cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalekologikesehatan@gmail.com
Editorial Address
Badan LItbangkes, Jalan Percetakan Negara no.29 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ekologi Kesehatan
ISSN : 14124025     EISSN : 23548754     DOI : https://doi.org/10.22435/jek
Core Subject : Health,
The scope of this journal covers the ecological health that emphasizes mutual interaction between human and enviromental aspects such as in physical chemical biological and sociocultural that affect peoples healts status
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 19 NO.1 TAHUN 2020 Rianto Purnama
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 1 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.99 KB) | DOI: 10.22435/jek.v19i1.3417

Abstract

FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 19 NO.1 TAHUN 2020
BACK MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 19 NO.1 TAHUN 2020 Rianto Purnama
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 1 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 1 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.383 KB) | DOI: 10.22435/jek.v19i1.3418

Abstract

BACK MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 19 NO.1 TAHUN 2020
PREVALENSI GIARDIASIS DAN KONDISI HYGIENE PERORANGAN PADA MURID PAUD DI KB-TK AL AMIN PACIRAN LAMONGAN Dwi Septia Nengsih; Sigit Ari Saputro; Khuliyah Candraning Diyanah
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 2 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i2.2893

Abstract

ABSTRACT Small intestine infection caused by Giardia lamblia (giardiasis) occurs mostly in children living in developing country with poor sanitation. This study aims to determine the risk of giardiasis and personal hygiene conditions in pre-school students at KB-TK Al Amin Paciran Lamongan aged 2-6 years. Number of samples were 61 students, the dependent variable was the incidence of giardiasis, and independent variable was personal hygiene including nail hygiene, hand washing habit, footwear habit, and defecating habits. The result showed that 5 out of 61 students (8,2%) were infected with Giardia lamblia. All children (100%) with giardiasis had poor nail hygiene, footwear habit, and defecating habit. As many as 80% of students with giardiasis have poor handwashing habits. Students with poor footwear habit (OR=43,71; 95% CI 3,98-2046,9); open defecation habits (OR=13,33; 95% CI 1,40-628,05); poor nail hygiene (OR=12,31; 95% CI 1,29-580,49); poor hand washing habits (OR=5,73; 95% CI 0,5-290,96) had a greater risk of developing giardiasis. Supervision and healthy behavior are highly recommended, including using footwear when playing on the ground, defecating in the latrine, maintaining nail hygiene, and washing hands with soap before eating or after defecating. Keywords: Prevalence, giardiasis, personal hygiene, pre-school students ABSTRAK Infeksi usus halus disebabkan oleh Giardia lamblia (giardiasis) banyak terjadi pada anak-anak yang tinggal di negara berkembang dengan tingkat sanitasi buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko terjadinya giardiasis dan kondisi hygiene perorangan pada murid PAUD di KB-TK Al Amin Paciran Lamongan usia 2-6 tahun. Jumlah sampel adalah 61 murid, variabel dependen adalah kejadian giardiasis, dan variabel independen adalah hygiene perorangan meliputi kebersihan kuku, kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan menggunakan alas kaki, dan kebiasaan buang air besar (BAB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 61 murid (8,2%) terinfeksi Giardia lamblia. Seluruh murid (100%) dengan giardiasis mempunyai kebersihan kuku, kebiasaan menggunakan alas kaki dan kebiasaan BAB yang kurang baik. Sebanyak 80% murid dengan giardiasis mempunyai kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik. Murid dengan kebiasaan menggunakan alas kaki kurang baik (OR=43,71; 95% CI 3,98–2046,9); kebiasaan BAB sembarangan (OR=13,33; 95% CI 1,40–628,05); kebersihan kuku kurang baik (OR=12,31; 95% CI 1,29-580,49); kebiasaan mencuci tangan yang kurang baik (OR=5,73; 95% CI 0,5–290,96) mempunyai risiko lebih besar terkena giardiasis. Pengawasan dan berperilaku hidup sehat sangat dianjurkan antara lain menggunakan alas kaki ketika bermain di tanah, membiasakan BAB di jamban, menjaga kebersihan kuku, dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan atau setelah buang air besar. Kata kunci: Prevalensi, giardiasis, hygiene perorangan, murid PAUD
KESIAPAN MANAJEMEN PUSKESMAS DALAM MENJALANKAN PROGRAM INDONESIA SEHAT DENGAN PENDEKATAN KELUARGA (PIS-PK) DI INDONESIA Mujiati Mujiati; Sugiharti Sugiharti; Siti Masitoh; Eva Laelasari
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 2 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i2.2931

