektor, seperti pendidikan,ketenagakerjaan dan kesehatan. Dalam penelitian ini dibahas tentang kekuatan dan kelemahan dariSistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian dari beberapa daerah di Indonesia, sehingga akan diketahui daerah yang memerlukan perbaikan dan tindakan yang perlu dilakukan. Status sistem saat ini ditentukan menggunakan penilaian secara cepat (rapid assessment) yang telah dikembangkan oleh WHO dan Health Information Systems Knowledge Hub., dari University of Queensland (2010a).Dua puluh lima pertanyaan didiskusikan oleh 2–4 kelompok peserta yang terdiri dari staf senior yang bertanggung jawab untuk berbagai aspek Sistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian.Penilaian ini dilakukan di 13 kabupaten/kota pada tahun 2014. Hasilnya, masih ada beberapa aspekfungsi sistem yang harus ditingkatkan. Daerah dengan nilai cukup tinggi adalah Surakarta (80%) dan Yogyakarta (68%) termasuk dalam kategori moderat atau 65–84; fungsional tetapi tidak memadai. Rata-rata daerah dengan nilai di bawah 64%, atau lemah. Ada variasi dalam kekuatan dan kelemahan darisetiap daerah. Hal ini penting untuk mengembangkan strategi yang tepat untuk mendapatkan SistemRegistrasi Kematian dan Penyebab Kematian yang lebih baik.Kata Kunci: penilaian cepat, Sistem Registrasi Kematian dan Penyebab Kematian, Indonesia
Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kepatuhan Berobat pada Pasien TB Paru yang Rawat Jalan di Jakarta Tahun 2014 Sari, Ida Diana; Mubasyiroh, Rofingatul; Supardi, Sudibyo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v26i4.4619.243-248

Abstract

Pulmonary tuberculosis is an infectious disease caused by the Mycrobacterium tuberculosis. Pulmonary TB cure rate in certain areas in Indonesia is still low.The research objective was to determine the relationship between knowledge, attitudes and compliance outpatient pulmonary tuberculosis in 5 regional public hospitals in Jakarta. This study used a cross-sectional design with each of the 10 samples in each of regional public hospital in Jakarta. The inclusion criteria were adult patients with TB category I observed during 7-8 months. Collecting data using questionnaires and medical records of the patients, and data analysis using Chi Square test. Conclusion of the study shows that the rate of72,7% adherence to treatment. There is no significant relationship between knowledge, attitudes and compliance of out patient pulmonary tuberculosis patients (p > 0.05).Keywords: knowledge, attitudes, compliance, pulmonary tuberculosis, outpatient hospital AbstrakTuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberkulosis. Angka kesembuhan TB paru di daerah tertentu di Indonesia masih rendah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan kepatuhan berobat jalan pasien TBparu di 5 RSUD Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan masing-masing 10 sampel di setiap RSUD Kota Jakarta. Kriteria inklusi adalah pasien dewasa TB paru kategori I yang diobservasi selama 7-8 bulan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan kartu rekam medik pasien, dan analisis data menggunakan uji Chi Square. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa angka kepatuhan berobat sebesar 72,7%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan kepatuhan berobat jalan pasien TB paru (p > 0,05).Kata Kunci: pengetahuan, sikap, kepatuhan, TB paru, pasien rawat jalan RS
Uji ELISA untuk Deteksi Japanese Enchepalitis (JE) dari Kasus Ensefalitis di 5 Provinsi di Indonesia Tahun 2014 Subangkit, Subangkit; Sembiring, Masri Maha; Heriyanto, Bambang; Setiawaty, Vivi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.4819.157-162

