cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Kinetika Vitamin B Komplek Pada Proses Pembuatan Tahu dan Oncom Merah Sundari, Dian; Efriwati, Efriwati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.01 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian kinetika vitamin B kompleks pada proses pembuatan tahu dan oncom merah.Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan beberapa vitamin B kompleks pada oncom merahdibandingkan pada tahu setelah proses fermentasi dari ampas tahu. Pengujian sampel ampas tahudiambil dari satu pabrik tahu dan pabrik oncom dimana bahan baku ampas tahunya berasal dari pabriktahu yang sama. Pengujian meliputi analisis kadar air dan analisis kadar vitamin B komplek. Hasilanalisis menunjukkan bahwa dari 10 kg kedelai dalam 1 kali produksi hanya 66,66% yang menjaditahu, sisanya 33,32% sebagai ampas tahu dan 0,901% sebagai air tahu. Pada pengolahan ampas tahumenjadi oncom merah terjadi penambahan bobot yang sangat berarti yaitu sebesar 345,19%. Padaproses pembuatan tahu, terjadi penurunan kadar vitamin B kompleks sangat tinggi dibandingkan dalamkacang kedelai yaitu vitamin B1 berkurang sebesar 41,07%; vitamin B2 berkurang 35,5%; vitaminB3 berkurang 99,08% dan vitamin B6 tidak terdeteksi lagi. Pada ampas tahu, kandungan vitamin Bkomplek yang masih ada yakni 19,59% (vitamin B2) dan berkisar antara 4-22% (vitamin B1; B3; B6)yang terkandung pada air tahu. Pada proses pembuatan oncom merah terjadi peningkatan vitamin Bkomplek yang sangat tinggi yakni untuk vitamin B1 dari tidak terdeteksi menjadi 234,78 mg; vitaminB2 dari 18,9 mg menjadi 304,89 mg; vitamin B3 dari tidak terdeteksi menjadi 517,26 mg dan vitaminB6 dari tidak terdeteksi menjadi 45,797 mg. Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa peningkatankadar vitamin B kompleks pada oncom merah terjadi karena adanya aktifias mikrobia selama prosesfermentasi.
Daya Lindung Antibodi Anti Difteri Pada Anak Usia 1-14 Tahun (Hasil Analisis Lanjut Riskesdas 2007) Pracoyo, Noer Endah; Edison, Hendrik; Rofiq, Ainur
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.594 KB)

Abstract

Difteri merupakan penyakit infeksi menular akut yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. DiIndonesia, pada tahun 2011 terdapat 333 kasus difteri dengan 11 kematian. Penyakit ini merupakanpenyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi DPT (Diphteria, Pertusis, Tetanus). Cakupan imunisasiDPT pada Riskesdas 2007 adalah 88%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yangberpengaruh terhadap titer antibodi difteri pada anak berumur 1-14 tahun berdasar hasil Riset KesehatanDasar 2007. Metode yang digunakan adalah analisa data sekunder hasil pemeriksaan titer antibodiresponden Riset Kesehatan Dasar 2007 (anak umur 1-14 tahun) dengan sampel sejumlah 2041. Hasilanalisa menunjukkan bahwa variabel umur memiliki hubungan yang signifian dengan titer antibodi(OR=0.78, p=0.001;95% CI (0,69-0,88)) dan dari variabel umur tersebut, kelompok umur 1-4 tahunadalah kelompok umur yang paling terlindung dari infeksi difteri sebesar 78%. Kesimpulan dari analisisini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap difteri semakin menurun seiring meningkatnya usia.
Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Pemukiman di Daerah Endemis Leptospirosis di Kota Semarang Ramadhani, Tri; Astuti, Novia Tri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.22 KB)

