cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Gambaran Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Tradisional Ramuan Menggunakan Jamu Tersaintifikasi (Studi Kasus di BKTM Makassar dan Puskesmas A Karanganyar) Kristiana, Lusi; Maryani, Herti; Lestari, Weny
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i3.6233.185-196

Abstract

Health Services using jamu as the results of Saintifikasi Jamu (SJ) program is new. B2P2TOOT is the organizer of SJ training. The last Decree of National Commission for Saintifikasi Jamu (Komnas SJ) was signed in 2013 and valid for 1 year. Until now there is still no new formation of Komnas SJ. The implementation of jamu as result SJ program in health service facility is rare. Therefore description of the implementation of health services use jamu become important to be examined. This was a qualitative study using case study design. Study was conducted in the Puskesmas A Karanganyar, BKTM Makassar, and B2P2TOOT as the organizer of the SJ training. The location was selected purposively. The study was done in 2015. The factors that were examined in the form of human resources, budget, availability of herbs, and support regulations in the implementation of services. The primary data was taken by in-depth interviews. Secondary data were annual reports, decree and regulations. The respondents were all officers involved in the SJ services such as doctor, pharmacy, nurses and the management. The data had been analyzed with content analysis techniques. The main problem of implementation SJ was the need for a penal provision. Monitoring and evaluation of the program SJ had not been done intensively. SJ training was useful in the conduct of the health services using jamu, but hindered by the limited number of trained personnel, availability of budget, which ultimately affected the availability of herbs. The regulation which protects the commissioning services is urged. The regulation about Komnas SJ is also needed, therefore, the implementation of SJ program can be conducted well. Moreover, monitoring and evaluation of services using jamu program SJ and follow up is required. Research results from SJ program need to be published in order to be applied by the SJ network. Some regulations that protect SJ network is important as well so that they can do services by research based optimally.AbstrakPelayanan kesehatan jamu menggunakan hasil program Saintifikasi Jamu (SJ) merupakan hal yang masih baru. Saat ini penyelenggara pelatihan SJ adalah Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT). SK Komisi Nasional Saintifikasi Jamu (Komnas SJ) terakhir adalah tahun tahun 2013 dan berlaku selama satu tahun. Hingga kini belum ada lagi pembentukan Komnas SJ, sehingga program ini terkesan jalan di tempat. Penelitian pelaksanaan pelayanan jamu hasil program SJ di fasilitas pelayanan kesehatan masih belum banyak dilakukan, bahkan data mengenai fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan jamu pun belum tercatat dengan baik. Oleh sebab itu perlu dikaji gambaran pelaksanaan pelayanan kesehatan menggunakan jamu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilakukan di Puskesmas A Karanganyar dan BKTM Makassar, serta B2P2TOOT sebagai penyelenggara pelatihan program SJ. Lokasi dipilih secara purposive, yaitu penunjukan puskesmas oleh Dinkes Karanganyar, sedang BKTM karena merupakan institusi milik Kemenkes. Penelitian dilakukan pada tahun 2015. Faktor yang diteliti berupa sumber daya manusia, anggaran, ketersediaan bahan jamu, serta dukungan regulasi yang mengatur pelaksanaan pelayanan. Data diambil dengan cara wawancara mendalam kepada responden, dan data sekunder berupa laporan tahunan, SK dan peraturan yang berlaku. Responden adalah semua petugas yang terlibat dalam pelaksanaan pelayanan SJ meliputi dokter, apoteker, perawat dan bagian manajemen. Data dianalisa dengan teknik analisa konten. Masalah utama pelaksanaan program SJ adalah perlunya payung hukum penyelenggaraan program. Monitoring dan evaluasi program SJ belum intensif. Pelatihan SJ bermanfaat dalam melaksanakan pelayanan kesehatan jamu, namun terkendala dengan terbatasnya SDM yang terlatih, tidak tersedia anggaran rutin, yang akhirnya mempengaruhi ketersediaan jamu. Regulasi yang melindungi pelaksana pelayanan juga belum ada. Perlu dipikirkan aturan tentang Komnas SJ agar pelaksanaan program SJ bisa dijalankan dengan baik. Perlu ada pembinaan dan monitoring pelaksanaan pelayanan program SJ serta tindak lanjut yang diperlukan. Hasil penelitian jamu perlu disebarluaskan sehingga dapat diaplikasikan oleh jejaring SJ. Regulasi yang diperlukan sebagai payung hukum agar jejaring SJ dapat melakukan penelitian berbasis pelayanan dengan optimal.
Seroprevalensi Hepatitis C pada Populasi Perkotaan dan Perdesaan di Indonesia Tahun 2013: Kajian Determinan Sosiodemografi, Lingkungan, Pejamu, dan Komorbiditas (Analisis Lanjut Riskesdas 2013) Dany, Frans; Handayani, Sarwo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v27i4.6267.197-208

