cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Penggunaan Kecombrang (Etlingera elatior) sebagai Alternatif Pengganti Sabun dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Suku Baduy Agustina, Zulfa Auliyati; Suharmiyati, NFn; Ipa, Mara
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v26i4.5179.235-242

Abstract

Baduy is one of ethnic Indonesia’s living on the slope of Kendeng’s mountain, Lebak, Province of Banten.Lebak’s Health Service Data in 2013 noted that Kampung Tangtu in Kanekes village is one of sac Yaws Disease, a tropical neglected disease and difficult to eradicated. Adherence to the indigenous traditions in Baduy Dalam about Clean and Healthy Behavior (PHBS) that do not accept modernization such as toothpaste, soap and shampoo, do not use the footwear are the risk factors to the incidence of Yaws inBaduy. This research was conducted to get an idea of the potential of culture-related health problems,including PHBS. This research used an ethnographic approach. The result showed Baduy’s community particularly Baduy Dalam obedient to the Pikukuh and live in harmony with its natural surroundings. Kecombrang (Etlingera elatior) is a natural product with saponins which produce foam, is a plant that is used by Baduy Dalam to take a bath and brush teeth. Kecombrang grown in the forest and not yet cultivated. Conclude that Clean and Healthy Behavior particulary in bathing habits, Baduy Dalam used natural resource around them. In accordance with pikukuh, Baduy Dalam people’s not allowed to use chemical soap because its violating the indigenous traditions. Kecombrang used by Baduy people’s to take a bath, brush the teeth and washed but not yet used for hand washing. It is recommended that keep conducted intensively and continuously approach to the Baduy Dalam by inserting PHBS’s messages while respecting the local wisdom. In addition, cultivation of kecombrang around Baduy Dalam need tobe considered.Keywords: Baduy Dalam Ethnic, PHBS, Etlingera elatior AbstrakSuku Baduy merupakan salah satu etnis di Indonesia yang tinggal di lereng pegunungan Kendeng,Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Data Dinas Kesehatan Lebak pada tahun 2013 menyebutkan bahwa Kampung Tangtu di Desa Kanekes merupakan salah satu kantung penyakit Frambusia, penyakit tropis yang terabaikan dan masih sulit diberantas. Kepatuhan terhadap pikukuh Etnik Baduy Dalam terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu tidak menerima modernisasi seperti penggunaan pasta gigi, sabun mandi dan cuci, sampo, dan tidak menggunakan alas kaki merupakan faktor risiko terhadap kejadian Frambusia di Baduy. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran potensi budaya masyarakat terkait masalah kesehatan, salah satunya tentang PHBS. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Baduy terutama warga masyarakat Etnik Baduy Dalam memiliki sifat yang memegang teguh pikukuh dan hidup selaras dengan alam sekitarnya. Kecombrang (Etlingera elatior) yang merupakan hasil alam dengan kandungan saponin yang memiliki sifat menghasilkan busa adalah tumbuhan yang digunakan masyarakat Baduy untuk mandi dan gosok gigi. Kecombrang tumbuh dengan sendirinya dihutan dan belum dibudidayakan. Disimpukan bahwa PHBS khususnya kebiasaan mandi, masyarakat menggunakan hasil alam yang ada disekitarnya. Sesuai dengan pikukuh adat, masyarakat Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan sabun dari bahan kimia karena hal tersebut melanggar aturan adat. Kecombrang dimanfaatkan oleh masyarakat Baduy untuk mandi, menggosok gigi dan keramas namun belum dimanfaatkan untuk mencuci tangan.Perlu dilakukan pendekatan yang intensif dan secara terus menerus kepada masyarakat Baduy Dalam dengan menyisipkan pesan-pesan PHBS kepada masyarakat namun tetap menghormati budaya yang ada. Selain itu perlu adanya pembudidayaan kecombrang di sekitar kampung Baduy.Kata Kunci: Suku Baduy Dalam, PHBS, Etlingera elatior
Kontaminasi Telur Cacing Soil-transmitted Helmints (STH) pada Sayuran Kemangi Pedagang Ikan Bakar di Kota Palu Sulawesi Tengah Taruk Lobo, Leonardo; Widjadja, Junus; Octaviani, nFN; Puryadi, nFN
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i2.5442.65-70