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit demam akut yang dapat menginfeksi manusia dan hewan (zoonosis) dandisebabkan oleh bakteri leptospira. Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosisdengan insiden pada tahun 2009 sebanyak 13,27/100.000 penduduk dan kematian 3,5%. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik individu penderita leptospirosis dan hubungannya denganlingkungan pemukiman. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional.Populasi adalah semua pengunjung Puskesmas, sedangkan sampel adalah pengunjung Puskesmasdengan gejala klinis leptospirosis (terutama: demam dengan suhu tubuh > 37oC) atau demam disertaisakit kepala, nyeri otot, konjungtivitis dan ruam). Data lingkungan pemukiman diperoleh denganmelakukan pengamatan sedangkan karakteristik individu kasus leptospirosis dengan wawancara, datadianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristikresponden sebagian besar kelompok usia 10-19 tahun (38,1%), jenis kelamin laki-laki (56,2%), dantingkat pendidikan tidak tamat SD (30,5%). Kasus leptospirosis lebih banyak terjadi pada laki-laki,kelompok usia 0-19 tahun dengan (CFR=3,6). Kondisi lingkungan yang berhubungan dengan kejadianleptospirosis meliputi dinding dapur tidak permanen, tidak ada langit-langit, tempat sampah terbukadan kondisi rumah yang kotor. Upaya pencegahan penularan leptospirosis dapat dilakukan melaluikebersihan lingkungan, penanganan sampah yang baik sehingga tidak menjadi tempat bersarang tikus.
Front-Matter Media Litbangkes Vol 25 No 4 Des 2015 Litbangkes, Media
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.28 KB)

Abstract

Pengaruh Kondisi Proses Ekstraksi Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Hook.f & Thomson) Terhadap Aktivitas Hambatan Enzim Alfa Glukosidase Rosidah, Idah; Bahua, Humiaty; Mufidah, Rima; Pongtuluran, Olivia Bunga
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.539 KB)

Abstract

AbstrakBrotowali (Tinospora crispa (L.) Hook.f. &Thomson) merupakan salah satu tanaman obat yang telah banyak digunakan untuk pengobatan tradisional dan memiliki aktivitas sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi proses ekstraksi batang brotowali terhadap aktivitas hambatan enzim alfa glukosidase, kadar total fenol dan Total Dissolved Solids (TDS). Simplisia batang brotowali yang digunakan memiliki kadar susut pengeringan sebesar 11,59%; kadar air 9,11%; kadar abu total 7,62%; kadar abu tidak larut asam 5,00%; kadar sari larut air 2,24%; kadar sari larut etanol 0,53% dan kadar total fenol 2,90 mg Ekivalen Asam Galat (EAG)/g simplisia. Penelitian ini menggunakan variabel tetap yaitu metode ekstraksi perkolasi, konsentrasi etanol kualitas pangan 70% dan laju alir pelarut 250 mL/menit. Sedangkan variabel peubahnya adalah delapan waktu ekstraksi (30, 60, 90, 120, 150, 180, 210 dan 240 menit) dan tiga perbandingan simplisia-pelarut (1:10, 1:15 dan 1:20). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai aktivitas hambatan enzim alfa glukosidase dan TDS tertinggi diperoleh pada perbandingan simplisia-pelarut 1:10 dan berbeda signifikan (P<0,05) dengan perbandingan simplisia-pelarut 1:15 dan 1:20. Kadar total fenol berbeda signifikan (P< 0,05) antara ketiga perbandingan simplisia-pelarut 1:10, 1:15 dan 1:20. Proses waktu ekstraksi menunjukkan perbandingan nisbah simplisia-pelarut 1:10 memiliki aktivitas hambatan enzim alfa glukosidase tertinggi 81,31%, kadar total fenol 40,52 mg EAG/g ekstrak pada180 menit. Perbandingan simplisia-pelarut 1:15 diperoleh hambatan enzim alfa glukosidase tertinggi 74,79%, kadar total fenol 22,74 mg EAG/g ekstrak pada 30 menit. Sedangkan perbandingan simplisia-pelarut 1:20 diperoleh hambatan enzim alfa glukosidase tertinggi 65,00%, kadar total fenol 30,69 mg EAG/g ekstrak pada 210 menit.Kata kunci : Ekstraksi, Tinospora crispa, alfa glukosidase AbstractBrotowali (Tinospora crispa (L.) Hook.f. &Thomson) is one of medicinal plants, which is widely used as traditional medicine and has been using as an antidiabetic activity. The aims of study were to investigate the influence of extraction process of T.crispa on alpha-glucosidase inhibitoryactivity, total phenols content and Total Dissolved Solids (TDS) content. T.crispa used content of loss on drying, water content, total ash, acid insoluble ash, compound soluble in water, soluble in ethanol and total phenols were found to be 11.59%, 9.11%, 7.62%, 5.00%, 2.24%, 0.53% and 2.90 mg Gallic Acide Equivalent (GAE)/g respectively. This study used dependent variables those were method of extraction using percolation, 70% ethanol food grade as solvent and 250 mL/min flow rate of extraction. There were eight extraction times (30, 60, 90, 120, 150, 180, 210 and 240 minutes) and three ratios of T.crispa-solvent (1:10, 1:15 and 1:20) as nondependent variable. The results of extraction process showed that alpha-glucosidase inhibition activity and TDS content of the highest in ratio T.crispa solvent of 1:10 and significantly difference (P<0.05) than 1:15 and 1:20. The total phenols content of all ratios of T.crispa-solvents 1:10, 1:15 and 1:20 having a significantly difference (P<0.05). The process of extraction time in ratio T.crispa-solven 1:10 with the best alpha-glucosidase inhibitory activity 8.13%, phenol total content 40.52 mg GAE/g was on 180 minutes. Extraction time in ratio T.crispa-solven 1:15 with alpha glucosidase inhibitory activity 74.79% and phenol total content 22.74 mg GAE/g was on 30 minutes. Extraction time in ratio T.crispa-solven 1:20 with alpha-glucosidase inhibitory activity 65.00%, phenol total content 30.69mg GAE/g was on 210 minutes.Keywords : Extraction, Tinospora crispa, alpha-glucosidase
Pengetahuan dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Masyarakat Tobelo Dalam di Maluku Utara Susiarti, Siti; Rahayu, Mulyati; Royyani, Mohammad Fathi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.273 KB)

