cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
ISSN : 08539987     EISSN : 23383445     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Media Health Research and Development ( Media of Health Research and Development ) is one of the journals published by the Agency for Health Research and Development ( National Institute of Health Research and Development ) , Ministry of Health of the Republic of Indonesia. This journal article is a form of research results , research reports and assessments / reviews related to the efforts of health in Indonesia . Media Research and Development of Health published 4 times a year and has been accredited Indonesian Institute of Sciences ( LIPI ) by Decree No. 396/AU2/P2MI/04/2012 . This journal was first published in March 1991.
Arjuna Subject : -
Articles 467 Documents
Uji Efikasi Nanoinsektisida Komposisi Perak Tembakau (Nicotiana tabacum) terhadap Aedes aegypti Sri Wahyuni Handayani; Dhian Prastowo; Hasan Boesri; Awal Prihatin; Lulus Susanti; Arumtyas Kusuma Wardhani; Dewi Susilo; Revi Rosavika; Ary Oktsariyanti; Fahmay Dwi Ayuningrum; Lasmiati Lasmiati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.156 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v30i1.1925

Abstract

Abstract Vector control that used insecticides need to be substituted, because it has a negative impact for the environment and have been resistance for some areas, so it was necessary to find alternative insecticides. One of the natural insecticides was tobacco (Nicotiana tabacum). The chemical content of tobacco leaves included alkaloids, saponins, and flavonoids. Nicotine was an alkaloid group compound in tobacco, thatwas a nerve poison that reacts quickly and can act as a contact poison in insects, to add the effectiveness it’s necessary change to nano particle with silver. Besides, this test used two solvents with different contains of mineral to compare the effectiveness. This study aimed to test effication of nanoinsecticide from formulation tobacco (Nicotiana tabacum) and silver particle for vector control of larvae Ae.aegypti. It was held at the Center for Research and Development of Disease Vector and Reservoir (B2P2VRP) with an experimental method. The results of the study showed 1,153 ppm LC50, 1,719 ppm LC90 and 1,925 ppm LC90 on solvent distilled water. LC50 of 1,641 ppm, LC90 of 10,741 ppm and LC90 of 18,295 ppm in solvent aquademineralization. Measurements of tobacco nanoinsecticides are known to be 89,2 – 112,0 run in aquadest and 89,2 -112,0 μm in aquademineralization solvents 79,0 – 143,7μm. Abstrak Pengendalian vektor menggunakan insektisida kimiawi perlu disubstisusi karena berdampak buruk pada lingkungan dan menyebabkan resistensi di beberapa daerah, sehingga perlu untuk mendapatkan insektisida alternatif yang ramah lingkungan. Salah satu tanaman insektisida alam, adalah tembakau (Nicotiana tabacum). Kandungan kimia tembakau meliputi alkaloid, saponin, dan flavanoid. Nikotin termasuk senyawa alkaloid dalam tembakau merupakan racun syaraf dengan reaksi cepat serta dapat berfungsi sebagai racun kontak serangga. Namun, untuk menambah daya bunuhnya sebagai larvasida maka ukuran partikel alkaloid perlu dipecah contohnya dengan penambahan perak. Pemilihan perak sebagai pembentuk molekul nano, sedangkan pelarut yang digunakan yaitu akuades dan akuademineralisasi. Kedua pelarut yang digunakan merupakan pelarut standar yang mempunyai daya kelarutan tinggi dengan perbedaan kandungan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk uji efikasi nanoinsektisida tembakau (Nicotiana tabacum) yang diformulasikan dengan perak sebagai sarana pengendalian Aedes aegypti stadium pradewasa. Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) dengan metode eksperimental murni. Hasil penelitian didapatkan LC50 1,153 ppm, LC90 1,719 ppm pada pelarut akuademineraliasi dan LC90 1,925 ppm pada pelarut akuades. LC50 1,641 ppm, LC90 10,741 ppm dan LC90 18,295 ppm pada pelarut akuademineralisasi. Pengukuran partikel nanoinsektisida daun tembakau diketahui berukuran 89,2 - 112,0 nm pada pelarut akuades dan 89,2 -112,0 nm pada pelarut akuademineralisasi 79,0 - 143,7nm.
Pemetaan Berita Online tentang Imunisasi Measles Rubella Tahun 2018 di Indonesia Febri Sri Lestari; Fedri Ruluwedrata Rinawan; Irvan Afriandi; Siti Karlinah; Insi Farisa Arya; Deni Kurniadi Sunjaya
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.156 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v30i1.1944