Abstract

Hepatitis C is an infectious disease caused by RNA virus that is often asymptomatic and can lead into serious complications such as liver cancer. It remains one of major public health issues in several developing countries. Urban and rural areas have different sociodemographic characteristics but seroprevalence of hepatitis C based on antibody against hepatitis C virus (HCV) shows the same proportion of 1.0% in both areas, suggesting that there is discrepancy of risk factors for HCV infection between the two. This analysis aims to identify such determinants that include sociodemographic factors, neighbourhood, environmental conditions including hygienic behaviour and access to healthcare facilities, host conditions and comorbidities outside major risk factors. The analysis used secondary data of Riskesdas 2013 through complex logistic regression technique and alternative tests. The results showed that the determinants of HCV seroprevalence in urban and rural respondents were: gender, unemployment status, prediabetes, abnormalities of HDL and triglyceride levels, renal impairment and malaria. Hence, hepatitis C management strategies in Indonesia may require different approach to urban populations compared to rural areas. Abstrak Hepatitis C merupakan penyakit infeksius akibat virus RNA yang sering tidak bergejala dan dapat menimbulkan komplikasi serius seperti kanker hati. Hal tersebut masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di sejumlah negara berkembang. Area urban dan rural memiliki perbedaan karakteristik sosiodemografi, tetapi seroprevalensi hepatitis C berdasarkan antibodi terhadap virus hepatitis C (hepatitis C virus, HCV) di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan proporsi yang sama, yaitu 1,0% sehingga memunculkan dugaan adanya perbedaan faktor risiko infeksi HCV antara kedua kategori tempat tinggal. Analisis ini bertujuan mengidentifikasi determinan tersebut yang meliputi faktor sosiodemografi, kondisi lingkungan sekitar berikut perilaku higienis dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, kondisi pejamu, serta komorbiditas di luar faktor risiko utama. Analisis menggunakan data sekunder Riskesdas 2013 melalui teknik complex samples regresi logistik dan uji alternatif. Hasil analisis menunjukkan perbedaan determinan seroprevalensi HCV pada responden perkotaan dan perdesaan, antara lain: jenis kelamin, status pengangguran kepala keluarga, prediabetes, abnormalitas kadar HDL dan trigliserida, gangguan ginjal, dan malaria. Karena itu, strategi penatalaksanaan hepatitis C di Indonesia memerlukan pendekatan yang berbeda untuk populasi perkotaan dibandingkan dengan perdesaan.
Toksisitas dan Aktivitas Antimalaria Melalui Penghambatan Polimerisasi Hem Secara In Vitro Ekstrak Daun Sambiloto (Andrographis paniculata) Septiana, Eris; Gianny, Demitra; Simanjuntak, Partomuan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i4.6499.255-262

