cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
RUANG merupakan jurnal penelitian ilmiah yang memberikan kontribusi pengetahuan terkait perencanaan wilayah dan kota. Jurnal ini dipublikasikan oleh Perencanaan Wilayah dan Kota.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang" : 8 Documents clear
KARAKTERISTIK MIGRAN SIRKULER DAN ASPEKNYA TERHADAP KEBUTUHAN BERMUKIM DI KAWASAN PASAR JOHAR, SEMARANG Aphrodita Puspateja; Sugiono Soetomo
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.4 KB)

Abstract

Abstrak: Perkembangan kota dipengaruhi perkembangan ekonomi terjadi di Kota Semarang dengan beberapa daerah asal, salah satunya kawasan perdangan dan jasa Pasar Johar. Pekerja yang terdapat di kawasan tersebut merupakan migran sirkuler. Tanpa adanya campur tangan pemerintah membuat tempat bermukim mereka membuat semakin kumuh. Padahal, mereka turut berperan sebagai aktor penggerak perputaran ekonomi kawasan, kota, dan daerah asal mereka. Bagaimana karakteristik migran sirkuler dan aspeknya terhadap kebutuhan bermukim di kawasan Pasar Johar Kota Semarang? Paradigma positifistik digunakan dalam penelitian ini. Teknik analisis deskriptif kuantitatif yang digunakan untuk memaparkan hasil kuesioner, kemudian dikaji lebih dalam melalui analisis deskriptif kualitatif. Penelitian berdasarkan survei primer ini untuk melihat dari karakteristik migran sikuler dan aspeknya melalui karakteristik pekerja migran sirkuler, tempat bermukim, dan kegiatan baik sektor formal maupun informal yang mempengaruhi kebutuhan tempat bermukim. Adanya keterkaitan karena kegiatan ekspor barang hasil produksi khas daerah, asal daerah yang jauh dari Kota Semarang sehingga sangat membutuhkan tempat tinggal yang lokasinya dekat dengan tempat bekerja mereka di pusat kota. Kebutuhan ruang minimal 6m2 perlu dijaga. Pondok boro cukup dengan fasilitas secara bersama yaitu tempat beristirahat (tidur), mandi dan cuci kakus, menjemur pakaian, gudang untuk barang dagangan, ruang televisi, warung-warung dipertahankan, serta harga sewa yang dijaga murah dengan sistem harian. Pekerjaan mereka tidak mempengaruhi kebutuhan bermukim, karena mereka sama-sama pekerja informal baik di sektor formal maupun informal. Jika kebutuhan tempat bermukim mereka dapat dipenuhi dengan baik maka dapat terkendalinya angka migran permanen di Kota Semarang beserta dampak jangka panjangnya. Oleh karena itu diberikan rekomendasi, yaitu tempat bermukim harus dipertahankan untuk semurah mungkin agar tetap terjangkau dan penggunaan ruang dalam pondok yang dioptimalkan untuk tempat mereka beristirahat, serta dilakukannya subsidi dari pemerintah untuk mempertahankan pondok boro bahkan untuk keadaan yang lebih baik. Kata Kunci : Migran Sirkuler, Bermukim, Kawasan Pasar Johar. Abstract: Economic development city affected by the developments in Semarang City with some areas of origin, one of which the trade and services Pasar Johar. Workers who are in the area is the circular migrants.  Without the intervention of the government to make their living space to make the slum. In fact, they play a role as a driver of economic turnaround actor regions, cities , and regions of origin. How do the characteristics of circular migrants and aspects of the needs of living in Johar Market area in Semarang City? Positivistic paradigm used in this study. Quantitative descriptive analysis techniques are used to present the results of the questionnaire, and then more deeply through qualitative descriptive analysis. This research is based on primary survey of the characteristics of migrants to see sikuler and its aspects through worker of circular migrant characteristic, settlement, and activities of both the formal and informal sectors that affect the needs of settlement. An association for the export of special production from region, the origin area far from Semarang City so desperately need a place to stay, which are located close to their work places in the city center. 6m2 minimum space requirement needs to be maintained. Boro enough to lodge facilities together are a place to rest, bathroom and toilet washing, drying clothes, warehouse for merchandise, television room, maintained stalls, as well as rental prices are kept low with the daily system. Their work does not affect the residence requirement, because they are equally informal workers in both the formal and informal sectors. If the requirements can be met where they live, it can be controlled with either the number of permanent migrants in the city of Semarang and its long-term impact. Therefore given the recommendation, a place for living must be maintained for as cheap as possible in order to remain affordable and the use of space in the cabin that is optimized for their resting place, and extensive government subsidies to maintain the cottage boro even for better circumstances.Keywords: Circular Migration, Settled, Pasar Johar Area
KAJIAN INDUSTRI PENGASAPAN IKAN BANDARHARJO (POTENSI INDUSTRI LOKAL DALAM PENATAAN DAN PENGEMBANGAN EKONOMI KAWASAN BANDARHARJO KOTA SEMARANG) Ida Rahayu Widowati; Anis Febbiyana; Ronaldi Ismail; Safrida Fatmawati; Zia Hawari Hudaya
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.771 KB)