Abstract

AbstrakInfeksi cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasukIndonesia. Masyarakat perdesaan atau daerah perkotaan yang sangat padat dan kumuh merupakansasaran yang mudah terkena infeksi cacing. Soil-transmitted Helminths (STH) adalah cacing golongan nematoda yang memerlukan tanah untuk perkembangan bentuk infektifnya. Di Indonesia, golongan cacing yang penting dan menyebabkan masalah kesehatan masyarakat adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang yaitu: Necator americanus, dan Ancylostoma duodenale. Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosial-ekonomi, kebersihan diri dan lingkungan. Di Kota Palu ditemukan tersebar luas pedagang ikan bakar yang menyajikan jenis sayuran mentah seperti kemangi sebagai lalapan bersama-sama dengan makanan yang kemungkinan terkontaminasi oleh cacing. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Penentuan sampel disesuaikan dengan jumlah pedagang ikan bakar yang tersebar di kota Palu, pengumpulan dan pemeriksaan sampel kemangi dengan metode pengendapan NaOH. Sebanyak 93 sampel daun kemangi yang tersebar di wilayah Palu Selatan, Palu Barat, Palu Timur, dan Palu Utara. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi telur cacing Soil-transmitted Helmints pada sebanyak 37 sampel (39,8%). Kontaminasi kemangi yang disajikan di atas meja sebanyak 22 sampel (44%), sedangkan kemangi yang masih stok adalah 15 sampel (34,8%). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa daun kemangi yang disajikan sebagai lalapan oleh pedagang ikan bakar di Kota Palu, baik yang telah disajikan di atas meja maupun kemangi yang jadi stok terkontaminasi oleh telur cacing Soiltransmitted Helmints.Kata Kunci: pedagang ikan bakar, kemangi, Soil-transmitted Helmints, kontaminasiAbstractIntestinal worm infection is still a public health problem in developing countries, including Indonesia.People in rural or slump area are often easy to be infected. Soil-transmitted Helminths (STH) is anematode which need soil as the media for the development of infective form. In Indonesia STHsthat are important in public health are Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanusand Anchylostoma duodenale. Intestinal worm infection is closely related to socio-economy, personalhygiene, and environment. This was an observational study with cross-sectional design. The study was started by determining the number of grilled fish seller in Palu municipality. Collection and exmination of basil sample were done by using NaOH sedimentation method. 93 samples were collected from South Palu, West Palu, East Palu, and North Palu. The results showed that 37 samples were positive of STH (39.8%). The contamination of STH, eggs on basil collected from the table was 44% (22 samples positive) in addition, 15 samples (34.8%) from the basil stock were also found positive for STH.Keywords: grilled fish seller, basil, Soil-transmitted Helminths, contamination 
Penentuan Status Kerentanan Nyamuk Anopheles barbirostris terhadap Insektisida Bendiocarb, Etofenprox, dan Lambdacyhalothrin di Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah Mustafa, Hasrida; Jastal, nFN; Gunawan, nFN; Risti, nFN
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i2.5446.93-98

Abstract

AbstrakAnopheles barbirostris merupakan salah satu nyamuk vektor malaria di Sulawesi Tengah. Pengendalian nyamuk tersebut salah satunya dilakukan dengan cara penyemprotan dengan bahan aktif Bendiocarb, Etofenprox, dan Lambdacyhalothrin. Pemantauan status kerentanan nyamuk terhadap insektisida yang umum digunakan di beberapa daerah di Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Tojo Una-una belum pernah dilakukan sehingga status kerentanannya belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status kerentanan nyamuk vektor malaria terhadap penggunaan insektisida Bendiocarb, Etofenprox dan Lambdacyhalothrin di Kabupaten Tojo Una-una. Nyamuk yang digunakan adalah hasil kolonisasi F1 di lapangan yang kemudian diuji melalui metode standar WHO susceptibility test menggunakan kertas berinsektisida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyamuk Anopheles barbirostris di Tojo Una-una telah resisten terhadap insektisida Lambdacyhalothrin (0,05%) dan Etofenprox (0,5%), namun masih terpengaruh oleh Bendiocarb (0,1%). Sebagai solusi, perlu dilakukan penggantian insektisida yang telah resisten atau peningkatan dosis insektisida.Kata Kunci: Anopheles barbirostris, insektisida, kerentanan, Kabupaten Tojo Una-unaAbstractBarbirostris is one of the Anopheles mosquito vectors of malaria in Central Sulawesi. One of the malaria vector control is carried out by spraying with the active ingredient of Bendiocarb, Etofenprox and Lambdacyhalothrin. Monitoring the status of mosquito susceptibility to insecticide commonly used in some areas of Central Sulawesi in particular Tojo Una-una has never been done so that the status is unknown.The objective of this study was to determine the status of the malaria vector mosquito susceptibility toinsecticide Bendiocarb, Etofenprox and Lambdacyhalothrinin Tojo Una-una, Central Sulawesi. Mosquito used is the result of colonization F1 on the field which is then tested through standard WHO susceptibility test method using insecticide-treatedpaper. The results showed that mosquito Anopheles barbirostris in Tojo Una-una resistant to insecticide Lambdacyhalothrin and Etofenprox (0.05%) and (0.5%), but is still affected by Bendiocarb (0,1%). As a solution, it is necessary to replace resistant insecticides or increase the doses of insecticides.Keywords: Anopheles barbirostris, pesticides, susceptibility, Tojo Una-una Regency
Hospital Waste Management in Queensland, Australia, 2010: A Case Study for Sustainable Hospital Waste Management in Indonesia Irianti, Sri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i2.5448.109-118

