cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalekologikesehatan@gmail.com
Editorial Address
Badan LItbangkes, Jalan Percetakan Negara no.29 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ekologi Kesehatan
ISSN : 14124025     EISSN : 23548754     DOI : https://doi.org/10.22435/jek
Core Subject : Health,
The scope of this journal covers the ecological health that emphasizes mutual interaction between human and enviromental aspects such as in physical chemical biological and sociocultural that affect peoples healts status
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
GAMBARAN SOSIAL BUDAYA SUKU ANAK DALAM TENTANG MALARIA DAN PENGENDALIANNYA DI PROVINSI JAMBI Shinta Shinta; Helper Sahat Parulian Manalu
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 2 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i2.4908

Abstract

ABSTRACT The malaria control program is focused on achieving malaria elimination as an effort to create a healthy living community, free from malaria transmission, which process is carried out in stages until 2030. The Suku Anak Dalam (SAD) currently still have a fairly large population and they are stillclassified as isolated communities, because most of them live nomadic (moving) in the forest with a culture that is still underdeveloped, still not free from malaria. This article is to provide information about the handling of malaria problems in SAD and its control policy efforts in dealing with malaria elimination. This article is a literature review, search from books, theses, journals, research reports and government policies that are accessed through online sites. Information is not limited by year, because it was related to the history of SAD. The results of the review : The prevalence of malaria in SAD is still high, due to the belangun/melangun tradition, lack of education and knowledge, difficult access to health care facilities, and inadequate facilities and infrastructure. The success of the malaria elimination program in SAD will depend on the support of stakeholders, both from the Puskesmas, the Health Office, and the local government in budget allocation. The commitment of all parties is still needed to support the malaria eradication program by strengthening human resources: educators, health workers to overcome obstacles in efforts to achieve malaria elimination in SAD areas. Keywords: Social cultural, suku anak dalam, malaria ABSTRAK Program pengendalian malaria difokuskan untuk mencapai eliminasi malaria sebagai upaya mewujudkan masyarakat hidup sehat, terbebas dari penularan malaria, yang prosesnya dilakukan secara bertahap sampai tahun 2030. Di sisi lain, masih ada Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi yang hidup terisolir, nomaden (berpindah-pindah) di dalam hutan dengan budaya yang masih terbelakang, dan belum terbebas dari malaria. Penulisan ini untuk memberikan informasi tentang penanganan permasalahan malaria pada SAD dan upaya kebijakan pengendaliannya dalam menghadapi eliminasi malaria. Tulisan ini merupakan kajian literatur, penelusuran dari buku, skripsi/tesis, Jurnal, hasil laporan penelitian dan kebijakan pemerintah yang diakses melalui situs online. Informasi tidak dibatasi oleh tahun terbit karena bertalian dengan sejarah SAD. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian malaria di SAD Jambi disebabkan oleh tradisi belangun/melangun, pendidikan dan pengetahuan yang terbatas, sulitnya akses menuju fasilitas pelayanan kesehatan, serta sarana dan prasarana yang belum memadai. Keberhasilan program eliminasi malaria di SAD akan sangat tergantung dari dukungan stakeholder, baik dari Puskesmas, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah setempat dalam pengalokasian anggaran. Oleh karena itu diperlukan komitmen semua pihak untuk mendukung program upaya pembrantasan malaria dengan penguatan sumber daya manusia : tenaga pendidik, tenaga kesehatan untuk mengatasi hambatan dalam upaya mencapai eliminasi malaria di wilayah SAD. Kata kunci: Sosial budaya, Suku Anak Dalam, malaria
KEPEMILIKAN KELAMBU DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN KELAMBU ANTI NYAMUK DI WILAYAH ENDEMIS MALARIA PASCA PENDISTRIBUSIAN TAHUN 2017-2018 Rina Marina; Jusniar Ariati; Shinta Shinta; Ginoga Veridona; Doni Lasut; Asep Hermawan; Hendrik Siahaan; Roy Nusa RES; Harianto Harianto; Miko Hananto; Dasuki Dasuki; Andre Yunianto; Dian Perwitasari; Pandji W Dhewantara
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 2 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i2.4963