Abstract

ABSTRACT Indonesian Health Program with Family Approach (PIS-PK) is one of the health development priority programs by visiting family to increase target coverage and access to health services. This research was conducted by quantitative approach through interview using a structured questionnaire to Head of PHC or Head of Administration Division or PIS-PK officer) or PHC officer who understand about PIS-PK in 9699 PHC in 34 provinces. Data were analyzed descriptively. The results showed that PHC that had been trained in PIS-PK was better prepared in management compared to PHC that had not been trained. PHC that had been trained by PIS-PK were better prepared in availability of human resources, budget, RUK and RPK, availability of PIS-PK instruments, presence of socialization, availability of computers with internet access, monthly and quarterly administration has been carried out, and presence evaluation. PHC are expected to prepare these aspects so that they can be prepared management to carry out PIS-PK. It is expected that District/ city health offices able to carry out routine monitoring and evaluation, supervision and technical assistance to the PHC. Keywords: Readiness; Primary health care’s management; Indonesian Health Program with Family Approach ABSTRAK Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) merupakan salah satu program prioritas pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas dengan cara mendatangi keluarga untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan akses pelayanan kesehatan. Program PIS-PK dilaksanakan secara bertahap sejak tahun 2016, oleh karena itu perlu dilakukan analisis tentang kesiapan manajemen Puskesmas dalam menjalankan PIS-PK. Analisis dilakukan dengan menggunakan data laporan Riset Ketenagaan Kesehatan (Risnakes) 2017 terpublikasi. Data Risnakes dikumpulkan dengan pendekatan kuantitatif melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada Kepala Puskesmas, Kepala Bagian Tata Usaha atau Penanggungjawab PIS-PK atau petugas puskesmas yang memahami tentang PIS-PK di 9.697 Puskesmas di 34 provinsi. Hasil analisis menunjukkan Puskesmas yang sudah melaksanakan pelatihan PIS-PK (78,8%) lebih siap secara manajemen dibanding dengan Puskesmas yang belum melaksanakan pelatihan PIS-PK (49,9%). Kesiapan dalam pelaksanaan PIS-PK karena puskesmas lebih siap dalam aspek ketersediaan SDM, anggaran, telah disusunnya RUK dan RPK, ketersediaan instrumen PIS-PK, adanya sosialisasi, ketersediaan komputer dengan akses internet, telah dilakukannya lokmin bulanan dan triwulanan, serta adanya evaluasi kehadiran. Puskesmas diharapkan dapat menyiapkan aspek-aspek tersebut agar siap secara manajemen untuk menjalankan PIS-PK. Diharapkan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat melakukan monitoring, evaluasi, supervisi dan bimbingan teknis program secara rutin kepada puskesmas. Kata kunci: Manajemen puskesmas, pelatihan, PIS-PK
EFEKTIFITAS CAMPURAN RENDAMAN JERAMI (ORYZA SATIVA L) DAN TEMEFOS SEBAGAI ATRAKTAN TERHADAP LETHAL OVITRAP AEDES AEGYPTI L Muhammad Rasyid Ridha; Budi Hairani; Gusti meliyanie; Wulan Rasna Giri Sembiring; Abdullah Fadilly; Akhmad Rosanji
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 2 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i2.3060

