cover
Contact Name
Rokhani Hasbullah
Contact Email
rokhani.h@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltep@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Keteknikan Pertanian
ISSN : 24070475     EISSN : 23388439     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Keteknikan Pertanian dengan No. ISSN 2338-8439, pada awalnya bernama Buletin Keteknikan Pertanian, merupakan publikasi resmi Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (PERTETA) bekerjasama dengan Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) IPB yang terbit pertama kali pada tahun 1984, berkiprah dalam pengembangan ilmu keteknikan untuk pertanian tropika dan lingkungan hayati. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun. Penulis makalah tidak dibatasi pada anggota PERTETA tetapi terbuka bagi masyarakat umum. Lingkup makalah, antara lain: teknik sumberdaya lahan dan air, alat dan mesin budidaya, lingkungan dan bangunan, energi alternatif dan elektrifikasi, ergonomika dan elektronika, teknik pengolahan pangan dan hasil pertanian, manajemen dan sistem informasi. Makalah dikelompokkan dalam invited paper yang menyajikan isu aktual nasional dan internasional, review perkembangan penelitian, atau penerpan ilmu dan teknologi, technical paper hasil penelitian, penerapan, atau diseminasi, serta research methodology berkaitan pengembangan modul, metode, prosedur, program aplikasi, dan lain sebagainya.
Arjuna Subject : -
Articles 623 Documents
Rancangbangun Aplikator Kompos untuk Tebu Lahan Kering Iqbal .; Tineke Mandang; E. Namaken Sembiring; M. A. Chozin
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.1.%p

Abstract

AbstractThe widely sugarcane plantation area in Indonesia causes the management of sugarcane litter conducted by mechanization. To manage sugarcane litter into compost needed several machineries such as tractors,trash rakes, trailesr, choppers, trucks, composting turner, loaders, and compost applicators. The objective of this study was to design a compost applicator for sugarcane litter that can be used for a plant cane andratoon in dry land. The process of making a prototype applicators follow the design flowchart that begins with the calculation of the dimensions, design of engineering drawings, selection and material purchases. The result showed that the applicator prototype with belt conveyor metering device could function well and was able to apply the compost with a high dose (15 ton / ha).Keywords: mechanization, compost applicator, compost, sugarcane litter, sugarcaneAbstrakAreal perkebunan tebu di Indonesia yang luas menyebabkan kegiatan pengelolaan serasah tebu dilakukan dengan mekanisasi. Untuk mengelola serasah tebu menjadi kompos dibutuhkan beberapateknologi seperti traktor, trash rake, trailer, alat pencacah, truk, pengaduk, loader, dan aplikator kompos. Tujuan penelitian ini adalah merancang aplikator kompos serasah tebu yang dapat dioperasikan untuktanaman tebu baru (PC) dan tebu keprasan (ratoon) lahan kering. Proses pembuatan prototipe aplikator mengikuti alur perancangan alat yang diawali dengan perhitungan dimensi, disain gambar teknik dan pemilihan serta pembelian bahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototipe aplikator dengan penjatah tipe belt conveyor dapat berfungsi dengan baik dan mampu mengaplikasikan kompos dengan dosis tinggi (15 ton/ha).Kata kunci : mekanisasi,aplikator kompos, kompos, tebu, lahan keringDiterima: 27 November 2013; Disetujui: 19 Februari 2014
Modifikasi Nosel pada Sistem Penyemprotan untuk Pengendalian Gulma Menggunakan Sprayer Gendong Elektrik Muhammad Nafis Rahman; Mad Yamin
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.1.%p