Abstract

AbstractA case study was conducted in Queensland State, Australia, in 2010 to gain information about methods and technology practiced in hospital waste management (HWM) that can be adopted by Indonesian hospitals. The method of the study is a qualitative inquiry through in-depth interviews with hospital personnel and observations of HWM practices in The Royal Brisbane and Women’s Hospital (RBWH).The study also elicits information on regulations and policies governing solid waste within QueenslandState. Data were analyzed descriptively based onthe contents of waste managemen thierarchyincluding collection, treatment and final disposal. The study revealed that Queensland hospitals havea comprehensive on-site policy and strong leadership that focus on waste reduction and safe wastehandling to prevent waste management costs as well as preventing waste related diseases and injuries.The State also implements a new strategy to achieve a low-waste Queensland, under a strong legislative framework by an application of resource recovery strategy including reduce, reuse and recycle (3Rs) to significantly reduce the environmental, social, economic, and health impacts of waste, and in turn, enhance sustainability. The study suggests that Queensland’s experience can be adopted by Indonesian hospitals, particularly in implementing 3Rs approach and appropriate waste handling under a clear onsite policy and leadership to minimize the incidence of waste related diseases and injuries.Keywords: case study, good practice, hospital waste management, 3RsAbstrakSuatu studi kasus telah dilaksanakan di Negara Bagian Queensland, Australia tahun 2010 untukmemperoleh informasi tentang metode dan teknologi yang diterapkan dalam pengelolaan limbah rumah sakit (RS) yang berkelanjutan agar dapat diadopsi oleh RS di Indonesia, yang sampai dengan saat ini masih belum mengelola limbahnya secara berkelanjutan. Masih banyak RS yang tidak memilah limbahnya agar limbah medisnya dapat diolah sesuai persyaratan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Teknologi pengolahan limbah di Indonesia yang paling banyak digunakan adalah insinerasi yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Metode dalam pengumpulan data adalah kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengelola limbah RS dan pengamatan terhadap praktik pengelolaan limbah di Royal Brisbane and Women’s Hospital (RBWH).Studi ini juga mempelajari peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang pengelolaan limbah di Queensland tersebut dan dianalisis secara deskriptif berdasarkan hirarkhi pengelolaan limbah meliputi pengumpulan, pengolahan, dan pembuangan akhir. Hasil studi ini menunjukkan bahwa RBWH maupun RS lainnya mempunyai kebijakan lokal yang menyeluruh dan RBWH mempunyai kepemimpinan yang tegas dengan fokus pada minimisasi limbah dan keamanan dalam penanganan limbah untuk menghemat biaya sekaligus mencegah terjadinya penyebaran penyakit dan kecelakaan karena limbah.Negara bagian ini juga menerapan strategi baru dengan kerangka peraturan yang berorientasi padastrategi “mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur-ulang dalam rangka pemulihan sumberdaya dan mengurangi dampak lingkungan, social, ekonomi menuju kelestarian lingkungan. Studi inimenyarankan bahwa praktik pengelolaan limbah di RBWH ini dapat menjadi contoh untuk pengelolaanlimbah RS di Indonesia, terutama dalam penerapan pengurangan limbah, kebijakan lokal RS danpencegahan penyakit dan kecelakaan karena limbah RS.Kata Kunci: studi kasus, praktik, manajemen pengelolaan limbah, B3
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Orang Tua tentang Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak Usia Taman Kanak-kanak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Banten Tahun 2014 Lely Suratri, Made Ayu; Sintawati, FX; Andayasari, Lelly
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i2.5449.119-126

