cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Peran Kesenjangan Ekonomi terhadap Kejadian Kegemukan Sari, Kencana; Indirawati, Lely; Utami, Nurhandayani; Amaliah, Nurillah
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.5737.127-136

Abstract

Economic inequality relationship to health has been widely analyzed in western countries but is stilllimited in developing countries. Knowing the role of economic inequality against obesity is expectedto help overcome the problem of obesity in Indonesia. This study aims to analyses the relationshipof economic inequality and obesity. The data were obtained from a cross-sectional Indonesian BasicHealth Research (Riskesdas) year 2010. The subjects consisted of 125563 respondent’s ages 19-55years old that derived from 251388 household members nested within 69300 households nested within 2798 communities nested within 33 regions. Obese was categorized as body mass index more than 25.Community level exposures included economic inequality that based on Gini coefficient. The data were analyzed with multilevel logistic regression. The prevalence of obesity in Indonesia was 22.96 percent.The economic inequality was ranged from 0.18-0.69 across 33 provinces in Indonesia. The economicinequality has a role on obesity although the role of the individual and household level on obesity isgreater (76.8%) compared to the role of economic inequality at the provincial level (23.2%). At theindividual level, variables that contribute to obesity were female (OR = 1.91), education > SMA (OR =1.18), married (OR = 2.70), and higher socioeconomic status (OR5th kuintil= 2 , 76). At the provincial level, economic inequalities increase the chances of obesity of 1.31 times. The higher the economic inequality in the province level is likely to increase the incidence of obesity but the effect was smaller than at the individual level factors. Obesity prevention are needed focusing on female, married, and higher socioeconomic status.Keywords: inequality, economic, obesity AbstrakKesenjangan ekonomi telah banyak dianalisis di negara-negara barat tetapi masih terbatas di negara-negara berkembang. Mengetahui peran kesenjangan ekonomi terhadap kegemukan diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kegemukan di Indonesia. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kesenjangan ekonomi dengan kegemukan. Analisis menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 yang bersifat potong lintang. Subyek terdiri dari 125.563 responden berumur 19–55 tahun yang berasal dari 251.388 anggota rumah tangga dari 69.300 rumah tangga pada 2.798 blok sensus di 33 provinsi. Kegemukan dikategorikan sebagai indeks massa tubuh lebih dari 25. Eksposur di tingkat masyarakat yaitu kesenjangan ekonomi didasarkan pada koefisien Gini. Data dianalisis dengan multilevel regresi logistik. Prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 22,96%. Kesenjangan ekonomi berkisar antara 0.18–0.69 di 33 provinsi di Indonesia. Kesenjangan ekonomi mempunyai peran terhadap kejadian kegemukan di tingkat individu dan rumah tangga. Namun, peran tingkat individu dan rumah tangga lebih besar (76,8%) dibandingkan peran kesenjangan ekonomi di tingkat provinsi (23,2%) terhadap kejadian kegemukan.Pada tingkat individu yang berperan pada kegemukan adalah jenis kelamin perempuan (OR=1,91), pendidikan > SMA (OR=1,18), kawin (OR=2,70), dan status sosial ekonomi semakin tinggi (OR kuintil 5=2,76). Pada tingkat provinsi, kesenjangan ekonomi meningkatkan peluang kegemukan 1,31 kali. Kesenjangan ekonomi semakin tinggi berpeluang meningkatkan kejadian kegemukan tetapi pengaruhnya lebih kecil dibanding faktor di tingkat individu. Pencegahan kegemukan yang berfokus pada individu yang berjenis kelamin perempuan, kawin, dan status sosial ekonomi semakin tinggiABSTRAKKata Kunci: kesenjangan, ekonomi, kegemukan
Penguraian Parasetamol oleh Sel dan Protein Ekstraselular Khamir Candida tropicalis dan Rhodotorula minuta Julistiono, Heddy; Saragih, Ernawati; Yulineri, Titin
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v27i3.5749.169-174