Abstract

Abstract The mass media plays a significant role in delivering health-related information to the wider society, so that it can be involved in health programs, including the Measles Rubella (MR) Immunization Campaign. The purpose of this program is to reduce the incidence of measles and rubella which has increased in the last five years in Indonesia. MR immunization coverage target must reach at least 95% in order to form group immunity to break the chain of transmission. However, as of the end of September 2018, the coverage of granting MR immunization nationally only reach 52,71%. This was published by online media throughout different regions in Indonesia with negative, neutral, or positive tendencies. Problems occur when exposure to the media with a negative perspective on vaccine impacts immunization coverage. Based on this, the research aims to map the trend of reporting on MR Immunization based on regions in Indonesia. The method used is content analysis. The object of this study is 410 online news about MR Immunization that was published during the second phase of MR Immunization Campaign, from August 1st until September 30th 2018 in Indonesia. The results of this research show that news coverage is dominated by national news, which is more representative of positive messages. Meanwhile, a province with the most news sources is Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), which negative tendencies. NAD has the majority of moslem communities who are very sensitive on the sharia law issue. Therefore, unclear certification of vaccine halal became a strong argument to refuse and postpone the MR immunization, and based on the research protocol, this categorized as negative news. Therefore, the health promoters can develop health communication strategies to work more effectively with the media, especially in the regions, in informing health policies and programs, so that news that is published does not upset the public. Abstrak Media massa berperan dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat luas sehingga dapat dilibatkan dalam program kesehatan, termasuk Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR). Tujuan program ini adalah untuk menurunkan kejadian penyakit campak dan rubela yang meningkat dalam lima tahun terakhir di Indonesia. Target cakupan Imunisasi MR harus mencapai minimal 95% agar terbentuk kekebalan kelompok untuk memutuskan mata rantai penularan. Namun, sampai dengan akhir September 2018, cakupan pemberian Imunisasi MR secara nasional baru mencapai 52,71%. Hal ini dipublikasikan oleh media online dengan kecenderungan negatif, netral, atau positif yang diberitakan dari berbagai wilayah di Indonesia. Permasalahan terjadi ketika paparan media dengan perspektif negatif pada vaksin berdampak pada cakupan imunisasi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memetakan kecenderungan pemberitaan tentang Imunisasi MR berdasarkan wilayah di Indonesia. Metode yang digunakan adalah analisis isi. Objek penelitian ini adalah 410 berita online tentang imunisasi MR yang dipublikasikan selama Kampanye Imunisasi MR fase II, 1 Agustus sampai dengan 30 September 2018 di Indonesia. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pemberitaan lebih didominasi berita berskala nasional, yang lebih menggambarkan pesan yang bersifat positif. Sementara itu, wilayah provinsi yang menjadi sumber berita terbanyak adalah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dengan pemberitaan berkecenderungan negatif. NAD memiliki mayoritas masyarakat muslim yang peka terhadap permasalahan syariah. Oleh karena itu, ketidakjelasan sertifikasi halal vaksin menjadi alasan untuk penolakan dan penundaan program Imunisasi MR, yang dalam protokol penelitian ini dikategorikan berita negatif. Dengan demikian, promotor kesehatan dapat menyusun strategi komunikasi kesehatan agar bekerja lebih efektif dengan media, terutama di daerah, dalam menginformasikan kebijakan dan program kesehatan sehingga berita yang dipublikasikan tidak membuat resah masyarakat.
Kesesuaian Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Andi Leny Susyanty; Yuyun Yuniar; Max J. Herman; Nita Prihartini
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.217 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v30i1.2062