Abstract

AbstrakPengetahuan dan pendidikan yang diberikan orang tua dan guru sangat membantu pembentukanperilaku anak. Perilaku orang tua (ibu) terhadap pemeliharaan kesehatan gigi anak sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anaknya. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua tentang kesehatan gigi dan mulut anak usia TK. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada 564 orang anak Taman Kanak-kanak A di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Banten. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu dari responden mengetahui jenis makanan yang dapat memperkuat dan merusak gigi anak. Pengetahuan terendah tentang makanan berserat bisa memperkuat gigi terdapat di Kabupaten Sleman Provinsi DIY (71%). Pengetahuan Ibu tentang masalah gigi berlubang dan pengaruhnya terhadap selera makan dan tumbuh kembang anak, terendah terdapat di Kabupaten Serang, Provinsi Banten (51%). Sikap tentang perlunya memeriksa kesehatan gigi ke dokter gigi pada anak usia TK, sebagian besar ibu responden menyatakan perlunya memeriksakan kesehatan gigi bila sakit gigi dan perlu check-up rutin dua kali setahun. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu terhadap kesehatan/perawatan gigi dan mulut anak cukup baik akan tetapi perilakunya yang belum sesuai dengan pengetahuan dan sikapnya, ini terlihat pada hanya 50% anak yang sakit gigi dibawa berobat ke pelayanan gigi dan mulut.Kata Kunci: pengetahuan, sikap, perilaku, kesehatan gigi, anak usia TKAbstractThe knowledge and education given by parents and teachers helps the formation of a child’s behavior.The behavior of the parents (mothers) to health care of children’s teeth are very influential on attitudesand behavior of their children. The aim of the study to determine the knowledge, attitudes, and behaviors of parents about oral health of kindergarden age children. A cross-sectional study was conducted on 564 children of a kindergarten in the Province of Special Region of Yogyakarta (Province of DIY) and the Province of Banten. The results showed that most mothers of respondents know the type of food that can amplify and damage the child’s teeth. Lowest knowledge about fiber foods which can strengthen teeth is in Sleman District of Yogyakarta, Province of DIY (71%). Mothers knowledge about the problem of tooth decay and its influence on appetite and development of the child is 51% in the district of Serang, Banten Province. Attitudes about the need to check the health of the tooth to the dentist at kindergarden age children, most mothers expressed the need for dental health check if toothache and need regular check-up twice a year. Conclusion of this study shows that the knowledge and attitudes of mothers towards medical/dental care and the child’s mouth quite well but their behavior is not in accordance with the knowledge and attitudes, is seen in only 50% of children who toothache brought treatment to dental services.Keywords: knowledge, attitudes, behaviors, dental health, kindergarden age children
Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria pada Ibu Hamil di Indonesia Budiyanto, Anif; Wuriastuti, Tri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i1.5494.25-30