Abstract

Yeast can be used as cell model to study toxicity in mammalian cell. In the previous study we demonstrated that yeast Candida tropicalis was able to metabolize analgesic drug paracetamol causing oxidative stress. This phenomenon is similar to that in mammalian cell. In mammalian cell system, enzymes responsible in paracetamol metabolism are at least cytochrome P450 (P450) and peroxidase. In order to understand the possible role of peroxidase enzyme in paracetamol metabolism in yeast, research on the effect of peroxidase inhibitor of sodium cyanide (KCN) and a peroxidase substrate peroxide (H2O2) on paracetamol degradation by cell suspension and extracellular protein of C. tropicalis and Rhodotorula minuta was carried out. Paracetamol was degraded by cells or extracellular protein in both of yeast. Paracetamol degradations were significantly inhibited by KCN (0.01 μM) or H2O2 (3 μM). Since P450 is generally located inside the cell (in cell membrane) while no activity of P450 in extracellular, the data indicated the presence of soluble enzyme which is able to metabolize paracetamol that is inhibited by KCN or H2O2. The possibility of presence of peroxidase in the soluble protein by which paracetamol is metabolized and its inhibition by peroxide via competitive substrate or peroxide toxicity is discussed. The results supported use of yeast for studying toxicity of paracetamol in cell level.AbstrakKhamir dapat digunakan sebagai sel model untuk mempelajari toksisitas pada sel mamalia. Pada penelitian sebelumnya diketahui bahwa khamir Candida tropicalis mampu memetabolisme obat analgesik parasetamol dan mengakibatkan terjadinya cekaman oksidasi pada sel seperti yang terjadi pada sel mamalia. Pada sel mamalia, metabolisme parasetamol terutama dilakukan setidaknya oleh enzim membran sitokrom P450 dan peroksidase. Untuk mengetahui indikasi keterlibatan enzim peroksidase dalam metabolisme parasetamol pada C. tropicalis dan Rhodotorula minuta, diamati efek senyawa inhibitor peroksidase kalium sianida (KCN) terhadap metabolisme parasetamol; juga efek hidrogen peroksida (H2O2), senyawa substrat peroksidase. Hasil menunjukkan bahwa pada kedua khamir, baik pada sel maupun protein ekstraselular dapat mengurai parasetamol. Penguraian parasetamol dapat dihambat oleh KCN (0,01 μM) dan juga H2O2 (3 μM). Mengingat pada umumnya khamir memiliki P450 dalam sel (membran) tetapi tidak ada aktivitas P450 pada larutan ekstraselular, maka hasil ini mengindikasikan adanya peran enzim terlarut dalam mengurai parasetamol, yang dihambat oleh KCN dan H2O2. Kemungkinan enzim terlarut tersebut adalah peroksida yang kemampuan metabolisme parasetamolnya dapat dihambat oleh H2O2 melalui proses kompetitif dan keracunan dibahas dalam penelitian ini. Kemampuan metabolisme parasetamol oleh enzim yang diduga peroksidase menambah peluang penggunaan khamir dalam penelitian toksisitas parasetamol di tingkat sel.
Manajemen Peningkatan Kepesertaan dalam Jaminan Kesehatan Nasional pada Kelompok Nelayan Non Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) Putro, Gurendro; Barida, Iram
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v1i1.5755.17-24