Abstract

ABSTRAK: Pengasapan ikan atau pemanggangan ikan merupakan pengolahan yang pontensial di Kota Semarang. Usaha pengasapan ikan ini telah berlangsung lama di Kelurahan Bandaharjo yang terletak di wilayah Kecamatan Semarang Utara. Usaha ini merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi masyarakat yang berbasis rumah tangga. Kebijakan pengembangan sektor sosial dan ekonomi yang dilakukan pemerintah kota Semarang menekankan pemindahan atau penataan terhadap kegiatan pengasapan ikan ini yang semula berada di lingkungan perumahan ke lokasi khusus pengasapan ikan untuk dijadikan sebagai Sentra Industri Pengasapan Ikan Bandarharjo. Saat ini permasalahan pada kawasan pengasapan ikan Bandarharjo antara lain berupa limbah asap produksi dan limbah ikan, kurang optimalnya sarana dan prasarana, terbatasnya pemasaran untuk promosi dan kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat. Hal ini akan menimbulkan dampak terjadinya lingkungan yang tidak sehat dan kotor, pendapatan yang rendah dan produksi pengasapan ikan yang stagnan. Melalui metode eksplorasi dan deskripsi terhadap permasalahan kawasan pada kegiatan ekonomi pengasapan ikan di Bandarharjo pada wilayah studi maka diharapkan akan dapat memberikan tambahan "muatan” penataan kawasan ekonomi Bandarharjo yang responsive,  aplikatif dan memberi nilai peningkatan ekonomi dan menumbuhkan kualitas lingkungan yang lebih baik. Kata Kunci : pengasapan ikan, sentra industri rakyat, penataan kawasan, peningkatan ekonomi  Curing fish or grilling fish is any potential processing in Semarang. Fish fumigation effort is long overdue in the Village Bandaharjo located in the District of North Semarang . This effort is one form of economic activity -based household. Social sector development policy and the government's economic Semarang emphasize the removal or restructuring of the activities of these fish smokehouse which was originally located in a residential area to a specific location to be used as fish curing Industry Centers Bandarharjo Smoking Fish. Currently fogging problems in areas including but not limited Bandarharjo fish waste and the production of smoked fish waste , less optimal infrastructure , limited marketing and lack of attention to the promotion of government and society . This will impact the environment unhealthy and dirty, low income and Curing fish or grilling fish production is stagnant. Through the methods of exploration and description of the problem areas in economic activity in Bandarharjo curing fish in the study area is expected to provide an additional "charge" arrangement responsive Bandarharjo economic region, applicative and gave a foster economic development and better environmental quality. Keywords: curing fish, folk industrial district, regional structuring, economic improvement
PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN DI SEKITAR PERUMAHAN BARU GRAHA PADMA, SEMARANG BARAT Ruri Rizki Destiwi; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.983 KB)