Abstract

Abstract Pharmaceutical services have been gradually applied in primary health services both in terms of pharmaceutical management and clinical pharmacy services. In order to support the implementation, the standard has been amended several times, resulting Permenkes Number 74 of 2016 Concerning the Pharmaceutical Services Standard in Public Health Centre (puskesmas) as the most updated one. This study aimed to determine the suitability of the implementation of pharmaceutical service standards in the management of medicine and clinical pharmacy at the puskesmas. The cross-sectional research design was conducted in February-November 2017. The selection of provincial locations was carried out purposively. Data collection tools were questionnaires and a list of standard pharmacy services at the puskesmas. Data were analyzed descriptively. The results showed that 54.5% of the puskesmas did not have pharmacists as the responsible person and only 18.2% of the puskesmas had sufficient pharmacist and pharmaceutical technical staff for both drug management activities and clinical pharmacy services. Comprehensive drug management activities in accordance with pharmaceutical service standards at the puskesmas have been implemented in 96.7% of puskesmas with pharmacists. Comprehensive clinical pharmacy service activities according to pharmacy service standards at puskesmas are only applied in 23.3% of puskesmas with pharmacists. The availability and ability of pharmacists in providing clinical pharmacy services in puskesmas need to be a concern. Abstrak Pelayanan kefarmasian secara bertahap telah mulai diterapkan di pelayanan kesehatan dasar, baik dalam kewajiban pengelolaan farmasi maupun pelayanan farmasi klinis. Untuk mendukung hal tersebut, standar pelayanan kefarmasian di puskesmas telah beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir diperbaharui dengan Permenkes Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di puskesmas. Studi ini bertujuan mengetahui kesesuaian pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian dalam pengelolaan obat dan farmasi klinik di puskesmas. Desain penelitian potong lintang dilakukan pada bulan Februari-November 2017. Pemilihan lokasi provinsi dilakukan secara purposif. Alat pengumpul data berupa kuesioner dan daftar tilik standar pelayanan kefarmasian di puskesmas. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil studi menunjukkan bahwa sebanyak 54,5% puskesmas belum mempunyai tenaga apoteker sebagai penanggung jawabnya dan hanya 18,2% puskesmas yang jumlah apoteker dan tenaga teknis kefarmasiannya mencukupi untuk kegiatan pengelolaan obat dan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan pengelolaan obat yang komprehensif sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di puskesmas sudah diterapkan di 96,7% puskesmas yang memiliki apoteker. Kegiatan pelayanan farmasi klinis yang komprehensif sesuai standar pelayanan kefarmasian di puskesmas hanya diterapkan di 23,3% puskesmas yang memiliki apoteker. Ketersediaan dan kemampuan apoteker dalam memberikan pelayanan farmasi klinik di puskesmas perlu menjadi perhatian.
Pengaruh Formula Jamu Temulawak, Kunyit, dan Meniran terhadap Kebugaran Jasmani: Suatu Studi Klinik Fajar Novianto; Zuraida Zulkarnain; Agus Triyono; Danang Ardiyanto; Ulfa Fitriani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.601 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v30i1.2082

Abstract

Abstract Physical fitness is a person’s ability to complete daily tasks without experiencing significant fatigue. Components of physical fitness consist of body composition, muscle flexibility, muscle strength, and cardiovascular fitness. Pre-clinical trials of herbal formula temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), tumeric (Curcuma longa L.), and meniran (Phyllanthus niruri L.) can improve the fitness of test animals. The purpose of this study was to assess the safety and efficacy of temulawak, kunyit, and meniran herbal formulas for physical fitness. The research method in the form of quasi experimental pre and post with a placebo comparison involving 201 subjects divided into 2 groups. A total of 100 subjects in group I were given herbal medicine while group II as many as 101 subjects were given placebo for 6 weeks. The evaluation is based on the parameters of liver function, kidney, blood profile, and fitness component. The results showed that there were no significant changes (p≥0.05) in liver function, kidney function, blood profile, body composition, muscle flexibility, and muscle strength. Cardiovascular fitness in group I increased significantly (p<0.05) compared to group II. Temulawak, kunyit, and meniran formulas are safe for liver, kidney, blood profiles and can help improve physical fitness, especially cardiovascular fitness. Abstrak Kebugaran jasmani merupakan kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Komponen kebugaran jasmani terdiri dari komposisi tubuh, kelenturan otot, kekuatan otot, dan kebugaran kardiovaskular. Uji praklinis formula jamu temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), kunyit (Curcuma longa L.), dan meniran (Phyllanthus niruri L.) dapat meningkatkan kebugaran hewan uji. Tujuan penelitian ini adalah menilai keamanan dan khasiat formula jamu temulawak, kunyit, dan meniran terhadap kebugaran jasmani. Metode penelitian berupa quasi experimental pre and post dengan pembanding plasebo yang melibatkan 201 subjek yang dibagi menjadi dua kelompok. Sebanyak 100 subjek kelompok I diberikan jamu sedangkan kelompok II sebanyak 101 subjek diberikan plasebo selama enam minggu. Evaluasi didasarkan atas parameter fungsi hati, ginjal, profil darah, dan komponen kebugaran. Hasil menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan bermakna (p≥0,05) pada fungsi hati, fungsi ginjal, profil darah, komposisi tubuh, kelenturan otot, dan kekuatan otot. Kebugaran kardiovaskular pada kelompok I mengalami peningkatan bermakna (p<0,05) dibanding kelompok II. Formula jamu temulawak, kunyit, dan meniran aman terhadap profil darah, hati dan ginjal serta dapat membantu meningkatkan kebugaran jasmani yaitu kebugaran kardiovaskular.
Analisis Survival Pasien Hemodialisis dengan Hipertensi di Lampung Tahun 2016-2018 Nurhalina Sari; Nova Muhani
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 2 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v30i2.2251