Abstract

AbstrakPengetahuan dan pemanfaatan tumbuhan obat masyarakat lokal telah banyak di lakukan di Indonesia. Namun demikian pengetahuan dari masyarakat Tobelo Dalam, di Propinsi Maluku Utara, masih belum banyak diungkapkan. Oleh karena itu survei tumbuhan obat yang dilakukan di T.N. Aketajawe-Lolobata, Pulau Halmahera pada bulan Juni 2010 diharapkan dapat melengkapi data kekayaan, keanekaragaman dan pengetahuan jenis tumbuhan obat masyarakat Indonesia. Metode dilakukan melalui wawancara secara terbuka dan pengamatan langsung di lapangan. Hasil menunjukkan bahwa tidak kurang dari60 jenis termasuk 54 marga dan 35 suku tumbuhan dicatat dimanfaatkan untuk tumbuhan obat. Cara penggunaannya bisa dalam bentuk tunggal maupun ramuan. Beberapa diantaranya yang umum dimanfaatkan masyarakat Tobelo Dalam adalah momongere (Nervilia aragoana Gaud.), gosale (Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry), Begonia holosericea Teijsm.& Binn., yangere (Alstonia scholaris R.Br.) dan gogorati (Arcangelisia flava Merr.). Dua jenis terakhir termasuk tumbuhan langka dan Begonia holosericea, merupakan jenis endemik Maluku. Jenis-jenis yang dikategorikan langka dan endemik ini perlu segera mendapat perhatian untuk upaya konservasinya.Kata Kunci: Maluku Utara, Tobelo Dalam, tumbuhan obat.AbstractKnowledge and use of medicinal plants by local people quite a lot in Indonesia. However, knowledge of the community of Tobelo Dalam in North Maluku, is still rare. The survey to explore local plants which are used as medicinal plants was conducted in Aketajawe-Lolobata National Park, Halmahera Island, North Moluccas Province on June 2010. The methods used were included open-ended discussion and direct observation in the fields. As a result at least 60 plant species, belong to 54 genera and 35 familieswere recorded as medicinal plants. Those plants found were utilized as medicinal plants in a single plant or as mix compound, with other materials. Medicinal plants which are used by Tobelo Dalam communityare momongere (Nervilia aragoana Gaud.), gosale (Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry), Begonia holosericea Teijsm.& Binn., yangere (Alstonia scholaris R.Br.) and gogorati (Arcangelisia flava Merr.) The last two species included in endangered plants and Begonia holosericea is endemic plant of Moluccas. These endangered and endemic plants needs further actions such as conservation.Keywords : Medicinal plants, Tobelo Dalam Community, North Moluccas
Hubungan Komponen Sindrom Metabolik dengan Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di Lima Kelurahan Kecamatan Bogor Tengah Sihombing, Marice; Tuminah, Sulistyowati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.343 KB)