Abstract

Abstrak: Tingkat kepadatan penduduk yang terus bertambah mengakibatkan tingginya kebutuhan akan tempat tinggal. Permintaan yang tinggi tersebut mengakibatkan perubahan guna lahan yang sebelumnya sebagai lahan non terbangun menjadi lahan terbangun. Perubahan guna lahan yang terjadi pada permukiman sekitar perumahan baru Graha Padma, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang menimbulkan suatu permasalahan yang sedkit banyak membawa perubahan positif maupun negatif bagi kondisi lingkungan. Perubahan infrastruktur seperti jaringan jalan dan drainase juga membawa perubahan bagi kondisi lingkungan permukiman sekitar perumahan baru Graha Padma. Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah untuk  mengkaji perubahan yang terjadi pada permukiman di sekitar perumahan baru Graha Padma, Kecamatan Semarang Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini melihat perubahan terhadap kondisi lingkungan permukiman sekitar adalah perubahan guna lahan, perubahan fisik bangunan tempat tinggal,  perubahan kondisi infrastruktur seperti jalan dan drainase, serta perubahan mata pencaharian masyarakat permukiman lama Tambakharjo. Perubahan penggunaan lahan yakni berubahnya lahan sawah dan tambak menjadi areal perumahan dan permukiman. Perubahan infrastruktur yakni terjadinya peyempitan pada saluran drainase, sedangkan untuk perubahan infrastruktur jalan adalah adanya peningkatan kualitas jalan menjadi lebih baik. Untuk perubhan fisik bangunan yakni meninggikan lantai dasar oleh masyarakat setinggi 1-2 meter. Pekerjaan masyarakat, terutama masyarakat permukiman lama Tambakharjo, sebagian besar berubah. Semula mereka bekerja sebagai petani tambak dan sawah namun kini bekerja di perumahan Graha Padma.Kata Kunci : Perubahan Lingkungan, Kawasan Permukiman, Perumahan Graha PadmaAbstract: The increasing of population density causes great demands of residence. The escalating demands lead to the changes of land use which used to be non- built-up lands becomes built-up lands. The circumstance which is occurred around a new residence, Graha Padma, West Semarang, exerts a moderate number of harmful effects for environment. Infrastructure developments, for instance roads and drainage systems, also bring some effects for the environmental change around Graha Padma. The purpose of this research is to analyze the environmental change occurred around Graha Padma, West Semarang. The method carried out in this research was qualitative by descriptive qualitative technical analysis. The outputs of this research to see the transformation of the environmental condition of surrounding residence are the changing of land use, shape of housing, infrastructure conditions, such as roads and drainages, also jobs of the residents in the old residence, Tambakharjo. The land use change includes the change from rice fields and fishponds to residential area. Infrastructure change consists of the constriction of drainage systems; meanwhile the road quality improvement becomes the implementation of road infrastructure change. The shape of housing is modified by leveling up the ground floor around 1-2 meters. The residents’ jobs, especially Tambakharjo people, are mostly adjusted. They formerly worked as farmers; nonetheless they currently work for Graha Padma.Keywords: Environmental change, Residence, Graha Padma Semarang
KAJIAN PERKEMBANGAN GUNA LAHAN TERKAIT DENGAN PERDAGANGAN DAN INDUSTRI BATIK DI DESA TRUSMI KULON, PLERED, KABUPATEN CIREBON Irnie Dwiyanti; Diah Intan Kusumo Dewi
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.679 KB)