Abstract

Sambiloto (Andrographis paniculata) has been used to treat malaria. In vitro research using parasite or through heme polymerization inhibition using andrografolide and in vivo using infected animal test have been done widely, however, heme polymerization inhibition from extracts with different polarity levels has not been studied yet. The aims of this study were to investigate the heme polymerization inhibition activity and toxicity of sambiloto leaf extracts. Sambiloto leaf extracted with gradually maceration using n-hexane, ethyl acetate, and 70% ethanol respectively. Heme polymerization inhibition activity was used as in vitro antimalarial test. Brine shrimp lethality test (BSLT) was used to determine toxicity of the extracts. Phytochemically screening was done for all extracts qualitatively. The results of this study were n-hexane, ethyl acetate, and 70% ethanol extracts had heme polymerization inhibition activities with IC50 values at 2,196.57; 1,235.54; and 1,157.24 μg/mL respectively. N-hexane, ethyl acetate, and 70% ethanol have LC50 values at 1,155.79; 1,133.89; and 5,229.15 μg/mL respectively. 70% ethanol extract contains alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, saponin, and tannin. N-hexane and ethyl acetate extracts has only contains alkaloid and flavonoid. 70% ethanol, ethyl acetate, and n-hexane extracts of sambiloto leaf have ability to inhibit heme polymerization and also non toxic to Artemia salina larvae.   Abstrak Sambiloto (Andrographis paniculata) telah lama digunakan untuk mengobati malaria. Penelitian in vitro dengan parasit maupun melalui penghambatan polimerisasi hem dengan senyawa andrografolida dan in vivo dengan hewan uji terinfeksi telah dilakukan, namun demikian belum ada penelitian tentang penghambatan polimerisasi hem ekstrak dengan tingkat kepolaran yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penghambatan polimerisasi hem dan toksisitas ekstrak daun sambiloto. Daun sambiloto diekstraksi secara maserasi bertingkat berturut-turut menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan etanol 70%. Uji antimalaria secara in vitro menggunakan metode penghambatan polimerisasi hem. Uji toksisitas menggunakan metode uji kematian larva Artemia salina (BSLT). Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif untuk seluruh ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol 70% memiliki aktivitas penghambatan polimerisasi hem dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 2.196,57; 1.235,54; dan 1.157,24 μg/mL. Ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol 70% masing-masing memiliki nilai LC50 sebesar 1.155,79; 1.133,89; dan 5.229,15 μg/mL. Ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, saponin, dan tannin. Ekstrak n-heksan dan etil asetat hanya mengandung alkaloid dan steroid/triterpenoid. Ekstrak etanol 70%, etil asetat, dan n-heksan daun sambiloto memiliki kemampuan dalam menghambat polimerisasi hem dan tidak toksik terhadap larva Artemia salina.
Efektivitas Leaflet dan Konseling terhadap Kepatuhan Minum Tablet Besi dan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil dengan Anemia di Puskesmas di Kabupaten Bogor Vernissa, Venni; Andrajati, Retnosari; Supardi, Sudibyo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i4.6628.229-236