Abstract

AbstrakSindrom metabolik (SM) merupakan prediktor diabetes melitus (DM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan komponen SM dengan risiko DM di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data responden yang tidak DM pada tahun 2011-2012 (data baseline), Penelitian Studi Kohor Penyakit Tidak Menular di lima kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah yang diikuti hingga tahun kedua (2013-2014). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, pemeriksaan fisik (lingkar perut, dan tekanan darah), dan pemeriksaanlaboratorium (gula darah puasa, gula darah 2 jam beban glukosa, kolesterol HDL, dan trigliserida). Diabetes ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah puasa ≥ 126 mg/dL, dan atau gula darah 2 jam beban glukosa ≥ 200 mg/dL. Pada tahun kedua jumlah responden sebanyak 4.342 dan yang melakukan pemeriksaan secara lengkap sebanyak 3.320 responden. Dari 3.320 responden yang tidak DM, setelah diikuti selama 2 tahun ditemukan 161 orang (4,8%) menjadi DM, laki-laki 42 orang (4,2%) dan perempuan 119 orang (5,2%). Faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian DM adalah umur dan seluruh komponen SM (obesitas sentral, hiperglikemia, hipertrigliserida, kolesterol HDL rendah, dan hipertensi). Semakin bertambah umur semakin meningkat juga risiko insiden DM. Komponen SM yang memiliki hubungan yang sangat kuat untuk terjadinya DM adalah gula darah puasa dengan risiko 6,71 kali lipat (95%CI; 4,76-9,47). Risiko insiden penyakit DM meningkat tajam hingga 65,94 kali lebih besar bila memiliki 5 komponen SM dibandingkan dengan yang tidak mempunyai komponen SM. Disimpulkan bahwa jumlah komponen SM berisiko meningkatkan kejadian DM setelah diikuti selama 2 tahun.Kata Kunci : sindrom metabolik, diabetes melitus, insiden, risiko AbstractMetabolic syndrome (MetS) is a predictor of diabetes mellitus (DM). This study aimed to analyze the association between the components of MetS and the risk of DM in five villages in Bogor Tengah subdistrict. Data being used in this analysis were baseline data of non-DM respondents for Non-Communicable Diseases Cohort Study during period of 2011-2012, which has been followed up to the second year (2013-2014). Data were collected using interviews and questionnaires, physical measurements (waist circumference and blood pressure) and laboratory measurements (fasting blood glucose, two-hour postprandial glucose, HDL cholesterol and triglyceride profile). Diagnosis of DM was determined based on the result of fasting blood concentration ≥ 126 mg/dL) and or 2 hours postprandial glucose ≥ 200 mg/dL. There were 4,342 respondents during the second year follow-up and 3,320 respondents had completed examinations. During the two-years of follow-up, 161 respondents (4.8%) had developed DM, which consisted of 42 men (4.2%) and 119 women (5.2%). Factors associated with the incidence of DM were age and all components of the MetS (central obesity, hyperglycemia, hypertriglycerides, low level of HDL cholesterol, and hypertension). The risk of DM incidence increased with increasing age. The component of MetS that strongly associated with DM incidence was fasting blood glucose level with RR 6.71 fold (95% CI; 4.76 - 9:47). The risk of DM incidence was significantly increased about 65.94 times greater when five components were present compared with that do not have components at all. The conclusion of this study based on the two-years of follow up is that the number of MetS component increases the incidence of DM.Keywords : metabolic syndrome, diabetes mellitus, incidence, risk
Peran Individu, Rumah Tangga dan Pelayanan Kesehatan Dasar Terhadap Status Gizi Buruk Pada Balita di Indonesia Setyawati, Budi; Pradono, Julianty; Rachmalina, Rika
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.178 KB)