Abstract

In order to achieve universal health coverage by 2019, BPJS Kesehatan needs to involve all people to become members of National Health Insurance (NHI). This study aimed to analyze the mechanism of the increase in membership group of fishermen with non recipient contribution (Non PBI) in the National Health Insurance. This was an observational research method which was used to observe the phenomenon of BPJS Kesehatan membership of a group of fishermen. The type of this study was cross-sectional study design because the data was taken at a certain time which was in the year 2014. The research location was in several cities in Indonesia including Jember City, East Java Province, Balikpapan City, East Kalimantan Province; and Makassar City, South Sulawesi Province. Respondents who participated in NHI as Non PBI was 15 people (9.6%). The lack of NHI participants caused by several aspects such as the difficulties of procedure, registration place and also premium payment place. There is also assumption that there is still cost sharing for NHI member when having a service from health service. The knowledge of respondents associated with the registration procedure was 47.8%, and the information about NHI’s socialization from television was 62.8%. Enhancement of membership could be implemented by doing more often socialization of program and also easier procedure to register and pay the fee.Keywords: National Health Insurance, membership, non premium assistance, informal sectorsAbstrakDalam rangka mencapai universal health coverage pada tahun 2019, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan perlu melibatkan semua kalangan untuk menjadi anggota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme peningkatan kepesertaan kelompok nelayan non Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Metode penelitian ini adalah observasional dimana digunakan untuk melihat fenomena kepesertaan BPJS Kesehatan dari kelompok nelayan. Rancangan penelitian secara potong lintang karena data diambil pada kurun waktu tertentu yakni pada tahun 2014. Lokasi penelitian dilakukan di beberapa kota di Indonesia diantaranya adalah Kabupaten Jember di Provinsi Jawa Timur, Kota Balikpapan di Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Makassar di Provinsi Sulawesi Selatan. Responden yang menjadi peserta BPJS Kesehatan Non PBI sebanyak 15 orang (9,6%). Minimnya peserta BPJS Kesehatan disebabkan berbagai hal diantaranya antara lain prosedur dan tempat pendaftaran, pembayaran premi yang masih menyulitkan, serta anggapan masih ada biaya tambahan pada pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan. Pengetahuan responden terkait prosedur pendaftaran sebesar 47,8%, dan pengetahuan tentang sosialisasi BPJS kesehatan didapatkan dari media televisi sebesar 62,8%. Peningkatan kepesertaan BPJS Kesehatan dapat dilakukan dengan cara sosialisasi BPJS Kesehatan yang lebih sering serta cara pendaftaran dan pembayaran premi yang lebih mudah.Kata kunci: Jaminan Kesehatan Nasional, keanggotaan, non penerima bantuan iuran, sektor informal 
Perilaku Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Tenaga Kerja Indonesia di Kansashi, Zambia: Analisis Kualitatif Hasugian, Armedy Ronny
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v27i2.5805.111-124

Abstract

This research was to gather information about behavior prevention of occupational disease (OD) by Indonesian workers while working in Zambia. This is a qualitative research study with Rapid Assessment Procedure (RAP). The research location is PT EMI, Cikarang, West Java. The selection of PT EMI is based on the information that the company has a job focus in the African continent in this case is in Zambia, Africa. The sample of this study is an informant who have worked at the workplace at least 1 time and work for at least 3 months in Zambia, Africa. Conducted in-depth interviews with informants and validated by key informants and observations at a workshop in Cikarang. Data analysis was performed by assessing Lawrence Green’s behavioral factors after transcripts and the matrix were completed. Based on predisposing factors of informants already have knowledge and attitude of prevention of OD due to routine information submitted. For the enabling factors of OD prevention policies and the  availability of appropriate health facilities are provided. Meanwhile, the support of leader and of health workers has been running. These all shape the OD prevention behavior of informants seen from various OD prevention and handling activities. However, the implementation of OD prevention is not fully run due to negligence, carelessness, lack of consciousness, lack of care, less of intention of the individual, and not to behave healthily. In addition, the policy is also often not updated, there are no sanctions and there is still a perceived lack of corporate support and communication problems with health professionals. Preventive behavior of OD behaviors in Zambia by Indonesian workers has followed the established procedures, but has not gone as expected.AbstrakPenelitian ini untuk menggali informasi perihal perilaku pencegahan penyakit akibat kerja (PAK) yang dilakukan para pekerja Indonesia selama berada di Zambia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian Rapid Assessment Procedure (RAP). Lokasi penelitian adalah PT EMI, Cikarang, Jawa Barat. Pemilihan PT EMI didasarkan adanya informasi bahwa perusahaan tersebut mempunyai fokus pekerjaan di wilayah Afrika dalam hal ini di Zambia. Sampel penelitian studi ini adalah informan yang berasal dari para pekerja yang sudah bekerja di lokasi kerja minimal 1 kali dan bekerja minimal selama 3 bulan di Zambia, Afrika. Dilakukan wawancara mendalam terhadap informan dan divalidasi oleh informan kunci serta observasi di workshop yang ada di Cikarang. Analisis data dilakukan dengan menilai faktor perilaku versi Lawrence Green setelah transkrip dan matriks diselesaikan. Berdasarkan faktor predisposisi para informan sudah mempunyai pengetahuan dan sikap pencegahan PAK karena rutinnya informasi yang disampaikan. Untuk faktor pemungkin kebijakan pencegahan PAK dan ketersediaan fasilitas kesehatan yang layak sudah disediakan. Sementara itu dukungan pimpinan dan petugas kesehatan sudah berjalan. Semuanya ini membentuk perilaku pencegahan PAK informan yang terlihat dari berbagai kegiatan pencegahan dan penanganan PAK. Namun demikian pelaksanaan pencegahan PAK tidak berjalan sepenuhnya karena faktor kelalaian, ceroboh, kurang sadar, kurang peduli, niat yang kurang dari individu, dan tidak berperilaku hidup sehat. Selain itu kebijakan juga sering tidak update, tidak ada sanksi, serta masih dirasakan kurangnya dukungan perusahaan dan masalah komunikasi bahasa dengan petugas kesehatan. Perilaku pencegahan terhadap PAK di Zambia oleh pekerja Indonesia sudah mengikuti prosedur yang ditetapkan, namun belum berjalan sesuai harapan.
Pengaruh Penyalutan Terhadap Karakteristik Fisika Kimia dan Stabilitas Tablet Fraksi Etil Asetat Daun Gambir sebagai Agen Antidislipidemia Yunarto, Nanang; Sulistyowati, Indah; Kurniatri, Arifayu Addiena; Aini, Nurul
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i2.5873.