Abstract

According to National Basic Health Research (Riskesdas) 2013, the prevalence of anemia in pregnant women in urban area is 36.4%. The treatment of anemia in pregnant women is conducted by administering 90 iron tablets during pregnancy. The majority of anemia in pregnant women is mostly caused by lacking of iron (Fe) due to lack of adherence in taking iron tablets. The objective of this research was to assess the effectiveness of leaflet compared to counseling to improve adherence and increasing hemoglobin status of pregnant women with anemia in primary health care in Bogor District. The research design was quasi-experimental by giving counseling as an intervention conducted by pharmacists to 79 pregnant women with anemia in Cibungbulan primary health care and delivering leaflet to 79 pregnant women with anemia in Ciluengsi primary health care Bogor District in 2013. The evaluation was conducted by using MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) questionnaires and Hb rate with STAT-Site MHgb equipment a month after the intervention. Data analysis was carried out with Chi-Square test, Wilcoxon test, Mann-Whitney test and multivariate logistic regression analysis. This research suggests that either counseling by pharmacist or leaflet increases adherence to take iron tablets (P < 0.05). The effectiveness of leaflets and counseling to increase adherence to pregnant women with anemia were not statistically different. Pregnant women with anemia who adhere to take iron tablet have their Hb rate improved 3.24 times compared to those who do not adhere to take iron tablet. Pregnant women with anemia who eat food source of heme every day have their Hb rate improved 2.31 times compared to those who do not eat food source of heme every day.   Abstrak Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi anemia pada ibu hamil di perkotaan sebesar 36,4%. Penanggulangan anemia pada ibu hamil dilakukan dengan pemberian minimal 90 tablet besi selama kehamilannya. Sebagian besar anemia pada ibu hamil di Indonesia disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) akibat ketidakpatuhannya meminum tablet besi. Tujuan penelitian ini adalah menilai efektivitas leaflet dibandingkan konseling terhadap peningkatan kepatuhan minum tablet besi dan kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil dengan anemia di dua puskesmas di Kabupaten Bogor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen, dengan intervensi berupa konseling oleh apoteker pada 79 ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Cibungbulan dan pemberian leaflet pada 79 ibu hamil dengan anemia di Puskesmas Cileungsi Kabupaten Bogor pada tahun 2013. Sebulan setelah intervensi, dilakukan evaluasi untuk menilai peningkatan kepatuhan minum tablet besi dan kadar Hb menggunakan kuesioner MMAS-8 dan pengukuran kadar Hb. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square, uji Wilcoxon, uji Mann Whitney dan uji regresi logistik multivariat. Kesimpulan bahwa konseling oleh apoteker atau pemberian leaflet pada ibu hamil dengan anemia meningkatkan kepatuhan minum tablet besi (P < 0,05) secara bermakna. Efektivitas leaflet dan konseling terhadap peningkatan kepatuhan minum tablet besi pada ibu hamil dengan anemia secara statistik tidak berbeda. Peningkatan kepatuhan minum obat dan makan makanan yang mengandung protein setiap hari dapat meningkatkan kadar Hb secara bermakna (P < 0,05). Ibu hamil dengan anemia yang patuh minum tablet besi, kadar Hb-nya meningkat 3,24 kali dibandingkan yang tidak. Ibu hamil dengan anemia yang makan makanan yang mengandung protein setiap hari, kadar Hb-nya meningkat 2,31 kali dibandingkan ibu yang tidak makan makanan yang mengandung protein.
The Relationship between Respiratory Infections and Healthy Homes in Children Under Five, Indonesia 2013 Hidayangsih, Puti Sari; Tjandrarini, Dwi Hapsari; Nainggolan, Olwin; Sukoco, Noor Edi Widya
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v27i3.6663.153-160

Abstract

 Environment plays a very important role in the spread of disease, especially in children under five. Healthy homes are believed to help reduce the prevalence of disease, especially acute respiratory infections (ARI) in infants. This article describes the relationship between healthy home and ARI in children under five. The analysis used the data of Basic Health Research (Riskesdas) 2013 and Potential Villages (PODES) 2014, in 33 provinces of Indonesia. The sample is 59,175 children under five, distinguished to have been diagnosed with or without ARI and with or without staying at healthy home. Healthy home indicators are prepared in accordance with the Healthy Home Technical Guidelines published by the Ministry of Health. There are 15 variables that make up 3 groups of components of healthy homes. The criteria assessment uses value and weight according to the guidelines. There are 2 component variables that could not be included in the composite healthy home due to data limitations, which are the behaviour of cleaning houses and toileting children. Data analysis using logistic regression. The proportion of healthy homes in Indonesia is still low. A total of 23.2% (n = 13,744) of households with under-fives children were declared as healthy homes, and 26% (n = 15,364) infants were diagnosed with ARI. Based on geographical location, Sumatera is the highest percentage of households with children under five who meet the criteria of healthy homes. A risk difference was found to be 1.13 times greater for children under five with ARI in households exposed to indoor air pollution in both healthy and nonhealthy homes. Air pollution in the home affects the incidence of ARI in infants. Regulation of the use of cooking fuel and friendly home lighting source is necessary.AbstrakLingkungan berperan sangat penting dalam penyebaran penyakit, terutama pada balita. Rumah sehat diyakini dapat membantu menurunkan prevalensi penyakit, terutama infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada balita. Artikel ini memaparkan hubungan antara rumah sehat dan ISPA pada balita. Analisis menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan Potensi Desa (PODES) 2014, di 33 provinsi di Indonesia. Sampel adalah balita dengan jumlah 59.175 orang, dibedakan menjadi pernah didiagnosis ISPA atau tidak dan tinggal di rumah yang dikategorikan sehat atau tidak. Indikator rumah sehat disusun sesuai dengan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Dirjen P2M & PL dan Kepmenkes No. 829. Terdapat 15 variabel yang membentuk 3 kelompok komponen penyusun rumah sehat. Penilaian kriteria rumah sehat menggunakan nilai dan bobot sesuai pedoman. Terdapat 2 variabel komponen yang tidak dapat dimasukkan dalam komposit rumah sehat yaitu perilaku membersihkan lantai dan membuang kotoran anak ke toilet akibat keterbatasan data. Analisis data menggunakan regresi logistik. Proporsi rumah sehat di Indonesia masih rendah. Sebanyak 23,2% (n = 13.744) rumah tangga dengan balita dinyatakan sebagai rumah sehat, dan 26% (n = 15.364) balita didiagnosis ISPA. Ditinjau dari letak geografis, kawasan di pulau Sumatera merupakan yang tertinggi untuk persentase rumah tangga dengan balita yang memenuhi kriteria rumah sehat. Ditemukan perbedaan risiko sebesar 1,13 kali lebih besar balita menderita ISPA pada rumah tangga yang terpapar pencemaran udara dalam rumah baik pada rumah sehat maupun bukan rumah sehat. Pencemaran udara dalam rumah mempengaruhi kejadian ISPA pada balita. Diperlukan pengaturan penggunaan bahan bakar memasak dan sumber penerangan dalam rumah yang ramah lingkungan.
Kratom (Mitragyna speciosa Korth): Manfaat, Efek Samping dan Legalitas Raini, Mariana
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 27, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v27i3.6806.175-184