Abstract

ABSTRACT The distribution of LLINs (Long Lasting Insecticidal Nets) is one of the strategies implemented by health programs to control malaria in Indonesia. This study aims to determine the sociodemographic factors associated with the use of LLINs. The research is an observational with a cross-sectional study design. Interviews using a structured questionnaire were carried out on household members from 4602 sample houses in selected villages with systematic random sampling that had been distributed malaria nets in 2017 - 2018 in 12 malaria endemic districts. The data collected were ownership of bed nets, sociodemographic data including gender, marital status, education, age, occupation, household status, and behavior of using bed nets. Data analysis used multivariate logistic regression. The results showed that 83.9% of respondents had mosquito nets and as much as 82.4% of them were obtained from the LLINs program, and the use of LLINs netting was obtained by 60.5%. Sociodemographic factors associated with the use of bed nets were gender (OR=1,12, 95%CI=1,08 – 1,20), marital status (OR=1,31, 95%CI=1,22-1,44), , educational status (OR=1,26, 95% 1,08-1,45), age (OR=1,58, 95% CI=1,40 – 1,77), occupation (OR=1,23, 95%CI=1,11 – 1,21) and status in the household (OR=1,09, 95%=1,00 – 1,19). The use of LLINs in the community is still low, so there is a need for more intensive socialization and education, so that the use of mosquito nets in the community increases. Keywords: Endemic, bed nets, LLINs, malaria, sociodemographic ABSTRAK Distribusi kelambu anti nyamuk merupakan salah satu strategi yang dilakukan program kesehatan untuk mengendalikan kasus malaria di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan penggunaan kelambu anti nyamuk. Studi ini merupakan observasional dengan desain studi cross-sectional. Wawancara menggunakan kuisioner terstruktur dilakukan pada anggota rumah tangga, dari 4602 sampel rumah di desa terpilih secara systematic random sampling yang telah didistribusikan kelambu malaria tahun 2017 – 2018 pada 12 kab/kota endemis malaria. Data yang dikumpulkan adalah kepemilikan kelambu, karakteristik sosiodemografi meliputi jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, umur, pekerjaan, status di rumah tangga serta perilaku penggunaan kelambu. Analisis data digunakan regresi logistik multi variat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83,9% responden memiliki kelambu dan sebanyak 82,4% kelambu tersebut diperoleh dari program (LLINs), dan penggunaan kelambu LLINs diperoleh sebesar 60,5%. Faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan penggunaan kelambu adalah jenis kelamin (OR=1,12, 95%CI=1,08 – 1,20), status perkawinan (OR=1,31, 95%CI=1,22-1,44), pendidikan (OR=1,26, 95% 1,08-1,45), usia (OR=1,58, 95% CI=1,40 – 1,77), status pekerjaan (OR=1,23, 95%CI=1,11 – 1,21), serta kedudukan responden (OR=1,09, 95%=1,00 – 1,19). Penggunaan kelambu LLINs di masyarakat masih rendah, sehingga perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih intensif lagi, agar penggunaan kelambu di masyarakat meningkat. Kata kunci: Endemis, kelambu anti nyamuk, malaria, sosiodemografi
KEPATUHAN DAN PENERIMAAN MASYARAKAT TERHADAP KAMPANYE NASIONAL PENGGUNAAN MASKER DI TAHUN 2020 Kenti Friskarini; Rachmalina Soerachman
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 2 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i2.5111