Abstract

Gambir (Uncaria gambir, Roxb) with the main content of catechin compounds is a major comodity that is efficacious as an antidyslipidemia agent and reduce lesion atheloschlerosis. Catechins are found most often in gambir leaf extract, but are hygroscopic in order to increase the content and its stability is made in the fraction form and formulated in the film-coated tablet preparation. Coatings will protect the gambir from environmental influences. This study aims to find out the best formula of core tablets and film-coated tablets of ethyl acetate fraction of gambir leaf extract. The granulation method used using wet granulation. Optimization of the tablets coating formulation was carried out through three different formulas with the addition of 4, 6, and 8% coatings. The core tablet and the coat were tested for physical characteristics such as weight uniformity, crushed time, hardness, and tablet fragility, chemical characteristics of active substance content and accelerated stability test. The chemical physics evaluation of tablets shows all tablets meeting physical and chemical requirements. Accelerated stability test result obtained catechin content in the core tablets and coat membrane in the absence of loss potency more than 5%. The coated tablet has loss in potency smaller than core tablet. The greater the composition of the coating material used of coating the smaller the loss in potency of catechin content in tablets.AbstrakTanaman gambir (Uncaria gambir, Roxb) dengan kandungan utama senyawa katekin merupakan komoditas unggulan yang berkhasiat sebagai agen antidislipidemia dan mengurangi lesi aterosklerosis. Katekin ditemukan paling banyak pada ekstrak daun gambir, namun bersifat higroskopis sehingga untuk meningkatkan rendemen kandungan dan kestabilannya dibuat dalam bentuk fraksi dan diformulasikan dalam sediaan tablet salut selaput. Penyalut akan melindungi gambir dari pengaruh lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik tablet inti dan tablet salut selaput fraksi etil asetat ekstrak daun gambir. Metode granulasi yang digunakan menggunakan granulasi basah. Optimasi formulasi penyalutan tablet dilakukan melalui tiga formula berbeda dengan penambahan bobot bahan penyalut 4, 6, dan 8%. Tablet inti dan salut dilakukan pengujian karakteristik fisika seperti keseragaman bobot, waktu hancur, kekerasan, kerapuhan tablet, karakteristik kimia berupa kadar zat aktif, dan uji stabilitas dipercepat. Evaluasi fisika kimia tablet menunjukkan semua tablet memenuhi persyaratan fisik dan kimia. Hasil uji stabilitas dipercepat diperoleh kandungan katekin dalam tablet inti maupun salut selaput tidak adanya loss in potency yang lebih dari 5%. Tablet salut memiliki loss in potency lebih kecil daripada tablet inti. Semakin besar komposisi bahan penyalut yang digunakan semakin kecil loss in potency kandungan katekin dalam tablet.
Penggunaan Garam Beriodium Tingkat Rumah Tangga di Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga Chahyanto, Bibi Ahmad; Purba, Dorce Dame; Sasmita, Rita
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i2.5877.125-132