Abstract

Abstrak: Aktivitas perdagangan dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya terutama dari segi guna lahan. Desa Trusmi Kulon merupakan desa wisata batik,  yang mempunyai jumlah showroom dari 45 showroom. Aktivitas tersebut membawa pengaruh terhadap guna lahan di Desa Trusmi Kulon. Desa Trusmi Kulon menjadi desa wisata batik yang kurang teratur dan kepadatan lingkungan yang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari kondisi bangunan dan arus lalu lintas yang cukup padat yang berakibat sirkulasi yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan guna lahan terkait perdagangan dan industri batik di Desa Trusmi Kulon, Plered, Kabupaten Cirebon. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan korelasi untuk melihat hubungan antar dua variabel. Hasil penelitian yang di temukan adalah ada hubungan keeratan antara variabel penambahan tenaga kerja dengan penambahan luas lahan terbangun dengan nilai rs mendekati 1 (korelasi sempurna) yakni 0,930. Dibuktikan dengan hasil kuesioner penambahan luas lahan terbangun memiliki presentase 71%  atau luas lahan terbangun bertambah 1421 m2. Perluasan bangunan sebesar 74% atau mengalami perluasan bangunan 1055m2 dan bangunan baru sebesar 26% atau 366m2. Pada variabel penambahan tenaga kerja dengan perubahan fungsi penggunaan lahan tidak memiliki hubungan yang erat dengan nilai rs menjauhi 1 (korelasi tidak sempurna) yakni -0,414. Perubahan fungsi penggunaan lahan terjadi sebesar 61% atau 55 bangunan. Perubahan fungsi penggunaan lahan mayoritas terjadi pada permukiman/tempat tinggal menjadi permukiman/tempat tinggal dan showroom batik sebesar 60% atau 35 bangunan, sedangkan yang terkecil perubahan penggunaan lahan dari sawah/tanah kosong menjadi showroom batik sebesar 2% atau 1 bangunan.  Kata Kunci : Penambahan Luas Lahan Terbangun, Perubahan Fungsi Penggunaan Lahan, Perdagangan dan Industri Batik Abstract: Trading activities may give effect to the surrounding environment, especially in terms of land use. Trusmi Kulon village is a tourist village of batik, which has a number of showroom of 45 showroom. The activity had an impact on land use in the Village Trusmi Kulon. Trusmi Kulon village into a tourist village batik less regular and high density environments. It can be seen from the condition of the building and the traffic flow is pretty solid which resulted in poor circulation. This study aims to assess the development of trade and related land use in the batik industry Trusmi Kulon village, Plered, Cirebon regency. The method used is quantitative methods with techniques of quantitative descriptive analysis and correlation to examine the relationship between two variables. The results found that there was a closeness of relationship between variables with the addition of additional employment land awakened by rs value close to 1 (perfect correlation), which is 0.930. Evidenced by the results of the questionnaire have awakened the addition of land area 71% or the percentage of land area 1421 m2 woke increases. Expansion of the building by 74% or undergoing expansion and building of new 1055m2 building by 26% or 366m2. On the addition of variable labor with land use change function does not have a close relationship with the value of rs away from 1 (perfect correlation) which is -0.414. Function of land use change occurs at 61% or 55 buildings. Function of land use change occurs in the majority of settlement / residence to settlement / habitation and batik showroom at 60% or 35 buildings, while the smallest changes in land use of paddy / vacant land into batik showroom at 2% or 1 building. Keywords : Development of the Land Use, Land Addition Built, Land Use Change Function
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP AKTIVITAS RUANG TERBUKA PUBLIK DI LAPANGAN PANCASILA SIMPANG LIMA, SEMARANG Muhammad Ridha Azzaki; Djoko Suwandono
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.955 KB)