Abstract

Abstract Chronic Kidney Disease (CKD) is now a serious health problem and millions die every year because they do not have access to treatment. One of the main risk factors for this catastrophic disease is hypertension. The purpose of this study was to determine survival rates in the hypertension and nonhypertension groups and to see the relationship between blood pressure, sex and age on the death status of CKD patients. The study used a retrospective cohort study design. The research data came from the medical records of patients in the hemodialysis room of Abdul Moeloek Hospital during 2016-2018, was 396 respondents. Data analysis used Kaplan Meier and Cox regression. The analysis showed the hypertensive groups were 320 (80.2 percent) and nonhipertensive groups were 76 (19.8 percent) with the proportion of hypertensive groups who died totaled 184 (57.5 percent) people. The average survival rate of the hypertension group was 33 months, whereas the nonhypertensive group was 44 months. The log rank test results show a p-value of 0.007 which indicates a lower survival rate between the hypertension and nonhypertension groups. The results of the multivariate cox regression test showed that the nonhypertensive group had a 1.6 times longer survival risk compared to the hypertensive group (p.value 0.006, 95 percent Confident Interval 1.2-2.3) after being controlled by sex. While the age variable was not significantly related to the death status of CKD patients (p.value 0.067). The conclusion is the average life span of CKD patients from the hypertension group is shorter than the nonhypertension group. The hypertension group had a shorter survival risk than the nonhypertensive group of CKD patients undergoing hemodialysis. In addition, female sex has a risk of survival longer after being controlled by blood pressure. Early detection of hypertension is highly recommended. This can be done by controlling blood pressure routines by utilizing the postbindu program at the health center. In addition, optimizing Germas (community movement healthy life) socialization was especially for young teenagers to be aware of the importance of health and to control routine blood pressure since the age of 15 years at risk. Abstrak Penyakit Ginjal Kronis (PGK) saat ini menjadi masalah kesehatan serius dan jutaan meninggal setiap tahun karena tidak mempunyai akses untuk pengobatan. Salah faktor risiko utama penyakit katastropik ini adalah hipertensi. Tujuan penelitian untuk diketahui angka ketahanan hidup pada kelompok hipertensi dan nonhipertensi serta melihat hubungan antara tekanan darah, jenis kelamin dan usia terhadap status kematian pasien PGK. Penelitian menggunakan desain studi kohort retrospektif. Data penelitian berasal dari rekam medis pasien di ruang hemodialisis RS Abdul Moeloek selama tahun 2016-2018 sebanyak 396 responden. Analisis data menggunakan kaplan meier dan regresi cox. Hasil analisis menunjukkan kelompok hipertensi sebanyak 320 (80.2 persen) dan nonhipertensi sebanyak 76 (19.8 persen) dengan proporsi kelompok hipertensi yang meninggal berjumlah 184 (57.5 persen) orang. Rata-rata ketahanan hidup kelompok hipertensi adalah 33 bulan, sedangkan pada kelompok nonhipertensi adalah 44 bulan. Hasil uji log rank menunjukkan nilai p-value sebesar 0.007 yang menunjukkan perbedaan survival rate lebih rendah antara kelompok hipertensi dan nonhipertensi. Hasil uji regresi cox multivariat menunjukkan kelompok nonhipertensi memiliki risiko ketahanan hidup 1.6 kali lebih lama dibandingkan dengan kelompok hipertensi (p.value 0.006, 95 persen Interval Kepercayaan 1.2-2.3) setelah dikontrol oleh jenis kelamin. Sedangkan variabel umur tidak berhubungan signifikan terhadap status kematian pasien PGK (p.value 0.067). Kesimpulan adalah rata-rata lama hidup pasien PGK dari kelompok hipertensi lebih pendek dibandingkan kelompok nonhipertensi. Kelompok hipertensi memiliki risiko ketahanan hidup lebih pendek dibandingkan kelompok nonhipertensi terhadap pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Selain itu, jenis kelamin perempuan memiliki risiko ketahanan hidup lebih lama setelah dikontrol oleh tekanan darah. Deteksi dini hipertensi sangat dianjurkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengontrol rutin tekanan darah dengan memanfaatkan program posbindu yang ada di puskemas. Selain itu, optimalisasi sosialisasi Germas terutama untuk para remaja muda agar sadar tentang pentingnya kesehatan dan mengontrol tekanan darah rutin sejak usia berisiko 15 tahun.
Hubungan Antara Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja dan Karakteristik Tenaga Kesehatan ASN terhadap Retensi Bekerja di Puskesmas: Analisis Data Risnakes 2017 Iin Nurlinawati; Lelly Andayasari; Syachroni Syachroni
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 2 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v30i2.2674