Abstract

Japanese Enchepalitis is one of viral infection that became health problem in Asia, including Indonesia.The information of JE cases are rare since the symptoms are very wide and JE is not familiar amongclinicians. This study aims to describe the JE cases from enchepalitis outbreak. A total of 19 samplesconsisting of serum and CSF specimens collected during 2014 was obtained from reports JE outbreaksof five provinces (Banten, Central Java, West Kalimantan, North Sulawesi and North Sumatera). Themain symptoms were fever (100%), loss of consciousness (58%), confuse (53%), paralyzed (32%) andseizure (21%). The laboratory test results found two cases with positive IgM JE, two cases equivocaland 15 negative. From this preliminary results we concluded that 2 out of 19 suspected cases werepositive JE that came from Landak District in West Kalimantan and Manado District in North Sulawesi.Keywords: Japanese Enchepalitis, IgM, ELISA AbstrakJapanese Enchepalitis (JE) adalah salah satu penyakit ensefalitis yang disebabkan oleh virus dan merupakan masalah kesehatan di Asia, termasuk di Indonesia. Data JE di Indonesia masih sangat minim, karena diagnosis klinis yang cukup luas dan belum terpaparnya para klinisi tentang kasus JE. Penelitian ini bertujuan memaparkan secara dekriptif hasil Kejadian Luar Biasa (KLB) JE di Indonesia. Sampel penelitian ini adalah kasus KLB JE sepanjang tahun 2014. Spesimen diperiksa dengan menggunakan metode ELISA Capture IgM JE, sementara gejala klinis dianalisis secara deksriptif. Hasil penelitian terdapat 19 kasus KLB JE selama tahun 2014 yang berasal dari 5 Provinsi yaitu Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Sumatera Utara. Gejala klinis utama penderita kasus JE adalah panas (100%), diikuti dengan penurunan kesadaran (58%), perubahan status mental (53%) dan lumpuh (32%) serta kejang-kejang(21%). Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap antibodi IgM JE menunjukkan terdapat 2 kasus positifJE, 2 Equivokal dan 15 Negatif. Kesimpulan penelitian ini selama tahun 2014 dilaporkan 19 kasus KLBJE, dengan 2 kasus positif JE yang berasal dari Provinsi Kalimantan Barat (Kabupaten Landak) danSulawesi Utara (Kota Manado).Kata Kunci: Japanese Enchepalitis, IgM, ELISA
Ketersediaan Sumber Daya Manusia Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional di Delapan Kabupaten-Kota di Indonesia Mujiati, Mujiati; Yuniar, Yuyun
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i4.4827.201-210

Abstract

Implementation of the National Health Insurance program causes various effects, including an increased number of visits to primary health facilities, so it takes an adequate distribution of human resources.The aims of this study is to describe the availability of human resources for health in primary health centers in the era of National Health Insurance. Type of research is quantitative-qualitative method withcross sectional approach. Data collecting has done by interviews and round table discussion. Researchlocations were selected purposively in eight districts/cities, namely Bekasi City and Bogor District (WestJava), South Tangerang City and Serang District (Banten), Yogyakarta City and Bantul District (DIY),Surakarta City and Sragen District (Central Java). Informants are leaders/representatives of primaryhealth centers, clinics, physicians and the district/city health office. The quantitative data were analyzed descriptively and qualitative data using content analysis. Health centers in eight districts/cities do notall have the human resources for health in accordance of Permenkes RI No. 75/2014, but general practitioners, midwives and nurses have been available in all health centers though the amount isstill lacking. With the exception of Bogor, the number of medical personnel throughout the clinic is inconformity with Permenkes RI No. 9/2014, but other types of human resources for health is still a lot that has not been available. Meanwhile, throughout the medical practitioners, the most human resources widely available are general practitioners and nurses. There are changes in procurement planning ofhuman resources in the era of National Health Insurance, increased workload and working hours, sothat it is needed planning and procurement of human resources based on needs.Keywords: human resources, primary health facilities, national health insuranceAbstrakPelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menimbulkan berbagai dampak, termasuk meningkatnya jumlah kunjungan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), sehingga dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) kesehatan yang memadai. Tujuan penelitian adalah untuk memberi gambaran tentang ketersediaan SDM kesehatan di FKTP dalam era JKN. Jenis penelitian adalah kuantitatif-kualitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan wawancara dan round table discussion. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di 8 kabupaten/kota yaitu Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor (Jawa Barat), Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Serang (Banten), KotaYogyakarta dan Kabupaten Bantul (DIY), serta Kota Surakarta dan Kabupaten Sragen (Jawa Tengah). Informan yaitu pimpinan/wakil institusi puskesmas, klinik, dan praktik dokter serta dinas kesehatan kabupaten/kota. Analisa data kuantitatif dilakukan secara deskriptif dan analisa data kualitatif dengan content analysis. Puskesmas di 8 kabupaten/kota belum seluruhnya memiliki SDM kesehatan sesuaiPermenkes RI Nomor 75 tahun 2014, namun dokter umum, bidan dan perawat telah tersedia di seluruh puskesmas meskipun dengan jumlah yang masih kurang. Kecuali Kabupaten Bogor, jumlah tenaga medis di seluruh klinik sudah sesuai Permenkes RI Nomor 9 Tahun 2014, namun jenis SDM kesehatan lain masih banyak yang belum tersedia. Sedangkan di seluruh praktik dokter, SDM kesehatan yangpaling banyak tersedia yaitu dokter umum dan perawat. Terdapat perubahan dalam perencanaan pengadaan SDM di daerah sesudah JKN, peningkatan beban kerja dan jam kerja, sehingga diperlukan perencanaan dan pengadaan SDM berbasis kebutuhan.Kata Kunci: SDM, FKTP, JKN