Abstract

ABSTRACT The infection with COVID-19 has become a very influential public health problem worldwide and is categorized as a pandemic. This paper contains quantitative results on the use of masks in the community which is part of the Research on Knowledge, Attitudes and Behavior of the Community Related to the National Campaign for COVID-19 Prevention in Indonesia in 2020 with an internet-based questionnaire. Using the cross sectional method, the population is people aged 15 years and above in 34 provinces of Indonesia. Determination of samples using the formula for the estimated proportion of sample size with a total of 2,331. Quantitative data analysis was univariate and bivariate through the Pearson Chi-Square Test with P-value <0.05. In the results, it is known that the most age characteristics range from 25-34 years and 35-44 years with the most female sex. The most widely used media for resubmitting the appeal for the use of masks is social media, with the main topics are being how to wear, appeals and mistakes in wearing masks, most have the perception that wearing masks correctly can prevent transmission. Most PSAs (Public Service Announcement) sources are through social media. Community compliance to have healthy behavior during a pandemic requires continuous exposure. PSA on social media is one way to raise awareness of the importance of wearing masks to prevent this pandemic. Health promotion with the use of social media can be further utilized in disseminating correct information about health. Keywords: COVID-19, mask, PSA ABSTRAK Infeksi penyakit COVID-19 telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sangat berpengaruh di seluruh dunia dan dikategorikan sebagai pandemi. Tulisan ini mengangkat hasil kuantitatif tentang penggunaan masker pada masyarakat yang merupakan bagian dari Riset Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Terkait Kampanye Nasional Pencegahan COVID-19 di Indonesia pada tahun 2020 dengan kuesioner berbasis internet. Menggunakan metode cross sectional, populasi adalah masyarakat berusia 15 tahun ke atas di 34 Provinsi Indonesia. Jumlah sampel menggunakan rumus besar sampel estimasi proporsi dengan jumlah 2.331. Analisis data kuantitatif secara univariat dan bivariat melalui Uji Pearson Chi-Square dengan P-value<0,05. Pada hasil diketahui karakteristik umur terbanyak kisaran 25-34 tahun dan 35-44 tahun dengan jenis kelamin perempuan terbanyak. Media yang paling banyak digunakan untuk penyampaian kembali himbauan pemakaian masker adalah media sosial, dengan topik utama cara memakai, himbauan dan kesalahan memakai masker, sebagian besar memiliki persepsi memakai masker dengan benar dapat mencegah penularan. Kepatuhan masyarakat untuk memiliki perilaku sehat dalam masa pandemi membutuhkan paparan yang kontinyu. Kampanye Nasional Pencegahan COVID-19 dengan Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dan dilakukan di media sosial merupakan cara menumbuhkan kesadaran pentingnya pemakaian masker. Promosi kesehatan dengan penggunaan media sosial dapat lebih dimanfaatkan dalam penyebaran informasi yang benar tentang kesehatan. Kata kunci: COVID-19, masker, ILM
PENGARUH PENYAKIT PENYERTA/KOMORBID DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN KEJADIAN COVID-19 DI KOTA BOGOR TAHUN 2020 Felly Philipus Senewe; Noer Endah Pracoyo; Rina Marina; Alfons M Letelay; Ning Sulistiyowati
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 2 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i2.5114

Abstract

ABSTRACT The prevalence of confirmed COVID-19 cases is high and tends to increase, becoming the main cause of morbidity and mortality. This study aims to determine the relationship between comorbidities and individual characteristics on the incidence of COVID-19 cases in Bogor City in 2020. The research method is case controlith a sample of 289 consisting of 148 cases and 141 controls (1:1). Datas were collected online using a structured questionnaire, taken from the medical record of 5 hospitals in Bogor City who had been treated. Samples were obtained from March to September 2020. Data were analyzed univariate to see the descriptive picture, bivariate to obtain crude OR, andultivariate using logistic regression method to obtain adjusted OR. The results of multivariate analysis showed a relationship between confirmed cases of COVID-19 and several risk factors include marriage factor (OR = 2.69 at 95% CI 1.54-4.70 with p value = 0.00), diabetes Mellitus (OR=3.07 at 95%CI 1.27-7.41 with p=0.01) and risk age group factors (OR=3.44 at 95%CI 2.00-5.90 with a p=0.00). In conclusion the risk factors for the incidence of COVID-19 cases are married residents, people suffering diabetes mellitus, and residents at the risk age group (18-59 years) in Bogor City. Keywords: COVID-19, comorbid, individual characteristics, Bogor city ABSTRAK Prevalensi kasus konfirmasi COVID-19 yang tinggi dan cenderung meningkat menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian. Banyak hasil penelitian tentang faktor risiko terjadinya kasus COVID-19 yang hasilnya sangat bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komorbid/penyakit penyerta dan karakteristik individu terhadap kejadian kasus COVID-19 di Kota Bogor tahun 2020. Rancangan penelitian adalah case-control dengan sampel sebanyak 289 yang terdiri dari 148 kasus dan 141 kontrol (1:1). Data dikumpulkan secara daring menggunakan kuesioner terstruktur melalui aplikasi yang didapat dari data rekam medis 5 Rumah Sakit di Kota Bogor. Sampel diambil dari bulan Maret s.d. September 2020 yang pernah di rawat di RS. Data dianalisis secara univariat melihat gambaran deskriptif, secara bivariat mendapatkan crude OR dan multivariat dengan metode regresi logistic untuk mendapatkan adjusted OR. Hasil analisis multivariat menunjukkan hubungan antara kasus konfirmasi COVID-19 dengan beberapa faktor risiko di antaranya: faktor perkawinan (OR=2,69 pada 95%CI 1,54-4,70 dengan nilai p=0,00), faktor menderita diabetes mellitus (OR=3,07 pada 95%CI 1,27-7,41 dengan nilai p=0,01) dan faktor kelompok umur berisiko (OR=3,44 pada 95%CI 2,00-5,90 dengan nilai p=0,00). Kesimpulan bahwa faktor risiko kejadian kasus COVID-19 ialah penduduk yang sudah menikah, penduduk yang menderita sakit diabetes mellitus dan penduduk pada kelompok umur yang berisiko (18-59 tahun) di Kota Bogor. Kata kunci: COVID-19, comorbid, karakteristik individu, kota Bogor
FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.2 TAHUN 2021 Rianto Purnama
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 2 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