Abstract

Malaria is an infectious disease caused by a parasite called Plasmodium. It has been the main concern of health problem in Indonesia, especially to the high-risk groups; the infants, under-five-years-old children and pregnant women. If a pregnant woman is infected to malaria, it might affect the pregnancy and cause abnormalities to the baby. This analysis is aimed to determine the factors associated with malaria among pregnant women in Indonesia. The data which used for this research is taken from National Basic Health research (Riskesdas) 2013 and the samples are all of pregnant women who’schosen as the respondents in Riskesdas 2013. The data was analyzed using binary logistic regression analysis and backward elimination method. The result shows that the factors associated with malaria among pregnant women in Indonesia are health monitoring of pregnant women by midwives which implemented in the possessing of KIA book, the usage of electric/coil mosquito repellent when sleeping in the night, the economic status, and the presence of midwives/maternity hospital. The lower the economic status of pregnant women, the higher the risk they tend to get infected with malaria. Pregnant women are advised to check their health status routinely and avoid contact with the vectors of malaria, by using mosquito repellent at night. Abstrak Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan menjadi masalah kesehatan di Indonesia terutama pada kelompok risiko tinggi, yaitu bayi, anak balita, dan ibu hamil. Ibu hamil yang terinfeksi malaria akan berpengaruh pada proses kehamilan dan kelainan pada bayi yang dilahirkan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada ibu hamil di Indonesia. Data yang digunakan adalah data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Sampel dalam analisis ini adalah seluruh ibu hamil yang terpilih menjadi responden Riskesdas 2013. Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi logistik biner dengan metode backward elimination. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada ibu hamil di Indonesia yaitu pemantauan kesehatan ibu hamil oleh bidan yang diwujudkan dalam kepemilikan buku Kesehatan Ibu Anak (KIA), pemakaian obat nyamuk bakar/elektrik ketika tidur malam, status ekonomi ibu hamil, dan kemudahan akses ibu hamil ke praktik bidan/rumah sakit bersalin. Semakin rendah status ekonomi ibu hamil cenderung memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena malaria. Ibu hamil disarankan memeriksakan kesehatannya secara rutin dan menghindari kontak dengan vektor penyebab malaria seperti dengan menggunakan obat nyamuk ketika tidur malam. 
Kecukupan Tenaga Kesehatan dan Permasalahannya dalam Pelayanan Kesehatan Anak dengan HIV-AIDS di Rumah Sakit pada Sepuluh Kabupaten/Kota, Indonesia Mujiati, Mujiati; Lestary, Heny; Sugiharti, Sugiharti
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i1.5550.1-8

Abstract

The number of HIV infections in 2010-2014 in the age group < 14 years is increased when compared to the year 2010-2013. The increase of HIV number requires health professionals to provide optimal health services. Therefore, the adequacy of health personnel and their problems in providing services to children with HIV infections have become important factors to be studied. This is qualitative study using in-depth interviews. Locations were referral hospital HIV-AIDS in DKI Jakarta (Jakarta Utara, Jakarta Barat), East Java (Surabaya, Malang), Bali (Denpasar, Buleleng), Papua (Jayapura, Kabupaten Jayapura), and North Sumatra (Medan, Deli Serdang) which selected by purposive sampling. Informans were doctors, nurses, pharmacists, medical laboratory workers and case managers. Data were analyzed using content analysis. The problem of health care of children with HIV-AIDS in most hospitals in ten districts/cities is the inadequacy of health personnel because of the number of health personnel is limited, but with work concurrently. Some health personnels have not participated in training related to health care for children with HIV-AIDS, including laboratory examination. It is needed to do the mapping of the health personnels for health services, especially for children with HIV-AIDS. Besides, health personnels need training related to the accuracy of dosing/ comparison drug, how to handle children with HIV-AIDS patients, and laboratory tests of HIV-AIDS to maintain service quality.AbstrakJumlah infeksi HIV tahun 2010–2014 pada kelompok usia < 14 tahun meningkat dibandingkantahun 2010–2013. Peningkatan jumlah penderita HIV memerlukan tenaga kesehatan yang mampumemberikan pelayanan kesehatan secara optimal. Karenanya, kecukupan tenaga kesehatanbeserta permasalahannya dalam pelayanan kesehatan pada anak dengan HIV-AIDS menjadi halyang penting untuk dikaji. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, untuk itu data dikumpulkanmelalui wawancara mendalam. Lokasi penelitian dipilih secara purposif sampling yaitu rumah sakit(RS) rujukan HIV-AIDS di Provinsi DKI Jakarta (Jakarta Utara, Jakarta Barat), Jawa Timur (KotaSurabaya, Kabupaten Malang), Bali (Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng), Papua (Kota Jayapura,Kabupaten Jayapura) dan Sumatera Utara (Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang). Sebagai informanadalah dokter, perawat, tenaga farmasi, tenaga laboratorium medis, dan manajer kasus/pendampingpasien. Analisis data menggunakan metode content analysis. Permasalahan pelayanan kesehatananak dengan HIV-AIDS di sebagian besar RS di sepuluh kabupaten/kota yaitu ketidakcukupan tenagakesehatan karena jumlah tenaga kesehatan terbatas dengan tugas/pekerjaan yang merangkap.Sebagian tenaga kesehatan belum mengikuti pelatihan terkait pelayanan kesehatan bagi anak denganHIV-AIDS termasuk pemeriksaan laboratorium. Perlu pemetaan kebutuhan jumlah tenaga kesehatanuntuk pelayanan kesehatan khususnya pada pasien anak dengan HIV-AIDS. Tenaga kesehatan perlumengikuti pelatihan terkait ketepatan pemberian dosis/perbandingan obat, cara menangani pasien anakdengan HIV-AIDS, dan pemeriksaan laboratorium HIV-AIDS untuk menjaga kualitas layanan.
Persepsi Remaja Nonperokok terhadap Pictorial Health Warnings di Kota Gorontalo Sapiun, Zulfiayu; Goi, Misrawatie; Herawati, Lucky
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i3.5580.141-152