Abstract

ABSTRACT There is still a gap in the need for health workers based on the ratio of Indonesia's population in 2019. One of the policy recommendations issued by WHO states that it is necessary to maximize the retention of health workers in rural areas, especially those that are underserved by health services. It is also in line with the 3c's SDG's goals of increasing health financing and recruitment, development, training and retention of health workers. Previous studies state that the health service system in rural and remote areas can be implemented well if the motivation and retention of health workers increase so that there is no longer a migration of health workers. Another study shows that increasing incentives and job satisfaction is an effort that can be done to overcome the problem of doctor retention in the area. This study aims to determine the relationship of work motivation, job satisfaction and characteristics of ASN health workers to work retention at the Puskesmas. This study is the result of further analysis of Health Workforce Research (Risnakes) data in 2017 with a sample of all health workers in Puskesmas with ASN status. Data were analyzed univariate, bivariate and multivariate to see what factors most influenced. Based on the results of the study there is a significant relationship between age, sex, level of education, marital status, length of work at the Puskesmas and access to the workplace, motivation and job satisfaction with the retention of the ASN health personnel to continue working at the Puskesmas (p <0, 05). The results of multivariate analysis showed that easy access to the workplace was the dominant factor associated with work retention (OR = 1,928; 95% CI: 1,848-2,011). It is expected that local governments can provide easy access to the workplace for health workers who work at Puskesmas. The policy of building official housing for health workers can be a solution so that health workers feel at home when working in the regions. ABSTRAK Masih terdapat kesenjangan kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan rasio jumlah penduduk Indonesia di tahun 2019. Salah satu rekomendasi kebijakan yang dikeluarkan oleh WHO menyebutkan bahwa perlu memaksimalkan retensi tenaga kesehatan di daerah perdesaan terutama yang kurang terlayani dengan pelayanan kesehatan. Selain itu juga sejalan dengan sasaran 3c pada SDG’s yakni meningkatkan pembiayaan kesehatan dan rekrutmen, pengembangan, pelatihan dan retensi tenaga kesehatan. Studi terdahulu menyatakan bahwa sistem pelayanan kesehatan di perdesaan dan daerah terpencil dapat terlaksana dengan baik apabila motivasi dan retensi tenaga kesehatan meningkat sehingga tidak terjadi lagi migrasi tenaga kesehatan. Studi lain menunjukkan bahwa peningkatkan insentif dan kepuasan kerja merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah retensi dokter di daerah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan motivasi kerja, kepuasan kerja dan karakteristik tenaga kesehatan ASN terhadap retensi kerja di Puskesmas. Studi ini merupakan hasil analisis lanjut dari data Riset Tenaga Kesehatan (Risnakes) tahun 2017 dengan sampel adalah seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas yang berstatus ASN. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat untuk melihat faktor apa yang paling berpengaruh. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan yang bermakna antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, lama bekerja di Puskesmas dan akses menuju tempat kerja, motivasi dan kepuasan kerja dengan retensi atau kebetahan tenaga kesehatan ASN untuk terus bekerja di Puskesmas (p<0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa mudahnya akses menuju tempat kerja merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan retensi kerja (OR=1,928; 95%CI: 1,848-2,011). Diharapkan pemerintah daerah dapat memberikan kemudahan akses menuju tempat kerja bagi tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas. Kebijakan pembangunan rumah dinas bagi tenaga kesehatan dapat menjadi satu solusi agar tenaga kesehatan betah bekerja di daerah.
Perilaku Pencarian Pengobatan pada Penduduk dengan Gejala Depresi Rofingatul Mubasyiroh; Sri Idaiani; Indri Yunita Suryaputri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.491 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v30i1.2690