FRONT MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.2 TAHUN 2021
BACK MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.2 TAHUN 2021 Rianto Purnama
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 2 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BACK MATTER JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOL 20 NO.2 TAHUN 2021
PERBANDINGAN RISIKO KESEHATAN PENGGUNAAN ADITIF FTALAT DAN NON FTALAT PADA BAHAN PLASTIK KEMASAN MAKANAN Eva Laelasari; Athena Anwar; Tities Puspita
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 1 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i1.3683

Abstract

ABSTRACT The use of plastic-based food packagings has become an option considering their practicality and affordability. However, it is necessary to be aware of the health risks caused by exposure of phthalate plasticizer additives. This article aims to determine the comparison of risks of using phthalate and non-phthalate as plasticizers by scoping review method. The articles were searched through Google Scholar, Pubmed, and official website portals. After categorizing process, we obtained 41 articles for review refference. The result showed that phthalates are categorized as toxic compounds which have risks to disrupt endocrine glands activities. One of the phthalate compounds widely used as plasticizer is di-(2-ethylhexyl) phtalat, which is categorized into Group 2B (probably carcinogenic). Human biomonitoring values for six phthalate compounds vary from 0.02 to 8 mg/kg/day, while alternative plasticizer compounds ranging from 100 to 1,000 mg/kg/day. These alternative phthalate compounds are relatively safer because they do not easily migrate into food or drinks. There is no regulation due to phthlate restriction as plasticizer in Indonesia. Therefore, it is necessary to design the relevant regulation and we recommend the safer non-pthalate alternatives for plasticizers. Keywords: Plasticizer, Phthalate, Non-phthalate, Health risks ABSTRAK Penggunaan kemasan makanan berbahan dasar plastik menjadi pilihan karena dinilai praktis dan harganya terjangkau. Namun perlu diwaspadai risiko kesehatan dari pajanan aditif plastik berupa pemlastis yang terbuat dari senyawa ftalat. Artikel ini bertujuan untuk melakukan tinjauan perbandingan risiko penggunaan pemlastis berbahan ftalat dan alternatif non ftalat dengan metode scoping review. Penelusuran artikel melalui portal Google Scholar, Pubmed, dan situs resmi pemerintah/lembaga. Setelah melalui proses pengkategorian, diperoleh 41 artikel yang digunakan sebagai referensi tinjauan. Dari hasil tinjauan literatur diperoleh informasi bahwa senyawa ftalat dikategorikan dalam senyawa toksik dan berisiko mengganggu kerja kelenjar endokrin. Bahkan salah satu senyawa ftalat yang banyak digunakan sebagai aditif pemlastis, yaitu di-(2-ethylhexyl) phtalat, dikategorikan ke dalam Golongan 2B (probably carcinogenic). Nilai human biomonitoring untuk enam senyawa ftalat bervariasi pada kisaran 0,02–8 mg/kg/hari, sedangkan nilai untuk pemlastis alternatif berkisar antara 100-1000 mg/kg/hari. Senyawa alternatif non ftalat dianggap aman karena tidak mudah bermigrasi memajani makanan atau minuman. Di Indonesia belum ada regulasi yang mengatur pembatasan ftalat sebagai pemlastis, karena itu perlu dirancang regulasi terkait dan merekomendasikan alternatif pemlastis non ftalat yang aman bagi kesehatan. Kata kunci: Pemlastis, Ftalat, Non ftalat, Risiko kesehatan
ANALISIS PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA (SAMPAH MEDIS DAN NON MEDIS) DI KOTA SURABAYA SELAMA PANDEMI COVID-19 Kholifah Firsayanti Juwono; Khuliyah Candraning Diyanah
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 1 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i1.3910