Abstract

ABSTRACT Dengue hemorrhagic fever is a global health problem and can be transmitted through vectors, namely Aedes aegypti. One of the controls can be through lethal ovitrap combined with attractant. This study aims to compare the percentage of trapped eggs, the number of eggs hatched, and larval mortality in the lethal ovitrap that were given two additional types of attractants. The insecticides used were temephos, while the attractants used were 20% straw soaking water, and water that Ae. aegypti have used to lay eggs. The type of research is an experiment with a completely randomized design. The sample used was female mosquito of Ae. aegypti that is full of blood from laboratory colonization. The results showed that straw soaking water was more influential attractant than the former Ae. aegypti colonization water in attracting Ae. aegypti mosquitoes to lay eggs. The highest larval mortality was found in a combination of lethal ovitrap with straw soaking water. Statistically there is an influence of the type of attractant on hatchability and the development of Ae. aegypti into adult mosquitoes. The combination of lethal ovitrap and attractant of straw soaking water can be an alternative control strategy for DHF program managers to reduce the density of Ae. aegypti mosquitoes and minimize transmission of dengue hemorrhagic fever in an area. Keywords: Aedes aegypti, attractant, lethal ovitrap, straw soaking water ABSTRAK Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan global dan dapat ditularkan melalui vektor yaitu Aedes aegypti. Salah satu pengendaliannya dapat melalui lethal ovitrap yang dipadukan dengan atraktan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan persentase jumlah telur terperangkap, jumlah telur menetas, dan mortalitas larva pada lethal ovitrap yang diberi tambahan dua jenis atraktan. Insektisida yang digunakan adalah temefos, sedangkan atraktan yang digunakan adalah air rendaman jerami dengan konsentrasi 20%, dan air bekas kolonisasi/telur larva Ae. aegypti. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan acak lengkap. Sampel yang digunakan adalah nyamuk Ae. aegypti betina yang kenyang darah hasil kolonisasi di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rendaman jerami merupakan atraktan yang lebih berpengaruh dibandingkan air bekas kolonisasi Ae. aegypti dalam menarik nyamuk Ae. aegypti untuk bertelur. Mortalitas larva tertinggi terdapat pada kombinasi lethal ovitrap dengan air rendaman jerami. Secara statistik ada pengaruh jenis atraktan terhadap daya tetas dan perkembangan Ae. aegypti menjadi nyamuk dewasa. Kombinasi lethal ovitrap dengan atraktan air rendaman jerami dapat menjadi strategi pengendalian alternatif bagi pengelola program DBD untuk mengurangi kepadatan nyamuk Ae. aegypti dan meminimalisasi transmisi penyakit demam berdarah dengue di suatu wilayah. Kata kunci: Aedes aegypti, atraktan, lethal ovitrap, rendaman jerami
FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DAN PERILAKU PENCEGAHAN GIGITAN NYAMUK TERHADAP PERILAKU PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DI INDONESIA: ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2018 Asep Hermawan; Miko Hananto
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 2 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i2.3085

Abstract

ABSTRACT The High morbidity of dengue requires effective and efficient prevention efforts. Breaking chain of transmission through the eradication of mosquito nests (PSN) is a way that is believe an effective and efficient in controlling dengue. However, a nation-wide study shows that PSN has not been fully implemented in Indonesia. The aim of study was to described the relations between sociodemographic factors and mosquito bite prevention behaviour of PSN action in Indonesia, using Riskesdas 2018 data. The Population was used households is as samples in Indonesia as much as 262,917. The dependent variable is PSN actions and the independent variables are age group, occupation, education level, urban and rural areas as well as mosquito bite prevention practice by households and individuals. Data were analyzed using multiple logistic regression. The result was shown that the age group, education, occupation of the head of the household (KRT) and housewife (IRT) (P value <0.05) arean important variables that was influenced PSN action in Indonesia. In multiple logistic regression test, the influential variables are age group, education level, type of work, using mosquito repellent (spray / mosquito coil/ electric), the mosquito netting installed at ventilation house , sleep used insecticide-treated mosquito nets <3 years, repellent / bite-preventing materials, and the electric mosquito rackets. The variable that has the biggest influence is the larvasidation of the water reservoir. . To preserved of PSN implementation continuously, PSN campaigns can be carried out at various age levels, education levels and occupations. Keywords: Eradication of mosquito nests, sociodemography, dengue, and mosquito bites ABSTRAK Morbiditas dengue yang tinggi memerlukan upaya pencegahan yang efektif dan efisien. Memutus rantai penularan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan salah satu cara yang dipercaya efektif dan efisien dalam pengendalian dengue saat ini. Namun, sebuah penelitian berskala nasional menunjukkan bahwa PSN belum sepenuhnya dilaksanakan di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan hubungan faktor sosiodemografi dan praktek pencegahan gigitan nyamuk terhadap perilaku PSN di Indonesia, dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Populasi adalah rumah tangga di Indonesia dengan sampel 262.917 rumah tangga. Variabel dependen adalah perilaku PSN dan variabel independen adalah kelompok usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, wilayah perkotaan dan perdesaan serta praktek pencegahan gigitan nyamuk oleh rumah tangga dan individu. Data dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil analisis menunjukan bahwa kelompok umur, pendidikan, pekerjaan kepala rumah tangga (KRT) dan ibu rumah tangga (IRT) (nilai P<0,05) merupakan variabel penting yang mempengaruhi perilaku PSN di Indonesia. Pada uji regresi logistik, variabel berpengaruh adalah kelompok umur, tingkat pendididikan, jenis pekerjaan, menggunakan obat nyamuk (semprot /bakar/ elektrik, ventilasi rumah dipasang kasa nyamuk, tidur menggunakan kelambu berinsektisida<3 tahun, repelen/bahan pencegah gigitan, dan raket nyamuk elektrik. Pengaruh terbesar adalah larvasidasi penampungan air. Untuk menjaga kesinambungan pelaksanaan PSN, kampanye PSN dapat dilakukan pada berbagai tingkatan usia, pendidikan dan pekerjaan. Kata kunci: Pemberantasan sarang nyamuk, sosiodemografi, dengue, pencegahan gigitan nyamuk
PERAN LINGKUNGAN DAN INDIVIDU TERHADAP MASALAH DIARE DI PULAU JAWA DAN BALI Ika Dharmayanti; Dwi Hapsari Tjandrarini
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 2 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i2.3192