Abstract

Abstract Mental health is part of health. Depression is one of the common mental health related to other health problems and a big contributor to Years Life with Disability (YLD). However, it is estimated that three are still 76% and 85% of sufferers in low-income and middle-income countries who do not received services to deal with the problems they experience. This study is a further analysis of IFLS-5 data to see the treatment seeking behavior in people with depressive symptoms and its related factors. The analysis was conducted on population aged 15 years and above. The proportion of depressive symptoms was 23.4% with a higher proportion of women, the populatin not working, living in large families, in the adolescent to young adult age group, and continuing to decline with increasing age. Some 12.5% of the population with depressive symptoms seek treatment . It appears that women have more significant opportunities to access health services. Opportunities to access health services were greater with increasing age. All kind of insurance ownership and living in urban are proven to significantly increase one’s chances of accessiong health services. The still low search for treatment is a joint task to minimize the , by paying more attention to vulnerable groups such as young people, not having insurance and living in rural areas. Abstrak Kesehatan jiwa merupakan bagian dari kesehatan. Depresi adalah salah satu common mental health yang berkaitan dengan masalah kesehatan yang lain, dan penyumbang Years Life with Disability (YLD) yang besar. Namun diperkirakan masih ada 76% dan 85% penderita di negara pendapatan rendah dan negara berpendapatan menengah yang tidak mendapatkan layanan penanganan masalah gangguan yang mereka alami. Penelitian ini merupakan analisis lanjut data IFLS-5 untuk melihat gambaran perilaku pencarian pengobatan pada penduduk dengan kondisi gejala depresi serta faktor yang berkaitan dengannya. Analisis dilakukan pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Proporsi gangguan gejala depresi sebesar 23,4%, dengan proporsi lebih tinggi pada perempuan, penduduk tidak bekerja, tinggal dalam keluarga besar, pada kelompok usia remaja-dewasa muda, dan terus menurun seiring peningkatan usia. Sejumlah 12,5% penduduk dengan gejala depresi yang melakukan pencarian pengobatan. Tampak bahwa perempuan lebih berpeluang signifikan untuk mengakses layanan kesehatan. Peluang untuk mengakses layanan kesehatan semakin besar seiring peningkatan usia. Kepemilikan asuransi (semua jenis asuransi) dan tinggal di wilayah perkotaan terbukti signifikan meningkatkan peluang seseorang mengakses layanan kesehatan. Masih rendahnya pencarian pengobatan menjadi tugas bersama untuk memperkecil treatment gap, dengan lebih memperhatikan kelompok rentan seperti usia muda, tidak memiliki asuransi, dan tinggal di perdesaan.
Dapatkah Kelas Ibu Hamil Model Virtual Meningkatkan Praktik Pencegahan Risiko Tinggi Kehamilan ? Ayun Sriatmi; Sri Suwitri; Zahroh Shaluhiyah; Sri Achadi Nugraheni
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 1 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.986 KB) | DOI: 10.22435/mpk.v30i1.2985