Abstract

Kratom or Mitragyna speciosa Korth (Rubiaceae) is tree that is commonly found in Southeast Asia. It has been considered useful as a herbal medication to treat a number of problems such as diarrhea, in the alleviation of pain, coughs, hypertension, and to improve sexual performance. The ingestion of kratom produces a stimulant effect at low dosages and an opioid-like effect at medium to high dosages. Kratom is often misused and easily purchased from the internet. The aim of this study is to review kratom from national and international journal, therefore, it can give the information for people and relevant institution related to the use, side effects and legality of kratom. the result of this study showed that the use of kratom regularly or over a period of time could lead to dependence and addiction. The users had tried to stop using kratom as they developed withdrawal symptoms.The symptoms of withdrawal included anorexia, weight lost, decreased sexual drive, insomnia, muscle spasms and pain, aching in the muscles and bones, watery eyes/nose, hot flushes, fever, decreased appetite, diarrhea, hallucination, delusion, mental confusion, emotional disturbance, insomnia. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) has classified kratom as a New Psychoactive Substances (NPS). Indonesia allows the consumption, plant and trade of kratom. it can be concluded that ratom has a narcotic-like effect and it can cause dependence and addiction. The government should ban the use, planting and distribution of kratom.AbstrakKratom atau Mitragyna speciosa Korth (Rubiaceae) merupakan tanaman yang sering dijumpai di Asia Tenggara. Tanaman ini dimanfaatkan dalam pengobatan herbal untuk mengobati beberapa penyakit seperti diare, pereda nyeri, batuk, hipertensi, dan lemah syahwat. Mengonsumsi kratom dapat memberikan efek stimulan pada dosis rendah dan efek seperti opiat pada dosis menengah hingga tinggi. Kratom sering disalahgunakan dan mudah diperoleh melalui internet. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tanaman kratom sehingga dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan instansi terkait tentang manfaat, efek samping, dan legalitas penggunaan kratom. Metode yang digunakan adalah dengan mengkaji dan menganalisis artikel kratom dari jurnal nasional dan internasional. Hasil kajian menunjukkan penggunaan kratom secara rutin atau dalam suatu periode dapat menimbulkan adiksi dan ketergantungan. Pengguna yang mencoba menghentikan penggunaan kratom dapat menyebabkan gejala putus obat. Gejala putus obat diantaranya anoreksia, nyeri dan kejang otot, nyeri pada tulang dan sendi, mata/hidung berair, rasa panas, demam, nafsu makan turun, diare, halusinasi, delusion, mental confusion, gangguan emosional, dan insomnia. United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) telah memasukkan kratom ke dalam New Psychoactive Products (NPS). Indonesia mengizinkan mengonsumsi, menumbuhkan, dan memperdagangkan kratom. Kesimpulannya adalah kratom mempunyai efek seperti narkotika dan dapat menimbulkan adiksi. Pemerintah sudah selayaknya melarang penggunaan, penanaman, dan peredaran kratom.
Aspek Sosio Demografi dan Kondisi Lingkungan Kaitannya dengan Kejadian Leptospirosis di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016 Widjajanti, Wening; Pujiyanti, Aryani; Mulyono, Arief
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v28i1.7373.25-32