Abstract

ABSTRACT Diarrhea is a major health problem in Indonesia with high morbidity and mortality rates. Unhealthy environment and unhygienic behavior are closely related to diarrhea disease. This study aims to identify the association between environmental conditions and behavior with the occurrence of diarrhea in Jawa and Bali. Data source used was the integration data of March’s Susenas and Riskesdas 2018. A logistic regression analysis was chosen to elicit the relationship between sanitation and drinking water facilities, open defecation practice, and other factors with the prevalence of diarrhea. The results showed that open defecation (OR = 1.2; 95% CI: 1.12 to 1.29; P<0.001, and improper of household sanitation and drinking water (OR = 1.11; 95% CI: 1.04 to 1.2; P = 0.003) had significant association with diarrhea. Other factors are age 0-5 years (OR = 1.56; 95% CI: 1.46 to 1.66; P <0,001) and low education (OR = 1.33; 95% CI: 1.21 to 1.47; P <0,001). This study shows the hygienic behavior is the essential factors to reduce the incidence of diarrhea. Therefore, it is recommended to to prioritize aspects of behavior and environmental health, namely changing people’s behavior to defecate in a latrine, and provide proper sanitation and sufficient drinking water. Keywords: Diarrhea; sanitation; drinking water; open defecation ABSTRAK Penyakit diare merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dengan angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi. Lingkungan yang tidak sehat dan perilaku tidak higienis sangat erat kaitannya dengan penyakit diare. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan dan perilaku dengan penyakit diare di pulau Jawa dan Bali. Sumber data yang digunakan adalah data integrasi Susenas Maret dan Riskesdas 2018. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi logistik untuk melihat hubungan antara ketersediaan sanitasi dan air minum, perilaku buang air besar serta faktor lainnya terhadap kejadian diare. Hasil menunjukkan bahwa faktor perilaku buang air besar sembarangan (OR = 1,2; 95% CI: 1,12 - 1,29; P <0,001) serta akses sanitasi dan air minum rumah tangga tidak layak/tidak tersedia (OR = 1,11; 95% CI: 1,04 - 1,2; P = 0,003) memiliki hubungan dengan kejadian diare. Faktor lainnya yaitu: usia 0-5 tahun (OR = 1,56; 95% CI: 1,46 - 1,66; P <0,001) dan pendidikan rendah (OR = 1,33; 95% CI: 1,21 - 1,47; P <0,001). Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku higienis sangat penting untuk menurunkan kejadian diare. Oleh karena itu direkomendasikan untuk mengutamakan aspek perilaku dan kesehatan lingkungan, yaitu merubah perilaku masyarakat untuk BAB di jamban, serta menyediakan sanitasi dan air minum yang layak. Kata kunci: Diare, sanitasi, sarana air minum, buang air besar sembarangan
PENGUKURAN TIMBAL PADA AIR SUNGAI DAN BIOINDIKATOR LOKAL DI SUNGAI BRANTAS KOTA KEDIRI, PROVINSI JAWA TIMUR Forman Novrindo Sidjabat; Vichy Alwi; Mahmudi Mahmudi; Yuli Puspitasari
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 3 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 3 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i3.3459