Abstract

AbstractThis research aimed to modify the Nozzle of spraying system on the sprayer output to reduce the shift in spraying points on sprayed granules as a result of the wind blow from the environment. This electric sprayer consists of several components which are not found in a power sprayer or manual sprayer such as a 12-V battery or a 5.8 bar-pressure water pump. The result of the pressure comparison on the outlet showed a significant difference, namely in a 3-bar manual sprayer and a 4-bar electric sprayer. The pressure difference resulted in the difference in discharge, the length and width of the spraying.Keywords : discharge, electric, manual, pressure, sprayerAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memodifikasi Nosel pada system penyemprotan yaitu pada hasil keluaran sprayer untuk mengurangi pergeseran titik semprot pada butiran semprot yang timbul akibat adanyadorongan angin dari lingkungan. Sprayer elektrik terdiri dari beberapa komponen yang tidak terdapat pada power sprayer maupun manual sprayer seperti aki 12 V, pompa air tekanan 5.8 bar. Hasil perbandingantekanan pada lubang keluaran menunjukan perbedaan tekanan yang cukup signifikan, yaitu pada sprayer manual 3 bar dan sprayer elektrik 4 bar. Perbedaan tekanan tersebut mengakibatkan adanya perbedaandebit, panjang penyemprotan dan luas penyemprotan.Kata Kunci : debit, elektrik, manual, sprayer, tekananDiterima: 12 November 2013;Disetujui:27 Februari 2014
Pemetaan Indeks Stabilitas Tanah Menggunakan SINMAP di Sub-DAS Rawatamtu Aulia Nafiza Andalina; Hamid Ahmad; Indarto .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.1.%p

Abstract

AbstractThe research shows the application of Soil Stability Index Mapping (SINMAP) to predict the potential of landslide hazard. The study was conducted at Rawatamtu sub-Watershed, located at Jember Regency.Input data for this study are: (1) digital elevation model (DEM), (2) physical preperties of soil, (3) rainfall data, and (4) other GIS layers collected from the study area. The DEM was obtained from ASTER GDEM2.SINMAP calculate the soil stability index based on combination effect of: slope stability, soil properties, land use and rainfall intensity. Then, interaction of those four factors are integrated on SINMAP and are classified as soil stability index. About 50 locations were surveyed by GPS and optical camera to interpret the map qualitatively. Result show the stable zone (index value > 1.5) occupied about 64.7 % of the watershed area. Area that classified in the upper and bottom limit of landslide (i.e. potentially subject to landslide hazard) are located at both mountain areas (Mount Argopuro and Raung) of the sub-watershed.Keywords: soil-stability-index, SINMAP, Landslide, RawatamtuAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membuat peta stabilitas tanah dan menginterpretasikan indeks stabilitas tanah tersebut untuk prediksi longsor dengan menggunakan SINMAP (Soil Stability Index Mapping).Penelitian dilakukan di Sub-Das Rawatamtu (Kab. Jember). Input data terdiri dari: (1) ASTER GDEM2 (ketelitian pixel ± 30m), (2) data karakteristik fisik tanah, (3) karakteristik fisik hujan, dan (4) lokasi titikkontrol hasil survei GPS. SINMAP menghitung indeks stabilitas tanah dengan asumsi bahwa: proses longsor merupakan hasil kombinasi dari: stabilitas lereng, karaktersitik tanah, jenis peruntukan lahan danbesarnya hujan. Pengaruh dan interaksi antara ke empat faktor tersebut diintegrasikan di dalam SINMAP dan dikaslifikasikan dalam suatu nilai indeks stabilitas tanah. Hasil studi menunjukkan bahwa: 64.7% darikawasan Sub-Das Rawatamtu berada pada zona stabil; 3.2% berada pada zona agak stabil; 3.5% berada pada zona kurang stabil; 27.1% berada pada kawasan zona batas bawah longsor; dan 1.4% berada pada kawasan zona batas atas longsor. Sebagian besar wilayah yang mencakup zona batas atas dan batas bawah longsor, berada pada lereng Gunung Argopuro dan sebagian kecil berada pada kecamatan Sumberjambe (daerah lereng Gunung Raung).Kata Kunci : Indek Stabilitas tanah, SINMAP, Longsor, Rawatamtu.Diterima: 03 Desember 2013;Disetujui: 10 Maret 2014
Pembuatan Digital Elevation Model Resolusi 10m dari Peta RBI dan Survei GPS dengan Algoritma ANUDEM Indarto .; Debby Rio Prasetyo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.1.%p

