cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2018): April 2018" : 10 Documents clear
Eksistensi Bangunan dan Kawasan Bersejarah di Kota Manado dan Peranannya sebagai Urban Heritage Cynthia E.V Wuisang; Frits O.P Siregar; Faizah Mastuti
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.654 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p03

Abstract

Perkembangan Kota Manado dilihat dari berbagai aspek kehidupan di dalam perkotaan terutama pertumbuhan penduduk, perkembangan iptek dan dinamika berbagai kegiatan. Aspek-aspek tersebut akan membawa perubahan dalam pemanfaatan ruang dan lahan di perkotaan, fungsi lingkungan dan perubahan karakteristik dan perkembangan kotanya. Perubahan yang terjadi jika dibiarkan akan berakibat terhadap penurunan kualitas dan citra lingkungan. Kota Manado memiliki kekayaan bangunan dan kawasan bersejarah yang perlu diketahui untuk ditetapkan sebagai pusaka kota. Di dalam konteks preservasi dan konservasi kota-kota yang mengandung nilai sejarah, penentuan bangunan dan kawasan bersejarah pada sebuah kota sangat signifikan dan penting. Paper ini mengevaluasi bangunan-bangunan dan kawasan bersejarah yang ada di Kota Manado dalam rangka preservasi dan konservasi kota. Variabel yang penelitian yang digunakan adalah bangunan dan kawasan yang memiliki nilai-nilai budaya dan bersejarah sedangkan metoda yang digunakan adalah riset kualitatif dengan melakukan interpretasi foto (rekaman visual dan dokumentasi), wawancara mendalam dan pendekatan persepsi masyarakat yang tinggal di Kota Manado. Hasil penelitian menunjukkan beberapa bangunan dan kawasan sejarah yang diidentifikasi dalam penelitian ini memiliki nilai signifikan sebagai warisan pusaka kota. Secara kualitatif, beberapa bangunan bersejarah belum/kurang dikenal masyarakat kota, mengingat kenyataan bahwa pemerintah kota kurang melakukan tindakan untuk melestarikan artefak urban dan lokasi bersejarah. Kata kunci: bangunan peninggalan, kawasan bersejarah, urban heritage, preservasi, konservasi, Manado
Sumber Air dalam Ruang Budaya Masyarakat Desa Toyomerto Singosari, Malang Ema Yunita Titisari; - Antariksa; Lisa Dwi Wulandari; - Surjono
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.998 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p08

Abstract

Pada akhir era Majapahit, umat Budha mendirikan bangunan suci di dekat sumber air Sumberawan Desa Toyomerto dengan tujuan untuk memperkuat khasiat air dan mengubahnya menjadi tirta amerta. Selain bermakna suci dan digunakan untuk upacara ritual, air Sumberawan juga digunakan untuk mengairi sawah dan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat desa. Setiap tahun, mereka mengadakan Slametan Banyu. Kajian ini menyoroti sumber air dalam ruang budaya masyarakat Desa Toyomerto, khususnya dikaitkan dengan upaya menjaga kelestarian sumber air. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan antropologi-historis dan antropologi-ekologi. Data-data dianalisis dengan teknik analisis wacana. Wacana yang dianalisis adalah sumber air dari perspektif budaya. Hasil kajian menunjukkan upaya masyarakat Desa Toyomerto dalam menjaga kelestarian sumber air tak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga secara transendental. Pendirian candi di sumber air, mitos, dan cerita-cerita rakyat yang dipercaya kebenarannnya oleh masyarakat mencegah kemungkinan terjadinya kerusakan sumber air. Kelestarian sumber air dijaga dengan jalan menjaga keseimbangan hubungan vertikal-transendental dan horisontal-sosial. Kata kunci: sumber air, ritual, ruang budaya
Kontribusi Pencahayaan Buatan terhadap Kualitas Visual Bangunan pada Malam Hari Ariani Mandala; Vania Sheila
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.221 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p04