Abstract

Leptospirosis is a zoonotic disease transmitted by Leptospira bacteria which can be prevented if peoplehave knowledge and clean and healthy life behavior. Klaten District is one of the districts in CentralJava Province that reported 39 cases and five leptospirosis deaths during 2016. This study aimed toidentify the socio-demographic aspects and environmental conditions associated with the incidenceof leptospirosis in Klaten district, Central Java Province. This research was a descriptively analyzedsurvey. The respondents of this study were people living around leptospirosis patients. The samples inthis study were all residents living in the vicinity of leptospirosis patients and their homes became thelocation of the installation of 38 traps of mice.The results showed that the respondents’ knowledge ofleptospirosis were still low, that they had never heard of leptospirosis, did not know if leptospirosis wasdangerous, did not know the cause and the symptoms of leptospirosis, that leptospirosis could be cured,how the transmission and prevention of leptospirosis. Likewise, the behavior of leptospirosis preventionby respondents was also still low, because there were still respondents who did activities in the river,did not use personal protective equipment, disposed dead rats in vain, had no waste water disposal and did not have a covered trash can. The recommendations of this research are the needs to increaseknowledge for the whole community related to leptospirosis through visual, audio and audiovisual mediaby mobilizing and involving the health cadres in the local area and cross-sectoral to cooperate on aregular and continuous basis. AbstrakLeptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh bakteri Leptospira, dapat dicegah jikamasyarakat memiliki pengetahuan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Kabupaten Klaten merupakansalah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang melaporkan adanya 39 kasus dan lima kematianakibat leptospirosis selama tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek sosiodemografi dan kondisi lingkungan yang berkaitan dengan kejadian leptospirosis di Kabupaten KlatenProvinsi Jawa Tengah. Penelitian ini merupakan survei yang dianalisis secara deskriptif. Respondenpenelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di sekitar penderita leptospirosis. Sampel dalampenelitian ini adalah seluruh warga yang tinggal di sekitar penderita leptospirosis dan rumah merekamenjadi lokasi pemasangan perangkap tikus sebanyak 38 orang. Hasil penelitian adalah pengetahuanresponden tentang leptospirosis masih rendah, yaitu: ada yang tidak tahu mengenai leptospirosis, tidaktahu bahaya leptospirosis, tidak tahu penyebab leptospirosis, tidak tahu gejala leptospirosis, tidak tahubahwa leptospirosis dapat disembuhkan, tidak tahu cara penularan dan pencegahan leptospirosis.Demikian juga dengan perilaku pencegahan leptospirosis oleh responden juga masih rendah, karenamasih ada responden yang melakukan aktivitas di sungai, tidak menggunakan alat pelindung diri,membuang bangkai tikus sembarangan, tidak memiliki tempat pembuangan air limbah dan tidakmemiliki tempat sampah tertutup. Rekomendasi penelitian ini adalah perlu peningkatan pengetahuanuntuk seluruh masyarakat terkait dengan leptospirosis melalui media visual, audio maupun audiovisual,dengan menggerakkan dan melibatkan kader kesehatan di wilayah setempat dan kerja sama lintassektor secara rutin dan berkesinambungan.
Analisis Implementasi Kebijakan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Puskesmas Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) Putro, Gurendro; Barida, Iram
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v28i1.7357.15-24

