cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2017)" : 20 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PERILAKU KONSUMTIF REMAJA DI KOTA DENPASAR Wijayanti, Astuti; Astiti, Dewi Puri
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p05

Abstract

Perilaku konsumtif remaja merupakan tindakan yang terlihat secara nyata dalam mendapatkan, mengkomsumsi, dan menghabiskan barang hasil industri dan jasa tanpa batas dan lepas kendali yang ditandai dengan kehidupan mewah dan berlebihan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh faktor intermal dan faktor eksternal. Salah satu faktor internal yang dimaksud adalah konsep diri, sehingga tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan perilaku konsumtif remaja di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang melibatkan remaja di Kota Denpasar yang berjumlah 318 orang dengan rentang usia 15 – 18 tahun, yang dipilih berdasarkan teknik simple random sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua skala pengukuran. Skala yang pertama yaitu skala konsep diri (r : 0,895) dan skala kedua yaitu skala perilaku konsumtif (r : 0,905) Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan hasil rxy = -0,633. Hasil tersebut berarti bahwa terdapat hubungan negatif antara konsep diri dengan perilaku konsumtif, yang berarti bahwa semakin rendah konsep diri remaja, semakin tinggi perilaku konsumtif remaja dan begitu pula sebaliknya. Konsep diri berpengaruh sebesar 40% terhadap perilaku konsutif, sedangkan sisanya sebesar 60% dipengeruhi oleh faktor lain. Faktor lain yang dimaksud adalah yaitu kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial dan keluarga (Sumartono, 2002).   Kata Kunci : Konsep Diri, Perilaku Konsumtif dan Remaja
KEPUASAN PERKAWINAN PASANGAN PADA GELAHANG Sanjiwani, Anak Agung Sri; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.965 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p19

Abstract

Perkawinan pada gelahang merupakan suatu fenomena yang relatif baru bagi orang Bali yang beragama Hindu. Perkawinan pada gelahang dikatakan berbeda dengan dua bentuk perkawinan lainnya yaitu perkawinan biasa dan nyentana. Perbedaan tersebut adalah status pasangan yang setara yaitu sebagai purusa dan pasangan yang memilih perkawinan pada gelahang akan memiliki kewajiban dan tanggung jawab ganda yang tidak dialami oleh pasangan pada perkawinan biasa atau nyentana. Situasi tersebut kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan perkawinan pada gelahang. Mayoritas pasangan menginginkan hubungan perkawinan yang setara dan pasangan harus selalu menyesuaikan pemahaman pribadi terkait apa yang diharapkan terhadap pasangan pada perannya masing-masing untuk mendapatkan kepuasan perkawinan. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menggali kepuasan perkawinan pasangan pada gelahang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara dan observasi dengan melibatkan tiga pasangan yang menjalani perkawinan pada gelahang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan terkait beratnya pelaksanaan perkawinan pada gelahang tidak memengaruhi pasangan dalam mengevaluasi kepuasan perkawinan. Hal ini dapat terjadi karena perkawinan pada gelahang merupakan satu-satunya solusi bagi kedua belah pihak pasangan. Pasangan perkawinan pada gelahang menunjukkan kepuasan menyangkut 1) perilaku pasangan yang sesuai dengan harapan; 2) keberadaan anak yang sangat berharga; 3) hubungan yang terjalin baik dengan orangtua serta mertua; dan 4) dukungan orang sekitar terkait pelaksanaan perkawinan pada gelahang.  Perasaan kurang puas juga dirasakan pasangan perkawinan terkait kondisi ekonomi dan sifat pasangan. Penggunaan kalimat yang sederhana dengan bahasa sehari-hari menjadi saran untuk peneliti selanjutnya agar dapat memudahkan pengambilan data pada responden penelitian.   Kata Kunci: Kepuasan perkawinan, perkawinan pada gelahang, kewajiban ganda
HUBUNGAN KONFORMITAS DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP AGRESIVITAS PADA REMAJA MADYA DI SMAN 7 DENPASAR Amanda, Anak Agung Ayu Nisha; Tobing, David Hizkia
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.882 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p10