Abstract

Bangunan-bangunan bersejarah umumnya memiliki langgam arsitektur yang khas dan detail ornamen khusus sehingga memberikan impresi tersendiri bagi pengamat. Keunikan arsitekturnya dapat dengan mudah dieksplorasi pada saat terpapar cahaya di siang hari. Pada malam hari, pencahayaan buatan mengambil peran dalam menghadirkan kualitas visual bangunan bersejarah tersebut. Pencahayaan buatan berpotensi meningkatkan kualitas visual, dan sebaliknya juga dapat melemahkan bila tidak diaplikasikan dengan tepat. Penelitian ini akan mengeksplorasi kualitas visual bangunan-bangunan bersejarah di Kawasan Simpang Lima, Semarang mencakup Gedung Lawang Sewu, Wisma Perdamaian, dan Museum Mandala Bhakti. Kawasan tersebut menarik untuk diteliti karena merupakan salah satu landmark kota Semarang dan bangunan di sekitarnya memiliki variasi sistem pencahayaan buatan pada fasadnya. Analisis dilakukan dengan membandingkan kualitas visual bangunan di Kawasan Simpang Lima pada siang hari dan malam hari berdasarkan observasi di lapangan, dookumentasi objek, dan penilaian persepsi visual responden. Ditemukan penurunan kualitas visual pada malam hari terdapat pada seluruh objek studi yang diteliti. Kontribusi sistem pencahayaan buatan terutama aspek teknik pencahayaan, luminasi dan warna cahaya berperan besar dalam mereduksi kualitas visual bangunan. Kata kunci: kualitas visual; pencahayaan buatan; Kawasan Simpang Lima Semarang
Proses Terbentuknya Teritorialitas pada Permukiman Padat Penghuni di Kampung Jawa, Denpasar Ni Ketut Ayu Intan Putri Mentari Indriani
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.12 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p09

Abstract

Teritorialitas merupakan salah satu aspek penting dalam bidang ilmu arsitektur karena berkaitan dengan fungsi dari teritori sebagai sebuah perwujudan dari perilaku keruangan seseorang untuk mencapai privasi tertentu. Teritorialitas sangat identik dengan rasa kepemilikan, upaya kontrol, dan mekanisme defensif terhadap suatu tempat atau ruang. Pada permukiman padat penghuni di perkotaan, khususnya pada kawasan permukiman Kampung Jawa Denpasar, ruang menjadi sesuatu yang sangat berharga. Fakta tersebut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam berbagi dan memaknai sebuah ruang. Tingginya kebutuhan terhadap ruang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan yang cukup, memicu terjadinya fenomena-fenomena teritorialitas di lingkungan permukiman yang menarik untuk dikaji. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan guna mengetahui bagaimana proses terbentuknya teritorialitas di kawasan studi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menampilkan data-data primer hasil observasi dan wawancara di lapangan serta membandingkannya dengan teori yang terkait. Secara umum dari hasil penelitian dapat disimpukan bahwa tekanan lingkungan berupa keterbatasan ruang sangat mempengaruhi teritorialitas yang terbentuk di permukiman, serta nilai fleksibilitas yang terkandung dari ruang tersebut. Kata kunci: teritorialitas, permukiman padat, Kampung Jawa, Kota Denpasar
Perubahan Identitas Tempat dan Konflik Ruang di Pinggiran: Studi Awal Tentang Urban Habitus dalam Transformasi Ruang di Kota Depok, Jawa Barat Hafid Setiadi
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.338 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p05

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengemukakan gagasan tentang struktur yang terkandung dalam Teori Habitus Sosial serta temuan-temuan awal yang dipandang relevan dengan gejala transformasi ruang di Kota Depok Jawa Barat; sebagai wilayah pinggiran yang sedang berkembang pesat. Cara pandang ini mengisyaratkan adanya keterlibatan pusat, aktor dominan, dan resistensi sosial budaya dalam proses transformasi ruang. Berkenaan dengan itu, pembahasan berbagai temuan awal yang diperoleh baik melalui observasi lapang, studi literatur, maupun wawancara menekankan pada saling keterkaitan antara perubahan identitas tempat dan konflik ruang yang berlangsung dalam suatu pola kekuasaan tertentu. Berlandaskan pada konsep “struktur yang menstruktur” dan “struktur yang terstruktur”, hasil studi menunjukkan bahwa perubahan wujud fisik, desain arsitektur, dan fungsi bangunan tidak selalu berimplikasi pada perubahan atau bahkan hilangnya identitas tempat. Hal ini tergantung pada tingkat kesadaran spasial penduduk sesuai dengan sejarah panjang dari pengalaman serta kontribusi sosial mereka pada tempat tertentu. Namun demikian, daya tahan identitas suatu tempat dapat meningkatkan konflik ruang sebagai cermin dari persaingan simbol antara aktor-aktor urban demi memperkuat keberadaan mereka masing-masing. Kata kunci: identitas tempat, konflik ruang, urban habitus, transformasi ruang urban
Editorial: Globalised World and Local Cultures Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.465 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p01