Abstract

ABSTRACT Community activities during the Covid-19 pandemic that runs from home such as school and work led to an increase in non-medical household waste and medical waste (masks). The aim of study was to analyze the implementation of the management of household waste (medical and non-medical) by the community in Surabaya during the pandemic Covid-19. The study was a descriptive cross-sectional design. Data was collected through observation and questionnaires online for one month. The variables analyzed were the level of community knowledge and actions in the application of 3R (reduce, reuse, recycle) and waste sorting. Results of research on the level of knowledge demonstrated 57,73% out of 220 people with a good knowledge level. A total of 30,9% of the people implementing the 3R, as many as 47,7% of people apply organic and non-organic waste sorting, while 16.4% of people who apply medical and non-medical waste segregation. From these results, it can be concluded that the level of knowledge of the people of Surabaya City is high but the application of waste management by the people in the City of Surabaya (application of 3R, sorting organic and non-organic waste, and sorting medical and non-medical waste) is low. Encouragement and strict regulation are needed from central and local government in waste management to support the health and environmental hygiene. Keywords: Household waste, medical waste, waste management, waste sorting, Covid-19 Pandemic ABSTRAK Aktivitas masyarakat selama pandemi Covid-19 yang berlangsung dari rumah seperti sekolah dan bekerja menyebabkan peningkatan sampah rumah tangga non medis dan sampah medis (masker). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pengelolaan sampah rumah tangga (medis dan non medis) oleh masyarakat Kota Surabaya selama masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan disain cross sectional. Data dikumpulkan melalui observasi dan penyebaran kuesioner online selama satu bulan. Variabel yang dianalisa adalah tingkat pengetahuan dan tindakan masyarakat dalam penerapan 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemilahan sampah. Hasil penelitian pada tingkat pengetahuan menunjukkan sebanyak 57,73% dari 220 masyarakat dengan tingkat pengetahuan baik. Sebanyak 30,9% masyarakat menerapkan 3R, pada masyarakat yang menerapkan pemilahan sampah organik dan non organic sebanyak 47,7%, sedangkan masyarakat yang menerapkan pemilahan sampah medis dan non medis sebanyak 16,4%. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Kota Surabaya tinggi namun penerapan pengelolaan sampah oleh masyarakat di Kota Surabaya (penerapan 3R, pemilahan sampah organik dan non organic, serta pemilahan sampah medis dan non medis) tergolong rendah. Diperlukan anjuran dan peraturan yang tegas dari pemerintah pusat dan daerah dalam pengelolaan sampah untuk mendukung kesehatan dan kebersihan lingkungan. Kata kunci: Sampah rumah tangga, sampah medis, pengelolaan sampah, pemilahan sampah, pandemi Covid-19
PARASIT Plasmodium sp PADA TERNAK KAMBING ETAWA DI DAERAH ENDEMIK MALARIA KABUPATEN PURWOREJO Didik Sumanto; Suharyo Hadisaputro; Mateus Sakundarno Adi; Siti Susanti; Sayono Sayono
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 1 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i1.4092