Abstract

Abstrak: Kawasan Simpang lima mempunyai fungsi kawasan sebagai central business district dengan kepadatan aktivitas tinggi oleh masyarakat yang berkunjung. Karena tingginya aktivitas yang terjadi di kawasan ini Pemerintah Kota Semarang mengeluarkan kebijakan dalam merevitalisasi ruang terbuka publik di kawasan Simpng lima pada akhir tahun 2010-2011 berguna untuk menyeimbangkan aktivitas tinggi dan mengoptimalkan fungsi ruang terbuka publik yang diperuntukan untuk masyarakat secara umum. Fenomena tersebut mengarahkan pertanyaan penelitian yaitu Bagaimana persepsi masyarakat terhadap aktivitas ruang terbuka publik di lapangan Pancasila Simpang lima, Semarang?. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persepsi masyarakat terhadap aktivitas ruang terbuka publik di lapangan Pancasila Simpang lima Semarang. Dengan tujuan tersebut maka sasaran yang dilakukan adalah identifikasi karakteristik dan fungsi ruang terbuka publik, identifikasi kondisi fisik fasilitas umum, identifikasi karakteristik pengguna, dan identifikasi karakteristik aktivitas. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa pada aspek karakteristik dan fungsi ruang terbuka publik yaitu fungsi sebagai wadah interaksi sosial, tipologi sebagai lapangan pusat kota (Central Square), aksesbilitas kawasan adalah cukup baik mudah dijangkau, kenyamanan adalah baik untuk beraktivitas, keamanan adalah cukup baik dari tindakan kejahatan, kebersihan adalah cukup baik kebersihan lingkungan, dan jangkauan pelayanan adalah pelayanan skala kota. Pada aspek kondisi fisik fasilitas umum yang tidak berfungsi dengan optimal adalah toilet umum, penerangan jalan dan tempat parkir, selain itu diantaranya berfungsi dengan baik. Pada aspek karakteristik pengguna yaitu alasan pemilihan lokasi untuk menghabiskan waktu luang, waktu berkunjung lebih banyak terjadi di malam hari, intensitas berkunjung dilakukan 1 minggu sekali, rekan berkunjung bersama dengan teman, dan moda transportasi menggunakan kendaraan pribadi. Pada aspek karakteristik aktivitas yaitu aktivitas sosial, rekreatif dan olah raga yang diantaranya lebih dominan aktivitas rekeatif yang dilakukan oleh pengunjung.Kunci  : Ruang Terbuka Publik, Fasilitas Umum, Persepsi Masyarakat Abstract: The region of Simpang lima has the function of the area as central business district with a high density of activity by people who visited. because of the high activity in this region of Semarang city government  developing policies for the revitalization of open space in the area of Simpang lima at the end of the year 2010-2011 useful to balance high activity and optimize the function of open space that is intended for the general public. This phenomenon leads to a research question, How do community perception of public open space activity in Pancasila field, Semarang?. The purpose of this research is to identify of characteristics and functions of open space, identify of physical condition of public facilities, identify of user characteristics, and identify of characteristics of the activity. The Results of the analysis that is on aspects of characteristics and functions of open space that functions as a place of social interaction, typology as a central square, accessibility is quite easy to reach, comfort is good to do activity, safety is pretty good from crime, environmental hygiene is maintained, and city-wide outreach. On aspects of physical condition of public facilities are not functioning optimally are toilets, street lighting and parking area, but it serves them well. on aspects of user characteristics are reasons for selecting the location for spending free time, time visited more dominant in the evenings, intensity to visited once in a week, more hanging out with friends, and transportation by private vehicle.on aspects of characteristics of the activity are social activity, recreation and sport are among more dominant rekeatif activities undertaken by visitors.Keywords: Open Space, Public Facilities, Community Perception
BENTUK KETAHANAN IKLIM KAWASAN BERSEJARAH DI KAMPUNG MELAYU SEMARANG Wakhidah Kurniawati; Kristiana Dwi Astuti
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.364 KB)