Abstract

Global development contains a major paradox. On the one hand it tends towards a uniformity in capitalist economics (state neo-corporatism, increasing commodification of public assets, informational monopolies etc), but on the other to a diversity of social forms that rise above traditional cultures and practices. Globalisation therefore has its own culture and communities generated by production and diffusion of electronic information (Facebook, Linkedin, Twitter, WhatsApp, professional and educational networks etc). While this context exists across space it is not fundamentally place based like local communities where people raise their children, create social networks based on material needs and worship their gods. There exists an uneasy tension between these two events, the space based electronic culture and the place based communal culture. Hence the question arises as to whether resistance is either necessary or possible against globalisation which appears to constitute an enduring and irresistible force. Is it possible to guarantee both cultural forms, or is one (the global) destined to exterminate the other? If so how can this be prevented? Local cultures are also faced with their own internal dynamics, usually tending towards stasis, e.g Ajeg Bali movement taking place in Bali Island. But cultures that do not adapt and develop are threatened with extinction. The fundamental difference between the global and the local lies in their structure. Globalisation is fundamentally an economic form that derives its organisation from the ideological tenets of capitalism. Local cultures derive theirs from tradition, religion, social relations, and language. There are clearly a plethora of responses to these questions. For example is a third culture possible, one that merges the best of both systems, the space based and the place based urban life? Other questions follow. ‘Can there ever be “the best of both worlds”? in which case what is to be sacrificed from each social form? Given that capitalism as a system is largely out of control and has no moral core, no bargain seems likely or reasonable, at least from the local to the global. In addition, arguing logically against the seduction of the capitalist system seems pointless – we all want new cars, jobs, clothes and more significantly, our desires fulfilled in a world where needs have largely been transcended. Contextualizing its fifth volume of publication within this context, Journal Ruang-Space offers eight articles. The first one is by Dwi Ely Wardani and M. Sani Roychansyah entitled Inklusivitas Jalur Pedestrian Di Sekitar Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Studi Kasus Penggal Jln. A.Yani, Jln. Garuda Mas dan Jln.Menco Raya Kartasura, Jawa Tengah (The Inclusivity of Pedestrian Paths surrounding the University of Muhammadiyah Surakarta, Case Study of A. Yani Road, Garuda Mas Road and Menco Raya Kartasura Road, Centre of Java Island). The second writing is authored by Cynthia E.V. Wuisang, Frits O.P. Siregar, and Faizah Mastuti. The title of this joint publication is Eksistensi Bangunan dan Kawasan Bersejarah di Kota Manado dan Peranannya sebagai Urban Heritage (The Existence of Historical Buildings and Zones in Manado City and Their Roles as Urban Heritages). The third publication is written by Ariani Mandala and Vania Sheila, entitled Kontribusi Pencahayaan Buatan terhadap Kualitas Visual Bangunan pada Malam Hari: StudiKasus Bangunan Bersejarah di Sekitar Kawasan Simpang Lima, Semarang (The Contributions of Man Made Lightings towards the Visual Quality of Buildings in the Evening: Case Study of Historical Buildings Situated around Simpang Lima Zone in Semarang City). The fourth article is composed by Hafid Setiadi with a title of Perubahan Identitas Tempat dan Konflik Ruang di Pinggiran: Studi Awal Tentang Urban Habitus dalam Transformasi Ruang di Kota Depok, Jawa Barat (Change in Identity of a Place and Spatial Conflict in a Peripheral Area: A Preliminary Studi of Urban Habitus and Spatial Transpormation of Depok City, West of Java Island). The fifth article is by Edi Subagijo and Tonny Suhartono with a given title of Model Pengembangan Kriteria Desain Rusunawa Berdasarkan Kepuasan Penghuni: Studi Kasus, Rumah Susun Sederhana Sewa Kutobedah di Kota Malang (Development Model for Design Criteria of Rental High-rise Housing Unit Based on Occupants' Satisfaction: Case Study of Kutubedah Rental High-rise Housing Unit in Malang City). The sixth paper is by Angela Upitya Paramitasari, Witanti Nur Utami, and Aria Adrian. The tittle of this paper is Identifikasi Kriteria Perancangan ‘Eks Palaguna’ di CBD Kota Bandung Berdasarkan Identitas Kota melalui Sense of Place (The Identification of Design Criteria for Ex Palaguna in Bandung Central Business District based on Urban Identity and Sense of Place). The seventh article is authored by Ema Yunita Titisari, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari, and Surjono, entittled Sumber Air dalam Ruang Budaya Masyarakat Desa Toyomerto Singosari, Malang (Water Sources in Cultural Space of the Toyomerta Community in Singosari, Malang). The last one is written by Ni Ketut Ayu Intan Putri Mentari Indriani, entitled The Formation of Territoriality within a Crowded Settlement of Kampung Jawa, in Denpasar City (Proses Terbentuknya Teritorialitas pada Permukiman Padat Penghuni di Kampung Jawa, Denpasar).
Model Pengembangan Kriteria Desain Rusunawa Berdasarkan Kepuasan Penghuni: Studi Kasus, Rumah Susun Sederhana Sewa Kutobedah di Kota Malang Edi Subagijo; Tonny Suhartono
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.928 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p06