Abstract

AbstractThis study proposes the generation of Digital Elevation Model (DEM) with spatial resolution of 10m x 10m by re-interpolation of elevation data. Data input for this study includes: (1) digitized datum coordinate from RBI map, (2) sample points surveyed by GPS, (3) digitized contour data fromSRTM DEM and ASTER GDEM2, and (4) digitized stream-network layer from RBI. All collected data were converted to mass point coordinats. On the top of Topogrid-ArcGIS, all points data were interpolated to produce DEM. After that the produced DEM were compared and evaluated to the SRTM and ASTER DEMvisually. The result shows that produced DEM are more accurate to represent the detailed topography of the study areas.Key words: DEM 10m, GPS survey, Interpolation, SRTM-DEM, Aster-GDEM2.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membuat DEM dengan ketelitian spasial 10m (ukuran pixel 10m x 10m) dengan cara re-interpolasi data ketinggian.Input data yang digunakan mencakup: (1) digitasi titik-titikketinggian dari peta RBI, (2) hasil survei melalui GPS, (3) data kontur yang diperoleh dari peta DEM SRTM dan Aster GDEM2, dan (4) layer jaringan sungai. Metodologi penelitian terdiri dari: (1) inventarisasidata, (2) ekstraksi nilai ketinggian, (3) integrasi data ke dalam Topogrid–ArcGIS, (4) interpolasi DEM. Hasil interpolasi selanjutnya dievaluasi secara visual dan dibandingkan dengan DEM SRTM dan ASTER GDEM2. Hasil interpolasi menunjukkan DEM dengan resolusi spasial yang lebih detail (10 m x 10 m) dapat menggambarkan karakteristik topografi DAS lebih detail.Kata kunci: DEM 10m, Survei GPS , Interpolation, SRTM-DEM, Aster-GDEM2Diterima: 12 Desember 2013; Disetujui: 14 Maret 2014
Aplikasi Pelapisan Kitosan dan Lilin Lebah untuk Meningkatkan Umur Simpan Salak Pondoh Leni Marlina; Y. Aris Purwanto; Usman Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.1.%p

Abstract

AbstractSnake fruit is an exotic fruit from Indonesia that has a short shelf-life as a result of microorganisms contamination, respiration and transpiration. The research was aimed to study the influence of storage temperatures and coating composition to extend shelf-life of snake fruits. Coating used were chitosan 0,5%, beewax 10% and combination beewax 10% with chitosan 0,5%. Storage was conducted at 15 OC (the optimum temperature for snake fruit’s storage) and room temperature (26-30 OC). Research was designed using randomized complete factorial design and followed by Duncan Multiple Range Test 5% if there was influence of the treatment. Parameters observed were percentage of damage, weight loss, firmness, total soluble solids and peel colour (hedonik test). Results showed that percentage of damage, weight loss, firmness, total soluble solid, and peel of colour (hedonik test) was affected by storage temperature. It wasalso found that coating significantly influenced percentage of damage, firmness and peel of colour on snake fruits. Interaction of coatings and storage temperatures there were effect on firmness of snake fruits.Key words: chitosan,beewax,shelf-life,snake fruits, temperature storage.AbstrakSalak pondoh (Salacca zalacca cv Pondoh) merupakan salah satu komoditi eksotik Indonesia yang memiliki umur simpan yang pendek akibat kontaminasi mikroorganisme, respirasi, dan transpirasi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan jenis pelapis dalam meningkatkan umur simpan buah salak pondoh pada suhu penyimpanan yang berbeda. Jenis Pelapis yang digunakan adalah kitosan 0.5%, lilin lebah 10%, lilin lebah 10% dan kitosan 0.5%, dan tanpa pelapisan (kontrol) dan suhu penyimpanan adalah suhu 15 OC (suhu optimal untuk penyimpanan salak) dan suhu ruang (26-30 OC). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dan jika terdapat pengaruh perlakuan maka digunakan uji lanjut Duncan Multiple Range Test pada taraf 5%. Parameter pengamatan meliputi persentase kerusakan, susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut dan warna kulit buah (uji hedonik). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan suhu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap susut bobot, persentase kerusakan, kekerasan, dan total padatan terlarut. Perlakuan jenis pelapis berpengaruh nyata terhadap persentase kerusakan, kekerasan dan warna kulit buah salak. Interaksi jenis pelapis dan suhu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap kekerasan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap susut bobot, persentase kerusakan, total padatan terlarut dan warna kulit buah (uji hedonik).Kata Kunci: kitosan, lilin lebah, umur simpan, buah salak,suhu penyimpanan.Diterima: 18 Desember 2013; Disetujui: 18 Maret 2014
Pemodelan Lahan Basah Potensial Berdasarkan Indeks Topografi Di Bretagne, Prancis Helena Ariesty; Blandine Lemercier; Lionel Bertheir; Roh Santoso Budi W; Satyanto K. Saptomo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.1.%p