Abstract

Pengaruh normatif dan pengaruh informasi berdampak pada tingkah laku seseorang yang disebut dengan konformitas. Konformitas bisa berdampak negatif dan positif, konformitas negatif contohnya adalah tawuran yang dapat merujuk ke tindak agresivitas. Remaja yang memiliki rentang usia 13-18 rentan terhadap tindak agresivitas terkait dengan emosi remaja yang fluktuatif (Rice, 2001). Agresivitas yang tinggi dapat diturunkan dengan kecerdasan emosional yang tinggi, karena dengan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi seseorang mampu mengenali emosi diri dan orang lain dan mampu mengelola emosi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan konformitas dan kecerdasan emosional terhadap agresivitas pada remaja madya di SMAN 7 Denpasar. Subjek dalam penelitian ini adalah 226 orang siswa kelas I dan II SMAN 7 Denpasar berusia antara 15-18. Instrumen penelitian ini adalah skala agresivitas (? = 0.882) Buss dan Perry (dalam Bryant & Smith, 2001), skala konformitas (? = 0.902) , dan skala kecerdasan emosional (? = 0,872) (Simarmata, 2005). Hasil analisis regresi berganda menghasilkan R= 0,452 (F= 28,667; p< 0,05) dapat dikatakan bahwa konformitas dan kecerdasan emosional memiliki hubungan terhadap agresivitas. Hasil korelasi parsial antara konformitas dengan agresivitas dengan mengontrol variabel kecerdasan emosional adalah 0,300 (p<0,05) yang berarti konformitas dengan agresivitas memiliki hubungan yang positif yang artinya adalah semakin tinggi konformitas, semakin tinggi pula tingkat agresivitas. Hasil korelasi parsial antara kecerdasan emosional dengan agresivitas dengan mengontrol variabel konformitas adalah -0,256 (p<0,05) yang berarti kecerdasan emosional dengan agresivitas memiliki hubungan yang negatif yang artinya semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, maka tingkat agresivitasnya semakin rendah.   Kata Kunci : Agresivitas, Konformitas, Kecerdasan Emosional, Remaja Madya
PERBEDAAN KECERDASAN EMOSI ANTARA PENDENGAR MUSIK HARDCORE DENGAN PENDENGAR MUSIK KLASIK Dharmasasmitha, Virgina; Widiasavitri, Putu Nugrahaeni
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.149 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p01

Abstract

Musik dapat menjadikan seseorang berintraksi dengan orang lain, dan juga bisa mempengaruhi suasana hati seseorang  (Schwartz & Fouts, 2003). Kecerdasan emosi dapat distimulasi oleh musik. Para ilmuwan sering membicarakan bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu korteks (kadang-kadang disebut neokorteks) sebagai bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurangi emosi yaitu sistem limbik, padahal keduanya mempunyai hubungan. Interaksi yang disebabkan rangsangan bunyi musik dapat menentukan kecerdasan emosi. Musik hardcore yang termasuk dalam musik keras dan musik klasik yang termasuk dalam musik lembut merupakan jenis musik yang berbeda. Irama musik yang berbeda akan menyebabkan kondisi emosi yang berbeda pula. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparasi. Subjek penelitian ini adalah remaja akhir yang mendengarkan musik hardcore dan musik klasik di Bali sebanyak 100 orang dengan kriteria sering mendengarkan musik, berusia antara 18-21. Metode pengambilan sampelnya dengan metode Simple Random Sampling. Metode pengambilan datanya dengan Skala Kecerdasan Emosi dengan reliabilitas 0,939. Normalitas variabel kecerdasan emosi sebesar 0,925 dan homogenitas variabel kecerdasan emosi adalah 0,204. Metode analisis datanya dengan teknik independent sample t test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kecerdasan emosi antara pendengar musik hardcore dengan pendengar musik klasik dengan nilai t -0,020 dan nilai signifikansi 0.984. Artinya tidak ada perbedaan kecerdasan emosi antara pendengar musik hardcore dengan pendengar musik klasik.   Kata kunci : Kecerdasan Emosi , Pendengar Musik, Hardcore, Klasik 
PERAN POLA ASUH AUTORITATIF DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PROBLEM FOCUSED COPING PADA REMAJA AKHIR DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FK UNUD Larashati, Made Ayu Praditya; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.572 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p15