Abstract

The development of rented multi-storey housing unit (rusunawa) is a logical event in the growth of cities. Sooner or later the development of rusunawa will be increasingly implemented in urban areas in Indonesia. Despite the fact that people will be housed in rusunawa, it is important that kinship in the community should be maintained, thus supporting communal ties, social interaction and neighbourliness. Results of the following study into community identity support these general principles. The research method adopted used both quantitative and qualitative techniques to assess residents' satisfaction, behavioral patterns and forms of social interaction. The research suggests design criteria to support residents' satisfaction with their dwelling. The research also models the patterns of residents in public spaces (hallway, kitchen and lavatories) to measure social interaction. The research case study is located in Kutobedah Rusunawa as the first rusunawa constructed by the government of Malang City in 1995. Keywords: rusunawa, satisfaction, behavior pattern
Inklusivitas Jalur Pedestrian di Sekitar Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, Studi Kasus Penggal Jln. A.Yani, Jln. Garuda Mas dan Jln. Menco Raya Kartasura, Jawa Tengah Dwi Ely Wardani; M. Sani Roychansyah
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.356 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p02

Abstract

The University Campus is a main provider of higher education services for the community. It has an impact on the growth of the surrounding area, and its influence is marked by changes in land use due to the concentration of proximal business and community activities. With the growing density of the residential population, activities around UMS campus area have also resulted in a higher level of community mobility. Therefore, it is necessary to design inclusive pedestrian pathways so that communities in this area may easily move about without having to depend on motor vehicles. In addition, an effort is being made to create a pedestrian-friendly environment for disabled persons in accordance with government policy. Using a qualitative deductive method and through the application of several theories dealing with pedestrian planning, the governing principle of inclusiveness is considered to be compatible with a heterogenic campus. Linda Nussbaumer in her book Inclusive Design A Universal Need, (2012) states that the concept of inclusivity consists of six variables, but after due consideration, only 3 variables are used in this study, namely: affordability, convenience, and security. These three variables are then elaborated and used as parameters to measure the level of inclusiveness of pedestrian pathways that accommodate the need of disabled people. Keywords: pedestrian pathway, inclusive, accessibility, convenience, safety
Identifikasi Kriteria Perancangan ‘Eks Palaguna’ di CBD Kota Bandung Berdasarkan Identitas Kota melalui Sense of Place Angela Upitya Paramitasari; Witanti Nur Utami; Aria Adrian
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1858.205 KB) | DOI: 10.24843/JRS.2018.v05.i01.p07

Abstract

Lahan ‘Eks Palaguna’ awalnya merupakan mall pertama di Kota Bandung, namun saat ini sudah tidak lagi menjadi fungsi mall diakibatkan tidak mampu bersaing dengan pusat kegiatan lain di Kota Bandung. Saat ini, mall tersebut sudah dihancurkan sejak akhir tahun 2014 dan aktivitas yang ada hanya sebagai lahan parkir kendaraan, berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya yang mana fungsi yang ada dapat memberikan gambaran ruang sekaligus identitas bagi setiap orang ketika sedang berada di pusat kota. Sebagai upaya untuk menciptakan kembali identitasnya sebagai bagian dari objek dan fungsi ruang pusat Kota Bandung, maka dilakukan penelitian ini. Hal tersebut dipengaruhi oleh belum ditemukannya aspek dan kriteria yang seharusnya dipertimbangkan mengenai pembangunan ‘Eks Palaguna’ berdasarkan identitas kotanya. Tujuan penulisan ini adalah mencari aspek dan kriteria yang perlu dipertimbangkan bagi pengembangan lahan ‘Eks Palaguna’ sebagai dasar perencanaan dan perancangan ‘Eks Palaguna’ yang tepat fungsi dan penggunaanya, sesuai dengan identitas kota yang dimiliki melalui sense of place. Metode yang digunakan di dalam penulisan adalah metode kualitatif dengan analisis case study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kriteria dari masing-masing aspek perancangan sense of place pada lahan ‘Eks Palaguna’ yaitu berkaitan dengan aspek bentuk, aktivitas, dan gambaran ruang. Kata kunci: eks palaguna, mall, sense of place, identitas
Detil Publikasi Gusti Ayu Made Suartika
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 5 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.003 KB)

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10