Abstract

AbstrakPeriode emas yang sering disebut sebagai ‘window of opportunity’ terjadi pada lima tahun pertama kehidupan. Penelitian ini menganalisis peran berbagai tingkat pengamatan yakni komposisional (individu) dan kontekstual (rumah tangga dan pelayanan kesehatan dasar tingkat kecamatan) terhadapstatus gizi buruk di Indonesia. Metode penelitian adalah observasional dengan rancangan potong lintang, menggunakan data Rifaskes 2011 dan Riskesdas 2010. Tiga tingkatan sampel yaitu individu balita; rumah tangga yang memiliki balita; dan pelayanan kesehatan di Puskesmas tingkat kecamatan. Analisis menggunakan pemodelan multilevel regresi logistik dengan program stata. Dari hasil analisis diperoleh bahwa tingkat rumah tangga berperan paling besar (42,5%), diikuti peran tingkat individu(41,8%) dan pelayanan kesehatan tingkat kecamatan (15,7%). Pada tingkat individu yang berperan pada gizi buruk adalah konsumsi energi-protein kurang dari kecukupan (OR: 1,58), Imunisasi tidak lengkap (OR: 1,47) dan penimbangan tidak rutin (OR: 1,37). Balita di rumah tangga dengan kondisi: ibu tidak tamat SMP, mempunyai anak ≥ 3 orang, dan penanganan sampah kurang baik berisiko 5,36 kali mengalami gizi buruk. Di tingkat Puskesmas kecamatan, variabel yang berperan adalah pembuatan laporan yang kurang baik. Balita yang tinggal di kecamatan berisiko, berpeluang 2,5 kali mengalami gizi buruk. Dapat disimpulkan bahwa status gizi buruk pada balita di Indonesia ditentukan oleh faktor kontekstual, selain faktor komposisional.Kata Kunci : gizi buruk, balita, multilevel, pelayanan kesehatan dasar. AbstractGolden period that is often referred as the ‘window of opportunity’ occurs in the first five years of life. This analyzed the role of the levels of observation that is compositional (individual) and contextual (householdand primary health care sub district level) to the the status of malnutrition in Indonesia. The research was observational with cross-sectional design, using data Baseline Health Survey (Riskesdas) 2010 andHealth Facility Survey (Rifaskes) 2011. The three levels of samples are individual children, households who have children, and health services in health centers at sub-district. Multilevel modelling analysis using logistic regression is applied using Stata program. The results of analysis concluded that the most role of contribution to malnutrition was at household level (42.5%), followed by the role of individual level (41.8 %) and health services at sub-district level (15.7%). At the individual level that contribute to malnutrition are inadequate protein-energy consumption (OR: 1.58), incomplete immunization (OR: 1.47) and not routine weighing (OR: 1.37). Children in the households with a condition: mother nevergraduated from junior high school, have children more than 3, and poor waste management 5.36 times risks of malnutrition. In the sub-district health center level, the variable whose role is making the report is not good, and children who live in these sub-district, 2.5 times as likely to experience malnutrition. In conclusion that the status of malnutrition in children under five years in Indonesia is determined by contextual factors, in addition to compositional factors.Keywords : malnourish, toddlers, multilevel, primary health care
Pengaruh Proses Pemasakan Terhadap Komposisi Zat Gizi Bahan Pangan Sumber Protein Sundari, Dian; Almasyhuri, Almasyhuri; Lamid, Astuti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.948 KB)

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian pengaruh proses pemasakan terhadap komposisi zat gizi beberapa bahan pangan sumber protein baik hewani maupun nabati. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat apakah proses pemasakan yaitu perebusan dan penggorengan mempengaruhi kandungan zat gizi bahan pangan tersebut. Bahan pangan yang akan dijadikan sampel adalah daging ayam segar, ikan kembung segar, tempe dan tahu.yang dibeli dari pasar tradisional di Kota Bogor. Analisis yang dilakukan meliputi analisis kadar air, kadar abu, kadar protein dan kadar lemak. Dari ke-4 macam bahan pangan yang dicoba, dibagi menjadi 3 bentuk perlakuan yaitu bentuk segar, direbus dan digoreng sehingga jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 12 sampel. Metode yang digunakan adalah: analisis kadar air menggunakan metode oven (Thermogravimetri), kadar abu menggunakan metode tanur, kadar protein dengan metode Kjeldahl dan kadar lemak dengan metode Soxhlet. Hasil analisis memperlihatkan bahwa proses pemasakan bahan pangan dengan menggunakan panas menyebabkan penurunan kadar zat gizi bahan pangan tersebut dibandingkan bahan mentahnya. Tinggi atau rendahnya penurunan kandungan gizi suatu bahan pangan akibat pemasakan tergantung dari jenis bahan pangan, suhu yang digunakan dan lamanya proses pemasakan. Proses menggoreng menyebabkan penurunan kandungan gizi yang sangat signifikan karena penggorengan menggunakan suhu yang tinggi sehingga zat gizi seperti protein mengalami kerusakan. Sedangkan proses perebusan menyebabkan berkurangnya kandungan zat gizi karena banyak zat gizi terlarut dalam air rebusan. Walaupun demikian hal terpenting dalam pengolahan bahan pangan agar bahan pangan bernilai gizi tinggi dan aman dikonsumsi.Kata Kunci : bahan pangan, pengolahan, pemasakan, komposisi gizi AbstractHas conducted research on the effect of the cooking process nutrient composition few food sources of protein, both animal and vegetable. The aim of this study was to see whether the cooking process is boiling and frying influence the nutrient content of foodstuffs. Foodstuffs to be sampled are fresh chicken meat, fresh mackerel, Tempe and Tofu were purchased from traditional markets in Bogor. Analysis is conducted analysis of water content, ash content, protein content and fat content. Of the four kinds offoodstuffs were tested, divided into three forms of treatment that is the form of fresh, boiled and fried so that the number of samples analyzed a total of 12 samples. The method used is: analysis of water content using the oven method (Thermogravimetri), ash content using the furnace method, protein content by Kjeldahl method and the fat content by Soxhlet method. The analysis showed the cooking process of food causes a decrease in the levels of nutrients in food than the raw material. High or low nutrient levels decrease due to cooking depending on the type of food, the temperature and the longer the cooking process. Frying process causes a decrease in nutrient content were highly significant because the frying uses high temperatures so that nutrients such as protein damage. While the boiling process leads to reduced nutrient content because many nutrients dissolved in boiling water. However the most important thing in food processing so that food of high nutritional value and safe for consumption.Keywords : food, processing, cooking, nutritional composition
Kondisi Iklim dan Pola Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Yogyakarta Tahun 2004-2011 Perwitasari, Dian; Ariati, Jusniar; Puspita, Tities
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 4 Des (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.211 KB)