Abstract

The availability of health workers in the public health center (puskesmas) in underdeveloped,borders, and islands region (DTPK) areas is very diverse both in number and type. This studyaimed to analyze implementation of government policy towards the utilization of health humanresources based on competence and incentive in DTPK area. This research was cross sectionalstudy, the primary data was collected by interview to respondents and the secondary data was frompuskesmas reports and district health profiles. Research was conducted for 10 months startingfrom January to October 2011. This research was performed in 4 districts, which were Natuna,Nunukan, Sangihe Island, and Belu. The availability of the number and types of health personnelat DTPK health center were currently not in accordance to the ideal requirements of the Ministry ofHealth policy on the placement of health human resources at the DTPK health center. Competenceof health personnel at DTPK health center was still the basic competence of science accordingto the type of education. The placement of health personnel needs to obtain additional specialcompetencies tailored to the characteristics of the DTPK Puskesmas. The incentives of PTT healthworkers and special assigment is higher compare to the civil servant at DTPK area.AbstrakKetersediaan tenaga kesehatan di puskesmas Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan(DTPK) sangat beragam baik jumlah dan jenisnya. Tujuan penelitian adalah menganalisisimplementasi kebijakan pemerintah berkaitan dengan penentuan standar sumber daya manusia(SDM) kesehatan berbasis kompetensi dan pemberian insentif tenaga kesehatan di puskesmasDTPK. Jenis penelitian cross sectional, pengumpulan data primer dengan wawancara kepadaresponden dan data sekunder dari laporan puskesmas dan profil kesehatan kabupaten. Waktupenelitian selama bulan Januari-Oktober 2011. Lokasi penelitian di Kabupaten Natuna, KabupatenNunukan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Belu. Ketersediaan jumlah dan jenistenaga kesehatan di puskesmas DTPK saat ini belum sesuai dengan syarat ideal kebijakanKementerian Kesehatan RI tentang penempatan SDM kesehatan di puskesmas DTPK. Kompetensitenaga kesehatan di puskesmas DTPK masih bersifat kompetensi dasar keilmuan sesuai jenispendidikan. Penempatan tenaga kesehatan perlu mendapatkan tambahan kompetensi khususyang disesuaikan dengan karakteristik di puskesmas DTPK. Insentif yang diterima petugaskesehatan PTT lebih tinggi dibandingkan dengan gaji yang diterima oleh petugas PNS Puskesmas.
Indeks Glikemik Penganan Khas Aceh (Dodoi, Meuseukat, dan Asoe Kaya) Nur, Abidah; Marissa, Nelly; Wilya, Veny
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i1.7596.39-44

Abstract

Sugar is a carbohydrate disaccharide type of sucrose that is hydrolyzed into fructose and glucose.The intake of glucose from food is directly proportional to the increase in glucose in the blood. Dodoi,meuseukat, and asoe kaya are typical Aceh snacks containing high sugar. This study aimed to assess the glycemic index of typical Aceh foods (dodoi, meuseukat, and asoe kaya). The research was conductedin May-June 2014 at Puskesmas Kopelma Darussalam. Respondents consisted of 4 healthy men and 4 women aged 17-20 years who were not sick (diabetes mellitus and hypertension). Each respondent was given 50 grams of dodoi, meuseukat, and asoe kaya, then checked blood glucose levels at 0, 15, 30,45, 60, 90, and 120 minutes after food consumption. The value of food glycemic index was calculatedby the ratio of food curve to the standard curve area. The results showed that the highest increase in blood glucose levels at 30 minutes for all food tested. Meuseukat has the highest elevated blood glucose (108.42 mg / dl). The glycemic index values of dodoi meuseukat, and asoe kaya were 40.67,77.74, and 30.60, respectively. Dodoi and asoe kaya have low glycemic index and the meuseukat has high glycemic index. The labeling of glycemic index values on food packaging is very beneficial for the community, especially prediabetes and diabetics. AbstrakGula merupakan karbohidrat disakarida jenis sukrosa yang dihidrolisis menjadi fruktosa dan glukosa. Asupan glukosa dari makanan berbanding lurus dengan peningkatan glukosa dalam darah. Dodoi,meuseukat, dan asoe kaya merupakan penganan khas Aceh yang mengandung gula tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai indeks glikemik makanan khas Aceh (dodoi, meuseukat, dan asoe kaya). Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni tahun 2014 di Puskesmas Kopelma Darussalam. Responden terdiri dari 4 orang laki-laki dan 4 orang perempuan umur 17-20 tahun berbadan sehat dan tidak dalam keadaan sakit (diabetes melitus dan hipertensi). Setiap responden diberikan 50 gram dodoi, meuseukat,dan asoe kaya, kemudian diperiksa kadar glukosa darah pada 0, 15, 30, 45, 60, 90, dan 120 menit setelah konsumsi makanan. Nilai indeks glikemik makanan dihitung dengan perbandingan luas kurva makanan terhadap luas kurva standar. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kadar glukosa darah tertinggi pada menit ke-30 untuk semua makanan yang di uji. Meuseukat memiliki peningkatan kadar glukosa darah tertinggi (108,42 mg/dl). Nilai indeks glikemik dodoi, meuseukat, dan asoe kaya masing-masing 40,67, 77,74, dan 30,60. Dodoi dan asoe kaya memiliki indeks glikemik rendah dan meuseukat memiliki indeks glikemik tinggi. Pelabelan nilai indeks glikemik pada kemasan makanan sangat bermanfaat bagi masyakarat, terutama prediabetes dan penderita diabetes.
Pemilihan Metode Sosialisasi sebagai Upaya Peningkatan Kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Mandiri Agustina, Zulfa Auliyati; Laksmiarti, Turniani; Effendi, Diyan Ermawan
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.001 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v28i1.7638.33-38