Abstract

ABSTRACT Heavy metal contamination has become one of the priorities of global public health problems since it was first published in 1848 as a cause of disease. This study aims to obtain the latest conditions of lead (Pb) contamination along the Brantas River in Kediri City. Sampels were river water and local bio-indicators B. gonionotus (bader fish) and Ipomoea aquatica (water spinach). Data collected usingI 6989.8: 2009 for river water, SNI 2354.5: 2011 B. gonionotus and SNI 01-2896-1998 for water spinach. The results of the Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) examination at the BARISTAND Laboratory in Surabaya City were compared with the Pb threshold value according to PP No 82 of 2001 for river water, SNI 2729: 2013 for B. gonionotus, and SNI 7387: 2009 for Ipomoea aquatica. Pb contamination in Brantas River is caused by vehicle fuel discharges that cross the bridge before the sampling point, domestic waste, and agriculture. Therefore, river conservation policies and supervision of the industrial and domestic sectors around the Brantas River basin across sectors and across regions are needed. In addition, water treatment techniques for Brantas River water is needed so that in the future it can be consumed. Keywords: Lead contamination, Brantas River, bioindicators, B. gonionotus, Ipomoea aquatica ABSTRAK Cemaran logam berat menjadi salah satu prioritas masalah kesehatan masyarakat secara global sejak dipublikasikan pertama kali di tahun 1848 sebagai penyebab penyakit. Penelitian deskriptif ini bertujuan mendapatkan kondisi terbaru cemaran timbal (Pb) di sepanjang Sungai Brantas Kota Kediri. Sampel adalah air sungai dan bioindikator lokal B. gonionotus (ikan bader) dan Ipomoea aquatica (kangkung air) yang dikumpulkan menggunakan SNI 6989.8:2009 untuk air sungai, SNI 2354.5:2011 untuk ikan bader, dan SNI 01-2896-1998 untuk kangkung air. Hasil pemeriksaan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) di Laboratorium BARISTAND Kota Surabaya, Kadar Pb melebihi ambang batas serta lokasi titik pengambilannya untuk sampel air sungai adalah 0.05 mg/L (sebelum), 0,25 mg/L (setelah), dan 0,33 mg/L (di Sungai Jong Biru); sampel ikan bader adalah 0,453 mg/kg (setelah Sungai Jong Biru), dan sampel kangkung air adalah 3,29 mg/kg (di bawah Jembatan Mrican). Kontaminasi Pb di Sungai Brantas disebabkan oleh buangan bahan bakar kendaraan yang melintas di jembatan sebelum titik pengambilan sampel, limbah domestik, dan pertanian. Diperlukan kebijakan konservasi perairan sungai dan pengawasan industri dan domestik disekitar DAS Brantas, serta perlu disiapkan teknik pengolahan air Sungai Brantas sehingga di masa depan dapat dikonsumsi. Kata kunci: Kontaminasi timbal, Sungai Brantas, bioindikator, B. gonionotus, Ipomoea aquatica
EVALUASI PELAKSANAAN POSBINDU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DI LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL Ekowati Rahadjeng; Enung Nurhotimah
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 2 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i2.3653