Abstract

The 13-15 year old male smoker increased from 23.4% in 2007 to 29.3% in 2013. Meanwhile, the age of the initial smoker begin to shift from 15-24 years to 10-14 years. To anticipate the rate of increase in the number of smokers, especially in the younger generation, the Indonesian Government has obliged tobacco companies to include Pictorial Health Warnings (PHW) on the cigarette packaging they produce. PHW is an image contained in cigarette packaging that contains about smoking can causes cancer of the mouth, throat, lungs/bronchitis chronic; death, and endanger small children. This study aims to identify characteristics, knowledge, and perception of non-smoker teenagers to PHW and the relationship between variables. The study design was cross-sectional with non-smoking male teen research population of 2,473 people. As for the sample of 219 people selected by stratified random sampling. The research variables are characteristic, knowledge, and perception toward PHW. Data analysis used Chi-squared for bivariate and logistic regression for multivariate. The results showed 86.8% respondents had good knowledge and 71.7% had very good perception about PHW although 69.9% of their parents were smokers. There is a significant relationship between knowledge and perception of PHW in non-smoker teenagers.AbstrakRemaja laki-laki usia 13-15 tahun yang merokok meningkat dari 23,4% pada tahun 2007 menjadi 29,3% pada tahun 2013. Sementara itu, usia perokok awal mulai bergeser dari 15-24 tahun menjadi 10-14 tahun. Untuk membendung laju kenaikan jumlah perokok, khususnya pada generasi muda, pemerintah Indonesia telah mewajibkan perusahaan rokok untuk mencantumkan Pictorial Health Warnings (PHW) pada kemasan rokok yang mereka produksi. PHW adalah gambar yang terdapat dalam kemasan rokok yang memuat tentang merokok dapat menyebabkan kanker mulut, tenggorokan, paru-paru/bronkitis kronis; kematian; dan membahayakan anak kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, pengetahuan, dan persepsi remaja nonperokok terhadap PHW serta hubungan antarvariabel. Desain penelitian adalah potong lintang dengan populasi penelitian remaja laki-laki nonperokok sebanyak 2.473 orang. Adapun sampel penelitian sebanyak 219 orang yang dipilih secara stratified random sampling. Variabel penelitian berupa karakteristik, pengetahuan, dan persepsi terhadap PHW. Analisis data menggunakan Chi kuadrat untuk bivariat dan regresi logistik untuk multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 86,8% responden memiliki pengetahuan baik dan 71,7%memiliki persepsi sangat baik tentang PHW walaupun 69,9% dari orang tua mereka adalah perokok.Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan persepsi terhadap PHW pada remaja nonperokok.
Hubungan Anemia Gizi dengan Infeksi Kecacingan pada Remaja Putri di Beberapa SLTA di Kota Palu Syahnuddin, Muchlis; Gunawan, Gunawan; Sumolang, Phetisya Pamela Frederika; Lobo, Leonardo Taruk
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v27i4.5607.223-228