Abstract

Abstract The inability of pregnant women to identify and recognize danger signs of pregnancy indicates the lack of knowledge, attitudes and perceptions of mothers about healthy pregnancies which has an impact on the low practices of prevention of high risk of pregnancy. Pregnant Women Class Program (KIH) which is held is not optimal because of the low presence of pregnant women for various reasons. The aim of study to determine the effect of the KIH-Virtual model on the practice of preventing high risk of pregnancy. This is a quasi-experimental study with case-control approach. The population is pregnant women in Semarang City. The total sample was 60 mothers for the intervention group and 61 mothers for control group. The independent variable is KIH-Virtual intervention and dependent variable is the practice of preventing high risk pregnancy (covering 7 dimensions). Data collection through interviews and observations with four times measurements (pretest, posttest 1,2,3). Partial analysis using independent-T test and Paired test. Simultaneous analysis with Linear-Mixed-Model. Statistically, there were differences in the practice of preventing high risk pregnancy between intervention groups and control at the last measurement (p<0.05). Although both groups experienced an increase in scores at each measurement stage, it was evident in the intervention group that the increase was higher for all dimensions of practice. The highest increase in the effect of interventions on communication and collaboration practices was followed by health status monitoring practices. Daily self-care practices and lifestyle practices are the dimensions with the lowest intervention effect. Virtual-KIH influences the practice of pregnant women in the prevention of high risk of pregnancy and is able to improve the practice better than conventional models that have been underway. Abstrak Ketidakmampuan ibu hamil mengidentifikasi dan mengenali tanda bahaya kehamilan mengindikasikan rendahnya pengetahuan, sikap dan persepsi ibu tentang kehamilan sehat, yang berdampak pada rendahnya praktik pencegahan risiko tinggi kehamilan. Program Kelas Ibu Hamil (KIH) yang diselenggarakan belum optimal karena terkendala rendahnya kehadiran ibu hamil dengan berbagai alasannya. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh model KIH Virtual terhadap praktik pencegahan risiko tinggi kehamilan. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pendekatan kasus-kontrol. Populasi adalah ibu hamil di Kota Semarang. Jumlah sampel 60 ibu untuk kelompok intervensi dan 61 ibu untuk kelompok kontrol. Variabel bebas yaitu intervensi KIH Virtual dan variabel terikatnya yaitu praktik pencegahan risiko tinggi kehamilan (meliputi 7 dimensi). Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi dengan 4 kali pengukuran (pretest, posttest-1,2,3). Analisis parsial menggunakan uji beda independen dan berpasangan. Analisis simultan dengan Linear-Mixed-Model. Secara statistik ada perbedaan praktik pencegahan risiko tinggi kehamilan antara kelompok intervensi dengan kontrol pada pengukuran terakhir (p<0,05). Meski kedua kelompok mengalami peningkatan skor pada setiap tahap pengukuran, namun terbukti pada kelompok intervensi peningkatannya lebih tinggi untuk semua dimensi praktik. Peningkatan tertinggi efek intervensi pada praktik komunikasi dan kerjasama, diikuti praktik pemantauan status kesehatan. Praktik perawatan diri sehari-hari dan praktik gaya hidup merupakan dimensi praktik dengan efek intervensi terendah. KIH Virtual memengaruhi praktik ibu hamil dalam pencegahan risiko tinggi kehamilan dan mampu meningkatkan praktik tersebut dengan lebih baik dibandingkan model konvensional yang selama ini berlangsung.
Pengembangan Parameter Penilaian Keamanan Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris Ondri Dwi Sampurno; Nurhayati Nurhayati; Delima Delima; Lucie Widowati; Hadi Siswoyo
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 30 No 2 (2020)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v30i2.3055