Abstract

ABSTRACT Posbindu PTM is one of NCD risk factor prevention and control programs in Indonesia. About 50.6% of villages already carry out Posbindu PTM, but the prevalence of PTM risk factors remains high. This article aims to inform the results of the evaluation of Posbindu PTM implementation in residential environment, including benefits, utilization, constraints and implementation opportunities. Evaluation is carried out through a systemic review of articles related Posbindu PTM implementations published online in 2015-2020. Articles searched through google scholar search engine, Garuda portal, and Pubmed/PMC with keywords: Posbindu PTM implementation, utilization of Posbindu PTM, constraints and opportunities. As a selection criterion is the article is the result of research or evaluation of the implementation of Posbindu PTM and its utilization, and the article can be accessed in full text. Publications totaled 44 articles, and 19 articles met the criteria. Posbindu PTM activities generally have not been implemented regularly and comprehensively. The problem with the implementation of Posbindu PTM is that the officer is not precise in setting targets, lack of operational funds, and limited ability of cadres. Improving the benefits of Posbindu PTM requires the coaching of health workers, strengthening cadre competencies in counseling/education, and strengthening regulation in the region. Keywords: Posbindu PTM, implementation, benefits, obstacles, opportunity ABSTRAK Posbindu PTM merupakan salah satu program pencegahan dan pengendalian faktor risiko PTM di Indonesia. Sekitar 50,6% desa sudah melaksanakan Posbindu PTM, namun prevalensi faktor risiko PTM tetap tinggi. Artikel ini bertujuan menginformasikan hasil evaluasi pelaksanaan Posbindu PTM di lingkungan tempat tinggal, meliputi manfaat, pemanfaatan, kendala dan peluang pelaksanaanya. Evaluasi dilakukan melalui sistematik reviu artikel terkait pelaksanaan Posbindu PTM yang dipublikasi secara online pada tahun 2015-2020. Artikel ditelusuri melalui mesin pencari google scholar, portal garuda, dan Pubmed/PMC dengan kata kunci: pelaksanaan Posbindu PTM, pemanfaatan Posbindu PTM, kendala dan peluang Posbindu PTM. Sebagai kriteria seleksi adalah artikel merupakan hasil penelitian atau evaluasi pelaksanaan Posbindu PTM dan pemanfaatannya, dapat menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, dan artikel tersebut dapat diakses secara full text. Jumlah publikasi terkait berjumlah 44 artikel, dan 19 artikel memenuhi kriteria seleksi. Kegiatan Posbindu PTM umumnya belum dilaksanakan secara rutin dan komprehensif. Kegiatan dimanfaatkan oleh usia 35 tahun ke atas dan pasien PTM. Permasalahan pelaksanaan Posbindu PTM adalah Petugas kurang tepat dalam menetapkan sasaran, kurangnya dana operasional, dan keterbatasan kemampuan Kader melakukan konseling. Dukungan pemangku kepentingan merupakan peluang berkembangnya Posbindu PTM. Peningkatan manfaat Posbindu PTM memerlukan pembinaan petugas kesehatan, penguatan kompetensi kader dalam melakukan konseling/edukasi, dan penguatan regulasi di daerah. Kata kunci: Posbindu PTM; pelaksanaan; manfaat; kendala; peluang
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTIK MASYARAKAT TERHADAP UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR DBD DI KOTA TERNATE, PROVINSI MALUKU UTARA Amalan Tomia
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 19 No 3 (2020): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 19 NOMOR 3 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v19i3.3659

Abstract

ABSTRACT The Eradication of Mosquito Nest (PSN) program through depleting, burying, and closing (3M) plus aims to break the chain of mosquito breeding by eradicating the eggs and larvae of Ae. aegypti mosquito. This study aims to determine the relationship between knowledge, attitudes, and practices of respondents to the DHF vector control in Ternate City. The research was conducted in Ternate City, in October 2017-February 2018. The data on knowledge, attitudes, and practices were collected from 391 respondents using a structured questionnaire. The analysis of relationship between knowledge, attitudes, and practices on DHF vector control were measured using Chi Square test. The results of the analysis of the relationship between respondents' knowledge had a significant effect on the age group and education level (p <0.05), but not significant to the respondent's occupation (p> 0.05) on the control of the DHF vector. The attitude of the respondent was significantly related to the respondent's age group (p <0.05), but not significant to the level of education and occupation of the respondent (p> 0.05). The respondent practice only had a significant relationship with the respondent's age group (p <0.05) on the effort to control the dengue vector. The relationship between the respondents' practice of controlling the dengue vector was 0.376 greater than the knowledge and attitudes of the respondents towards controlling the vector of dengue fever in Ternate City. Keywords: DHF, knowledge, attitude, behavior, Ternate City ABSTRAK Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan menguras, mengubur dan menutup (3M) plus bertujuan untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk dengan memberantas telur dan larva nyamuk Ae. aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap serta perilaku responden terhadap pencegahan penyakit DBD di Kota Ternate. Penelitian dilakukan di Kota Ternate, pada bulan Oktober 2017 - Februari 2018. Data tentang pengetahuan, sikap dan praktik dikumpulkan dari 391 responden dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis hubungan pengetahuan, sikap dan praktek terhadap pengendalian vektor DBD diukur dengan uji Chi Square. Pengetahuan responden berpengaruh secara signifikan dengan kelompok umur dan tingkat pendidikan (p<0,05), namun tidak signifikan dengan pekerjaan (p>0,05). Sikap responden berhubungan secara signifikan dengan kelompok umur responden (p<0,05), namun tidak signifikan terhadap tingkat pendidikan dan pekerjaan (p>0,05). Praktik responden hanya berhubungan secara signifikan dengan kelompok umur responden (p<0,05). Hubungan praktik responden terhadap pengendalian vektor DBD sebesar 0,376 lebih besar dibandingkan dengan pengetahuan dan sikap responden terhadap pengendalian vektor DBD di Kota Ternate. Kata kunci: Demam berdarah dengue, pengetahuan, sikap, praktik, Kota Ternate

Page 7 of 11 | Total Record : 102