Abstract

ABSTRACT Kaligesing Subdistrict, Purworejo Regency, is a malaria endemic area in Central Java Province, with an Annual Parasite Incidence (API) of 0,32‰ in 2017 with the confirmed vector being An. aconites and An. maculatus. Anopheles zoophagic nature and existence of livestock around the residence has an important role as a barrier to the transmission of malaria. One type of livestock that is widely cultivated by the community is the type of “Etawa” goat. This study aims to determine the type of Plasmodium found in livestock. This is a descriptive study with cross-sectional design and 97 samples were taken by purposive sampling. The variables analyzed were the distance between the cage and the place of residence, the presence of parasites in the blood of cattle and mosquitoes eviction attempts by the community. Examination conducted by microscopic blood clots with Giemsa staining. The results of the examination, found 4 slides (4,12%) positive for Plasmodium sp in goat blood with the cage located less than 10 meters from the residence. Parasites of Plasmodium vivax (75%) and Plasmodium falciparum (25%) trophozoites were detected in 4 goats (4,1%). A total of 75,3% of community activities burn straw around the animal enclosures, in an effort to repel mosquitoes. Etawa goats as a potential barrier in the village Jatirejo District of Kaligesing, found with P. vivax and P. falciparum. Further research is needed using molecular methods to strengthen the findings. Keywords: Malariae, Plasmodium sp, etawa goats ABSTRAK Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, merupakan wilayah endemik malaria di Provinsi Jawa Tengah, dengan Annual Parasite Incidence (API) 0,32‰ tahun 2017 dan vektor terkonfirmasi adalah An. aconitus dan An. maculatus. Sifat zoofagik Anopheles dan keberadaan ternak di sekitar tempat tinggal mempunyai peran penting sebagai barrier dalam penularan malaria. Salah satu jenis ternak yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah jenis kambing etawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Plasmodium yang terdapat pada ternak tersebut. Penelitian bersifat deskriptif dengan disain cross-sectional dan sebanyak 97 sampel diambil secara purposive sampling. Variabel yang di analisa adalah jarak kandang dengan tempat tinggal, keberadaan parasit dalam darah ternak dan kegiatan upaya pengusiran nyamuk oleh masyarakat. Pemeriksaan sediaan darah dilakukan secara mikroskopis dengan pewarnaan giemsa. Hasil pemeriksaan, ditemukan 4 slide (4,12%) positif Plasmodium sp pada darah kambing dengan letak kandang berjarak kurang dari 10 meter dari rumah tinggal. Terdeteksi adanya parasit tropozoit Plasmodium vivax (75%) dan tropozoit Plasmodium falciparum (25%) yang ditemukan pada 4 ekor kambing (4,1%). Sebanyak 75,3% kegiatan masyarakat membakar jerami di sekitar kandang ternak, sebagai upaya mengusir nyamuk. Ternak kambing Etawa berpotensi sebagai barrier di Desa Jatirejo Kecamatan Kaligesing, dengan ditemukan parasit P. vivax dan P. falciparum. Diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan metode molekuler untuk memperkuat hasil temuan. Kata kunci: Malaria, Plasmodium sp, kambing etawa
PERMASALAHAN SOSIAL BUDAYA DAN ALTERNATIF KEBIJAKAN DALAM UPAYA PENANGGULANGAN STUNTING PADA BALITA DI KABUPATEN SOLOK, PROVINSI SUMATERA BARAT Yulfira Media; Nilda Elfemi
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 1 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i1.4130

Abstract

ABSTRACT The problem of stunting is still a serious concern in Indonesia, including in West Sumatra Province. Data from Riskesdas 2018 revealed that the prevalence for short and very short children under five in West Sumatra is 30%, and was close to the national prevalence (30.8%). This study aims to describe the socio-cultural problems, local potential, and formulate alternative policies in effort to prevent and control stunting in children under five in Solok Regency. The research design used qualitative methods. Primary data collection was carried out by in-depth interviews and observations. The technique of selecting informants was done purposively. The results of the study revealed that the socio-cultural problems in efforts to prevent and control stunting in toddlers are still limited public knowledge about the causes and efforts to prevent stunting, inadequate understanding of the importance of balanced nutritional needs, and the behavior, parenting patterns, and feeding habits og toddlers who does not support the prevention and control of stunting in children under five. It is recommended that there should be alternative policies and action plans for stunting prevention, among others, by increasing knowledge through socialization about the risk of stunting on children's intelligence, increase participation and community empowerment for stunting prevention by utilizing the local potential such as curd and bilih fish in Solok Regency, West Sumatera Province. Keywords: Socio-culture, stunting, toddlers, policies, local potential ABSTRAK Permasalahan stunting masih menjadi perhatian yang serius di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Barat. Data hasil Riskesdas tahun 2018 mengungkapkan bahwa data prevalensi pendek dan sangat pendek pada balita di Sumatera Barat adalah sebesar 30%, dan mendekati prevalensi nasional (30,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permasalahan sosial budaya, potensi lokal, dan merumuskan alternatif kebijakan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting pada balita di Kabupaten Solok. Desain penelitian menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Teknik pemilihan informan dilakukan secara purposive. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa permasalahan sosial budaya dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting pada balita adalah masih terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang penyebab dan upaya pencegahan stunting, belum memadainya pemahaman tentang pentingnya kebutuhan gizi yang seimbang, dan adanya perilaku, pola asuh serta kebiasaan pemberian makanan pada balita yang kurang mendukung upaya pencegahan serta penanggulangan stunting pada balita. Disarankan perlu adanya alternatif kebijakan dan rencana aksi penanggulangan stunting antara lain dengan peningkatan pengetahuan melalui sosialisasi tentang risiko stunting terhadap kecerdasan anak, peningkatan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat untuk penanggulangan stunting dengan memanfaatkan potensi lokal seperti dadih dan ikan bilih di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Kata kunci: Sosial budaya, stunting, balita, kebijakan, potensi lokal

Page 9 of 11 | Total Record : 102