Abstract

AbstractWetlands represent an important natural resource which supports natural biodiversity. In France, in mentioned wetlands, it called potential wetlands, which have potential in its use.Topography and geomorphology play a major role for the development of wetlands and are decisive factors for modeling wetlands extension.The importance of identifying wetlands, can be used as a basis for determining the development priorities that will be based on technical and socioeconomic aspects The objective of this research was to predict the spatial extent of potential wetlands in Brittany, France from a topographic index calibrated on a set of 10 detailed soil maps. In identifying potential wetlands, it based on soil hydromorphwhich conducted by method 4 criteria. The following four stages of analysis were respectively categorized: (a) identification hidromorphy, (b) calculation topographic index, (c) calculation of threshold, (d) validation.A threshold method was conducted between soil maps and topographic index to indicate the similarity condition. We use for threshold and validation a new way using 120 combination of soil maps. The result oftopographic index was 4.7 and it was applied for all Brittany.Keywords: potential wetlands, hydromorphic soil, threshold, topographic index, spatial analysisAbstrakLahan basah merupakan sumber daya alam penting yang mendukung keanekaragaman hayati. Di Perancis dalam menyebutkan lahan basah digunakan istilah lahan basah potensial, yaitu suatu lahan basah yang memiliki potensial dalam penggunaannya. Topografi dan geomorfologi memainkan peran utama untuk pengembangan lahan basah dan merupakan faktor yang menentukan dalam pemodelan lahan basah berkelanjutan. Pentingnya mengidentifikasi lahan basah, dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan prioritas pembangunan yang akan didasarkan pada aspek teknis dan sosial ekonomi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi luas spasial lahan basah potensial di Bretagne, Prancis dari indeks topografi dikalibrasi pada satu set 10 peta tanah rinci. Dalam mengidentifikasi lahan basah yangpotensial, berdasarkan hidromorfi tanah yang dilakukan dengan metode 4 kriteria.Penelitian ini mengacu kepada Merrot 2006 yaitu dengan metode yang sama berhasil mengidentifikasi lahan basah potensial berdasarkan indeks topografinya. Hal yang membedakan adalah jumlah peta yang digunakan yaitu 1 peta dan 10 peta, sehingga dapat dilihat apakah penelitian terdahulu memiliki nilai yang sama atau berbeda. Berikut ini empat tahap analisis yang masing-masing dikategorikan: (a) identifikasi hidromorfi, (b) indeks perhitungan topografi, (c) perhitungan ambang batas, (d) validasi. Sebuah metode ambang batas dilakukanantara peta tanah dan indeks topografi untuk menunjukkan kondisi kesamaan. Penggunaan ambang batas dan validasi merupakan pengembangan cara baru dengan menggunakan 120 kombinasi peta tanah. Hasil indeks topografi adalah 4,7 dan diterapkan untuk semua Bretagne.Kata kunci : lahan basah potensial, hidromorfi tanah, ambang batas, indeks topografi, analisis spasialDiterima: 22 Desember 2013;Disetujui: 27 Maret 2014
Mekanisme Penangkap Tandan Buah Sawit dan Pemanfaatan Energi Potensialnya Rusnadi .; Wawan Hermawan; Radite Praeko Agus Setiawan
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.2.81-88