Abstract

AbstrakKejadian demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi permasalahan global di Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan kasus DBD adalah iklim, antara lain curah hujan, hari hujan, suhu dan kelembaban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pola kecenderungan antara kondisiiklim dan kejadian DBD di Kota Yogyakarta. Bahan penelitian sumber data berupa menggunakan data sekunder, berupa jumlah kasus DBD yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan data iklim yang berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Data tersebut diambil dalamrentang waktu delapan tahun mulai dari 2004 sampai dengan 2011. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan software Minitab 16 statistical data dan program exelanalitik menentukan pola hubungan keterkaitan antara iklim, dengan mengambil kasus di hasil analisa memperlihatkan adanya keterkaitan peningkatan curah hujan, hari hujan, dan kelembaban serta penurunan suhu yang terjadi di bulan Januari-Maret dan Oktober-Desember hubungan antara dan hari hujan dengan dengan peningkatan jumlah kasus DBD yang terjadi di Kota Yogyakarta. Peningkatan kasus DBD dapat dipengaruhi oleh curah hujan yang berkisar di atas 200 mm dan hari hujan lebih dari 20 hari. Perkiraan perubahan suhu antara ±25-27oC dan kelembaban sebesar 80-87% juga dapat mempengaruhi berpengaruh terhadap peningkatan jumlah kasus DBD sampai dengan lebih dari 200 kasus. Peningkatan jumlah kasus DBD tersebut disebabkan adanya peningkatan jumlah tempat perindukan nyamuk seperti genangan air sehingga terjadi peningkatan jumlah nyamuk. Dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim dapat mempengaruhi kejadian penyakit DBD di masyarakat khususnya di Kota Yogjakarta sekitarnya.Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, iklim, perubahan iklim, Yogyakarta AbstractIncident of dengue hemorrhagic fever (DHF) is still globally problem also in Indonesia. One factor that has impact on the increase of DHF cases is climate; among others were rainfall, rainy day, temperature and humidity. The source data of this study is used secondary data of DBD incidents derived from collected Health Office in Yogyakarta City and climate data from Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). For the span of the data were taken within eight years period starting from 2004 to 2011. The aim of the study was to sight trend of pattern between the incidence of dengue and climatic condition in the Yogyakarta city. Data was analyzed descriptively relation between climate and using cases used Minitab 16 statistical data software and excel program. The results showedthe relation among the increasing means of rainfall, rainy days and humidity as well as the decrease of temperature with the increase of DBD cases. Rainfall above 200 mm and rainy day more than 20 days, approximately temperature at between ±25-27°C and humidity at 80-87% affected the increase of DHF cases more than 200 cases. The number of dengue cases was increased due to an increase in the number of breeding places mosquitoes such as puddles, causing an increase in the number of mosquitoes. It can be concluded that climate change may affect the incidence of dengue disease in the community, especially in around Yogyakarta City.Keywords : Dengue Hemorrhagic Fever, climate, climate change, Yogyakarta