Abstract

The use of iodized salt in the household is highly recommended because of the iodine function that is essensial for the human body. This survey aims to test the iodine content qualitatively and study the use of iodized salt at the household level in North Sibolga sub-district, Sibolga city.The analytical survey with cross sectional design was conducted in 19 integrated service posts (POSYANDU) located in the working area of Pintu Angin Public Health Centre (PUSKESMAS Pintu Angin) in November 2016. The respondents in this survey were representatives of household member who came to POSYANDU and brought the salt commonly consumed by family. A total of 237 respondents were interviewed. Respondents were interviewed using structured questionnaire. Rapid test of iodine content in salt using reagent kit (PT Kimia Farma) was done to test he iodine qualitatively. Survey results show that all of households of respondents use salt in packs that have labeled “iodized salt” or similar statements. However, from iodine rapid test results found 2.5% of households whose iodine content in ithe salt has been lost. The quality of iodine content in salt at the household is significantly influenced only by salt storage (open or closed).AbstrakPenggunaan garam beriodium di rumah tangga sangat dianjurkan karena fungsi iodium yang sangat penting bagi tubuh manusia. Survei ini bertujuan untuk menguji kandungan iodium secara kualitatif serta mempelajari penggunaan garam beriodium di tingkat rumah tangga di Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga. Survei analitik dengan desain cross sectional ini dilakukan di 19 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pintu Angin pada bulan November 2016. Responden dalam survei ini adalah perwakilan anggota keluarga rumah tangga yang datang ke Posyandu serta membawa garam yang biasa dikonsumsi oleh keluarga. Total rumah tangga yang menjadi responden sebanyak 237. Responden diwawancarai menggunakan kuesioner secara terstruktur. Tes cepat kandungan iodium dalam garam menggunakan pereaksi kit (PT. Kimia Farma) dilakukan untuk menguji kandungan iodium secara kualitatif. Hasil survei menunjukkan bahwa seluruh rumah tangga responden menggunakan garam dalam kemasan yang telah mencantumkan label “Garam Beriodium” atau pernyataan sejenisnya. Namun, dari hasil tes cepat iodium ditemukan 2,5% rumah tangga yang kandungan iodium dalam garamnya telah hilang. Kualitas kandungan iodium dalam garam di tingkat rumah tangga secara signifikan hanya dipengaruhi oleh cara penyimpanan garam (terbuka atau tertutup).
Front Matter Jurnal Media Litbangkes Vol. 26 No.3 Edisi September 2016 Litbangkes, Media
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 26, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v26i3.5879.

Abstract

Profil Petani Sayur di Kabupaten Karanganyar Berdasarkan Kadar Kholinesterase dan Fungsi Tiroidnya Purwandari, Rina; Musoddaq, Muhamad Arif; Fuada, Noviati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i4.5945.237-246