Abstract

AbstractIn oil palm harvesting, falling fruit bunches have a considerable potential energy, which can be captured and used to power the wheelbarrow in evacuating the fruit bunches. This study was conducted to design a mechanism of oil palm fresh fruit bunches catchment and its potential energy utilization. The potential energy of falling fruit bunches during oil palm harvesting that stored in the flat spiral spring, and used to drivethe wheelbarrow. The actual energy potential and torque performance of flat spiral spring was measured by using a torque and potential energy measuring apparatus. The results showed that the potential energyfrom falling fruit bunches could store in the flat spiral spring mechanism, with storage efficiency of 39.39%. By means of 1.5 rotation of flat spiral spring, the maximum torque of the flat spiral spring was 53.35 Nm.The utilization of potential energy that stored in the flat spiral spring has been successfully used to drive the wheelbarrow, with utilization efficiency of 80.39%. By using the potential energy of 38.64 J, wheelbarrow could move as far as 0.41 m to evacuate 48 kg of total weight loads.Keywords: oil palm, harvesting,potential energy, catchment mechanism, wheelbarrow.AbstrakDalam pemanenan kelapa sawit, tandan buah yang jatuh memiliki energi potensial yang cukup besar, yang dapat ditangkap dan digunakan sebagai daya penggerak angkong dalam mengevakuasi tandan buah segar (TBS). Penelitian ini dilakukan untuk merancang sebuah mekanisme penangkap TBS yang sekaligus dapat menyimpan energi potensialnya. Energi potensial yang terkandung pada TBS saat pemanenan disimpan pada flat spiral spring dan akan dimanfaatkan sebagai daya untuk menggerakan angkong. Torsi dan energi potensial pada flat spiral spring diukur secara aktual melalui sebuah aparatus pengukur torsi dan energi potensial untuk pegas tipe spiral. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa energi potensial TBS dapat disimpan pada flatspiral spring dengan efesiensi penyimpanan sebesar 39.39%. Melalui input 1.5 putaran pada flat spiral spring, torsi maksimum yang dapat dicapai oleh flat spiral spring adalah sebesar53.35 Nm. Bentuk pemanfaatan energi yang tersimpan dalam flat spiral spring telah berhasil dimanfaatkan untuk menggerakan roda angkong dengan efisiensi pemanfaatan sebesar 80.39%. Energi potensial sebesar 38.64 J telah dapat menggerakan angkong sejauh 0.41 m dengan bobot total mesin seberat 48 kg.Kata kunci : kelapa sawit, pema nenan, energi potensial, mekanisme penangkap, angkong.Diterima: 19 Juni 2014 ;Disetujui: 22 September 2014
Analisis Gaya Spesifik Pemotongan Sabut Kelapa Muda (Cocos nucifera) Tika Hafzara S; Desrial .; Dyah Wulandani
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.2.%p

Abstract

AbstractTo design a young coconut trimming machine, it’s important to analyze the cutting mechanism of young coconut husk. The aim of this study were to analyze the cutting mechanism of young coconut husk and generate mathematical model of specific cutting force. Sharpening angle, cutting angle and sharpened knife were optimized to get the lowest cutting force. Mathematical model has been generated to estimate the maximum cutting force for one side sharpened knife and two side sharpened knife with cutting angle (θ) at 0Oand above 0O. Based on the analysis of this study, the type of knife that require the lowest cutting force is two side sharpened knife with sharpening angle (β) = 10O and cutting angle (θ)= 30O.Keywords : coconut husk , cutting angle, cutting force, knife, mathematical model.AbstrakUntuk merancang alat trimming kelapa muda, penting untuk melakukan analisis mekanisme pemotongan sabut kelapa muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme pemotongan sabutkelapa muda dan membangun model matematika pendugaan gaya spesifik pemotongan. Variasi faktor sudut ketajaman, sudut potong, dan sisi mata pisau dioptimalkan untuk menghasilkan gaya potong terendah.Model matematika telah dibangun untuk menduga gaya pemotongan maksimum untuk pisau satu sisi menajam dan dua sisi menajam dengan sudut potong (θ) 0O dan diatas 0O. Dari hasil penelitian disimpulkanbahwa jenis pisau yang menghasilkan gaya pemotongan terendah adalah pisau dua sisi menajam dengan sudut ketajaman 10O dan sudut potong 30O.Kata kunci: gaya pemotongan, model matematika, pisau, sabut kelapa, sudut potong.Diterima: 13 Maret 2014; Disetujui:10 Juli 2014
Pengemasan dan Penyimpanan Dingin Kelapa Kopyor untuk Mempertahankan Mutu Muhammad Yusuf Antu; Rokhani Hasbullah; Usman Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.2.%p