Abstract

ABSTRAKPerubahan iklim merupakan salah satu tantangan global yang paling signifikan yang dihadapi masyarakat dan lingkungan saat ini. Perubahan iklim memiliki implikasi terhadap alam, kehidupan sosial, dan juga kawasan warisan budaya. Perubahan iklim dan kerentanan lainnya menjadi bahaya untuk kawasan konservasi. Kita harus mempersiapkan alternatif terburuk dari perubahan iklim dalam rangka untuk melindungi situs warisan budaya dari kerusakan. Saat ini, daerah pelestarian warisan budaya di Semarang memiliki banyak masalah, seperti masalah banjir, rob, dan kondisi hidup yang tidak sehat. Banyak bangunan bersejarah yang rusak kondisinya dan tenggelam karena rob dan banjir. Jadi, kita perlu pemetaan wilayah untuk mengetahui apa dan bagaimana dampak dari perubahan iklim pada kawasan tersebut dan kemudian memecahkan masalah. Sementara masalah ini terselesaikan, kita dapat mempertahankan karakteristik kawasan cagar budaya, dan akan meningkatkan karakter seluruh kota serta membantu memberikan image baik bagi Semarang.Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis fenomena perubahan iklim yang ada di Kampung Melayu Semarang; 2) Mengidentifikasi karakteristik kerentanan di Kampung Melayu Semarang, 3) Menginvestigasi dampak perubahan iklim terhadap kerentanan kawasan, dan kemudian 4) Merumuskan bentuk ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim yang terjadi.Penelitian ini mencoba untuk menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Dan pendekatan yang digunakan untuk mendukung kegiatan penelitian ini adalah pendekatan spasial. Berdasar dari hasil penelitian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa bentuk ketahanan iklim kawasan bersejarah di Kampung Melayu Semarang berupa adaptasi transformasi bangunan dan no action. Dengan demikian ke depannya direkomendasikan kepada Pemerintah Kota Semarang untuk bisa mengatasi masalah banjir dan rob setempat agar bangunan-bangunan bersejarah yang ada tetap bisa dipertahankan dan Kampung Melayu bisa bertahan dari perubahan iklim yang ada.Kata Kunci: ketahanan iklim, kawasan warisan budaya, adaptasi, transformasi bangunan, no action ABSTRACT Climate change is one of the most significant global challenges faced by today's society and the environment. Climate change has implications for the nature, social life, and also the area of cultural heritage. Climate change and the vulnerability becomes a hazard to other conservation areas. We must prepare for the worst alternative of climate change in order to protect the cultural heritage sites of damage. Currently, the area of cultural heritage preservation in Semarang have many problems, such as flooding problems, rob, and unhealthy living conditions. Many historic buildings were damaged condition and rob and drowned because of flooding. So, we need to know what area mapping and how the impacts of climate change on the region, and then solve the problem. While this issue is resolved, we can maintain the characteristics of the heritage area, and will enhance the character of the whole city as well as help provide a good image for Semarang.Based on the above , this study aims to: 1 ) analyze the phenomenon of climate change in Kampung Melayu Semarang; 2 ) Identify the characteristics of vulnerability in Malay Kampung Semarang, 3 ) Investigate the impact of climate change on the vulnerability of the region, and then 4 ) Formulate form of resistance region to climate change is happening.This study tries to combine quantitative and qualitative methods. And approaches used to support research activities are spatial approach. Based on the results of the above study it can be concluded that the shape of the climate resilience of the historical district in Kampung Melayu Semarang form of adaptation the transformation of the building and no action. Thus the future of Semarang recommended to the Government to be able to cope with the flood problem of local historic buildings that were there can still be maintained and Kampung Melayu can last from existing climate change.Keywords : climate, cultural heritage areas, adaptation, transformation buildings, no action
BENTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA PESISIR BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PEKALONGAN Musaddun .; Kurniawati Wakhidah; Santy Paulla Dewi; Novia Sari Ristianti
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.643 KB)

Abstract

Abstrak: Indonesia memiliki garis pantai yang panjang dengan panjang pantai 81.000 km dan terbentang di sepanjang wilayah pesisirnya yang mempunyai berbagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi keberlanjutan pembangunan. Oleh karena itu dengan adanya beberapa potensi yang terdapat di kawasan pesisir tersebut, saat ini kawasan pesisir banyak yang dimanfaatkan sebagai aktivitas utama masyarakat. Begitu pula yang terjadi di kawasan pesisir Kabupaten Pekalongan dimana mempunyai beberapa potensi wisata pesisir yang dapat dikembangkan. Namun dalam perkembangannya, timbul berbagai macam permasalahan yang berkaitan dengan kawasan pesisirnya. Permasalahan tersebut apabila tidak ditindaklanjuti akan mempengaruhi keberlanjutan dan keberadaan wisata pesisirnya. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pengembangan wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan dalam mewujudkan keberlanjutan kawasan pesisir berupa konsep pengembangan, kebijakan dan pengelolaan serta pembiayaan kawasan. Pendekatan penelitian yang dipakai dalam studi ini adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini yang dilakukan dalam memetakan potensi dan masalah serta kondsi eksiting kawasan dalam menentukan arahahan pegembangan wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan melalui metode deskriptif analisis. Sedangkan pendekatan kuantitatif yang dilakukan adalah dalam menentukan lokasi prioritas yang akan dikembangkan sebagai wisata pesisir di Kabupaten Pekalongan dengan melihat keberlanjutannya melalui metode scoring dan pembobotan.      Kata Kunci : pengembangan, wisata, pesisir Abstract:. Indonesia has a long coastline with long sandy beaches and stretches 81,000 km along the coastal areas that have the potential that can be harnessed for sustainable development. Therefore, the presence of several potential contained in the coastal areas, many coastal areas currently utilized as the primary activity of the community. Similarly, occurring in coastal areas and Pekalongan regency, which had some coastal tourism potential that can be developed. But in its development, a wide range of issues arise relating to the coastal region. These problems, if not acted upon and will affect the sustainability of coastal tourism destinations. Based on this, the study aims to provide guidance on the development of coastal tourism in the District and the City of Pekalongan in realizing sustainability of coastal areas such as concept development, policy and management and finance areas. The research approach used in this study is a quantitative and qualitative approach. Qualitative approach in this study were done in mapping the potential and problems as well as in determining the region eksiting kondsi arahahan pegembangan coastal tourism in the District and the City of Pekalongan through descriptive analysis method. While the quantitative approach taken is to determine the location of which will be developed as a priority coastal tourism in Pekalongan to see sustainability through scoring and weighting methods. Keywords: development, tourism, coastal
KOTA SEMARANG MENUJU KOTA KREATIF Lupita Fajri Anisa; Diah Intan Kusumo Dewi
Ruang Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.013 KB)