Abstract

Abstract In the context of protecting the community against the security of traditional empirical health services, more detailed safety assessment parameters have been developed for the traditional health aspects (Hattra), methods of care and facilities. Each safety assessment parameter is equipped with an operational definition and tested for validity and tested for reliability to provide objective safety assessment results and consistent assessment results. The development of traditional empirical health service safety assessment parameters is carried out with a quantitative approach. Safety parameters refer to the Minister of Health Regulation (PMK) number 61 of 2016 concerning Traditional Empirical Health Services which includes aspects of Hattra, Methods of Care and Facilities. The number of parameter items in each aspect, namely 6, 27, and 16. The number of parameter items on the aspect of methods of care is divided into 11 items of methods of skills care and 16 items of methods of herbs care. Each parameter item is accompanied by an operational definition for uniformity of perception. Each parameter item is given a score based on a Likert scale (5 = strongly agree; 4 = agree; 3 = neutral; 2 = disagree; 1 = strongly disagree) for evaluating the validity and reliability of 36 people (the number to meet normality) health service experts traditional. Experts come from universities and the Traditional Health Association. Data analysis using SPSS program. Validity analysis using Product moment from Karl Pearson and reliability analysis using Cronbach alpha. The results of the validity test showed that 2 of the 6 parameter items in the Hattra aspect are valid, 26 items out of the 27 parameter items in the aspect of the treatment method are valid, and all items of 16 parameters in the aspect of the tool are valid. Reliability test showed reliable results. The development of traditional empirical health service safety assessment parameters produced reliable parameters and most of the parameters are valid. Invalid parameters are mostly adjusted by sentence without changing the meaning. Abstrak Dalam rangka perlindungan masyarakat terhadap keamanan pelayanan kesehatan tradisional empiris, dikembangkan parameter penilaian keamanan yang lebih terperinci terhadap aspek penyehat tradisional (Hattra), cara perawatan dan sarana. Setiap parameter penilaian keamanan dilengkapi dengan definisi operasional dan diuji validitas serta diuji reliabilitasnya untuk memberikan hasil penilaian keamanan yang obyektif dan hasil penilaian yang konsisten. Pengembangan parameter penilaian keamanan pelayanan kesehatan tradisional empiris dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Parameter keamanan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) nomor 61 Tahun 2016 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris yang mencakup aspek Hattra, Cara Perawatan dan Sarana. Jumlah item parameter pada masing masing aspek, yaitu berturut-turut 6, 27, dan 16. Jumlah item parameter pada aspek Cara Perawatan terbagi menjadi 11 item Cara Perawatan Keterampilan dan 16 item Cara Perawatan Ramuan. Setiap item parameter disertai dengan definisi operasional untuk keseragaman persepsi. Setiap item parameter diberikan skor berdasarkan skala Likert (5=sangat setuju; 4=setuju; 3=netral; 2=tidak setuju; 1=sangat tidak setuju) untuk evaluasi validitas dan reliabilitas terhadap 36 orang (jumlah untuk memenuhi normalitas) pakar pelayanan kesehatan tradisional. Pakar berasal dari perguruan tinggi dan Asosiasi Penyehat Tradisional. Analisis data menggunakan program SPSS. Analisis validitas menggunakan Product moment dari Karl Pearson dan analisis reliabilitas menggunakan Cronbach alpha. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa 2 dari 6 item parameter pada aspek Hattra valid, 26 item dari 27 item parameter pada aspek cara perawatan valid, dan keseluruhan item dari 16 parameter pada aspek sarana valid. Hasil reliabilitas menunjukkan hasil yang reliabel. Pengembangan parameter penilaian keamanan pelayanan kesehatan tradisional empiris dihasilkan parameter reliabel dan sebagian besar parameter valid. Parameter yang tidak valid sebagian besar dilakukan penyesuaian kalimat tanpa mengubah makna.
Pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 pada Pasien di Puskesmas Jayabaru Kota Banda Aceh Nur Ramadhan; Nelly Marissa; Eka Fitria; Veny Wilya
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 28 No 4 (2018)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v28i4.63

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease that affects many people of the world, including Indonesia. To prevent complications, a good control of DM is needed by patients, one of them is controlling blood sugar and keeping blood pressure stable. DM is reported in Banda Aceh as one of diseases with the highest number of visits every year. The purpose of this study was to determine the achievements of DM control by patients with type 2 diabetes mellitus in Puskesmas Jayabaru Banda Aceh. The study used a cross sectional design and a sample of 85 patients with type 2 diabetes mellitus in Puskesmas Jayabaru in 2015. The results showed 81.2% HbA1c value ≥ 7%, 80% fasting plasma glucose (FPG) ≥ 100 mg/dl, 85.9% of the value post prandial plasma glucose ≥ 140 mg/dl and 58.8% blood pressure ≥ 130 mmHg. Of the 85 patients only 7 showed good DM control results. This illustrates that DM control achievement is still below the cut-off value set by PERKENI. Counseling to patients and families is needed to improve the management of type 2 DM by patients. Abstrak Abstrak Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang banyak diderita penduduk dunia, termasuk Indonesia. Untuk mencegah terjadi komplikasi diperlukan pengendalian DM yang baik oleh penderita, salah satunya dengan mengontrol gula darah dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Penyakit DM dilaporkan di Kota Banda Aceh sebagai salah satu penyakit dengan angka kunjungan terbanyak setiap tahun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui capaian pengendalian DM oleh penderita DM tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Jayabaru Kota Banda Aceh. Penelitian menggunakan desain potong lintang dan sampel berjumlah 85 orang penderita DM tipe 2 di Puskesmas Jayabaru tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan 81,2% nilai HbA1c ≥ 7%, 80% nilai GDP ≥ 100 mg/dl, 85,9% nilai GD 2 jam PP ≥ 140 mg/dl, 58,8% dan tekanan darah ≥ 130. Dari 85 pasien hanya tujuh orang yang menunjukkan hasil pengendalian DM yang baik. Hal ini menggambarkan bahwa capaian pengendalian DM masih di bawah nilai cut off yang ditetapkan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). Penyuluhan kepada pasien dan keluarga sangat dibutuhkan untuk memperbaiki pengelolaan DM tipe 2 oleh penderita.