Abstract

Universal Health Coverage (UHC) is targeted to achieved in 2019. However, until March 2016 thenumber of participants was 163,327,183, or 63% from total population of Indonesia. The low participation because of the uneven distribution of information received by the community especially the potential participants of individual BPJS. The main problem faced by the potential BPJS participants is the lack of information in respect of the registration procedure, payment of contributions and utilization of servicesin health facilities. This research was aimed at analyzing the information sources accessed by the potential BPJS participants and information channel utilized by BPJS provider. This research used aqualitative descriptive approach by analyzing facebook and twitter member discussion in October 2016.The results indicated that most of the community member has not received comprehensive information about BPJS Kesehatan. This phenomenon was identified from the presence of difficulties in obtaining membership card (34.1%), contribution payment (75%) and less frequent of dissemination on television (15%). The recommendation proposed from the results of this study is the need to formulate information dissemination methods suited to the segments or targets of potential individual BPJS participants.The formulation of the dissemination methods should involve the cooperation between the related stakeholders as such Ministry of Transportation and Directorate General of Taxes of Ministry of Finance (in the management of Vehicle Tax for middle and upper segment of society) and Ministry of Internal Affairs (Community Empowerment division) for low to middle class with the utilization of Posyandu cadres.AbstrakUniversal Health Coverage (UHC) ditargetkan tercapai pada tahun 2019. Namun, sampai dengan Maret 2016 jumlah peserta adalah 163.327.183 jiwa atau 63% dari total penduduk Indonesia. Masih rendahnya cakupan kepesertaan tersebut diakibatkan belum meratanya informasi yang diterima oleh masyarakat khususnya calon peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Mandiri. Masalah utama yang dihadapi calon peserta BPJS Kesehatan adalah kurangnya informasi tentang prosedur pendaftaran, pembayaran iuran maupun pemanfaatan pelayanan di fasilitas kesehatan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis sumber informasi yang biasa diakses oleh calon peserta dan media sosialisasi yang digunakan oleh BPJS Kesehatan. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisis diskusi pada facebook dan twitter dengan kata kunci BPJS selama rentang waktu Oktober2016. Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat belum menerima informasi yang disampaikan secara utuh (komprehensif), hal ini terlihat dari masih adanya kendala dalam memperoleh kartu keanggotaan (34,1%), pembayaran iuran (75%) dan rendahnya sosialisasi melalui media TV (15%). Rekomendasiyang dirumuskan dari hasil kajian ini adalah penyusunan metode sosialisasi yang disesuaikan dengan segmen atau sasaran calon peserta BPJS Mandiri. Penyusunan bahan sosialisasi memerlukan kerjasama lintas sektor yang terkait, yaitu Kementerian Perhubungan dan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan (dalam pengurusan pajak kendaraan untuk segmen masyarakat menengah ke atas) dan Kementerian Dalam Negeri (Bidang Pemberdayaan Masyarakat) untuk segmen menengah ke bawah yaitu dengan pemanfaatan kader Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).