Abstract

AbstractThe objectives of this research were to study the influence of packaging material and the temperature applied during storage on the quality of kopyor coconut, to predict the shelf-life, and to determine the best packaging material and the storage temperature to keep the kopyor coconut. Research material is kopyor coconut obtained from Kalianda South Lampung. Kopyor coconut packaged in plastic film type Polyamide (PA), Polypropylene (PP), and High Density Polyethylene (HDPE) each weighing 60g. The quality parameter observed are free fatty acids (FFA), total microbes, and sensory characteristics including color, flavor, and taste. This research us Randomized Complete Design with two factors. The first factor was the packaging material with three different types (PA, PP, HDPE), and the second factor was the storage temperature at two levels of 5±2OC and 10±2OC. The shelf-life was predict using Partially StaggeredDesign (PSD) technique. Principal Component Analysis (PCA) technique was used to determine the best treatment. The results showed that the type of plastic packaging and storage temperature gave an effect onthe total microbes, and organoleptics of color, flavor, and taste. PA packaging is the best packaging can be maintained the quality of organoleptic and reduce the microbe growth. The storage temperature of 5±2OC can maintain quality of kopyor coconut better than 10±2OC temperature. Based on PSD method and total microbe as critical parameters, the shelf-life of kopyor coconut at 5±2OC is 27, 26, and 17 days for plastic PA, HDPE, and PP packaging, respectively.Keywords: kopyor coconut, packaging, film plastic, shelf-life.AbstrakTujuan penelitian adalah untuk mempelajari pengaruh jenis kemasan dan suhu penyimpanan terhadap mutu kelapa kopyor, memprediksi umur simpan, dan menentukan jenis kemasan dan suhu terbaik untuk menyimpan kelapa kopyor. Bahan penelitian adalah kelapa kopyor diperoleh dari Kalianda Lampung Selatan. Kelapa kopyor dikemas plastik jenis Polyamide (PA), Polypropylene (PP), dan High Density Polyethylene (HDPE) masing-masing seberat 60g. Parameter mutu yang dianalisis adalah Asam Lemak Bebas (ALB), total mikroba, dan organoleptik warna, aroma, dan rasa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah plastik dengan tiga taraf (PA, PP, HDPE), dan faktor kedua adalah suhu dengan dua taraf (5±2OC dan 10±2OC). Prediksi umur simpan menggunakan Partially Staggered Design (PSD). Untuk menentukan perlakuan terbaik digunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan plastik dan suhu penyimpanan berpengaruh nyata terhadap total mikroba, dan organoleptik warna, aroma, dan rasa. Kemasan jenis PA merupakan yang terbaik dalam mempertahankan mutu organoleptik dan menekan pertumbuhan mikroba. Suhu penyimpanan 5±2OC lebih dapat mempertahankan mutu kelapa kopyor dibandingkan dengan suhu10±2OC. Berdasarkan metode PSD dengan menggunakan mutu kritis total mikroba, umur simpan kelapa kopyor pada suhu 5±2OC adalah 27, 26, dan 17 hari untuk kemasan plastik PA, HDPE, dan PP.Kata kunci: kelapa kopyor, pengemasan, plastik film, umur simpan.Diterima: 18 Maret 2014 ; Disetujui;16 Juli 2014
Sistem Kontrol Irigasi PID Wiranto .; Budi Indra Setiawan; Satyanto Krido Saptomo
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.2.%p