Abstract

Problem focused coping adalah usaha yang digunakan individu untuk mengurangi stres yang dihadapi dalam mengatasi masalah secara langsung dengan mengelola masalah tersebut. Taraf problem focused coping dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman usia dini seperti pola pengasuhan orang tua. Di samping itu kemampuan berpikir jernih dan bersikap tenang membantu individu untuk mengendalikan diri dalam menghadapi masalah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran pola asuh autoritatif dan kecerdasan emosional terhadap problem focused coping pada remaja akhir. Subjek penelitian ini adalah 156 remaja akhir di Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Instrumen penelitian ini adalah skala problem focused coping, skala kecerdasan emosional, dan skala pola asuh autoritatif. Hasil yang diperoleh dari analisis regresi ganda menunjukkan nilai R=0,510 (p<0,05) dan nilai koefisien determinasi sebesar 0,260, dengan demikian dapat disebutkan bahwa pola asuh autoritatif dan kecerdasan emosional secara bersama-sama berperan sebesar 26% terhadap problem focused coping pada remaja akhir. Koefisien beta terstandarisasi kecerdasan emosional sebesar 0,484 dan signifikansi 0,000 (p<0,05) menunjukkan kecerdasan emosional berperan terhadap problem focused coping. Koefisien beta terstandarisasi pola asuh autoritatif sebesar 0,084 dan signifikansi 0,240 (p>0,05) menunjukkan pola asuh autoritatif tidak berperan terhadap problem focused coping.   Kata Kunci: problem focused coping, kecerdasan emosional, pola asuh autoritatif, remaja akhir
HUBUNGAN ANTARA KETIDAKAMANAN KERJA DAN ETOS KERJA PADA KARYAWAN ALIH DAYA DI BALI Tuban, I Gede Ayana Wiria Partha; Indrawati, Komang Rahayu
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.049 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p06

Abstract

Salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan adalah memanfaatkan karyawan alih daya untuk mengurangi jumlah karyawan tetap. Perusahaan menggunakan karyawan alih daya bertujuan untuk memaksimalkan pekerjaan pokok perusahaan dan tidak dibebani oleh pekerjaan pendukung. Dari tahun 2005-2012, jumlah perusahaan alih daya yang tercatat di Kabupaten Badung sebanyak 42 perusahaan. Penggunaan karyawan alih daya menyebabkan perusahaan lebih fokus pada pekerjaan pokok, sedangkan kerja pendukung sepenuhnya dikelola oleh perusahaan alih daya. Sistem  kerja alih daya pada umumnya menguntungkan perusahaan dan merugikan karyawan alih daya. Hal ini dikarenakan tidak adanya jenjang karir dan kejelasan masa depan kerja karyawan alih daya. Ketidakjelasan jenjang karir karyawan alih daya dan masa depan kerja tidak menentu membuat karyawan alih daya berpotensi mengalami ketidakamanan kerja. Berbagai pengaruh yang diakibatkan oleh ketidakamanan kerja menyebabkan  karyawan alih daya merasa dipandang sebelah mata oleh perusahaan dan merasa tidak adil dengan status pekerjaannya sebagai karyawan alih daya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketidakamanan kerja dan etos kerja pada karyawan alih daya di Bali. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster sampling. Responden dalam penelitian ini adalah karyawan alih daya yang bekerja di Kabupaten Badung sebanyak 116 karyawan. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala ketidakamanan kerja dan skala etos kerja. Koefisien reliabilitas skala ketidakamanan kerja adalah 0,928 dan skala etos kerja adalah 0,960. Penelitian ini menggunakan analisis data korelasi pearson product moment. Hasil dari penelitian diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,282 dengan nilai probabilitas sebesar 0,002 (0,002<0,05), sehingga dapat dinyatakan terdapat hubungan yang negatif antara ketidakamanan kerja dengan etos kerja. Koefisien determinasi (R2) diperoleh sebesar 0,079 yang bermakna 7,9% dari etos kerja dapat dijelaskan oleh variabel ketidakamanan kerja, sedangkan sisanya sebesar 92,1% dapat dijelaskan oleh faktor yang lain.   Kata kunci: karyawan alih daya, ketidakamanan kerja, etos kerja.
PENGARUH STIGMA TERHADAP SELF ESTEEM PADA REMAJA PEREMPUAN YANG MENGIKUTI EKTRAKURIKULER TARI BALI DI SMAN 2 DENPASAR Anggreni, Ni Wayan Yuli; Herdiyanto, Yohanes K.
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.333 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p20