Abstract

Iodine is an essential mineral. This mineral is indispensable as thyroid forming substance, which is produced by the thyroid gland. The performance of the thyroid gland could be disrupted by the pesticide, when used excessively. Disorders occur in the process of thyroid hormone synthesis, which is on the receptor TSH (Thyroid Stimulating Hormone) in the thyroid gland. Thyroid hormone synthesis become inhibited because TSH can not enter the thyroid gland. It also inhibits the work of enzymes that act as catalyst for changes in T4 and T3 (active forms of hormones in the body). The presence of pesticides in the body is indicated by levels of cholinesterase in the blood. This study was conducted to know the profile of farmers exposed to pesticides, measure levels of cholinestrase (CHE), TSH levels in the blood of farmers, and analyze the relationship of pesticide residues (blood cholinestrase levels) to thyroid function (TSH level). Subject of research (N) was 109 farmers. Characteristic data were obtained by interview using structured instruments. Levels of TSH and T4 were analyzed by ELISA method. Cholinesterase was measured by spectrophotometry. Test kit was used to test the quality of salt. The results of this study showed 7.3% of farmers have cholinesterase levels below normal limits; 4.6% of farmers have high levels of TSH; and 6.4% of farmers have T4 levels below normal values. It is concluded that farmers with subclinical hypothyroidism and low-levels of poisoning are still found. However, there is no relationship between pesticide residues and thyroid function in farmers.   Abstrak Iodium merupakan mineral esensial. Mineral tersebut sangat diperlukan sebagai zat pembentuk hormon tiroid yang diproduksi oleh kelenjar tiroid. Kinerja kelenjar tiroid dapat terganggu oleh pestisida apabila digunakan secara berlebihan. Gangguan terjadi pada proses sintesis hormon tiroid, yaitu pada reseptor TSH (Thyroid Stimulating Hormone) di kelenjar tiroid. Sintesis hormon tiroid menjadi terhambat karena TSH tidak dapat masuk ke kelenjar tiroid. Menghambat pula kerja enzim yang berfungsi sebagai katalis perubahan T4 dan T3 (bentuk aktif hormon dalam tubuh). Keberadaan pestisida dalam tubuh diindikasikan dengan kadar kholinesterase dalam darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui profil petani yang terpapar pestisida, mengukur kadar kholinestrase (CHE), kadar TSH dalam darah petani, dan menganalisis hubungan residu pestisida (kadar kholinestrase darah) terhadap fungsi tiroid (kadar TSH). Subyek penelitian (N) sebesar 109 petani. Data karakteristik diperoleh dengan wawancara menggunakan instrumen terstruktur. Kadar TSH dan T4 dianalisis dengan metode ELISA. Kholinesterase diukur dengan spektrofotometri. Tes kit untuk menguji kualitas garam. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 7,3% petani memiliki kadar kholinesterase di bawah batas normal; 4,6% petani memiliki kadar TSH tinggi; dan 6,4% petani memiliki kadar T4 di bawah nilai normal. Tidak terdapat hubungan antara residu pestisida dengan fungsi tiroid pada petani. Kesimpulan penelitian adalah petani yang mengalami hipotiroid subklinis dan keracunan tingkat rendah masih ditemukan. Namun demikian tidak terdapat hubungan antara residu pestisida dengan fungsi tiroid pada petani.
Kinerja Kader Kesehatan dalam Pengobatan Massal Filariasis di Kecamatan Cibeureum dan Cibingbin, Kabupaten Kuningan Ipa, Mara; Astuti, Endang Puji; Yuliasih, Yuneu; Hendri, Joni; Ginanjar, Aryo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i1.5954.1-8

Abstract

There was 50% sub-district in the first round of mass drug administration (MDA) filariasis in Kuningan District that had not reached the target of coverage. Health cadres as health employee’s extension in the community is one of leverage factor to sum up target coverage.This study aimed to explore health cadres’ performance related to MDA coverage in Kuningan District. Research sites were in Cibeureum and Cibingbin Subdistrict, conducted for 6 months in 2016 used qualitative approach. Primary data was obtained through in-depth interviews on the filariasis program holders at the community health center level, fellow cadres and village apparatus or community leader or religious leaders and the community itself where cadres served in selected villages. Health cadres’ performance was measured based on thematic analysis from the phenomenon exist. Results showed that health cadres’ initiative performance had not yet appeared in both subdistrict of Cibeureum and Cibingbin, while the dominant thematic was their work passion in Cibeureum, meanwhile the completion of the task was well showed in Cibingbin.The measurement of cadres’ performance according to four thematics provided by the community, showed that MDA’s post monitoring both in Cibeureum and Cibingbin had not been emerged yet. In the meantime, the dominant thematic in Cibeureum was finding cases, while in Cibingbin was the behavior of health cadres to participate in the program filariasis. Filariasis mass treatment coverage in Cibeureum showed an increase from 64.49% to 90.62% based on the MDA target, while the coverage mass treatment in Cibingbin was from 80.08% to 89.77%. To maintain and increase the target of MDA filariasis in Kuningan District, training for health cadres by using audio visual media and adequate substance about MDA filariasis is needed to be done regulary. Abstrak Putaran pertama pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis di Kabupaten Kuningan sebanyak 50% kecamatan belum mencapai target. Kader sebagai perpanjangan tangan petugas kesehatan di masyarakat merupakan salah satu faktor daya ungkit pencapaian target cakupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran kinerja kader terhadap cakupan pengobatan massal di Kabupaten Kuningan. Lokasi penelitian di Kecamatan Cibeureum dan Cibingbin selama 6 bulan pada tahun 2016 menggunakan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam pada pemegang program filaria di tingkat puskesmas, rekan kerja sesama kader, dan perangkat desa atau tokoh masyarakat atau tokoh agama dan masyarakat itu sendiri dimana kader bertugas di desa terpilih. Gambaran kinerja kader diperoleh berdasarkan analisis tematik dari fenomena yang muncul. Kinerja kader diukur menurut penanggung jawab kader (lima tematik) dan menurut rekan kerja kader juga masyarakat (empat tematik). Kinerja kader menurut penanggung jawab kader bahwa tematik inisiatif belum muncul untuk wilayah Kecamatan Cibeureum dan Cibingbin, sedangkan tematik dengan kecenderungan menonjol adalah semangat kerja pada kader di Kecamatan Cibeureum, sedangkan penyelesaian tugas yang baik pada kader di Kecamatan Cibingbin. Pengukuran kinerja kader menurut masyarakat yang masih belum muncul adalah pengawasan paska pengobatan baik di dua lokasi Cibereum dan Cibingbin. Berbeda untuk tematik yang kecenderungannya menonjol adalah penemuan kasus di Cibeureum sedangkan di Cibingbin adalah kinerja kader dalam berpartisipasi di program filariasis. Cakupan pengobatan massal filariasis Kecamatan Cibeureum menunjukkan peningkatan dari 64,49% menjadi 90,62% berdasarkan sasaran pengobatan. Sedangkan cakupan pengobatan massal di Kecamatan Cibingbin 80,08% menjadi 89,77%. Untuk mempertahankan dan meningkatkan target sasaran di Kabupaten Kuningan perlu dilakukan pelatihan kader secara kontinu dengan menggunakan media audio visual dan materi untuk meningkatkan pengetahuan kader terkait POPM. 
Analisis Pola Layanan Kesehatan Rawat Jalan pada Tahun Pertama Implementasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Nugraheni, Wahyu Pudji; Hartono, Risky Kusuma
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v27i1.6000.9-16