Abstract

AbstractIrrigation application on agriculture is used to fulfill plant water requirement. In its application, irrigation water should be used optimally. However in the field, irrigation activities are generally wasteful practicesthat may impact on the increasing cost for water requirement. Under these conditions automatic irrigation system which could provide water with expected conditions for the plants, are needed, especially for largearea where the use of wireless automatic irrigation system is applicable. The advantages of the automatic system among others are the data could easily be downloaded and the devices could be easily installed. If it is installed properly, the system could facilitate the monitoring of irrigation in the region. In this study, PID model (Proportional, Integral and Derivative) is used for irrigation control systems and sensor connection with the logger (ATMega328 microcontroller). The objectives of this study is to improve irrigation efficiency by providing irrigation water required using control irrigation systems. The benefits of this approach is to provide an alternative method of automatic irrigation system for areas with limited water supply because this system is able to distribute the amount of irrigation water according to crop requirement.Keywords: automatic irrigation, control system, PIDAbstrakPemberian air irigasi pada lahan pertanian bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Dalam pemanfaatannya, air irigasi harus digunakan secara optimum. Namun pada kenyataannya kegiatan irigasi memberikan dampak boros air sehingga berdampak pada meningkatnya kebutuhan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Dengan kondisi tersebut, perlu dibuat suatu sistem irigasi otomatis yang mampu menyediakan air untuk tanaman dengan kondisi yang diharapkan, untuk area yang luas menggunakan system irigasi otomatis nirkabel. Kelebihan dari sistem ini diantaranya data mudah didownload dan perangkat mudah diinstalasi sehingga dapat memudahkan dalam monitoring seluruh kawasan irigasi. Pada penelitian ini digunakan model PID (Proportional, Integral and Derivative) dalam sistem kendali irigasi dan koneksi sensor dengan logger (mikrokontroler ATMega328) menggunakan sistem nirkabel (wireless) dengan memanfaatkan perangkat Xbee/xbee Pro. Metode penelitian dengan menggunakan simulasi PID diaplikasikan pada prototipe irigasi tanah perlakuan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah meningkatkan efisiensi dan mengetahui jumlah air irigasi yang diperlukan dengan sistem irigasi kontrol nirkabel (wireless). Manfaat dari penelitian ini sendiri adalah memberikan alternatife sistem irigasi otomatis untuk kawasan dengan ketersediaan air terbatas karena sistem ini mampu mengatur pemberiaan air irigasi sesuai dengan kebutuhan tanaman (efisiensi terhadap penggunaan air irigasi).Kata kunci: irigasi otomatis, PID, sistem kontrolDiterima: 02 April 2014 ;Disetujui :28 Juli 2014

Filter by Year

1992 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 4 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 3 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 3 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 1 (2024): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 11 No. 3 (2023): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 11 No. 2 (2023): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 11 No. 1 (2023): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 10 No. 3 (2022): Desember 2022 Vol. 10 No. 2 (2022): Agustus 2022 Vol. 10 No. 1 (2022): April 2022 Vol. 9 No. 3 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 2 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 3 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 2 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 1 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 2 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 6 No. 1 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 2 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 5 No. 1 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 4 No. 2 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 3 No. 2 (2015): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 1 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 27 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 2 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 26 No. 1 (2012): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 24 No. 2 (2010): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 24 No. 1 (2010): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 2 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 1 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 2 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 22 No. 1 (2008): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 4 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 3 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 2 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 No. 1 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 3 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 2 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 20 No. 1 (2006): Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 19 No. 3 (2005): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 19 No. 1 (2005): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 2 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 17 No. 1 (2003): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 16 No. 1 (2002): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 15 No. 2 (2001): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 15 No. 1 (2001): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 3 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 2 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 14 No. 1 (2000): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 3 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (1999): Buletin Keteknikan Pertanian Vol. 12 No. 2 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 12 No. 1 (1998): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 11 No. 1 (1997): Buletin Ketenikan Pertanian Vol. 6 No. 1 (1992): Buletin Ketenikan Pertanian More Issue