Abstract

Pendidikan di sekolah membuat remaja dapat mengembangkan keterampilan sesuai dengan minat dan kemampuannya. Pendidikan tersebut hanya mengutamakan aspek fisik dan kognitif sehingga perlu disadari bahwa terdapat aspek psikososial yang hendaknya ditumbuhkan dalam proses pembelajaran yaitu self esteem. Self esteem adalah evaluasi yang dilakukan individu mengenai seberapa besar kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan dan keberhargaan, serta memainkan peran penting dalam memprediksi penyesuaian terhadap masa depan. Perkembangan self esteem pada remaja tidak terlepas dari lingkungan sosialnya, mulai dari orang tua, teman sebaya dan masyarakat sekitar serta guru di sekolah yang seringkali memberikan label pada remaja tersebut (Herlina, 2007). Pemberian label akan memunculkan stereotip, separation dan diskriminasi sehingga menjadi sebuah stigma. Crocker (2002) menyatakan stigma memiliki peranan terhadap self esteem. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen yang menggunakan desain kuasi eksperimen nonequivalent control group design. Peneliti menyebarkan skala self esteem pre-test dan skala self esteem  post-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang terdiri dari 44 item, teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh. Responden dalam penelitian ini adalah remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar, sebanyak 35 orang. Seluruh subjek dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari kelompok eksperimen 1, eksperimen 2 dan kelompok kontrol. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan one way anova. Hasil dari penelitian ini menunjukan probabilitas 0,003 (p)<0,05. Hal ini berarti ada pengaruh stigma terhadap self esteem remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar. Stigma positif maupun stigma negatif berpengaruh negatif terhadap self esteem artinya baik stigma positif maupun stigma negatif membuat self esteem menurun pada remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa stigma memberikan pengaruh terhadap menurunnya self esteem remaja perempuan yang mengikuti ektrakurikuler tari Bali di SMAN 2 Denpasar.   Kata Kunci : Stigma, Self Esteem, Eksperimen, Remaja Perempuan
PERBEDAAN SUBJECTIVE WELL BEING PADA IBU DITINJAU DARI STRUKTUR KELUARGA DI KOTA DENPASAR Dewi, Gina Sonia Martha; Marheni, Adijanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.721 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p11