Abstract

Outpatient treatment is one of the benefits guaranteed by the National Health Insurance (JKN) program. The main objective of JKN program is to increase public accessibility to health services that suits their needs. Utilization of outpatient services are getting better by all levels of society is an indicator to the ideal image of the JKN program. The purpose of this study was to determine the pattern of outpatient health care at health facilities (physician practices/clinics, public health center, public and private hospitals) in the first year implementation of JKN program. This study used secondary data to analyze the data of Indonesia Family Life Survey (IFLS) in 2014 as the first year of implementation JKN program. The data in this study using a descriptive analysis which was deeply reviewed.The results showed that in the span of one year of JKN program implementation, the age population who get access to outpatient health care at the most in the range 0-18 years, the people of the urban areas more access outpatient health services compared to rural residences, and the population in the range of quintile (rich economic status) as much as 26.73%. Health facilities are the most widely used for outpatient services is physician practice or clinic amounted to 4.55%. The results of this study can be used as an evidence-based evaluation of the improvement of health care access for the public to pay more attention to the economic status of poor and be a proactive improvement of access to health services for people in rural areas.   Abstrak Pelayanan rawat jalan merupakan salah satu manfaat yang dijamin oleh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan utama program JKN adalah meningkatkan aksesibiltas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. Pemanfaatan layanan rawat jalan yang semakin baik oleh semua lapisan masyarakat merupakan gambaran ideal dan indikator tercapainya program JKN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pelayanan kesehatan rawat jalan pada fasilitas kesehatan (dokter praktik/klinik, puskesmas, RS pemerintah, dan swasta) di tahun pertama implementasi program JKN. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan menganalisis data Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2014 sebagai tahun pertama implementasi program JKN. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang diulas secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada rentang satu tahun implementasi program JKN, usia penduduk yang melakukan akses ke pelayanan kesehatan rawat jalan paling banyak pada rentang usia 0–18 tahun,masyarakat daerah perkotaan lebih banyak mengakses pelayanan kesehatan rawat jalan dibandingkan dengan penduduk pedesaan, dan penduduk pada kisaran kuintil 5 (status ekonomi kaya) sebanyak 26,73%. Fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan untuk layanan rawat jalan adalah dokter praktik/klinik sebesar 4,55%. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai evidence based evaluasi perbaikan akses pelayanan kesehatan untuk lebih memperhatikan masyarakat berstatus ekonomi miskin dan jemput bola peningkatan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerah pedesaan.