Abstract

Anemia is a medical condition in which the number of red blood cells or the hemoglobin is less than normal. Normal hemoglobin levels in adolescent girls is > 12 g/dl. Adolescent girls are said to be anemic if Hb <12 g/dl. The high number of worm infection and the high incidence of anemia among adolescent girls are closely related because worm infection is one of the causes of anemia. This study aimed to analyze factors affecting anemia among high school adolescent girls in the city of Palu. This study was an observational study with case-control study design. Stool sample tested by using direct method showed that 8 out of 72 samples (11.11%) were found positively infected by the worm eggs. There was no association between anemia and worm infection. Most respondents consumed insufficient daily intake of iron and vitamin C. Type of worms was mostly hookworm and follwed by Trihuris trichiura. In order to improve insufficient nutrient intake to prevent anemia in adolescent girls, there should be a communication between teachers and parents to get them more concerned about consuming varied and iron-rich foods, and preventing worm infection.   Abstrak Anemia adalah suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar Hb normal pada remaja putri adalah > 12 gr/dl. Remaja putri dikatakan anemia jika kadar Hb < 12 gr/dl. Tingginya angka kecacingan serta masih tingginya angka kejadian anemia pada remaja putri secara nasional sangat berhubungan karena infeksi kecacingan merupakan salah satu penyebab terjadinya anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh pada anemia remaja putri di beberapa SLTA Kota Palu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian metode case-control. Hasil pemeriksaan sampel tinja menunjukkan bahwa dari 72 sampel tinja yang terkumpul, sebanyak 8 sampel (11,11%) ditemukan positif terinfeksi telur cacing. Tidak ada hubungan antara anemia dan kecacingan. Sebagian besar responden tidak tercukupi jumlah asupan zat besi dan asupan vitamin C harian. Spesies cacing yang ditemukan terbanyak berturut-turut adalah hookworm dan Trichuris trichiura. Untuk mengantisipasi ketidakcukupan asupan zat gizi pada remaja putri perlu dilakukan komunikasi antara guru dengan orang tua siswa agar memperhatikan asupan makanan yang beragam dan cukup zat besi serta mencegah kejadian kecacingan. 
Kajian Implementasi Pembinaan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) untuk Meningkatkan Keamanan Pangan: Peran Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kota Manalu, Helper Sahat P; Suudi, Amir
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i4.5734.249-256

Abstract

Street foods are expected to contribute energy and other useful nutrients for growing school children.The objective of this study was to assess the implementation of street food in Bekasi, particularly roleof education and health authority. The assesment was based on qualitative method, using round tablediscussion and supported by secondary data. The results showed problems of school children streetfoods seller in terms of personal higiene, how to manage, manner of presentation, storage, quality of food and habits of the child was still not good. Policies related to the management and supervision in schools has been carried out from the center (National Food and Drug Board, Ministry of Health)and the local government, but the implementation was not well coordinated about, who was the most responsible in supervision of the street food at school. The national and West Java Province authorities suggested that the monitoring control of street food in elementary school should be handed over to by the local government district/city.Keywords: management, street foods, children, school AbstrakKonsumsi makanan jajanan anak diharapkan dapat memberikan kontribusi energi dan zat gizi lain yang berguna untuk pertumbuhan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran dinas pendidikan dan dinas kesehatan dalam pembinaan pangan jajanan anak sekolah di Bekasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu round table discussion dengan nara sumber dari Direktorat Surveillans dan PKP Badan Pengawas Obat dan Makanan Jakarta (Badan POM Jakarta), Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Bina Kesehatan Anak Ditjen GIKIA. Sebagai pendukung hasil kajian, digunakan data sekunder berupa laporan hasil penelitian yang dilakukan terkait dengan makanan jajanan sekolah. Untuk mengetahui pengelolaan makanan jajanan di sekolah dilakukan dengan melakukan kunjungan salah satu sekolah dasar di Kota Bekasi, Dinas Pendidikan Dasar, Dinas Kesehatan. Hasil kajian menunjukkan masalah makanan jajanan anak sekolah ditinjau dari higiene perorangan penjual, cara pengelolaan, cara penyajian, cara penyimpanan, kualitas makanan dan kebiasaan anak jajanan masih kurang baik. Kebijakan yang terkait dengan pengelolaan di sekolah sudah dilakukan dari pusat (Badan POM, Kementerian Kesehatan) dan pemda setempat, namun dalam pelaksanaannya belum terkoordinir dengan baik mengenai instansi mana yang bertanggung jawab dalam pengendalian makanan jajanan di sekolah. Pelaksana program di pusat dan Provinsi Jawa Barat menyarankan agar pengendalian pengelolaan makanan di sekolah dasar diserahkan ke pemerintah daerah kabupaten/kota.Kata Kunci: pengelolaan, jajan, anak, sekolah