Abstract

Ilmu psikologi tidak hanya studi yang membahas tentang kelemahan tetapi juga studi tentang kekuatan dan kebijakan individu yang kemudian disebut sebagai Psikologi Positif. Salah satu pokok bahasan dalam psikologi positif adalah terkait dengan subjective well being individu. Terdapat enam prediktor subjective well being individu dimana salah satu prediktor tersebut adalah hubungan sosial yang positif. Kelompok sosial terkecil didalam masyarakat adalah keluarga. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analisis Independent Sample T-test, teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu two stage area sampling. Subjek dalam penelitian ini adalah ibu yang tinggal pada struktur keluarga nuclear family (N=60) dan struktur keluarga extended family (N=60) dengan rentang usia 18-40 tahun. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala subjective well being sebanyak 27 aitem (?= 0,857).  Hasil dari penelitian ini diperoleh t hitung pada Equal varians assumed sebesar 2,519 dengan probabilitas 0,013 atau berada dibawah 0,05 (p<0,05), maka Ha diterima, atau dapat dikatakan kedua kelompok berbeda secara signifikan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan subjective well being pada ibu yang tinggal dalam struktur keluarga nuclear family dengan ibu yang tinggal dalam struktur keluarga extended family.   Kata Kunci : Subjective well being, Ibu, Extended Family, Nuclear Family
TUAH KETO DADI NAK LUH BALI: MEMAHAMI RESILIENSI PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KDRT DAN TINGGAL DI PEDESAAN Wedaningtyas, Putu Ayu Meirina Pradnya Paramitha; Herdiyanto, Yohanes K.
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.43 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p02

Abstract

KDRT merupakan permasalahan sosial yang identik dengan perempuan, utamanya pada daerah yang dinaungi budaya patriarki, seperti Bali salah satunya. Melalui penerapan konsep purusa-pradana, para perempuan dituntut untuk mampu mempertahankan eksistensinya dalam keluarga sebagaimanapun menekannya suatu keadaan, tidak terkecuali pada kasus KDRT. Perempuan masih ditabukan untuk bercerai ,. Individu yang demikian, dapat diistilahkan sebagai individu yang resilien. Resiliensi merupakan suatu proses aktif untuk mampu memutuskan bangkit, menghadapi, mampu memperkuat diri dan tetap melaksanakan perubahan sehubungan dengan cobaan yang sedang dialaminya (Grotberg dalam Dewi, Djoenaina, & Melisa., 2004). Pada penelitian yang melibatkan satu orang perempuan sebagai responden, didapatkan bahwa resiliensi pada Perempuan Bali terbentuk dari adanya nilai-nilai keyakinan pada dirinya yang mendorong individu untuk bersedia belajar dan beradaptasi selama menjalani kehidupan berumah tangga.   Kata Kunci: KDRT, Perempuan Bali, Resiliensi
PERAN POLA ASUH AUTORITATIF, EFIKASI DIRI, DAN PERILAKU PROSOSIAL TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA REMAJA AKHIR DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Putri, Putu Novia Arya; Rustika, I Made
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.674 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i01.p16

Abstract

Kesejahteraan psikologis merupakan aspek penting yang menentukan kualitas hidup individu. Taraf kesejahteraan psikologis dapat ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Dua dari faktor internal adalah efikasi diri dan perilaku prososial, sedangkan salah satu faktor eksternal adalah pola asuh autoritatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pola asuh autoritatif, efikasi diri, dan perilaku prososial terhadap kesejahteraan psikologis pada remaja akhir. Subjek pada penelitian ini adalah 129 remaja akhir di Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Instrumen pada penelitian ini adalah skala kesejahteraan psikologis, skala pola asuh autoritatif, skala efikasi diri, dan skala perilaku prososial. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa pola asuh autoritatif, efikasi diri, dan perilaku prososial secara bersama-sama berperan terhadap kesejahteraan psikologis. Sumbangan efektif pola asuh autoritatif, efikasi diri, dan perilaku prososial terhadap kesejahteraan psikologis sebesar 66,6%. Koefisien beta terstandarisasi efikasi diri sebesar 0,669 (p<0,05), menunjukkan bahwa efikasi diri berperan secara signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Koefisien beta terstandarisasi perilaku prososial sebesar 0,178 (p<0,05), menunjukkan bahwa perilaku prososial berperan secara signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Koefisien beta terstandarisasi pola asuh autoritatif sebesar 0,104 (p>0,05), menunjukkan bahwa pola asuh autoritatif tidak berperan secara signifikan terhadap kesejahteraan psikologis.   Kata Kunci: kesejahteraan psikologis, pola asuh autoritatif, efikasi diri, perilaku prososial

Page 2 of 2 | Total Record : 20