Abstract

Abstrak: Adanya peningkatan iklim kreatif memunculkan banyaknya komunitas-komunitas kreatif yang mulai menggunakan ruang-ruang di Kota Semarang untuk beraktivitas. Semakin banyaknya komunitas kreatif yang bermunculan membuat Kota Semarang memiliki peluang untuk berkembang menjadi Kota Kreatif. Menjadikan Kota Semarang sebagai Kota Kreatif tentu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif serta alat analisis yang digunakan adalah AHP (Analitycal Hierarchi Proses) yang bertujuan untuk mengkaji peran dan pengaruh komunitas kreatif dalam  pengembangan kreativitas di Kota Semarang serta melihat peluang Kota Semarang menjadi sebuah kota yang kreatif. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Kota Semarang sudah  memiliki cukup modal untuk berkembang menjadi kota yang kreatif. Modal tersebut berupa komunitas-komunitas kreatif yang secara konsisten menggunakan dan memanfaatkan ruang-ruang publik di Kota Semarang. Aktivitas-aktivitas komunitas kreatif di Kota Semarang memiliki peran tersendiri didalam membantu pengembangan Kota Semarang khususnya membuka peluang untuk menjadi kota yang kreatif. Berdasarkan hal tersebutlah maka dapat dikatakan bahwa Kota Semarang memiliki peluang untuk mengembang menjadi kota yang kreatif. Meskipun demikian peluang tersebut masih tergolong kecil karena beberapa kriteria masih belum tumbuh optimal di Kota Semarang seperti pengembangan ekonomi kreatif, penyelenggaraan event-event kreatif serta dukungan pemerintah yang masih belum mencukupi sehingga diperlukan pengoptimalan untuk meningkatkan kriteria-kriteria yang belum tumbuh optimal tersebut.Kata Kunci : Kreativitas, Komunitas Kreatif, Kota Kreatif  Abstract: The increased creativity eliciting many creative communities to begin using many space in the Semarang city. The increasing number of community creative popping up, make the Semarang city has a chance to develop into the Creative City. To make the Semarang City as the Creative City will not be conducted easily. This research using a qualitative quantitative with the descriptive analysis and then using AHP ( Analitycal Hierarchi Process ) as a tool of quantitative analyse. It aimed to assessing the role and influence of creative communities in the development of creativity in the Semarang City. And also to see an opportunities of Semarang City to becoming into a Creative City. The result of this research found that the Semarang City has enough to develop into a Creative City. Semarang City has assets to be a Creative City. That is creative communities who always consistently using many public space in Semarang City. Creative communities ' s activities in the Semarang City having its own role in assisting development of the Semarang CIty especially to open up the opportunity to become a Creative City. Based on those so it can be said that the Semarang City  has a chance to inflate become a Creative City. However, those odds are still relatively small, because some of the criteria are still not growing optimal in Semarang City such as a creative economic development, organizing creative events and Government support. They are still not sufficient so it is necessary to improve the optimization criteria are yet to grow optimally.Keywords : Creativity, Creative Communities, Creative City

Page 1 of 1 | Total Record : 8